Anda di halaman 1dari 4

Abidah Ardiningsih

125020301111049
Forensic and Fraud Examination CC
Revolution of Fraud Theory
1. Fraud Triangle Theory dan Diamond Theory
Fraud triangle pertama kali diperkenalkan oleh Cressey pada tahun 1953. Konsep ini dikenal
dengan fraud triangle theory yang muncul ketika Cressey melakukan serangkaian wawancara dg 113
orang yang telah di hukum karena melakukan penggelapan uang perusahaan yg disebutnya trust
violators atau pelanggar kepercayaan. Hal tersebut merupakan bentuk kecurangan, bedahalnya dengan
fraud triangle ini teori yang mendasari seseorang melakukan fraud.Jadi, menurut Cressey setiap . yang
terjadi pada perusahaan selalu didasari oleh 3 hal, yaitu
a. tekanan/motif (Incentive)
Tekanan/Motif ini yg mendorong orang melakukan kecurangan krn tuntutan gaya hidup,
ketidakberdayaan dlm soal keuangan, perilaku gambling, mencoba-coba untuk mengalahkan
sistem dan ketidakpuasan kerja. .Tekanan/motif ini sesungguhnya mempunyai dua bentuk
yaitu nyata (direct) dan bentuk persepsi (indirect) .Bentuk nyata (direct) ini adalah kondisi
kehidupan nyata yang dihadapi oleh pelaku seperti kebiasaan sering berjudi, party/clubbing,
atau persoalan keuangan.Berikutnya adalah bentuk Persepsi (indirect) yang merupakan opini
yang dibangun oleh pelaku yang mendorong untuk melakukan kecurangan seperti executive
need. .Dalam SAS No. 99, terdapat empat jenis kondisi yang umum terjadi pada
tekanan/motif yang dapat mengakibatkan orang melakukan fraud, keempat kondisi tersebut
adalah financial stability, external pressure, personal financial need, dan financial targets.
b. Kesempatan (Opportunity)
kesempatan yaitu peluang yang menyebabkan pelaku secara leluasa dapat menjalankan
aksinya yang disebabkan oleh pengendalian internal yg lemah, ketidakdisplinan, kelemahan
dlm mengakses informasi, tidak ada mekanisme audit & sikap apatis.Hal yang paling
menonjol di sini adalah pengendalian internal. Pengendalian internal yang tidak baik akan
memberi peluang orang untuk melakukan kecurangan. Menurut SAS No. 99 menyebutkan

bahwa peluang/kesempatan pada financial statement fraud dapat terjadi pada tiga kategori
kondisi tersebut adalah nature of industry, ineffective monitoring, dan organizational
structure.
c. Rasionalisasi (Rationalization)
Rasionalisasi menjadi elemen penting dalam terjadinya ., di mana pelaku selalu mencari
pembenaran atas perbuatannya. Sikap atau Karakter yg dimiliki pelaku, akan menentukan
rasionalisasi atas pembenaran kecurangan yg dilakukan, Contohnya bagi mereka yang
umumnya tidak jujur, mungkin lebih mudah untuk merasionalisasi penipuan. Ketiga faktor
tersebut belumlah cukup menjadi perhatian suatu organisasi dan perusahaan dalam upaya
mencegah atau mendeteksi terjadinya fraud.Oleh karena itu perlu mempertimbangkan faktor
lain, yaitu
d. Individual capability.Individual capability adalah sifat dan kemampuan pribadi seseorang
yang mempunyai peranan besar yg memungkinkan melakukan suatu tindak kecurangan.
Selain ada tiga elemen yang sudah dibahas ada satu elemen tambahan. Keempat elemen
inilah disebut dengan . diamond. Di elemen yang keempat ini, ada beberapa komponen
kemampuan (Capability) untuk menciptakan ., yaitu posisi dan fungsi, kecerdasan, tingkat
kepercayaan diri atau biasa disebut sebagai ego, kemampuan pemaksaan (coercion skills)
kebohongan yang efektif, dan kekebalan terhadap stres (Immunity to stress).Dalam .
diamond, sifat-sifat dan kemampuan individu memainkan peran utama dalam terjadinya
fraud. Banyak kecurangan-kecurangan besar tidak akan terjadi tanpa orang-orang yang
memiliki kemampaun individu/capability. Walaupun peluang(opportunity) membuka jalan
untuk melakukan, dan insentif serta rasionalisasi dapat menarik orang ke arah tersebut, tetapi
seseorang harus memiliki kemampuan untuk melihat celah melakukan . sebagai kesempatan
dan untuk mengambil keuntungan dari itu, tidak hanya sekali, tetapi terus menerus. Dengan
demikian, . itu terjadi karena adanya kesempatan untuk melakukannya tekanan dan
rasionalisasi yang membuat orang mau melakukannya dan kemampuan individu yang
mampu merealisasikannya

