Anda di halaman 1dari 5

ETIKA BISNIS DAN TATA KELOLA KORPORAT

Kelompok 2:
ANDI AMIRULLAH ARIF TIRO - 15MPAXXXIC08
AFNI SIRAIT
- 15MPAXXXIC04
IKA FEBRIANA
- 15MPAXXXIC14
KHALIDA NDR
- 15MPAXXXIC17
PUTERI ERSA AYU P
- 15MPAXXXIC30
SINTA ARIA DEWI S
- 15MPAXXXIC37
ULFA AFIFAH
- 15MPAXXXIC42

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA

STUDI KASUS:

INFOSYS TECHNOLOGIES, LTD.


Pendahuluan
Infosys didirikan pada tahun 1981 oleh tujuh orang insinyur dengan modal awal sebesar
US$250. Perusahaan didirikan dengan prinsip membangun dan mengimplementasikan
pemikiran-pemikiran besar yang mendorong kemajuan klien dan memperpanjang kehidupan
melalui solusi perusahaan. Dalam waktu tiga dekade, Infosys telah berfokus pada hal tersebut.
Mereka menyadari pentingnya memelihara hubungan yang mencerminkan budaya etika yang
teguh dan saling menghormati. Itu datang tidak dengan begitu mengejutkan, bahwa 98.1 persen
(per September 30, 2014) dari pendapatan mereka berasal dari klien yang sudah ada.
Infosys memiliki keberadaan global dengan lebih dari 165,000+ karyawan. Secara global,
perusahaan ini memiliki 73 kantor penjualan dan pemasaran, dan 93 pusat pengembangan pada
tanggal 31 Maret 2014.
Di Infosys, mereka percaya tanggung jawabnya melampaui bisnis. Itulah sebabnya mereka
mendirikan Infosys Foundation

untuk memberikan bantuan dalam kehidupan sosial dan

ekonomi pada sektor masyarakat bawah di mana mereka bekerja. Dan itulah mengapa mereka
berperilaku etis dan jujur dalam semua interaksi mereka dengan klien, mitra dan karyawan.
Tantangan yang dihadapi Infosys Technologies, Ltd.
Dalam mewujudkan visi perusahaan yaitu menjadi perusahaan yang paling dihormati di
India, N.R. Narayana Murthy, salah satu pendiri Infosys yang sekarang ini ditunjuk menjadi
Eksekutif Ketua Dewan (Executive Chairman of the Board) dari Infosys. Menurut beliau, ada
beberapa tantangan yang signifikan membuat perusahaan ini harus bekerja keras dalam
mewujudkan perusahaan yang berbasis nilai (values-based company).
1. Infosys memilih membayar pemerintah sesuai ketentuan daripada memberikan suap
kepada petugas pemerintah. Di India, suap sangat memberikan pengaruh signifikan untuk
kesuksesan suatu bisnis. Sesuatu yang tidak normal di India jika terdapat perusahaan
yang dapat memenangkan tender tanpa memberikan sogokan kepada calon klien mereka.
2. Infosys tidak mampu bersaing dengan rival mereka karena mereka banyak menggunakan
taktik bisnis untuk merendahkan ongkos produksi dan pajak.
3. Berhubungan dengan para senior eksekutif di Negara berkembang sangat memerlukan
pelicin baik berupa materiil maupun non materiil.

4. Infosys pernah berhenti mendistribusikan piranti lunak yang menyedot banyak tambahan
biaya (extra-cost) dikarenakan harus mengimpor barang tersebut yang bea masuknya
sangat tinggi pada akhir tahun 1980.
5. Tidak setiap manager Infosys mematuhi nilai-nilai perusahaan.
Mantan kepala penjualan di seluruh dunia Infosys ini, asisten eksekutif yang di AS
menuduhnya melakukan pelecehan seksual. Dia harus mengundurkan diri, dan Infosys
dan asuransi yang dibayar lebih dari $ 3 milInfosys baru-baru ini.
6. Dengan dikenal sebagai perusahaan yang berbasis nilai membuat tekanan pada Infosys
untuk melakukan yang lebih lagi di bidang-bidang lain (other areas).
7. Isu terakhir mengenai Infosys, bahwa perusahaan dituduh melanggar hukum AS visa
dengan menyediakan pekerja penuh waktu dengan visa dimaksudkan hanya untuk
pengunjung (business-trip visa yang diberikan dengan tujuan untuk seminar dan
traininig)
Tindakan Infosys Technologies, Ltd.
Infosys menyikapi penyuapan dengan tidak mengindahkan permintaan petugas pemerintah
dan berbuat hanya yang sesuai dengan aturan. Dengan kebenaran yang coba disampaikan Infosys
kepada pegawainya, pegawai merekapun menjadi bersemangat untuk bertidak sesuai aturan,
meski pegawai lain melakukan hal sebaliknya. Pegawai Infoys menjadi rasa antusias yang tinggi,
semakin berkomitmen, dan semakin produktif.
Dalam hal memenangkan tender, Infosys berani menolak memberikan mobil untuk
kenyamanan pribadi. Sehingga tanpa memberikan sebuah mobilpun, Infosys mampu
memenangkan tender tersebut. Perusahaan juga berani menutup produk yang tinggi ongkos
distribusinya dikarenakan bea masuk yang tinggi (hal ini terjadi karena Infosys tidak ingin
melibatkan penyuapan dalam transaksi tersebut).
Ada beberapa kasus pegawai Infosys yang tidak mematuhi nilai-nilai yang dianut
perusahaan. Perusahaan menjalankan praktek (zero tolerance policy) sehingga pegawai tersebut
tidak dipekerjakan kembali. Infosys bertindak cepat menyelesaikan kasus-kasus tersebut
sehingga kasus yang ada tidak menjadi bertambah besar. Sebaliknya, perusahaan juga
menyediakan penghargaan tahunan untuk pegawai yang mematuhi nilai-nilai perusahaan mereka.
Untuk memenuhi tanggung jawab kepada pemangku kepentingan (stakeholders) mereka,
Infosys lebih menyukai mengungkapkan kerugian mereka kepada para pemangku kepentingan
(stakeholders), Infosys mengutamakan transparansi atas pengungkapan pada laporan keuangan
sehingga stakeholders pun tidak menghukum mereka malah semakin mendukung Infosys.

