Anda di halaman 1dari 44

COVER

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang mana atas
berkat rahmat, dan kuasa-Nya lah penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum
proses produksi II dengan judul Mesin Gerinda tepat pada waktunya. Shalawat
serta salam tak lupa penulis ucapkan kepada junjugan nabi besar kita Muhammad
SAW yang mana telah membawa kita dari alam kegelapan ke alam yang terang
dengan ilmu seperti pada saat ini. Laporan ini disusun sebagai salah satu syarat telah
mengikuti praktikum proses produksi II dilaboratorium proses produksi Teknik
Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Riau.
Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada dosen pengampu
matakuliah proses produksi II Bapak Yohannes,S.T.,M.T. yang telah memberikan
kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan laporan ini. Tidak lupa penulis
mengucapkan terima kasih kepada para asisten dosen yang telah banyak memberi
pengarahan dari mulainya praktikum hingga pembuatan laporan, dan para sahabat
yang telah banyak membantu hingga selesainya laporan ini.
Penulis berharap laporan ini dapat menjadi pegangan bagi pembaca yang
ingin mengetahui atau mempelajari mesin gerinda. Penulis menyadari akan
banyaknya kekurangan dari laporan ini, maka dari itu penulis mengharapkan saran
dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan laporan ini nantinya.
Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih.
Pekanbaru ,

Penulis

juni 2015

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR TABEL

DAFTAR NOTASI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar belakang
Perkembangan teknologi yang terus eningkat dengan pesat dizaman saat ini

terutaa dalam bidang industry menuntut kita sebagai orang yang berlatar belakang
teknologi utuk dapat mengimbangi perkembangan tersebut. Dimana nantinya kita
selaku mahasiswa apabila akan terjun kedunia kerja, maka keahlian dan keterampilan
mahasiswa sangat diperlukan agar dapat ja diperusahaan atau dapat mengaplikasikan
ilmu yang didapat kedalam kehidupan sehari-hari.
Mesin gerinda adalah salah satu alat yang digunakan dalam dunia industri,
maka dari itu pengetahuan tentang gerinda sangat diperlukan agar mahasiswa dapat
lebih mengerti kegunaan mesin gerinda. Mesin gerinda merupakan mesin yang
bekerja dengan proses manual, dan memiliki teknologi yang tinggi sehingga
ketelitiannya sangat tinggi. Praktikum mesin gerinda ini merupakan salah satu mata
kuliah yang wajib diikuti oleh mahasiswa teknik mesin universitas riau pada mata
kuliah proses produksi II.

1.2.

Tujuan
Adapun tujuan diadakannya praktikum mesin gerinda ini adalah sebagai

berikut:

Mahasiswa dapat mengetahui dasar-dasar pengoperasian mesin gerinda

Mahasiswa mengetahui cara kerja mesin gerinda

Mahasiswa mampu melakukan finishing logam sehingga menjadi barang yang


lebih baik menggunakan mesin gerinda.

1.3.

Manfaat
Adapun manfaat yang dapat diambi dari praktikum mesin gerinda ini adalah

sebagai berikut:
Mahasiswa dapat melatih kedisiplinan dalam bekerja

Mahasiswa dapat meningkatkan ketrampilan dalam bidang penggerindaan

Mahasiswa mendapatkan wawasan dalam bidang mesin gerinda.

1.4.

Pelaksanaan praktikum
1.4.1.

Tempat pelaksanaan
Adapun tempat pelaksanaan praktikum mesin gerinda permukaan

adalah dilaboratorium teknologi produksi teknik mesin, fakultas teknik,


universitas riau.
1.4.2.

Waktu pelaksanaan
Waktu pelaksanaan praktikum mesin gerinda permukaan dilaksanakan

pada tanggal 13 juni 2015 pada jam 08:00 hingga 17:00 WIB.

1.5.

Sistematika penulisan
Adapun sistematika penulisan laporan ini adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini berisikan tentang latar belakang, tujuan, manfaat, waktu
pelaksanaan praktikum, dan sistematika penulisan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini membahas tentang teori-teori mesin gerinda, batu gerinda beserta
elemen pemesinan.
BAB III METODOLOGI

