Anda di halaman 1dari 20

I.

JUDUL
Kimia Belerang
II. TUJUAN PERCOBAAN

Menyelidiki pengaruh suhu terhadap perubahan belerang.

Mensintesis gas H2S


Mensintesis Na2S2O3.5H2O
Membuktikan asam sulfat pekat sebagai zat pengoksidasi, zat dehidrasi dan katalis.

III.DASAR TEORI
Belerang atau sulfur merupakan unsur kimia dengan lambang unsur S dan nomor
atom 16. Belerang memiliki bentuk non-metal yang tidak berasa, tidak berbau dan
multivalent. Di kerak bumi, belerang terdapat sebagai unsurnya, mineral sulfida dan sulfat,
gas H2S dalam gas alam dan sebagai senyawa belerang organik dalam batubara dan minyak.
Belerang dapat ditambang menurut proses Frasch, yaitu campurn air super panas dan uap air
1600C dan 16 atm dipompakan ke dalam tanah daerah mineral belerang melalui pipa besar
pertama sehingga mengakibatkan belerang mencair. Udara dengan tekanan ~20-25 atm
dipompakan melalui pipa kedua yang lebih kecil yang terdapat dalam pipa besar pertama
sehingga mengakibatkan belerang cair tertekan ke luar melalui pipa ketiga untuk kemudian
dikumpulkan sebagai padatannya.
Belerang memiliki sifat alotropi yaitu kemampuan suatu zat untuk terdapat lebih dari
satu macam bentuk, dimana sifat fisika dari bentuk alotrop suatu unsur itu sama, namun sifat
kimianya berbeda. Hubungan dari berbagai bentuk alotrop belerang adalah sebagai berikut.
960C

S rombik

1200C
4450C

1200C

S monoklin

S mobil

4450C

S viscous

S gas

S platis
(dibawah 960C)

Belerang rombik atau belerang- terdiri dari molekul S8. Belerang rombik ini larut dalam
alkohol, eter dan karbon disulfida, dan hasil penguapan perlahan-lahan dari larutan belerang
dalam pelarut-pelarut ini menghasilkan kristal oktahedral. Adapun belerang monoklin atau
belerang-, mengkristal dari leburan belerang di atas suhu 95,60C dan berbentuk jarum-jarum
prisma. Jika belerang dipanaskan secara perlahan dalam tabung reaksi, akan meleleh menjadi
cairan kuning yang terdiri dari molekul S8. Titik leleh belerang- adalah 113oC dan titik leleh
belerang- adalah 119oC, dan suhu transisi kedua modifikasi adalah 95,6 oC dan titik leleh
yang diamati bergantung pada kecepatan pemanasan. Apabila suhu dinaikkan, warna menjadi
semakin gelap dan cairan menjadi kental karena cincin S8 mulai putus dan membentuk rantai.
Kekentalan bertambah sampai mencapai maksimum pada suhu 200oC ketika cairan menjadi
hitam. Jika suhu terus dinaikkan kekentalan berkurang sampai pada titik didih 444,6oC. Uap
belerang terdiri dari S6, S4 dan S2. Apabila cairan belerang yang mendidih dituangkan ke
dalam air dingin, akan diperoleh belerang plastis atau disebut juga belerang-, yang
berbentuk rantai spiral. Jika didiamkan bentuk rantai akan berubah menjadi belerang rombik
bercincin S8.
Hidrogen sulfida (H2S) merupakan contoh senyawa belerang dalam bentuk gas yang
tidak berwarna, berbau seperti telur busuk dan sangat bersifat racun. Gas ini mudah terbakar
dalam udara dengan nyala biru dan larutannya bersifat asam lemah. H 2S sedikit larut dalam
air dan larutannya menjadi keruh karena oksidasi H2S oleh oksigen menghasilkan belerang.
Gas ini diproduksi secara alamiah oleh bakteri anaerob, misalnya pada proses pembusukan.
Sintesis gas H2S di laboratorium dapat dilakukan dengan mereaksikan pyrit (FeS) dengan
asam klorida berlebih.
FeS(s) + 2HCl(aq) FeCl2(aq) + H2S(g)
Reaksi uji terhadap gas H2S biasanya dapat dilakukan dengan menggunakan kertas yang
dibasahi larutan timbal (II) asetat yang akan menghasilkan warna cokelat hitam (PbS).
Pb(CH3COO)2(aq) + H2S(g) PbS(s) + CH3COOH(aq)
Gas H2S dapat diadsorpsi dengan larutan soda kaustik.
H2S(g) + NaOH(aq) Na2S(aq) + 2H2O(l)
Natrium tiosulfat (Na2S2O3) merupakan contoh lain senyawa belerang. Natrium
tiosulfat pentahidrat dapat dipreparasi dengan mudah dengan mendidihkan belerang dalam
larutan sulfit.
SO32-(aq) + S(s) S2O32-(aq)