Infosys memiliki nilai-nilai yang tidak tercatat sampai pada tahun 1998 berhasil
didokumentasikan. Nilai-nilai tersebut diberitahukan, dilatih dan disosialisasikan kepada
pegawai-pegawai baru. Cara-cara yang dilakukan dalam hal sosialisasi sistem nilai perusahaan
adalah:
a. Menyebarkan nilai-nilai perusahaan menggunakan Infy TV dan Infy Radio
b. Membuat titik temu (points of contact) untuk memecahkan dilema etika.
c. Pemimpin perusahaan yang tersebar sebanyak 700 orang terus-menerus memperkuat nilainilai kami. Mereka banyak menghabiskan istirahat makan siang mereka dengan karyawan
muda, mendiskusikan nilai-nilai kami.
Untuk mendukung visi dari perusahaan, maka Infosys membuat suatu sistem nilai di Perusahaan.
Berikut ini sistem nilai yang dibuat perusahaan, dinamakan C-LIFE yaitu sebagai berikut:
1. Kepuasan pelanggan (Customer delight):
Sebuah komitmen untuk melebihi harapan pelanggan kami.
2. Kepemimpinan dengan contoh (Leadership by Example):
Komitmen untuk menetapkan standar dalam bisnis dan transaksi kami dan menjadi
contoh bagi industri dan tim kita sendiri.
3. Integritas dan transparansi (Integrity and Transparency):
Komitmen untuk menjadi etis, tulus dan terbuka dalam hubungan kita.
4. Keadilan (Fairness):
Komitmen untuk bersikap objektif dan berorientasi transaksi, sehingga mendapatkan
kepercayaan dan rasa hormat.
5. Pencapaian terbaik (Pursuit of Excellence):
Komitmen untuk berusaha tanpa henti, untuk terus meningkatkan Diri kita sendiri,
tim kami, layanan kami dan produk sehingga menjadi yang terbaik.
Filosofi dalam perusahaan yang terangkum ke dalam prinsip-prinsip:
Satisfying the spirit of the law and not just the letter of the law (Memuaskan semangat
hukum, bukan hanya surat hukum)
Going beyond the law in upholding corporate governance standards (Melampaui hukum
dalam menegakkan standar tata kelola perusahaan)

Maintaining transparency and a high degree of disclosure levels (Menjaga transparansi dan
tingkat tinggi tingkat pengungkapan)
Making a clear distinction between personal convenience and corporate resources
(Membuat perbedaan yang jelas antara kenyamanan pribadi dan sumber daya perusahaan)
Communicating externally in a truthful manner about how the company is run internally
(Berkomunikasi secara eksternal dengan cara jujur tentang bagaimana perusahaan
dijalankan secara internal)
Complying with the laws in all the countries in which the company operates (Mematuhi
hukum di semua negara di mana perusahaan beroperasi )
Having a simple and transparent corporate structure driven solely by business needs
(Memiliki struktur perusahaan sederhana dan transparan semata-mata didorong oleh
kebutuhan bisnis)
Embracing a trusteeship model in which the management is the trustee of the shareholders'
capital and not the owner (Merangkul model wali amanat di mana manajemen adalah
wali dari modal pemegang saham, bukan pemilik)
Driving business based on the belief, when in doubt, disclose (Mengemudi bisnis
didasarkan pada keyakinan, 'bila ragu, ungkapkan')
Kesimpulan Kasus
Hasil dari peninjauan terhadap kasus Infosys, menurut kelompok kami, Infosys merupakan
perusahaan yang memang terbukti telah membangun perusahaan mereka dengan nilai-nilai etika
sebagai pondasinya. Bukan profit yang mereka kejar, tapi dengan mengedepankan tata kelola
yang beretika maka perusahaan dapat mengejar ketinggalannya dalam segi profit.
Infosys juga telah merancang dan mengimplementasikan program etika, sistem nilai yang
disebut oleh Brooks, cultural values dalam perusahaan. N. R. Narayana Murthy dan enam orang
insinyur pendiri Infosys berhasil menciptakan struktur korporasi yang beretika sejak tahun 1981.