Anda di halaman 1dari 9

Tangguh 0706291426 Dept.

Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 1

Ekspansi China di Asia Selatan dan Asia Tengah:

Masih di Bawah Bayang-Bayang Amerika Serikat


Review Mata Kuliah Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan China
Robert G. Sutter, “Relations with South Asia and Central Asia”, Chinese Foreign Relations:
Power and Policy since the Cold War (Maryland: Rowman and Little Field, 2008), hlm.295-
319

Review ini akan membahas tentang tulisan Robert G. Sutter (2008) yang

mengungkapkan tentang hubungan luar negeri China pasca-Perang Dingin dengan kawasan

Asia Selatan dan Asia Tengah. Menurut Sutter, China yang merupakan partner lama Pakistan

mendapati India, yang dahulu bersekutu dengan Uni Soviet menentang China, kini lebih

terbuka terhadap peningkatan dan perbaikan hubungan. Di Asia Tengah, terbentuknya negara-

negara baru eks-Soviet mereduksi pengaruh Rusia dan membuka kesempatan untuk

memperlebar kepentingan China. Namun, kolapsnya Uni Soviet juga menciptakan vakum

power yang menghadirkan berbagai permasalahan bagi keamanan China. Sebagai penutup

review, penulis akan mencari faktor parsimoni utama yang memengaruhi hubungan China

dengan kedua kawasan ini.

Hubungan China dengan Asia Selatan


Pasca-Perang Dingin, peluang terbuka bagi China untuk memperluas kepentingan dan

pengaruhnya di India, kekuatan dominan di Asia Selatan, dengan mengorbankan hubungan

dekat China-Pakistan hingga derajat tertentu. Kebijakan China terhadap Asia Selatan sejalan

dengan upaya China mereduksi ketegangan di sekitar periferinya sebagai bagian dari tujuan

besarnya menstabilisasi “lingkungan internasional yang damai” dengan menggunakan dialog.

China menghadapi kesulitan dalam memengaruhi India, karena India sering berselisih

dengan China terkait isu teritori dan terkait dukungan China terhadap Pakistan. Namun, sejak
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 2

akhir 1980-an, hubungan China dengan India membaik, dan China pun mengubah

dukungannya terhadap Pakistan. Hubungan dengan India tersebut terjalin tanpa mengungkit

berbagai area perselisihan China-India, seperti isu perbatasan China-India; hubungan China

dengan Pakistan, Myanmar,1 dan negara-negara Asia Selatan lain yang dipandang India

sebagai upaya membendung India; isu Tibet di mana India tampak mendukung Dalai Lama;

isu perdagangan, energi, dan keamanan energi yang membawa kepada kompetisi ekonomi

China-India akan investasi dan pasar serta sumber energi internasional; serta isu

kepemimpinan di Asia dan dunia, di mana China menentang masuknya India ke keanggotaan

permanen dalam Dewan Keamanan PBB dan EAS sementara India menentang upaya China

masuk ke South Asian Association for Regional Cooperation (SAARC).

China bereaksi terhadap uji nuklir India dengan penuh kalkulasi agar tak mengurangi

pengaruh China di Asia Selatan, karena terdapat aspirasi nasionalis India serta hubungan

dekat China dengan Pakistan. Dalam prosesnya, China bekerja dengan Amerika Serikat (AS)

untuk menghindari publisitas terkait peran China sebagai pendukung kunci proliferasi senjata

nuklir di Pakistan. Pasca-uji nuklir Pakistan beberapa hari setelah uji nuklir China, China

menempatkan diri pada posisi keseimbangan dan mendorong moderasi pada kedua pihak.

