Anda di halaman 1dari 47

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan

Pemikiran tentang Pendidikan, Tokoh


Pendidikan dan Pengaruhnya terhadap
Pendidikan di Indonesia

oleh:

Kelompok 4
Abdi Kurniawan
Ryan Desriandeva
Muhammad Hamdi Alfarabi
Indah Amalia Arwan
Dinda Amelia Rizki P.
Emi Fitriani Lubis

(1107105)
(1101052)
(1306198)
(1205317)
(1306168)
(16684)

Kode seksi : 0073 (UNP104)

Universitas Negeri Padang


2015

Pemikiran tentang Pendidikan dan


Implikasinya terhadap Pendidikan di Indonesia
A. Pemikiran Klasik tentang Pendidikan
1. Pemikiran Klasik
Teori pendidikan klasik berlandaskan pada filsafat klasik, yang memandang
bahwa pendidikan berfungsi sebagai upaya memelihara, mengawetkan dan
meneruskan warisan budaya. Teori pendidikan ini lebih menekankan peranan isi
pendidikan dari pada prosesnya. Isi pendidikan atau bahan pengajaran diambil dari
sari ilmu pengetahuan yang telah ditemukan dan dikembangkan oleh para ahli di
bidangnya dan disusun secara logis dan sistematis. Misalnya teori fisika, biologi,
matematika, bahasa, sejarah dan sebagainya.
Perbedaan padangan tentang faktor dominan dalam perkembangan manusia
tersebut menjadi dasar perbedaan pendangan tentang peran pendidikan terhadap
manusia, mulai dari yang paling pesimis sampai yang paling optimis. Aliran-aliran itu
pada umumnya mengemukakan satu faktor dominan tertentu saja dan dengan
demikian suatu aliran dalam pendidikan akan mengajukan gagasan

untuk

mengoptimalkan faktor tersebut untuk mengembangkanmanusia.Teori-teori yang


terdapat dalam ilmu pendidikan dilahirkan oleh 4 aliran yang berbeda, yaitu:

2. Aliran Nativisme
Nativisme berasal dari kata Nativus yang berarti kelahiran. Tokoh aliran ini
adalah Arthur Schopenhauer (1788-1860) seorang filosof jerman, yang berpendapat
bahwa hasil pendidikan dan perkembangan manusia itu ditentukan oleh pembawaan
yang diperolehnya sejak anak itu dilahirkan. Anak dilahirkan kedunia sudah
mempunyai pembawaan dari orang tua maupun disekelilingnya, dan pembawaan
itulah yang menentukan perkembangan dan hasil pendidikan. Faktor lingkungan,
termasuk faktor pendidikan, kurang berpengaruh terhadap pendidikan dan

perkembangan anak. Bayi itu lahir sudah dengan pembawaan baik dan pembawaan
buruk.
Oleh karena itu hasil akhir pendidikan di tentukan oleh pembawaan yang
sudah di bawa sejak lahir. Berdasarkan pandangan ini maka keberhasilan pendidikan
ditentukan oleh anak didik itu sendiri. Ditekankan bahwa yang jahat akan menjadi
jaha, dan yang baik akan menjadi baik. Menurut kaum nativisme itu, pendidikan tidak
dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. Jadi jika benar pendapat tersebut, percumalah
kita mendidik atau dengan kata lain pendidikan tidak perlu. Dalam ilmu pendidikan,
hal ini disebut pesimisme pedagogis, karena sangat pesimis terhadap upaya-upaya dan
hasil pendidikan.
Terdapat suatu pokok pendapat aliran nativisme yang berpengaruh luas yakni
bahwa dalam diri individu terdapat sutu inti pribadi (G. Leibnitz: Monad) yang
mendorong manusia untuk mewujudkan diri, mendorong manusia dalam menentukan
pilihan dan kemauan sendiri, dan yang menempatkan manusia sebagai makhluk aktif
yang mempunyai kemauan bebas. Pandangan-pandangan tersebut tampak antara
lain humanistic psychology dari Carl. Rogers ataupun pandangan phenomenology/
humanistik lainnya.
Faktor perkembangan manusia dalam teori Nativisme, yaitu:

Faktor genetik
Adalah faktor gen dari kedua orangtua yang mendorong adanya suatu bakat
yang muncul dari diri manusia. Contohnya adalah Jika kedua orangtua anak
itu adalah seorang penyanyi maka anaknya memiliki bakat pembawaan
sebagai seorang penyanyi yang prosentasenya besar.

Faktor Kemampuan Anak


Adalah faktor yang menjadikan seorang anak mengetahui potensi yang
terdapat dalam dirinya. Faktor ini lebih nyata karena anak dapat
mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Contohnya adalah adanya
kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang mendorong setiap anak untuk

mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya sesuai dengan bakat dan
minatnya.

Faktor Pertumbuhan Anak


Adalah faktor yang mendorong anak mengetahui bakat dan minatnya di setiap
pertumbuhan dan perkembangan secara alami sehingga jika pertumbuhan anak
itu normal maka dia kan bersikap enerjik, aktif, dan responsive terhadap
kemampuan yang dimiliki. Sebaliknya, jika pertumbuhan anak tidak normal
maka anak tersebut tidak bisa mngenali bakat dan kemampuan yang dimiliki.

Tujuan teori Nativisme adalah:


Didalam teori ini menurut G. Leibnitz: Monad Didalam diri individu manusia
terdapat suatu inti pribadi. Sedangakan dalam teori Teori Arthur Schopenhauer
(1788-1860) dinyatakan bahwa perkembangan manusia merupakan pembawaan sejak
lahir atau bakat. Sehingga dengan teori ini setiap manusia diharapkan:

Mampu memunculkan bakat yang dimiliki

Mendorong manusia mewujudkan diri yang berkompetensi

Mendorong manusia dalam menetukan pilihan

Mendorong manusia untuk mengembangkan potensi dari dalam diri seseorang

Mendorong manusia mengenali bakat minat yang dimiliki

3. Aliran Naturalisme
Naturalisme merupakan teori yang menerima nature (alam) sebagai
keseluruhan realitas. Istilah nature telah dipakai dalam filsafat dengan bermacammacam arti, mulai dari dunia fisik yang dapat dilihat oleh manusia, sampai kepada
sistem total dari fenomena ruang dan waktu. Natura adalah dunia yang diungkapkan
kepada kita oleh sains alam. Istilah naturalisme adalah sebaliknya dari istilah
4

supernaturalisme yang mengandung pandangan dualistik terhadap alam dengan


adanya kekuatan yang ada (wujud) di atas atau di luar alam ( Harold H. Titus e.al.
1984).
Aliran ini sama dengan aliran nativisme. Naturalisme yang dipelopori oleh
Jean Jaquest Rousseau, bependapat bahwa pada hakekatnya semua anak manusia
adalah baik pada waktu dilahirkan yaitu dari sejak tangan sang pencipta. Tetapi
akhirnya rusak sewaktu berada ditangan manusia, oleh karena Jean Jaquest Rousseau
menciptakan konsep pendidikan alam, artinya anak hendaklah dibiarkan tumbuh dan
berkembang sendiri menurut alamnya, manusia jangan banyak mencampurinya.
Aliran ini juga disebut negativisme, karena berpendapat bahwa pendidik wajib
membiarkan pertumbuhan anak pada alam. Jadi dengan kata lain pendidikan tidak di
perlukan. Yang di laksanakan adalah menyerahkan anak didik kepada alam, agar
pembawaan yang baik itu tidak menjadi rusak oleh tangan manusia melalui proses dan
kegiatan pendidikan itu.
Jean Jaquest Rousseau ingin menjauhkan anak dari segala keburukan
masyarakat yang serba dibuat-buat (artificial) sehingga kebaikan anak-anak yang di
peroleh secara alamiah sejak saat kelahirannya itu dapat tampak secara spontan dan
bebas. Jean Jaquest Rousseau juga berpendapat bahwa jika anak melakukan
pelanggaran terhadap norma-norma, hendaklah orang tua atau pendidik tidak perlu
untuk memberikan hukuman, biarlah alam yang menghukumnya. Jika seorang anak
bermain pisau, atau bermain api kemudian terbakar atau tersayat tangannya, atau
bermain air kemudian ia gatal-gatal atau masuk angin. Ini adalah bentuk hukuman
alam. Biarlah anak itu merasakan sendiri akibatnya yang sewajarnya dari
perbuatannya itu yang nantinya menjadi insaf dengan sendirinya
Hukum alam memiliki ciri sebagai berikut :
a. Segalanya berkembang dari alam
b. Perkembangan alam serba teratur, tidak meloncat-loncat melainkan terjadi secara
bertahap.

c. Alam, berkembang tidak tergesa-gesa melainkan menunggu waktu yang tepat,


sambil mengadakan persiapan.
Dimensi filsafat pendidikan Naturalisme yaitu:

Dimensi utama dan pertama dari pemikiran filsafat pendidikan Naturalisme di


bidang

pendidikan

adalah

pentingnya

pendidikan

itu

sesuai

dengan

perkembangan alam.Alam berkembang dengan teratur dan menurut aturan waktu


tertentu. Tidak pernah terjadi dalam perkembangan alam, seekor kupu-kupu tibatiba dapat terbang tanpa terlebih dahulu mengalami proses perkembangan mulai
dari ulat menjadi kepompong dan seterusnya berubah menjadi kupu-kupu. Begitu
juga perkembangan alam yang lain, buah apapun di dunia, selalu bermula dari
bunga.

Dimensi kedua dari filsafat pendidikan Naturalisme yang juga dikemukakan oleh
Comenius adalah penekanan bahwa belajar itu merupakan kegiatan melalui Indra.
Seperti yang disarankan oleh Wolfgang Ratke pada para guru. Guru, kata Ratke
pertamakali hendaknya mengenalkan benda kepada anak lebih dahulu, baru
setelah itu penjelasan yang diperinci (exposition) tentang benda tersebut.

Dimensi ketiga dari filsafat pendidikan Naturalisme adalah pentingnya pemberian


pemahaman pada akal akan kejadian atau fenomena dan hukum alam melalui
observasi. Observasi berarti mengamati secara langsung fenomena yang ada di
alam ini secara cermat dan cerdas. Seperti yang dialami Copernicus, bahwa
pemahaman kita akan menipu kita, apabila kita berfikir bahwa mataharilah yang
mengelilingi bumi, padahal sebenarnya bumilah yang mengelilingi matahari.

Demensi terakhir dari percikan pemikiran filsafat pendidikan Naturalisme juga


dikembangkan oleh Jean Jacques Rousseau berkebangsaan Prancis yang naturalis
mengatakan bahwa pendidikan dapat berasal dari tiga hal, yaitu ; alam, manusia
dan barang. Bagi Rousseau seorang anak harus hidup dengan prinsip-prinsip alam
semesta.

4. Aliran Empirisme

Aliran empirisme bertolak dari Lockean Tradition yang mementingkan


stimulsi

eksternal

dalam perkembangan

manusia,

dan

menyatakan

bahwa

perkembangan anak tergantung kepada lingkungan, sedangkan pembawaan tidak


dipentingkan. Pengalaman yang diproleh anak dalam kehidupan sehari-hari didapat
dari dunia sekitarnya yang berupa stimulan-stimulan. Stimulasi ini berasal dari alam
bebas ataupun diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk pendidikan. Tokoh
perintisnya adalah John Locke filsuf Inggris (1704-1932) yang mengungkapkan teori
tabula rasa, yakni anak lahir di dunia bagaikan kertas putih yang bersih. Pengalaman
empirik yang diperoleh dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan
perkembangan anak.
Menurut pandangan empirisme (biasa pula disebut environmentalisme)
pendidik memegang peranan yang sangat penting sebab dalam perkembangan anak
menjadi manusia dewasa ditentukan oleh lingkungannya atau oleh pendidikan dan
pengalaman yang diterimanya sejak kecil. Manusia-manusia dapat dididik menjadi
apa saja (ke arah yang baik maupun kearah yang buruk) menurut kehendak
lingkungan atau pendidiknya. Dalam pendidikan, pendapat kaum empiris ini terkenal
dengan nama optimisme pedagogis. Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang
menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan
peranan akal. Istilah empirisme di ambil dari bahasa Yunani empeiria yang berarti
coba-coba atau pengalaman. Sebagai suatu doktrin empirisme adalah lawan dari
rasionalisme. Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang
sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan di peroleh atau bersumber dari
panca indera manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan kata lain,
kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia.
Aliran empirisme di pandang berat sebelah sebab hanya mementingkan
peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Sedangkan kemampuan dasar
yang di bawa anak sejak lahir di anggap tidak menentukan, menurut kenyataan dalam
kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena berbakat, meskipun
lingkungan sekitarnya tidak mendukung. Keberhasilan ini disebabkan oleh adanya
kemampuan yang berasal dari dalam diri yang berupa kecerdasan atau kemauan keras,
anak berusaha mendapatkan lingkungan yang dapat mengembangkan bakat atau
kemampuan yang telah ada dalam dirinya. Meskipun demikian, penganut aliran ini
7

masih tampak pada pendapat-pendapat yang memandang manusia sebagai makhluk


yang pasif dan dapat diubah, umpamanya melalui modifikasi tingkah laku. Hal itu
tercermin pada pandangan scientific psycology Skinner ataupun dengan behavioral.
Behaviorisme itu menjadikan prilaku manusia tampak keluar sebagai sasaran
kajianya, dengan tetap menekankan bahwa perilaku itu terutama sebagai hasil belajar
semata-mata. Meskipun demikian, pandangan-pandangan behavioral ini juga masih
bervariasi dalam menentukan faktor apakah yang paling utama dalam proses belajar
itu sebagai berikut:
a. Pandangan yang menekankan peranan pengamatan dan imitasi.
b. Pandangan yang menekankan peranan dari dampak ataupun balikan dari sesuatu
perilaku.
c. Pandangan yang menekankan peranan stimulus atau rangsangan terhadap
perilaku.
Seperti yang akan dikemukakan pada butir atau aliran konvergensi pada
bagian ini, beberapa pendapat dalam pandangan behavioral tersebut tidak lagi
sepenuhnya ala Tabula Rasa dari J. Locke, karena telah mulai diperhatikan pula
faktor-faktor internal dari manusia.

