Anda di halaman 1dari 15

SISTEM SENSORI

A. Pendahuluan
1. Tujuan
a. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepekaan indra
pengecap
b. Mengetahui

faktor-faktor

yang

mempengaruhi

kepekaan

indera pembau
c. Mengetahui gambaran reseptor pada kulit
d. Mengetahui pengaruh jenis kelamin terhadap keberadaan
reseptor suhu pada kulit
e. Mengetahui pengaruh intensitas cahaya dan akomodasi mata
terhadap refleks pupil
2. Dasar Teori
Semua sistem sensorik mempunyai sifat umum yang sama.
Sistem-sistem tersebut diawali dengan stimulus, dalam bentuk
stimulus, dalam bentuk energi fisik yang bekerja pada reseptor
sensorik.
mengubah

Reseptor

tersebut

stimulus

merupakan

menjadi

sinyal

transduser.

intraseluler,

Yang

biasanya

pengubahan Potensial membran. Bila stimulus berada diatas


ambang rangsang, potensial aksi dihantarkan sepanjang neuron
sensorik ke sistem saraf pusat, yang mana sinyal yang masuk
akan diintegrasikan. Beberapa stimulus akan diteruskan menuju
ujung atas korteks serebrum, tempat stimulus merasakan
sesuatu dengan sadar, tetapi yang lain bekerja di bawah sadar,
tanpa pernah kita sadari. Pada setiap sinaps di sepanjang jaras,
sistem saraf

dapat memodulasi dan membentuk informasi

sensorik (Silverthorn, 2013 ).


Kompleksitas reseptor pada sistem sensorik sangat bervariasi.
Indera khusus mempunyai reseptor yang sangat khusus. Menurut
Chambell

(2004)

alat

indera

adalah alat-alat

tubuh

yang

berfungsi mengetahui keadaan luar. Alat indera manusia sering


disebut panca indera, karena terdiri dari lima indera yaitu indera
penglihat

(mata),

indera

pendengaran

(telinga),

indera

penghiduan/penciuman (hidung), indera pengecapan (lidah) dan


indera peraba (telinga).

Reseptor dibagi menjadi empat kelompok besar, berdasarkan


jenis rangsang yang paling sensitif untuknya. Kemoreseptor
berespons terhadap zat kimia yang berkaitan dengan reseptor.
Mekanoreseptor berespons terhadap berbagai bentuk energi
mekanik, seperti tekanan, getaran, percepatan, dan bunyi.
Termoreseptor

berespons

pada

terhadap

suhu,

dan

fotoreseptor untuk penglihatan yang berespons pada cahaya


(Silverthorn, 2013 ).
Pengecapan dan

penghiduan

merupakan

contoh

dari

kemoreseptor. Indera khusus bergantung kepada reseptor untuk


mengubah

informasi

mengenai

lingkungan

menjadi

pola

potensial aksi yang dapat diinterpretasi oleh otak.Lidah adalah salah


satu dari panca indera yang berfungsi sebagai alatpengecap(Irianto, 2012).
Pengecap rasa pada lidah disebut dengan taste buds. Taste buds mengandung poripori atau dikenal sebagai taste pore yang mengandung mikrovili dan membawa
sel gustatoris yang akan distimuli oleh berbagai cairan kimiawi. Mikrovili
merupakan reseptor permukaan bagi rasa. Serabut nervus sensorik dari taste buds
pada bagian anterior lidah menghantarkan impuls ke batang otak melalui chorda
tympani (cabang dari nervus facialis). Bagian posterior lidah menghantar impuls
ke batang otak melaluinervus glossopharyng sedangkan taste buds pada pharynx
dan epiglotis diinervasi oleh nervus vagus untuk menginterpretasikan rasa (Marya,
2002 dalam Dhio,2014).
Penghiduan terjadi di dalam rongga hidung yang terdapat selaput lendirnya.
Pada selaput ini terdapat sel pembau. Pada sel-sel pembau terdapat ujung-ujung
saraf pembau atau saraf kranial ( nervus olfaktorius) yang selanjutnya akan
bergabung membentuk serabut-serabut saraf pembau untuk berjalin dengan
serabut-serabut otak (bulbus olfaktorius). Fungsi dari hidung adalah menerima
rangsangan bau-bauan. Sel-sel pembau mempunyai rambut-rambut halus yang
mempunyai tugas menerima rangsangan bau yang berupa uap. Dari sel-sel
pembau keluar serabut-serabut saraf yang menuju ke dalam otak melalui lubanglubang tulang tapis (Irianto, 2012).
Peraba merupakan contoh dari mekanoreseptor. Pada vertebrata, reseptor taktil
muncul di atas sebagian besar permukaan luar tubuh. Beberapa reseptor tersebut
merupakan ujung saraf bebas, dan reseptor yang lain merupakan korpuskula