Terkait sengketa teritori di Kashmir, China melakukan pendekatan dengan keseimbangan

yang berhati-hati terhadap konfrontasi militer India-Pakistan. China tak lagi condong kepada

1 Walaupun Myanmar adalah negara Asia Tenggara, bukan Asia Selatan, hubungan China-
Myanmar tetap pantas dipertimbangkan dalam mengkaji hubungan China dengan kawasan
Asia Selatan, karena Myanmar bersedia bekerjasama dalam bidang-bidang yang
menjadikan ekspansi China lebih jauh ke Asia Selatan semakin kondusif, seperti konstruksi
jalan, jalur rel, hubungan maritim, serta aktivitas intelijen laut gabungan yang diadakan
China dan Myanmar. Hal ini, dikombinasikan dengan potensi penggunaan militer atas
proyek-proyek transportasi dan maritim China di Myanmar, memberikan peningkatan
signifikan terhadap potensi militer China di kawasan Teluk Bengal.
Namun, John W. Garver (2005) mengungkapkan bahwa persetujuan China dengan
Myanmar bersifat fragil, karena berbagai sebab, salah satunya adalah sulit untuk melihat
apa yang dapat diperoleh Myanmar dengan membentuk aliansi militer dengan China.
(John W. Garver, “China‟s Influence in Central and South Asia: Is It Increasing?” dalam
David Shambaugh, Power Shift: China and Asia‟s New Dynamics (Berkeley: University of
California Press, 2005), hlm.218-220)
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 3

Pakistan seperti pada 1960-an. Hal ini memberitahu India akan kepentingan berkelanjutan

China terkait perbaikan hubungan, namun juga mengecewakan Pakistan yang bergantung

kepada dukungan China. Namun, berbeda dengan pandangan Sutter, John W. Garver (2005)

mengungkapkan bahwa China tak memperlemah dukungan strategisnya kepada Pakistan,

China pun masih tetap memberikan bantuan kepada daerah Gwadar, Pakistan, dan proyek

modernisasi berbagai jalur rel di Pakistan.2

China berusaha menyesuaikan dengan peningkatan kekuatan dan pengaruh AS di Asia

Selatan yang disebabkan perang AS terhadap rezim Taliban di Afghanistan dan perang

terhadap terorisme global. Di satu sisi, komitmen AS akan memperkuat kemampuan Pakistan

dalam menekan terorisme yang juga memengaruhi China di kawasan tersebut, serta

memengaruhi India untuk meredakan ketegangan dengan Pakistan untuk menghindari perang

di Asia Selatan. Di sisi lain, kehadiran dan pengaruh AS membawa beberapa implikasi

negatif bagi kepentingan China. Kebijakan AS sebagai kekuatan ekstraregional menjadi

determinan penting hubungan China-India, sehingga ketiga negara seringkali melakukan

kontak tingkat tinggi demi perbaikan dalam atmosfer hubungan China-India.

Singkatnya, setelah menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan pasca-Perang

Dingin, China dan India memandang bahwa kepentingan mereka akan lebih terpenuhi

melalui upaya meningkatkan kerjasama.3 Hubungan terakhir China-India berada pada

kerjasama terbatas yang tampaknya akan berlanjut, dengan prospek konflik militer yang kecil

dan peluang menjadi partner dekat yang juga kecil. Terdapat berbagai unsur kunci rivalitas

2 Sebenarnya, Garver lebih memfokuskan pada hubungan antara baru antara AS-Pakistan
pacaperistiwa 11 September 2001 dan berargumen bahwa Pakistan takkan meninggalkan
partnershipnya dengan China karena perbaruan partnership strategisnya dengan AS.
Hubungan AS dengan Pakistan justru membantu China memelihara dasar posisi pengaruh
China di Asia Selatan, yaitu balance of power yang menekan India.
(Garver, ibid., hlm.213-217)
3 Siddharth Varadarajan (2006) mengalkulasi bahwa prospek kerjasama China-India di

sektor minyak dan gas dapat menciptakan suatu pasar dan arsitektur energi Asia (suatu
poros minyak Asia) yang menimbulkan konsekuensi geopolitik besar bagi AS.
(Siddharth Varadarajan, “India, China and the Asian axis of oil”, The Hindu (India), 24
Januari 2006)
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 4

China-India yang tampaknya takkan terpecahkan dengan mudah, seperti peran Pakistan

sebagai rival India sekaligus salah satu partner strategis terdekat China; isu perbatasan China-

India;4 serta kompetisi pengaruh China dan India di Asia. Kerjasama terbatas China dan India

terjadi pada berbagai isu, seperti isu kedaulatan negara dan perdagangan bilateral.

