Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya, perkembangan merujuk kepada perubahan sistematis
tentang fungsi-fungsi fisik dan praktis. Perubahan sistematik tentang fungsifungsi fisik dan psikis. Perubahan fisik meliputi perkembangan biologis
dasar sebagai hasil dari konsepsi, dan hasil dari interaksi proses biologis dan
genetika dengan lingkungan. Sementara perubahan psikis menyangkut
keseluruhan karakteristik psikologis individu, seperti perkembangan kognitif,
emosi, sosial, dan moral.
Karakteristik perkembangan fisik pada masa kanak-kanak (0-5 tahun).
Perkembangan kemampuan fisik pada anak kecil ditandai dengan mulai
mampu melakukan bermacam macam gerakan dasar yang semakin baik,
yaitu gerakan-gerakan berjalan, berlari, melompat dan meloncat, berjingkrak,
melempar, menangkap, yang berhubungan dengan kekuatan yang lebih besar
sebagai akibat pertumbuhan jaringan otot lebih besar. Selain itu
perkembangan juga ditandai dengan pertumbuhan panjang kaki dan tangan
secara proporsional. Perkembagan fisik pada masa anak juga ditandai dengan
koordinasi gerak dan keseimbangan berkembang dengan baik.
Masa dewasa, yang merupakan masa tenang setelah mengalami berbagai
aspek gejolak perkembangan pada masa remaja. Selain itu, kebutuhan
berinteraksi dengan orang lain telah dirasakan sejak usia enam bulan, disaat
itu mereka telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota
keluarganya. Anak mulai mampu membedakan arti senyum dan perilaku
lainnya, seperti marah (tidak senang mendengar suara keras) dan kasih
sayang, dengan seiring berkembangnya dalam segi fisik dan psikomotor.
Oleh karena itu, masa dewasa merupakan masa pematangan kemampuan dan
karakteristik yang telah dicapai pada masa remaja.
Interaksi dengan orang lain, tidak hanya dialami anak di lingkungan
keluarga. Proses pembelajaran di sekolah mau atau tidak mau pasti di

pengaruhi oleh substansi-substansi seperti kurikulum pengajar atau guru,


lingkungan belajar, dan evaluasi. Sering kali kita lupa dengan substansisubstansi ini dalam mendesain suatu pembelajaran.
Desain pembelajaran adalah tata cara yang di pakai untuk melaksanakan
proses

pembelajaran.

Dalam

mendesain

pembelajaran

guru

harus

memperhatikan substansi -substansi ini agar siswa mengalami proses belajar


dan pada akhirnya memperoleh hasil belajar yang menyenangkan.
Oleh

kerena

itu

guru

harus

melihat,

memperhatikan,

mempertimbangkan, dan memprioritaskan tetang ciri siswa atau peserta


didik, tujuan yang akan di capai, materi, pendekatan atau metode yang di
gunakan, lingkungan belajar, dan evaluasi.
Peserta didik adalah organisme yang unik dan berkembang sesuai
dengan tahap perkembangannya (Wina sanjaya, 2006:54). Perkembangan
anak adalah perkembangan seluruh aspek kepribadiannya akan tetapi tempo
dan irama perkembangan masing-masing anak tidak sama. Proses
pembelajaran dapat di pengaruhi oleh perkembangan dan pertumbuhan anak
yang tidak sama itu, di samping karakteristik yang melekat pada diri anak,
seperti sikap, penampilan, pemahaman, dan latar belakang.
Sebagai seorang guru, sangat perlu memahami pertumbuhan dan
perkembangan peserta didik. Perkembangan pesta didik meliputi :
perkembangan fisik, perkembangan pisikomotorik , dan perkembangan
intelektual. Perkembangan fisik dan perkembangan psikomotorik mempunyai
kontribusi yang kuat terhadap perkembangan intelektual/kongnitif siswa.
Rancangan pembelajaran yang konduktif akan mampu meningkatkan
motivasi belajar peserta didik sehingga dapat meningkatkan proses dan hasil
pembelajaran yang diinginkan.