Bab ini membahas alat da bahan yang digunaan dalam praktikum mesi
gerinda ini.
BAB IV PROSEDUR PENGERJAAN
Bab ini berisikan tentang langkah-langkah dalam pelaksanaan praktikum
mesin gerinda.
BAB V PEMBAHASAN
Bab ini berisikan perhitungan beserta analisa data mengenai praktikum mesin
gerinda ini.
BAB VI PENUTUP
Bab ini berisikan kesipulan dan saran dari praktikum yang telah dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Pengertian
Mesin Gerinda adalah salah satu mesin perkakas dengan mata potong jamak,

dimana mata potongnya berjumlah sangat banyak yang digunakan untuk


mengasah/memotong benda kerja dengan tujuan tertentu. Prinsip kerja mesin gerinda
adalah batu gerinda berputar bersentuhan dengan benda kerja sehingga terjadi
pengikisan, penajaman, pengasahan, atau pemotongan.
Menggerinda berarti menggosok, mengauskan, dengan pelepasan logam oleh
suatu roda amplas, putar, gerakannya mirip pemotongan frais. Mesin gerinda
terutama dirancang untuk menyelesaikan pengerjaan permukaan benda kerja
berbentuk :

Silindris (cylindrical griding)

Rata/datar (face grinding)

Dalam (internal grinding)

Pahat dan pemotong (tool and special grinding)

2.2.

Jenis-jenis mesin gerinda


Menurut jenis benda kerja yang di gerinda terdapat beberapa jenis mesin gerinda

presisi antara lain:


2.2.1.

Mesin gerinda datar / surface grinding machine


adalah mesin gerinda dengan teknik penggerindaan mengacu pada

pembuatan bentuk datar, bentuk, dan permukaan yang tidak rara pada sebuah benda
kerja yang berada di bawah batu gerinda yang berputar. Pada umumnya mesin ini di
gunakan untuk menggerinda permukaan yang meja mesinnya bergerak horizontal
bolak-balik. Meja ini dapat diopersikan manual maupun otomatis. Pencekaman benda
kerja dengan cara diikat pada kotak meja magnetic.
Menurut sumbunya, mesin ini dibagi menjadi 4 jenis, yaitu:

Mesin gerinda datar horizontal dengan gerakan meja bolak-balik. Mesin ini
digunakan untuk menggerinda benda-benda dengan permukaan rata dan
menyudut.

Gambar 2. 1 Gerinda datar horizontal gerakan meja bolak-balik


(Sumber : Widarto. Teknik Pemesinan. 2008)

Mesin gerinda datar horizontal dengan gerakan meja berputar. Mesin jenis ini
digunakan untuk menggerinda permukaan rata poros.

Gambar 2. 2 Gerinda datar horizontal gerakan meja berputar


(Sumber : Widarto. Teknik Pemesinan. 2008)

Mesin gerinda datar vertikal dengan gerakan meja bolak-balik. Mesin ini
digunakan untuk menggerinda benda kerja dengan permukaan rata dan lebar
serta menyudut.

Gambar 2. 3 Gerinda datar vertikal gerakan meja bolak-balik


(Sumber : Widarto. Teknik Pemesinan. 2008)

Mesin gerinda datar vertikal dengan meja berputar, fungsi mesin ini sama
dengan mesin gerinda datar horizontal meja bolak-balik.

Gambar 2. 4 Gerinda datar vertikal meja berputar


(Sumber : Widarto. Teknik Pemesinan. 2008)

Berdasarkan prinsip kerjanya mesin gerinda dibagi menjadi 2 macam:

Mesin gerinda datar semi-otomatis

Mesin gerrinda datar otomatis

Bagian-bagian utama mesin gerinda datar:

Gambar 2. 5 Bagian utama mesin gerinda datar


(Sumber : Widarto. Teknik Pemesinan. 2008)

Keterangan:
1) Spindel pemakanan batu gerinda
Penggerak pemakanan batu gerinda
2) Pembatas gerak langkah meja mesin/ stopper
3) Sistem hidrolik mesin
Penggerak langkah meja mesin dan pelumas mesin
4) Spindel penggerak meja mesin naik turun
5) Spindel penggerak meja memanjang
6) Tuas kontrol meja mesin
7) Panel control
Bagian pengatur proses kerja mesin
8) Meja mesin
Tempat dudukan benda kerja yang akan digerinda permukaannya
9) Spindel utama batu gerinda
Bagian yang menghasilkan gerak putar batu gerinda dan gerakan
pemakanan.

Perlengkapan mesin gerinda datar:

Meja magnet listrik

Meja magnet permanen

Ragum mesin

Meja sinus

Meja sinus universal

Blok pencekam khusus

Pengasah batu gerinda/ dresser

Gambar 2. 6 Dresser

Metode penggerindaan :
Terdapat dua metode yang sering dilakukan. Adapun metode penggerindaan
tersebut adalah sebagai berikiut.

Penggerindaan keliling
Metode penggerindaan ini sangat cocok untuk penggerindaan
permukaan, alur dan pasak. Dengan metode penggerindaan keliling
ini, sebelum mesin kita jalankan, kita perlu mengatur langkah
pergerakan mesin.

Gambar 2. 7 Penggerindaan keliling permukaan


(Sumber : Widarto. Teknik Pemesinan. 2008)

Penggerindaan muka (depan)


Penggerindaan muka secara teoritis memiliki waktu mesin
yang lebih cepat dibandingkan penggerindaan keliling.