5. Aliran Konvergensi
Perintis aliran ini adalah William Stern (1871-1939), seorang ahli pendidikan
bangsa Jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan di dunia sudah
disertai pembawaan baik maupun pembawaan buruk. Penganut aliran ini berpendapat
bahwa dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor
lingkungan sama-sama mempunyai peranan penting. Bakat yang dibawa pada waktu
lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang
sesuai dengan perkembangan bakat tersebut. Sebaliknya lingkungan yang baik tidak
dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang dalam dirinya
tidak terdapat bakat yang diperlukan dalam mengembangkan bakat tersebut. Sebagai

contoh, hakikat kemampuan anak manusia berbahasa dengan kata-kata adalah juga
hasil konvergensi.
Pada anak manusia ada pembawaan untuk berbicara melalui situasi
lingkungan, anak belajar berbicara dalam bahasa tertentu. Lingkungan pun
mempengaruhi anak didik dalam mengembangkan pembawaan bahasanya. Karena itu
tiap anak manusia mula-mula menggunakan bahasa lingkungannya, misalnya bahasa
Jawa, bahasa Sunda, bahasa Iggris, dan sebagainya. Kemampuan dua orang anak
(yang tinggal dalam satu lingkungan yang sama) untuk mempelajari bahasa mungkin
tidak sama. Itu disebabkan oleh adanya perbedaan kuantitas pembawaan dan
perbedaaan situasi lingkungan, biarpun lingkungan kedua orang anak tersebut bahasa
yang sama. Oleh karena itu Stren berpendapat bahwa hasil pendidikan itu tergantung
dari pembawaan dan lingkungannya, seakan-akan dua garis menuju satu titik
pertemuan.
Karena itu teori W. Stren disebut teori konvergensi (konvergen artinya
memusat kesatu titik). Jadi menurut teori konvergensi :
a. Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan.
b. Pendidikan di artikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak
didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya
potensi yang kurang baik.
c. Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan. Aliran
konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat
dalam memahami tumbuh kembang manusia.
William Stern mengatakan bahwa kemungkinan-kemungkinan yang dibawa
sejak lahir itu merupakan petunjuk-petunjuk nasib manusia yang akan datang dengan
ruang permainan. Dalam ruang permainan itulah terletak pendidikan dalam arti yang
sangat luas. Tenaga-tenaga dari luar dapat menolong tetapi bukanlah ia yang
menyebabkan perkembangan itu, karena ini datangnya dari dalam yang mengandung
dasar keaktifan dan tenaga pendorong. Sebagai contoh : anak dalam tahun pertama
belajar mengoceh, baru kemudian becakap-cakap, dorongan dan bakat itu telah ada, di

meniru suara-suara dari ibunya dan orang disekelilingnya. Ia meniru dan


mendebgarkan dari kata-kata yang diucapkan kepadanya, bakat dan dorongan itu
tidak akan berkembang jika tidak ada bantuan dari luar yang merangsangnya. Dengan
demikian jika tidak ada bantuan suara-suara dari luar atau kata-kata yang di
dengarnya tidak mungkin anak tesebut bisa bercakap-cakap.

B. Pemikiran Baru tentang Pendidikan


Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang kompleks menuntut penanganan
untuk meningkatkan kualitasnya,baik yang bersifat menyeluruh maupun pada
beberapa komponen tertentu saja. Gerakan baru dalam pendidikan pada umumnya
termasuk yang kedua yaitu upaya peningkatan mutu pendidikan hanya dalam satu
atau beberapa komponen saja. Gerakan- gerakan baru itu umunya sudah member
kontribusi secara bervariasi terhadap penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di
sekolah sekarang ini. Gerakan baru tersebut antara lain :
1. Pengajaran alam sekitar
Pengajaran alam sekitar merupakan gerakan yang mendekatkan anak dengan
sekitarnya. Perintis gerakan ini antara lain Fr. A. Finger (1808-1888) di jerman
dengan istilahnya heimatkunde (pengajaran alam sekitar), dan J.Lighthart (1859-1916)
di Belanda dengan Het volle-Leven (kehidupan senyatanya)
Beberapa prinsip gerakan heitmakunde antara lain:
a) Dengan pengajaran alam itu, guru dapat memperagakan secara langsung sesuai
dengan sifat-sifat atau dengan dasar-dasar pengajaran.
b) Pengajaran alam sekitar memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya agar anak
aktif atau giat tidak hanya duduk, dengar, dan mencatat saja.
c) Pengajaran alam memungkinkan untuk memberikan pengajaran totalitas.
d) Pengajaran alam sekitar memberikan kepada anak bahan apresiasi intelektual
yang kukuh dan tidak verbalitas.
e) Pengajaran alam sekitar memberikan aspirasi emosional, karena alam sekitar
mempunyai ikatan alam emosional dengan anak.
Dengan ini maka alam sekitar tidak berbeda untuk anak ataupun orang
dewasa, karena segala kejadian di alam dan sekitarnya merupakan sebagian dari
hidupnya sendiri dalam suka maupun duka. Karena alam sekitar juga termasuk dalam
katagori ruang lingkup dalam pendidikan yaitu pendidikan secara arti luas, dimana
objek pendidikanya adalah lingkungan setempat.
10

Prisip-prinsip Het volle Leven (Kehidupan senyatanya) yaitu:


a) Anak harus mengetahui barangnya terlebih dahulu sebelum mengetahui namanya.
b) Pengajaran sesungguhnya harus mendasarkan pada pengajaran selanjutnya atau
mata pengajaran yang lain harus dipusatkan atas pengajaran itu.
c) Haruslah dilakukan perjalanan memasuki hidup senyatanya kesemua jurusan,
agar semua murid paham akan hubungan antara bermacam-macam lapangan
dalam hidupnya.
Pokok-pokok pendapat pengajaran alam sekitar tersebut telah banyak
dilakukan disekolah, baik dengan peragaan, penggunaan bahan lokal dalam
pengajaran dan lain-lain. Menurut Tirtarahardja dan Sula berpendapat bahwa konsep
pendidikan alam sekitar telah ditetapkan adanya materi pelajaran muatan lokal dalam
kurikulum, termasuk penggunaan alam sekitar.
Dengan kurikulum muatan lokal tersebut diharapkan anak semakin dekat
dengan alam sekitar dan masyarakat lingkungannya. Disamping alam sekitar sebagai
bahan ajaran, alam sekitar juga menjadi kajian empirik melalui percobaan, studi
banding dan sebagainya. Dengan memanfaatkan sumber daya alam sekitar diharapkan
anak dapat mencintai, menghargai, dan melestarikan lingkungan alam sekitar sebagai
sumber kehidupannya.
2. Pengajaran Pusat Perhatian
Model pembelajaran pusat perhatian dirintis oleh Ovide Decroly (1871-1932)
dari Belgia dengan pengajaran melalui pusat-pusat minat (centresdInteret). Dalam
metode ini, peserta didik harus dapat hidup dalam masyarakat dan dipersiapkan untuk
masyarakat, anak harus diarahkan kepada pembentukan individu dan sebagai anggota
masyarakat. Karenanya, anak harus mempunyai pengetahuan terhadap diri sendiri
seperti hasrat dan cita-citanya, kemudian pengetahuan tentang dunianya seperti
lingkungannya dan tempat hidup di hari depannya. Menurut Decroly dalam Syaiful
Sagala, dunia ini terdiri dari alam dan kebudayaan, dan dunia itu harus hidup dan
setiap orang harus dapat mengembangkan kemampuan untuk mencapai cita-citanya.
Dari penelitian secara tekun, Decroly menyumbangkan dua pendapat yang
sangat berguna bagi pendidikan dan pengajaran,yang merupakan dua hal yang khas
dari Decroly yaitu:
a. Metode global (keseluruhan). Dari hasil observasi dan tes,dapatlah ia
menetapkan,bahwa anak anak mengamati dan mengingat secara global
(keseluruhan). Mengingat keseluruhan terlebih dahulu daripada bagian bagian.
Jadi ini berdasar pada prinsip psikologi Gestalt. Dalam mengajarkan membaca
11

dan menulis, ternyata mengajarkan kalimat lebih mudah daripada mengajarkan


kata kata lepas. Sedang kata lebih mudah diajarkan daripada mengajarkan huruf
huruf secara tersendiri.
b. Centres dinteret (pusat pusat minat). Dari penyelidikan psikologik, ia
menetapkan bahwa anak anak mempunyai minat yang spontan (sewajarnya).
Pengajaran harus disesuaikan dengan minat minat spontan tersebut. Sebab
apabila tidak, yaitu misalnya minat yang ditimbulkan oleh guru, maka pengajaran
itu tidak akan banyak hasilnya. Anak mempunyai minat minat spontan terhadap
diri sendiri dan minat spontan terhadap diri sendiri itu dapat kita bedakan menjadi:
- Dorongan mempertahankan diri
- Dorongan mencari makan dan minum
- Dorongan memelihara diri
Sedangkan minat terhadap masyarakat (biososial) adalah :
-

Dorongan sibuk bermain main


Dorongan meniru orang lain

Dorongan dorongan inilah yang digunakan sebagai pusat pusat minat,


sedangkan pendidikan dan pengajaran harus selalu dihubungkan dengan pusat
pusat minat tersebut.
Prinsip pengajaran pusat perhatian
Prinsip model pembelajaran pusat perhatian adalah; sekolah merupakan laboratorium
untuk mengadakan penyelidikan demi kebaikan sistem pendidikan dan pengajaran. Dalam
sekolah, anak didik diuji berbagai dasar aliran dalam dunia pengajaran modern seperti:
1. Sekolah berhubungan langsung dengan alam dan penghidupan sekitarnya.
2. Pendidikan dan pengajaran berdasarkan atas perkembangan anak. Tiap-tiap anak
mempunyai perbedaan antara lain kesanggupan, tingkat kepandaian, tempo irama
perkembangan, perhatian, pembawaan, bakat, dan sebagainya.
3. Sekolah kerja.
4. Pendidikan yang fungsional dan praktis.
5. Pendidikan kesosialan dan kesusilaan dengan member kesempatan untuk
bekerjasama.
6. Kerjasama antar rumah dan sekolah.
7. Co edukasi.
8. Mempergunakan alat baru seperti percetakan, pengmpulan alat pelajaran oleh
peserta didik sendiri. Semua hal ini telah diperaktekkan oleh Decroly di
sekolahnya.
3. Sekolah kerja
Gerakan sekolah kerja dapat dipandang sebagai titik kulminasi dari
pandangan-pandangan
12

yang

mementingan

pendidikan

keterampilan.

Model

pembelajaran sekolah kerja ini dipelopori oleh G.Kerschensteiner (1854-1932)


dengan konsep Arbeitschule (sekolah kerja) di Jerman.
Model pembelajaran sekolah kerja ini bertolak dari pandangan bahwa
pendidikan tidak hanya tidak hanya demi kepentingan individu, tetapi juga demi
kepentingan masyarakat. Dengan kata lain sekolah berkewajiban menyiapkan warga
negara yang baik yakni:
a. Tiap orang adalah pekerja dalam salah satu lapangan kerja
b. Tiap orang wajib menyumbangkan tenaganya untuk kepentingan Negara
c. Dalam menunaikan kedua tugas tesebut haruslah selalu diusahakan
kesempurnaannya, agar dengan jalan itu tiap warga Negara ikut membantu
mempertinggi dan menyempurnakan kesusilaan dan keselamatan Negara.
Tujuan sekolah kerja adalah:
a. Menambah pengetahuan anak baik buku maupun dari pengalaman sendiri
b. Agar anak dapat memiliki pengetahuan dan kemahiran tertentu
c. Agar anak memiliki pekerjaan sebagai persiapan untuk mengabdi kepada Negara.
Intinya bahwa kewajiban utama sekolah adalah mempersiapkan peserta didik
untuk dapat bekerja.
Kerchensteiner berpendapat bahwa kewajiban utama sekolah adalah
mempersiapkan anak anak untuk dapat bekerja. Bukan pekerjaan otak yang
dipentingkan, melainkan pekerjaan tangan, sebab pekerjaan tangan adalah dasar dari
segala pengetahuan adat,agama, bahasa, kesenian, ilmu pengetahuan, dan lain lain.
Oleh karena demikian banyaknya macam pekerjaan yang enjadi pusat pelajaran, maka
sekolah kerja dibagi menjadi 3 golongan besar :
1) Sekolah sekolah perindustrian (tukang cukur,tukang cetak, tukang
kayu,tukang daging, masinis, dan lain lain.)
2) Sekolah sekolah perdagangan (makanan, pakaian, bank, asuransi, pemegang
buku, porselin, pisau, dan gunting dari besi dan lain- lain)
3) Sekolah sekolah rumah tangga ,bertujuan mendidik para calon ibu yang
diharapkan akan menghasilkan warga Negara yang baik.
Segala pekerjaan itu dilaksanakan di sekolah sehingga sekolah mempunyai
alat-alat lengkap dan tempat (ruang ) yang cukup;dapur,laboratorium,kebun sekolah,
tempat bertukang, dan sebagainya.
Dasar-dasar sekolah kerja yaitu:
a. Di dalam sekolah kerja, anak aktif berbuat, mengamati sendiri, mencari jalan
sendiri, memikirkan dan memecahkan sendiri setiap persoalan yang dihadapi.
b. Pusat kegiatan pendidikan dan pengajarn ialah anak, bukan guru, metode ataupun
bahan pelajaran.
13

c. Sekolah kerja mendidik anak menjadi pribadi yang berani berdiri sendiri dan
bertanggung jawab sebagai anggota masyarakat yang baik.
d. Bahan pelajaran disusun dalam suatu keseluruhan (totalitas) yang berpusat pada
masalah kehidupan. Masalah-masalah kehidupan ini haruslah erat hubungannya
dengan minat dan perhatian anak
e. Sekolah kerja tidak mementingkan pengetahuan sikap yang bersifat hafalan atau
hasil peniruan, melainkan pengetahuan fungsional yang dapat dipergunakan untuk
berprakarsa, emncipta dan berbuat.
f. Pendidikan kecerdasan tidak dapat diberikan dengan memberitahukan atau
menceritakan kepada anak melainkan anak sendiri yang harus menjalani proses
berpikir sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
g. Sekolah kerja merupakan suatu bentuk masyarakat kecil yang di dalamnya anakanak mendapatkan latihan dan pengalaman yang amat penting artinya bagi
pendidikan moral, sosial dan kecerdasan.
4. Sekolah proyek
Dasar filosofis pengajaran proyek diletakkan oleh John Dewey (1859-1952),
namun pelaksanaannya dilakukan oleh pengikutnya utamanya W.H.Kilpatrick (1871),
Dewey menegaskan bahwa sekolah adalah mikrokosmos dari masyarakat. Oleh
karena itu, pendidikan adalah proses kehidupan itu sendiri dan bukannya persiapan
untk kehidupan di masa depan. Perlu pula dikemukakan bahwa Dewey merupakan
peletak dasar dari falsafah pragmatisme dan penganut behaviorisme. J.Dewey sering
dipandang sebagai pemikir dan peletak masyarakat modern amerika.