Ion tiosulfat tidak stabil oleh pemanasan, mengalami disproporsionasi menjadi tiga spesies
dengan tingkat oksidasi belerang yang berbeda-beda yaitu sulfat, sulfida dan belerang.
4NaS2O3(aq) 3Na2SO4(aq) + Na2S(aq) + 4S(s)
Tiosulfat bereaksi dengan asam membentuk endapan kuning belerang dan gas belerang
dioksida.
S2O32-(aq) + 2H3O+(aq) H2S2O3(aq) + 2H2O(l)
H2S2O3(aq) H2O(l) + S(s) + SO2(g)
Pengujian terhadap senyawa kimia dalam bentuk padatan kristal salah satunya dapat
dilakukan dengan uji IR. Berikut adalah grafik uji IR terhadap senyawa natrium tiosulfat.

(16 baris : gambar)

Asam sulfat (H2SO4) dapat dibuat dengan proses kamar timbal dan proses kontak. Asam
sulfat merupakan mineral (anorganik) yang kuat dan larut dalam air pada semua
perbandingan. Adapun beberapa sifat asam sulfat antara lain adalah sebagai berikut.
a. Sebagai zat pengoksidasi.
Asam sulfat dapat mengoksidasi tembaga, karbon dan belerang.
Cu(s) + 2H2SO4(aq) CuSO4(s) + 2H2O(l) + SO2(g)
Pada reaksi tersebut, asam sulfat direduksi menjadi belerang dioksida.
b. Sebagai zat dehidrasi
Zat dehidrasi yaitu zat yang dapat menghilangkan air dari senyawa.
H2SO4 (1)
CuSO4. 5H2O(s)

CuSO4(s) + 5H2O(

c. Sebagai katalis dalam pembentukan ester


H2SO4 (1)
CH3COOH(aq) + C2H5OH(aq)

CH3COOC2H2(aq) + H2O(l)

IV. ALAT DAN BAHAN


4.1 Alat
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nama Alat
Pemanas / heater
Penjepit kayu
Tabung reaksi
Rak tabung reaksi
Cawan penguap
Batang pengaduk

Ukuran
-

Jumlah
1 buah
1 buah
5 buah
1 buah
1 buah
1 buah

7.
8.

Kaca Arloji
Gelas kimia

1 buah
2 buah

9.
10.

Spatula
Gelas ukur

11.

Kertas saring

2 buah
10 dan 25 2 buah
mL
Secukupnya

12.
13.
14.
15.

Corong
Pipet tetes
Statif dan klem
Labu Erlenmeyer

16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.