2. GONE Theory

Sigmund Freud adalah tokoh sakral dalam psikologi. Freud memberi gambaran gamblang kaitan
korupsi dan perkembangan kepribadian seseorang. Freud membantu memahami bahwa perilaku korupsi
erat hubungannya dengan hambatan kepribadian seseorang di masa kanak-kanak. Sigmund Freud
merupakan pendiri psikoanalisis. Psikoanalisis adalah aliran yang mendalami jiwa manusia sampai ke
alam bawah sadarnya. Dia mencari sebab perilaku manusia pada dinamika jauh di dalam diri manusia.
Karena itu psikoanalisis disebut juga psikologi mendalam. Depth psychology.
Teori psikoanalisis fokus pada pentingnya pengalaman masa kanak-kanak. Intinya, masa kanakkanak memegang peran menentukan dalam membentuk kepribadian dan tingkah laku manusia ketika
dewasa kelak. Ada lima tahap perkembangan kepribadian dalam psikoanalisis. Menurut Freud, manusia,
dalam perkembangan kepribadiannya, melalui tahapan oral, anal, phallis, laten, dan genital.
Lantas, apakah hubungan tahap perkembangan ini dengan perilaku korupsi?
Pemikir Jack Bologne mengatakan, akar penyebab korupsi ada empat: Greed, Opportunity, Need,
Exposes. Dia menyebutnya GONE theory, yang diambil dari huruf depan tiap kata tadi.
Greed terkait keserakahan dan kerakusan para pelaku korupsi. Koruptor adalah orang yang tidak
puas pada keadaan dirinya. Punya satu gunung emas, berhasrat punya gunung emas yang lain. Punya
harta segudang, ingin pulau pribadi.
Opportunity terkait dengan sistem yang memberi lubang terjadinya korupsi. Sistem pengendalian
tak rapi, yang memungkinkan seseorang bekerja asal-asalan. Mudah timbul penyimpangan. Saat
bersamaan, sistem pengawasan tak ketat. Orang gampang memanipulasi angka. Bebas berlaku curang.
Peluang korupsi menganga lebar.
Need berhubungan dengan sikap mental yang tidak pernah cukup, penuh sikap konsumerisme,
dan selalu sarat kebutuhan yang tak pernah usai.
Exposes berkaitan dengan hukuman pada pelaku korupsi yang rendah. Hukuman yang tidak
membuat jera sang pelaku maupun orang lain. Deterrence effect yang minim.
Empat akar masalah di atas merupakan halangan besar pemberantasan korupsi. Tapi, dari
keempat akar persoalan korupsi tadi, bagi saya, pusat segalanya adalah sikap rakus dan serakah. Greed.
Sistem yang bobrok belum tentu membuat orang korupsi. Kebutuhan yang mendesak tak serta-merta

mendorong orang korupsi. Hukuman yang rendah bagi pelaku korupsi belum tentu membikin orang lain
terinspirasi ikut korupsi.
Pendeknya, perilaku koruptif bermula dari sikap serakah yang akut. Adanya sifat rakus dan tamak
tiada tara. Korupsi, meminjam syair Rendra, menyebabkan ada orang yang berlimpah, ada yang terkuras;
ada yang jaya, ada yang terhina; ada yang mengikis, ada yang habis. Korupsi paralel dengan sikap
serakah.
Fiksasi dan Korupsi
Ada hubungan antara tahapan perkembangan kepribadian anak dengan kondisi anak setelah
dewasa. Bila pada tahap-tahap itu terjadi fiksasi atau hambatan perkembangan kepribadian, maka
kepribadian itulah yang dibawanya sampai besar.
Sifat serakah adalah sifat dari orang yang terhambat dalam perkembangan kepribadiannya. Yaitu
ketika dia terhambat dalam tahap kepribadian anal. Seorang anak yang mengalami hambatan kepribadian
pada fase anal, ketika besar ia akan mempertahankan kepribadian anal. Karakter orang ini ditandai dengan
kerakusan untuk memiliki. Ia merasakan kenikmatan dalam pemilikan pada hal-hal yang material.
Fase anal ditandai oleh kesenangan anak melihat kotoran yang keluar dari anusnya. Kini, kotoran
telah diganti benda lain. Benda itu berwujud uang, mobil, rumah, saham, berlian, emas, intan. Koruptor
adalah anak kecil dalam tubuh orang dewasa. Badannya besar, jiwanya kerdil.
Untuk menyembuhkannya, hilangkan hambatan itu. Tunjukkan padanya bahwa pada dasarnya dia
belum dewasa. Kesenangannya mengumpulkan harta adalah simbol perilaku menyimpang akibat
terhambat dalam perkembangan kepribadian di masa kanak-kanak.Alhasil, koruptor adalah orang yang
belum dewasa. Ia masih perlu belajar memperbaiki kualitas kepribadiannya.