Langkah-langkah Pokok Pengajaran Proyek


Pada dasarnya ada 3 langkah pokok, yaitu persiapan, kegiatan belajar, dan pameran.
a. Persiapan : termasuk dalam langkah ini ialah penetapan masalah yang akan dibahas.
Dalam langkah ini guru merangsang anak-anak agar mereka dapat memikirkan,
mengusulkan dan mendiskusikan apa yang perlu mereka pelajari. Setelah masalah itu
ditetapkan persiapan-persiapan lebih lanjut dilakukan, seperti menetapkan jenis-jenis
kegiatan yang akan dilakukan, siapa-siapa yang akan melakukan kegiatan itu masingmasing, peralatan yang di perlukan, jedwal kegiatan. Persiapan ini perlu disusun dalam
bentuk rencana yang nyata, lengkap, dan jelas sangkut paut kegiatan yang satu dengan

14

yang lainnya. Dalam menyusun persiapan ini perlu di praktekkan metode ilmiah berupa
penyusunan hipotesis dan pengajuan alternatif terdahulu
b. Kegiatan Belajar : kegiatan ini pada dasarnya merupakan pelaksanaan dari rencana yang
telah disiapkan terdahulu itu. Kegiatan dapat diawali dengan perjalanan sekolah,
karyawisata, peninjauan, atau pengamatan suatu objek, membaca buku, majalah dan
membuat catatan tentang apa yang diamati atau di baca itu. Berdasarkan hasil kegiatan
seperti diskusi, membuat karangan, menyusun model, menjawab pertanyaan, menyusun
diagram, membuat laporan dan sebagainya. Kegiatan belajar ini pada dasarnya
merupakan usaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan atau hipotesis-hipotesis
yang telah dikemukakan terdahulu.
c. Penilaian : bentuk penilaian yang sering dilakukan ialah dengan mengadakan pameran.
Semua hasil kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak di pamerkan. Seluruh warga kelas
memperhatikan apa yang di pamerkan itu, memberikan tanggapan, kritik, menambah halhal yang dirasa masih kurang, dan sebagainya. Pada akhir kegiatan suatu proyek, anakanak diminta membuat catatan pada buku proyeknya masing-masing. Buku proyek ini
sifatnya perorangan sehingga bentuk dan isi buku proyek anak satu dapat berbeda dengan
anak yang lain.
Keuntungan Pengajaran Proyek
a. Meningkatkan motivasi. Laporan-laporan tertulis tentang proyek itu banyak yang
mengatakan bahwa siswa suka tekun sampai kelewat batas waktu, berusaha keras dalam
mencapai proyek. Guru juga melaporkan pengembangan dalam kehadiran dan
berkurangnya keterlambatan. Siswa melaporkan bahwa belajar dalam proyek lebih fun
daripada komponen kurikulum yang lain.
b. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Penelitian pada pengembangan
keterampilan kognitif tingkat tinggi siswa menekankan perlunya bagi siswa untuk terlibat
di dalam tugas-tugas pemecahan masalah dan perlunya untuk pembelajaran khusus pada
bagaimana

menemukan

dan

memecahkan

masalah.

Banyak

sumber

yang

mendiskripsikan lingkungan belajar berbasis proyek membuat siswa menjadi lebih aktif
dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks.
c. Meningkatkan kolaborasi. Pentingnya kerja kelompok dalam proyek memerlukan siswa
mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi ( Johnson & Johnson,
1989). Kelompok kerja kooperatif, evaluasi siswa, pertukaran informasi online adalah
aspek-aspek kolaboratif dari sebuah proyek. Teori-teori kognitif yang baru dan
konstruktivistik menegaskan bahwa belajar adalah fenomena sosial, dan bahwa siswa
akan belajar lebih di dalam lingkungan kolaboratif (Vygotsky, 1978; Davidov, 1995).
15

d. Meningkatkan keterampilan mengelola sumber. Bagian dari menjadi siswa yang


independen adalah bertanggungjawab untuk menyelesaikan tugas yang kompleks.
Pembelajaran Berbais Proyek yang diimplementasikan secara baik memberikan kepada
siswa pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuatnya.
5. Home Schooling
Homeschooling adalah sebuah system pendidikan alternatif untuk anak selain
di sekolah. Dimana saat ini mulai perkembang di Indonesia , dan keberadaanya sah
dan dijamin undang - undang. Homeschooling mulai menjadi pilihan masyarakat
sebagai alternatif metode pendidikan karena beberapa hal, misalnya karena adanya
keinginan masyarakat untuk lebih fleksibel dalam mendidik anak, menyediakan
system pendidikan yang lebih ramah terhadap perkembangan anak, maupun menjamin
bahwa proses belajar mengajar anak bisa terlaksana secara maksimal.
Hal ini terjadi karena adanya keinginan para orang tua untuk memberikan
pendidikan terhadap anak yang lebih sesuai dengan bakat dan minat sang anak,
maupun karena disebabkan adanya kondisi di system pendidikan konvensional yang
tidak bisa memuaskan kehendak orang tua untuk mendidik anaknya, misalnya terjadi
kasus

kekerasan

terhadap

anak,

maupun

system

pendidikan

masal

yang

mengakibatkan potensi anak kurang tergali secara maksimal. (Wahyuni. 2008)


6. Sekolah Alam
Sekolah Alam merupakan salah satu sekolahan yang menerapkan pola
pendidikan yang berbasiskan cara-cara otak bekerja dalam menyerap suatu informasi
atau ilmu. Metode yang sering digunakan dalam Sekolah Alam adalah belajar aktif
yang biasa dikembangkan melalui ceramah dan diskusi, pemecahan masalah, dan
presentasi. Sebelumnya siswa dapat mengambil bahan atau permasalahan dengan
melilihat, menyentuh, dan merasakan secara langsung ke alam. Tempat belajar tidak
hanya terpancang pada kelas. Proses belajar yang diterapkan adalah sistem spider web
yakni siswa diijinkan untuk memilih materi pembelajaran sesuai dengan
kehendaknya. Model pendidikan sekolah alam tersebut umumnya menggabungkan
dan mengembangkan aspek intelektual, emosional, spiritual serta berbagai
ketrampilan hidup siswa.
Mutu pendidikan Indonesia masih jauh dari negara-negara lain, bahkan masih
di bawah Vietnam. Ini berarti ada yang salah dengan sistem pendidikan di negara ini,
Suasana belajar yang menyenangkan dan membuat anak-anak senang dan merasa

16

bahwa belajar adalah suatu kebutuhan dan kesenangan, bukan sesuatu yang
membosankan dan harus dipaksakan (Hardian. 2010)
Hampir seluruh sekolah alam yang ada memiliki konsep utama yaitu upaya
memaksimalkan potensi anak untuk tumbuh menjadi manusia yang berkarakter,
berakhlak mulia, berwawasan ilmu pengetahuan dan siap menjadi pemimpin. Metode
pengajaran sekolah alam juga membuat bersekolah lebih menyenangkan dan anak
tidak merasa terpenjara.
Sekolah alam juga mendorong anak untuk aktif dan kreatif dan bukan sematamata mendapatkan materi yang diberikan oleh guru, menciptakan hubungan belajar
tanpa sekat antara guru dan murid. Selama ini arah belajar di sekolah selalu dari guru
ke murid, sehingga ada jarak antara mereka. Sekolah alam ini muncul sebagai sekolah
yang non-classical dan tanpa sekat,
Sekolah alam pada umumnya menggunakan konsep tematik. Setiap tema
dibahas dari berbagai sisi akhlak, seni, bahasa, kepemimpinan, dan ilmu pengetahuan.
Tiap tingkatan memiliki sejumlah tema pembahasan yang berbeda-bedaPelajaran di
sekolah alam juga padat dengan materi keagamaan. yaitu melancarkan hapalan AlQuran
7. PendidikanBerasrama (Boarding School)
Sekolah Berasrama adalah alternative terbaik buat para orang tua
menyekolahkan anak mereka dalam kondisi apapun. Selama 24 jam anak hidup dalam
pemantauan dan control yang total dari pengelola, guru, dan pengasuh di seklolahsekolah berasrama. Anak betul-betul dipersiapkan untuk masuk kedalam dunia nyata
dengan modal yang cukup, tidak hanya kompetensi akademis, tapi skill-skill lainnya
dipersiapkan sehingga mereka mempunyai senjata yang ampuh untuk memasuki dan
manaklukan dunia ini. Di sekolah berasrama anak dituntut untuk dapat menjadi
manusia yang berkontribusi besar bagi kemanusiaan. Mereka tidak hanya hidup untuk
dirinya dan keluarganya tapi juga harus berbuat untuk bangsa dan Negara. Oleh sebab
itu dukungan fasilitas terbaik, tenaga pengajar berkualitas, dan lingkungan yang
kondusif harus didorong untuk dapat mencapai cita-cita tersebut.(Sanaky. 2010)
Keunggulan Boarding School

Program Pendidikan Paripurna


Umumnya

sekolah-sekolah

regular

terkonsentrasi

pada kegiatan-kegiatan

akademis sehingga banyak aspek hidup anak yang tidak tersentuh. Hal ini terjadi
karena keterbatasan waktu yang ada dalam pengelolaan program pendidikan pada
17

sekolah regular. Sebaliknya, sekolah berasrama dapat merancang program


pendidikan yang komprehensif-holistic dari program pendidikan keagamaan,
academic development, life skill(soft skill dan hard skill) sampai membangun
wawasan global. Bahkan pembelajaran tidak hanya sampai pada tataran teoritis,
tapi juga implementasi baik dalam konteks belajarilmu ataupun belajar hidup.

Fasilitas Lengkap
Sekolah berasrama mempunyai fasilitas yang lengkap; mulai dari fasilitas sekolah
yaitu kelasbelajar yang baik(AC, 24 siswa, smart board, mini library, camera),
laboratorium, clinic, sarana olah raga semua cabang olah raga, Perpustakaan,
kebun dan tamanhijau. Sementara di asrama fasilitasnya adalah kamar(telepon,
TV, AC, Pengering Rambut, tempat handuk, karpet diseluruh ruangan, tempat cuci
tangan, lemari kamar mandi, gantungan pakaian dan lemari cuci, area belajar
pribadi, lemari es, detector kebakaran, jam dinding, lampu meja, cermin besar,
rak-rak yang luas, pintu darurat dengan pintu otomatis. Sedangkan fasilitas dapur
terdiri dari: meja dan kursi yang besar, perlengkapan makan dan pecah belah yang
lengkap, microwape, lemari es, ketel otomatis, pembuat roti sandwich, dua toaster
listrik, tempat sampah, perlengkapan masak memasak lengkap, dan kursi yang
nyaman.

Guru yang Berkualitas


Sekolah-sekolah berasrama umumnya menentukan persyaratan kualitas guru yang
lebih jika dibandingkan dengan sekolah konvensional. Kecerdasan intellectual,
social, spiritual, dan kemampuan paedagogis-metodologis serta adanya ruh
mudarris pada setiap guru di sekolah berasrama. Ditambah lagi kemampuan bahsa
asing: Inggris, Arab, Mandarin, dll. Sampai saat ini dalam penilaian saya sekolahsekolah berasrama(boarding school) belum mampu mengintegrasikan guru
sekolah dengan guru asrama. Masih terdapat dua kutub yang sangat ekstrim antara
kegiatan pendidikan dengan kegiatan pengasuhan. Pendidikan dilakukan oleh guru
sekolah dan pengasuhan dilakukan oleh guru asrama.

Lingkungan yang Kondusif


Dalam sekolah berasrama semua elemen yang ada dalam komplek sekolah terlibat
dalam proses pendidikan. Aktornya tidak hanya guru atau bisa dibalik gurunya
bukan hanya guru mata pelajaran, tapi semua orang dewasa yang ada di boarding
school adalah guru. Siswa tidak bisa lagi diajarkan bahasa-bahasa langit, tapi

18

siswa melihat langsung praktek kehidupan dalam berbagai aspek. Guru tidakhanya
dilihatnya di dalam kelas, tapi juga kehidupan kesehariannya. Sehingga ketika kita
mengajarkan tertib bahasa asing misalnya maka semuanya dari mulai tukang sapu
sampai principal berbahasa asing. Begitu juga dalam membangun religius socity,
maka semua elemen yang terlibat mengimplementasikan agama secara baik.

Siswa yang heterogen


Sekolah berasrama mampu menampung siswa dari berbagai latar belakang yang
tingkat heteroginitasnya tinggi. Siswa berasal dari berbagai daerah yang
mempunyai latar belakang social, budaya, tingkat kecerdasan, kempuan
akademik yang sangat beragam. Kondisi ini sangat kondusif untuk membangun
wawasan national dan siswa terbiasa berinteraksi dengan teman-temannya yang
berbeda sehingga sangat baik bagi anak untuk melatih wisdom anak dan
menghargai pluralitas.

Jaminan Keamanan
Sekolah berasrama berupaya secara total untuk menjaga keamanan siswasiswinya. Makanya, banyak sekolah asrama yang mengadop pola pendidikan
militer untuk menjaga keamanan siswa-siswinya. Tata tertib dibuat sangat rigid
lengkap dengan sangsi-sangsi bagi pelanggarnya. Daftar dosa dilist sedemikan
rupa dari dosa kecil, menengah sampai berat. Jaminan keamanan diberikan
sekolah berasarama, mulai dari jaminan kesehatan(tidak terkena penyakit
menular), tidak NARKOBA, terhindar dari pergaulan bebas, dan jaminan
keamanan fisik(tauran dan perpeloncoan), serta jaminan pengaruh kejahatan dunia
maya.