B. Latar Belakang Masalah


1. Bagaimana karakteristik perkembangan peserta didik.
2. Bagaimana perkembangan motorik pada peserta didik.
3. Bagaimana implikasi genetik dan lingkungan tehadap pendidikan.
4. Bagamina implikasi perkembangan otak terhadap pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN
A Karakteristik Perkembangan Peserta Didik
Dilihat dari segi pertumbuhan dan perkembangan fisik, pada usia
sekolah dasar merupakan periode pertumbuhan fisik yang lambat dan relatif
seragam sampai mulai terjadi perubahan-perubahan pubertas, kira-kira dua
tahun menjelang anak menjadi matang secara seksual pada saat mana
pertumbuhan berkembang pesat. Masa ini sering juga disebut sebagai
periode tenang sebelum pertumbuhan yang cepat menjelang masa remaja.
Tetapi, hal ini tidak berarti bahwa pada masa ini tidak terjadi proses
pertumbuhan fisik yang berarti.
1. Karakteristik perkembangan fisik pada masa kanak-kanak (0-5 tahun).
Perkembangan kemampuan fisik pada anak kecil ditandai dengan mulai
mampu melakukan bermacam macam gerakan dasar yang semakin baik,
yaitu gerakan gerakan berjalan, berlari, melompat dan meloncat,
berjingkrak, melempar, menangkap, yang berhubungan dengan kekuatan
yang lebih basar sebagai akibat pertumbuhan jaringan otot lebih besar.
Selain itu perkembangan juga ditandai dengan pertumbuhan panjang kaki
dan tangan secara proporsional. Perkembagan fisik pada masa anak juga
ditandai dengan koordinasi gerak dan keseimbangan berkembang dengan
baik.
2. Karakteristik perkembangan fisik pada masa anak (5-11)
Perkembangan waktu reaksi lebih lambat dibanding masa kanak-kanak,
koordinasi mata berkembang dengan baik, masih belum mengembangkan
otot otot kecil, kesehatan umum relative tidak stabil dan mudah sakit,
rentan dan daya tahan kurang.
a. Usia 8-9 tahun
Terjadi perbaikan koordinasi tubuh, ketahanan tubuh bertambah, anak
laki laki cenderung aktifitas yang ada kontak fisik seperti berkelahi dan
bergulat, koordinasi mata dan tangan lebih baik, sistim peredaran darah

masih belum kuat, koordinasi otot dan syaraf masih kurang baik. Dari
segi psiologi anak wanita lebih maju satu tahun dari lelaki
b. Usia 10-11 tahun
Kekuatan anak laki laki lebih kuat dari wanita, kenaikan tekanan darah
dan metabolism yang tajam. Wanita mulai mengalami kematangan
seksual (12 tahun). Lelaki hanya 5% yang mencapai kematangan
seksual.
3. Karakteristik perkembangan fisik pada masa remaja
Pada masa remaja perkembangan fisik yang paling menonjol terdapat
pada

perkembangan,

kekuatan,

ketahanan,

dan

organ

seksual.

Karakteristik perkembangan fisik pada masa remaja ditandai dengan


pertumbuhan berat dan tinggi badan yang cepat, pertumbuhan tanda-tanda
seksual primer (kelenjar-kelenjar dan alat-alat kelamin) maupun tandatanda seksual sekunder (tumbuh payudara, haid, kumis, dan mimpi basah,
dan lainnya), timbulnya hasrat seksual yang tinggi (masa puberitas).
C. Perkembangan Motorik pada Peserta Didik
Perkembangan motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan
jasmani yang terorganisir antara pusat syaraf, urat syaraf, dan otot.
Perkembangn tersebut diwali dengan dengan gerakan reflek sesaat setelah
lahir yang akan berubah menjadi gerakan yang disadari. 1 Dapat disimpulkan
pula bahwa perkembangan motorik berarti perkembangan pengendalian
gerakan jasmani melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot yang
terkoordinasi. Pengendalian tersebut berasal dari perkembangan refleksi dan
kegiatan massa yang ada pada waktu lahir. Sebelum perkembangan itu terjadi
anak akan tetap tidak berdaya.
Seandainya tidak ada gangguan fisik dan hambatan mental yang
mengganggu perkembangan motorik, secara normal anak yang berumur 6
tahun akan siap menyesuaikan diri dengan tuntutan sekolah dan berperan
1 Danis Widyastuti, Retno Widyani, Panduan Perkembangan Anak, (Puspa
Swara, jakarta)