50 dan
250 mL

Keterangan
Untuk memanaskan zat
Untuk menjepit tabung reaksi
Untuk mereaksikan zat
Untuk menempatkan tabung reaksi
Untuk menguapkan larutan
Untuk mengaduk dan
mendekantasi
Untuk wadah zat
Untuk wadah larutan dan untuk
memanaskan
Untuk mengambil zat padat
Untuk mengukur volume larutan
Untuk menyaring dan menguji
adanya gas
Untuk menuangkan larutan
Untuk meneteskan larutan
Untuk menyangga alat
Untuk wadah larutan

1 buah
2 buah
1 buah
2 buah

Pipa plastik
Penyekat
Lumpang dan alu
Labu leher dua

100 dan
150 mL
-

Magnetic Stirrer
Neraca analitik
Lemari pendingin
Labu ukur
Termometer

100 mL
-

1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah

No
1
2
3
4
5

Nama Bahan
Belerang
CS2
FeS
HCl
Pb(CH3COO)2

Konsentrasi
Pekat
-

Jumlah
Secukupnya
5 mL
1,5 gram
20 Ml
Secukupnya

Keterangan
Serbuk berwarna kuning.
Larutan bening tidak berwarna.
Padatan berwarna hitam.
Larutan bening tak berwarna.
Kristal berwarna putih, Larutan

6
7
8
9

Tembaga
H2SO4
Gula pasir
CH3COOH

Pekat
-

Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya
2 Ml

berwarna putih keruh


Padatan cokelat keemasan.
Larutan bening tak berwarna.
Padatan kristal berwarna bening
Larutan bening tak berwarna,

Secukupnya
Secukupnya
1 buah
1 buah

Untuk mengalirkan gas


Untuk menyekat atau menyumbat
Untuk menggerus padatan
Untuk wadah larutan dalam
sintesis gas H2S
Untuk mengaduk zat
Untuk menimbang zat
Untuk mendinginkan zat
Untuk membuat larutan
Untuk mengukur temperatur

3.2 Bahan

10
11
12
13

C2H5OH
NaOH
Aquades
K2Cr2O7

10%
1M

2 Ml
Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya

berbau
Larutan bening tak berwarna
Larutan bening tak berwarna.
Larutan bening tak berwarna
Larutan berwarna merah jingga

14
15
16

Na2SO3
Detergen
Vaseline

6,2 gram
Secukupnya
Secukupnya

kekuningan
Padatan berwarna putih.
Padatan berwarna putih.
Gel putih berminyak

CS2

V. HASIL PENGAMATAN
a. Modifikasi Belerang
No
1

Prosedur Kerja

Ciri-ciri & Bahaya ReaktanProduk

Sebanyak 0,5 gram serbuk belerang Belerang : serbuk berwarna


dilarutkan dalam 5 mL CS2. Kemudian
kuning, bersifat racun, dapat
larutan tersebut dituangkan ke dalam
mengganggu pernapasan.
kaca arloji dan ditutup dengan kertas
saring, tetapi sebagian kecil permukaan CS : larutan bening tidak
2
dibiarkan terbuka hingga CS2 menguap.
berwarna, mudah menguap,
Larutan ini diuapkan dalam ruang
mudah terbakar, beracun, dapat
asam.
Perhatikan
kristal
yang
mengganggu pernapasan.
terbentuk.
S- : berupa kristal oktahedral

Persamaan Reaksi

Hasil Pengamatan
Ketika belerang dilarutkan

S(s) S-(s)

dalam CS2 menghasilkan


larutan yang tidak
berwarna. Setelah
dilakukan penguapan CS2,
terbentuk kristal berwarna
kuning, yang menyebar di
permukaan kaca aloji.

(Gambar)

(95,6 C)

Serbuk belerang (1 sendok) dilebur


dalam cawan penguap kemudian
dipanaskan perlahan jangan sampai
belerang cair berwarna coklat. Setelah
semua belerang melebur, pemanasan
dihentikan dan dibiarkan membeku.
Perhatikan garis-garis kristal yang
terbentuk.

S- : kristal berbentuk jarumjarum prisma.


S(s) S-(s)

Setelah serbuk belerang


dipanaskan hingga
meleleh (kuing
kecoklatan), kemudian
didiamkan, terbentuk
kristal kuning dengan
garis-garis kristal
menyerupai jarum.
(Gambar)


(2000C)

3.

Serbuk belerang dipanaskan perlahanlahan dalam tabung reaksi sambil


digoyang-goyang. Dengan cermat
amati warna viskositas belerang sejak
meleleh sampai mendidih.