Jaminan Kualitas
Sekolah berasrama dengan program yang komprehensif-holistik, fasilitas yang
lengkap,

guru

yang

berkualitas,

dan

lingkungan

yang

kondusif

dan

terkontrol, dapat memberikan jaminan kualitas jika dibandingkan dengan sekolah


konvensional. Dalam sekolah berasrama, pintar tidak pintarnya anak, baik dan
tidak baiknya anak sangat tergantung pada sekolah karena 24 jam anak bersama
sekolah. Hampir dapat dipastikan tidak ada variable lain yang mengintervensi
perkembangan dan progresivits pendidikan anak, seperti pada sekolah
konvensional yang masih dibantu oleh lembaga bimbingan belajar, lembaga
kursus dan lain-lain. Sekolah-sekolah berasrama dapat melakukan treatment
19

individual, sehingga setiap siswa dapat melejikan bakat dan potensi individunya.
(Tirtarahrja. 2005)
Problem Sekolah Berasrama
Sampai saat ini sekolah-sekolah berasrama dalam pengamatan saya masih
banyak mempunyai persoalan yang belum dapat diatasi sehingga banyak sekolah
berasrama layu sebelum berkembang dan itu terjadi pada sekolah-sekolah boarding
perintis. Faktor-faktornya adalah sebagai berikut:
a. Ideologi Sekolah Boarding yang Tidak Jelas
Term ideology saya gunakan untuk menjelaskan tipologi atau corak sekolah
berasrama, apakah religius, nasionalis, atau nasionalis-religius. Yang mengambil
corak religius sangat beragam dari yang fundamentalis, moderat sampai
liberal.Masalahnya dalam implementasi ideologinya tidak dilakukan secara
kaffah. Terlalu banyak improvisasi yang bias dan keluar dari pakem atau frame
ideology tersebut. Hal itu juga serupa dengan yang nasionalis, tidak mengadop
pola-pola pendidikan kedisiplinan militer secara kaffah, akibatnya terdapat
kekerasan dalam sekolah berasrama. Sementara yang nasionalis-religius dalam
praktik sekolah berasrama saya melihatnya masih belum jelas formatnya.
b. Dikotomi guru sekolah VS guru asrama (pengasuhan)
Sampai saat ini sekolah berasrama kesulitan mencari guru yang cocok untuk
sekolah berasrama. Pabrikan guru (IKIP dan Mantan IKIP) tidak memproduksi
guru-guru sekolah berasrama. Akibatnya, masing-masing sekolah mendidik guru
asrmanya sendiri sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki oleh lembaga tersebut.
Guru sekolah (mata pelajaran) bertugas hanya untuk mengampu mata
pelajarannya, sementara guru pengasuhan adalah tersendiri hanya bicara soal
pengasuhan. Padahal idealnya, dua kompetensi tersebut harus melekat dalam
sekolah berasrama. Ini penting untuk tidak terjadinya saling menyalahkan dalam
proses pendidikan antara guru sekolah dengan guru asrama.
c. Kurikulum Pengasuhan yang Tidak Baku
Salah satu yang membedakan sekolah-sekolah berasrama adalah kurikulum
pengasuhannya. Kalau bicara kurikulum academiknya dapat dipastikan hampir
sedikit perbedaannya. Semuanya mengacu kepada kurikulum KTSP-nya produk
DEPDIKNAS

dengan

ditambah

pengayaan

atau

suplemen

kurikulum

internasional dan muatan local. Tapi kalau bicara tentang pola pengasuhan sangat
beragam, dari yang sangat militer(disiplin habis) sampai ada yang terlalu lunak.
Kedua-duanya mempunyai efek negatif (Sartono Mukadis), pola militer
20

melahirkan siswa yang berwatak kemiliter-militeran dan terlalu lunak


menimbulkan watak licik yang bisa mengantar sang siswa mempermainkan
peraturan.
d. Sekolah dan Asrama Terletak Dalam Satu Lokasi
Umumnya sekolah-sekolah berasrama berada dalam satu lokasi dan dalam
jarak yang sangat dekat. Kondisi ini yang telah banyak berkontribusi dalam
menciptakan kejenuhan anak berada di sekolah Asrama. Faktor ini(salah satu
factor)

yang

menyebabkan

mengistirahatkan

boarding

SMA Madania
schoolnya.

di

Karena

parung
menurut

Bogor

sempat

Komaruddin

Hidayat(Direktur Executive Madania), siswa harus mengalami semacam proses


berangkat ke sekolah. Dengan begitu, mereka mengenyam suasana meninggalkan
tempat menginap, berinteraksi dengan sesama siswa di jalan, serta melihat
aktivitas masyarakat sepanjang jalan. Faktor ini juga yang menyebabkan IIEC
Group mendirikan International Islamic High School Boarding Intermoda
(IIHSBI), dimana sekolah dan asrama serta fasilitas utama lainnya tidak berada
dalam satu tempat sehingga siswa dituntut untuk mempunyai mobilitas tinggi,
kesehatan dan kebugaran yang baik, dan dapat membaca setiap fenomena yang
ada disekitarnya. (Tirtaraharja.2005)

C. Implikasi Pemikiran Klasik dan Pemikiran Baru dalam Pendidikan


Indonesia
1. Pengaruh Aliran Klasik terhadap Pemikiran dan Praktek Pendidikan di
Indonesia
Aliran pendidikan klasik mulai dikenal di Indonesia melalui upaya pendidikan,
utamanya persekolahan dari penguasa penjajah Belanda dan disusul oleh orang
Indonesia yang belajar di negeri Belanda pada masa penjajahan. Setelah kemerdekaan
Indonesia, gagasan dalam aliran pendidikan itu masuk ke Indonesia. Sebelum masa
itu, pendidikan di Indonesia terutama oleh keluarga dan masyarakat (kelompok
belajar/ padepokan, lembaga keagamaa/ pesantren dan lain-lain).
Meskipun dalam hal-hal tertentu sangat diutamakan bakat dan potensi lainnya
dari anak (umpama pada bidang kesenian, keterampilan tertentu dan sebagainya),
namun upaya penciptaan lingkungan untuk mengembangkan bakat dan kemampuan
itu diusahakan pula secara optimal. Dengan kata lain, meskipun peranan pandangan

21

empirisme dan nativisme tidak sepenuhnya ditolah, tetapi penerimaan itu dilakukan
dengan pendekatan eklestis fungsional yakni diterima sesuai kebutuhan, namun
ditempatkan dalam latar pandangan yang konvergensi.
Khusus dalam latar persekolahan, kini terdapat sejumlah pendapat yang lebih
menginginkan agar peserta didik ditempatkan pada posisi yang seharusnya, yakni
sebagai manusia yang dapat dididik tetapi juga dapat mendidik dirinya sendiri.
Hubungan pendidikan dan peserta didik seyogyanya adalah hubungan yang setara
antara dua pribadi, meskipun yang satu lebih berkembang dari yang lain, (Raka Joni,
1983: 29 Sulo Lipu La Sulo, 1984). Hubungan kesetaraan dalam interaksi edukatif
tersebut seyogyanya diarahkan menjadi suatu hubungan yang transaksional, suatu
hubungan antar pribadi yang memberikan peluang baik peserta didik yang belajar,
maupun pendidikan yang ikut belajar (co-learner). Dengan demikian, cita-cita
pendidikan seumur hidup diwujudkan melalui belajar seumur hidup. Hubungan
tersebut sesuai dengan asas ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, dan tut
wuri handayani, serta pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dalam kegiatan
belajar mengajar. Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, peran
peserta didik dalam mengembangkan bakat, minat dan kemampuannya itu telah
diakui dan dilindungi.

Implikasi Naturalisme di Bidang Pendidikan


Fenomena menarik di bidang pendidikan saat ini adalah lahirnya berbagai
model pendidikan yang menjadikan alam sebagai tempat dan pusat kegiatan
pembelajarannya. Pembelajaran tidak lagi dilakukan di dalam kelas yang dibatasi oleh
ruang dan waktu, tetapi lebih fokus pada pemanfaatan alam sebagai tempat dan
sumber belajar. Belajar di dan dengan alam yang telah menyediakan beragam fasilitas
dan tantangan bagi peserta didik akan sangat menyenangkan. Tinggal kemampuan
kita bagaimana mengekploirasi sumber daya alam menjadi media, sumber dan
materi pembelajaran yang sangat berguna.
Jika di dalam kelas subyektifitas peserta didik tertekan oleh otoritas guru,
maka di alam, guru dan peserta didik dapat dengan leluasa menciptakan hubungan
yang lebih akrab satu sama lain. Dari hubungan yang akrab ini lebih lanjut terjadi
hubungan emosional yang mendalam antara guru dengan peserta didiknya. Dalam
22

kondisi seperti ini, subyektifitas peserta didik dengan sendirinya akan mengalir dalam
diskusi dengan guru di mana telah tercipta suasana belajar yang kondusif.
Menyatunya para siswa dengan alam sebagai tempat belajar dapat memuaskan
keingintahuannya (curiousity), sebab mereka secara langsung face to face berhadapan
dengan sumber dan materi pembelajaran secara riil. Hal yang sangat jarang terjadi
pada pembelajaran di dalam kelas.
2. Pengaruh Gerakan Baru dalam Pendidikan terhadap Penyelenggaraan
Pendidikan di Indonesia
Telah dikemukakan bahwa gerakan baru dalam pendidikan tersebut terutama
terkait dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Anmun dar pemikirannya
tentulah menjangkau semua segi dari pendidikan, baik aspek konseptual maupun
operasional. Sebab itu, mungkin saja gerakan-gerakan itu tidak diadopsi seutuhnya di
suatu masyarakat atau negara tertentu, namun azas pokoknya menjiwai kebijakankebijakan pendidikan dalam masyarakat atau negara lian. Sebagai contoh yang telah
dikemukakan pada setiap paparan tentang gerakan itu, untuk Indonesia, seperti
muatan lokal dalam kurikulum yang

mendekatkan peserta didik

dengan

lingkungannya, berkembangnya sekolah kejuruan, pemupukan semangat kerjasama


multi disiplin dalam mengahadapi masalah dan sebagainya.
Kajian tentang pemikiran-pemikiran pendidikan masa lalu akan sangat
bermanfaat untuk memperluas pemahaman tentang seluk beluk pendidikan, serta
memupuk wawasan historis dari setiap keputusan dan tindakan di bidang pendidikan,
termasuk di bidang pembelajaran, akan membawa dampak bukan hanya pada masa
kini tetapi juga masa depan. Oleh karena itu, setiap keputusan dan tindakan itu harus
dapat dipertanggungjawabkan secara profesional. Sebagai contoh, beberapa tahun
terakhir ini telah terjadi polemik tentang peranan pokok pendidikan (utamanya jalur
sekolah) yakni tentang masalah relevansi tentang dunia yang menyadari harkat dan
martabatnya, ataukah memberi bekal keterampilan untuk memasuki dunia kerja.
Kedua hal itu tentulah sama pendtingnya dalam membangun sumber daya manusia
Indonesia yang bermutu.
Aplikasi Pendidikan Alam Sekitar
1. Berbagai peninggalan dan pengalaman kegiatan masyarakat. Hal itu
dapat diperoleh, misalnya:

23

a. Berbagai objek atau tempat peninggalan sejarah, seperti: makam


para wali dan museum.
b. Berbagai dokumentasi sejarah perkembangan keagamaan yang
terdapat dalam arsip nasional dan lain-lain.
c. Pengikutsertaan siswa dalam berbagai kegiatan keagamaan, seperti
menyelenggarakan perayaan hari-hari besar islam
2. Dari kenyataan alam, seperti membawa siswa ke kebun binatang
untuk melihat dan mengamati berbagai kehidupan hewan.
a. Membawa siswa berkarya wisata, berkemah, menikmati keindahan
alam bebas, dan mengagumi tatanan alam.
b. Membawa siswa ke planetarium untuk melihat gambaran penataan
alam semesta.
3. Dari contoh kelakuan masyarakat, misalnya:
a. Membawa mereka berkunjung kepada tokoh-tokoh ulama terkenal
sehingga

mereka

berkesempatan

mengenal

untuk

betapa

menimba

dari

kehidupan
ulama

itu

ulama

itu

sekedarnya.

Pengalaman demikian itu perlu untuk menemukan dan meresapkan


cita dan citra islam.
b. Membawa siswa kepada kehidupan suatu masyarakat agama yang
homogen, sehingga mereka memperoleh perbandingan yang nyata
tentang kehidupan diri dan harapan-harapan kehidupanya di masa
datang dari pengalaman yang di perolehnya itu. Kehidupan yang
dimaksud

terdapat

dalam

masyarakat

agama

tertentu

atau

pesantren-pesantren tertentu.
Membawa siswa ke lembaga-lembaga pendidikan islam yang
bonafide

untuk

mengenal,

bergaul,

dan

saling

meluaskan

pandangan tentang betapa mereka menata kehidupan beragama


yang baik di sekolah.

