Anda di halaman 1dari 7

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN


SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
TANGERANG SELATAN

TUGAS AKUNTANSI MANAJEMEN


ANALISIS KASUS TRANSFER PRICING PT. TOYOTA MOTOR MANUFACTURING
INDONESIA (TMMIN)

Diajukan oleh :
LUQMAN MAULANA ARFA
NPM : 144060006141
Kelas VII B Reguler / No. Absen 22

FEBRUARI 2015

Untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah


Akuntansi Manajemen Program Diploma IV Keuangan
Spesialisasi Akuntansi Kurikulum Khusus dan Reguler Semster VII T.A. 2014/2015

ANALISIS KASUS TRANSFER PRICING PADA PT. TOYOTA MOTOR


MANUFACTURING INDONESIA (TMMIN)
A. KONSEP TEORI DAN CONTOH APLIKASI
Memasuki era perdagangan bebas, persaingan dalam dunia bisnis tampak semakin
meningkat dan kompetitif. Hal ini menyebabkan manajemen dalam setiap perusahaan
berusaha dengan segala cara untuk menghadapi kerasnya persaingan di pasar bebas.
Kelangsungan hidup perusahaan di era kompetisi global seperti saat ini menuntut
manajemen untuk menyusun perencanaan strategis dalam menghadapi perubahanperubahan yang telah dan akan terus terjadi. Perusahaan yang tidak mampu bersaing untuk
mempertahankan kinerjanya lambat laun akan tergusur dari lingkungan industrinya dan
akan mengalami kebangkrutan.
Fenomena perdagangan bebas dalam dunia bisnis secara tidak langsung mendorong
merebaknya divisionalisasi atau departementasi pada perusahaan multinasional. Globalisasi
telah membawa dampak semakin meningkatnya transaksi perdagangan lintas negara atau
cross-border transaction. Arus barang, jasa, modal, dan tenaga kerja juga semakin mudah dan
lancar antarnegara. Dalam lingkungan perusahaan multinasional serta divisionalisasi terjadi
berbagai transaksi antar anggota (divisi) yang meliputi penjualan barang dan jasa, lisensi
hak dan harta tak berwujud lainnya, dan lain sebagainya. Dalam perusahaan tersebut,
biasanya sebagian besar aktivitas bisnis terjadi diantara mereka sendiri. Dalam menentukan
harga, imbalan, dan lain sebagainya antar mereka biasanya ditentukan berdasarkan
kebijakan harga transfer (transfer pricing) yang ditentukan oleh perusahaan induk atau
holding company yang dapat sama atau tidak sama dengan harga pasar.
Praktik transfer pricing ini pada mulanya dilakukan oleh perusahaan dengan maksud
untuk menilai kinerja antar divisi perusahaan, tetapi seiring dengan perkembangan zaman
yang semakin kompetitif, praktik transfer pricing juga dipakai untuk meminimalkan jumlah
pajak yang harus dibayar. Transfer Pricing ini telah menuai banyak sekali masalah di
berbagai negara karena dalam praktiknya mereka menggunakan hal-hal yang sangat
bertentangan dengan aturan yang ada.
Terdapat dua kelompok transaksi dalam transfer pricing, yaitu intra company dan
inter company transfer pricing. Intra company transfer pricing merupakan transfer pricing
antardivisi dalam satu perusahaan. Sedangkan inter company transfer pricing merupakan
transfer pricing antara dua perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa. Transaksinya
sendiri bisa dilakukan dalam satu negara (domestic transfer pricing), maupun dengan negara
yang berbeda (international transfer pricing)
Intra Company
Transfer Pricing
Transfer
Pricing

International
Transfer Pricing
Inter Company
Transfer Pricing
Domestic
Transfer Pricing

Hubungan istimewa tersebut dapat mengakibatkan kekurangwajaran harga, biaya,


atau imbalan lain yang direalisasikan dalam suatu transaksi usaha. Transfer pricing tersebut