Gambar 2. 8 penggerindaan muka


(Sumber : Widarto. Teknik Pemesinan. 2008)

Perhitungan teoritis mesin gerinda datar


1) Kecepatan putar batu gerinda
Secara teoritis kecepatan putar batu gerinda dapat dihitung menggunakan
rumus :
n=
Di mana :

= kecepatan putar (rpm)

Vc = kecepatan potong (m/det)


d

= diameter batu gerinda (mm)

2) Waktu kerja mesin,


Waktu kerja mesin merupakan waktu yang dibutuhkan oleh mesin untuk
menyelesaikan suatu proses penggerindaan. Waktu kerja mesin bisa
dihitung dengan menggunakan rumus :
Tm =

tanpa pemakanan kesamping

Tm =

dengan pemakanan kesamping

Dimana;
L = panjang penggerindaan (mm)
= I+(jarak benda lebihan pemotongan)
I = panjang benda kerja (mm)
i = jumlah pemakanan (kali)
V = kecepatan gerak meja (m/men)
b = tebal benda kerja (mm)
B = tebal penggerindaan / B=b (mm)
s = pemakanan memanjang

2.2.2.

Mesin gerinda silindris


Menggerinda silinder adalah salah satu proses pemotongan /

pengasahan benda kerja yang berbentuk silinder dengan menggunakan alat


potong (batu gerinda) yang berputar. Prinsip kerjanya ialah batu gerinda
memotong benda kerja silinder dengan arah putaran yang berlawanan.
Berdasarkan kontruksi mesinnya. Mesin gerinda silindris dibedakan
menjadi 4 macam:

1) Gerinda silindris luar


Mesin Gerinda silindris luar berfungsi untuk menggerinda diameter luar
benda kerja yang berbentuk silindris dan tirus.

Gambar 2. 9 Gerinda silindris luar


(Sumber : Widarto. Teknik Pemesinan. 2008)

2) Mesin gerinda silindris dalam


Mesin Gerinda silindris jenis ini berfungsi untuk menggerinda benda-benda
dengan diameter dalam yang berbentuk silindris dan tirus.

Gambar 2. 10 Gerinda silindris dalam


(Sumber : Widarto. Teknik Pemesinan. 2008)

3) Mesin Gerinda silinder luar tanpa center (centreless)


Mesin Gerinda silindris jenis ini digunakan untuk menggerinda diameter
luar dalam jumlah yang banyak/massal baik panjang maupun pendek.

Gambar 2. 11 Gerinda silinder luar centerless


(Sumber : Widarto. Teknik Pemesinan. 2008)

4) Mesin Gerinda silindris universal


Sesuai namanya, Mesin Gerinda jenis ini mampu untuk menggerinda
benda kerja dengan diameter luar dan dalam baik bentuk silindris.

Gambar 2. 12 Mesin gerinda silindris universal


(Sumber : Widarto. Teknik Pemesinan. 2008)

Bagian bagian utama Mesin Gerinda Silinder


1. Kepala Utama (Head Stock)
Berfungsi Sebagai penghasil gerak putaran batu gerinda.
Ada dua jenis kepala utama yaitu :

kepala utama dengan sudut yang dapat diatur

kepala utama dengan sudut yang tidak dapat diatur

Gambar 2. 13 Kepala utama

2. Spindle Utama dan Pengontrol Gerakan Meja.

Gambar 2. 14 Spindel utama dan pengontrol gerakan meja

Keterangan :
a. Spindel Utama

g. Knob pengontrol kecepatan meja

b. Spindel pengatur gerak meja.

h. Pengaturan pemberhentian kiri.

c. Tuas pembalik

i. Pengaturan pemberhentian kanan.

d. Knob pengatur waktu

j. pengatur pemakanan otomatis

e. Pengaturan pemakanan bertahap

k. Tuas utama

f. Pengunci spindle utama

l. Tuas otomatis
m. Pengatur langkah

3. Kepala Lepas
Digunakan sebagai penyangga apabila mencekam benda kerja dengan dua
senter

Gambar 2. 15 Kepala lepas gerinda

.
4. Bed atau Meja
Sebagai tempat kedudukan kepala lepas dan spindle utama. Meja ini juga
dapat diatur menyudut.

Gambar 2. 16 Bed atau meja

5. Panel Kontrol
Pengontrol proses kerja mesin.

Gambar 2. 17 Panel kontrol

Perlengkapan Mesin Gerinda Silinder


1. Chuck 3 rahang

Digunakan untuk mencekam bendasilindris

Dengan gigi chuck dapat bergerak secara bersamaan

Digunakan untuk benda kerja dengan diameter besar.