Kepemimpinan di China tampak memiliki satu suara terkait kebijakan terhadap India,

sementara politik domestik India cukup menentukan perubahan kebijakan India terhadap

China. Banyak pihak skeptis di India yang menduga China memiliki ambisi membatasi

peningkatan power India, terkait dukungan China terhadap Pakistan dan hubungan China

dengan negara-negara lain di kawasan. Namun, terdapat juga kondisi dan persepsi positif di

India terhadap China yang tumbuh, terkait perubahan persepsi terhadap asimetri power dan

pengaruh antara China dan India, termasuk kapabilitas India terkait persenjataan nuklir,

konvensional, dan militer lainnya; kapabilitas bisnis India. Hubungan China-India

menunjukkan momentum pada aspek positif, dan India melihat lebih banyak peluang

daripada tantangan bagi India dalam kebijakan China, namun India tetap menyadari berbagai

perbedaan China-India.5

Dapat kita lihat bahwa kajian Sutter terkait hubungan China dengan Asia Selatan sangat

berat kepada hubungan bilateral China-India dan kurang menekankan pengaruh China

terhadap dinamika kawasan Asia Selatan. Untuk memperkaya pembahasan, kita dapat

4 Hingga kini, sengketa perbatasan antara China dan India masih berlangsung. Kota
Tawang di timur Himalaya, India, menjadi panggung sengketa China-India. China
bersikeras bahwa wilayah tersebut secara historis adalah bagian dari Tibet, yang diklaim
oleh China. Baru-baru ini, untuk mengamankan hak atas wilayah ini, China berupaya
memblokir hutang senilai $2,9 milyar kepada India dari Asian Development Bank (ADB)
yang sebagiannya direncanakan untuk proyek pengairan di Arunachal Pradesh, wilayah
yang termasuk Kota Tawang. Gubernur Arunachal Pradesh pun mengumumkan bahwa
militer India menggelar tentara dan jet tempur ekstra di wilayah tersebut.
(Edward Wong, “Uneasy Engagement- China and India Dispute Enclave on Edge of Tibet”,
The New York Times, 3 September 2009)
5 Kerjasama China-India tak perlu merefleksikan pola manifestasi politik dari hubungan

antara keduanya. Pratyush Chandra (2006) berargumen bahwa kerjasama kedua negara ini
perlu “mendepolitisasi” sisi manajemen ekonominya.
(Pratyush Chandra, “The India-China Relationship - What We Need to Know?” 31 Januari
2006, http://www.selvesandothers.org/article13033.html)
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 5

membandingkan dengan analisis Garver terkait pengaruh China di Asia Selatan. Menurut

Garver, posisi ekonomi China di Asia Selatan tak terlalu mengesankan karena peran

perdagangan China dengan beberapa negara Asia Selatan masih marjinal. Secara politik pun

China masih belum dapat menggantikan posisi India sebagai kekuatan dominan di kawasan

ini, sementara ekspansi pengaruh China di kawasan ini masih di bawah ekspansi pengaruh

Barat. Kapabilitas militer AS di Samudera Hindia pun membuat militer China tampak kecil. 6

Hubungan China dengan Asia Tengah


Pasca-Perang Dingin, China memperluas hubungannya di seluruh Asia Tengah untuk

menstabilisasi perbatasan baratnya, memperoleh akses terhadap sumber-sumber energi

kawasan tersebut, dan mengimbangi pengaruh Barat di kawasan tersebut. Terdapat berbagai

kontinuitas kepentingan China di Asia Tengah pasca-Perang Dingin sebagai berikut.

