Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH KIMIA KATALIS

Oleh:
Windi Riyadi
1113096000037
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
PROGRAM STUDI KIMIA
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Pengertian Katalis
Katalis adalah senyawa yang ketika ditambahkan ke reaksi kimia, mengurangi energi aktivasi dan
meningkatkan laju reaksi. Jumlah katalis tidak berubah selama reaksi, karena tidak dikonsumsi sebagai
bagian dari proses reaksi. Katalis menurunkan energi yang dibutuhkan untuk mencapai keadaan transisi
pada reaksi, memungkinkan interaksi yang lebih pada molekul untuk mencapai keadaan tersebut.
Namun, katalis tidak mempengaruhi proses reaksi yang berlangsung. Dengan kata lain, meskipun
katalis mempengaruhi kinetika reaksi, keadaan ekuilibrium tetap, tidak terpengaruh. Katalisator adalah
Sebuah zat yang meningkatkan laju reaksi kimia tanpa dikonsumsi dalam proses reaksi.
Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa
mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri. Suatu katalis berperan dalam reaksi tapi
bukan sebagai pereaksi ataupun produk. Katalis memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat atau
memungkinkan reaksi pada suhu lebih rendah akibat perubahan yang dipicunya terhadap pereaksi.
Katalis menyediakan suatu jalur pilihan dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Katalis mengurangi
energi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi.
I.2. Sejarah Katalis
Istilah katalisator berawal dari penelitian Berzelius (1836) tentang proses proses pemercepatan laju
reaksi dan menjabarkannya sebagai akibat adanya gaya katalisis. Sebutan gaya katalisis ternyata tidak
terbukti, tetapi istilah katalisator tetap digunakan untuk menyebuitkan pengaruh substansi tertentu yang
ikut dalam proses tanpa mengalami perubahan. Senyawa yang menurunkan laju reaksi biasa disebut
sebagai katalisator negatif atau inhibitor, yang saat ini lebih dikenal dengan istilah katalis.
Definisi katalis pertama kali dikemukakan oleh Ostwalsd sebagai suatu substansi yang mengubah
laju suatu reaksi kimia tanpa merubah besarnya energi yang menyertai reaksi tersebut. Pada tahun 1902
Ostwald mendefinisikkan katalis sebagai substansi yang mengubah laju reaksi tanpa terdapat sebagai
produk pada akhir reaksi, dengan kata lain katalisator mempengaruhi laju reaksi dan berperan sebagai
reaktan sekaligus produk reaksi. Selanjutnya pada tahun 1941, Bell menjelaskan substansi yang dapat
disebut sebagai katalis suatu reaksi adalah ketika sejumlah tertentu substansi ditambahkan maka akan
mengakibatkan laju reaksi bertambah dari laju pada keadaan stoikiometri biasa. Jika substansi tersebut
ditambahkan pada reaksi maka tidak mengganggu kesetimbangan.
Beberapa katalis ternama yang pernah dikembangkan di antaranya:

Katalis Asam-Basa
Katalis asam-basa sangat berperan dalam perkembangan kinetika kimia. Awal penelitian kinetika
reaksi yang dikatalisis dengan suatu asam atau basa bersamaan dengan perkembangan teori dissosiasi
elektrolit, dimana Ostwald dan Arrhenius membuktikan bahwa kemampuan suatu asam untuk
mengkatalisis reaksi tersebut adalah tidak bergantung pada sifat asal anion tetapi lebih mendekati
dengan sifat konduktivitas listriknya. Penelitian lain yang menggunakan katalis asam basa antara lain
Kirrchoff yang meneliti hidrolisis pati oleh pengaruh asam encer, Thenard yang meneliti dekomposisin
hidrogen peroksida oleh pengaruh basa dan Wilhelmy yang meneliti tentang inversi tebu yang
dikatalisis dengan asam.
Katalis Ziegler-Natta
Katalis Ziegler-Natta ditemukaan poleh Ziegler pada tahun 1953 yang digunakan untuk
polimerisasi etana, yang selanjutnya pada tahun 1955 Natta menggunakan katalis tersebut untuk

polimerisasi propena dan monomer jenuh lainnya. Katalis Ziegler-Natta dapat dibuat dengan
mencampurkan alkil atau aril dari unsur golongan 11-13 pada susunan berkala, dengan halida sebagai
unsur transisi. Saat ini katalis Ziegler-Natta digunakan untuk produksi masal polietilen dan
polipropilen.
Katalis Friedle-Crafts
Pada tahun 1877 Charles Friedel dan James M.Crafts mreakukan penelitian tentang pembuatan
senyawa amil iodida dengan mereaksikan amil klorida dengan aluminium dan yodium yang ternyata
menghasilkan hidrokarbon. Selanjutnya mereka menemukan bahwa pemakaian aluminium klorida
dapat menggantikan alumunium untuk menghasilkan hidrokarbon. Dengan demikian Friedel dan Crafts
merupakan orang pertama yang menunjukkan bahwa keberadaan logam klorida sangat penting sebagai
reaktan atau katalis. Hingga saat ini penerapan kimia Friedel-Crafts sangat luas terutama di industri
kimia.
Katalis dalam Reaksi Metatesis
Pada tahun 1970 Yves Chauvin dari Institut Francais du Petrole dan Jean-Louis Herrison
menemukan katalis logam karbena (logam yang dapat berikatan ganda dengan atom karbon membentuk
senyawa), atau dikenal juga dengan istilah metal alkilidena. Melalui senyawa logam karbena ini,
Chauvin berhasil menjelaskan bagaimana susunan logam berfungsi sebagai katalis dalam suatu reaksi
dan bagaimana mekanisme reaksi metatesis. Metatesis dapat diartikan sebagai pertukaran posisi atom
dari dua zat yang berbeda. Contohnya pada reaksi AB + CD -> AC + BD, B bertukar posisi dengan C.
Katalis Grubbs
Perkembangan penemuan Chauvin dan Schrock terjadi tahun 1992 ketika Robert Grubbs dan
rekannya Grubbs berhasil menemukan katalis metatesis yang efektif, mudah disintesis, dan dapat
diaplikasikan di laboratorium secara baik. Mereka menemukan tentang logam rutenium tantalum,
tungsten, dan molybdenum (komplek alkilidena) sebagai logam yang paling cocok sebagai katalis.
Katalis menjadi standar pembanding untuk katalis yang lain. Penemuan katalis Grubbs secara tidak
langsung menambah peluang kemungkinan sintesis organik di masa depan.
Sistem Katalis Tiga Komponen
Sebuah sistem katalis dengan tiga komponen berhasil digunakan untuk membuat polimer
bercabang dengan struktur-struktur yang tidak bisa didapat dengan sebuah katalis tunggal atau sepasang
katalis yang bekerja bergandengan. Pada tahun 2002 Guillermo C. Bazan, seorang profesor kimia dan
material di University of California, Santa Barbara; mahasiswa pascasarjana Zachary J. A. Komon; dan
rekan kerja di Santa Barbara dan Symyx Technologies sudah mendemonstrasikan sebuah sistem dengan
tiga katalis yang homogen; ketiga campuran bekerja sama mengubah sebuah monomer tunggal - etilen
- menjadi polietilen bercabang. Jumlah dan jenis cabang yang dihasilkan dapat dikontrol dengan
menyesuaikan komposisi campuran katalisnya. Tiga katalis ini terdiri dari dua persenyawaan
organonikel dan sebuah persenyawaan organotitanium. Satu dari katalis dengan unsur dasar nikel
mengubah etilen menjadi 1-butena, sedangkan yang lainnya mengubah olefin menjadi penyebaran dari
1-alkena. Persenyawaan titanium menggabungkan etilen dari hasil reaksi-reaksi lainnya menjadi
polietilen.

I.3. Jenis Katalis


# Penggolongan katalis berdasarkan fasenya di dalam sistem reaksi:
(1) Katalis homogen
Yakni jika fase katalis sama dengan fase reaktan dan fase produk reaksi (atau: fase katalis = fase
reaksi). Yang paling umum berupa fase cair, dengan katalis dan reaktan berada dalam larutan. Katalis
homogen merupakan katalis yang mempunyai fasa sama dengan reaktan dan produk. Penggunaan
katalis homogen ini mempunyai kelemahan yaitu: mencemari lingkungan, dan tidak dapat digunakan
kembali. Contoh Katalis Homogen : Katalis dan pereaksi berwujud gas, dan katalis dan pereaksi

berwujud cair. Sebagian besar reaksi katalis homogen adalah asam basa, seperti halnya reaksi hidrolisis
dari ester atau mutarotasi glukosa.:
Keunggulan: aktivitas dan selektivitasnya tinggi, tidak mudah teracuni oleh keberadaan pengotor,
mudah dioperasikan, mudah dimodifikasi, mudah untuk dipelajari. Kekurangan: sulit dipisahkan dari
campuran reaksi, kurang stabil pada suhu tinggi. Karena alasan-alasan tersebut, katalisis homogen
terbatas penggunaannya di industri, biasanya dalam pembuatan zat kimia khusus, obat-obatan, dan
makanan; kecuali pada produksi asam asetat, proses alkilasi olefin, dan hidroformilasi.
Katalis homogen adalah suatu jenis dari katalisis di mana katalis menempati fase yang sama dengan
reaktan. Katalis homogen adalah senyawa yang ada dalam fase yang sama (gas atau cair) sebagai
reaktan. Campuran homogen adalah Sebuah zat yang seragam dalam komposisi. Katalisis asam, katalis
organologam, dan katalisis enzimatik adalah contoh katalis homogen. Paling sering, katalis homogen
melibatkan pengenalan katalis fase cair ke dalam larutan reaktan. Dalam kasus tersebut, asam dan basa
sering katalis sangat efektif, karena mereka dapat mempercepat reaksi dengan mempengaruhi polarisasi
ikatan. Katalis homogen digunakan dalam berbagai aplikasi industri, karena memungkinkan untuk
peningkatan laju reaksi tanpa peningkatan suhu. Katalis homogen umumnya bereaksi dengan satu atau
lebih pereaksi untuk membentuk suatu perantara kimia yang selanjutnya bereaksi membentuk produk
akhir reaksi, dalam suatu proses yang memulihkan katalisnya. Berikut ini merupakan skema umum
reaksi katalitik, di mana C melambangkan katalisnya:
A + C AC (1)
B + AC AB + C (2)
Meskipun katalis (C) termakan oleh reaksi 1, namun selanjutnya dihasilkan kembali oleh reaksi 2,
sehingga untuk reaksi keseluruhannya menjadi,
A + B + C AB + C
Contoh katalis homogen:
Reaksi berkatalis homogen, fase gas
CO (g) + O2 (g) CO2 (g) katalis: NO (g)
CH3CHO (g) CH4 (g) + CO (g) katalis: uap I2
Reaksi berkatalis homogen, fase cair
C12H22O11 + H2O C6H12O6 + C6H12O6 katalis: asam
CH3COOC2H5 + H2O CH3COOH + C2H5OH katalis: asam
Katalis gas NO2 pada pembuatan gas SO3.
Katalis gas Cl2 pada penguraian N2O
Proses katalitik pada reaksi berkatalis homogen berlangsung melalui pembentukan senyawa kompleks
dan penyusunan ulang antara molekul-molekul reaktan dengan ligan katalis.
(2) Katalis heterogen
Yakni jika fase katalis tidak sama dengan fase reaktan dan/atau fase produk reaksi (atau: fase
katalis fase reaksi). Pada umumnya: fase katalis padatan,
fase reaksi gas
Sifat-sifat katalis heterogen: Mudah dipisahkan dari campuran reaksi, Tahan dan stabil terhadap suhu
relatif tinggi, Mudah disiapkan dalam bentuk pellet katalis padat, Konstruksinya sederhana
Hingga tahun 1980-an: sekitar 90% katalis yang digunakan di dalam proses industri kimia berupa
katalis heterogen. Katalis heterogen biasanya membutuhkan pendukung (support), karena pendukung
katalis memiliki kekuatan mekanik, tahan panas, mempunyai kerapatan ruah yang optimal, dan