Gambar 2. 18 Chuck 3 rahang

2. Collet

Untuk mencekam benda kerja silindris

Kolet mempunyai berbagai ukuran sesuai diameter benda kerja

Biasa digunakan pada benda kerja dengan diameter kecil

Gambar 2. 19 Collet

3. Alat pembawa (Lathe dog)


Alat untuk membawa benda kerjayang berhubungan dengan pelat pembawa.

Gambar 2. 20 Lathe dog (pembawa)

4. Face plate

Digunakan untuk mencekam benda kerja yang tidak dapat dicekam


dengan cekam 3 rahang ataupun collet.

Digunakan untuk menggerinda permukaan diameter dalam benda


kerja.

5. Senter dengan ulir


Digunakan sebagai senter penyangga dan dipasang pada spindle utama benda
kerja untuk pencekaman dengan 2 senter.
6. Senter tanpa ulir

Senter , untuk menumpu benda kerja diameter kecil.

Senter penuh, untuk menumpu benda kerja diameter besar.

7. Cekam magnet
Digunakan untuk mengikat benda kerja berdiameter agak besar namun
pendek.
8. Dial indicator
Digunakan untuk mengatur kemiringan meja mesin.

Gambar 2. 21 Dial indikator

9. Pengasah batu gerinda (Dresser)


Digunakan untuk mengasah batu gerinda.

Gambar 2. 22 Dresser

10. Kunci Chuck.

Gambar 2. 23 Kunci chuck

Perhitungan Teoritis pada Mesin Gerinda Silindris


1. Menghitung kecepatan putar batu gerinda.
kecepatan putar batu gerinda secara teoritis dapat dihitung dengan rumus :

Keterangan :
= kecepatan putar (rpm)
= kecepatan potong (m/detik)

= diameter batu gerinda (mm)

2. Kecepatan Peripheral Benda Kerja Pada Mesin Gerinda Silindrik yaitu :


Vw =

.dw.nw
60000

mm/s

Keterangan :
Vw = Kecepatan periheral benda kerja (m/s)
Dw = Diameter mula-mula bekerja (mm)
Nw = Putaran benda kerja (r/min)

3. Rasio Kecepatan yaitu :


q=

Vs
Vw

Keterangan:
q

= Rasio kecepatan

VS = Kecepatan batu gerinda (mm/s)


VW = Kecepatan peripheral benda kerja (mm/s)
4. Gerak Makan Radial yaitu :
fr = ap + (1+k) mm/langkah
Keterangan :
Fr = Gerak makan radial yang diatur pada mesin (mm/ langkah)
Ap = Kedalaman penggerindaan (mm)

K = Kompensasi karena kehausan batu gerinda

5. Kecepatan Penghasil GeramUntuk pemakanan melintang yaitu :


Z = . dw. Ap Vfa mm3/s
6. Untuk pemakanan radial yaitu :
Z = . dw. Bs. Vfr mm3/s
Keterangan :
Z

= Kecepatan peng hasil geram (mm3/s)

Dw = Dimeter benda kerja (mm)


Ap = Kedalaman penggerindaan (mm)
Vfa = Kecepatan gerak meja melintang / aksial (mm/s)
Vfr = Kecepatan gerak makan radial (mm/s)
Metode Penggerindaan pada Mesin Gerinda Silindris
1) Penggerindaan diameter luar
a) Penggerindaan memanjang diameter luar silindris diantara dua senter.
Langkah meja pada saat pengerjaan benda kerja dengan metode ini,
secara teoritis dapat dihitung dengan rumus :
L = l + 2/3.b
Di mana:
L = panjang gerak meja mesin
l = panjang benda kerja
b = tebal batu gerinda

Gambar 2. 24 Penggerindaan Diameter Luar


(Sumber : Widarto. Teknik Pemesinan. 2008)

b) Penggerindaan tegak lurus, digunakan pada penggerindaan silindris,


konis dan bertingkat. Panjang bidang yang akan digerinda tidak
melebihi tebal batu gerinda. Pada penggerindaan ini tidak ada gerakan
memanjang

Gambar 2. 25 Penggerindaan Tegak Lurus


(Sumber : Widarto. Teknik Pemesinan. 2008)
c) Penggerindaan bentuk, prinsipnya sama dengan penggerindaan tegak
lurus, perbedaannya terletak pada bentuk batu gerinda yang dibentuk.

Gambar 2. 26 Penggerindaan Bentuk


(Sumber : Widarto. Teknik Pemesinan. 2008)
d) Penggerindaan tirus luar
Penggerindaan ini dilakukan dengan cara menggeser meja bagian atas.
Pergeseran maksimum adalah 12. Penggerindaan dilakukan seperti
penggerindaan silindris memanjang.

