Anda di halaman 1dari 5

PEMISAHAN ZAT WARNA SECARA KROMATORAFI

A. Tujuan
Memisahkan zat-zat warna yang terdapat pada suatu tumbuhan.

B. Pelaksanaan Kegiatan Praktikum


Hari : Senin, 13 April 2009
Waktu : 10.20 12.00
Tempat : Laboratorium Fisiologi FPMIPA UPI

C. Landasan Teori
Fotosintesis adalah suatu proses biokimia yang dilakukan tumbuhan, alga, dan
beberapa jenis bakteri untuk memproduksi energi terpakai (nutrisi) dengan
memanfaatkan energi cahaya. Hampir semua makhluk hidup bergantung dari energi
yang dihasilkan dalam fotosintesis. Akibatnya fotosintesis menjadi sangat penting
bagi kehidupan di bumi. Fotosintesis juga berjasa menghasilkan sebagian besar
oksigen yang terdapat di atmosfer bumi. Organisme yang menghasilkan energi
melalui fotosintesis (photos berarti cahaya) disebut sebagai fototrof. Fotosintesis
merupakan salah satu cara asimilasi karbon karena dalam fotosintesis karbon bebas
dari CO2 diikat (difiksasi) menjadi gula sebagai molekul penyimpan energi. Cara
lain yang ditempuh organisme untuk mengasimilasi karbon adalah melalui
kemosintesis, yang dilakukan oleh sejumlah bakteri belerang.
Tumbuhan menangkap cahaya menggunakan pigmen yang disebut klorofil. Klorofil
merupakan katalisator fotosintesis yang sangat penting dalam semua jaringan
tumbuhan berfotosintesis. Klorofil terdapat dalam kloroplas dan sering berkaitan
dengan protein, tetapi mudah diekstraksi ke dalam pelarut lipid. Di dalam tumbuhan,
paling sedikit terdapat lima jenis klorofil. Secara kimia, seluruh jenis klorofil
mengandung satu inti porfirin dengan satu atom Mg terikat di tengah. Perbedaan
setiap jenis klorofil disebabkan perbedaan dalam rantai alifatik yang terikat pada inti
porfirin. Klorofil bersifat labil, selama isolasi dapat mengurai atau kehilangan atom
Mg. Klorofil yang kekurangan rantai samping pirol akan membentuk klorofilida,
sedangkan klorofil yang kehilangan atom Mg akan membentuk protoklorofil.

Selain klorofil, di dalam tumbuhan juga terdapat pigmen warna lain yang disebut
karotenoid. Selain sebagai pigmen warna, karotenoid juga membantu dalam
fotosintesis. Terdapat lebih dari 300 jenis karotenoid, tetapi yang terdapat dalam
tumbuhan tinggi hanya sedikit, umumnya berupa karoten. Salah satu turunan
karotenoid, yaitu hidrokarbon tak jenuh turunan likopen atau turunan likopen
teroksigenesi dikenal sebagai xantofil. Xantofil yang umum terdapat berupa
monohidroksikaroten (ketrin dan rubixantin), dihdroksi-karoten (zeakantin) atau
dihidroksi-epoksikaroten (violaxantin). Untuk memisahkan zat-zat warna yang
terdapat pada suatu tumbuhan dapat dilakukan dengan berbagai cara, tetapi teknik
kromatografi merupakan teknik yang banyak digunakan. Kromatografi pertama kali
diberikan oleh Michael Tswett, seorang ahli botani Rusia, pada tahun 1906.
Kromatografi berasal dari bahasa Yunani Kromatos yang berarti warna dan
Graphos yang berarti menulis. Kromatografi merupakan metode pemisahan yang
sederhana. Kromatografi mencakup berbagai proses yang berdasarkan pada
perbedaan distribusi dari penyusunan cuplikan antara dua fasa, salah satu diantaranya
bergerak secara berkesinambungan dalam arah tertentu dan di dalamnya zat-zat itu
menunjukkan perbedaan mobilitas disebabkan adanya perbedaan dalam absorpsi,
partisi, kelarutan, tekanan uap, ukuran molekul atau kerapatan muatan ion dinamakan
kromatografi sehingga masing-masing zat dapat diidentifikasi atau ditetapkan dengan
metode analitik (Anonim, 1995).
Pada dasarnya, teknik kromatografi ini membutuhkan zat terlarut terdistribusi di
antara dua fase, satu diantaranya diam (fase diam), yang lainnya bergerak (fase
gerak). Fase gerak membawa zat terlarut melalui media, hingga terpisah dari zat
terlarut lainnya yang tereluasi lebih awal atau lebih akhir. Umumnya zat terlarut
dibawa melewati media pemisah oleh cairan atau gas yang disebut eluen. Fase diam
dapat bertindak sebagai zat penyerap atau dapat betindak melarutkan zat terlarut
sehingga terjadi partisi antara fase diam dan fase gerak (Anonim, 1995).
Prosedur kromatografi masih dapat digunakan, jika metode klasik tidak dapat
dilakukan karena jumlah cuplikan rendah, kompleksitas campuran yang hendak
dipisahkan atau sifat berkerabat zat yang dipisah.
Kromatografi ada bermacam-macam diantaranya kromatografi kertas, kromatografi

lapis tipis, penukar ion, penyaringan gel dan elektroforesis.


Macam-macam kromatografi.
a. Kromatografi Lapis Tipis
Yaitu kromatografi yang menggunakan lempeng gelas atau alumunium yang dilapisi
dengan lapisan tipis alumina, silika gel, atau bahan serbuk lainnya. Kromatografi
lapis tipis pada umumnya dijadikan metode pilihan pertama pada pemisahan dengan
kromatografi.
b. Kromatografi Penukar Ion
Merupakan bidang khusus kromatografi cairan-cairan. Seperti namanya, system ini
khusus digunakan untuk spesies ion. Penemuan resin sintetik dengan sifat penukar
ion sebelum perang Dunia II telah dapat mengatasi pemisahan rumit dari logam
tanah jarang dan asam amino.
c. Kromatografi Penyaringan Gel
Merupakan proses pemisahan dengan gel yang terdiri dari modifikasi dekstranmolekul polisakarida linier yang mempunyai ikatan silang. Bahan ini dapat menyerap
air dan membentuk susunan seperti saringan yang dapat memisahkan molekulmolekul berdasarkan ukurannya. Molekul dengan berat antara 100 sampai beberapa
juta dapat dipekatkan dan dipisahkan. Kromatografi permeasi gel merupakan teknik
serupa yang menggunakan polistirena yang berguna untuk pemisahan polimer.
d. Elektroforesis
Merupakan kromatografi yang diberi medan listrik disisinya dan tegak lurus aliran
fasa gerak. Senyawa bermuatan positif akan menuju ke katode dan anion menuju ke
anoda. Sedangkan kecepatan gerak tergantung pada besarnya muatan. e.
Kromatografi Kertas
Merupakan kromatografi cairan-cairan dimana sebagai fasa diam adalah lapisan tipis
air yang diserap dari lembab udara oleh kertas jenis fasa cair lainnya dapat
digunakan. Teknik ini sangat sederhana.
Prinsip dasar kromatografi kertas adalah partisi multiplikatif suatu senyawa antara
dua cairan yang saling tidak bercampur. Jadi partisi suatu senyawa terjadi antara
kompleks selulosa-air dan fasa mobil yang melewatinya berupa pelarut organik yang
sudah dijenuhkan dengan air atau campuran pelarut.
Cara melakukannya, ciplikan yang mengandung campuran yang akan dipisahkan

diteteskan/diletakkan pada daerah yang diberi tanda di atas sepotong kertas saring
dimana ia akan meluas membentuk noda yang bulat. Bila noda telah kering, kertas
dimasukkan dalam bejana tertutup yang sesuai dengan satu ujung, dimana tetesan
cuplikan ditempatkan, tercelup dalam pelarut yang dipilih sebagai fasa bergerak
(jangan sampai noda tercelup karena berarti senyawa yang akan dipisahkan akan
terlarut dari kertas). Pelarut bergerak melalui serat dari kertas oleh gaya kapiler dan
menggerakkan komponen dari campuran cuplikan pada perbedaan jarak dalam arah
aliran pelarut. Bila permukaan pelarut telah bergerak sampai jarak yang cukup
jauhnya atau setelah waktu yang telah ditentukan, kertas diambil dari bejana dan
kedudukan dari permukaan pelarut diberi tanda dan lembaran kertas dibiarkan
kering. Jika senyawa-senyawa berwarna maka mereka akan terlihat sebagai pita atau
noda yang terpisah. Jika senyawa tidak berwarna harus dideteksi dengan cara fisika
dan kimia. Yaitu dengan menggunakan suatu pereaksi-pereaksi yang memberikan
sebuah warna terhadap beberapa atau semua dari senyawa-senyawa. Bila daerah dari
noda yang terpisah telah dideteksi, maka perlu mengidentifikasi tiap individu dari
senyawa. Metoda identifikasi yang paling mudah adalah berdasarkan pada
kedudukan dari noda relatif terhadap permukaan pelarut, menggunakan harga Rf.
Nilai Rf
Harga Rf merupakan parameter karakteristik kromatografi kertas dan kromatografi
lapis tipis. Harga ini merupakan ukuran kecepatan migrasi suatu senyawa pada
kromatogram dan pada kondisi konstan merupakan besaran karakteristik dan
reprodusibel. Harga Rf didefinisikan sebagai perbandingan antara jarak senyawa dari
titik awal dan jarak tepi muka pelarut dari titik awal. Rf = Jarak titik tengah noda dari
titik awal. Jarak tepi muka pelarut dari titik awal.
Ada beberapa faktor yang menentukan harga Rf yaitu:
1. Pelarut, disebabkan pentingnya koefisien partisi, maka perubahan-perubahan yang
sangat kecil dalam komposisi pelarut dapat menyebabkan perubahan-perubahan
harga Rf.
2. Suhu, perubahan dalam suhu merubah koefisien partisi dan juga kecepatan aliran.
3. Ukuran dari bejana, volume dari bejana mempengaruhi homogenitas dari atmosfer
jadi mempengaruhi kecepatan penguapan dari komponen-komponen pelarut dari
kertas. Jika bejana besar digunakan, ada tendensi perambatan lebih lama, seperti

perubahan komposisi pelarut sepanjang kertas, maka koefisien partisi akan berubah
juga. Dua faktor yaitu penguapan dan kompisisi mempengaruhi harga Rf.
4. Kertas, pengaruh utama kertas pada harga Rf timbul dari perubahan ion dan
serapan, yang berbeda untuk macam-macam kertas. Kertas mempengaruhi kecepatan
aliran juga mempengaruhi kesetimbangan partisi.
5. Sifat dari campuran, berbagai senyawa mengalami partisi diantara volume-volume
yang sama dari fasa tetap dan bergerak. Mereka hampir selalu mempengaruhi
karakteristik dari kelarutan satu terhadap lainnya hingga terhadap harga Rf mereka.