khusus yang mengandung ujung saraf sensori. Pada manusia, korpulskula ini
merupakan bagian paling sensitif dan berjarak sangat dekat dengan wajah dan
bagian dalam jari. Di ujung jari tekanan sebesar 3 gram per millimeter persegi
dapat terdeteksi dan dua titik berjarak 2,3 mm akan menerima sensasi yang
berbeda, sedangkan bagian punggung tubuh minimal 48 gram dan 67 mm.
(Usinger dan Tracy, 200).
Mata merupakan organ indera yang rumit, mata disusun dari bercak sensitif
cahaya primitive. Dalam selubung perlindunganya mata mempunyai lapisan
reseptor atau biasa dikenal dengan nama fotoseptor. Mata mempunyai fungsi
untuk melihat dan saraf untuk transduksi bentuk sinar. Fotoreseptor dalam retina
mengubah rangsangan sinar ke dalam bentuk sinyal saraf kemudian
mentransmisikan ke pusat visual di otak melalui elemen saraf integratif.
(Syaifuddin, 2010).
B. Bahan, Alat dan Metode Kerja
Pada praktikum sistem sensori dilakukan beberapa percobaan
antara lain uji reseptor pada lidah

(pengecap), uji reseptor bau

pada hidung (pembau), uji reseptor panas dingin dan sentuhan pada
kulit, kemudian pada reseptor penglihatan yaitu refleks pupil.
1. Pengecap
Percobaan ini dibutuhkan beberapa bahan seperti larutan
garam, larutan cuka, larutan gula, larutan kina, larutan MSG,
air putih dan es batu. Selain bahan yang diperlukan, alat pun
sangat

dibutuhkan

untuk

kelancaran

berlangsungnya

praktikum ini yaitu cotton bud, cawan peri, gelas kimia, sapu
tangan dan tissue/kapas.
Metode kerja pada
membersihkan

gusi

dan

percobaan
lidah

ini

dimulai

praktikan

dari

dengan
sisa-sisa

makanan dengan berkumur. Kemudian lidah dibersihkan


dengan tissue/kapas agar tidak basah oleh air ludah. Langkah
selanjutnya cairan dituangkan pada cawan peri dan cotton
buddirendam pada tiap larutan. Kemudian mata praktikan
ditutup, dengan tujuan agar praktikan tidak mengetahui
larutan apa yang digunakan. Setelah mata ditutup kemudian
cotton bud disentuhkan pada beberapa daerah lidah dan

ditanyakan rasa apa yang dirasakan praktikan. Apabila


jawaban praktikan sesuai dengan larutan yang dicobakan,
diberi tanda + pada gambar lidah dan bila tidak sesuai diberi
tanda -. Kemudian ditentukan intensitas rasa pada setiap
daerah lidah yang diuji dengan tanda (tidak terasa), +
(kurang terasa), ++ (terasa), dan +++ (sangat terasa).
Kemudian langkah diatas diulang dengan cotton budyang lain
sesuai larutannya dengan syarat setiap larutan yang akan
diganti,

praktikan

Selanjutnya

harus

percobaan

praktikan

mengulum

kemudian

hasilnya

ini
es

berkumur
diulangi
batu

terlebih

setelah

selama

dahulu.

