Anda di halaman 1dari 12

Difraksi Cahaya

Difraksi
merupakan
pembelokan
gelombang di sekitar suatu penghalang atau
pinggir celah.
Cahaya yang melewati sebuah celah
sempit yang seukuran dengan panjang
gelombang cahaya, mengalami lenturan atau
Difraksi. Utuk difraksi celah tunggal yang kita
amati adalah pita gelap. Pita gelap ke n
terjadi jika,
Difraksi minimum

n = 1,2,3,
n = 1 untuk pita gelap ke 1, n = 2 untuk pita gelap ke 2,.
Difraksi maksimum
1
d sin=(n+ )
2

y1
d

y1

n = 0,1,2,3,
n = 0 untuk pita terang pusat, n = 1 untuk pita terang ke 1,.

= sudut simpang (Sudut Deviasi).


d= lebar celah
Lebar pita terang pusat = 2y1, dengan y1 adalah jarak pita gelap ke - 1 dari titik tengah terang
pusat , dihitung sebagai berikut :
d y1
L
= atau y 1=
L
d
Dengan L adalah jarak celah tunggal ke layar.
Macam-macam difraksi :
1. Difraksi Fresnal dan Difraksi Fraunhoter
- Difraksi medan dekat / difraksi fresnal (Augustin Jean Fresnal, 1788 1827)

Sumber titik dan layar relatif dekat ke rintangan yang membentuk pola difraksi
-

Difraksi medan jauh / difraksi Frounhoter (Joseph Von Fraunhoter, 1787 1826)

Sumber titik, rintangan dan layar cukup jauh, sehingga sinar-sinar dari sumber
kerintangan dapat dianggap sejajar
2. Difraksi Celah Tunggal
Pola difraksi yang disebabkan oleh celah tunggal dijelaskan oleh Christian
Huygens. Menurut Huygens, tiap bagian celah berfungsi sebagai sumber gelombang
sehingga cahaya dari satu bagian celah dapat berinterferensi dengan cahaya dari
bagian celah lainnya.
3. Kisi difraksi
Kisi difraksi merupakan alat yang digunakan untuk menghasilkan pola
interferensi yang lebih tajam pada layar yang memiliki celah dengan lebar sama dan
jarak antar celah yang berdekatan juga sama. Tetapan kisi garis terang
d=

1
; d sin =n ; n=0,1,2,
N

n= 0 menyatakan maksimum orde ke nol atau pusat terang, n =1 menyatakan


maksimum orde ke-1(garis terang ke-1), dan seterusnya.

Inteferensi cahaya
Kedua gelombang gelombang itu memiliki efek gabungan yang diperoleh dengan
menjumlahkan simpangannya. Interferensi adalah paduan dua gelombang atau lebih menjadi
satu gelombang baru. Jika kedua gelombang yang terpadu sefase, maka terjadi interferensi
konstruktif (saling menguatkan). Gelombang resultan memiliki amplitudo maksimum.
Jika kedua gelombang yang terpadu berlawanan fase, maka terjadi interferensi destruktif
(saling melemahkan). Gelombang resultan memiliki amplitudo nol. Setiap orang dengan
menggunakan sebuah baskom air dapat melihat bagaimana interferensi antara dua gelombang
permukaan air dapat menghasilkan pola-pola bervariasi yang dapat dilihat dengan jelas. Dua
orang yang bersenandung dengan nada-nada dasar yang frekuensinya berbeda sedikit akan
mendengar layangan (penguatan dan pelemahan bunyi) sebagai hasi interferensi (akan
dibahas pada Bab 3).

