Anda di halaman 1dari 6

Rangkaian Resonansi Seri RLC

{0 Comments}
in Resonansi & Filter Pasif
Bagikan
Resonansi Seri Sederhana
Efek yang sama terjadi pada rangkaian seri induktif/kapasitif (gambar 1). Ketika kondisi
resonansi tercapai (reaktansi kapasitif sama dengan reaktansi induktif), kedua impedansi akan
saling menghilangkan satu sama lain dan total impedansinya akan sama dengan nol.

Gambar 1 Rangkaian resonansi seri sederhana yang terdiri dari L


dan C
Pada saat frekuensi = 159.155 Hz :
ZL = (0 + j100) dan ZC = (0 j100)
Zseri = ZL + ZC
Zseri = (0 + j100) + (0 j100)
Zseri = 0
Bila impedansi serinya sama dengan nol ohm pada frekuensi 159.155 Hz, maka rangkaian
tersebut akan menjadi short circuit pada kedua terminal sumber AC nya pada kondisi
resonansi. Kondisi ini tidak baik untuk rangkaian di atas. Maka kita tambahkan sebuah
resistor untuk membatasi arus pada saat short circuit terjadi.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, nilai arus yang mengalir pada rangkaian, amplitudonya
akan semakin membesar bila frekuensinya diperbesar (dari kiri ke kanan) (gambar 2).
Kondisi ini dapat dilihat pada titik puncak saat frekuensinya bernilai 157.9 Hz.

Gambar 2 Grafik
hubungan arus dengan frekuensi pada rangkaian resonansi seri

Anda harus berhati-hati pada rangkaian resonansi LC seri karena


arus yang mengalir dalam rangkaian sangatlah besar pada kondisi resonansi, kondisi ini
memungkinkan dihasilkannya tegangan tinggi yang berbahaya pada kapasitor dan induktor,
karena kedua komponen tersebut memiliki impedansi. Dari rangkaian pada gambar 3, dapat
dihitung :

Gambar 3 Rangkaian resonansi seri


fr = 159.155 Hz, L = 100 mH, R = 1
XL = 2fL = 2(159.155) (100 mH) = j100
XC = 1/2fC = 1/2(159.155)(10 F) = -j100
Z = 1 + j100 j100 = 1
I = V/Z = (1 V) / (1 ) = 1 A
VL = IZL = (1 A) (j100) = j100 V
VC = IZC = (1 A) (-j100) = -j100 V

VR = IR = (1 A) (1 ) = 1 V
Vtotal = j100 j100 + 1 = 1 V
Kemungkinan nilai tegangan pada kapasitor dan induktor adalah sebesar 100 V. Tegangan ini
akan membuat kedua komponen stress, anda harus menentukan rating kerja dari tiap-tiap
komponen tersebut. Walaupun nilai tegangan pada kedua komponen tersebut sangatlah besar,
tetapi nilainya akan saling menghilangkan, yang satunya sebesar 100 V dan yang satunya
sebesar -100V , sehingga total tegangannya sebesar nilai sumber yaitu 1 V.
Pada pembahasan resonansi di atas, kita menggunakan rangkaian LC seri yang ideal.
Sekarang kita akan mempertimbangkan resistansi (R) sehingga rangkaiannya menjadi
rangkaian seri RLC.

Gambar 4 Rangkaian seri RLC


Karena rangkaian pada gambar 4 adalah rangkaian seri, kita dapat menghitung impedansi
totalnya :
ZT = R + jXL jXC
ZT = R + j(XL XC)

persamaan 1

Resonansi terjadi saat reaktansi (X) rangkaian sama dengan nol, sehingga total impedansi
rangkaian menjadi resistif (R) murni. Sebagaimana kita ketahui, reaktansi induktor dan
kapasitor memiliki rumus :
XL = L = 2fL
XC = 1/C = 1/2fC

persamaan 2
persamaan 3

Perhatikan persamaan 1, dengan cara membuat nilai reaktansi induktif (X L) sama dengan
reaktansi kapasitif (XC), maka kedua nilai reaktansi ini akan saling menghilangkan karena
reaktansi induktif bernilai imajiner positif dan reaktansi kapasitif bernilai imajiner negatif.
Dengan begitu, impedansi total, ZT, sama dengan resistansi R saja. Jadi, pada saat resonansi :
ZT = R

persamaan 4

Dengan menyamadengankan raktansi induktif dan kapasitif, kita dapat menentukan frekuensi
yang membuat rangkaian beresonansi (frekuensi resonansi) yang memiliki satuan rad/s

persamaan 5
Karena perhitungan untuk mendapatkan frekuensi angular, , yang memiliki satuan rad/s
lebih mudah daripada kita harus menghitung frekuensi, f, yang memiliki satuan hertz (Hz).
Perhitungan lebih jauh yaitu menghitung tegangan dan arus biasanya lebih mudah
menggunakan daripada f. Namun, terkadang kita juga perlu menghitung frekuensi
resonansi dalam bentuk frekuensi f ( satuan Hz), ingat hubungan antara frekuensi angular, ,
dengan frekuensi, f :
=2f

persamaan 6

Kita subsitusikan persamaan 6 ke persamaan 5, sehingga frekuensi resonansi dapat dihitung

persamaan 7
Subskrip s dibawah huruf f menunjukkan frekuensi yang dihitung adalah frekuensi resonansi
rangkaian seri.
Saat resonansi, arus total yang mengalir dalam rangkaian dapat dihitung dengan hukum Ohm
persamaan 8
Dengan menggunakan hukum Ohm, kita dapat menghitung tegangan pada masing-masing
komponen dengan persamaan matematis sebagai berikut
VR = IR 0o

persamaan 9

VL = IXL 90o

persamaan 10

VC = IXC -90o

persamaan 11

Gambar 5 Diagram fasor dari tegangan dan arus rangkaian

Diagram fasor dari tegangan dan arus dari rangkaian resonansi seri ditunjukkan pada gambar
5. Perhatikan diagram fasor tersebut, karena reaktansi induktif dan kapasitif memiliki
magnitudo yang sama, maka magnitudo tegangan pada komponen kapasitor dan induktor
harusnya sama tetapi fasanya berbeda 180 o. Selain itu, kita juga dapat menghitung daya dari
tiap-tiap komponen. Untuk daya resistor disebut dengan daya aktif/rata-rata dan memiliki
satuan watt. Sedangkan induktor dan kapasitor disebut dengan daya reaktif dengan satuan
VAR.
PR = I2R (W)
QL = I2XL (VAR)
QC = I2XC (VAR)
Diagram fasor dari ketiga daya tersebut ditunjukkan pada gambar 6

Gambar 6 Diagram fasor dari daya


Impedansi Rangkaian Resonansi Seri
Pada bagian ini, kita akan mencari tahu bagaimana impedansi rangkaian resonansi seri
berubah-ubah nilainya sebagai fungsi dari frekuensi. Atau dengan kata lain, kita akan mencari
tahu bagaimana pengaruh frekuensi terhadap nilai impedansi rangkaian seri RLC. Hal ini
disebabkan impedansi induktor dan kapasitor bergantung pada frekuensi, jadi nilai impedansi
totalnya juga bergantung pada nilai frekuensi. Agar analisa aljabar kita sederhana, frekuensi
yang kita gunakan adalah yang memiliki satuan radian per sekon. Apabila memang perlu
dinyatakan dalam frekuensi dengan satuan Hz, maka kita dapat menggunakan persamaan 6.
Impedansi total dari rangkaian resonansi seri adalah

Magnitudo dan sudut fasa dari vektor impedansi, ZT, dinyatakan dalam
bentuk

persamaan 12

persamaan 13

pada saat frekuensi sama dengan frekuensi resonansi atau = s

ZT = R
dan
= tan-1 0 = 0o
pada saat frekuensi kurang dari frekuensi resonansi atau < s, atau apabila kita
mengecilkan frekunsi maka impedansi total, ZT, akan semakin besar. Bila frekuensinya terus
diturunkan hingga = 0, maka impedansi totalnya mencapai nilai maksimum (sangat besar
sekali) sehingga rangkaiannya seakan-akan menjadi open circuit. Pada kondisi ini, rangkaian
menjadi open circuit disebabkan impedansi kapasitor yang sangat besar sekali. Atau lebih
mudahnya, apabila kita menggunakan frekuensi 0 Hz, ini sama saja kita memberikan
tegangan DC pada rangkaian. Sebagaimana kita tahu, apabila kita memberi tegangan DC
pada kapasitor, maka kapasitor akan menjadi open circuit.
Pada kondisi ini ( < s), reaktansinya akan bersifat kapasitif. Perhatikan persamaan 1, 2, dan
3. Semakin kecil frekuensi, reaktansi kapasitif akan semakin besar, dan reaktansi induktif
semakin kecil (|XC|> XL). Jadi, reaktansi gabungan dari keduanya akan menghasilkan nilai
negatif (XL |XC| < 0). Sudut fasa bernilai sekitar 0o hingga -90o (berada di kuadran empat
dalam diagram fasor).
Kondisi sebaliknya terjadi saat > s. Dengan memperbesar frekuensi, maka reaktansi
induktif akan semakin besar dan reaktansi kapasitif semakin kecil (X L > XC). Pada saat >
s rangkaian bersifat induktif. Sudut fasa dari impedansi akan bernilai positif (X L XC > 0)
dan vektornya berada dalam kuadran 1 diagram fasor.
Gambar grafik yang menyatakan hubungan antara magnitudo dan sudut fasa impedansi Z T
terhadap frekuensi, ditunjukkan pada gambar 7.

Gambar 7 Gambar kiri : grafik hubungan antara magnitudo impedansi dengan frekuensi,
gambar kanan : grafik hubungan sudut fasa impedansi dengan frekuensi

Anda mungkin juga menyukai