sebelumnya

beberapa

dibandingkan.langkah

terakhir

detik
dari

percobaan ini dibuat peta penyebaran reseptor rasa pada


lidah yang sesuai dengan hasil yang diperoleh.
2. Pembau
Percobaan ini membutuhkan bahan seperti minyak wangi
dan parfum. Sedangkan alat yang dibutuhkan yaitu botol
flakon dan stopwacth.
Sebelum praktikum ini dimulai ada persyaratan untuk
kondisi praktikan yaitu tidak boleh flu atau pilek. Aktivitas ini
dilakukan

secara

berpasangan

yang

mana

salah

satu

bertindak sebagai subjek kemudian waktu dan hasil dicatat


oleh pasanganya. Metode kerja yang pertama adalah bahan
uji dituangkan pada botol flakon secukupnya. Kemudian
lubang hidung sebelah kiri ditutup, bahan ditempatkan
kurang-lebih 15 cm dari lubang praktikan. Setelah itu setelah
itu tutup flakon dibuka dan tangan dikibaskan (satu kali).
Pada saat bahan uji coba dibaui melalui lubang hidung yang
terbuka, dengan nafas diambil secara tenang pada saat
keadaan

mulut

ditutup.

Kemudian

waktu

dicatat

sejak

dimulainya proses pembauan hingga bau yang dirasakan


hilang [Olfaktory fatigue times (OFT)]. Setelah itu botol flakon
ditutup, dan langkah sebelum ini yaitu Setelah tutup flakon
dibuka dan tangan dikibaskan (satu kali). Pada saat bahan uji

coba dibaui melalui lubang hidung yang terbuka, dengan


nafas diambil secara tenang pada saat keadaan mulut
ditutup, diulangi. Untuk bahan lainya segera setelah OFT
untuk bahan pertama telah dicapai. Percobaan ini diulang
sampai 3x, kemudian rata-rata OFT dihitung. Setelah OFT
dicapai

untuk

semua

bahan,

praktikan

diminta

untuk

membuka lubang hidung dan praktikan diminta menjawab


pertanyaan apakah praktiakan kesulitan saat membaui.
Langkah terakhir yaitu hasil pengamatan dicatat.
3. Reseptor pada Kulit
Uji reseptor pada kulit ini dilakukan dua percobaan yaitu
reseptor panas dingin dan reseptor sentuhan.dengan bahan
yang digunakan air panas dan air dingin. Sedangkan alat
yang dibutuhkan yaitu penggaris, jarum pentul, jangka, gelas
kimia, pulpen dan sapu tangan.
Langkah kerja yang dilakukan dalam pecobaan reseptor
panas dan dingin yaitu dimulai dari dibuatnya kotak dengan
ukuran 2,8 x 2,8 cm yang dibagi menjadi 64 kotak. Kemudian
jarum pentul dimasukkan ke dalam gelas kimia yang berisi air
panas dan air dingin pada jarum lainya. Selanjutnya ditunggu
selama kurang-lebih 5 menit, kemudian disentuhkan sebentar
pada kotak yang telah dibuat pada tangan praktikan secara
berurutan. kemudian tanda + untuk kotak yang terasa dan
tanda untuk kotak yang tidak terasa.
Untuk langkah kerja reseptor sentuhan, langkah pertama
yaitu mata praktikan ditutup dengan sapu tangan dan salah
satu lenganya diletakkan diatas meja. Kaki jangka diletakkan
pada jarak 3 cm dan disentuhkan dengan tekanan ringan
kedua kaki jangka secara bersama-sama pada bagian bagain
Central lengan bawah praktikan. Apabila dua titik dirasakan
oleh praktikan, jarak antara dua kaki jangka diperkecil,
sebaliknya apabila Apabila satu titik dirasakan oleh praktikan,
jarak antara kedua kaki diperbesar. Kemudian jarak antara
kedua kaki jangka diperkecil sedikit demi sedikit hingga

diperoleh jarak terpendek yang masih dirasakan dua titik oleh


praktikan. Data yang diperoleh kemudian dicatat. Kegiatan
diatas diulangi pada lengan bawah bagian dorsal, telapak
tangan bagian ventral dan dorsal, ujung jari tangan kiri dan
tangan kanan, dahi, pipi, tenguk dan bibir.
4. Refleks Pupil
Pada percobaan ini dilakukan dua percobaan yaitu refleks
pupil terhadap intensitas cahaya dan refleks pupil terhadap
akomodasi mata. Untuk bahan yang dibutuhkan adalah
penggaris, senter dan stopwatch.
Langkah kerja pada refleks pupil terhadap intensitas
cahaya. Pada keadaan ruangan terang, diameter pupil
praktikan diukur dan dicatat, dengan penggaris diletakkan di
bawah

salah

satu

matanya.