Warna-warni pelangi menunjukkan bahwa sinar matahari adalah gabungan dari berbagai
macam warna dari spektrum kasat mata. Di lain fihak, warna pada gelombang sabun, lapisan
minyak, warna bulu burung merah, dan burung kalibri bukan disebabkan oleh pembiasan. Hal
ini terjadi karena interferensi konstruktif dan destruktif dari sinar yang dipantulkan oleh suatu
lapisan tipis. Adanya gejala interferensi ini bukti yang paling menyakinkan bahwa cahaya itu
adalah gelombang. Interferensi cahaya bisa terjadi jika ada dua atau lebih berkas sinar yang
bergabung. Jika cahayanya tidak berupa berkas sinar, maka interferensinya sulit diamati.
Interferensi cahaya sulit diamati karena dua alasan:

Panjang gelombang cahaya sangat pendek, kira-kira 1% dari lebar rambut.

Setiap sumber alamiah cahaya memancarkan gelombang cahaya yang fasenya


sembarang (random) sehingga interferensi yang terjadi hanya dalam waktu sangat
singkat.

Jadi, interferensi cahaya tidaklah senyata seperti interferensi pada gelombang air atau
gelombang bunyi. Interferensi terjadi jika terpenuhi dua syarat berikut ini:
Kedua gelombang cahaya harus koheren, dalam arti bahwa kedua gelombang cahaya
harus memiliki beda fase yang selalu tetap, oleh sebab itu keduanya harus memiliki
frekuensi yang sama.
Kedua gelombang cahaya harus memiliki amplitude yang hampir sama.
Terjadi dan tidak terjadinya interferensi dapat digambarkan seperti pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3. (a) tidak terjadi interferensi, (b) terjadi interferensi

Untuk menghasilkan pasangan sumber cahaya kohern sehingga dapat menghasilkan pola
interferensi adalah :
1. sinari dua (atau lebih) celah sempit dengan cahaya yang berasal dari celah tunggal
(satu celah). Hal ini dilakukan oleh Thomas Young.
2. dapatkan sumber-sumber kohern maya dari sebuah sumber cahaya dengan
pemantulan saja. Hal ini dilakukian oleh Fresnel. Hal ini juga terjadi pada
pemantulan dan pembiasan (pada interferensi lapisan tipis).
3. gunakan sinar laser sebagai penghasil sinar laser sebagai penghasil cahaya kohern.
Percobaan Interferensi oleh Frenell dan Young
Untuk mendapatkan dua sumber cahaya koheren, A. J Fresnell dan Thomas Young
menggunakan sebuah lampu sebagai sumber cahaya. Dengan menggunakan sebuah sumber
cahaya S, Fresnell memperoleh dua sumber cahaya S1 dan S2 yang kohoren dari hasil
pemantulan dua cermin. Sinar monokromatis yang dipancarkan oleh sumber S, dipantulkan
oleh cermin I dan cermin II yang seolah-olah berfungsi sebagai sumber S1 dan S2.
Sesungguhnya, S1 dan S2 merupakan bayangan oleh cermin I dan Cermin II (Gambar 2.4)

Gambar 2.4. Percobaan cermin Fresnell


Berbeda dengan percobaan yang dilakukan oleh Fresnell, Young menggunakan dua
penghalang, yang pertama memiliki satu lubang kecil dan yang kedua dilengkapi dengan dua
lubang kecil. Dengan cara tersebut, Young memperoleh dua sumber cahaya (sekunder)
koheren yang monokromatis dari sebuah sumber cahaya monokromatis (Gambar 2.5). Pada
layar tampak pola garis-garis terang dann gelap. Pola garis-garis terang dan gelap inilah bukti

bahwa cahaya dapat berinterferensi. Interferensi cahaya terjadi karena adanya beda fase
cahaya dari kedua celah tersebut.