serta dalam kegiatan bermain teman sebaya. Sebagian tugas perkembangan


anak yang paling penting dalam masa prasekolah dan dalam tahun-tahun
permulaan sekolah, terdiri atas perkembangan motorik yang didasarkan atas
penggunaan kumpulan otot yang berbeda secara koordinasi.
Jika tidak ada gangguan kepribadian yang menghambat anak yang
memiliki sifat yang sesuai dengan harapan masyarakat akan melakukan
penyesuaian sosial dan pribadi yang baik. Sebaliknya dalam diri anak yang
tidak dapat menyesuaikan diri dengan harapan masyarakat,akan berkembang
perasaan tidak mampu yang akan melemahkan semangat mereka untuk
mencoba mempelajari apa yang telah dipelajari oleh teman sebaya mereka.
Perkembangan motorik dikenal dengan dua perkembangan, yaitu
perkembangan motorik gerak kasar dan perkembangan motorik gerak halus.
1. Perkembangan Motorik Kasar dan Motorik Halus
a. Motorik Gerakan Kasar
Gerak motorik kasar adalah gerak yang melibatkan sebagian besar
tubuh anak dan membutuhkan kerja otot-otot besar sehingga
memerlukan tenaga yang lebih besar.2 Perkembangan jasmani berupa
koordinasi gerakan tubuh seperti berlari, berjinjit, melompat,
bergantung, melempar, dan menangkap, serta menjaga keseimbangan.
Kegiatan ini diperlukan dalam meningkatkan keterampilan koordinasi
gerakan motorik kasar. Pada anak usia 4tahun, anak sangat
menyenangi kegiatan fisik yang mengandung bahaya, seperti
melompat dari tempat tinggi. Pada usia 5 atau 6 tahun keinginan untuk
melakukan kegiatan berbahaya bertambah, anak pada masa ini
menyukai kegiatan lomba seperti balapan sepeda, atau kegiatan lain
yang mengandung bahaya.
b. Perkembangan Gerakan Motorik Halus
Gerak motorik halus adalah gerak yang hanya melibatkan bagian
tubuh tertentu, otot-otot kecil, dan tidak membutuhkan tenaga yang
2 Yani Mulyani dan Juliska Gracinia, Kemampuan Fisik, Seni,dan Manajemen
Diri (Jakarta: Elex Media Komputindo: 2007). 2.

terlalu besar, namun membutuhkan koordinasi yang cermat antara


panca indra dengan anggota tubuh yang terlibat. 3 Perkembangan
motorik halus pada masa usia 6-7 tahun koordinasi gerakan
berkembang secara pesat, pada masa ini anak sudah mampu
mengkoordinasikan

gerakan

visual

motorik,

seperti

mengkoordinasikan gerakan mata dengan tangan, lengan dan tubuh


secara bersamaan, antara lain dapat dilihat saat anak menulis dan
menggambar.
2. Perkembangan Motorik Usia SD
Perkembangan motorik pada usia seklah dasar menjadi lebih halus
dan lebih terkoordinasi dibandingkan dengan masa bayi. Anak-anak
terlihat lebih cepat dalam berlari dan pandai meloncat serta mampu
menjaga keseimbangan badannya. Untuk memperhalus keterampilanketerampilan motorik, anak-anak terus melakukan aktivitas fisik yang
terkadang bersifat informal dalam bentuk permainan. Disamping itu anakanak juga melibatkan diri dalam aktivitas permainan olahraga yang
bersifat formal seperti senam, berenang, dan lain-lain.
Berikut beberapa perkembangan motorik (kasar maupun halus)
selama periode ini, antara lain:
Kemampuan Motorik
Anak usia 7th
Mulai membaca dengan lancer
Cemas terhadap kegagalan
Peningkatan minat pada bidang
Bermain sepeda
sepiritual
Mengetahui kanan dan kiri
Kadang malu atau sedih
Mungkin bertindak menentang
Menguraikanobjek-objek dengan
gambar
Anak usia 6th
Ketangkasan Meningkat
Melompat tali

Kemampuan Motorik
Anak usia 8-9th
Anak usia 10-12th
Kecepatan dan kehalusan aktivitas Perubahan sikap berkaitan dengan
3 Yani Mulyani dan Juliska Gracinia, Kemampuan ....2.

motorik meningkat
Mampu menggunakan peralatan
rumah tangga
Keterampilan Lebih individual
Ingin terlibat dalam sesuatu
Menyukai kelompok dan mode
Mencari teman secara aktif

postur tubuh, puberitas mulai


nampak
Mampu melakukan aktivitas rumah
tangga, seperti mencuci,
menjemur,dll.
Keinginan untuk menyenangkan
orang tua
Mula tertarik dengan lawan jenis

D. Implikasi Genetik dan Lingkungan terhadap Pendidikan


Dalam sekolah gen-nen dapat dilihat sebagian dari dunia nyata individuindividu dan remaja. kekuatan dan kelemahan dari pengaruh genetik ini
merpakan hal penting untuk dipahami. Seorang guru misalnya, perlu
memahami sifat-sifat dan perbedaan-perbedaan individual. Di samping itu,
pemahaman

tentang

dampak

faktor-faktor

lingkungan

terhadap

perkembangan individu akan memberi pendidik suatu pertimbangan yang


optimistis tentang potensi-potensi yang penting ditumbuhkembangkan dalam
diri semua peserta didik. hal penting yang perlu dilakukan guru dalam
menyikapi pengaruh genetik dalam lingkungan bagi perkembangan individu,
yaitu:
1.