Praktikan

diminta

untuk

memejamkan mata. Kemudian secara mendadak praktikan


diminta membuka mata. Setelah itu diameter pupil diukur dan
dicatat waktu yang diperlukan untuk terjadinya refleks pupil.
Kemudian pada keadaan ruangan gelap, praktikan matanya
kembali dipejamkan, penggaris diposisikan dibawah salah
satu mata. Ketika membuka mata praktikan diberi tanda dan
bersamaan dengan dibukanya mata praktikan, terangi mata
dengan senter. Diameter pupil diukur dan dicatat waktu yang
diperlukan

untuk

terjadinya

refleks

pupil

dan

hasilnya

dibandingkan dengan hasil percobaan sebelumnya.


Untuk langkah pada refleks pupil terhadap akomodasi
mata. Pertama, diameter pupil diukur pada keadaan normal
praktikan, dengan penggaris di bawah salah satu matanya.
Kemudian praktikan diminta untuk melihat benda-benda yang
jauh letaknya dan diameter pupilnya diukur. Setelah itu
melihat benda-benda yang dekat letaknya dan diameter
pupilnya diukur. Pada jarak yang sama, percobaan pada
praktikan

yang

memiliki

mata

minus

dengan

tanpa

menggunakan kacamata minus dan hasilnya dibandingkan.


C. Hasil dan Pembahasan

1. Pengecap
larutan cuka
larutan garam larutan gula
Sebelum
mengulum es batu

larutan kina

larutan MSG
Setelah mengulum es batu

larutan cuka

larutan garam

larutan gula

larutan kina

larutan MSG
Gambar 1. peta
penyebaran rasa pada

Pembahasan
Pada dasarnya dilihat dari hasil praktikum dan diakaitkan
dengan teori yang ada.Reseptor pengecap utama terletak pada
pucuk pengecapan yang berkumpul bersama pada permukaan lidah,
satu pucuk pengecapan terdiri dari 50-150 sel pengecapan,
bersama

dengan

sel

penunjang

dan

sel

asal

regeneratif.

(Silverthorn, 2013). Jadi pada semua sel lidah memiliki reseptor


pada bagian luar sel yang dapat menangkap molekul secara selektif
saat

menjumpainya.

Proses

penangkapan

dapat

disebabkan

perubahan beberapa jalur sel yang ada. Pada beberapa sel dapat
dikarenakan

depolarisasi.

Ketika

hal

ini

terjadi

sel

dapat

mensimulasikan neuron dan menyebabkan pesan untuk di kirim ke


pusat sistem syaraf, informasi itu dapat mengubah beberapa
keadaan lingkungan (Enger dan Ross, 2000).
Agar suatu zat dapat dikecap, zat tersebut harus larut terlebih
dahulu di dalam saliva dan mukus mulut. Senyawa ini bekerja atas
mikrovilli yang terpapar di dalam pori pengecapan, membentuk

potensial aksi di dalam neuron sensorik. Rangsangan untuk garam


mendepolarisasi sel reseptor asin melalui aliran masuk Na + , melalui
saluran natrium amiloid. Citarasa asam mendepolarisasi sel reseptor
melalui penghambatan H+ atas saluran K+. Senyawa yang mengikat
pahit

mengecap

pahit

terikat

pada

reseptor

membran

dan

mengaktivasi fospolipase C dengan akibat peningkatan dalam


intrasel dan melepas Ca2+ dari retikulum endoplasma (Syaifuddin,
2012).
Dari data diatas bahwa tingkat sensifitas reseptor berbedabeda.

