Anda di halaman 1dari 21

FU N G S I TATA N IA G A

P ETER N A K A N

Fungsi tataniaga yaitu semua kegiatan atau

tindakan atau jasa yang diberikan dalam


proses pengaliran barang atau jasa dari
produsen kepada konsumen.
Adapun yang melaksanakan fungsi-fungsi
tataniaga adalah: produsen, lembaga
perantara dan konsumen.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk
menunjang efisiensi tataniaga yaitu: (1)
organisasi dari sistem pemasaran, artinya
bagaimana seharusnya sistem pemasaran
itu diorganisasikan, dan (2) pelaksanaan
sistem produksi, artinya bagaimana sistem
produksi yang dilakukan akan menghasilkan
guna bentuk, waktu dan tempat.

Fungs-fungsi tataniaga yang banyak

dianalisis diklasifikasikan ke dalam:


(1) fungsi pertukaran (exchange
functions), (2) fungsi fisik (physical
functions), dan (3) fungsi fasilitas
(facilitating functions).

Fungsi pertukaran (exchange functions) ini

kemudian dikelompokkan lagi ke dalam subsub fungsi yaitu:


sub fungsi pembelian (buying). Peranan fungsi
pembelian adalah kegiatan dalam pemilikan
barang oleh pembeli (purchases), baik dari
segi jenis, kualitas atau mutu maupun
kuantitas atau jumlahnya.
Kedudukan atau sifat pembeli ditentukan oleh:
(1) kedudukan geografis dari pembeli
(geographic locations of purchaser). Artinya,
perlu diperhatikan dimana pembeli itu
berada, sehingga jika sudah diketahui
lokasinya maka kita dapat menentukan
apakah barang yang kita jual tersebut dapat
kita tawarkan

(2) kedudukan demografi dari

pembeli (demographic description of


purchaser). Beberapa aspek
demografi dari pembeli yaitu: umur,
jenis kelamin, pendapatan, mata
pencaharian (pekerjaan), pendidikan,
jumlah anggota keluarga, agama,
status perkawinan, dan ras/bangsa.

b) sub fungsi penjualan (selling).


Dalam pelaksanaan fungsi ini,
diperlukan fungsi perencanaan dan
pengembangan produk, karena produk
yang dijual atau ditawarkan pihak
penjual harus memenuhi keinginan
dan kebutuhan pembeli, sehingga
perlu direncanakan bentuk dan macam
produk yang akan diproduksi, jumlah
dan jangka waktu pembuatannya.

Dalam mempertemukan penjual dengan pembeli

dapat dilakukan dengan berbagai cara: (1) fungsi


mencari kontak (contactual function), (2) fungsi
penciptaan permintaan (demand creation), (3)
fungsi mengadakan perundingan (negotiation), dan
(4) fungsi kontraktual (the contractual function).
Pada saat ini, dalam pelaksanaan penjualan hasil
ternak sudah dilakukan sistem kontrak terutama
pada perunggasan.
Namun ada pula dengan pola PIR (Perusahaan Inti
Rakyat), yaitu kerjasama antara peternak, dengan
perusahaan sebagai inti atau sebagai bapak
angkat.

C) sub fungsi penetapan harga


(pricing). Produsen atau peternak,
lembaga tataniaga, dan konsumen
akan menentukan harga yang akan
dibeli atau dijualnya.
Umumnya produsen atau peternak
tidak dapat menetapkan harga,
sehingga yang menentukan harga
berada pada pihak yang akan
membeli sehingga kedudukan

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam

penetapan harga: (1) tujuan penetapan harga,


yaitu ada beberapa macam: seperti
profitation sales atau return on investment,
stabilisasi harga, pangsa pasar (market share)
dipertahankan atau ditingkatkan, persaingan
diimbangi atau dicegah, dan laba maksimal.
(2) metode penetapan harga, dimana ada 3
metode penetapan harga yaitu: metode harga
pokok ditambah laba, metode harga fleksibel,
dan metode harga saingan atau pasaran.

Fungsi fisik (physical functions) ini

kemudian dikelompokkan lagi ke dalam


sub-sub fungsi yaitu:
a) sub fungsi transportasi dan penanganan
(transportation and handling). Dalam
bidang peternakan, sub fungsi sangat
penting karena adanya sifat/karakteristik
dari produk peternakan yaitu voluminous,
bulky, skala usaha kecil dan terpencar, dan
bersifat perishable (mudah busuk).

Alat transportasi bermacam-macam

seperti: tenaga manusia (dipikul),


tenaga ternak (pedati, kuda beban),
tenaga mesin (truck, sepeda motor,
sepeda, mobil, kereta api, kapal laut,
pesawat udara), penghubung
(saluran pipa), dan lain-lain. Dengan
pengangkutan ini dapat menambah
nilai guna tempat dan waktu.

b) sub fungsi penyimpanan (storage).


Penyimpanan bertujuan untuk menjamin
tersedianya barang pada waktu dan tempat
yang diperlukan konsumen. Penyimpanan dapat
dilakukan apabila terjadi kelebihan barang dan
untuk mencegah terjadinya fluktuasi harga.
Beberapa biaya yang diperlukan selama proses
penyimpanan yaitu: biaya sewa ruang/gudang,
biaya peralatan penyimpanan, tenaga kerja dan
asuransi untuk menghindari resiko.