Sviscous : cairan yang kental


berwarna hitam.

S(s) S viscous

Ketika belerang
dipanaskan, seiring
meningkatnya temperatur,
tingkat kekentalan
semakin mengingkat.
Namun, saat kekentalan
maksimum dan terus
dilakukan pemanasan,
tingkat kekentalan
semakin berkurang dan
menjadi mendidih.
Warna belerang ketika
meleleh adalah kuning.
Saat kekentalan
maksimum, warna
belerang berubah menjadi
cokelat gelap.
(Gambar)

4.
Belerang yang baru saja mendidih
di bawah
960C ke dalam gelas kimia yang
dituangkan
berisi air
S-(s)

S- : berbentuk spiral

S viscous

S-(s)

Ketika belerang yang


mendidih dimasukkan ke
dalam air, terbentuk
butiran-butiran kenyal dan
selang beberapa waktu
berubah menjadi keras.
(Gambar)

b. Sintesis gas H2S


No
1

Prosedur Kerja

Ciri-ciri & Bahaya ReaktanProduk

Membuat rangkaian alat menggunakan Timbal asetat : larutan


labu leher dua dan dua labu
berwarna . , beracun jika
Erlenmeyer. Kemudian
tertelan
menghubungkannya dengan selang dan
penyekat. Menutup tiap sambungan
Vaselin : gel putih berminyak
yang kedap udara menggunakan
vaselin dan kertas saring yang di basahi
dengan larutan Pb-Asetat.

Persamaan Reaksi

Hasil Pengamatan
Rangkaian alat sintesis gas
H2S

(Gambar)

Menaruh 1,5 gram FeS dalam labu


leher dua, kemudian menuangkan HCl
pekat sebanyak 20 mL ke dalamnya
yang berisi FeS. Larutan NaOH 10%
sebanyak 50 mL dimasukkan ke dalam
labu Erlenmeyer. Prosedur ini
dilakukan dalam ruang asam untuk
menghindari bahaya dari produk
dihasilkan.

FeS : padatan berwarna


hitam, beracun, dapat
mengganggu pernapasan jika
terhirup langsung.
HCl : larutan bening tak
berwarna, bersifat korosif,
dapat menyebabkan luka
bakar, beracun
NaOH : larutan bening tidak
berwarna, dapat
menyebabkan iritasi
H2S : gas yang sangat
beracun, berbau seperti telur
busuk, jika terhirup akan
menyebabkan gangguan
pernapasan.

FeS(s) + HCl(aq) H2S(g) +


FeCl2(aq)
H2S(g) + 2 NaOH(aq) Na2S(aq) + 2
H2O(l)
H2S(g) + Pb(CH3COO)2(aq) PbS(s)
+ 2 CH3COOH(aq)

Setelah HCl pekat


dituangkan ke dalam labu
leher dua yang berisi FeS,
dan diikuti dengan
pemanasan, terbentuk gas
H2S. Gas H2S
diidentifikasi dengan
mengalirkan gas tersebut
menuju labu Erlenmeyer
yang telah berisi larutan
NaOH, sehingga terjadi
perubahan warna larutan
NaOH dari bening tidak
berwarna menjadi cokelat
kekuningan.

FeCl2 : larutan
Na2S :
PbS : padatan berwarna
hitam

10

Kebocoran gas H2S yang


tidak diharapkan dapat
ditandai dengan terbentuknya
bercak hitam (PbS) pada
kertas saring yang dibasahi
timbal (II) asetat, dan apabila
ditemukannya kebocoran gas
dapat ditangani dengan
mengoleskan vaselin pada
daerah sambungan yang
bocor.

c. Preparasi Na2S2O3.5H2O
No
1.