Dimungkinkan

hal

ini

terjadi

karena

faktor

kebiasaan

mengkonsumsi suatu zat dapat berpengaruh pada tingkat kepekaan


reseptor. Faktor lain lain yang menjadi penyebabnya adalah sisa
bahan uji pada percobaan lautan sebelumnya yang mempengaruhi
stimulus yang diterima oleh reseptor berakibat pada citarasa pada
suatu zat tertentu. Selain itu menurut Silverthron (2012) dilihat dari
aspek psikologis yang menarik mengenai pengecapan yang biasa
disebut fenomena lapar spesifik. Tetapi ada juga keanginan makan
bukan karena lapar atau biasa disebut ngidam. Hal ini lebih sulit jika
dihubungkan dengan kebutuhan nutrien tertentu dan mungkin
mencerminkan gabungan kompleks pengaruh fisik, psikologis,
lingkungan dan kebudayaan.
Dilihat dari peta penyebaran rasa pada lidah hasil praktikum.
Mengenai peta rasa yang selama ini, peta rasa selalu diajarkan
dengan menyebut pencecap rasa manis pada bagian ujung, asin
pada pangkal, dan seterusnya. Acuan untuk pengajaran peta
penyebaran rasa yang pertama kali diungkapkan oleh Hanig untuk
meraih gelar doktor (Ph.D.) dan dipublikasikan pada philosophisce
studien tahun 1901 itu sudah kadaluwarsa. Dikuatkan lagi dalam
bukunya Koes Irianto yang berjudul Anatomi dan Fisologi. Di dalam
buku tersebut diungkapkan setelah dikaji dan diteliti mendalam
selama 100 tahun, para ilmuwan menemukan fakta baru bahwa
otak dapat menginterprestasi kelima rasa asin, asam, manis, pahit
dan mami melaui serangkaian reaksi kimia di dalam sel rasa yang
terdapat pada kuncup rasa (taste bud).

Ada

perbedaan ketika

sebelum mengulum

es

batu dan

sesudahnya. Ketika sesudah mengulum es batu kepekaan reseptor


rasa pada lidah berkurang. Diambil dari satu contoh rasa pahit
larutan kina sebelum mengulum es batu rasa pahitnya sangat
terasa kecuali pada bagian tengah lidah. Tetapi setelah mengulum
es batu rasa pahit itu sudah tidak sangat terasa. Dari sini dapat
disimpulkan bahwa suhu akan mempengaruhi kepekaan reseptor
seseorang.

30
25
20

waktu (s) 15
10
5
0

Kelompok
Minyak Angin

Parfum

2.

Pembau
Grafik 2. Perbandingan OFT minyak angin dan
parfum

Pembahasan
Sistem olfaktorius manusia terdiri dari neuron sensorik primer
(neuron sensorik olfaktorius) yang aksonya membentuk saraf
olfaktorius (nervus kranialis). Nervus olfaktorius bersinaps dengan
neuron

sensorik

sekunder

bulbus

olfaktorius, yang kemudian

mengolah informasi yang datang. Neuron sekunder dan neuron


tingkat yang lebih tinggi diproyeksikan dari bulbus olfaktorius
melalui traktus olfaktorius ke korteks olfaktorius (Silverthorn, 2001).
Bila proyeksi neuron ke talamus

neocortical bertuagas sebagai

perantara kesadaran persepsi terhadap aroma, maka proyeksi


neuron

ke

sistem

lymbicbertugas

sebagai

perantara

respons

emosional terhadap aroma (Robinson, 2002). Rasa pembau dihitung


oleh gas terhirup. Rasa pembau ini sangat peka dan kepekaanya
mudah hilang, bila dihadapkan pada suatu bau yang sama untuk
suatu waktu yang lama (Irianto, 2012).
Dari data praktikum bahwa bau minyak angin lebih mudah
menstimulus bau. Dikarenakan banyaknya substansi molekul pada
larutan minyak angin sehingga terjadi penguapan yang tinggi.
Menurut Syaifudin (2010) selain mekanisme kimiawi dasar faktor
fisik mempengaruhi derajat perangsangan, hanya substansi yang
dapat menguap saja yang dapat tercium baunya. Substansi yang
merangsang tersebut paling sedikit harus larut dalam air sehingga
bau

tersebut

berjalan

melalui

mukus

untuk

mencapi

sel-sel

olfaktorius.
Dari perbandingan Olfactory Fatigue Times (OFT). Dihasilkan
bau parfum lebih lama dari bau minyak angin, dengan adanya hal
ini bisa dikatakan bahwa semakin tinggi penguapan bau yang bisa
dipertahankan lebih cepat hilang dari pada bau parfum yang
penguapanya

lebih

rendah.