kemampuan pelarutan fase aktif. Dalam mempelajari katalis asam basa akan diketahui katalisator asam
spesifik, katalisator basa spesifik, katalisator asam umum dan katalisator basa umum.
Satu contoh sederhana untuk katalisis heterogen yaitu bahwa katalis menyediakan suatu permukaan
di mana pereaksi-pereaksi (atau substrat) untuk sementara terjerap. Ikatan dalam substrat-substrat
menjadi lemah sedemikian sehingga memadai terbentuknya produk baru. Ikatan atara produk dan
katalis lebih lemah, sehingga akhirnya terlepas.
Contoh:
Katalis padat Fe untuk Proses Haber pada pembuatan amonia:
N2 (g) + 3 H2 (g) 2 NH3 (g)
Katalis padat Fe2O3-BiO2 untuk oksidasi amonia pada pembuatan asam nitrat:
4 NH3 (g) + 5 O2 (g) 4 NO (g) + 6 H2O (g)
Katalis padat Ni pada hidrogenasi hidrokarbon:
R1CH=CHR2 (l) + H2 (g) R1CH2CH2R2 (l)
(minyak tak jenuh) (lemak jenuh)
Katalis arang (C) pada pembuatan asam khlorida:
H2 (g) + Cl2 (g) 2 HCl (g)
Katalis logam Ni pada reaksi hidrogenasi etena ( C2H4 ).
Katalis logam Rodium atau Iridium pada proses pembuatan asam etanoat.
Katalis logam Ni pada proses pembuatan mentega.
Katalis logam V2O5 pada reaksi pembuatan asam sulfat ( proses Kontak )

# Penggolongan katalis berdasarkan keberadaannya di alam:


(1) Katalis biokimia
Disebut juga enzim. Merupakan senyawa protein berukuran koloid. Dijumpai dalam sistem
biokimia dan makhluk hidup. Contoh: enzim-enzim dalam sistem pencernaan tubuh manusia enzimenzim dalam tumbuhan. Bekerja pada suhu ambient. Setiap enzim mempunyai suhu optimum (suhu
operasi ketika aktivitasnya mencapai maksimum). Peningkatan suhu di atas suhu optimumnya akan
mengakibatkan kerusakan enzim (denaturasi protein). Contoh: Enzim amilase
= membantu
menghidrolisis amilum menjadi maltose; Enzim katalase = menguraikan H2O2 menjadi O2 dan H2O;
Enzim lipase = menguraikan lipid menjadi gliserol dan asam lemak.
(2) Katalis yang dibuat oleh manusia (man-made catalyst)
Bekerja pada suhu relatif tinggi. Sebagian besar berupa katalis padat. Contoh: Katalis V2O5 untuk
reaksi oksidasi SO2 :
SO2 (g) + O2 (g) SO3 (g)
Katalis Fe-base untuk reaksi sintesis amonia:
N2 (g) + 3 H2 (g) 2 NH3 (g)
Katalis oksida Cu-Zn untuk reaksi sintesis metanol: nmCO (g) + 2 H2 (g) CH3OH (g)

I.5. Karakteristik Katalis

Katalis tidak mengalami perubahan yang permanen dalam reaksi, tapi terlibat dalam mekanisme
reaksi.
Katalis mempercepat laju reaksi tetapi tidak mengubah jenis maupun jumlah hasil reaksi.
Katalis dapat menurunkan energi aktivasi, tetapi tidak mengubah entalpi reaksi.
Katalis mengubah mekanisme reaksi dengan menyediakan tahap-tahap yang mempunyai energi
pengaktifan lebih rendah.
Katalis mempunyai aksi spesifik, artinya hanya dapat mengkatalisis reaksi tertentu.
Katalis hanya diperlukan dalam jumlah sedikit.
Katalis dapat teracuni.

Kerusakan aktivitas katalis ditunjukkan dengan adanya peningkatan aktivitas berlebih atau
penghambatan aktivitas. Kerusakan aktivitas katalis dapat disebabkan karena adanya
kerusakan fisik atau kerusakan kimia katalis. Kerusakan fisik katalis misalnya dapat
disebabkan oleh pengkristalan material pendukung katalis atau kerusakan fisik pas katalisnya
sendiri. Pengikatan logam berat seperti merkuri, arsen, timah hitam dll. merupakan contoh
kerusakan kimia katalis dan biasanya bersifat permanen.
Jika sifat kerusakannya tidak permanen, maka katalis tersebut biasanya masih dapat
diregenerasi. Jika kerusakan aktivitas katalis disebabkan oleh kerusakan pada pendukung yang
tahan panas, seperti alumina, yang disebabkan oleh penjerapan karbon atau tar, maka
pembakaran alumina pada suhu dibawah 500oC dapat menghilangkan karbon dan tar tersebut.
Selanjutnya, melalui serangkaian pengolahan reduksi, aktivitas katalis akan dapat dimunculkan
kembali.
I.6. Faktor dalam pemilihan katalis
Secara umum pemilihan katalis adalah berdasarkan pada 5 faktor utama sebagai berikut :
Initial activity (temperature)
Selectivity (produk yang diinginkan)
Stability (deactivation rate)
Product quality (desired specification)
Regenerability (kemudahan untuk diregenerasi)
I.7. Fungsi Katalis

Fungsi katalis adalah memperbesar kecepatan reaksinya (mempercepat reaksi) dengan jalan
memperkecil energi pengaktifan suatu reaksi dan dibentuknya tahap-tahap reaksi yang baru.
Dengan menurunnya energi pengaktifan maka pada suhu yang sama reaksi dapat berlangsung lebih
cepat.
Fungsi utama dari katalis ini adalah menyediakan reaksi alternative dalam suatu reaksi kimia.
Dengan peranan yang sangat penting ini, maka katalis sangat di perlukan oleh tubuh dalam proses
pencernaan makanan di dalam tubuh. Fungsi penting katalis ( enzim ) ini memberikan dampak
besar terhadap kelancaran pencernaan makanan di dalam tubuh. Misalnya saja adalah enzim
amylase di dalam mulut (air liur) yang membantu memecah amilosa menjadi maltosa. Selain
peranan katalis di dalam tubuh, katalis juga berperan dalam proses kimia lainnya.
Katalis mempunyai tiga fungsi katalitik, yakni:
1. Aktivitas (berkaitan dengan kemampuannya mempercepat reaksi),
2. Selektivitas atau spesifisitas (berkaitan dengan kemampuannya mengarahkan suatu reaksi)
3. Stabilitas atau lifetime
(berkaitan dengan kemampuannya menahan hal-hal yang dapat
mengarahkan terjadinya deaktivasi katalis).

I.8. Pengaruh Katalis berdasarkan Teori Tumbukan


Umumnya reaksi bekerja berjalan lambat bila energi aktivasi suatu reksi terlalu tinggi. Agar reaksi
dapat berlangsung lebih cepat, maka dapat dilakukan dengan cara menurunkan energi aktivasi. Untuk
menurunkan energi aktivasi dapat dilakukan dengan mencari senyawa antara (keadaan transisi) lain
yang energjnya lebih redah. Fungsi katalis dalam hal ini mengubah jalannya reaksi sehingga diperoleh
senyawa antara (keadaan transisi) yang energinya relative lebih rendah. Yang bekerja dengan cara ini
contohnya katalis homogen.
Misalnya reaksi : A + B C, berlangsung melalui dua tahapan ;
Tahap I : A + B AB* (AB* merupakan senyawa antara)

Tahap II : AB* C
Apabila ke dalam reaksi tersebut ditambahkan katalis (Z) maka, tahapan reaksi berlangsung sebagai
berikut:
Tahap I : A + Z AZ* (AZ* senyawa antara yang erbentuk oleh katalis)
Tahap II : AZ* + B C + Z
Pada kedua tahap tersebut terlihat bahwa pada akhir reaksi Z diperoleh kembali dan mengkatalis
molekul-molekul A dan B yang lain. Penggambaran energi menunjukkan bahwa dengan adanya jalan
reaksi yang berbeda akan memerlukan energi pengaktifan yang rendah. Contoh katalis homogen
adalah larutan Fe3+ untuk mengkatalisis pengeuraian H2O2 menjadi H2O dan gas oksigen.
Katalis dapat mempengaruhi terjadinya reaksi, tetapi pada akhir reaksi dapat diperoleh kembali.
Fungsi katalis adalah menurunkan energi aktivasi, sehingga jika ke dalam suatu reaksi ditambahkan
katalis, maka reaksi akan lebih mudah terjadi. Hal ini disebabkan karena zat- zat yang bereaksi akan
lebih mudah melampaui energi aktivasi. Katalis adalah zat yang mempercepat laju reaksi, tetapi tidak
mengalami perubahan kimia secara permanen, sehingga pada akhir reaksi zat tersebut dapat diperoleh
kembali. Katalis mempercepat reaksi dengan cara menurunkan harga energi aktivasi (Ea). Sedangkan
zat yang dapat memperlambat laju reaksi disebut inhibitor. Meskipun katalis menurunkan energi
aktivasi reaksi, tetapi ia tidak mempengaruhi perbedaan energi antara produk dan pereaksi. Dengan
kata lain, penggunaan katalis tidak akan mengubah entalpi reaksi.
Pengaruh katalis dalam mempengaruhi laju reaksi terkait dengan energi pengaktifan reaksi (Ea).
Katalis yang digunakan untuk mempercepat reaksi memberikan suatu mekanisme reaksi alternatif
dengan nilai Ea yang lebih rendah dibandingkan dengan nilai Ea reaksi tanpa katalis. Semakin rendah
nilai Ea maka lebih banyak partikel yang memiliki energi kinetik yang cukup untuk mengatasi halangan
Ea yang rendah ini.