Tokoh Pendidikan yang Berpengaruh dari Luar Negeri dan


Indonesia serta Implikasinya terhadap Pendidikan di Indonesia
D. Tokoh Pendidikan yang Berpengaruh dari Luar Negeri
1. Johann Heinrich Pestalozzi (1746-1827)

Masa kecil
Pestalozzi lahir pada tanggal 12 Januari1746 di Zrich, Swiss. Ia adalah
seorang pendidik yang mempelopori sistem pendidikan (pedagogue) baru di Swiss
dan dikenal sebagai Pendiri SekolahDasar Modern. Ayahnya seorang dokter, yang

24

meninggal pada saat Pestalozzi berumur 6 tahun dan sejak itu dia diasuh oleh
ibunya. Pada masa kecilnya, Pestalozzi merupakan anak yang tidak begitu tertarik
dengan tugas-tugas belajar yang menggunakan metode menghafal di sekolah, tetapi
dia lebih berminat dengan tugas-tugas yang menggunakan daya imajinasi.
Kelainan sifatnya itu dipengaruhi:
1) Selama masa kanak-kanak, keadaan tubuh Pestalozzi lemah sehingga
menyebabkan dia sering sakit-sakitan.
2) Dia tidak dapat bergaul dan bermain seperti anak laki-laki pada umumnya
dan lebih merasa aman dalam hubungan dengan ibunya.
3) Disamping itu, fakta bahwa tidak adanya tokoh laki-laki yang mengambil
peran dalam keluarga Pestalozzi, membuat dirinya hidup dalam dunia
khayalan.
Alhasil, Pestalozzi tampak memiliki kelainan sifat yang berbeda dengan temanteman sebayanya. Dan ia meninggal pada tanggal 17 Februari1827 di Brugg.
(wikipedia)

Perjalanan hidupnya
Pestalozzi mulai mengenyam pendidikan formal pada umur sembilan tahun,
tetapi dia sukses menempuh pendidikan dengan tepat waktu. Dia belajar di
Universitas Zurich di mana dia bertemu dengan Johann Kasper Lavater yang
mempengaruhi dia dalam dunia politik. Kematian Lavater merubah pandangan dia
dan akhirnya dia memutuskan untuk mencurahkan hidupnya pada pendidikan
(Heafford, 1967).
Johann Heinrich Pestalozzi adalah seorang ahli dan pembaharu pendidikan
Swiss yang memberikan pengaruh besar pada pembangunan sistem pendidikan di
Eropa dan Amerika bahkan sampai sekarang. Tidak hanya karena dia seorang guru
yang inovatif, tetapi dia juga mempunyai komitmen untuk melakukan reformasi
sosial, dan juga melaksanakan proyek-proyek kemanusiaan yang melibatkan anakanak yatim selama perang. Metode pendidikannya menekankan pada pentingnya
memberikan cinta dan kasih sayang, menciptakan lingkungan kekeluargaan dimana
anak dapat tumbuh dan berkembang dengan alami menjadi menjadi a whole person
dengan keseimbangan intelektual, fisik, dan kemampuan teknis, dan dengan
pertumbuhan emosional, moral, etika, serta agama. Menurut Pestalozzi, ketika
seseorang dididik sedemikian rupa, maka perbaikan sosial dan regenerasi terjadi.
Melalui asosiasinya dengan para reformis, Pestalozzi menjadi sadar akan
masalah-masalah sosial, yang membantu dia dalam mengembangkan tiga hal, yaitu
tujuan pendidikan, metode pendidikan dan disiplin dalam kelas.

25

Implikasi ajaran Pestalozzi


a. Tujuan pendidikan
Implikasi dari pandangan Pestalozzi bahwa tujuan pendidikan bukan untuk
menanamkan pengetahuan, namun untuk membentangkan kemampuan alami
dan mengembangkan kemampuan yang tersembunyi dalam setiap orang.
Dengan kata lain, pendidik perlu memfokuskan pada human being, pada anak,
dan bukan pada pendidikan itu sendiri.
Pendapat Prof. Dr. Sodiq A. Kuntoro dalam makalah " Sketsa Pendidikan
Humanis Religius"(2008) tentang prinsip-prinsip pendidikan humanis sangat
sejalan dengan pandangan Pestalozzi adalah sebagai berikut:
a. Tujuan pendidikan dan proses pendidikan berasal dari anak (siswa). Oleh
karenanya kurikulum dan tujuan pendidikan menyesuaikan dengan
kebutuhan, minat, dan prakarsa anak.
b. Siswa adalah aktif bukan pasif. Anak memiliki keinginan belajar dan akan
melakukan aktivitas belajar apabila mereka tidak difrustasikan belajarnya
oleh orang dewasa atau penguasa yang memaksakan keinginannya.
c. Peran guru adalah sebagai penasehat, pembimbing, teman belajar bukan
penguasa kelas. Tugas guru membantu siswa belajar, sehingga siswa
memiliki kemandirian dalam belajar. Guru berperan sebagai pembimbing
dan yang melakukan kegiatan mencari dan menemukan pengetahuan
bersama siswa. Tidak boleh ada pembelajaran yang bersifat otoriter, dimana
guru sebagai penguasa dan murid menyesuaikan.
d. Sekolah sebagai bentuk kecil dari masyarakat luas. Pendidikan seharusnya
tidak sekedar dibatasi sebagai kegiatan di dalam kelas dengan dibatasi
empat dinding sehingga terpisah dari masyarakat luas. Karena pendidikan
yang bermakna adalah apabila pendidikan itu dapat dimanfaatkan dalam
kehidupan masyarakat.
e. Aktivitas belajar harus berfokus pada pemecahan masalah, bukan sekedar
mengajarkan mata pelajaran. Pemecahan masalah adalah bagian dari
kegiatan kehidupan oleh karenanya pendidikan harus membangun
kemajuan siswa untuk memcahkan masalah. Kegiatan pendidikan bukan
sebagai pemberian informasi atau data dari guru pada siswa yang terbatas
sebagai aktivitas mengumpulkan dan mengingat kembali pengetahuan
statis.
f. Iklim sekolah harus demokratis dan kooperatif. Karena kehidupan di
masyarakat selalu hidup bersama orang lain, maka setiap orang harus

26

mempu membangun kooperasi dengan orang lain. Namun dalam realita


pendidikan tradisional sering siswa dilarang untuk berbicara, berpindah
tempat, atau kerjasama dengan siswa lain. Iklim demokratis dalam kelas
adalah dibutuhkan agar siswa dapat hidup secara demokratis di masyarakat.
Tujuan pendidikan di Indonesia tertuang dalam UUD 1945 (versi
Amendemen), Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, "Pemerintah mengusahakan dan
menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan
keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang." Pasal 31, ayat 5
menyebutkan, "Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi
dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk
kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia."

b. Metode pendidikan
Pestalozzi menekankan bahwa pendidikan harus berpusat pada anak, bukan
pada kurikulum ataupun guru. Karena pengetahuan terletak di dalam human
being,

tujuan

pembelajaran

adalah

untuk

menemukan

cara

untuk

membentangkan pengetahuan yang tersembunyi. Pestalozzi mendukung bahwa


pengalaman langsung adalah metode yang paling baik. Dia juga mendukung
spontanitas dan aktivitas pribadi; hal ini berlawanan dengan metode yang
berbasis kurikulum, metode berpusat pada guru yang dulu berlaku.
Guru seharusnya tidak mengajar melalui kata demi kata, misalnya
memberikan anak dengan jawaban yang siap dipakai, namun anak harus
menemukan jawabannya sendiri. Tidak ada yang lebih baik dari pengalaman
sensory. Dengan demikian, Pestalozzi menganjurkan untuk tidak menggunakan
buku bagi pendidikan awal, tetapi menganjurkan belajar melalui pengalaman.
Dia menganjurkan metode induksi, di mana anak pertama belajar mengamati,
mengoreksi kesalahan sendiri, menganalisa dan menggambarkan obyek
penyelidikan. Anak mulai dengan obyek sederhana dan melakukan observasi
sederhana, setelah itu berkembang pada obyek yang lebih kompleks, serta halhal abstrak. Hanya setelah mereka benar-benar menguasai tiga hal itu anak
mulai diperkenalkan penggunaan buku.
c. Disiplin dalam kelas
27

Pestalozzi menganjurkan agar kehidupan kelas seharusnya seperti kehidupan


keluarga. Atmosfer kelas harus mempunyai suasana loving and caring.
Sebagaimana yang terjadi dalam keluarga, harus ada kerjasama, saling
mencintai satu sama lain, baik antara guru dengan siswa maupun siswa dengan
siswa. Dia mengembangkan "family classroom" seperti cara seorang ibu
membesarkan dia dan saudara perempuannya (Heafford, 1967).
Dari kalimat tersebut diatas bias disimpulkan bahwa keluarga adalah
komponen esensial dari pendidikan. Keluarga adalah elemen dasar yang utama
bagi pendidikan manusia yang sejati. Apabila setiap keluarga menerapkan
pendidikan yang baik bagi maka akan memberikan hasil bagi kebaikan
masyarakat secara keseluruhan (whole society) dan masyarakat secara luas.
Untuk menciptakan kehidupan ruang kelas yang baik ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan guru, antara lain:
1.
2.
3.
4.

Pelajaran dilaksanakan dengan rambu-rambu kurikulum.


Siswa diberi motivasi agar mempunyai harapan tinggi.
Siswa diarahkan agar berorientasi pada pelajaran.
Pelajaran jelas dan terfokus, sesuai dengan tingkat kemampuan siswa dan
mengenai pengetahuan dan nilai-nilai yang bermanfaf bagi kehidupan
sehingga tidak berisi "inert ideas" - materi yang tidak bermanfaat yang

membuat siswa bosan.


5. Apabila siswa tidak memahami, maka guru mengulang kembali sampai
siswa paham.
6. Waktu di kelas digunakan untuk belajar dan tidak terlalu banyak
mengurusi masalah kedisiplinan.
7. Kehidupan kelas diciptakan agar siswa senang dan melaksanakan kegiatan
dengan sukses dan efisien.
8. Kegiatan rutin dilaksanakan dengan efisien.
9. Interaksi antara guru dan murid positif.
10. Insentif dan reward bagi siswa dilakukan untuk meningkatkan prestasi.
Apabila kehidupan ruang kelas bisa baik maka diharapkan tujuan
instruksional bisa dicapai. Akhirnya terwujud perubahan siswa melalui proses
yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan siswa, sehingga siswa
bisa hidup dalam masyarakat.
2. Maria Montessori (1870-1952)
Masa kecil

28

Maria

Montessori

(lahir

di

Chiaravalle,

Ancona,

Italia,

31

Agustus1870 meninggal di Noordwijk, Belanda, 6 Mei1952 pada umur 81 tahun)


adalah seorang pendidik, ilmuwan, dokterItalia. Ia mengembangkan sebuah metode
pendidikan anak-anak dengan memberi kebebasan bagi mereka untuk melakukan
kegiatan dan mengatur acara harian. Metode ini kelak dikenal dengan Metode
Montessori. (Wikipedia)

Perjalanan hidupnya
Montessori merupakan seorang dokter serta antropolog wanita Italia yang
pertama. Hasil- hasil karya Montessori menimbulkan pengaruh luar biasa terhadap
pendidikan anak prasekolah diseluruh dunia. Pemikiran dan metode pendidikannya
pun masih popular diseluruh dunia sampai saat ini. Beliau sangat berminat terhadap
pendidikan anak prasekolah sehingga dia membuka sekolah pertamanya di daerah
Kumuh di kota Roma pada tahun 1907 yang diberi nama Casa Dei Bambini yang
berarti rumah anak yaitu semacam kindergarden (Taman Kanak-Kanak) yang
dirancang oleh Friederich Wilhem Froebel (1782-1852), beliau juga merupakan
salah satu tokoh PAUD di Jerman dan beliau juga dianggap sebagai bapak PAUD.
Pemikiran Montessori telah memberikan kontribusi yang besar terhadap
revolusi pendidikan. Ia menganggap bahwa anaklah yang membangun orang
dewasa bukan orang dewasa yang membangun anak. Anak makhluk yang
konstruktif yang memerlukan bantuan orang dewasa agar perkembangannya
optimal. Pendidikan yang selama itu terjadi dalam pandangan Montessori, telah
membelenggu perkembangan anak.
Montessori merupakan pelopor dalam pengembangan metode belajar calistung
(membaca, menulis, dan berrhitung) bagi anak-anak usia dini dan telah
mempraktikkan pembelajaran anak indrawi melalui kegiatan sehari-hari. Montessori
juga berpandangan bahwa perkembangan anak usia dini sebagai suatu proses
berkesinambungan. Pandangan bahwa persepsi anak terhadap dunia sebagai dasar
dari ilmu pengetahuan,maka dari itu Montessori merancang sebuah materi yang
memungkinkan indra seorang anak dikembangkan. Montessori merancang satu
kumpulan kotak. Semua kotak tersebut sama tetapi masing-masing kotak berisi
bahan yang berbeda-beda, sehingga jika digoyangkan akan mengeluarkan suara
yang tidak sama. Selanjutnya, Montessori merancang alat belajar untuk
meningkatkan fungsi penglihatan, penciuman, pengecap, dan perabaan dengan cara
yang sangat khas dan menarik serta prinsip koreksi diri. ( novarisa, 2012)

29

Tujuan metode Maria Montessori adalah:


1. Membantu para orang tua dalam menerapkanpola pengajaran yang efektif bagi
anak mereka.
2. Membantu anak-anak didik dalam mengembangkan tingkat intelektual,
psikomotor dan efektif yang ada pada diri mereka.
3. Membuat anak dituntut untuk dapat berkembang sesuai dengan periode
perkembangannya saat mereka mulai peka terhadap tugas-tugasnya.
4. Mengajarkan pada anak cara belajar yang efektif dan optimal melalui
permainan.
5. Mengembangkan keterampilan yang menekankan pada pentingnya anak bekerja
bebas dan dalam pengawasan terbatas.
6. Anak diajarkan untuk dapat berkonsentrasi dan berkreasi.
7. Guru hanya sebagai pengamat dan pembimbing, karena anak dibiasakan untuk
memilih sesuai dengan keinginan sendiri.
Pokok penggerak pemikirannya adalah :
1. Perubahan itu mungkin, hanya perlu dimulai.
2. Kita harus mencintai anak, tapi cinta saja tidak cukup, anak membutuhkan
juga kegiatan atau permainan yang menstimulasi anak.
3. Tujuan dari pendidikan terletak dalam diri anak itu sendiri. ( Prasetya, 2015)
E. Tokoh Pendidikan yang Berpengaruh di Indonesia
1. Ki Hajar Dewantara
Peguruan taman siswa didirikan oleh Ki Hajar Dewantara pada tanggal 3 juli
1922 di Yogyakarta. Latar belakang pendirian adalah bahwa sekolah-sekolah yang
didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda sesungguhnya tidaklah diperuntukkan bagi
kepentingan rakyat Indonesia melainkan untuk kepentingan politik kolonia Belanda,
meskipun Mr. C. Th. Van Den Venter mengatakan untuk penebusan dosa kepada
rakyat Indonesia.
a. Azas taman siswa
1) Setiap orang berhak mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertib
persatuan dalam kehidupan umum.
2) Pendidikan yang diberikan hendaknya dapat menjadikan manusia yang
merdeka batin nya, fikirannya dan merdeka tenaganya dan bermanfaat untuk
kepentingan bersama.
3) Pendidikan hendaknya didasarkan atas keadaan dan budaya Indonesia yang
selaras dengan kodrat kita dan akan memberi kedamaian dalam kehidupan
sehingga tidak mudah terpengaruh oleh kebudayaan yang datang dari luar.
4) Pendidikan diberika kepada seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.
30