Bau

yang

menyengat

akan

menghasilkan peningkatan aktivitas metabolik berbeda di dalam


korteks olfaktorius. Bila seseorang kontinu terpapar pada bau yang
paling tidak disukai, maka persepsi bau tersebut akan menurun
kemudian berhenti.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi ambang penciuman
meningkat dengan bertambahnya usia. Pada umur diatas 80 tahun
75% manusia mengalami ganguan kemampuan mengidentifikasi
bau (Syaifuddin, 2010). Rasa pembau juga diperlemah, bila selaput
lendir hidung sangat kering, sangat basah atau membengkak,
seperti

halnya

seseorang

yang

pilek.

(Irianto,

2012).

Dari

pembahasan paragraf ini dapat di jelaskan bahwa penutupan satu


hidung tidak mempengaruhi pembauan.

70
60
50

Banyak reseptor

40
30
20
10
0

Kelompok
panas

dingin

3.

Resept
or pada kulit
2.5
2
1.5

jarak terasa dua titik

1
0.5
0

Kelompok
Lengan dorsal

lengan ventral

telpak dorsal

telapak ventral

ujung kanan

ujung kiri

dahi

pipi

tengkuk

bibir

Grafik 3.a Perbandingan banyak reseptor suhu


dingin dan panas Grafik 3.b Jarak terkecil yang
masih bisa dirasakan
Pembahasan
Percobaan ini dilakukan pada reseptor kulit dimana percobaan
menggunakan reseptor panas dan dingin. Menurut Johnson (2001)
Reseptor

dingin

temperatur

merupakan

rendah

dan

reseptor

menghalangi

yang

dirangsang

pemanasan,

oleh

sedangkan

reseptor panas merupakan rangsangan yang diterima pada saat


temperatur naik dan dapat menghambat pendinginan. Reseptor
dingin berlokasikan dibawah epidermis, sedangkan reseptor panas
sedikit

lebih

dalam

yaitu

pada

dermis.

Termoreseptor

juga

ditemukan dengan hypotamus pada otak, dimana monitor untuk

keduanya

merupakan

temperatur

pada

sirkulasi

darah

yang

kemudian memberikan informasi terhadap Central nervous system


pada temperatur di dalamtubuh.
Area reseptif untuk termoreseptor berdiameter kira-kira 1mm,
dan reseptornya tersebar di seluruh tubuh. Terdapat lebih banyak
reseptor dingin dari pada reseptor panas. Reseptor suhu beradaptasi
lambat pada suhu antara 20 dan 40

C. Respons awal reseptor

tersebut memberi informasi bahwa suhu berubah. Di luar kisaran


20-40 0C, akan menimbulkan kerusakan pada jaringan lebih besar,
reseptor tidak beradaptasi. Termoreseptor menggunakan kelompok
kanal kation yang disebut potensial reseptor sesaat atau kanal PRS
(Silverthorn, 2013).
Dari pengujian reseptor panas dingin yang diuji pada tangan
bagian dorsal praktikan menghasilkan, bahwa reseptor dingin lebih
cepat terstimulus dari pada reseptor panas. Sesuai penjelasan
diatas.
Untuk reseptor sentuhan yang di uji pada beberapa bagian
tubuh. Hasil yang diperoleh reseptor yang paling peka terjadi pada
ujung jari dan bibir. Dalam bukunya Dolphin (2005) mengungkapkan
bahwa daerah ujung jari kanan dan kiri terdapat reseptor-reseptor
yaitu korpuskulus peraba atau korpuskulus meissner yang terletak
pada papilla dermis khusunya pada ujung jari dan daerah wajah.
Korpuskulus

ini

memungkinkan
berdekatan.

4. Refleks pupil

peka
dapat

terhadap

rangsangan

membedakan

dua

titik

sentuhan
yang

dan

letaknya

0.6
0.5
0.4
Jarak (cm)
1
0.3

0.2
0.1
0

Grafik
4.a Akomodasi mata melihat benda jauh dan dekat
0.8
0.7
0.6
0.5

diameter pupil (cm) 0.4


0.3
0.2
0.1
0

kelompok
mata normal

terang

gelap

Grafik 4.b refleks pupil pada intensitas


cahaya
Pembahasan
Mata merupakan syaraf khusus yang menerima informasi visual dari sensor
gangliani. Syaraf ini terdiri dari satu juta serabut syaraf sensori. Mulanya syaraf optik
meninggalkan optik kanal pada sphenoid. Kemudian keduannya bertemu pada bagian
ventral, tepi anterior dincephalon, pada optik chaism. Di optik chaism serabut dari
separuh tengah retina berpindah berlawanan dengan otak (Martini, 2012). Potensial
aksi di dalam retina dibentuk oleh kerja cahaya atas senyawa foto sensitif di dalam
batang dan kerucut bila sinar.

Pupil mata yang terkena cahaya senter secara tiba-tiba setelah memejamkan
mata pada keadan terang akan membesar setiap individu berbeda-beda dan sebaliknya
untuk keadaan gelap. Hal ini dikarenakan jika sinar terlalu banyak maka pupil
menyempit agar sinar tidak seluruhnya masuk ke dalam mata karena menyilaukan
mata. Bila keadaan gelap pupil melebar mengharapkan banyak sinar dapat ditangkap .
Hal ini disebut refleks cahaya (Syaifuddin, 2012)
Pupil mata tergantung dari iris atau semacam otot kecil. Iris mendekati jika
cahaya ysng masuk terlalu terang dan iris menjauhi jika cahaya yang masuk terlalu
redup. Jika mata tidak siap saat terkena cahaya maka pupil mengecil atau meredup
secara langsung, kalau siap maka pupil akan mengecil atau meredup secara perlahan.
Pada respons dalam melihat benda. Dari data yang diperoleh mata yang
melihat jauh kemudian melihat dekat maka pupil berkontraksi agar terjadi
peningkatan ke dalam lapang penglihatan.
D. Kesimpulan
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepekaan indera pengecap
adalah kebiasaan mengkonsumsi suatu zat dapat berpengaruh
pada tingkat kepekaan reseptor. Faktor lain lain yang menjadi
penyebabnya adalah sisa bahan uji pada percobaan lautan
sebelumnya yang mempengaruhi stimulus yang diterima oleh
reseptor berakibat pada citarasa pada suatu zat tertentu.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepekaan indera pembau
adalah bertambahnya usia. Pada umur diatas 80 tahun 75%
manusia mengalami ganguan kemampuan mengidentifikasi bau.
Selain itu, bila selaput lendir hidung sangat kering, sangat basah
atau membengkak, seperti halnya seseorang yang pilek.
3. Untuk gambaran reseptor suhu pada kulit. Terdapat lebih banyak
reseptor dingin

dari

pada

reseptor panas. Reseptor

suhu

beradaptasi lambat pada suhu antara 20 dan 40 0C


4. jika sinar terlalu banyak maka pupil menyempit agar sinar tidak seluruhnya masuk
ke dalam mata karena menyilaukan mata. Bila keadaan gelap pupil melebar
mengharapkan banyak sinar dapat ditangkap
E. Daftar Pustaka
Champbell,2004.biologi edisi kelima jilid 3. Jakarta : Erlangga

Dee Unglaub Silverthorn. 2013. Fisiologi Manusia Sebuah


Pendekatan Terintegrasi Edisi 6. Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Eldon D. Enger, Frederick C. Ross, 2000. Concepts in biology ninth
edition. United states of America :McGraw-Hill Comparies
Fredic H. Martini, Inc. 2012. Anatomy & Physiology 9 edition. USA :
Benjamin Cummings
Irianto, Koes. 2012. Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa.
Bandung : Alfabeta,
M. Dhio. 2014. Perbedaan Indera Pengecap Rasa Manis dan Pahit
pada Perokok. Universitas Mahasaraswaty
Raven Johnson. 2001. Biology Sixth Edition.Http:
//www.mnhe.com/biosci. Akses pada 21 September 2015
Storer, I. Tracy, Usinger, Robert L. 1957. General of Zoology. New
York : Mc Graw Hill Book Company Inc
Syaifuddin, Drs. 2012. Anatomi Fisiologi Kurikulum Berbasis
Kompetensi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Warren D. Dolphin, 2005. Biologycal investigations From, Function,
Diverst, and Proess Seventh Edition. New York:McGraw-Hill
Comparies