Gambar 4. grafik pengaruh katalis terhadap energi pengaktifan (Ea) Dengan memperhatikan
gambar.4 diatas dapat dilihat bahwa tanpa katalis, energi pengaktifan (Ea) suatu reaksi lebih banyak,
sedangkan dengan menggunakan katalis, Ea menjadi lebih sedikit, sehingga laju reaksi menjadi lebih
cepat. Ini berarti bahwa katalis dapat meningkatkan energi pengaktifan suatu reaksi, sehingga laju
reaksi menjadi semakin besar.

I.9. Pengaruh Katalis Berdasarkan Teori Adsorbsi


Katalis dapat bekerja dengan membentuk senyawa antara atau mengabsorpsi zat yang
direaksikan.
Sehingga katalis dapat meningkatkan laju reaksi, sementara katalis
itu sendiri tidak mengalami perubahan kimia secara permanen. Cara kerjanya yaitu dengan

menempel pada bagian substrat tertentu dan pada akhirnya dapat menurunkan energi pengaktifan dari
reaksi, sehingga reaksi berlangsung dengan cepat.
Proses katalis dengan cara adsorpsi umumnya dilakukan oleh katalis heterogen. Pada proses
adsorpsi, melekul-molekul pereaksi akan teradsorpsi pada permukaan katalis, dengan terserapnya
pereaksi dipermukaan katalis mengakibatkan zat-zat pereaksi terkonsentrasi di permukaan katalis dan
ini akan mempercepat reaksi. Kemungkinan yang lain, karena pereaksi-pereaksi teradsorpsi
dipermukaan katalis akan dapat menimbulkan gaya tarik antarmolekul yang bereaksi, dan ini
menyebabkan molekul-molekul tersebut akan reaktif. Contoh katalis adsorpsi adalah nikel pada
pembuatan margarine, untuk mengkatalis reaksi antara gas hydrogen dengan lemak atau minyak
menjadi margarine. Pada industri H2SO4 digunakan katalis V2O5 untuk mempercepat reaksi gas SO2
dan O2 menjadi SO3.

I.10. Aplikasi Katalis dalam Industri


Katalis terutama banyak dipergunakan untuk membantu dalam proses industri seperti dalam
pengilangan minyak bumi dan proses produksi bahan kimia umum atau kimia khusus. Selain dikedua
jenis industri tersebut, katalis juga dipergunakan dalam proses produksi produk makanan, pembangkit
listrik tenaga nuklir, kendaraan, dan untuk kegiatan pengendalian pencemaran.
Dalam proses di kilang minyak bumi, katalis yang banyak dipergunakan adalah katalis reforming,
isomerasi dan hydrocracking. Fungsi katalis-katalis tersebut pada dasarnya untuk membantu memecah
rantai senyawa karbon. Dengan bantuan katalis tersebut minyak mentah (crude oil) dapat diproses
sehingga dapat diperoleh variasi turunannya seperti premium, kerosin, avtur, dan produk lainnya
tergantung tingkat pemutusan rantai karbonnya.
Untuk industri kimia, kebanyakan katalis yang digunakan adalah katalis yang membantu
pembentukan (syntetic catalysts) seperti katalis hidrogenasi, katalis oksidasi, dll. Beberapa katalis yang
sering dipakai dalam produksi bahan kimia antara lain: Vynil acetate monomer (VAM), purified
terepthalic Acid (PTA) dan proses hidrogenisasi.
Untuk bidang lingkungan, katalis tertentu dapat digunakan untuk mendestruksi senyawa yang
menghasilkan bau sehingga berfungsi sebagai deodorant. Ada juga katalis yang bisa memecah rantai
senyawa organic volatile (VOC) sehingga dapat digunakan untuk destruksi senyawa berbahaya
tersebut.
I.11. Zeolit dan Katalis Logam
Zeolit dapat ditingkatkan kinerjanya dengan cara menempelkan logam katalis pada zeolit. Logam
yang diembankan pada zeolit akan dapat meningkatkan aktivitas katalis secara keseluruhan karena logamzeolit akan memiliki fungsi ganda yaitu disamping logam sebagai katalis zeolitnya sendiri bersifat katalis,
katalis semacam ini biasanya disebut sebagai katalis bifungsional. Logam yang biasa digunakan untuk
katalis biasanya logam-logam transisi.
Logam-logam transisi mempunyai daya adsorpsi yang kuat karena mempunyai pasangan elektron
menyendiri pada orbital d. adanya elektron pada orbital d didukung dengan keadaan elektron orbital s akan
menjadi konsentrasi yang lebih besar pada keaktifan yang tinggi dalam pemutusan dan pembentukan ikatan
kimia. Hal ini yang menyebabkan logam-logam transisi makin reaktif sebagai katalis (Hegedus, at al, 1999).
Logam transisi Ni dan Mo tersulfidasi memilki prospek untuk digunakan sebagai katalis
hidrodesulfurisasi, hidrodenitrogenasi dan perngkahan. Ni sebagai promotor dan Mo sulfida sebagai
kokatalis yang diemban pada -Alumina dapat mengaktalis proses hidrogenasi minyak bumi dan minyak
batubara di industri (Li 1999a).

II.12. Komponen komponen katalis


Katalis dibentuk dari komponen-komponen yang dapat menunjang sifat katalis yang diharapkan,
seperti aktif, selektif, panjang usia (stabil terhadap gangguan fisika, kimia, termal, dan mekanik), dan
murah.
Khusus untuk katalis heterogen, pada kondisi tertentu dibutuhkan sifat-sifat lain seperti: konduktivitas
termal yang tinggi serta kemampuan menghasilkan distribusi aliran yang merata dan pressure drop yang
rendah di sepanjang unggun (bed).
Untuk memenuhi sifat-sifat tersebut di atas, pada umumnya katalis padat dibentuk dari tiga komponen
utama sebagai berikut :
1. Komponen (atau fasa) aktif
Fungsi: aktivitas kimia, mengemban fungsi utama katalis untuk mempercepat dan mengarahkan
reaksi.
Pengelompokan fasa aktif katalis disajikan dalam tabel berikut:
Kelompok Fasa Aktif

Konduktor Logam

Tipe Reaksi
Kelompok Reaksi yang
Sesuai

Reduktor
Hidrogenasi,
dehidrogenasi,
hidrogenolisis, oksidasi,
reduksi

Contoh

Fe, Co, Ni, Rh, Pt, Pd,


Ru, Cu, Ag, Os

Faktor yang Berpengaruh

Geometri

Semikonduktor oksida
atau sulfide logam
Reduktor
Oksidasi, reduksi
dehidrogenasi, siklisasi,
hidrogenasi

CuO, AgO, NiO, Fe3O4,


Cr2O3, MoO3, WO3,
CoO3, V2O5, TiO2, ZnO,
CdO
Elektronik

Insulator garam dan


padatan berpusat asam
Asam dan Basa
Polimerisasi,
isomerisasi, perengkahan
(cracking), dehidrasi,
alkilasi, perpindahan
hidrogen, halogenisasi,
dehalogenisasi
Lempung alam, SiO2,
Al2O3, SiO2-Al2O3,
zeolit
Keasaman katalis

2. Penyangga (support atau carrier)


Fungsi: luas permukaan yang tinggi, porositas, sifat-sifat mekanik, kestabilan, aktivitas
fungsional ganda, modifikasi komponen aktif. Jenis: oksida dengan melting point tinggi, tanah liat,
karbon.
3. Promotor
Fungsi pada komponen aktif: elektronik, morfologi, poisoning. Fungsi pada penyangga:
struktural, inhibisi aktivitas, promosi aktivitas.
II.13. Pembuatan Katalis Secara Umum
Metode yang digunakan untuk pembuatan katalis secara umum adalah impregnasi dan presipitasi.
I.

Metode impregnasi
Impregnasi merupakan metode pembuatan katalis yang paling sederhana. Impregnasi dilakukan
dengan mengkontakkan support yang poros dengan larutan yang terdiri dari satu atau lebih garam,
logam yang memiliki konsentrasi tertentu (Satterfield, 1991). Support pada proses ini bertujuan untuk
meningkatkan stabilitas katalis yang dihasilkan. Tahapan proses metode impregansi dapat dilihat pada
diagram alir berikut ini.

I.a. Tahapan Proses Metide Impregnasi


Proses impregnasi diawali dengan memilih support yang akan digunakan. Beberapa
pertimbangan yang dijadikan dasar pada pemilihan support yang akan digunakan adalah sebagai
berikut:
1. Bersifat inert dan tidak menghasilkan reaksi lain
2. Memiliki sifat-sifat mekanik, termasuk ketahanan secara fisik
3. Stabil
4. Memiliki luas permukaan yang besar
5. Poros
6. Harganya murah (Satterfield,1991)
Selanjutnya support dikeringkan terlebih dahulu untuk menghilangkan kelembaban dan
impuritis yang ada. Support ditetesi garam logam, diaduk dan dibiarkan selama 30 menit agar
distribusi garam logam dikeringkan untuk menghilangkan sisa-sisa air. Proses kalsinasi dilakukan
untuk mendekomposisi garam logam menjadi oksida. Selain itu kalsinasi juga bertujuan untuk
meningkatkan stabilitas katalis terhadap perubahan temperatur.
I.b. Keunggulan dan Kelemahan
Keunggulan metode impregnasi adalah jumlah reaktan yang digunakan lebih kecil daripada
jumlah reaktan yang digunakan pada metode presipitasi. Selain itu metode impregnasi tidak
memerlukan banyak peralatan karena tidak memerlukan penyaringan dan pencucian. Ukuran dan
bentuk katalis yang dihasilkan melalu metode impregnasi sama dengan ukuran dan bentuk support
yang digunakan. Selain keunggulan yang dimiliki, metode ini memiliki beberapa kelemahan. Salah
satunya adalah garam logam menjadi mudah runtuh karena tidak menyatu dengan support (Twigg,
1989). Selain itu pada metode impregnasi, penentuan konsentrasi garam logam yang akan
digunakan untuk membentuk lapisan monolayer sangat sulit dilakukan (Makertiharta, 2007).
II. Metode Presipitasi
Presipitasi merupakan metode yang paling umum digunakan pada proses pembuatan katalis.
Tujuan Presipitasi adalah untuk mengendapkan campuran garam logam dengan precipitating agent
yang dapat berupa ammonium hidroksia atau natrium karbonat. Bagian terpenting pada proses
Presipitasi adalah pemilihan campuran awal yang akan digunakan. Pertimbangan-pertimbangan yang
dijadikan sebagai dasar pada pemilihan campuran awal yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Tinggi rendahnya kelarutan

2.
3.
4.
5.