dapat mengakibatkan terjadinya pengalihan penghasilan atau dasar pengenaan pajak dan/
atua biaya dari satu wajib pajak ke wajib pajak lainnya, terutama dari negara-negara yang
memiliki tarif pajak tinggi ke negara-negara yang tarif pajaknya lebih rendah.
Kekurangwajaran tersebut dapat terjadi pada:
harga penjualan
harga pembelian
alokasi biaya administrasi dan umum (biaya overhead)
pembebanan bunga atas pemberian pinjaman oleh pemegang saham
pembayaran komisi, lisensi, waralaba, sewa, royalti, imbalan jasa manajemen, imbalan
jasa teknik, dan imbalan jasa lainnya
Pembelian harta perusahaan oleh pemegang saham (pemilik) atau pihak yang
mempunyai hubungan istimewa yang lebih rendah dari harga pasar;
Penjualan kepada pihak luar negeri melalui pihak ketiga yang kurang/tidak
mempunyai substansi usaha (seperti: dummy company, letter box company atau
reinvoicing center)
Selain itu, ada pula indikator dari manipulasi harga transfer, yaitu antara lain:
SPT Tahunan PPh Badan melaporkan rugi dalam beberapa tahun berturut-turut
Peredaran usaha tinggi tapi laba yang diperoleh kecil
Transaksi hubungan istimewa yang cukup besar
Rugi yang tidak dapat dijelaskan
B. CONTOH KASUS
Direktorat Jenderal Pajak mencurigai adanya praktik transfer pricing yang dilakukan
oleh PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) setelah secara simultan
melakukan pemeriksaan terhadap surat pemberitahuan pajak tahunan (SPT) PT. Toyota
Motor Manufacturing Indonesia pada tahun 2005. Selain itu, perhitungan dan penyampaian
pajak pada tahun 2007 dan 2008 juga tidak luput dari pemeriksaan oleh Direktorat Jenderal
Pajak. Permeriksaan ini dilakukan karena Toyota merasa bahwa pada tahun tersebut
mereka kelebihan dalam membayar pajak, sehingga meminta negara untuk mengembalikan
kelebihan pembayaran pajaknya tersebut (restitusi).
Berdasarkan pemeriksaan pada SPT tahun 2005, ditemukan sejumlah kejanggalan,
yakni turunnya laba bruto lebih dari 30 persen, dari sebelumnya Rp.1,5 triliun pada tahun
2003 menjadi Rp.950 miliar pada tahun 2004. Selain itu, rasio gross margin atau
perimbangan antara laba kotor dengan tingkat penjualan juga menurun dari 14,59 persen
pada tahun 2003 menjadi hanya 6,58 persen di tahun 2004.
Pada pertengahan tahun 2003, Astra menjual sebagian besar sahamnya di Toyota Astra
Motor kepada Toyota Motor Corporation Jepang. Alasan penjualan saham tersebut adalah,
Astra mempunyai utang jatuh tempo yang tidak bisa ditangguhkan lagi. Sehingga saat ini,
Toyota Motor Corporation Jepang menguasai 95 persen saham Toyota Astra Motor. Nama
perusahaan berubah menjadi Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).
Untuk menjalankan fungsi distribusi di pasar domestik, Astra dan Toyota Motor
Corporation Jepang kemudian mendirikan perusahaan agen tunggal pemegang merek
(ATPM) dengan nama lama, Toyota Astra Motor (TAM). Pada perusahaan ini, Astra
menjadi pemegang saham mayoritas dengan menguasai 51 persen saham. Sisanya milik
Toyota Motor Corporation Jepang.
Setelah restrukturisasi pada tahun 2003 itulah, laba gabungan kedua perusahaan
Toyota anjlok. Melorotnya keuntungan Toyota membuat setoran pajaknya pada pemerintah
juga berkurang. Sebelumnya, perusahaan ini bisa membayar pajak sampai setengah triliun
rupiah. Pada 2004, pasca-restrukturisasi, dua perusahaan Toyota (TMMIN dan TAM) hanya
membayar pajak Rp 168 miliar. Anehnya meski laba turun, omzet produksi dan penjualan