Prosedur Kerja

Ciri-ciri & Bahaya ReaktanProduk

Persamaan Reaksi

Hasil Pengamatan

Sebanyak 6,2 gram padatan Na2SO3

Na2SO3 : padatan putih, dapat

dan 3,2 gram belerang dicampur dan

mengiritasi mata, kulit dan

belerang dicampur dan

ditumbuk sampai halus. Serbuk halus

mengganggu sistem

ditumbuk sampai halus,

tersebut ditaruh dalam labu Erlenmeyer

pernapasan.

didapatkan campuran

150 mL.

Ketika Na2SO3 dan

serbuk berwarna kuning

Belerang : serbuk kuning,

muda.

dapat mengganggu sistem


pernapasan.
2.2O
H

Campuran tersebut dituangi 40 mL

Detergen : padatan putih,

Na2SO3(s) Na2SO3(aq)

(Gambar)
Setelah dituangi 40 mL

11

aquades dan 1 tetes detergen.

berfungsi sebagai emulgator

aquades dan 1 tetes

untuk menurunkan tegangan

detergen, campuran

permukaan campuran

H2O

S(s)

tersebut belum larut secara


sempurna dan warna
larutan tidak berubah
(kuning muda).

3.

Labu
Erlenmeyer kemudiaan diisi batu
pengaduk magnetik dan ditutup dengan
kaca arloji, kemudian dipanaskan di
atas pemanas magnetik pada suhu 80-

4.

Na2S2O3 : larutan kuning

Na2SO3(aq) + S(s) Na2S2O3(aq)

(Gambar)
Campuran dipanaskan
selama 2 jam 35 menit.

muda, beracun
Na2SO4 : larutan .

4Na2S2O3(aq) 3Na2SO4(aq) +

Na2S : larutan

Na2S(aq) + 4S(s)

900C selama 2-3 jam.

(Gambar)

Hasil larutan tersebut kemudian

Filtrat yang dihasilkan

disaring dalam keadaan panas.

berupa larutan bening


tidak berwarna sebanyak
34 mL, sedangkan residu
yang dihasilkan berwarna
kuning.

5.

Belerang sisa hasil saringan

(Gambar)
Belerang sisa hasil

12

dikeringkan di udara dan ditimbang.

saringan terbentuk
sebanyak 2,07 gram.

6.

7.

Filtrat dipanaskan hingga volume

(Gambar)
Setelah dipanaskan,

menjadi setengahnya lalu didinginkan

volume filtrat menjadi 17

di kulkas sampai terbentuk kristal

mL, dan kemudian

bening.

disimpan dalam kulkas.

Kristal yang terbentuk diambil dengan

Na2S2O3(aq) + 5H2O(l)

(Gambar)
Setelah seminggu

menyaringnya. Kristal yang menempel

Na2S2O3.5H2O(s)

diletakkan dalam

pada kertas saring diangin-anginkan

kulkas/kamar asam untuk

kemudian diambil dan ditimbang.

diuapkan, terbentuk
padatan putih yang
diperoleh sebanyak .
gram.

(Gambar)
d. Sifat-Sifat Asam Sulfat

13

No
1

Prosedur Kerja
Sekeping tembaga direaksikan dengan
dengan 1 mL H2SO4 pekat, kemudian
dipanaskan dalam penangas air.
Lakukan prosedur tersebut pada ruang
asam.

Ciri-ciri & Bahaya ReaktanProduk


Tembaga : padatan berwarna
cokelat keemasan, sangat
beracun.

Persamaan Reaksi
Cu(s) + 2H2SO4(aq) CuSO4(aq) +
SO2(g) + 2H2O(l)

H2SO4 : larutan bening tidak


berwarna, bersifat
korosif,dapat menyebabkan
iritasi dan luka bakar.

Hasil Pengamatan
Setelah tembaga
direaksikan dengan asam
sulfat pekat dan
dipanaskan, terbentuk
larutan berwarna biru
gelap.

(Gambar)

CuSO4 : larutan berwarna


biru, bersifat toksik.
SO2 : gas tidak berwarna yang
bersifat sangat beracun, dapat
mengganggun system
pernapasan
2

Kertas saring dibasahi dengan larutan


K2Cr2O7 yang diasamkan, kemudian
diletakkan di mulut tabung reaksi
(percobaan I).