Murah
Tidak bersifat korosif
Tidak menyebabkan sintering
Tidak menimbulkan polusi air dan udara

II.a. Tahapan Proses Metode Presipitasi


Pada awal proses Presipitasi dilakukan pencampuran garam logam dan precipitating agent.
Endapan yang terbentuk dari proses Presipitasi selanjutnya disaring dan dicuci. Kemudian
dilakukan pemeriksaan pH. Apabila pH pencucian = 7, maka proses penyaringan dan pencucian
dihentikan. Setelah dikeringkan untuk menghilangkan sisa-sisa air, endapan dikalsinasi untuk
mendekomposisi senyawa hidroksida menjadi oksida dan meningkatkan ketahanan katalis
terhadap perubahan temperatur.
II.b. Faktor yang berpengaruh terhadap metode Presipitasi
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap metode Presipitasi adalah sebagai berikut:
1. Temperatur Presipitasi
2. pH
3. Pengadukan
4. Aging
II.c. Keunggulan dan Kelemahan
Keunggulan metode Presipitasi adalah distribusi fasa aktif yang seragam pada partikel katalis,
pencampuran yang seragam pada skala molekular dan bentuk, serta ukuran yang tidak terbatas
(tidak berdasarkan bentuk support) (Satterfield, 1991). Akan tetapi metode ini memiliki kelemahan
yang diantaranya adalah Presipitat yang dihasilkan biasanya berfasa amorf dan lebih mahal karena
menggunakan precipitating agent dalam jumlah yang lebih besar.

II.14. Industri yang menggunakan katalis

Industri asam sulfat menggunakan katalisator V2O5


Industri amonia menggunakan De
Metanol menggunakan ZnO
Industri Hidrocraking menggunakan Logam (seperti Pd) pada zeolit
C2H2 + 2H2 C2H6
Industri pembuatan gas SO3 menggunakan katalis gas NO2
Katalis padat Fe untuk Proses Haber pada pembuatan amonia:
N2 (g) + 3 H2 (g) 2 NH3 (g)
Katalis padat Fe2O3-BiO2 untuk oksidasi amonia pada pembuatan asam nitrat:
4 NH3 (g) + 5 O2 (g) 4 NO (g) + 6 H2O (g)
Katalis padat Ni pada hidrogenasi hidrokarbon:
R1CH=CHR2 (l) + H2 (g) R1CH2CH2R2 (l)
(minyak tak jenuh) (lemak jenuh)
Industri pembuatan asam khlorida dengan katalis arang (C):
H2 (g) + Cl2 (g) 2 HCl (g)
Katalis logam Ni pada reaksi hidrogenasi etena ( C2H4 ).
Industri pembuatan asam etanoat menggunakan katalis logam Rodium atau Iridium
Industri pembuatan mentega menggunakan katalis logam Ni
Industri pembuatan asam sulfat ( proses Kontak ) menggunakan katalis logam V2O5

BAB II
ISI

II.1

KATALIS HOMOGEN

Yakni jika fase katalis sama dengan fase reaktan dan fase produk reaksi (atau: fase katalis = fase
reaksi). Yang paling umum berupa fase cair, dengan katalis dan reaktan berada dalam larutan.
Sifat-sifat katalis homogen:
Keunggulan: aktivitas dan selektivitasnya tinggi, tidak mudah teracuni oleh keberadaan pengotor,
mudah dioperasikan, mudah dimodifikasi, mudah untuk dipelajari.
Kekurangan: sulit dipisahkan dari campuran reaksi, kurang stabil pada suhu tinggi. Karena alasanalasan tersebut, katalisis homogen terbatas penggunaannya di industri, biasanya dalam pembuatan zat kimia
khusus, obat-obatan, dan makanan; kecuali pada produksi asam asetat, proses alkilasi olefin, dan
hidroformilasi.
Contoh katalis homogen:
Reaksi berkatalis homogen, fase gas
CO (g) + O2 (g) CO2 (g) katalis: NO (g)
CH3CHO (g) CH4 (g) + CO (g) katalis: uap I2
Reaksi berkatalis homogen, fase cair
C12H22O11 + H2O C6H12O6 + C6H12O6 katalis: asam
CH3COOC2H5 + H2O CH3COOH + C2H5OH katalis: asam
Proses katalitik pada reaksi berkatalis homogen berlangsung melalui pembentukan senyawa kompleks
dan penyusunan ulang antara molekul-molekul reaktan dengan ligan katalis.
Katalis ini mempunyai kesamaan phase dengan reaktan dan persentuhannnya tak mempengaruhi laju
reaksi, keadaan yang demikian disebut katalis homogen. Sebagai contoh :
Reaksi phase gas
CO + O2 CO2
Dengan adanya katalis NO2 maka prosesnya menjadi
CO2 + NO

CO + NO2
NO + O2

NO2

----------------------------------------------CO2 + O2

CO2

Iodin uap juga dikenal sebagai katalis sejumlah reaksi pirolisis zat organik, dekomposisi asetaldehid
sebagai reaksi berantai dengan proses sebagai berikut :
I2 == 2 II- + CH3CHO CH3CO - + HI
CH3CO- CH3 + CO
I2 + CH3 CH3I + IHI + CH3 CH4 - + IHI + CH3I CH4 - + I2
Sehingga diperoleh laju reaksi dengan pendekatan steady state dari intermediet adalah
- d(CH3CHO)/dt = k [I2]1/2[CH3CHO]
Mekanisme ini dapat dibandingkan mekanisme reaksi tanpa katalis yang telah diterangkan pada bab
sebelum ini (dikti:79), katalis iodin diperoleh kembali diakhir reaksi.

1. Katalis Asam Basa


Sebagian besar reaksi katalis homogen adalah asam basa, seperti halnya reaksi hidrolisis dari ester
atau mutarotasi glukosa. Dengan menganggap S adalah suatu subtrat dengan suatu reaksi asam
basa. Sedang asam basa menurut Bronsted Lowry adalah :
HA + H2O H3O+ + A
A + H2O HA + OH
Maka laju reaksi katalitik adalah:

r = kkat [S]

di mana kkat = ko + kH [H3O] + kOH [OH] + kHA [HA] + kA [A] dan k0 adalah laju tanpa katalis
sedang yang lain adalah laju dengan katalis sesuai dengan zatnya masing masing
Katalis asam basa, percepatan reaksi kimia dengan penambahan asam atau basa, asam atau basa itu
sendiri tidak ikut bereaksi dalam reaksi. Contoh reaksi katalitik dengan katalis asam, seperti dalam kasus
dekomposisi dari sukrosa gula menjadi glukosa dan fruktosa dalam asam sulfat, atau untuk katalis basa,
seperti dalam penambahan hidrogen sianida untuk aldehida dan keton dengan adanya natrium hidroksida.
Banyak contoh reaksi yang dikatalisasi oleh asam dan basa. Mekanisme reaksi asam-basa dan katalis
dijelaskan dalam hal konsep Brnsted-Lowry asam dan basa sebagai salah satu di mana ada transfer awal
proton dari katalis asam untuk reaktan atau dari reaktan dengan katalis dasar .

Asam Bronsted-Lowry = donor proton (H+)


Basa Bronsted-Lowry = akseptor proton (H+)

Perhatikan contoh berikut :

NH4+(aq) + H2O(l) NH3(aq) + H3O+(aq)


Asam

basa

H2O(l) + NH3 (aq) NH4+(aq) + OH(aq)


Asam

basa

Dalam hal teori Lewis asam dan basa, reaksi memerlukan pembagian pasangan elektron yang
disumbangkan oleh katalis basa atau diterima oleh suatu katalis asam. Asam Lewis : Akseptor pasangan
electron; Basa Lewis : Donor pasangan electron.

Katalis asam digunakan dalam sejumlah besar reaksi industri, di antaranya konversi hidrokarbon
minyak untuk bensin dan produk-produk terkait. Reaksi tersebut termasuk dekomposisi hidrokarbon
dengan berat molekul tinggi (retak) menggunakan katalis alumina-silika (asam Brnsted-Lowry),

polimerisasi hidrokarbon tidak jenuh dengan menggunakan asam sulfat atau hidrogen fluorida (asam
Brnsted-Lowry), dan isomerisasi hidrokarbon alifatik menggunakan aluminium klorida (asam Lewis).
Di antara aplikasi industri reaksi katalis basa adalah reaksi diisosianat dengan alkohol polifungsional
dengan adanya amina, yang digunakan dalam pembuatan busa poliuretan. Contohnya : Hidrolisis esrer dan
inverse gula. Pada teori Ostwald dan Arrhenius mengatakan bahwa katalis asam basa spesifik adalah
kemampuan mengkatalisis asam adalah karena kekuatan asam tersebut atau konsentrasi hidrogennya.
Hidrolisis ester dilakukan pada larutan asam yang cukup kuat yakni ion hydrogen adalah katalis efektif, ion
hidroksil tidak memperlihatkan aktifitas bermakna.
v : kH+ [H+][S]

Pada laju reaksinya:

kH+ : tetapan laju reaksi yang dikatalisis ion hydrogen.


Orde keseluruhan reaksi terhadap konsentrasi = 2, tetapi terhadap waktu = 1, karena konsentrasi ion
hydrogen tetap.
Laju reaksi orde satu

v : kobs [S]

dimana kobs : kH+ [H+], untuk reaksi yang dikatalisis ion hidroksil : kobs = kOH- [OH]. jika reaksi
dikatalisis ion-ion hidrogen dan ion hidroksil serempak dan reaksi berlangsung spontan tanpa katalis, laju
reaksi adalah : v =ko [S] + kH+ [H+][S] + kOH- [OH][S]
maka k (tetapan laju orde 1) :

k : ko + kH+ [H+]+ kOH- [OH]


ko = tetapan laju reaksi spontan tanpa katalis

kH+ dan kOH- tetapan laju reaksi yang masing-masing dikatalisis oleh H+ dan OH
kW = [H+][OH]
k = ko + kH+ [H+]+ kOHk = ko + kH+ + kOH- [OH]
Reaksi hanya dikatalisis oleh asam (ion hydrogen) : kobs = kH+ [H+]
log kobs = log [H+] + kH+ [H+]
log kobs =-(- log [H+]) + log kH+
log kobs = -pH + log kH+