 Posisi strategis. China memiliki strategi diplomatik untuk membantu perkembangan

lingkungan internasional yang stabil dan produktif di sekitar periferi China serta peran

kepemimpinan China yang lebih diterima secara luas. China memonitor peningkatan

kehadiran Barat di Asia Tengah serta berhati-hati untuk tidak memprovokasi Rusia

sebagai partner strategisnya di teritori eks-Soviet.

 Keamanan. China berupaya mengekang dukungan luar terhadap separatism di

Xinjiang. China juga menduga faksi Taliban mendukung kalangan radikal di Xinjiang,

sehingga berusaha membangun hubungan dengan rezim Taliban. Negara-negara Asia

Tengah takkan menolerasi kelompok-kelompok separatis yang menarget China, dan

China juga didukung inisiatif antiteroris AS, Rusia, dan China di Asia Tengah.

 Perbatasan. China berupaya mendemarkasi, mendemiliterisasi, dan menstabilisasi

perbatasan dengan Rusia dan negara-negara Asia Tengah, yang sentral bagi rencana-

rencana pembangunan dan prioritas kebijakan luar negeri China.

6 Garver, op. cit., hlm.213-225


Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 6

 Ekonomi. China berupaya memperoleh jalur suplai energi yang aman dan

menghindari ketergantungan terhadap sedikit sumber energi. Negara-negara Asia

Tengah merupakan partner yang menjanjikan, khususnya Kazakhstan. Namun, banyak

proyek menunjukkan kemajuan yang lambat karena mahal, sulit secara logistik, dan

rumit secara sistem pemrosesan energi dan sistem transportasi. Perkembangan

hubungan ekonomi, militer, dan transportasi, seperti jalur rel, jalan raya, dan pipa

minyak, memperkuat pendekatan regional China terhadap Asia Tengah.

Selain negara-negara Asia Tengah, Mongolia menjadi penting dalam kajian ini karena

kedekatan kepada Asia Tengah. Permusuhan historis dan ketidakpercayaan terhadap China

menjadi faktor hubungan Mongolia dengan China, namun Mongolia mengakui bahwa

kemakmuran mereka tergantung pada hubungan ekonomi dengan China dan Rusia. Sejak

2003, aspek positif kerjasama China-Mongolia berkembang hingga China menjadi investor

asing terbesar di Mongolia dan terjalin berbagai proyek skala besar antara China-Mongolia.

Kehadiran AS di Mongolia pada 2005 membuat China meminta jaminan dari AS bahwa

rencana militer AS di Mongolia takkan berlawanan dengan kepentingan China.

Kembali ke China. Hubungan China dengan Asia Tengah diupayakan melalui kerjasama

multilateral regional. Bersama Rusia -partner strategis China- Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan

Tajikistan, China membentuk Shanghai Five pada 1996 yang berfokus pada penyelesaian isu

perbatasan, demiliterisasi perbatasan, dan penegakan confidence-building measures, serta

berbagai isu keamanan regional lainnya. Pada 2001, Uzbekistan bergabung dan terbentuklah

Shanghai Cooperation Organization (SCO) yang berfokus pada isu-isu keamanan regional.

SCO berhati-hati untuk tak tampak berlawanan dengan kepentingan AS, namun berbagai

penekanan anti-AS tampak pada upaya mengeluarkan tentara Barat dari Asia Tengah.

SCO menunjukkan berbagai perkembangan, seperti pengesahan suatu piagam SCO

pada 2002, pembentukan dua badan tetap –sekretariat dan Struktur Antiterorisme Regional-
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 7

SCO pada 2004, serta ketertarikan berbagai negara lain untuk bergabung. China bersikeras

bahwa kesuksesan ini disebabkan “pandangan keamanan baru” yang dibangun atas

kepercayaan, persamaan, dan kerjasama satu sama lain yang disebut oleh China sebagai