5) Untuk mencapai azas kemerdekaan maka kita harus bekerja sesuai


kemampuan diri sendiri tanpa mengarapkan bantuan orang lain.
6) Oleh karena kita bersandar pada kekuatan sendiri maka haruslah kita memikul
semua beban belanja dengan uang sendiri.
7) Pendidik hendaklah mendidik anak dengan sepenuh hati, tulus dan ikhlas,
tidak meminta sesuatu hak tetapi menyerahkan diri untuk berhamba kepada
sang anak.
b. Dasar taman siswa (1947)
Pada tahun 1947 azas taman siswa disesuaikan dengan kondisi bangsa yang telah
merdeka, sehingga kata azas diganti dengan dasar. Dasar ini disebut dengan
Panca Darma yang terdiri dari :
1. Kebudayaan
Ikut mengupayakan terwujudnya syatu kebudayaan berlandaskan asas
kemerdekaan yang dijalankan dengan kodrat alam dan kodrat Ilahi dan yang
dijiwai oleh perasaan cinta nusa dan bangsa serta cinta sesame manusia.
2. Kemerdekaan
Kemerdekaan mengandung arti disiplin pada diri sendiri oleh diri sendiri atas
dasar nilai hidup yang tinggi, baik hidup sebagai individu maupun sebagai
anggota masyarakat.
3. Kodrat alam
Pada hakekatnya manusia itu sebagai makhluk yang menyatu dengan kodrat
alam namun juga tidak lepas dari kodrat Ilahi.
4. Kemanusian
Asas ini menyatakan bahwa setiap manusia haruslah mewujudkan
kemanusiaan yang berarti kemajuan manusia lahir dan batin yang setinggitingginya.
5. Kebangsaan
Asas kebangsaan tidak boleh bertentangan dengan asas kemanusiaa, malah
harus menjadi bentuk perbuatan kemanusiaan yang nyata. Oleh karena itu,
haruslah merasa satu dengan bangsa lain baik dalam suka maupun dalam duka
menuju kebahagiaan lahir dan bathin.
c. Tujuan Perguruan Taman Siswa
Tujuan Pendidikan Taman Siswa adalah menciptakan manusia merdeka lahir dan
batin (majlis luhur taman siswa 1976) yakni manusia yang mampu untuk
senantiasa

membudayakan

dirinya

demi

kebahagiaan

dan

kedamaian,

kesejahteraan masyarakat secara adil dan merata (masyarakat harmonis) dengan


kata lain manusia merdeka lahir dan batin adalah manusia yang mampu untuk
senantiasa mewujudakan kemanusiaannya
d. Semboyan taman siswa
Beberapa semboyan yang digunakan untuk pelaksanaan Taman Siswa :
31

1)
2)
3)
4)

Suci tata ngesti tunggal.


Bibit, bebet, bobot.
Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tutu wuri handayani
Lebih baik mati terhormat dari pada hidup nista, artinya tingkah laku dan budi

luhur harus ditumbuhkan.


5) Rawe-rawe rantas malnag-malang putung artinya segala sesuatu yang
merintangi akan hancur jika mempunyai kemauan yang teguh.
6) Neng-ning-nung-nang artinya ketenangan menimbulkan kejerniaan fikiran
yang menuju kepuasan batin dan membawa kemenagan.
e. Jenis jenis pendidikan taman siswa
1) Taman indriya (taman kanak-kanak, umur 5 tahun)
Pada masa ini anak-anak diberikan segala bentuk permainan yang dapat
mendidik tubuh dan panca indranya.
2) Taman anak (kelas I-III SD, umur 8-10 tahun )
Memberikan pelajaran yang bersifat mendorong pertumbuhan jasmani dan
menyuburkan rohani. Pelajaran bahasa dan seni serta adat istiadat untuk
menciptakan masyarakat yang tertib dan damai.
3) Taman muda (kelas IV-VI SD, umur 11-14 tahun)
Menekankan pendidikan jasmani menuju kesehatan, kekuatan, dan kecakapan
membela diri, pengetahuan agama dan seni untuk olah fikir dan perasaan serta
membina moral.
4) Taman dewasa (SLTP, umur 15-18 tahun)
Lanjutan dari pengajaran dan pembiasaan baik jasmani, fikiran, rasa, dan
kemauan untuk menyempurnakan bakat yang berbeda. Anak bekerja sendiri
dan banyak kemerdekaan tetapi harus dengan disiplin yang keras dari dan
untuk anak.
5) Taman dewasa raya / taman madya (SLTA, umur 19-21 tahun)
Padamasa ini kesempatan untuk memperdalam kecerdasan jiwa dengan
tuntutan mempelajari ilmu pengetahuan, ilmu agama, dan ilmu adab,serta
pengetahuan tentang watak atau budi pekerti.
6) Taman guru (B1, B2, B3 dan taman guru indriya
f. Hasil-hasil yang dicapai taman siswa
Peguruan taman sisiwa dari sejak didirikan sampai sekarang telah mencapai
berbagai hal yaitu :
1) Gagasan / pemikiran tentang pendidikan nasional.
2) Lembaga-lembaga pendidikan dari Taman Indriya sampai Serjana Wiyata.
3) Sejumlah alumni peguruan yang telah menjadi tokoh nasional, seperti : Ki
Hajar Dewantara, Ki Mangunsarkoro, dan Ki Suratman.
2. Mohammad Syafei
Ruang INS (Indonesian Nederlandsche School) didirikan oleh Muhammad
Syafei pada tanggal 31 oktober 1926 di kayu tanam. Dinamakan ruang pendidikan
32

karena belajar dilaksanakan pada tempat yang tidak terbatas dengan konsep belajar
dan mengajar. Ruang Pendidikan artinya suatu tempat yang luas yang digunakan
untuk belajar dan mengajar yang bukan hanya terbatas pada adanya guru dan murid
tetapi belajar dapat dilaksanakan dari pengalaman dan kehadiran alam disekitarnya.
a. Asas Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam,
- Berfikir logis dan rasional,
- Keaktifan dan kegiatan,
- Pendidikan masyarakat,
- Memperhatikan pembawaan anak,
- Menentang intelektualisme.
b. Tujuan Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam
Mendidik rakyat ke arah kemerdekaan
Memberi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
Mendidik para pemuda agar berguna bagi masyarakat
Menanamkan kepercayaan terhadap diri sendiri dan berani bertanggung jawab
Mengusahakan mandiri dalam pembiayaan dengan semboyan Cari sendiri
dan kerjakan sendiri
c. Usaha-Usaha Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam
Pada zaman Belanda INS yaitu menyelenggarakan berbagai ruang pendidikan
seperti : ruang rendah (lama pendidikan 7 tahun setara Sekolah Dasar), ruang
antara (lama pendidikan 1 tahun), ruang dewasa lama pendidkan 4 tahun setara

Sekolah Menengah), ruang masyarakat (lama pendidikan 1 tahun).


Pada zaman kemerdekaan atas izin pemerintah Belanda, INS mendirikan

Ruang pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (RPPK) di Padang Panjang.


Pada tahun 1952, ia mendirikan percetakan dan penerbitan yang diberi nama
Sridharma dan menerbitkan majalah bulanan bernama Sendi dan buku
bacaan untuk pemberantasan buta huruf yang dikenal dengan namaKunci
13.

Pada tahun 1953 ia mendirikan program khusus untuk menjadi guru


yakni

tambahan

satu

tahun

setelah

ruang

dewasa

untuk

pembekalan kemampuan mengajar dan praktek mengajar.


Mencetak buku-buku pelajaran dan lain-lain.

3. Kiyai H. Ahmad Dahlan


Kiyai H. Ahmad Dahlan adalah pendiri Perguruan Muhammadiyah.
Muhammadiyah didirikan pada tanggal 18 November 1912 di Yogyakarta.
Muhammadiyah merupakan gerakan Islam amar maruf nahi mungkar, beraqidah
Islam dan bersumber pada Al-Quran dan Sunnah serta bertujuan untuk menegakkan
dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga tercipta msyarakat Islam yang sebenarbenarnya yang diridhai Allah SWT.
33

a. Latar Belakang Berdirinya Pendidikan Muhammadiyah


Latar belakang didirikannya Muhammadiyah yaitu adanya beberapa gejala yang
menonjol yakni :
1) Kerusakan dibidang kepercayaan/agama (aqidah umat Islam)
2) Kebekuan dalam bidang hukum fiqih
3) Kemunduran dalam Pendidikan Islam
4) Kemajuan zending Kristen dan misi Katholik
Berdasarkan hal di atas maka umat Islam melakukan kegiatan-kegiatan mencakup:
1) Membersihkan Islam dari pengaruh-pengaruh dan kebiasaan-kebiasaan bukan
Islam.
2) Memformulasikan kembali doktrin Islam menurut alam fikiran modern.
3) Reformasi ajaran dan pendidikan Islam.
4) Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan dari luar.
5) Melepaskan Indonesia dari belenggu penjajahan.
b. Azas Pendidikan Muhammadiyah
Azas pendidikan muhammadiyah adalah islam dengan berpedoman pada Al
Quran dan sunnah.
c. Tujuan Dan Target Pendidikan Muhammadiyah
Tujuan pendidikan muhammadiyah ialah membentuk manusia muslim, akhlak
mulia, cakap, percaya kepada diri sendiri dan berguna untuk

asyarakat dan

Negara. Berdasarkan tujuan tersebut, maka target yang ingin dicapai oleh lulusan
pendidikan Muhammasiyah adalah : Aqidah yang lurus, Akhlaqul Karimah, Akal
yang sehat dan cedas. Keterampilan dan Pengabdian kepada masyarakat.
d. Cita-Cita Pendidikan
Cita-cita pendidikan meliputi tiga aspek yaitu :
Budi baik, alim dan beragama.
Luas pandang dalam ilmu-ilmu dunia
Bersedia berjuang demi kemajuan masyarakat
e. Dasar Pendidikan Muhammadiyah
Pendidikan Muhammadiyah berdasarkan kepada:
Tajdid, ialah kesediaan jiwa berdasarkan pemikiran baru untuk mengubah cara
berpikir dan cara berbuat yang sudah terbiasa demi pencapaian tujuan

pendidikan.
Kemasyarakatan, yaitu antara individu dan masyarakat supaya diciptakan
suasana saling membutuhkan dengan tujuan keselamatan msyarakat sebagai

satu kesatuan.
Aktivitas, artinya anak didik harus mengamalkan semmua yang diketahuinya
danmenjadikan pula aktivitas sendiri sebagai salah satu cara memperoleh

pengetahuan yang baru.


Kreativitas, yaitu anak didik harus mempunyai kecakapan atau keterampilan
dan menentukan sikap yang sesuai dan menetaplam alat-alat yang tepat dalam
menghadapi situasi-situai baru.

34

Optimisme, yaitu anak didik harus yakin bahwa keridhaan Tuhan, pendidikan
akan dapat membawanya kepada hasil yang dicita-citakan asal silaksanakan
dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab, serta menjauhkan diri dari segala

sesuatu yang menyimpang dari yang digariskan oleh Agama Islam.


f. Fungsi Pendidikan Muhammadiyah
Alat dakwah.
Tempat pembibitan kader.
Gerakan amal anggota.
g. Hasil-Hasil yang Dicapai Perguruan Muhammadiyah
Perguruan Muhammdiyah sejak didirikan sampai sekarang telah mencapai
berbagai hal diantaranya:
1) Gagasan/pemikiran tentang pembaharuan pendidikan.
2) Lembaga-lembaga pendidikan dari TK sampai Pasca Sarjana.
3) Sejumlah alumni perguruan yang telah menjadi tokoh nasional seperti :
Kasman Singodimedjo, Panglima Jendral Sudirman.
4. Rahmah El Yunusiah
Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang didirikan pada tanggal 1 November
1923 di Padang Panjang oleh Rahmah El Yunusiyah dengan panggilan Etek Amah.
a. Latar Belakang Berdirinya Diniyah Putri
Rahmah mendirikan Diniyah Putri dilatarbelakangi oleh rasa tidak puasnya terhadap
Diniyah School yang didirikan tahun 1915 oleh kakak kandungnya, Zainuddin Labay.
Diniyah School menerapkan system co-edukasi yaitu menggabungkan siswa putra
dengan siswi putri dalam satu ruang kelas. Disamping itu, Rahmah juga tidak puas
dengan kondisi pemahaman agama yang dimonopoli oleh kelompok laki-laki saja
padahal menurut Rahmah pemahamn agama tidak hanya untuk laki-laki tetapi juga
kewajiban kaum wanita untuk bersungguh-sungguh melakukan kajian tersebut yang
bakal melahirkan ahli agama dikalangan kaum wanita.
b. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan Diniyah Putri Padang Panjang adalah melaksanakan pendidikan
dan pengajaran berdasarkan Islam dengan tujuan membentuk wanita yang berjiwa
Islam dan ibu pendidikan yang cakap, aktif, serta bertanggung jawab tentang
kesejahteraan masyarakat dan Tanah Air atas dasar pengabdian kepada Allah SWT.
c. Dasar pendidikan
Pendidikan Diniyah didasarkan kepada ajaran Islam dengan berpedoman kepada AlQuran dan Sunnah.
d. Cara Mencapai Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan yang telah dirumuskan diwujudkan melalui program pendidikan
sebagai berikut:
35

1) Program

pendidikan

umum

(general

education)

untuk

mengembangkan

kemampuan dan sikap ilmiah pada diri peserta didik.


2) Program pendidikan yang bertujuan agar anak didik memiliki cabang ilmu
pengetahuan bidang keahlian agama Islam.
3) Program pendidikan yang mengarahkan mereka pada tujuan untuk menjadi ibu
pendidik yang baik.
4) Program pendidikan keterampilan yaitu ilmu pengetahuan praktis yang dapat
digunakan dalam kehidupannya sesuai dengan lingkungan hidupnya.
e. Program Pendidikan Asrama
Asrama sebagai salah satu wahana pembinaan para santri mempunyai program
yaitu melatih anak didik bagaimana cara hidup bermasyarakat, memipin, serta
dipimpin dan mempraktekkan semua ilmu yang telah diperoleh pada pagi hari.
f. Sikap Perguruan terhadap Pemerintah Belanda
Rahmah El Yunusiyah tidak mampu membujuk dan bahkan tidk mau
kompromi dengan pemerintahan Belanda, sehingga tawaran untuk menjadikan
Perguruan menjadi sekolah negeri ditolak.
g. Jenis Pendidikan
Yang pernah ada dan dibina dalam lingkungan perguruan Diniyah Putri adalah:
Sekolah Menyesal, yaitu sekolah yang didirikan pertama kali oleh Rahmah El
Yunusiah dengan murid sebanyak 71 orang. Sekolah ini dinamakan sekolah
meyesal karena Rahmah melihat ketertinggalan kaum wanita dalam hal
pendidikan dibandingkan dengan laki-laki, sehingga tingga timbul keinginan
untuk mendirikan sekolah khusus untuk kaum perempuan. Murid-murid dari

sekolah ini terdiri dari ibu-ibu dan remaja putri.


Sekolah Taman Kanak-kanak
Sekolah Diniyah Putri Rendah, lama belajar 7 tahun sederajat dengan sekolah

dasar.
Sekolah Diniyah Putri bagian A, anak-anak yang diterima adalah yang belum

tamat SD dengan lama belajar 5 tahun sederajat dengan Ibtidaiyah/SD.


Sekolah Diniyah Putri bagian B, lama belajar 4 tahun, anak-anak yang diterima
adalah tamatan HIS atau Schakel School/SD dan sederajat. Tamatan ini sederajat

dengan SLTP atau Tsanawiyah.


o Sekolah Diniyah Putri Menengah Pertama (DPM) bagian C, lama belajar 2 tahun,
yang diterima tamatan SLTP atau sederajat
o Sekolah Kulliatul Muallimat Al-islmiyah (KMI), lama belajar 3 tahun. Sekolah
ini dinamakan Sekolah Guru Putri Islam.
o Perguruan Tinggi Diniyah Putri, mula berdirinya dinamakan Fakultas Tarbiyah
dan Dakwah, kemudian ditukar nama menjadi Fakultas Dirsat Islamiyah.
36

Jenis sekolah yang ada sampai sekarang di Diniyah Putri Padang Panjang adalah:
Taman Kanak-kanak Rahmah El Yunusiyah
Madrasah Ibtidaiyah ( MI)
Sekolah Diniyah Putri Diniyah Pertama (DMP)
Kuliyatul Mualimat El Islamiyah (KMI)
Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak Islam (PGTKI)
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT)
F. Pengaruh

Tokoh-Tokoh

Pendidikan

terhadap

Pengembangan

Pendidikan di Indonesia
1. Ki hajar dewantara (pendiri taman siswa, yogyakarta 1922).
Bagi Ki Hajar Dewantara, pendidikan haruslah memerdekakan kehidupan
manusia. Pendidikan mesti disandarkan pada penciptaan jiwa merdeka, cakap dan
berguna bagi masyarakat. Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara menempatkan
kemerdekaan sebagai syarat dan juga tujuan membentuk kepribadian dan
kemerdekaan batin bangsa Indonesia agar peserta didik selalu kokoh berdiri
membela perjuangan bangsanya.
Karena kemerdekaan menjadi tujuan pelaksanaan pendidikan, maka sistim
pengajaran haruslah berfaedah bagi pembangunan jiwa dan raga bangsa. Untuk
itu, di mata Ki Hajar Dewantara, bahan-bahan pengajaran harus disesuaikan
dengan kebutuhan hidup rakyat.
Bagi Ki Hajar Dewantara, pendidikan tidak boleh dimaknai sebagai paksaan;
kita harus mengunakan dasar tertib dan damai, tata tentram dan kelangsungan
kehidupan batin, kecintaan pada tanah air menjadi prioritas. Karena ketetapan
pikiran dan batin itulah yang akan menentukan kualitas seseorang.
Memajukan pertumbuhan budi pekerti- pikiran merupakan satu kesatuan yang
tidak dapat terpisahkan, agar pendidikan dapat memajukan kesempurnaan hidup.
Yakni: kehidupan yang selaras dengan perkembangan dunia. Tanpa meninggalkan
jiwa kebangsaan.
Dunia terus mengalami perkembangan, pergaulan hidup antar satu bangsa
dengan bangsa lainnya tidak dapat terhindarkan. Pengaruh kebudayaan dari luar
semakin mungkin untuk masuk berakulturasi dengan kebudayaan nasional. Oleh
karena itu, seperti dianjurkan Ki Hajar Dewantara, haruslah kita memilih mana
yang baik untuk menambah kemulian hidup dan mana kebudayaan luar yang akan
merusak jiwa rakyat Indonesia dengan selalu mengingat: semua kemajuan
dilapangan ilmu pengetahuan harus terorientasikan dalam pembangunan martabat
bangsa.

37

Pendidikan nasional saat ini memiliki segudang persoalan, mulai dari wajah
pendidikan yang berwatak pasar yang menyebabkan hilangnya daya kritis tenaga
didik terhadap persoalan bangsanya hingga pemosisian lembaga pendidikan
sebagai sarana menaikan starata sosial dan ajang mencari ijazah belaka.
Peranan pendidikan, yang sejatinya untuk pembangunan bangsa, telah
didisorientasikan oleh kekuasaan guna kepentingan kapital semata. Di sini,
pendidikan tak lebih dari alat akumulasi keuntungan.Disamping itu, kandungan
pendidikan dan pengajaran sekarang ini tidak memuat nilai-nilai kebangsaan.
Pendidikan sekarang hanya melahirkan Sikap individualisme, hedonisme dan
hilangnya jiwa merdeka. Hasil pendidikan seperti ini tidak dapat diharapkan
membangunan kehidupan bangsa dan negara bermartabat.
Disinilah relevansi pemikiran Ki Hajar Dewantara di bidang pendidikan:
mencerdaskan kehidupan bangsa hanya mungkin diwujudkan dengan pendidikan
yang memerdekakan dan membentuk karakter kemanusian yang cerdas dan
beradab. Oleh karena itu, konsepsi pendidikan Ki Hajar Dewantara dapat menjadi
salah satu solusi membangun kembali pendidikan dan kebudayaan nasional yang
telah diporak-porandakan oleh kepentingan kekuasan dan neoliberalisme.
Beberapa pemikiran penting Ki Hadjar Dewantara tertuang dalam banyak
buku. Salah satunya adalah Menuju Manusia Merdeka yang diterbitkan
oleh penerbit Leutika. Dalam buku yang merupakan kumpulan tulisan dari
berbagai media yang beredar pada masanya, Ki Hadjar Dewantara menyampaikan
gagasan-gagasan pendidikan yang sangat relevan dengan kondisi saat ini. Salah
satu pemikiran penting dalam fondasi pendidikan di Indonesia yang pernah ditulis
oleh Ki Hadjar Dewantara adalah tentang Islam dan kebudayaan.
Beberapa poin penting pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang Islam dan
kebudayaan itu sebagai berikut.
a. Kebudayaan adalah hasil budi manusia sehingga selalu menunjukan corak
yang khas dari budi manusia yang memunculkannya. Budi manusia terjadi
dari dasar pembawaan (bakat) setiap manusia (individu) serta tidak terlepas
dari pengaruh kodrat alam dan masyarakat setiap negeri. Oleh karena itu, budi
manusia dan kebudayaan selalu menunjukkan sifat percampuran ketiga macam
pengaruh, yaitu bakat, kodrat alam, dan hidup bersama.
b. Sifat budi manusia itu mengandung beberapa corak dan warna yang menurut
pelajaran ilmu jiwa tidak terlepas pula dari pengaruh keturunan. Selain itu,
dasar-dasar sifat budi manusia juga tidak lepas dari nafsu keinginan yang dasar
(naluri asli dan nafsu). Nafsu keinginan itu sifatnya beragam, tetapi di dalam
38

pokoknya

dapat

diringkas

menjadi

dua

jenis,

yaitu

naluri

untuk

mempertahankan dirinya sendiri dan nafsu untuk mempertahankan keturunan.


Mengenai ini, semua makhluk pasti memilikinya.
c. Kebudayaan yang dilahirkan oleh budi manusia yang penuh dengan semangat
agama tentunya menampakkan corak warna agama secara jelas. Akan tetapi,
kemurnian tidak akan berhubungan dengan adanya pengaruh-pengaruh, seperti
pasal 1 dan 2. Dengan demikian, kebudayaan Islam itu murni, tetapi
bercampur dengan kebudayaan Arab, India, Persia, Sumatera, dan Jawa. Selain
itu, jangan pula dilupakan bahwa pengaruh dari masyarakat itu amat kuat
sehingga sifat keislaman di suatu negeri pada zaman dahulu sungguh berbeda
dengan sifat keislaman pada zaman sekarang.
d. Kebudayaan rakyat kita yang sebelumnya bersifat animisme dan hinduisme,
sejak semakin berada dalam pemahaman agama Islam, corak warnanya pun
bertambah. Pada permulaan, yaitu pada zaman kewalian, sifat keislaman amat
mementingkan pengajaran serta perbuatan tasawuf dan tarekat. Lama
kelamaan, khususnya karena adanya hubungan antara Indonesia dan Arab
yang semakin baik, barulah rakyat kita yang memeluk agama Islam dapat
mengetahui ilmu serta amal Islam yang sebenarnya. Ini tidak berarti bahwa
pengaruh hidup yang terdahulu akan hilang sama sekali. Asosiasi akan terjadi
menurut hukum-hukumnya sendiri (sosial, psikologi, dan biologis).
Di bawah menteri pendidikan Ki Hadjar Dewantara dikembangkan pendidikan
dengan sistem among berdasarkan asas-asas kemerdekaan, kodrat alam,
kebudayaan, kebangsaan, dan kemanuasiaan yang dikenal sebagai Panca Dharma
Taman Siswa dan semboyan ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso,
tut wuri handayani pada 1950 diundangkan pertama kali peraturan pendidikan
nasional yaitu UU No. 4/1950 yang kemudian disempurnakan (jo) menjadi UU
No. 12/1954 tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah. Pada 1961
diundangkan UU No. 22/1961 tentang Pendidikan Tinggi, dilanjutkan dengan UU
No.14/1965 tentang Majelis Pendidikan Nasional, dan UU No. 19/1965 tentang
Pokok-Pokok Sitem Pendidikan Nasional Pancasila. Pada masa akhir pendidikan
Presiden Soekarno, 90 % bangsa Indonesia berpendidikan SD.
Bila sekarang Pendidikan Barat memperkenalkan istilah PQ, IQ, EQ, SQ, tapi
Budaya Nusantara mengenal istilah Sembah Raga, Sembah Rasa dan Sembah
Cipta dari karya agung Kitab Wedhatama karya KGPA Mangkunegara IV sejak
abad ke-19, Pendidikan yang baik akan menempa seorang siswa agar mampu
39

hidup mandiri tanpa tergantung orang lain dan sebenarnya, negara Indonesia tidak
perlu mengadopsi kurikulum pendidikan bangsa lain, yang belum tentu cocok
diterapkan di Indonesia, tapi cukup mengembangkan sistem pendidikan nasional
yang mampu membentuk karakter manusia Indonesia seutuhnya. Salah satunya
adalah Pelajaran Budi Pekerti seperti yang pernah diterapkan dalam kurikulum
nasional oleh Bapak Ki Hajar Dewantara, pendiri Perguruan Taman Siswa.
2. Mohammad syafei (sekolah INS / Indonesisch nederlandse sschool, sumbar
1926).
Pengaruh Muhammad Syafei dalam Perkembangan Pendidikan Indonesia
Meskipun secara fisik INS Kayutanam telah tidak ada karena telah
dibumihanguskan oleh aksi militer kolonial Belanda, tetapi cita-cita nasionalisme
dalam pendidikan dan prinsip-prinsip sekolah kerja yang berorientasi pada
pendidikan alam sekitar tidaklah turut hancur. Cita-cita pengembangan jiwa
kebangsaan masih tetap menjadi dasar acuan penyelenggaraam pendidikan
Indonesia dewasa ini. Semangat prinsip-prinsip sekolah kerja yang berorientasi
pada pendidikan alam sekitar, dalam batas-batas tertentu dicoba diterapkan,
misalnya dalam bentuk Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), Pendidikan Sistem
Ganda (PSG), Sistem Belajar dengan Modul, dan sebagainya.
Dasar pendidikan yang dikembangkan oleh Moh.