Memahami dan menghargai perbedaan-perbedaan individual individu.


Guru yang menghargai berbagai karakteristik fisik, tipe-tipe kepribadian,
dan bakat-bakat mereka dapat membuat peserta didik menjadi senang.
Individu-individu yang tinggi dan pendek, gemuk damn kurus, yang
serasi dan kikuk, yang sedih dan ceria, yang kalem dan pemarah
semuanya harus mendapat tempat yang benar dalam hati guru.

2.

Menyadari bahwa sebenarnya faktor lingkungan mempengaruhi segala


aspek perkembangan.
Gen-gen mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pertumbuhan
fisiologis dan pengaruh yang sedang terhadap karakteristik fisikologis
yang kompleks. Meskipun demikian, perkembangan dan belajar harus
dipandang sebagai suatu hasil pertumbuhan biasa dari aspek biologis

yang sangat berpengaruh terhadap individu. Faktor-faktor lingkungan


dapat mempengaruhi perkembangan individu melalui banyak cara
seperti melalui layanan pengajaran dan bimbingan. Individu-individu
yang secara genetik memiliki kecenderungan untuk menjadi seorang
yang mudah marah atau agresif dan dapat dilatih dan dibimbing
seseorang yang lebih adaktif dan memperlihatkan tingkah laku prososial.
3.

Mendorong

siswa

menentukan

pilihan-pilihan

sendiri

untuk

meningkatkan pertumbuhan.
Misalnya, untuk tumbuh menjadi lebih dewasa individu-individu dan
remaja harus aktif mencari lingkungan-lingkungan dan pengalamanpengalaman yang sesuai dengan kemampuan naturalnya, dan guru
mengambil posisi kunci untuk menolong mereka menemukan aktivitas
dan sumber-sumber yang memungkinkan mereka menggunakan dan
mengembangkan bakat-bakat mereka.
E. Implikasi Perkembangan Otak terhadap Pendidikan
Otak adalah sebuah sistem biologis manusia yang sengaja diciptakan
Allah SWT. untuk mengindera dunia dan sekaligus memberikan berbagai
tanggapan terhadapnya. Otak berfungsi untuk mengoptimalkan perilaku
sehingga tubuh mampu menghadapi tantangan dan kesempatan yang datang
setiap saat. Aktivitas sel saraf yang terorganisasi akan dirasakan sebagai
aktivitas mental yang teratur. Oleh karena itu, otak menjadi penentu utama
keberhasilan proses pendidikan karena otak sentral dari semua aktivitas
manusia baik aktivitas organ yang ada di dalam, maupun aktivitas pancaindra
yang ada di luar.
Perkembangan otak pada usia sekolah dan remaja banyak terjadi di
wilayah korteks, suatu wilayah otak di mana individu dapat mengontrol
tingkah lakunya sendiri. Selama masa usia sekolah, korteks mengalami
perkembangan puncak dan terus diperbaiki dalam masa remaja.
Dalam hal ini, pendidikan harus memberikan lebih banyak kesempatan
kepada peserta didik untuk menguasai keterampilan-keteramppilan yang

memungkinkan otaknya berkembang. Proses pembelajaran harus jauh dari


upaya menjejalkan pengetahuan ke dalam otak anak. Penjejalan pengetahuan
secara berlebihan justru akan mengganggu pemahaman dan melelahkan otak
anak. Menjejali otak anak dengan sejumlah besar informasi dan pengetahuan
malah akan mematikan kecerdasan oleh karena itu, pendidikan seharusnya
merupakan upaya pengembangan segala potensi anak, melatih pengamatan,
dan pemngambilan keputusan, merangsang pemikiran dan imajinasi,
memperdalam pemahaman dan memperkuat konsentrrasi.

a) Daftar pustaka
Dobson. James, Menjelang masa remaja. Jakarta. Fransiska Lestari: 2006