mereka pada tahun itu justru naik 40 persen. Yang patut dipertanyakan adalah, kemana
keuntungan Toyota menguap?.
Pemeriksa pajak mulai menemukan jawabannya ketika memeriksa struktur harga
penjualan dan biaya Toyota dengan lebih seksama. Di sinilah jejak transfer pricing perseroan
ini mulai terdeteksi. Toyota diduga memainkan harga transaksi dengan pihak terafiliasi di
luar negeri dan menambah beban biaya lewat pembayaran royalti secara tidak wajar.
Berdasarkan dokumen laporan pajak PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia
(TMMIN) pada tahun 2007. Sepanjang tahun itu, Toyota Motor Manufacturing Indonesia
tercatat mengekspor 17.181 unit Fortuner ke Singapura. Dari pemeriksaan atas laporan
keuangan Toyota sendiri, petugas pajak menemukan bahwa harga pokok penjualan atau
cost of goods sold (COGS) Fortuner itu adalah Rp 161 juta per unit. Anehnya, dokumen
internal Toyota menunjukkan bahwa semua Fortuner itu dijual 3,49 persen lebih murah
dibandingkan nilai tersebut. Artinya, Toyota Indonesia menanggung kerugian dari
penjualan mobil-mobil itu ke Singapura.
Temuan yang sama juga terlacak pada penjualan mobil Innova diesel dan Innova
bensin, yang masing-masing dijual lebih murah 1,73 persen dan 5,14 persen dari ongkos
produksinya per unit. Pada ekspor Rush dan Terios, Toyota Motor Manufacturing memang
meraup untung, tapi tipis sekali yakni hanya 1,15 persen dan 2,69 persen dari ongkos
produksi per unit. Padahal untuk penjualan di dalam negeri, mobil yang persis sama dilepas
ke pasar dengan nilai keuntungan bruto sebesar 3,43 - 7,67 persen.
(Sumber : http://investigasi.tempo.co/toyota/)
C. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan kasus transfer pricing yang dilakukan oleh PT. Toyota Motor
Manufacturing Indonesia (TMMIN) di atas, penulis akan mencoba untuk menganalisis dari
segi akuntansi manajemen, khususnya materi yang berkaitan dengan transfer pricing.
Dugaan transfer pricing yang dilakukan oleh PT. Toyota Motor Manufacturing
Indonesia (TMMIN) mulai terlihat setelah adanya restrukturisasi perusahaan pada tahun
2003, sehingga Komposisi kepemilikan saham di perusahaan ini adalah Astra International
hanya menguasai sebesar 5 persen dan Toyota Motor Corporation Jepang yang merupakan
perusahaan induk atau holding company menguasai sebesar 95 persen kepemilikan saham
atas PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN). Indikasi terkait adanya transfer
pricing dapat terlihat dari beberapa kejanggalan pada penurunan kinerja keuangan
perusahaan tersebut, yakni pada saat omzet produksi dan penjualan mengalami kenaikan
sebesar 40 persen, namun justru terdapat penurunan pada kinerja keuangan perusahaan
yakni sebagai berikut:
Laba bruto turun lebih dari 30 persen, pada tahun 2003 sebesar Rp.1,5 triliun
kemudian pada tahun 2004 turun menjadi Rp.950 miliar.
Rasio gross margin (perimbangan antara laba kotor dengan tingkat penjualan) pada
tahun 2003 sebesar 14,59 persen kemudian pada tahun 2004 turun menjadi 6,58 persen.
Setoran pajak pada tahun 2003 berkisar Rp.500 miliar kemudian pada tahun 2004
turun sekitar Rp332 miliar sehingga menjadi Rp.168 miliar
Selain dari aspek kinerja keuangan yang menurun, indikasi bahwa PT. Toyota Motor
Manufacturing Indonesia (TMMIN) telah melakukan transfer pricing semakin dikuatkan
dengan temuan fakta berupa penjualan kepada pihak terafiliasi di luar negeri, dalam hal ini
adalah PT. Toyota Asia Pasific yang berlokasi di singapura dengan penjualan rata-rata
dibawah harga pokok penjualan atau cost of goods sold (COGS). Atas penjualan tersebut
maka dapat dipastikan bahwa Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN)
menanggung kerugian atas penjualannya kepada PT. Toyota Asia Pasific yang berlokasi di

singapura. Adapun rincian beberapa penjualan kepada PT. Toyota Asia Pasific yang
berlokasi di singapura adalah sebagai berikut:
Penjualan mobil fortuner dari PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN)
kepada PT. Toyota Asia Pasific yang berlokasi di Singapura dengan harga penjualan
3,49 persen dibawah COGS.
Penjualan mobil inova diesel dari PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia
(TMMIN) kepada PT. Toyota Asia Pasific yang berlokasi di Singapura dengan harga
penjualan 1,73 persen dibawah COGS.
Penjualan mobil inova bensin dari PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia
(TMMIN) kepada PT. Toyota Asia Pasific yang berlokasi di Singapura dengan harga
penjualan 5,14 persen dibawah COGS.
Penjualan mobil rush dari PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN)
kepada PT. Toyota Asia Pasific yang berlokasi di Singapura dengan harga penjualan
1,15 persen diatas COGS.
Penjualan mobil terios dari PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN)
kepada PT. Toyota Asia Pasific yang berlokasi di Singapura dengan harga penjualan
2,69 persen diatas COGS.
Sudah merupakan hal yang lazim dilakukan oleh perusahaan multinasional seperti
Toyota, bahwa praktik transfer pricing digunakan untuk meminimalkan pembayaran pajak
mereka. Dengan memanfaatkan celah-celah peraturan yang ada, yakni dengan cara
memindahkan keuntungan ke perusahaan terafiliasi yang berada di luar negeri, tentunya
dengan tarif pajak yang lebih rendah.
Skema penjualan PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) ke luar negeri
adalah sebagai berikut:

PT. Toyota Motor


Manufacturing
Indonesia (TMMIN)

PT. Toyota Motor


Philippines
Corporation
PT. Toyota Asia
Pasific
Singapura
PT. Toyota Motor
Thailand Co.,Ltd

Penjualan PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) kepada PT. Toyota
Asia Pasific yang berlokasi di Singapura dengan harga di bawah COGS adalah sengaja
dilakukan dengan tujuan untuk menghindari pengenaan tarif pajak yang tinggi di
Indonesia, yakni sebesar 25 persen dan mengalihkan laba tersebut kepada perusahaan
terafiliasi di negara lain, yakni PT. Toyota Asia Pasific yang berlokasi di Singapura, karena
sebagaimana kita ketahui bahwa tarif pajak penghasilan di Singapura merupakan yang
terendah di ASEAN yakni sebesar 17 persen.
Sedangkan untuk penjualan di dalam negeri, yakni dari PT. Toyota Motor
Manufacturing Indonesia (TMMIN) kepada PT. Toyota Astra Motor (TAM) untuk tipe mobil
yang persis dijual dengan nilai keuntungan bruot sebesar 3,43 7,67 persen.
Direktorat Jenderal Pajak telah memiliki peraturan tentang tranfer pricing, yang secara
umum diatur dalam pasal 18 UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, yang
menyebutkan bahwa Direktorat Jenderal Pajak berwenang untuk menentukan kembali
besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa

dengan Wajib Pajak lainnya sesuai dengan kewajaran dan kelaziman usaha yang tidak
dipengaruhi oleh hubungan istimewa (arms length principle) dengan menggunakan metode
perbandingan harga antara pihak yang independen, metode harga penjualan kembali,
metode biaya-plus, atau metode lainnya. Hubungan istimewa dikatakan terjadi jika (i) Wajib
Pajak mempunyai penyertaan modal langsung maupun tidak langsung paling rendah 25%
pada Wajib Pajak lain; (ii) Wajib Pajak menguasai Wajib Pajak lainnya atau dua atau lebih
Wajib Pajak berada di bawah penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak
langsung; atau (iii) terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis
keturunan lurus dan/atau ke samping satu derajat.
Aturan lebih lanjut dan detail tentang transfer pricing termuat dalam Peraturan Dirjen
Pajak Nomor 43 Tahun 2010 yang diubah dengan Peraturan Dirjen Pajak Nomor 32 Tahun
2011. Di dalam aturan ini disebutkan pengertian arms length principle yaitu harga atau laba
atas transaksi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa
ditentukan oleh kekuatan pasar, sehingga transaksi tersebut mencerminkan harga pasar
yang wajar. dalam hal ini otoritas pajak berhak menentukan kewajaran harga penjualan
suatu perusahaan dengan cara membandingkan harga tersebut dengan transaksi
perusahaan sejenis di luar negeri. Peraturan ini merujuk pada Transfer Pricing Guideline
yang disusun Organization for Economic Cooperation and Development (OECD).
Petugas pajak kemudian menggunakan lima perusahaan otomotif yang dianggap
memiliki karakteristik serupa sebagai pembanding untuk Toyota. Kelima perusahaan itu
adalah Hindustan Motors (India), Yulon Motor (Taiwan), Force Motor Limited (India),
Shenyang Jinbei, dan Dongan Heibao (Cina).
Dari penelaahan atas transaksi afiliasi kelima perusahaan itu, pemeriksa menetapkan
bahwa kisaran keuntungan bruto yang dapat dinilai wajar (arms length range) untuk
perusahaan otomotif yang melakukan ekspor adalah 3,22 - 13,58 persen. Berdasarkan hasil
pemeriksaan tersebut, pemeriksa pajak mengkoreksi harga pada transaksi PT. Toyota Motor
Manufacturing Indonesia (TMMIN) kepada Toyota Motor Asia Pacific di Singapura, yang
menyebabkan omzet penjualan mereka pada tahun 2007 meningkat sekitar Rp.500 miliar
menjadi Rp.27,5 triliun. Pada tahun 2008 modus ekspor dengan nilai yang tidak wajar
kembali berulang, atas hal tersebut petugaspajak kembali melakukan koreksi sehingga
omzet penjualan meningkat sebesar Rp.1,7 triliun menjadi Rp.27,5 triliun.
D. KESIMPULAN
Praktek transfer pricing sering digunakan oleh banyak perusahaan sebagai alat untuk
meminimalkan jumlah pajak yang harus dibayar. Adanya hubungan istimewa merupakan
kunci dari dilakukannya praktek transfer pricing dalam bidang perpajakan. Hubungan
istimewa dalam perpajakan ditandai dengan adanya hubungan antara dua atau lebih Wajib
Pajak yang berada di bawah pemilikan atau penguasaan yang sama baik secara langsung
maupun tidak langsung, adanya hubungan antara Wajib Pajak yang mempunyai
penyertaan 25 persen atau lebih pada pihak yang lain.
Kekurangwajaran dan harga transfer (non arm's length price) yang ditimbulkan dengan
adanya praktek transfer pricing dapat terjadi atas: harga penjualan; harga pembelian; alokasi
biaya administrasi dan umum (overhead cost); pembebanan bunga atas pemberi pinjaman
oleh pemegang saham; pembayaran komisi, lisensi, franchise, sewa, royalty, imbalan alas
jasa manajemen, imbalan atas jasa teknik dan imbalan atas jasa lain; pembelian harta
perusahaan oleh pemegang saham (pemilik) atau pihak yang mempunyai hubungan
istimewa yang lebih rendah dari harga pasar; penjualan kepada pihak luar negeri melalui
pihak ketiga yang kurang/tidak mempunyai substansi usaha.
Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan dan Direktorat Jenderal Pajak untuk
memitigasi dan meminimalkan risiko kehilangan penerimaan negara akibat dari praktik
abuse of transfer pricing adalah:

a) Memperkuat sumber daya manusia yang ahli dalam bidang transfer pricing. Untuk itu
pelatihan-pelatihan tentang transfer pricing harus semakin diperbanyak dan cakupan
pegawai yang diberi pelatihan juga harus lebih banyak khususnya untuk petugas
pajak yang bertugas di KPP-KPP tempat terdaftarnya perusahaan multinasional.
b) Memperkuat institusi yang khusus mengurusi tentang transfer pricing. Saat ini, di DJP
hanya ada satu unit khusus yang menangani transfer pricing. Itu pun hanya setingkat
seksi, yaitu Seksi Transfer Pricing yang berada dibawah Direktorat Pemeriksaan dan
Penagihan, Subdirektorat Pemeriksaan Transaksi Khusus. Menurut penulis, hal
tersebut belum mencukupi, mengingat jumlah potensi kehilangan penerimaan pajak
yang ada sangat besar (Rp1.300 triliun/tahun).
c) Meningkatkan kualitas dan kuantitas database serta accessibility terhadap database
tersebut. Direktorat Jenderal Pajak harus meningkatkan ketersediaan database yang
ada selama ini baik dari kualitas maupun kuantitasnya. Selain itu hal yang paling
penting adalah ketika database tersebut telah tersedia maka harus dapat diakses
dengan mudah oleh petugas pajak terutama oleh petugas pajak yang berada di KPPKPP tempat terdaftarnya perusahaan multinasional.
d) Menerapkan Advance Pricing Agreement (APA) dengan Wajib Pajak maupun dengan
negara lain. Saat ini belum ada Wajib Pajak ataupun negara lain yang bersepakat
dengan DJP untuk menerapkan APA walaupun aturan perpajakan yang ada sudah
memungkinkan untuk itu (diatur dalam Peraturan Dirjen Pajak Nomor 69 Tahun 2010
tentang Kesepakatan Harga Transfer/APA).
e) Menerapkan Mutual Agreement Procedure (MAP) dengan negara lain dengan lebih
intensif. dengan MAP diharapkan terjadi kesepakatan yang saling menguntungkan di
antara kedua negara dan penerimaan pajak yang diperoleh oleh kedua negara yang
melakukan agreement menjadi lebih fair.
DAFTAR PUSTAKA
Hansen and Mowen. 2007. Manajerial Accounting 8th Edition. South Western Thomson
Garrison, Noreen and Brewer (2007). Akuntansi Manajerial. Penerbit Salemba Empat
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ/2011 tanggal 11 November 2011
tanggal 6 September 2010 tentang Penerapan Prinsip Kewajaran Dan Kelaziman
Usaha Dalam Transaksi Antara Wajib Pajak Dengan Pihak Yang Mempunyai
Hubungan Istimewa.