K2Cr2O7 : larutan berwarna


merah jingga kekuningan, larut
dalam air dan beracun

Cr2O72-(aq) + 3SO2(g) + 2H+(aq)


2Cr3+(aq) + 3SO42-(aq) + H2O(l)

Kertas saring yang telah


dibasahi K2Cr2O7
(berwarna kuning), setelah
diletakkan pada mulut
tabung reaksi kertas
tersebut berubah warna
menjadi biru kehijauan.

(Gambar)

14

Gula dimasukkan ke dalam tabung


reaksi, kemudian ditambahkan
beberapa tetes asam sulfat pekat

Gula : Kristal padat berwarna


putih

C12H22O11(s) + H2SO4(aq) 12C(s) +


H2SO4(aq) + 11H2O(l)

Karbon : padatan berwarna


hitam

Penambahan beberapa
tetes asam sulfat pekat
pada gula menghasilkan
endapan berwarna hitam.
(Gambar)

Sebanyak 2 mL asam asetat dan 2 mL


H2SO4(aq)
alkohol dimasukkan ke dalam tabung
reaksi, kemudian ditambahkan 2 mL
asam sulfat pekat dan dipanaskan
dalam penangas air panas.

CH3COOH: Larutan bening


tidak berwarna, berbau
menyengat.
C2H5OH: Larutan bening tidak
berwarna, mudah menguap
CH3COOC2H5 : Larutan
berwarna kuning orange,
berbau buah

CH3COOH(aq) + C2H5OH(aq) +
CH3COOC2H5(aq) + H2O(l)

Penambahan H2SO4 pada


salah satu tabung reaksi
yang telah berisi campuran
asam asetat dan alkohol,
menyebabkan
pembentukan produk
berlangsung lebih cepat.
Pada campuran yang
ditambahkan asam sulfat
pekat, terbentuk larutan
dua fase sedangkan pada
campuran yang tidak
ditambahkan asam sulfat
pekat tidak terbentuk. Bau
buah-buahan yang timbul
lebih cepat terbentuk pada
campuran yang
ditambahkan asam sulfat
pekat.

15

(Gambar)

VI. PEMBAHASAN
a. Modifikasi Belerang
Dalam percobaan modifikasi belerang dilakukan beberapa tahap pengujian. Tahap pengujian yang pertama yaitu pembentukan
kristal dari campuran belerang dengan CS2. Dari hasil pelarutan tersebut diperoleh larutan berwarna kuning pudar. Beberapa menit
kemudian setelah larutan tersebut ditutup dalam kaca arloji dengan menggunakan kertas saring, terbentuk kristal belerang rombik
berwarna kuning yang merupakan kristal oktahedral yang tersebar pada permukaan kaca arloji. Reaksi yang terjadi adalah sebagai
berikut:
S (s)

S (aq)
S (rombik)
CS2
Tahap pengujian kedua yaitu pembentukan kristal dari lelehan belerang yang kemudian dibiarkan sehingga membeku. Pengujian
ini diawali dengan memanaskan serbuk belerang secara perlahan-lahan. Hasil dari pemanasan serbuk belerang tersebut menghasilkan
cairan berwarna kuning kecoklatan. Setelah cairan tersebut didiamkan, terbentuk kristal berwarna kuning dan terbentuk garis-garis kristal
seperti jarum. Kristal yang terbentuk adalah belerang monoklin yang diperoleh setelah melalui pemanasan serbuk belerang. Hal ini
menunjukkan bahwa belerang rombik atau disebut juga belerang- telah berubah wujud menjadi belerang monoklin yang disebut juga
belerang- pada suhu sekitar 95,6o C. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
16
95,6o C
CS

