Anda di halaman 1dari 2

Kandungan Gizi dan Manfaat Labu Kuning

Berat buah labu kuning bisa mencapai 3-5 kg. Biasanya buah ini memiliki warna hijau dan
warna kuning pucat. Buah Labu kuning atau yang berwarna orange memiliki karotenoid yang
sangat tinggi. Karotenoid dalam buah labu sebagian besar memiliki beta-carotene yang
merupakan sumber antioksidan, yang mampu mencegah penuaan dini dan kanker.
Labu kuning juga memiliki kandungan Vitamin C yang berfungsi sebagai kekebalan tubuh,
zat besinya berfungsi untuk pembentukan darah, kaliumnya berguna untuk menjaga
keseimbangan air dan elektrolit di dalam tubuh serta labu kuning juga mengandung serat
yang berfungsi untuk pencernaan tubuh
Labu kuning juga diketahui mengandung cukup banyak potassium, yaitu mineral yang
disebut-sebut mampu menurunkan risiko terkena hipertensi.
Mineral lainnya yang terkandung dalam labu kuning adalah zinc, yang mampu meningkatkan
system imun (pertahanan) tubuh. Belum lagi kemampuannya menurunkan risiko
osteoporosis, karena zinc berperan dalam mendukung kepadatan tulang.
Kandungan serat di labu kuning yang cukup tinggi sangat berguna dalam kesehatan
pencernaan untuk mengurangi resiko sembelit. Selain itu, menurut hasil penelitian, bahwa
serat juga bisa menurunkan risiko kanker dan penyakit jantung.
Air buah labu kuning berguna sebagai penawar racun binatang dan bijinya dapat menjadi obat
cacing pita. Air perasan buahnya juga bisa digunakan sebagai pewarna alami dalam
pengolahan makanan tradisional karena memiliki warna kuning akibat dari kandungan
betakaroten.
Selain dagingnya, biji labu kuning juga mempunyai manfaat, yakni untuk meringankan gejala
arthritis, karena di dalamnya terkandung zat anti-peradangan.
Cara sederhana mengonsumsi buah labu kuning yaitu diolah dengan dipotong, dikupas,
dipanggang dan dibubuhi minyak zaitun, garam, dan merica sebagai hidangan sederhana
yang lezat. Biji labu atau biasa disebut dengan pepitas, dapat Anda temukan di supermarket
terdekat. Biasanya biji labu tersedia dalam bentuk instan yang bisa langsung dimakan
Serat pangan, dikenal juga sebagai serat diet atau dietary fiber, merupakan bagian dari
tumbuhan yang dapat dikonsumsi dan tersusun dari karbohidrat yang memiliki sifat resistan
terhadap proses pencernaan dan penyerapan di usus halus manusia serta mengalami
fermentasi sebagian atau keseluruhan di usus besar.[1]
Serat pangan mencakup polisakarida, oligosakarida, lignin, serta substansi lainnya yang
berhubungan dengan tumbuhan.[1] Trowell et al. (1985) mendefiniskan serat pangan adalah
sisa dari dinding sel tumbuhan yang tidak terhidrolisis atau tercerna oleh enzim pencernaan
manusia yaitu meliputi hemiselulosa, selulosa, lignin, oligosakarida, pektin, gum, dan lapisan
lilin.[2] [3] Sedangkan Meyer (2004) mendefinisikan serat sebagai bagian integral dari bahan

pangan yang dikonsumsi sehari-hari dengan sumber utama dari tanaman, sayur-sayuran,
sereal, buah-buahan, kacang-kacangan, dsb.[1] Berdasarkan kelarutannya serat pangan terbagi
menjadi dua yaitu serat pangan yang terlarut dan tidak terlarut.[1] Serat pangan terlarut
meliputi pektin, beta glukan, galaktomanan, gum, serta beberapa oligosakarida yang tidak
tercerna termasuk inulin didalamnya, sedangkan serat tidak larut meliputi lignin, selulosa,
dan hemiselulosa