Syafei

adalah

kemasyarakatan, keaktifan ,kepraktisan,serta berpikir logis dan rasional. Berkenan


dengan itulah maka isi pendidikan yang dikembangkannya adalah bahan bahan
yang dapat mengembangkan pikiran,perasaan, dan ketrampilan atau yang dikenal
dengan istilah 3 H,yaitu Head,Heart dan Hand. Implikasi terhadap pendidikan
adalah ;
a.
Mendidik anak-anak agar mampu berpikir secara rasional
b.
Mendidik anak-anak agar mampu bekerja secara teratur dan bersungguhc.
d.
e.

sungguh.
Mendidik anak-anak agar menjadi manusia yang berwatak baik.
Menanamkan rasa cinta tanah air.
Mendidik anak agar mandiri tanpa tergantung pada orang lain.
Dalam pelajaran, anak hendaknya menjadi subyek (pelaku) bukan dikenai
(obyek). Dengan menjadi subyek seluruh tubuh anak terlibat, juga emosi, dan
pemikiran dan daya khayalnya. Keasyikan emosi, dan spontanitas anak ketika
bermain hendaknya dapat dialihkan kedalam proses belajar mengajar. Peranan
guru adalah sebagai manajer belajar yang mengupayakan bagaimana menciptakan

40

siatuasi aga siswa menjadi aktif berbuat. Dengan demikian, guru juga berperan
sebagai fasilator belajar yang memperlancar aktivitas anak dalam belajar. Guru
yang demikian dituntut untuk memahami anak sebagai makhluk yang selalu
bergerak dan memahami psikologi belajar,serta psikologi perkembangan.
3. K.H Ahmad Dahlan
Seorang tokoh pendidikan Islam yang peduli dengan keadaan di Indonesia ini,
yaitu K.H. Ahmad Dahlan. Pada awal perjuangannya, ia mendirikan Sekolah
Muhammadiyah di Yogyakarta. Tujuannya adalah memberi kesempatan kepada
semua anak untuk belajar dan mendapat pendidikan yang setara. Lambang
Muhammadiyah yang terdiri atas dua kursi saling berhadapan secara gamblang
menyatakan kepeduliannya kepada bidang pendidikan. Sektor yang sangat vital
pada masanya, yaitu tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk
belajar di sekolah. Lewat gerakan Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan
membuka mata masyarakat tentang pentingnya belajar. Hal yang awalnya dilarang
oleh pemerintahan kolonial Belanda karena mereka paham bahwa pendidikan
mampu membuat orang menjadi cerdas. Saat semua orang pribumi cerdas,
penjajah bisa terancam dan tidak lagi mampu menguasai Nusantara.
Selain bidang pendidikan, K.H. Ahmad Dahlan juga bergerak dalam bidang
kesehatan. Pendidikan dan kesehatan adalah dua hal yang penting karena
menyangkut kehidupan rakyat. Sampai sekarang, banyak lembaga pendidikan
Muhammadiyah, dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, berdiri
di Indonesia. Demikian halnya dengan Rumah Sakit Muhammadiyah yang sudah
tersebar di Indonesia. Kata-kata K.H. Ahmad Dahlan yang selalu menjadi inspirasi
untuk berbuat kebaikan di organisasi Muhammadiyah adalah Hidup hidupilah
Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah. Sampai saat ini,
pemikiran K.H. Ahmad Dahlan terus hidup dalam perkumpulan organisasi
Muhammadiyah di seluruh pelosok Indonesia
Ada beberapa faktor intern dan faktor ekstern, yang mendorong mengapa KH.
Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah:
1) Faktor internal
a. kehidupan beragama tidak sesuai dengan Al-Quran dan Hadits, karena
merajalelanya taklid, bidah dan churafat (TBC), yang menyebabkan
Islam menjadi beku.
b. Keadaan bangsa Indonesia serta umat Islam yang hidup dalam
kemiskinan, kebodohan, kekolotan dan kemunduran.
41

c. Tidak terwujudnya semangat ukhuwah Islamiyah dan tidak adanya


organisasi Islam yang kuat.
d. Lembaga pendidikan Islam tak dapat memenuhi fungsinya dengan baik,
dan sistem pesantren yang sudah sangat kuno.
e. Adanya pengaruh dan dorongan, gerakan pembaharuan dalam Dunia
Islam.
2) Faktor Eksternal
a. Adanya kolonialisme Belanda di Indonesia.
b. Kegiatan serta kemajuan yang dicapai oleh golongan Kristen dan Katolik
di Indonesia.
c. Sikap sebagian kaum intelektual Indonesia yang memandang Islam
d.

sebagai agama yang telah ketinggalan zaman.


Adanya rencana politik kristenisasi dari pemerintah Belanda, demi
kepentingan politik kolonialnya.

Pendirian KH. Ahmad Dahlan mengenai pentingnya organisasi bagi


pelaksanaan dakwah amar maruf nahi munkar, memang mutlak meskipun dalam
hal ini organisasi hanya merupakan sarana, bukan tujuan. Ada tujuan yang tidak
dapat sampai kepada tujuan yang dicita-citakan, hal ini di sebabkan sarana itu
tidak tepat atau kurang sesuai dengan tuntutan kemajuan zaman dalam
dakwah amar maruf nahi munkar.
Tujuan pendidikan menurut KH. Ahmad Dahlan adalah untuk membentuk
manusia menjadi:
a. Alim dalam ilmu agama
b. Berpandangan luas, dengan memiliki pengetahuan umum
c. Siap berjuang, mengabdi untuk Muhammadiyah dalam menyantuni nilai-nilai
keutamaan dalam masyarakat
Rumusan tujuan

pendidikan

merupakan

pembaharuan

dari

tujuan

pendidikan yang saling bertetangga pada saat itu yaitu pendidikan pesantren dan
pendidikan sekolah model Belanda. Disatu sisi pendidikan pesantren hanya
bertujuan untuk menciptakan individu yang sholeh dan mendalami ilmu agama.
Sebaliknya pendidikan model Belanda merupakan pendidikan sekuler yang
didalamnya tidak diajarkan sama sekali. Pelajaran disekolah ini menggunakan
huruf latin, akibatnya lahirlah dua kutub, yaitu lulusan pesantren yang menguasai
agama tetapi tidak menguasai ilmu umum,Belanda menguasai ilmu umum tetapi
tidak menguasai ilmu agama.
4. Rahmah el-Yunusiah
42

Pada saat itu masih sangat sedikit perempuan yang bersekolah. Paradigma
masyarakat Melayu memandang perempuan hanyalah makhluk kelas dua yang
tidak perlu bersekolah tingi. Percuma bersekolah jika akhirnya hanya masuk ke
dapur. Perempuan masa itu sangat pasif dan belum mampu memberikan kontribusi
riil bagi kemajuan agama dan bangsanya. Rahmah sangat prihatin dengan kondisi
ini. Ia berpendapat pendidikan sangat penting bagi kaum perempuan. Dengan
pendidikan maka kaum perempuan mampu mengangkat harkat dan martabatnya,
mampu melahirkan generasi penerus yang berkualitas.
Berangkat dari keprihatinan inilah Rahmah El-Yunusiyah bertekad untuk
mendirikan sekolah khusus bagi kaum perempuan. Dibantu oleh kakak sulungnya
Zainuddin Labay, akhirnya Rahmah El-Yunisiyah berhasil mewujudkan
mimpinya. Pada tanggal 1 November 1923 berdirilah Madrasah Diniyah Li alBanat.
Bahu membahu dengan Zainuddin Labay, Rahmah mengelola sekolah ini.
Awalnya murid sekolah ini hanya 71 orang yang terdiri dari kaum ibu-ibu muda.
Bertempat di serambi masjid Pasar Usang, mereka belajar ilmu-ilmu agama dan
Bahasa Arab. Seiring berjalannya waktu, murid Rahmah pun bertambah. Akan
tetapi baru sepuluh bulan sekolah ini berjalan, Zainuddin Labay dipanggil oleh
Alloh SWT, meninggal dalam usia muda. Rahmah sangat terpukul dengan
musibah ini. Dia kehilangan seseorang yang selalu membimbing, mengarahkan
dan memberi semangat untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Tapi Rahmah pun
segera bangkit, tidak larut dalam kedukaan. Dia tetap melanjutkan keberadaan
Madrasah Diniyah Li al-Banat bahkan membuat keputusan untuk memberikan
pengajaran klasikal lengkap dengan sarananya seperti gedung, meja, bangku,
papan tulis, kapur dan sebagainya.
Rahmah berjuang keras untuk mendirikan gedung bagi sekolahnya. Berkat
kegigihannya, gedung sekolah itu pun dapat berdiri diatas tanah wakaf dari
ibundanya sendiri, Ummu Rafiah. Diatas bangunan sederhana dari bambu
berukuran 12 X 7 m inilah kegiatan belajar-mengajar berlangsung setiap hari.
Berkat kegigihannya, lembaga pendidikannya mengalami perkembangan yang
sangat pesat. Di tahun 1926 ia membuka kelas Menjesal School. Kelas ini
ditujukan bagi para wanita yang belum bisa baca tulis. Kemudian tahun 1934
Rahmah berhasil mendirikan sekolah Taman Kanak Kanak (Freubel School) dan
Junior School (setingkat HIS). Ia juga mendirikan Diniyah School Putri tujuh

43

tahun yang terdiri dari tingkat Ibditaiyah selama empat tahun dan tingkat
Tsanawiyah selama tiga tahun.
Rahmah El-Yunusiah adalah wanita pertama yang mendirikan sekolah khusus
untuk kaum perempuan. Berkat prestasinya ini bahkan Universitas Al-Azhar tidak
bisa tidak harus mengakui kepeloporannya dan mengikuti jejaknya dengan
membuka program kulliyyt al-bant di Mesir. Ia juga merupakan orang yang
pertama mendirikan layanan kesehatan (Rumah Sakit) khusus untuk kalangan
perempuan.
5. K.H. Hasyim Asyari
Tokoh kiai Hasyim Asyari dikalangan masyarakat dan organisasi Islam
tradisional bukan saja sangat sentral tetapi juga menjadi tipe utama seorang
pemimpin, sebagaimana diketahui dalam sejarah pendidikan tradisional,
khususnya di Jawa. Peranan kiai Hasyim Asyari yang kemudian dikenal dengan
sebutan Hadrat Asy-Syaikh (guru besar di lingkungan pesantren).
Peranan kiai Hasyim Asyari sangat besar dalam pembentukan kader-kader
ulama pemimpin pesantren, terutama yang berkembang di Jawa Timur dan Jawa
Tengah. Dalam bidang organisasi keagamaan, ia pun aktif mengoganisir
perjuangan politik melawan kolonial untuk menggerakkan masa, dalam upaya
menentang dominasi politik Belanda.
Pada tanggal 7 September 1947 (1367 H), K. H. Hasyim Asyari, yang
bergelar Hadrat Asy-Syaikh wafat. Berdasarkan keputusan Presiden No. 29/1964,
ia diakui sebagai seorang pahlawan kemerdekaan nasional, suatu bukti bahwa ia
bukan saja tokoh utama agama, tetapi juga sebagai tokoh nasional.
Pemikiran hasyim asyari dalam bidang pendidikan lebih menekankan pada
etika dalam pendidikan , meski tidak menafikan beberapa aspek pendidikan
lainya. Dalam halini banyak di pengaruhi dengan keahliannya pada bodang hadits,
dan pemikirannya dalam bidang tasauf dan fiqih yang sejalan dengan teologi al
asyari dan al maturidi. Juga searah dengan pemikiran al-gazhali, yang lebih
menekankan pada pemdidikan rohani. Misalnya belajar dan mengajar harus
dengan ikhlas, semata-mata karena allah, bukan hanya untuk kepentingan dunia
tetapi juga untuk kebahagiaan di akhirat. Dan untuk mencapainya seseorang yang
belajar atau mengajar harus unya etika, punya adab dan moral, baik murid maupun
guru sendiri.
Mengajar merupakan profesi yang di tekuni oleh K. H. Hasyim Asyari sejak
muda.
44

Sejak masih di pondok pesantren ia sering dipercayakan mengajar santri-santri


yang baru masuk oleh gurunya. Bahkan, ketika di Mekkah ia pun sudah mengajar.
Sepulang dari Mekkah ia membantu ayahnya mengajar di pondok ayahnya,
pondok Nggedang. Kemudian ia mendirikan pondok pesantren sendiri di desa
Tebuireng, Jombang. Hasyim Asyari sengaja memilih lokasi yang penduduknya
dikenal banyak penjudi, perampok, dan pemabuk.
Mulanya pilihan itu ditentang oleh sahabat dan sanak keluarganya. Akan
tetapi, Hasyim Asyari meyakinkan bahwa mereka bahwa dakwah Islam harus
lebih banyak ditujukan kepada masyarakat yang jauh dari kehidupan beragama.
Demikianlah pada tahun 1899 di Tebuireng berdiri sebuah pondok yang sangat
sederhana. Bertahun-tahun kiai Hasyim membina pesantrennya, menghadapi
berbagai rintangan dan hambatan, terutama dari masyarakat sekelilingnya.
Akhirnya, pesantren itu tumbuh dan berkembang dengan pesat.

45

DAFTAR PUSTAKA

Heafford M.R., 1967, Pestalozzi, Great Britain: Richard Ltd.


Herawati, Rani. 2014. http://www.pendidikan-diy.go.id/dinas_v4/?view=v_artikel&id=27.
(Diakses tanggal 4 Juli 2015)
http://sanaky.com/wp-content/uploads/2010/09/ALIRAN-ALIRANPENDIDIKAN.pdf(Diakses tanggal 3 Juli 2015)
http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/2008/06/aliran-aliran-pendidikanesensialisme.html(Diakses tanggal 3 Juli 2015)
http://nova hardian.2010/03/makalah-pengantar-pendidikan-aliran(Diakses tanggal 3 Juli
2015)
http://kinasihnovarisaplsuny.blogspot.com/2012/06/tokoh-pendidikan-anak-usia-dini.html.
(Diakses tanggal 5 Juli 2015)
http://hakie.wordpress.com/2009/11/24/4/ (Diakses pada hari Minggu, tanggal 5 Juli 2015)
https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/11/20/aliran-aliran-klasik-pendidikan/ (Di akses
pada hari Minggu, tanggal 5 Juli 2015)
Kerjasama PT Stanvac-Indonesia, Pendopo, dengan IKIP Jakarta (Di akses pada hari Rabu,
tanggal 26 September 2012)
Novarisa, Risa. 2012. Tokoh Pendidikan Anak Usia Dini.

46

Prasetya, Indra. 2015. Tokoh Perintis Pendidikan Anak-Anak.


http://pesantrenbudaya.blogspot.com/2015/03/maria-montessori-tokoh-perintis.html.
(Diakses tanggal 5 Juli 2015)
Purwanto, Ngalim, Drs. M., 1972, Ilmu Pendidikan, Paket Pengajaran pada Proyek
http://dc303.4shared.com/doc/AcF9cumY/preview.html (Di akses pada hari Minggu,
tanggal 5 Juli 2015)
Sodiq A. Kuntoro. 2008. Sketsa Pendidikan Humanis Religius, Fakultas Ilmu Pendidikan,
UNY
Syafril dan Zelhendri Zen. 2012. Pengantar Pendidikan. Padang: PT Sukabina
Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Wikipedia. https://id.wikipedia.org/wiki/Maria_Montessori. (Diakses tanggal 5 Juli 2015)
Wikipedia. https://id.wikipedia.org/wiki/Johann_Heinrich_Pestalozzi. (Diakses tanggal 4 Juli
2015)

47

Anda mungkin juga menyukai