Pada larutan dapar yang digunakan untuk mempertahankan larutan pada pH tertentu. Reaksi katalisis
terjadi karena salah satu komponen dapar yang dapat mempengaruhi laju reaksi, reaksi ini disebut katalisis
asam basa umum yang bergantung pada komponen katalitik asam basa. Profil laju pH reaksi yang
dipengaruhi katalisis asam basa umum memperlihatkan penyimpangan dari profil katalisis asam basa
spesifik. Contoh hidrolisis streptozosin, laju reaksi dapar fosfat > laju reaksi dalam katalisis basa spesifik,
karena adanya katalisis oleh anion fosfat. Kekuatan ion atau perbedaan pKa substrat dapat juga
memperlihatkan penyimpangan profil laju pH.
Pembuktian katalisis asam basa umum dapat dibuktikan dengan menentukan laju degradasi obat dalam
suatu rangkaian dapar dengan pH asam (perbandingan asam dengan basa tetap), yang dibuat dengan
konsentrasi komponen dapar yang menaik.
Tetapan laju orde satu keseluruhan adalah

k = ko + ki ci

ko = tetapan laju spesifik dalam air


ci = konsentrasi katalitik I
ki = koefisien katalitik
dalam reaksi yang hanya terjadi katalisis asam basa spesifik saja, persamaan menjadi :
k : ko + kH+ [H+]+ kOH- [OH]
Dalam katalisis asam basa terdapat beberapa katalisator, yaitu:
1. Katalisator asam spesifik
Merupakan katalisis oleh proton yang tersolvasi, yaitu H3O+. Hidrolidsis ester merupakan contoh
reaksi katalis asam spesifik. Didalam larutan asam kuat, reaksi hanya dipercepat oleh ion hidronium.
Persamaan lajunya :
Laju: Kass [H3O]+[S]
Dimana [S] : konsentrasi ester; Kass : tetapan laju reaksi hidrolisis spesifik asam
2. Katalisator basa spesifik. Katalisis oleh OH dalam larutan
3. Katalisator asam umum
Katalisis oleh asam proton selain H3O+ , dilakukan oleh asam Bronsted sebagai donor proton. Seperti
halnya katalisis spesifik, berhubungan dengan proton diintroduksi kepada bagian molekul yang direaksikan
dan serangan electron terhadap molekul air. Perbedaannnya adalah bahwa katalisator asam spesifik
menggunakan ion hidronium sedangkan reaksi katalisis asam umum menggunakan sembarang asam
Bronsted sebagai donor proton. Untuk katalisis asam umum, pembentukan kation SH+ merupakan tahap
lambat. Reaksi kondensasi aidol adalah merupakan contoh reaksi yang bergantung kepada mekanisme.
4. Katalisator basa umum
Katalisis oleh basa Bronsted selain OH dan basa ini berlaku sebagai penerima proton yaitu berbagi
pasangan elektron dengan proton. Katalisis basa umum menyerang air dulu, kemudian air menyerang

reakstan. Air menjadi lebih polar sehingga interaksi elektrostatiknya menjadi lebih besar dan kecepatan
reaksi meningkat.

II.2.

KATALIS HETEROGEN

1. Pengertian Katalis Heterogen


Katalis heterogen merupakan katalis yang memiliki fasa yang berbeda dengan reaktannya atau dapat
didefinisikan bahwa katalis heterogen merupakan katalis yang fasanya tidak sama dengan reaktan dan
produk. Katalis heterogen secara umum berbentuk padat dan banyak digunakan pada reaktan berwujud cair
atau gas. Reaksi katalisis heterogen adalah reaksi yang menggunakan katalis yang mempunyai fasa yang
berbeda dengan fasa reaktannya. Reaksi katalisis heterogen biasanya menggunakan katalis padatan dimana
interaksi terjadi di permukaan padatan/gas atau cairan/padatan. Pusat aktivitas katalis terjadi di permukaan
pori padatan katalis. Agar interaksi reaktan dengan pusat aktif katalis dapat berlangsung, reaktan harus
berpindah dari fasa cair ke permukaan katalis.
Menurut Agustine (1996), reaksi katalisis heterogen memiliki tahapan-tahapan yang lebih kompleks
dibandingkan dengan reaksi katalisis homogen. Hal ini terjadi karena pada reaksi katalisis heterogen katalis
tidak terdistribusi merata ke dalam media reaksi. Lima tahap penting pada reaksi katalisis heterogen agar
reaksi berjalan sempurna yaitu:
a. Transpor reaktan ke permukaan katalis
b. Interaksi (adsorpsi) reaktan pada katalis.
c. Reaksi pada permukaan katalis yang melibatkan satu atau lebih reaktan teradsorpsi.
d. Desorpsi produk dari permukaan katalis
e. Transpor produk menjauh dari katalis.
Menurut Triyono (1998), inti dari reaksi katalisis terjadi pada tahap ketiga, akan tetapi tahap kedua dan
keempat termasuk dalam perubahan kimia, sehingga data kecepatan reaksi yang diamati melingkupi data
dari ketiga tahap tersebut. Pengukuran energi aktivasi merupakan aplikasi dari kombinasi ketiga tahap
tersebut. Tahap kedua, ketiga dan keempat merupakan penentu laju reaksi dengan ciri-ciri:
a. Laju reaksi sebanding dengan massa katalis atau konsentrasi komponen aktif
b. Laju reaksi tidak dipengaruhi oleh pengadukan
c. Energi pengaktifan biasanya lebih besar dari 25 kJ.mol-1.
Adsorpsi reaktan pada situs aktif katalis akan melepaskan energi dalam bentuk panas,
sehingga akan mempermudah molekul reaktan melewati energi aktivasi. Panas yang dilepaskan pada proses
adsorpsi berkaitan dengan kekuatan adsorpsi reaktan pada permukaan katalis. Kekuatan adsorpsi reaktan
pada permukaan katalis sangat menentukan aktivitas katalis tersebut. Jika adsorpsi yang terjadi sangat
lemah, energi yang dilepaskan juga kecil, sehingga hanya sebagian kecil fraksi permukaan yang ditempati
oleh reaktan, dan pada akhirnya reaksi berjalan dengan lambat (Gasser, 1985).
Adsorpsi terjadi karena adanya interaksi gaya permukaan padatan dengan molekul- molekul adsorbat.
Energi adsorpsi yang dihasilkan bergantung pada tipe adsorpsi yang terjadi. Energi adsorpsi yang dihasilkan
bergantung pada adsorpsi yang terjadi. Tipe adsorpsi ini merupakan fungsi logam dan fungsi pereaksi.
Adsorpsi gaas pada permukaan padatan katalis dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu adsorpsi
fisik (fisisorpsi) dan adsorpsi kimia (kemisorpsi). Adsorpsi fisik terjadi karena adanya gaya molekuler,
dimana interaksi molekul-molekul gas terhadap padatan katalis bersifat reversibel, sehingga semua molekul
gas yang teradsorpsi secara fisik akan dilepaskan kembali dengan menaikkan temperatur atau menurunkan
tekanan. Adsorpsi kimia terjadi karena adanya interaksi tumpang tindih orbital molekul di permukaan
padatan dengan molekul adsorbat. Adsorpsi kimia bersifat irreversibel, sehingga untuk melakukan desorpsi
diperlukan energi yang jauh lebih besar dibandingkan energi desorpsi pada adsorpsi fisik.

Pada umumnya: fase katalis padatan


fase reaksi gas
Sifat-sifat katalis heterogen:
Mudah dipisahkan dari campuran reaksi
Tahan dan stabil terhadap suhu relatif tinggi
Mudah disiapkan dalam bentuk pellet katalis padat
Konstruksinya sederhana
Hingga tahun 1980-an: sekitar 90% katalis yang digunakan di dalam proses industri kimia
berupa katalis heterogen.
Contoh: Katalis padat Fe untuk Proses Haber pada pembuatan amonia:
N2 (g) + 3 H2 (g) 2 NH3 (g)
Katalis padat Fe2O3-BiO2 untuk oksidasi amonia pada pembuatan asam nitrat:
4 NH3 (g) + 5 O2 (g) 4 NO (g) + 6 H2O (g)
Katalis padat Ni pada hidrogenasi hidrokarbon:
R1CH=CHR2 (l) + H2 (g) R1CH2CH2R2 (l)
(minyak tak jenuh) (lemak jenuh)
Katalis arang (C) pada pembuatan asam khlorida:
H2 (g) + Cl2 (g) 2 HCl (g)
2. Umur Katalis
Umur katalis didefinisikan sebagai suatu periode selama katalis menghasilkan produk yang
diinginkan lebih besar dibandingkan dengan produk reaksi tanpa katalis (Hughes, 1984). Pada kebanyakan
katalis, aktivitas akan menurun dengan tajam pada awalnya, lalu tercapai keadaan dimana aktivitas katalis
menurun jauh lebih lambat dan selektivitas katalis menjadi jelek. Umur katalis dapat dijadikan acuan dalam
pemilihan katalis, sehingga biaya proses produksi dapat ditekan. Dalam beberapa reaksi, katalis hanya dapat
digunakan sekali dan dalam reaksi lain bisa berulang kali tanpa perlu diregenerasi. Umur katalis sulit
diestimasikan tanpa melakukan penelitian yang mendalam. Secara umum, aktivitas katalis akan menurun
seiring dengan penggunaannya. Umur katalis ditentukan oleh kecepatan hilangnya aktivitas dan selektivitas
katalis dalam mengkatalisis suatu reaksi (Rylander, 1985). Umur katalis dipengaruhi oleh deaktivasi katalis.
Deaktivasi katalis menyebabkan penurunan aktivitas dan selektivitas katalis. Penurunan aktivitas dan
selektivitas katalis yang terjadi secara terus-menerus pada waktu tertentu akan menyebabkan katalis tidak
dapat digunakan lagi untuk mengkatalisis reaksi atau dengan kata lain, katalis tersebut telah mati.Semakin
besar proses deaktivasi yang terjadi, semakin pendek umur suatu katalis.
3. Deaktivasi Katalis
Deaktivasi katalis merupakan penurunan aktivitas dan selektivitas katalis selama
pemakaian katalis tersebut. Secara umum, menurut Hughes (1984), ada 3 macam penyebab terjadinya
deaktivasi katalis, yaitu:
a. Peracunan
Peracunan secara umum, walaupun tidak tepat, sering diterapkan pada semua bentuk deaktivasi
katalis. Peracunan katalis merupakan deaktivasi katalis yang disebabkan oleh sejumlah kecil material
tertentu untuk katalis tertentu dan berkaitan dengan adsorpsi racun pada situs aktif katalis, sehingga akan
menghalangi proses adsorpsi reaktan oleh katalis. Peracunan sering dihubungkan dengan kontaminan,
misalnya senyawaan belerang pada aliran umpan dalam proses fraksinasi minyak bumi, yang sering juga
disebut sebagai peracunan oleh pengotor. Kebanyakan proses peracunan katalis adalah proses irreversibele
(tidak dapat balik), sehingga katalis yang telah teracuni harus diganti atau diregenerasi bila memungkinkan.
Secara prinsip, dimungkinkan upaya untuk menghilangkan pengotor yang bertindak sebagai racun katalis
dari aliran material dasar (raw material) suatu reaksi atau dengan menggunakan pelindung katalis (catalyst
guard). Tetapi untuk menurunkan kadar pengotor dalam material dasar (misalnya, menurunkan kadar
senyawa belerang sebensar dari 1 ppm dalam reaksi metanasi terkatalisis oleh nikel) membutuhkan dana