Gambar 2.5. Percobaan dua celah oleh Young


Pola interferensi yang dihasilkan oleh kedua percobaan tersebut adalah garis-garis terang dan
garis-garis gelap pada layar yang silih berganti. Garis terang terjadi jika kedua sumber cahaya
mengalami interferensi yang saling menguatkan atau interferensi maksimum. Adapun garis
gelap terjadi jika kedua sumber cahaya mengalami interferensi yang saling melemahkan atau
interferensi minimum. Jika kedua sumber cahaya memiliki amplitudo yang sama, maka pada
tempat-tempat terjadinya interferensi minimum, akan terbentuk titik gelap sama sekali.
Untuk mengetahui lebih rinci tentang pola yang terbentuk dari interferensi dua celah,
perhatikan penurunan-penurunan interferensi dua celah berikut.
Pada Gambar 2.6, tampak bahwa lensa kolimator menghasilkan berkas sejajar. Kemudian,
berkas cahaya tersebut melewati penghalang yang memiliki celah ganda sehingga S1 dan S2
dapat dipandang sebagai dua sumber cahaya monokromatis. Setelah keluar dari S1 dan S2,
kedua cahaya digambarkan menuju sebuah titik A pada layar. Selisih jarak yang ditempuhnya
(S2A S1A) disebut beda lintasan.
........................................2.2

Gambar 2.6. Percobaan Interferensi Young

Jika jarak S1A dan S2A sangat besar dibandingkan jarak S1 ke S2, dengan S1S2 = d, sinar S1A
dan S2A dapat dianggap sejajar dan selisih jaraknya S = S2B. Berdasarkan segitiga S1S2B,

diperoleh

, dengan d adalah jarak antara kedua celah. Selanjutnya,

pada segitiga COA,

Untuk sudut-sudut kecil akan didapatkan


. Untuk kecil, berarti p/l kecil
atau p<<l sehingga selisih kecepatan yang ditempuh oleh cahaya dari sumber S2 dan S1 akan
memenuhi persamaan berikut ini.

................................................2.3
Interferensi maksimum akan terjadi jika kedua gelombang yang tiba di titik A sefase. Dua
gelombang memiliki fase sama bila beda lintasannya merupakan kelipatan bilangan cacah
dari panjang gelombang.
S = m ............................................................2.4
Jadi, persamaan interferensi maksimum menjadi

.........................................................2.5
dengan d = jarak antara celah pada layar
p = jarak titik pusat interferensi (O) ke garis terang di A
l = jarak celah ke layar
= panjang gelombang cahaya
m = orde interferensi (0, 1, 2, 3, ...)
Interferensi pada lapisan tipis
Dalam keseharian Anda sering mengamati garis-garis berwarna yang tampak pada lapisan
tipis bensin atau oli yang tumpah di permukaan air saat matahari menyoroti permukaan oli
tersebut. Di samping itu, Anda tentu pernah main air sabun yang ditiup sehingga terjadi
gelembung. Kemudian saat terkena sinar matahari akan terlihat warna-warni.
Cahaya warna-warni inilah bukti adanya peristiwa interferensi cahaya pada lapisan tipis air
sabun. Interferensi ini terjadi pada sinar yang dipantulkan langsung dan sinar yang
dipantulkan setelah dibiaskan.

Interferensi antar gelombang yang dipantulkan oleh lapisan atas dan yang dipantulkan oleh
lapisan bawah ditunjukkan pada Gambar 2.7.

Gambar 2.7 Interferensi pada selaput tipis


Selisih lintasan yang ditempuh oleh sinar datang hingga menjadi sinar pantul ke-1 dan sinar
pantul ke-2 adalah
S = S2 S1 = n(AB + BC) AD = n(2AB) AD ...........................2.8
dengan n adalah indeks bias lapisan tipis.
Jika tebal lapisan adalah d, diperoleh d = AB cos r sehingga AB = d/cos r dan AD = AC sin i,
dengan AC = 2d tan r. Dengan demikian, persamaan (2.8) menjadi:

Sesuai dengan hukum Snellius, n sin r = sin I, selisih jarak tempuh kedua sinar menjadi:
S = 2nd cos r ..............................................2.9
Supaya terjadi interferensi maksimum, S harus merupakan kelipatan dari panjang
gelombang (), tetapi karena sinar pantul di B mengalami perubahan fase