Gambar 2. 27 Penggerindaan Tirus Luar


(Sumber : Widarto. Teknik Pemesinan. 2008)
2) Penggerindaan diameter dalam
a) Penggerindaan diameter dalam dengan benda kerja berputar. Prinsipnya
sama dengan penggerindaan diameter luar. Diameter roda gerinda tidak
boleh lebih besar dari lubang diameter benda kerja.

Gambar 2. 28 Penggerindaan Benda Kerja Berputar


(Sumber : Widarto. Teknik Pemesinan. 2008)
b) Penggerindan tirus dalam, dilakukan

dengan cara menggeser meja

sebesar sudut ketirusan (/2 ).

Gambar 2. 29 penggerindaan tirus dalam


(Sumber : Widarto. Teknik Pemesinan. 2008)
c) Penggerindaan dalam dengan benda kerja diam. Penggerindaan ini
dilakukan jika ukuran dan bentuk benda kerja terlalu besar dan tidak
dapat dicekam.

Gambar 2. 30 Penggerindaan dengan Benda Kerja Diam


(Sumber : Widarto. Teknik Pemesinan. 2008)
3) Penggerindaan muka
Penggerindaan ini dilakukan untuk menggerinda muka (facing) sebuah
silinder. Sebelum

proses penggerindaan dimulai, batu gerinda harus

ditruing 1 ke arah pusat, meja diatur

tepat

90o, sehingga akan

menghasilkan permukaan yang tegak lurus terhadap sisi memanjang


diameter benda kerja.

Gambar 2. 31 Penggerindaan Muka


(Sumber : Widarto. Teknik Pemesinan. 2008)

2.3.

Batu gerinda
Batu gerinda banyak digunakan di bengkel-bengkel pengerjaan logam. Batu

gerinda sebetulnya juga menyayat seperti penyayatannya sangat halus, dan


tatal/geramnya tidak terlihat seperti milling. Tatal hasil penggerindaan ini sangat kecil
seperti debu.
Komponen ini adalah salah satu faktor utama dalam penentuan hasil akhir
penggerindaan. Untuk mendapatkan hasil penggerindaan yang maksimal, pemilihan
batu gerinda dipengaruhi oleh beberapa hal yang akan dijelaskan di bawah.,
sebenarnya batu gerinda terdiri dari 2 bahan penyusun utama, yaitu butiran asah /
abrasive dan perekat / bond.
a. Jenis-jenis abrasive
oksida Alumunium (Al2O3), (A)
paling banyak di aplikasi sebagai bahan pembuatan batu gerinda.
Digunakan untuk menggerinda material dengan tegangan tarik
tinggi.seperti baja karbon, baja paduan, HSS.
Silikon karbida (SiC), (C)
Butiran yang sangat keras dan mendekati kekerasan intan. Digunakan
untuk menggerinda material dengan tegangan tarik rendah. Seperti besi
tuang kelabu, grafit, alumunium, kuningan, dan karbida.
Diamond/ intan (D)
Butiran sangat keras, digunakan untuk menggerinda material dengan
kekerasan sangat tinggi. Seperti carbida semen, keramik, kaca, granit,
marmer, batun permata
Boron nitride (BN), (CBN)
Kristal bahan ini berbentuk kubus. Bahan ini digunakan untuk
menggerinda benda kerja yang sangat keras seperti karbida, baja
perkakas dengan kekerasan diatas 65 HRC.
b. Jenis-jenis bond
Tembikar / vitrified (V)
memiliki sifat yang tidak mudah terpengaruh oleh air, minyak, ataupun
perubahan suhu.
Silikat / silicate (S)
Digunakan untuk menggerinda material yang sensitif terhadap panas
Bakelit/ resinoid (B)

Digunakan untuk menggerinda dengan kecepatan putar tinggi


Karet / rubber (R)
Di gunakan pada roda gerinda yang elastis
Embalau / shellac (E)
Digunakan untuk hasil penggerindaan yang sangat halus
Perekat logam/ metal bond
Di gunakan untuk mengikat abrasive boron nitride dan intan.

2.3.1.

