Anda di halaman 1dari 6

Analisis Elektrokimia dan Termal

Pengaruh hidrogen terlarut terhadap


perilaku korosi dari Alloy 182 dalam
simulasi air primer

Oleh:
Ismail Mochtar
1412100078
Dosen Pengampu:
Dr.rer.nat. Fredy Kurniawan, Msi

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA

1. Pendahuluan
Logam alloy berbasis Ni telah banyak digunakan dalam PLTN
sebagai material struktural. Namun logam ini rentan terhadap retakan
tegangan korosi air primer (primary water stress corrosion
cracking/PWSCC) ketika digunakan sebagai komponen reaktor air.
Banyak peneliti telah menyadari bahwa kerentanan logam alloy
berbasis Ni terhadap PWSCC yang paling tinggi adalah di dekat transisi
fasa Ni/NiO yang sangat berpengaruh terhadap kandungan hidrogen
terlarut (DH) terutama untuk logam alloy 600 dan 182. Banyak peneliti
yang menggunakan metode elektrokimia in-situ seperti polarisasi
dinamis dan spektroskopi impedansi elektrokimia (EIS) untuk
mempelajari pengaruh DH terhadap ketahanan korosi logam ini.
Penelitian ini menyelidiki perilaku korosi dari alloy 182 dalam tiruan air
primer dengan berbagai variasi konsentrasi DH pada suhu 320 C.
Pengukuran elektrokimia in-situ yaitu ketahanan kontak elektrokimia
(CER) dan EIS telah dilakukan (Jian, 2014).
2. Metode percobaan
Material yang digunakan untuk percobaan ini adalah alloy 182
yang komposisi kimiawinya dirangkum dalam Table 1. Desain dari
spesimen CER digambarkan seperti dalam Gambar 1.

Gambar 1. skematik spesimen yang digunakan untuk pengukuran CER.

Spesimen terpisah yang digunakan untuk pengukuran EIS


memiliki dimensi 10 mm 10 mm 2 mm. Semua spesimen were
ground dengan maksimum 2400 grit dan kemudian dicuci secara
ultrasonik dengan etanol dan air murni sebelum dipasang ke siklus
autoclave untuk percobaan.
Pengukuran EIS telah dilakukan menggunakan Solatron 1260
impedance/gain-phase analyzer. Sinyal ac sebesar 15 mV dengan
rentang 10 mHz sampai 30 kHz telah digunakan ke spesimen di

potensial sirkuit terbuka (OCP). EIS diukur dari frekuensi tinggi ke


frekuensi rendah.logam Pt dengan luas permukaan 5 cm 2 digunakan
sebagai elektroda counter. Elektroda kerja (Alloy 182) dilas titik di
kabel Ni. Elektroda counter juga dilas titik di kabel Pt. Elektroda
referensi dipasang di bawah autoclave dan dioperasikan pada suhu
ruang (25 C) dengan sistem pendingin air. Hasil data diolah dengan
Software ZSimpWin.
3. Hasil dan diskusi
Gambar 2 menampilkan hasil analisa EIS untuk alloy 182 di
berbagai tingkatan DH.

Gambar 2. Hasil EIS untuk Alloy 182 pada 320 C dengan tingkatan DH yang
berbeda: (a) plot Nyquist dan (b) plot Bode.

Dua setengah lingkaran tak sempurna dapat dikenali di semua


plot Nyquist, dan radius untuk DH = 5 cm 3/kg lebih besar dibanding
radius dari kondisi yang lain. Ketahanan korosi dari material dapat
ditentukan secara kualitatif dengan menentukan modulus impedansi
frekuensi rendahnya. Seperti ditunjukkan pada Gambar 2b, modulus
impedansi pada 10 mHz dengan DH = 50 cm 3/kg (tingkat pertama)
dan 30 cm3/kg sangat mirip, dan nilai ini sangat kecil dibanding nilai
yang diukur saat DH = 5 cm3/kg. Setelah pengembalian ke DH = 50
cm3/kg, modulud impedansi berkurang tapi tetap lebih besar dibanding
saat diamati di tingkat pertama pada tingkatan DH yang sama. Dua

sirkuit yang sama digambarkan dalam Gambar 3, digunakan untuk


men-simulasi hasil EIS.

Gambar 3. sirkuit ekivalen yang digunakan untuk men-simulasi hasil EIS: (a) sirkuit
untuk DH = 50 cc/kg dan (b) sirkuit untuk DH = 5 cc/kg

Perbedaan dari kedua sirkuit adalah impedansi Warburg


ditambahkan ketika men-simulasi hasil untuk DH = 5 cm 3/kg,
berdasarkan pada bentuk dari plot Nyquist. Dua sirkuit ekivalen ini
umum digunakan di banyak riset yang lain. Elemen fase konstan (CPE)
diperkenalkan untuk mewakili kapasitansi non-ideal. Arti dari tiap
elemen dijelaskan dan ditampilkan bersama dengan hasil fitting dalam
Table 2.

4. Kesimpulan
Hasil EIS mengindikasikan bahwa ketahanan Film meningkat
dengan berkurangnya DH. Peningkatan sangat kecil di daerah Ni stabil,
namun di daerah NiO stabil, ketahanan Film meningkatkan tajam
setelah diekspos. Pada kondisi DH = 50 cm3/kg dan 30 cm3/kg, film
oksida yang terbentuk sangat tipis dan sebagian besar terdiri dari Cr 3+.
Ni terdapat dalam bentuk Ni(OH)2.
5. Daftar Pustaka
Jian Xu, dkk. (2014). The effects of dissolved hydrogen on the corrosion
behavior of Alloy 182 in simulated primary water. http://www.sciencedirect.com

6. Lampiran