, S menjadi

..........................................2.10
Jadi, interferensi maksimum sinar pantul pada lapisan tipis akan memenuhi persamaan
berikut.
=

........................... 2.11

dengan n = indeks bias lapisan tipis


d = tebal lapisan
r = sudut bias
m = orde interferensi (0, 1, 2, 3, )

= panjang gelombang sinar


Cincin Newton
Fenomena cincin Newton merupakan pola interferensi yang disebabkan oleh pemantulan
cahaya di antara dua permukaan, yaitu permukaan lengkung (lensa cembung) dan permukaan
datar yang berdekatan. Ketika diamati menggunakan sinar monokromatis akan terlihat
rangkaian pola konsentris (sepusat) berselang-seling antara pola terang dan pola gelap.
Jika diamati dengan cahaya putih (polikromatis), terbentuk pola cincin dengan warna-warni
pelangi karena cahaya dengan berbagai panjang gelombang berinterferensi pada ketebalan
lapisan yang berbeda. Cincin terang terjadi akibat interferensi destruktif.

Cincin di bagian luar lebih rapat dibandingkan di bagian dalam. Dengan R adalah jari-jari
kelengkungan lensa, dan panjang gelombang cahaya dalam kaca adalah , radius cincin
terang ke-n, yaitu rn dapat dihitung dengan rumus

dengan m = 1, 2, 3, adalah nomor urut cincin terang.


Sedangkan radius cincin gelap ke-n, yaitu rn dapat dihitung dengan rumus

dengan m = 1, 2, 3, adalah nomor urut cincin gelap.

Perlu diingat bahwa panjang gelombang pada persamaan di atas adalah panjang gelombang
cahaya dalam kaca (lensa) yang dapat dinyatakan dengan: = 0/r, di mana 0 adalah panjang
gelombang cahaya di udara dan n adalah indeks bias kaca (lensa)

Transmisi Gelombang dan Refleksi Gelombang


Jika gelombang merambat dari medium 1 ke medium 2 yang berbeda jenisnya, maka
akan terjadi Gelombang Transmisi dan Gelombang Refleksi.

Transmisi

Gelombang

adalah

Gelombang

yang

diteruskan

ke

medium

Refleksi Gelombang adalah Gelombang yang dipantulkan kembali ke medium 1

Bila suatu gelombang datang pada suatu permukaan batas yang memisahkan dua
daerah dengan laju gelombang yang berbeda, maka sebagian gelombang akan dipantulkan
(refleksi) dan sebagian lain akan ditransmisikan. Berkas yang terpantul membentuk sudut
dengan garis normal permukaan yang besarnya sama dengan sudut berkas datang (berlaku
untuk semua gelombang). Berkas yang ditransmisikan akan dibelokkan mendekat atau
menjauh dari garis normal-bergantung pada apakah laju gelombang pada medium kedua lebih
kecil atau lebih besar daripada laju gelombang dalam medium datang. Pembelokan berkas
yang ditransmisikan disebut refraksi (pembiasan) (berlaku untuk semua gelombang).
Pada proses pemantulan dan pembiasan gelombang dapat terpolarisasi sebagian atau
seluruhnya oleh refleksi. Perbandingan intensitas cahaya yang dipantulkan dengan cahaya
yang datang disebut reflektansi (R), sedangkan perbandingan intensitas cahaya yang
ditransmisikan dengan cahaya datang disebut transmitansi (T). Fresnel menyelidiki dan
merumuskan suatu persamaan koefisien refleksi dan koefisien transmisi yang dihasilkan oleh
pemantulan dan pembiasan (Pedrotti, 1993).

a. Transmisi gelombang merupakan sisa energi gelombang setelah melewati/menembus suatu


struktur penahan gelombang. Gelombang transmisi sangat dipengaruhi pada karakteristik
gelombang. Koefisien transmisi (t) adalah perbandingan amplitudo gelombang yang
ditransmisikan dibandingkan gelombang datang. Pembelokan berkas yang ditransmisikan
disebut refraksi (pembiasan). Pembiasan terjadi karena gelombang memasuki medium yang
berbeda dan kecepatan gelombang pada medium awal dan medium yang dimasuki berbeda.
Jika arah datang gelombang tidak sejajar dengan garis normal maka pembiasan menyebabkan
pembelokan arah rambat gelombang. Gelombang air yang melalui daerah yang lebih dangkal

mengalami perubahan kecepatan, sehingga terjadi pembiasan. Cahaya yang bergerak dari
udara ke air mengalami pembiasan karena perbedaan kecepatan cahaya di udara dan di air.
b. Pemantulan gelombang (Refleksi), terjadi pada saat sebuah gelombang yang merambat
dalam suatu media sampai di bidang batas medium tersebut dengan media lainnya. Dengan
demikian, Pemantulan (refleksi) sebuah gelombang adalah bidang batas antara dua medium
yang berbeda. Koefisien refleksi (r) adalah perbandingan amplitudo gelombang pantul
dibandingkan amplitudo gelombang datang.

Hukum pemantulan menyatakan bahwa sudut datang sama dengan sudut pantul, atau

i=

r.

Transmisi dan Refleksi pada Gelombang elektromagnetik


Gelombang elektromagnetik yang bersumber dari matahari dan bergerak menuju

permukaan bumi dimanfaatkan sebagai dasar pengenalan obyek pada sistem penginderaan
jauh pasif. Gelombang yang jatuh pada suatu permukaan obyek akan mengalami beberapa
kejadian terhadap gelombang elektromagnetik tersebut. Sebagian dari gelombang
elektromagnetik akan dipantulkan oleh permukaan obyek. Sebagian akan dihamburkan ke
atmosfer yang berada di atasnya. Sebagian lagi akan diserap dan ditransmisikan ke balik
permukaan obyek tersebut sebagai panas. Nilai pantulan, serapan, dan transmisi banyak
dipengaruhi oleh sifat obyek atau benda. Pada benda hitam (black bodies), nilai serapan lebih
besar dari pada nilai energi yang dipantulkan. Kebalikannya, pada benda putih, nilai energi
yang diserap lebih sedikit daripada energi yang dipantulkan. Energi yang dihamburkan oleh
obyek sangat dipengaruhi oleh tingkat kekasaran permukaan obyek. Pada permukaan obyek
yang kasar, dimana tingkat kekasarannya lebih besar dari panjang gelombang yang jatuh pada
permukaan tersebut, maka gelombang akan di hamburkan ke segala arah. Gelombang yang

jatuh pada permukaan obyek dengan tingkat kekasaran permukaan lebih kecil dari panjang
gelombang, maka akan terjadi pemantulan specular.
Kondisi kekasaran dan sudut permukaan obyek mempengaruhi tipe pantulan yang
akan terjadi. Beberapa tipe pantulan dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Tipe Specular : Pantulan tipe ini terjadi ketika gelombang elektromagnetik yang
datang jatuh pada sebuah bidang datar dengan permukaan yang halus. Sudut pantulan
memiliki besaran yang sama dengan sudut datang gelombang elektromagnetik
tersebut pada permukaan.
2. Tipe Lambertian (Diffuse) : Pada tipe ini, gelombang elektromagnetik dipantulkan ke
segala arah. Pantulan pada tipe ini terjadi ketika gelombang elektromagnetik jatuh
pada permukaan yang kasar dengan permukaan yang menghadap ke segala arah.
3. Tipe Corner Reflector : Pantulan gelombang elektromagnetik akan berbalik kembali ke
asal

sumber

gelombang

tersebut.

Pantulan

ini

terjadi

ketika

gelombang

elektromagnetik jatuh pada dua bidang datar dan halus yang saling tegak lurus
membentuk sudut 90 derajat.