“spirit Shanghai”. Namun, spirit Shanghai ini pun mendapat kritik, seperti oleh David Wall

yang menyebutnya “uneasy amity” (hubungan yang mencemaskan) pada 2006, karena SCO

hanya menjadi panggung rivalitas power antara China dan Rusia. 7

Apakah SCO benar-benar sukses? Dalam kenyataannya, SCO adalah suatu organisasi

dengan kapabilitas yang rendah, dengan anggaran operasi kurang dari $30 juta dan hanya

beberapa lusin pekerja. 8 Para negara anggota SCO sendiri memiliki tujuan yang berbeda-beda

dan tak memiliki kesepakatan tentang bagaimana SCO harus berevolusi. 9 Mereka juga tak

memiliki kesamaan kepentingan baik terkait energi maupun militer. John Keefer Douglas

(2006) mengilustrasikan bahwa ketika harga minyak naik pada awal Perang Irak, Rusia

memperoleh keuntungan sementara China menderita kerugian. 10

Dukungan kuat China terhadap mekanisme keamanan multilateral dalam SCO

menunjukkan bahwa China menganggap bahwa isu-isu keamanan internal tak dapat dicapai

oleh confidence-building measures dan cara-cara lainnya di antara negara-negara berdaulat.

Apalagi, China menganggap Asia Tengah sebagai sumber ancaman terhadap keamanan

nasional China. China juga memandang bahwa SCO dan kerjasama regional yang lebih luas

dapat membantu memperluas pertumbuhan ekonomi dan pengaruh China di kawasan

tersebut.

7 David Wall, “The Shanghai Cooperation Organization: uneasy amity”, openDemocracy, 15


Juni 2006
(http://www.opendemocracy.net/globalization-
institutions_government/shanghai_cooperation_3653.jsp)
8 “China and Russia: New 'axis' in the making?” The Straits Times (Singapura), 21 Juli 2006,

sebagaimana dikutip dalam John Keefer Douglas et. al., “Fueling the Dragon‟s Flame: How
China's Energy Demands Affect its Relationships in the Middle East”, presentasi dalam
U.S.-China Economic and Security Review Commission In fulfillment of Contractual
Obligations, 14 September 2006
9 Douglas et. al., “Fueling the Dragon‟s Flame”, ibid.
10 Ibid.
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 8

Kebijakan China di Asia Tengah, termasuk partisipasi aktif dalam Shanghai Five dan

SCO, efektif dalam memajukan keamanan perbatasan, mengekang kejahatan transnasional

dan terorisme, serta mendukung interaksi ekonomi yang lebih besar. Namun, SCO dan China

tetap memiliki kekurangan dan kelemahan relatif. Faktor Afghanistan menjadi ancaman

utama terhadap stabilitas kawasan Asia Tengah. 11 Operation Enduring Freedom AS

pascaperistiwa 11 September 2001 selama lima bulan memperoleh pencapaian yang lebih

jauh daripada yang diperoleh Shanghai Five selama lima tahun. Para anggota SCO tetap

memiliki kewaspadaan satu sama lain, dan masing-masing lebih tertarik untuk bekerjasama

dengan militer AS di Asia Tengah pasca-2001.12 Walaupun perdagangan China dengan

negara-negara Asia Tengah meningkat, Rusia tetap menjadi partner perdagangan mereka yang

lebih penting daripada China, dan negara-negara tersebut lebih tertarik mengalihkan

perdagangan ke negara-negara Eropa yang kemudian menjadi partner perdagangan utama. 13

Walaupun demikian, Luba Azarch (2009) berargumen bahwa kerjasama dekat antara Uni

11 Azganush A. Migranyan (2009) menggunakan konsep “keamanan ekonomi regional”


(susunan kondisi dan faktor yang dapat menjamin stabilitas dan kerjasama ekonomi yang
saling menguntungkan di suatu kawasan) berargumen bahwa “Afghanistan yang tak stabil”
akan merintangi sebagian besar kerjasama ekonomi antaranggota SCO. Walaupun
demikian, perkembangan ekonomi SCO masih belum memiliki solusi bagi Afghanistan.
(Azganush A. Migranyan, „Reassessing the SCO Economic Security in the Context of
the“Afghan Factor”‟, China and Eurasia Forum Quarterly, Volume 7, No. 34 (2009) hlm.17-
22)
12 Sejalan dengan pendapat Sutter, Sean L. Yom (2002) pun berargumen bahwa China dan

