Anda di halaman 1dari 3

Neurotransmitter Pada Rasa Nyeri

Neuroregulator atau substansi yang mempengaruhi transmisi stimulasi saraf memegang


peranan yang penting dalam suatu pengalaman nyeri. Substansi ini ditemukan di lokasi
nosiseptor, di terminal saraf didalam kornu dorsalis pada medulla spinalis. Neuroregulator
dibagi menjadi dua kelompok, yaitu neurotransmitter dan neuromodulator (Potter & Perry,
2005).
Komunikasi antar neuron terjadi melalui penghubung antar neuron atau sinaps. Sebuah
sinaps bukan merupakan hubungan langsung, tetapi terdapat celah pemisah (celah sinaps)
yang harus dilewati oleh impuls yang dihantarkan. Meskipun dalam beberapa bagian sistem
saraf kegiatan elektrik satu neuron dapat langsung merangsang neuron lainnya, namun pada
sejumlah besar terdapat senyawa kimia yang berfungsi sebagai agen penghantar. Ketika
sebuah impuls saraf mencapai ujung axon, suatu senyawa kimia yang disebut
neurotransmitter dilepaskan dan masuk kedalam celah sinaps (Heryati, 2008).
Neurotransmitter terikat pada reseptor khusus pada selaput sel penerima dan mengubah
daya tembusnya kearah depolarisasi. Jika depolarisasi menjadi cukup besar untuk dapat
melampaui titik rangsang, maka sel itu membakar aksi potensial melalui axonnya untuk
mempengaruhi neuron lain. Proses ini terjadi pada sinaps excitatory, tetapi ada juga sinaps
inhibitory yang bekerja bersamaan tetapi dengan cara berlawanan (Heryati, 2008).
Neurotransmitter yang bekerja pada transmisi rasa nyeri adalah : (Kalat, 2011)
a. Glutamat
Glutamat merupakan neurotransmitter excitatory utama pada otak dimana hampir tiap
area otak berisi glutamat. Glutamat memiliki konsentrasi tinggi di corticostriatal dan
didalam sel cellebellar. Gangguan pada neurotransmitter ini akan mengakibatkan
gangguan atau penyakit bipolar afektif dan epilepsi. Fungsi utama glutamat adalah
pengaturan kemmapuan memori dan memelihara fungsi automatic.
b. GABA (Asam gamma-Aminobutirat)
Ditemukan pada seluruh sistem saraf pusat, berlokasi di hipotalamus, hipocampus,
korteks, serebelum, basal ganglia, medula spinalis, dan retina. GABA penting didalam
otak karena menjaga penembakan banyak neuron. GABA membantu ketepatan sinyal
yang dibawa dari satu neuron ke neuron lainnya.

c. Nor-Epineprin
Memiliki konsentrasi tinggi didalam locus ceruleus serta dalam konsentrasi sekunder
dalam hipocampus, amygdala, dan korteks cerebral. Dipindahkan dari celah synaptic
dan kembali ke penyimpanan melalui proses reuptake aktif. Menghambat penembakan
neuron dalam sistem saraf pusat, tetapi membangkitkan otot jantung, jantung, usus, dan
alat urogenitalia. Nor-epineprin juga membantu mengendlikan kewaspadaan serta
berfungsi dalam proses pembelajaran dan memory.
d. Serotonin
Disekresikan oleh nucleus yang berasal dari batang otak dan berproyeksi di sebagian
besar area otak. Serotonin dapat bekerja sebagai penghambat rasa nyeri dalam medulla
spinalis. Serotonin yang menurun berhubungan dengan gejala depresi, dimana terdapat
penurunan jumlah reseptor postsinaps 5-HT1A dan 5-HT2a pada pasien dengan depresi
berat.
Referred Pain (Nyeri Alihan)
Nyeri alih adalah nyeri yang timbul akibat adanya nyeri viseral yang menjalar ke organ lain,
sehingga dirasakan nyeri pada beberapa tempat atau lokasi. Nyeri jenis ini dapat timbul
karena masuknya neuron sensori dari organ yang mengalami nyeri kedalam medulla spinalis
dan mengalami sinapsis dengan serabut saraf yang berada pada bagian tubuh lainnya. Nyeri
timbul biasanya pada beberapa tempat yang kadang jauh dari lokasi asal nyeri (Tamsuri,
2007).
Mekanisme terjadinya reffered pain terdiri dari dua macam, yaitu : (Tamsuri, 2007).
1. Teori Konvergensi
Traktus spinotalamikus lateralis adalah tempat berkumpulnya serat-serat sensori nyeri,
baik dari somatik maupun dari viseral, yang akan berakhir di thalamus, dan kemudian
di relay oleh thalamus ke korteks somatosensorik. Karena impuls nyeri somatik lebih
sering terjadi daripada impuls nyeri viseral, makan korteks somatosensorik seolah lebih
mengenal nyeri somatik daripada nyeri viseral. Karena itu nyeri viseral sering
diinterpretasikan sebagai nyeri oleh korteks.

2. Teori Fasilitasi
Impuls nyeri viseral dikatakan merendahkan ambang rangsang neurotraktus
spinothalamikus, yang menerima sinaps dari serat aferensomatik. Fasilitas tersebut
dengan adanya cabang serat aferen visera yang bersinap di neuron traktus
spinothalamikus tersebut dan menimbulkan excitatory post synaptic potential (EPSP).
Dengan demikian neuron-neuron traktus spinothalamikus lateralis yang menerima
sinaps ganda tersebut sangat mudah untuk terbangkit oleh impuls lemah dari aferen
nyeri somatik, pada keadaan biasa tidak terbangkit oleh impuls lemah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Kalat, J.W. 2011. Biopsikologi. Jakarta: Salemba Humanika.

Potter, Perry. 2005. Buku Saku Keterampilan dan Prosedur Dasar. Edisi 5. Jakarta:
EGC.

Heryati, E., Nur Faizah. 2008. Psikologi Faal. Bandung: Universitas Pendidikan
Indonesia.

Tamsuri, A. (2007). Konsep dan penatalaksanaan nyeri. Jakarta : EGC.