Ukuran butir asahan


Ukuran butir asah dinyatakan dalam bentuk angka. Dimana semakin
kecil angka menunjukan semakin besar ukuran butir abrasive dan semakin
besar angka maka ukuran butir abrasive semakin kecil. Batu gerinda dengan
butir kasar (angka kecil) memiliki kemampuan potong yang baik tetapi
hasilnya kasar sedangkan batu gerinda dengan butir halus (angka besar)
memiliki kemampuan daya bentuk yang baik dan hasil penggerindaan yang
baik.
Tabel 2. 1 Ukuran butir asahan

Tingkat kekasaran
Kasar
Sedang
Halus
Sangat halus
Tepung

Ukuran butir (mesh)


12, 14,16,20,24
30,36,46,56,60
70,80,90,100,120
150,180,220,240
280,320,400,500,800,1200

Angka-angka ini di dapat dari proses penyaringan, dimana saringan


tersebut memiliki lubang-lubang. Dimana Ukuran lubang didapat dari
banyaknya lubang dalam saringan seluas 1 inchi2 , ukuran lubang dinamakan
dengan mesh.
Sebagai contoh:
1. jika dalam 1 inchi2 terdapat 120 lubang, berarti butiran yang dapat
melewati/ lolos berukuran 120 mesh atau lebih kecil lagi.
2. Jika dalam 1 inchi terdapat 56 lubang, berarti butiran yang dapat
melewati/ lolos berukuran 56 mesh atau lebih kecil lagi.
Dan jika butiran yang tertahan diatas saringan berarti memiliki besar butir 1
step lebih tinggi ( ukuran butir yang lebih kecil).

2.3.2.

Struktur batu gerinda


Struktur batu gerinda di pengaruhi dan di tentukan oleh perbandingan
2 faktor, yaitu ukuran butiran dan perekat yang digunakan. Perbandingan
perekat dengan butir asah dalam batu gerinda berkisar antara 10-30 % dari
volume total batu gerinda.
Dilihat dari perbandingan tersebut, terdapat 2 jenis batu gerinda, yaitu:
1. Struktur terbuka/ batu gerinda lunak
Jenis ini memiliki sifat mudah melepaskan butir asah dalam
tekanan tertentu karena memiliki Jumlah perekat sedikit. Jenis ini
di gunakan untuk menggerinda benda yang keras, karena sifat yang
mudah melepas butir asah, maka permukaan benda kerja selalu
mendapatkan butiran asah yang baru dan massih tajam. Percikan
bunga api yang dihasilkan banyak karena selain partikel benda
kerja, gesekan yang terjadi juga melepaskan butiran asah.
2. Struktur tertutup/ batu gerinda keras
Jenis ini memiliki sifat yang sulit melepaskan butir asah dalam
tekanan tertentu karena memiliki perekat yang banyak. Jenis ini
cocok di gunakan untuk menggerinda benda yang lunak, karena
sifat benda kerja yang lunak, maka mata asah dapat lebih awet
karena partikel benda kerja akan terkikis terlebih dahulu dari pada
terlepasnya butiran asah. Percikan bunga api yang dihasilkan oleh
penggerindaan sedikit.

2.3.3.

Kekerasan batu gerenda


Tingkat kekerasan tidak dilihat dari kerasnya butiran abrasive yang
digunakan tetapi dilihat dari kuatnya bond (perekat) untuk mengikat butiran
abrasive dari tekanan tertentu ketika melakukan proses penggerindaan.
Tingkat kekerasan dinyatakan dalam simbol huruf alfabet. Kekerasan
batu gerinda dapat dilihat pada tabel dibawah :
Tabel 2. 2 Kekerasan batu gerinda

Tingkat kekerasan
Sangat lunak
Lunak
Sedang
Keras
Sangat keras

simbol
E,F,G
H,I,J
L,M,N,O
P,Q,R,S
T,U,V,W

Tingkat kekerasan batu gerinda dapat dilihat pada identifikasi batu


gerinda. Pada setiap batu gerinda pasti terdapat simbol/ tanda yang
menyebutkan identitas batu gerinda tersebut. Indentitas batu berisi informasi,
antara lain:
Jenis bahan asah
Ukuran butiran asah
Tingkat kekerasan
Susunan butiran asah
Jenis bahan perekat
Sebagai contoh:
RG 38 A 36 L 5 BE,
Artinya:
38 : kode pabrik
A : jenis abrasive
36 : ukuran abrasive
L : tingkat kekerasan
5 : susunan abrasive
V : jenis bond
Cara membaca kode diatas adalah, batu gerinda dengan bahan abrasive
oksida alumunium dengan ukuran 36 mesh dengan susunan sedang dan
menggunakan perekat tembikar.
2.3.4.

Pemilihan batu gerenda


Pemilihan roda gerinda biasanya berdasarkan pada,
Bahan dan kekerasan benda yang digerinda, untuk bahan dengan
kekuatan tarik tinggi, digunakan roda gerinda dari Aluminium
oksida. Bahan tersebut antara lain, Baja karbon, Besi tempa,
Perunggu kenyal, Tungsten, Baja campuran , dll.
Untuk bahan dengan kekuatan tarik rendah, yaitu Besi kelabu,
Kuningan, Perunggu, Aluminium, tembaga, granite, dll. Gunakan
roda gerinda Silicon carbida. Selain itu, gunakan roda gerinda keras
untuk bahan yang lunak, dan roda gerinda lunak untuk bahan yang
keras.
Volume bahan yang digerinda, untuk volume bahan buangan yang
besar gunakan roda gerinda yang berbutir besar dan kasar, termasuk
bahan yang liat. Sedangkan roda gerinda berbutir halus digunakan

untuk volume sedikit (tipis untuk finishing), termasuk bahan yang


keras.
Besarnya busur singgung antara roda gerinda dan benda kerja, busur
singgungan besar berarti luasan gesekan juga luas, maka roda
gerinda cepat aus. Untuk itu gunakan roda gerinda lunak dengan
butiran yang besar. Sedangkan untuk busur singgungan kecil atau
sedikit, gunakan roda gerinda yang keras dengan butiran halus.