Rusia dapat menjadi aktor yang tak dibutuhkan dan tak diinginkan di Asia Tengah dengan
keberadaan AS, karena persepsi potensi bahaya militansi Islamis adalah ancaman utama
yang mengikat kebijakan keamanan regional negara-negara SCO. Apabila AS menjaga
kehadiran militernya dalam jangka panjang di kawasan tersebut dan meyakinkan
Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, dan Uzbekistan bahwa AS akan terus melawan
kelompok-kelompok Islamis garis keras di sana, AS akan menjadi titik tumpu ekonomi dan
politik kawasan Asia Tengah.
(Sean L. Yom, “Power Politics in Central Asia”, Harvard Asia Quarterly, Volume VI, No. 4.
Autumn 2002)
13 Senada dengan ini, Garver mengungkapkan bahwa Rusia tetap menjadi partner

perdagangan yang jauh lebih penting bagi negara-negara Asia Tengah daripada China.
Selain itu, negara-negara Uni Eropa (UE) yang telah mencapai pertumbuhan perdagangan
terbesar dan tercepat dengan negara-negara Asia Tengah. Sehingga, gambaran besarnya
adalah bahwa Asia Tengah bergerak keluar dari orbit ekonomi Rusia, namun bukan menuju
lingkungan ekonomi China, melainkan Barat.
(John W. Garver, “China‟s Influence in Central and South Asia: Is It Increasing?” op. cit.,
hlm.213-216)
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 9

Eropa (UE) dan negara-negara Asia Tengah dalam sektor energi sulit untuk dicapai, karena

UE bekerja dengan kebijakan yang kondisional namun tanpa insentif. Sehingga, kerjasama

sulit untuk berkembang lebih daripada sekedar deklarasi kehendak dan kajian feasibilitas

dalam jangka pendek dan menengah. 14 Pascaperistiwa 11 September 2001, China menjadi

aktor pemeran kedua di Asia Tengah, di bawah AS yang menjadikan Asia Tengah sebagai

garis depan perang terhadap terorisme. Namun, China tetap memperbaiki gelarnya di Asia

Tengah dan meningkatkan kerjasama SCO, menandakan upaya jangka panjang untuk

meneruskan kepentingan dan relevansi China di kawasan tersebut.

Penutup
Hubungan China dengan Asia Selatan dan Asia Tengah menunjukkan peningkatan

kapabilitas China di kedua kawasan tersebut, namun hal tersebut masih berada di bawah

bayang-bayang pengaruh AS dan Barat. Baik China maupun AS berupaya memperluas

pengaruh mereka di kedua kawasan tersebut tanpa menyebabkan friksi dalam besar dalam

hubungan China-AS. Kedua negara berupaya membentuk suatu tata internasional yang

terbuka di kedua kawasan tersebut.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa AS adalah faktor eksternal yang relevan dalam

perkembangan hubungan China dengan Asia Selatan dan Asia Tengah. Walaupun berhasil

meningkatkan hubungan secara signifikan dengan India, kebijakan AS tetap menjadi

determinan penting hubungan China-India. Begitu pula di Asia Tengah, pengaruh China (dan

juga Rusia) tenggelam di bawah besarnya pengaruh AS dalam kampanye perang global

terhadap terorisme. Menghilangkan, bahkan sekedar menandingi, pengaruh AS di kawasan

yang dituju China merupakan hal yang sangat sulit.

14Luba Azarch, “Central Asia and the European Union: Prospects of an Energy
Partnership”, China and Eurasia Forum Quarterly, Volume 7, No. 34 (2009) hlm.55-72