S-

S-

Pada tahap pengujian ketiga yaitu mengamati warna dan viskositas belerang sejak meleleh sampai mendidih. Setelah dipanaskan,
serbuk belerang mencair menghasilkan warna kuning kecoklatan serta semakin mengental. Pada tahap ini telah terbentuk belerang
viscous. Belerang yang mengental disebabkan karena cincin S8 mulai putus dan membentuk rantai dengan adanya pemanasan.
Selanjutnya ketika terus dilakukan pemanasan, warna belerang semakin coklat hingga berubah menjadi coklat gelap dan larutan pun
mulai mendidih. Pemanasan yang terus dilakukan telah menyebabkan kekentalan belerang terus bertambah hingga mencapai suhu
maksimum pada 200o C ketika cairan menjadi hitam. Pada saat suhu terus dinaikkan kekentalan belerang akan berkurang sampai pada
titik didih 444,6o C.
Pada percobaan yang terakhir hasil pemanasan belerang yang telah mendidih tersebut dimasukkan kedalam air dingin dan
menghasilkan padatan berwarna coklat yang kenyal. Kemudian setelah beberapa menit padatan tersebut mulai mengeras. Hal ini terjadi
karena adanya perubahan suhu yang drastis. Pada saat cairan belerang yang mendidih dituangkan ke dalam air, akan diperoleh belerang
plastis yang terdiri dari molekul seperti rantai dan mempunyai kualitas seperti karet ketika awal terbentuk. Tetapi selanjutnya ketika
didiamkan bentuk rantai akan berubah menjadi belerang rombik bercincin S8.
b. Sintesis Gas H2S
c. Sifat Asam Sulfat Pekat
Pada percobaan ini dilakukan analisis terhadap sifat-sifat dari larutan asam sulfat pekat. Adapun pengujian sifat asam sulfat pekat ini
dilakukan dengan mereaksikan larutan asam sulfat pekat dengan sekeping logam tembaga (Cu) dalam tabung reaksi dan dipanaskan (tidak
sampai mendidih). Pemanasan yang dilakukan terhadap larutan tersebut menyebabkan munculnya gelembung-gelembung gas dan perlahan
warna larutan yang semula berwarna bening menjadi coklat kehitaman serta tembaga dalam larutan tersebut mulai melarut. Berdasarkan teori,
seharusnya saat sekeping tembaga (Cu) direaksikan dengan H2SO4 pekat menghasilkan larutan tembaga sulfat (CuSO4) yang berwarna biru
muda. Persamaan reaksinya sebagai berikut:
17

Cu(s) + 2H2SO4(aq) CuSO4(s) + 2H2O(l) + SO2(g)


Berdasarkan reaksi di atas H2SO4 akan mengoksidasi tembaga sehingga menghasilkan CuSO4 yang berwarna biru muda. Namun pada
percobaan ini, hasil pelarutan tembaga dalam asam sulfat pekat diperoleh larutan berwarna coklat hitam. Adanya perbedaan warna larutan yang
dihasilkan pada saat percobaan dengan warna larutan berdasarkan teori adalah diperkirakan bahwa telah terkontaminasinya tembaga (Cu) oleh
oksigen yang terdapat di udara, sehingga warna larutan yang seharusnya biru muda menjadi coklat kehitaman karena terdapatnya kandungan
CuO dalam larutan tersebut.
Selanjutnya untuk mengetahui adanya gas SO2 yang terbentuk pada reaksi tersebut, digunakan kertas saring yang telah dibasahi dengan
larutan K2Cr2O7 yang telah diasamkan dengan larutan HCl yang diletakkan pada mulut tabung reaksi. Berdasarkan hal tersebut dihasilkan warna
kuning pada kertas saring. Selanjutnya setelah kertas saring tersebut diletakkan pada mulut tabung reaksi, terjadi perubahan warna kertas saring
dari kuning menjadi biru kehijauan. Adapun warna biru kehijauan yang dihasilkan tersebut menunjukkan bahwa telah terbentuknya ion Cr+3 hasil
dari reaksi antara gas SO2 dalam larutan tersebut dengan ion Cr2O7 yang terdapat pada kertas saring. Adapun reaksi yang terjadi adalah sebagai
berikut:
3SO2(g) + Cr2O72-(aq) 2Cr3+(aq) + 3SO42-(aq) + H2O(l)

(biru kehijauan)

Percobaan selanjutnya adalah untuk menguji sifat asam sulfat pekat sebagai zat dehidrasi, yaitu mereaksikan gula dengan H2SO4 pekat.
Gula yang digunakan dalam percobaan ini adalah sukrosa yang berbentuk kristal berwarna putih. Penambahan beberapa tetes H2SO4 pekat
(bening tidak berwarna) pada sukrosa yang terdapat dalam tabung reaksi menghasilkan larutan berwarna hitam. Warna hitam yang dihasilkan
menunjukkan bahwa terbentuk karbon dalam reaksi tersebut. Sementara itu unsur-unsur hidrogen dan oksigen yang terdapat dalam sukrosa
dipisahkan dari karbon menjadi H2O. Persamaan reaksinya yaitu sebagai berikut:
H2SO4

C12H22O11(s)

12C(s) + 11H2O(l)

18

Berdasarkan percobaan tersebut, dapat diamati bahwa asam sulfat memiliki kemampuan untuk melenyapkan komponen air dari struktur
formula suatu senyawa atau disebut juga bersifat sebagai dehidrator, sehingga gula dapat diubah menjadi karbon dan air melalui reaksi eksoterm.
Selanjutnya H2SO4 juga berperan sebagai katalis dalam pembentukan ester (esterifikasi). Pada proses ini, H2SO4 berperan sebagai katalis
untuk mempercepat berlangsungnya reaksi esterifikasi. Dalam percobaan yang dilakukan, direaksikan asam asetat (bening tidak berwarna) dan
etanol (bening tidak berwarna) serta ditambahkan H2SO4 pekat (bening tidak berwarna). Larutan tersebut kemudian dipanaskan selama beberapa
menit. Dari pemanasan tersebut dapat tercium aroma khas yang keluar dari larutan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa dalam larutan tersebut
telah terbentuk ester yaitu etil-etanoat (dietilester). Berdasarkan percobaan tersebut dapat dibuktikan bahwa H2SO4 berfungsi sebagai katalis yang
dapat mempercepat terjadinya reaksi esterifikasi. Persamaan reaksi esterifikasi antara asam asetat dengan etanol adalah sebagai berikut:

CH3COOH(aq) + C2H5OH(aq)

H2SO4

O
+ H2O(l)

CH3C
O

as. asetat
VII.

etanol

C2H5(aq)

etil-etanoat (dietilester)

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.
1. Beberap pengaruh perubahan suhu terhadap modifikasi belerang, yaitu:
-Belerang dapat larut dalam CS2 dan ketika larutan tersebut diuapkan dapat membentuk kristal belerang-.
-Leburan belerang dapat mengkristal membentuk -belerang yang berupa jarum-jarum.
-Hasil pemanasan belerang menunjukan perubahan warna serta kekentalan karena adanya perubahan struktur dalam molekul belerang.
-Cairan belerang yang telah mendidih jika dituangkan ke dalam air dapat membentuk belerang plastis.
2. Gas hidrogen sulfida (H2S) dapat dihasilkan dengan mereaksikan pyrit (FeS) dan HCl pekat yang kemudian dapat identifikasi dengan
menggunakan kertas yang dibasahi dengan Pb-asetat sehingga menghasilkan warna hitam PbS pada kertas.
3. Asam sulfat terbukti memiliki sifat sebagai zat pengoksidasi, zat dehidrasi, sebagai katalis dalam proses esterifikasi.
19

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Achmad, Hiskia. 1990. Penuntun Praktikum Kimia Anorganik. Bandung : Jurusan Kimia FMIPA ITB
Karyase,Wayan.2011. Buku Ajar Praktikum Anorganik Berwawasan Lingkungan. Singaraj : Undiksha Press
Manimpan Siregar, Ida Bagus Nyoman Sudria. 2000. Buku Ajar Kimia Anorganik I. Singaraja: STKIP Singaraja
Cotton dan Wilkinson. 2009. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta : UI Press

20