BAB III
METODOLOGI
3.1.

Alat
Adapun alat-alat yang digunakan selama praktikum Mesin Gerinda datar adalah

sebagai berikut.
1. Mesin gerinda datar permukaan datar
Digunakan untuk melakukan proses gerinda hanya dengan benda kerja yang
memiliki permukaan datar.

Gambar 3. 1 Mesin Gerinda Permukaan Datar

2. Mistar ingsut / jangka sorong


Digunakan untuk mengukur dimensi benda kerja

Gambar 3. 2 Kunci L

3. Kaca mata
Berfungsi untuk melindungi mata dari percikan beram yang ada pada proses
pengerjaan.

Gambar 3. 3 Kacamata

4. Kuas
Berfungsi untuk membersihkan mesin gerinda dari sisa-sisa beram dari proses
pengerjaan.

Gambar 3. 4 Kuas

3.1. Benda Kerja Mesin Gerinda Datar


Adapun benda kerja yang digunakan merupakan bahan dari material mild steel
dengan gambar sebagai berikut.

BAB IV
PROSES PENGERJAAN

4.1.

Prosedur Umum
Adapun prosendur umum dalam oraktikum mesin gerinda permukaan adalah:
1. Alat dan bahan dipersiapkan
2. Benda kerja diukur dengan jangka sorong
3. Pengukuran benda kerja diambil dengan membagi benda kerja kedalam 5
bagian pengukuran
4. Titik tertinggi benda kerja ditetapkan sebagai titik datum
5. Setting mesin dilakukan untuk memulai pekerjaan dengan mengaktifkan
panle kelistrikan dan menekan tombol-tombol control untuk memulai
pekerjaan
6. Setting benda kerja dilakukan dengan ,meletakkan benda kerja pada cekan
magnet.
7. Setting datum dilakukan dengan meletakkan/ mendekattkan titik datum benda
kerja dengan batu gerinda hingga bersinggungan
8. Proses penggerindaan dilakukan dengan memberikan pemakanan sedikit demi
sedikit pada seluruh permukaan benda kerja hingga selesai seperti yang
diinginkan
9. Mesin dimatikan sesuai dengan prosedur pematian mesin
10. Panel utama kelistrikan dinonaktifkan
11. Mesin gerinda dibersihkan dari sisa-sisa beram dan coolant hasil
penggerindaan hingga bersih seperti kondisi sebelum pemakaian

4.2.

Proses pengerjaan
4.2.1.

Setting mesin
a) Panel kelistrikan diaktifkan dengan menekan tombol ON panel utama
b) Kelistrikan mesin gerinda diaktifkan degan menekoan tombol ON
MGP (mesin gerinda permukaan)

c) Switch pada mesin gerinda diputar pada posisi ON(searah jarum jam),
untuk mengaktifkan mesin.
d) Tombol emergency ditekan
e) Pada penl hidraulik, tombol ON ditekan untuk mengaktifkan hidraulik
agar mesin dapat dilumasi dengan cairan hidraulik
f) Pada panel gerinda tombol ON ditekan untuk mengaktifkan putaran
batu gerindaa
g) Pada panel coolant, tombol ON ditekan untuk mengaktifkan coolant
h) Pada panel operating mode, dapat dipilih pengerjaan otomatis atau
manual, dengan menekan tombol tersebut.
4.2.2.

Setting benda kerja


1. Benda kerja diletakkan oada cekam magnet
2. Posisikan benda kerja pada tengah-tengah cekam magnet
3. Benda kerja posisinya diatur dengan melihat garis bantu yang ada pada
cekam magnet
4. Pada panel chuck control, switch magnet diputar searah jarum jam
hingga menunjuk angka 10, agar benda kerja dapat ditahan dengan
kuat oleh magnet

4.2.3.

Setting datum
a) Benda kerja didekatkan dengan gerinda dengan cara memutar eretan
X,Y,Z.
b) Eretan X bergerak kekanan dan kekiri dari operator
c) Eretan Y bergerak mendekati da menjauhi operatir
d) Eretan Z berrgerak keatas dan kebawah
e) Titik datum diperoleh ketika telah terjadi singgungan antara benda
kerja dengan batu gerinda atau terjadi sedikit percikan antara gerinda
dengan benda kerja.