C) sub fungsi pengolahan dan pengepakan


(processing and packaging). Tujuan
pengolahan yaitu: agar komoditi itu dapat
disimpan lebih lama, mudah dicerna atau
digunakan (edible), dan menjadi lebih enak
(palatable). Dengan fungsi pengolahan maka
komoditi ternak dan hasil ternak dapat
menjadi komoditi olahan yang berbentuk:
hasil olahan dengan pengalengan (canning),
dengan fermentasi (fermentating atau
pickling), dengan pengasapan (smoking),
dengan penggaraman (salting), dengan
pengeringan (drying), dengan pemanasan
(boiling), dan dengan pendinginan atau
pembekuan (cold storage).

d)sub fungsi penentuan grade dan standardisasi (grading and


standardization).
Standardisasi adalah ketentuan atau peraturan dan perincian
mutu suatu barang atau jasa dengan maksud untuk
menciptakan keseragaman.
grading adalah penetapan dari ketentuan atau peraturan
tersebut dengan cara melakukan sortasi ke dalam beberapa
golongan.
Manfaat dari stndardisasi dan grading dalam tataniaga yaitu
untuk membantu mempermudah proses transakasi atau
pertukaran, penghematan biaya dan tenaga dalam proses
pertukaran.
Dasar penentuan standar suatu barang/jasa yaitu: ukuran
berat, keadaan kimiawi, bentuk, kekuatan, kadar gula, kadar
lemak, warna, kualitas, dan kombinasi dari aspek-aspek
tersebut.
Kegiatan yang dilakukan dalam sub fungsi ini yaitu: kegiatan
penentuan standar, melakukan grade, inspeksi dalam
determinasi kualitas dan labelling.

Fungsi fasilitas (facilitating functions) terdiri

dari beberapa sub-sub fungsi yaitu sebagai


berikut:
a) sub fungsi pembiayaan dan penanggulangan
resiko (financing and risk bearing). Dalam
melaksanakan fungsi tataniaga dari produsen
sampai ke konsumen maka diperlukan biaya,
yaitu biaya ruang atau golongan, tenaga kerja,
transportasi, penyimpanan, biaya bunga akibat
barang disimpan dan biaya lainnya. Selain itu,
dalam pengaliran barang/jasa dari produsen
sampai ke konsumen terdapat perbedaan
waktu (time lag) sehingga menimbulkan
adanya pembiayaan yang diperlukan dan
timbulnya berbagai resiko.

Diharapkan agar resiko yang mungkin terjadi

dapat dihindari atau ditekan sekecil mungkin.


Komoditi peternakan yang disimpan atau
diangkut dapat mengalami kerusakan,
tercuri, busuk, mati, terbakar, susut dan
resiko lainnya. Resiko dapat dikelompokkan
menjadi: (1) resiko fisik, seperti rusak, susut,
mati, tercuri, terbakar dan sebainya. (2)
resiko ekonomis atau resiko harga, seperti
pengaruh perubahan harga, barang tidak
terpakai lagi (out of made/out of suttle)

Selain itu, setiap pengusaha mempunyai

pandangan yang berbeda terhadap resiko yang


dialaminya, yaitu: (1) mereka yang senang
terhadap resiko (risk loving), seperti profesi
dengan resiko tinggi (pembalap, stunt man dll.),
(2) mereka yang netral terhadap resiko (risk
neutral), artinya mereka masih
mempertimbangkan resiko, dan (3) mereka yang
tidak suka terhadap resiko (risk assertion),
dimana kelompok ini berusaha untuk selalu
menghindari/menanggulangi resiko, dengan cara
membagi atau melimpahkan resiko kepada pihak
lain melalui asuransi.

b) sub fungsi berita dan informasi pasar


(marketing information and news).
Seorang produsen, lembaga tataniaga
dan konsumen, dalam mengambil suatu
keputusan tergantung dari informasi
pasar yang diterimanya. Dimana untuk
mendapatkan informasi pasar diperlukan
fungsi berita, yaitu melalui media cetak,
radio, audio visual/TV, dan organisasi
pemasaran (marketing board).

Dalam pengelolaan informasi, masalah

yang sering timbul yaitu: banyak informasi


pasar yang tidak benar, informasi belum
banyak dilakukan, datangnya informasi
terlambat, dan informasi yang datang tidak
dapat dimanfaatkan. Ada 3 hal yang
menyebabkan informasi pasar makin
dibutuhkan: (1) adanya pergeseran pasar,
dari pasar lokal ke pasar nasional kemudian
ke pasar internasional, (2) masa transisi
dari pasar berorientasi kebutuhan pembeli
ke orientasi pasar keinginan pembeli, dan
(3) masa transisi dari orientasi pasar
dengan persaingan harga ke pasar yang
tidak berorientasi pada persaingan harga.

c) sub fungsi pengembangan pasar (demand


creation). Perkembangan pasar komoditi
peternakan tergantung dari beberapa hal yaitu:
(1) faktor sistem produksi, (2) faktor sistem
konsumsi, (3) pengaruh resiko kultural, dan (4)
pengaruh politik dan ekonomi.
Pasar suatu komoditi peternakan dapat
berkembang apabila masalah yang
berhubungan dengan sistem produksi dapat
diatasi seperti: insentif yang kurang bagi
peternak selaku produsen, fasilitas fisik
pemasaran yang tidak cukup, dan hukum dan
perundang-undangan yang membatasi
kebebasan pemasaran dan produksi hasil
peternakan.

d) sub fungsi penelitian (market


research). Penelitian pasar produk
peternakan dan hasil ternak dapat
dilakukan melalui: pemetaan pasar
(mapping market area), pemetaan
kuantitatif (quantified mapping),
pemetaan harga (price mapping), dan
pemetaan lalu lintas (traffic waps
mapps).