yang cukup besar. Oleh karena itu usaha yang dilakukan adalah mentoleransi kadar pengotor sampai batas
tertentu.
Peracunan pada katalis logam didasarkan pada sifat struktur elektron dari racun dalam fasa gas dan
elektron dari katalis dalam fasa padat. Peracunan terjadi karena racun diserap oleh situs aktif katalis
membentuk kompleks yang teradsorpsi secara kimia. Racun yang efektif pada proses deaktivasi katalis
adalah racun yang mengandung unsur N, P, As, Sb, O, S, Se Te dan molekul yang mengandung ikatan
rangkap, misalnya CO. Logam berat (Hg, Pb, Bi, Sn, Zs, Cd, Cu) dapat menurunkan aktivitas katalis.
Toksisitas logam berat berkaitan dengan kelima sub orbital d yang terisi elektron secara penuh atau paling
sedikit terisi oleh satu pasangan elektron. Toksistas tidak akan teejadi apabila unsur tidak mempunyai
orbital d atau kalaupun memiliki orbital d, orbital d-nya kosong. Elektron pada orbital d, berperan pada
proses terjadinya ikatan intermetalik antara logam berat dengan katalis yang akan menyebabkan adanya
toksisitas.
b. Pencemaran
Secara umum, jumlah material yang berperan dalam proses deaktivasi katalis pada proses
pencemaran lebih banyak dibandingkan pada proses peracunan. Tipe proses pencemaran katalis yang paling
umum adalah pembentukan kokas (endapan karbon) dan
pengendapan logam pada permukaan katalis. Pembentukan kokas umumnya terjadi pada katalis yang
digunakan dalam proses fraksinasi minyak bumi atau reaksi yang menggunakan senyawa organik sebagai
umpan. Kokas terbentuk selama reaksi katalisis, dan bukan merupakan pengotor. Secara umum, kokas bisa
berasal dari reaktan ataupun produk. Kokas dapat terjadi karena hasil samping reaksi ataupun produk suatu
reaksi. Kokas yang merupakan hasil samping suatu reaksi disebut pencemaran pencemaran yang
berlangsung secara paralel. Sedangkan kokas yang terbentuk sebagai hasil (produk) reaksi disebut
pencemaran secara seri (konsekutif) Karena adanya asosiasi intrinsik secara kimiawi, pencemar katalis
tidak dapat dihilangkan dengan cara memurnikan umpan ataupun dengan pemakaian pelindung katalis
(catalyst guard). Sepanjang reaksi kimia berlangsung, kokas akan terbentuk. Pembentukan kokas dapat
diminimalkan dengan cara pemilihan kondisi reaktor dan pengoperasiannya yang tepat, atau dengan cara
memodifikasi katalis yang digunakan.
Perbedaan utama antara peracunan dan pencemaran katalis dapat adalah:
Peracunan. Berkurangnya ukuran partikel katalis akan menyebabkan meningkatnya luas
permukaan partikel katalis. Luas permukaan partikel katalis yang besar akan lebih bisa
mengakomodasikan racun, karena proses peracunan terjadi pada lapisan aktif yang tipis di dekat
permukaan luar partikel katalis.
Pencemaran. Pencemaran katalis, terutama pembentukan kokas, terjadi pada situs katalis yang
memiliki laju reaksi paling besar. Bertambahnya jumlah endapan yang relatif besar, akan menutup
situs aktif katalis.
c. Sintering (Penggumpalan)
Sintering merupakan proses deaktivasi termal, yaitu proses fisik yang berkaitan:
hilangnya area material pengembang atau basa oksida
hilangnya penyebaran kristal logam pada katalis logam pengemban
penurunan komponen logam dalam katalis.
Berdasarkan tipe katalis yang digunakan, proses sintering dapat dibedakan menjadi dua. Tipe pertama
adalah katalisnya merupakan material tipe pengemban dengan daerah suhu operasional normal sampai
tinggi, misalnya SiO2, Al2O3. Pengoperasian katalis tipe ini pada suhu tinggi akan menyebabkan hilangya
luas permukaan katalis yang berakibat pada berubahnya struktur pori, sehingga akan menurunkan aktivitas
katalis. Tipe kedua adalah katalis dengan bahan aktifnya adalah logam yang diembankan pada pengemban
oksida dengan daerah suhu operasional tinggi, misalnya platina yang diembankan pada silika atau alumina.
Pada tipe kedua ini, sintering terjadi tidak hanya karena pengurangan ara pengemban, tetapi juga karena
hilangnya penyebaran logam pada katalis yang pada akhirnya menyebabkan turunnya aktivitas katalis.
Lebih lanjut sintering tipe kedua dapat terjadi pada suhu operasional di bawah suhu minimum yang bisa
menyebabkan terjadinya hilangnya area. Pada kasus katalis bifungsi, misalnya platina teremban dalam

alumina, penyimpangan suhu dari suhu daerah operasional akan menurunkan area kedua komponen katalis,
yakni platina dan alumina.
Beberapa mekanisme pada proses sintering adalah:
o Penguapan kondensasi. Karena tekanan uap lebih besar daripada tekanan pada permukaan
cembung ataupun cekung pada permukaan katalis, akan terjadi kecenderungan penguapan, dari
pertikel penyusun katalis ke permukaan cekung di antara partikel.
o Difusi volume. Difusi atom terjadi dari partikel satu ke partikel yang berdekatan.
o Difusi permukaan. Mekanisme difusi permukaan mencakup migrasi atom ke permukaan partikel
o Difusi butiran di daerah batas antar butiran
Laju sintering meningkat dengan cepat seiring dengan meningkatnya temperature. Secara umum proses
sintering yang terjadi pada katalis teremban oksida dengan daerah
operasional suhu tinggi meliputi tiga tahap, yaitu:
Tahap I, terjadi pertumbuhan partikel-partikel dari area kontak membentuk leher.
Tahap II, merupakan tahap intermediet, yaitu terjadinya persinggungan atau titik potong di antara
leher-leher tersebut membentuk pori yang tertutup.
Tahap III, terjadi pertumbuhan lebih lanjut dari partikel-partikel area kontak tersebut akan
menghilangkan pori tertutup pada Tahap II.
Mekanisme proses sintering pada katalis dapat dilihat pada Gambar 2

4. Cara Kerja Katalis Heterogen


Katalis dapat
bekerja dengan membentuk senyawa antara atau mengabsorpsi zat yang
direaksikan.
Sehingga katalis dapat meningkatkan laju reaksi, sementara katalis
itu sendiri tidak mengalami perubahan kimia secara permanen. Cara kerjanya yaitu dengan menempel
pada bagian substrat tertentu dan pada akhirnya dapat menurunkan energi pengaktifan dari reaksi, sehingga
reaksi berlangsung dengan cepat. Secara umum proses suatu reaksi kimia dengan penambahan katalis dapat
dijelaskan sebagai berikut. Zat A dan zat B yang direaksikan membentuk zat AB dimana zat C sebagai
katalis.
A +

AB

(reaksi lambat)

Bila tanpa katalis diperlukan energi pengaktifan yang tinggi dan terbentuknya zat AB lambat
. Namun, dengan adanya katalis C, maka terjadilah reaksi :
A +

AC (reaksi cepat)

Energi
pengaktifan
diturunkan,
AC terbentuk cepat dan seketika itu juga AC bereaksi dengan
AC + B

ABC

maka
B membentuk senyawa ABC.

(reaksi cepat).

Energi pengaktifan reaksi ini rendah sehingga dengan cepat terbentuk ABC yang kemudian mengurai
menjadi AB dan C. sesuai reaksi
ABC

AB +

(reaksi cepat)

Ada
dua
macam
katalis,
yaitu
katalis
positif
(katalisator)
yang
berfungsi
mempercepat reaksi, dan katalis negatif (inhibitor) yang berfungsi memperlambat laju reaksi. Katalis
positif
berperan
menurunkan
energi
pengaktifan,
dan
membuat
orientasi molekul sesuai untuk terjadinya tumbukan.
Akibatnya molekul gas yang
teradsorpsi pada permukaan logam ini menjadi lebih reaktif daripada molekul gas
yang tidak terabsorbsi. Prinsip ini adalah kerja dari katalis heterogen, yang banyak dimanfaatkan
untuk mengkatalisis reaksi-reaksi gas.
Adapun mekanisme reaksi katalisis heterogen secara umum adalah sebagai berikut:
1. Difusi molekul reaktan ke permukaan katalis
2. Adsorpsi reaktan pada permukaan katalis.
3. Reaksi difusi reaktan pada permukaan katalis.
4. Reaksi dalam lapisan adsorpsi.
5. Desorpsi produk reaksi dari permukaan katalis.
6. Abfusi pada produk keluar dari permukaan katalis
Mekanisme katalisis heterogen menurut Langmuir-hinshelwood
1. Atom A dan B teradsorpsi kepermukaan katalis.
2. Atom A dan B berdifusi melalui permukaan.
3. Atom A dan B berinteraksi satu sama lain.
4. Sebuah molekul terbentuk dan terjadi desorpsi
Mekanisme katalisis heterogen menurut Rideal-Eley
1. Atom A diadsorpsi oleh permukaan katalis (k).
Difusi adalah peristiwa mengalirnya / berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi
tinggi ke bagian berkonsentrasi rendah. Proses difusi molekul reaktan kepermukaan atau difusi pada produk
desorpsi merupakan proses yang paling lambat dan tidak dapat ditentukan kecuali pada penentuan proses
teknik yang melibatkan penyerapan katalis.
2. Atom B lewat, kemudian berinteraksi dengan atom A yang ada dipermukaan katalis (k). Katalis
menyediakan suatu permukaan dimana pereaksi-pereaksi (atau substrat) untuk sementara terjerap.
3. Atom A dan B saling berinteraksi satu sama lain
4. Sebuah molekul terbentuk dan terjadi desorpsi.
Terbentuk molekul produk dalam permukaan katalis kemudian terlepas molekul produk dari
permukaan katalis. Ikatan dalam substrat-substrat menjadi lemah sehingga memadai terbentuknya produk
baru. Ikatan antara produk baru dan katalis lebih lemah sehingga akhirnya terlepas. Permukaan padatan
yang kontak dengan suatu larutan cenderung untuk menghimpun lapisan dari molekul-molekul zat terlarut
pada permukaannya akibat ketidakseimbangan gaya-gaya pada permukaan. Difusi adalah peristiwa
mengalirnya / berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang
berkonsentrasi rendah. Proses difusi molekul reaktan kepermukaan atau difusi pada produk desorpsi

kedalam gas utama merupakan proses yang paling lambat dan tidak dapat ditentukan kecuali pada
penentuan proses teknik yang melibatkan penyerapan katalis.
Permukaan spesifik, Specific surface yang besar lebih diharapkan karena laju perpindahan massa akan
meningkat sehingga akan meningkatkan laju reaksi kimia secara keseluruhan. Permukaan spesifik yang
besar ini berhubungan dengan diameter partikel yang kecil dan seluruh permukaan porinya. Pori yang kecil
membatasi kemampuan senyawa mendifusi ke dalam permukaan sebelah dalam, internal surface, demikian
juga difusi produk keluar dari pori. Sehingga didalam pemilihan diameter pori dan keseragaman diameter
pori untuk menyediakan specific surface dan tahanan difusi didalam permukaan sebelah dalam perlu
diperhatikan. Tahanan difusi yang terjadi di dalam katalis disebabkan karena gesekan antar molekul
maupun dengan dinding pori. Proses heterogen selalu melibatkan energi aktivasi yang cukup besar sedang
difusi dalam gas tidak melibatkan energi aktivasi. Didalam adsorpsi dan desorpsi sangat lambat didalam
poses heterogen karena keduanya melibatkan energi aktivasi yang cukup besar.
Secara umum, apabila suatu partikel padat terdispersi dalam suatu media cair, maka partikel tersebut dapat
melalui beberapa mekanisme, yaitu :
1. Terjadinya peristiwa adsorpsi yang bersifat selektif terhadap spesies bermuatan yang terdapat didalam
dispersi tersebut.
2. Terjadinya peristiwa ionisasi gugus-gugus yang terdapat pada permukaan padatan, sehingga
meninggalkan muatan tertentu pada permukaan padat tersebut. Mekanisme ini sering terjadi ketika pada
suatu permukaan partikel padat terdapat gugus yang mudah terionisasi, misalnya COOH.
Adsorpsi kimia menghasilkan pembentukan lapisan monomolekular adsorbat pada permukaan melalui
gaya-gaya dari valensi sisa dari molekul-molekul pada permukaan. Adsorpsi fisika diakibatkan kondensasi
molekular dalam kapiler-kapiler dari padatan. Secara umum, unsur-unsur dengan berat molekul yang lebih
besar akan lebih mudah diadsorpsi. Terjadi pembentukan yang cepat sebuah kesetimbangan konsentrasi
antar-muka, diikuti dengan difusi lambat ke dalam partikel-partikei. Laju adsorpsi keseluruhan
dikendalikan oleh kecepatan difusi dari molekul-moleku l zat terlarut dalam pori-pori kapiler dari partikel.
Bila digunakan logam atau oksidanya sebagai katalis maka kita berusaha untuk membuat permukaan
yang dapat bekerja secara katalisis sebesar-besarnya. Untuk keperluan itu sering kali dipergunakan
pendukung. Pendukung disini adalah dengan permukaan yang besar seperti batu apung, arang aktif oksida,
aluminium, kalium oksida dan silikat oleh pelekatan bagian-bagian logam diatas bahan pendukung ini.
Permukaan aktif kadang-kadang diperbesar sampai seratus kali lipat atau lebih. Karena itu bobot dari
katalis dari yang sesungguhnya kadang-kadang hanya berjumlah sebagaian kecil dari seluruh bobot dari
katalis yang sesungguhnya. Pada umumnya inhibitor adalah suatu zat kimia yang dapat menghambat atau
memperlambat suatu reaksi kimia. Reaksi permukaan katalis dapat terhambat jika suatu substansi asing
berikatan pada sisi aktif katalis sehingga memblok kepada subtrat molekul-molekul. Jenis penghambatan
ini disebut peracunan dan penghambat atau katalis negatif tersebut merupakan racun katalis. Suatu katalis
jika sudah terpakai beberapa kali maka aktivitasnya akan berkurang. Ini berarti bahwa kemampuan untuk
mempercepat reaksi tertentu telah berkurang. Gejala ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya
oleh suhu yang terlalu tinggi katalis dapat lumer sebagaian atau disenter, penyebab lain yaitu katalis dapat
bereaksi dengan produk atau kotoran yang terdapat didalam bahan dasar. Penyebab yang terkenal dari
pengurangan aktivitas katalis adalah belerang dan persenyawaan belerang, air lembab (vouch) dan uap
minyak dapat dapat dimasukkan kedalam kelompok ini yang dikenal dengan racun katalis atau poisoning
catalyst. Bila setelah beberapa waktu, aktivitas katalis telah turun sampai dibawah minimum yang dapat
diterima, katalis itu harus apkir atau berhenti. Beberapa katalis yang tidak aktif dapat diperbaiki kembali
dengan jalan regenerasi. Dalam hal ini dipergunakan uap, zat cair, zat asam atau gas lain. Katalis sering
juga digenerasi dengan pengolahan memakai asam mineral, dimana logamnya dapat larut.
Didalam dunia industri katalis yang digunakan:
1. Harus murni
2. Stabil tehadap panas
3. Memiliki waktu hidup yang panjang
4. Dapat diregenerasi
5. Tahan terhadap keracunan

6. Kesederhanaan dalam cara pembuatannya


7. Mudah didapat
8. Harganya murah
5. Contoh Katalis Heterogen
Sebagian besar reaksi antara daua phase misalnya pada interface dari gas padat atau gascair, biasanya
yang bertindak sebagai katalis adalah yang lebih padat, karenanya luas permukaan dari padatan harus benar
benar diperhatikan. Beberapa contoh yang dilakukan oleh dunia industri lain katalis akan menghasilkan
lain produk :
a. Dekomposisi organik
C2H5OH (Al2O3 , 300oC ) C2H4 + H2O
C2H5OH (Cu , 300oC ) CH3CHO + H2O
b. Dehidrogenasi
C4H8 (Al2O3, Cr2O3 ) CH2=CHCH=CH2 + H2
Ethyl Benzene (Fe2O3, 650oC) Styrene + H2
c. Hidrasi hidrokarbon takjenuh
Dengan adsorben asam posforat dan katalis celite maka
C2H4 + H2O (300oC ) C2H5O H
d. Hidroclorinasi
Vinil clorida dibuat dengan katalis merkuriclorida dan arang dari reaksi
CHCH + HCl (200oC) CH2=CHCl
Umumnya katalis heterogen berupa zat padat yang terdiri dari logam atau oksida logam. Contoh-contoh
dari katalis heterogen adalah zeolit, CaO, MgO, dan resin penukar ion. Proses katalitik menggunakan katalis
heterogen dalam industri pertama kali pada tahun 1857, menggunakan Pt untuk mengoksidasi SO2 menjadi
SO3 dalam larutan asam.
Tabel 3.1. Beberapa contoh katalis heterogen dalam dunia industri
Reaksi
Katalis
C4H10 Butena dan C4H6 (butadiena)CH4 atau Cr2O3 Al2O3Ni support
hidrokarbon lain + H2O CO + H2
Pd dalam Al2O3 atau padatan pendukung
C2H2 + 2H2 C2H6
Ni-Sulfida.
Hidrocraking

Logam (seperti Pd) pada zeolit

CO + 2H2 CH3OH

Promotor ZnO dengan Cr2O3 atau


promoter Cu1 ZnO dengan Cr2O3 atau
Al2O3.

Katalisis heterogen sejauh ini adalah jenis katalisis yang paling penting dalam kimia industry, terutama
dalam sintesis berbagai bahan kimia penting. Di sini dijelaskan dua contoh katalisis heterogen yang
spesifik.
Pembuatan Asam Nitrat
Asam nitrat ialah salah satu asam anorganik yang paling penting. Asam ini digunakan dalam produksi
pupuk, zat warna,obat-obatan dan bahan peledak. Metode industri yang utama dalam memproduksi asam
nitrat ialah proses Ostwalk. Bahan awalnya yaitu ammonia dan molekul oksigen, dipanaskan dengan
tambahan adanya katalis platina-rodiumsampai sekitar 800 C :
4NH3(g) +5O2(g) 4NO(g) +6H2O(g)
Nitrat oksida yang terbentuk mudah teroksidasi (tanpa katalis) menjadi nitrogen dioksida:
2NO(g) + O2 2NO2(g)
Ketika dilarutkan di dalam air, NO2 membentuk asam nitrit dan asam nitrat:
2NO2(g) + H2O(l) HNO2(aq) + HNO3(aq)
Jika dipanaskan, asam nitrit berubah menjadi asam nitrat sebagai berikut:
3HNO2(aq) HNO3(aq) + H2O(l) + 2NO(g)
NO yang dihasilkan dapat didaur ulang untuk menghasilkan NO2 pada tahap kedua.
Konverter Katalitik
Pada suhu tinggi di dalam mesin mobil yang sedang berjalan gas nitrogen dan oksigen bereaksi
membentuk nitrat oksida:
N2(g) + O2(g) 2NO(g)
Ketika lepas ke atmosfer, NO segera bergabung dengan O2 membentuk NO2. Nitrogen dioksida dan
gas lain yang diemisikan oleh mobil, seperti karbon monoksida (CO) dan berbagai hidrokarbon yang
terbakar, menjadikan mobil sebagai sumber pencemar udara yang utama. Sebagian besar mobil baru
dilengkapi dengan converter katalitik. Konverter katalitik yang efisien memiliki dua tujuan : mengoksidasi
CO dan H2O, dan mereduksi NO dan NO2 menjadi N2 dan O2. Gas buang panas yang telah diinjeksi dengan
udara dilewatkan ke bilik pertama dari salah satu converter untuk mempercepat pembakaran hidrokarbon
yang sempurna dan untuk menurunkan emisi CO. Namun karena suhu tinggi meningkat produksi NO,
diperlukan satu lagi bilik kedua yang berisi katalis berbeda (logam transisi atau oksida logam transisi) dan
bekerja pada suhu yang lebih rendah untuk menguraikan NO menjadi N2 dan O2 sebelum gas dibuang lewat
knalpot.
Mekanisme dari katalis padat dengan reaktan fasa gas, dimana terjadi pembentukan kompleks reaktan
dengan katalis setelah pembentukan produk adalah sebagai berikut :
1. Reaktan terbawa oleh aliran gas pembawa sampai kepermukaan luar partikel katalis.

2.
3.
4.
5.
6.
7.

Difusi reaktan dari permukaan luar masuk melalui pori dalam partikel katalis.
Reaktan diadsorpsi pada sisi aktif katalis sehingga menimbulkan energi adsorpsi
Reaksi pembentukan produk antara permukaan sampai terjadinya produk.
Produk didesorpsi dari katalis keluar melalui pori bagian partikel katalis.
Difusi produk menuju permukaan luar partikel katalis.
Produk mengikuti aliran gas pembawa.

Persyaratan kunci dalam katalisis heterogen ialah bahwa pereaksi fase gas atau larutan diadsorpsi
kepermukaan katalis. Tidak semua atom atom permukaan sama efektifnya sebagai katalis, bagian yang
efektif tersebut disebut sisi aktif katalis. Pada dasarnya, katalis heterogen mencakup :
(1) adsorpsi pereaksi,
(2) difusi pereaksi sepanjang permukaan,
(3) reaksi pada sisi aktif membentuk hasil reaksi yang diadsorpsi, dan
(4) lepasnya (desorpsi) hasil reaksi.
6. Peranan Katalis Heterogen
Katalis heterogen merupakan katalis yang memiliki fasa yang berbeda dengan reaktannya. Salah satu
peranan katalis heterogen adalah Al2O3 sebagai katalis converter gas buang pada kendaraan bermotor. Jenis
katalis heterogen yang berfungsi disini adalah Catalytic converter yang merupakan alat yang digunakan
sebagai kontrol emisi gas buang yang diletakkan setelah exhaust manifold pada sistem pembuangan
kendaraaan bermotor . Katalis automotive (converter) ini pertama kali didesain pada tahun 1975 di US
yang bertujuan untuk mengurangi polusi udara dengan cara mengkonversi gas karbonmonoksida (CO),
nitrogen oksida (NOx) dan hidrokarbon (HC) yang merupakan gas buang dari reaksi pembakaran bahan
bakar yang tidak sempurna pada kendaraan bermotor.
Katalis heterogen penting juga dalam industry minyak. Salah satu terapan yang menarik adalah
produksi bahan bakar cair sintesis seperti bensin dari minyak diesel dengan cara reaksi hidrogemn, H2
dengan karbon monoksida, CO. Dengan suatu katalis logam yang tepat seperti nikel atau kobalt, karbon
monoksida akan bereaksi dengan hidrogen untuk menghasilkan air dan hidrokarbon. Penggunaan katalis
pada alat control yang disebut auto exhaust emissions. Mobil-mobil yang dijual di Amerika sekarang
dilengkapi dengan catalytic converters. Alat ini menggunakan suatu lempeng campuran oksida logam
dimana gas-gas yang sudah kotor lewat setelah gas-gas tersebut bercampur dengan udara. Katalis secara
efektif menaikkan oksidasi CO dan hidrokarbon lain-lain menjadi CO2 dan H2O. Katalis pada catalytic
converters yang baru menghilangkan juga pencemar oksida nitrogen dengan mempercepat penguraiannya
menjadi nitrogen dan oksigen.
Kekurangan alat ini adalah katalisnya dapat diracuni oleh logam Pb. Akibatnya, mobil yang
menggunakannya harus menggunakan bensin yang bebas Pb (timbal). Kekurangan yang lain adalah katalis
ini juga akan mempercepat oksidasi SO2 menjadi SO3 yang akan bereaksi dengan uap air membentuk uap
asam sulfat. Oleh karena SO2 dihasilkan dari pembakaran bensin yang mengandung kadar sulfur yang
tinggi, maka hal ini menjadi persoalan serius.
7. Keuntungan Katalis Heterogen

Keuntungan dari katalis heterogen adalah ramah lingkungan, tidak bersifat korosif, mudah dipisahkan
dari produk dengan cara filtrasi, serta dapat digunakan berulangkali dalam jangka waktu yang lama. Selain
itu, katalis heterogen meningkatkan kemurnian hasil karena reaksi samping dapat dieliminasi. Keuntungan
lain
penggunaan
katalis
heterogen
adalah
katalisnya
dapat
dipisahkan dengan penyaringan dari produk bila reaksi telah selesai. Banyak proses
industri yang menggunakan katalis heterogen, sehingga proses dapat berlangsung lebih cepat dan biaya
produksi dapat dikurangi. Beberapa logam ada yang dapat mengikat cukup banyak molekul-molekul gas
pada permukannya, misalnya Ni, Pt, Pd dan V. Gaya tarik menarik antara atom logam
dengan molekul gas dapat memperlemah ikatan kovalen pada molekul gas, dan
bahkan dapat memutuskan ikatan itu.
II.3.

BIOKATALIS

Biokatalisator adalah katalisator organik yang dihasilkan oleh sel.Enzim sangat penting dalam
kehidupan, karena semua reaksi metabolisme dikatalis oleh enzim. Jika tidak ada enzim, atau aktivitas
enzim terganggu maka reaksi metabolisme sel akan terhambat hingga pertumbuhan sel juga terganggu.
Reaksi-reaksi enzimatik dibutuhkan agar bakteri dapat memperoleh makanan/ nutrient dalam keadaan
terlarut yang dapat diserap ke dalam sel, memperoleh energi Kimia yang digunakan untuk biosintesis,
perkembangbiakan, pergerakan, dan lain-lain.
Biokatalis disebut juga enzim. Merupakan senyawa protein berukuran koloid. Dijumpai dalam
sistem biokimia dan makhluk hidup. Contoh: enzim-enzim dalam sistem pencernaan tubuh manusia
enzim-enzim dalam tumbuhan.Bekerja pada suhu ambient. Setiap enzim mempunyai suhu optimum
(suhu operasi ketika aktivitasnya mencapai maksimum). Peningkatan suhu di atas suhu optimumnya
akan mengakibatkan kerusakan enzim (denaturasi protein).
Biasanya enzim mempunyai akhiran ase. Di depan ase digunakan nama substrat di mana enzim
itu bekerja., atau nama reaksi yang dikatalisis. Misal : selulase, dehidrogenase, urease, dan lain-lain.
Tetapi pedoman pemberian nama tersebut diatas tidak selalu digunakann. Hal ini disebabkan nama
tersebut digunakan sebelum pedoman pemberian nama diterima dan nama tersebut sudah umum
digunakan. Misalnya pepsin, tripsin, dan lain-lain. Dalam Daftar Istilah Kimia Organik (1978), akhiran
ase tersebut diganti dengan asa.
Pada mulanya enzim dianggap hanya terdiri dari protein dan memang ada enzim yang ternyata
hanya tersusun dari protein saja. Misalnya pepsin dan tripsin.Tetapi ada juga enzim-enzim yang selain
protein juga memerlukan komponen selain protein. Komponen selain protein pada enzim dinamakan
kofaktor. Koenzim dapat merupakan ion logam/ metal, atau molekul organik yang dinamakan koenzim.
Gabungan antara bagian protein enzim (apoenzim) dan kofaktor dinamakan holoenzim. Enzim yang
memerlukan ion logam sebagai kofaktornya dinamakan metaloenzim.. Ion logam ini berfungsi untuk
menjadi pusat katalis primer, menjadi tempat untuk mengikat substrat, dan sebagai stabilisator supaya
enzim tetap aktif. Seperti halnya katalisator, enzim dapat mempercepat reaksi Kimia dengan
menurunkan energi aktivasinya. Enzim tersebut akan bergabung sementara dengan reaktan sehingga
mencapai keadaan transisi dengan energi aktivasi yang lebih rendah daripada energi aktivasi yang
diperlukan untuk mencapai keadaan transisi tanpa bantuan katalisator atau enzim.
Penggolongan (Klasifikasi) enzim
1. Hidrolase
Hidrolase merupakan enzim-enzim yang menguraikan suatu zat dengan pertolongan air.
Hidrolase dibagi atas kelompok kecil berdasarkan substratnya yaitu :
A. Karbohidrase, yaitu enzim-enzim yang menguraikan golongan karbohidrat.

Kelompok ini masih dipecah lagi menurut karbohidrat yang diuraikannya, misal :
a. Amilase, yaitu enzim yang menguraikan amilum (suatu polisakarida) menjadi maltosa 9 suatu
disakarida).
2 (C6H10O5)n + n H2O n C12H22O11
b. Maltase, yaitu enzim yang menguraikan maltosa menjadi glukosa.
C12H22O11 + H20 2 C6H12O6
c. Sukrase, yaitu enzim yang mengubah sukrosa (gula tebu) menjadi glukosa dan fruktosa.
d. Laktase, yaitu enzim yang mengubah laktase menjadi glukosa dan galaktosa.
e. Selulase, emzim yang menguraikan selulosa ( suatu polisakarida) menjadi selobiosa ( suatu
disakarida)
f. Pektinase, yaitu enzim yang menguraikan pektin menjadi asam-pektin.
B. Esterase, yaitu enzim-enzim yang memecah golongan ester.
Contoh-contohnya :
a. Lipase, yaitu enzim yang menguraikan lemak menjadi gliserol dan asam lemak.
b. Fosfatase, yaitu enzim yang menguraikan suatu ester hingga terlepas asam fosfat.
C. Proteinase atau Protease, yaitu enzim enzim yang menguraikan golongan protein. Contohcontohnya:
a. Peptidase, yaitu enzim yang menguraikan peptida menjadi asam amino.
b. Gelatinase, yaitu enzim yang menguraikan gelatin.
c. Renin, yaitu enzim yang menguraikan kasein dari susu.
2. Oksidase dan reduktase , yaitu enzime yang menolong dalam proses oksidasi dan reduksi.
Enzim Oksidase dibagi lagi menjadi;
a. Dehidrogenase : enzim ini memegang peranan penting dalam mengubah zat-zat organik menjadi
hasil-hasil oksidasi.
b. Katalase : enzim yang menguraikan hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen.
3. Desmolase , yaitu enzim-enzim yang memutuskan ikatan-ikatan C-C, C-N dan beberapa ikatan
lainnya.
Enzim Desmolase dibagi lagi menjadi :
a. Karboksilase : yaitu enzim yang mengubah asam piruyat menjadi asetaldehida.
b. Transaminase : yaitu enzim yang memindahkan gugusan amine dari suatu asam amino ke suatu
asam organik sehingga yang terakhir ini berubah menjadi suatu asam amino.
Enzim juga dapat dibedakan menjadi eksoenzim dan endoenzim berdasarkan tempat kerjanya, ditinjau
dari sel yang membentuknya.Eksoenzim ialah enzim yang aktivitasnya diluar sel. Endoenzim ialah enzim
yang aktivitasnya didalam sel. Selain eksoenzim dan endoenzim, dikenal juga enzim konstitutif dan enzim
induktif. Enzim konstitutif ialah enzim yang dibentuk terus-menerus oleh sel tanpa peduli apakah
substratnya ada atau tidak. Enzim induktif (enzim adaptif) ialah enzim yang dibentuk karena adanya
rangsangan substrat atau senyawa tertentu yang lain. Misalnya pembentukan enzim beta-galaktosida pada
escherichia coli yang diinduksi oleh laktosa sebagai substratnya. Tetapi ada senyawa lain juga yang dapat
menginduksi enzim tersebut walaupun tidak merupakan substarnya, yaitu melibiosa. Tanpa adanya laktosa
atau melibiosa, maka enzim beta-galaktosidasa tidak disintesis, tetapi sintesisnya akan dimulai bila
ditambahkan laktosa atau melibiosa.
Dalam peranannya ,enzim sering memerlukan senyawa organik tertentu selain protein. Ditinjau dari
fungsinya, dikenal adanya koenzim yang berperan sebagai pemindah hidrogen, pemindah elektron,
pemindah gugusan kimia tertentu (group transferring) dan koenzim dari isomerasa dan liasa.

BAB III
KESIMPULAN

Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa
mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri. Katalis terbagi menjadi tiga yaitu katalis
homogen, katalis heterogen dan biokatalis. Katalis memiliki fungsi utama antara lain dapat mempercepat
laju reaksi. Katalis sangat berperan penting dalam reaksi kimia terutama dalam berbagai industry. Aplikasi
katalis sangat banyak dalam dunia perindustrian antara lain Industri asam sulfat menggunakan katalisator
V2O5, Industri amonia menggunakan De, Industri Hidrocraking menggunakan Logam (seperti Pd) pada
zeolit,dll.