4.2.4.

Langkah kerja
1. Setting mesin dilakukan
2. Setting benda kerja dilakukan
3. Setting datum dilakukan
4. Pemakanan dilakukan dengan memutar eretan X, hingga seluruh
bagian permukaan tergerinda pada arah sumbu X
5. Dilanjutkan dngan memutar eretan Y, hingga seluruh permukaan
tergerinda pada arah sumbu Y
6. Kedua langkah diatas diulkang hingga luas permukaan benda kerja
tergerinda seluruhnya
7. Langkah selanjutnya adalah menambah pemakanan dengan memutar
eretan Z sebesar 0,03mm
8. Langkah-langkah diatas diulang hingga total pemakanan yang
dilakukan mencapai 0,3 mm (diulang sebanyak 10 kali)
9. Setelah selesai, pada operating mode pengerjaan otomatis ditekan.
10. Selanjutnya, tuas otomatis diputar hingga mencapai angka 2,3.
11. Panjang pergerakan meja magne t dapat diatur dengan mengatur
sensornya.
12. Eretan Y diputar hingga seluruh permukaan benda kerja tergerinda
13. Eretan z diputar untuk menambah kedalaman pemakanan sebesar 0,02
mm
14. Pemakanan dikerjakan hingga kedalaman pemakanan sebesar 0,1 mm
atau dengan kata lain prosedur diulang sebanyak 5 kali hingga selesai
15. Prosedur pe non-aktifkan mesin dilakukan

4.3.

Prosedur akhir
1. Tombol OFF untuk gerakan spindle batu gerinda, coolant, dan hidraulik
ditekan

2. Chuck control magnetic dimatikan dengan memutar tombol magnet ke angka


nol
3. Tombol untuk elektromagnetik ditekan
4. Tombol emergency ditekan kembali
5. Benda kerja diambil dari meja chuck magnetic
6. Switch ON/OFF dipuar ke posisi off untuk menghentikan operasi mesin
7. Tombol merah pada panel utama dengan kode MGP ditekan
8. Tombol merah panel utama kelistrikan ditekan
9. Ruang kerja dibersihkan dan dirapikan hingga terlihat seperti keadaan
sebelum pemakaian.

BAB V
PEMBAHASAN

5.1.

Perhitungan

5.2.

Analisa

Setelah benda kerja/specimen dilakukan pengerjaan dengan mesin gerinda, maka


tampak pada gambar bahwasanya permukaan benda kerja terlihat lebih baik, atau
terlihat kekasaran permukaannya menurun.
Keadaan diatas menunjukan fungsi mesin gerinda adalah sebagai mesin finishing
hasil produksi. Namun, apabila hasil pengerjaan diperhatikan/diamati kembali, maka
akan terlihat sedikit goresan. Hal ini disebabkan oleh keadaan batu gerinda yang
sudah tidak lagi baik, batu gerinda perlu untuk diasah agar dapat menghasilkan
penggerindaan yang baik.
Pada saat awal penggerindaan, pengoperasian dilakukan dengan cara manual. Hasil
yang didapat adalah tidak sebaik hasil penggerindaan otomatis. Hal ii dikarnakan
keterbatasan kemampuan praktikan dalam mengoperasikan mesin. Praktikan tidak
memberikan kecepatan yang konstan pada saat memutarsumbu-sumbu X dan Z,
sehingga pemakanan yang dilakukan gerinda tidak maksimal. Ketika pengoperasian
dilakukan secara otomatis, didapat hasil yang baik karna eretan sumbu X bergerak
dengan kecepatan konstan.

BAB VI
PENUTUP

6.1.

Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum gerinda adalah :

Mesin gerinda ekerja dengan cara menyentuhksn batu gerinda yang berputar
ke bena kerja atau sebaliknya, bergantung pada jenis mesinnya. Dari
penyentuhan tersebut menyebabkan terjadinya pemakanan/pengasahan.

Menggerinda adalah proses pengerjaan finishing bukan proses pengerjaan


produksi.

Pengoperasian mesin gerinda terutama mesin gerinda permukaan dapat


dilakukan manual ataupun otomatis sesuai kebutuhan.

6.2.

Saran

Adapun saran yang dapat diberikan penulis adalah:

Sebaiknya praktikan menguasai teori tentang mesin gerinda terlebih dahulu


sebelum praktik.

Sebaiknya pengukuran dilakukan dengan teliti agar didapat titik yang tepat
untuk datum

Sebaiknya praktikan melakukan penggerindaan secara perlahan saja,


mengingat kondisi batu gerinda yang sudah tidak baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA