Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PEMBAHASAN

1.1 Latar Belakang


Rheologi berasal dari bahasa yunani mengalir (rheo) dan logos (ilmu). Digunakan
istilah ini untuk pertama kali oleh Bingham dan Croeford untuk menggunakan aliran cairan
dan deformasi dari padatan.
Rheologi meliputi pencampuran dan aliran dari bahan, pemasukan kedalam wadah,
pemudahan sebelum diunakan, apakah dicapai penuangan dari botol, pengeluaran dari tube,
atau pelawatan dari jarum suntik. Rheologi dari produk tertentu yang dapat berkisar dalam
konsentrasi dari bentuk cair kesemiloid sampai kepadatan, dapat mempengaruhi
penerimaan bagi sipasien, stabilitas fisika, dan bahkan availabilitas diologis.
Sifat-sifat rheologi dari sistem farmaseutika dapat mempengaruhi pemilihan alat
yang akan digunakan untuk memproses produk tersebut dalam pabrinya. Lebih-lebih lagi
tidak adanya perhatian terhadap pemilihan alat ini akan berakibat diperolehnya hasil yang
tidak diinginkan. Paling tidak dalam karakteristik alirannya. Aspek ini dan banyak lagi
aspek-aspek rheologi yang diterapkan dibidang farmasi.
Penggolongan bahan menurut tipe aliran dan deformasi adalah sebagai berikut :
sistem newtom dan sistem non Newton. Pemilihan bergantung pada sifat-sifat alirannya
apakah sesuai dengan hukum aliran dari newton atau tidak. Jika karakteristik fisika masingmasing ini dirancang dan dipelajari secara objektif menurut metode analisis dari rheologi,
dapat diperoleh informasi yang berharga untuk digunakan dalam mempermulasi produkproduk farmasi yang lebih baik.
1

1.2 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui apa yang dimaksud oleh
rheologi itu sendiri serta penggunaan atau aplikasi darirheologi itu sendiri.
1.3 Manfaat Penulisan
Hasil dari penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada
semua pihak, khususnya pada kelompok lain untuk menambah wawasan dan pengetahuan.
Manfaat lain dari penulisan makalah ini adalah dengan adanya makalah ini, diharapkan
dapat dijadikan acuan dalam memberikan pemaparan mengenai rheologi dan aplikasinya
dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Tinjauan Pustaka
Rheologi adalah ilmu yang mempelajari tentang aliran cairan dan deformasi. Ali
fisiologi menggunakan ilmu ini untuk memperediksi sirkulasi darah. Para dokter menggunakan

untuk menentukan aliran larutan injksi, sedangkan untuk ahli farmasi menggunkannya untuk
menentukan aliran emulsi, suspensi dan salep (Rachmat kosman, 2006)
Berdasrkan grafik sifat aliran cairan newton terbagi atas dua kelompok yaitu (Anonim,
2007) :
1. Cairan yang sifat alirannya tidak dipengaruhi oleh waktu.
a. Aliran plastik
b. Aliran pseudoplastik
c. Aliran dilatan
2. Cairan yang sifat alirannya dipengeruhi oleh waktu
a. Aliran tiksotropik
b. Aliran rheopeksi
c. Aliran viskoelastis
Ahli farmsi kemungkinan besar lebih sering menghadapi cairan non newton dibanding
dengan cairan biasa. Oleh karena itu mereka harus mempengaruhi metode yang sesuai untuk
mempelajari zat-zat kompleks ini. Non newtonian Bodies adalah zat-zat yang tidak mengikuti
persamaan aliran newton : dispersi heterogen cairan dan padatan seperti larutan koloid, emulsi,
suspensi cair, salep dan produk-produk serupa masuk kelas ini. Jika bahan-bahan non newton
dianalisis dalam suatu viskometer putar dan hasilnya diplot diperoleh berbagai kurva konsistensi
yang menggambarkan adanya tiga kelas aliran yakni plastis, pseuodoplastis dan dilatan (Alfred
Martin, 1993)
Kurva aliran ini plastis tidak melalui titik (0,0) tetapi memotong sumbu shearing stress
(atau akan memotong, jika bagian lurus dan kurva tersebut diektrapolasikan ke sumbu) pada

suatu titik tertentu yang dikenal sebagai harga yield. Bingham bodies tidak akan mengalir sampai
shearing stress dicapai sebesar yield value tersebut. Pada harga stress di bawah harga yield, zat
bertindak seperti bahan elastis. Ahli rheologi menggolongkan Bingham Bodies suatu bahan yang
mempunyai / memperlihatkan yield value, seperti halnya zat padat. Sedang zat-zat yang mulai
mengalir pada shearing stress terkecil didefinisikan sebagai cairan. Yield value adalah suatu sifat
yang penting dari dispersi-dispersi tertentu (Alfred Martin, 1993).
Aliran pseudoplastis. Sejumlah besar produk farmasi termasuk gom alam dan sintesis,
misalnya : dispersi cair dari traga ileh polimer-polimer dalam larutan, yang merupakan kebalikan
dari sistem plastis, yang tersusun dari partikel-partikel yang terflokulasi dalam suspensi, kurva
konsistensi untuk bahan pseudoplastis mulai pada titik (0,0) atau paling tidak mendekatinya rate
of shear rendah. Akibatnya, berlawanan dengan Bingham Bodies, tidak ada yield value. Tapi
karena tidak ada bagian kurva yang linier, maka kita tidak dapat menyatakan viskositas suatu
bahan pseudoplastis dengan suatu harga tunggal (Alfred Martin, 1993).
Aliran dilatan. Suspensi-suspensi tertentu dengan persentase zat padat terdispersi yang
tinggi menunjukkan peningkatan dalam daya hambat untuk mengalir dengan peningkatan dalam
daya hambat untuk mengalir dengan meningkatnya rate of share. Pada sistem seperti itu
sebenarnya volumenya meningkat jika terjadi shear dan oleh karena itu diberi istilah dilatan
(Alfred Martin, 1993).
2. Pengertian Rheologi
Rheologi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan aliran cairan dan deformasi
dari padatan. Rheologi mempelajari hubungan antara tekanan gesek (shearing stress) dengan
kecepatan geser (shearing rate) pada cairan, atau hubungan antara strain dan stress pada benda
padat. Rheologi erat kaitannya dengan viskositas. Rheologi sangat penting dalam farmasi karena
penerapannya dalam formulasi dan analisis dari produk-produk farmasi seperti: emulsi, pasta,

krim, suspensi, losion, suppositoria, dan penyalutan tablet yang menyangkut stabilitas,
keseragaman dosis, dan keajekan hasil produksi. Misalnya, pabrik pembuat krim kosmetik, pasta,
dan lotion harus mampu menghasilkan suatu produk yang mempunyai konsistensi dan
kelembutan yang dapat diterima oleh konsumen. Selain itu, prinsip rheologi digunakan juga
untuk karakterisasi produk sediaan farmasi (dosage form) sebagai penjaminan kualitas yang
sama untuk setiap batch. Rheologi juga meliputi pencampuran aliran dari bahan,pemasukan ke
dalam wadah,pemindahan sebelum digunakan,penuangan, pengeluaran dari tube, atau pelewatan
dari jarum suntik. Rheologi dari suatu zat tertentu dapat mempengaruhi penerimaan obat bagi
pasien, stabilitas fisika obat, bahkan ketersediaan hayati dalam tubuh (bioavailability). Sehingga
viskositas

telah

terbukti

dapat

mempengaruhi

laju

absorbsi

obat

dalam

tubuh.

Sifat-sifat rheologi dari sistem farmaseutika dapat mempengaruhi pemilihan alat yang akan
digunakan untuk memproses produk tersebut dalam pabriknya. Lebih-lebih lagi tidak adanya
perhatian terhadap pemilihan alat ini akan berakibat diperolehnya hasil yang tidak diinginkan.
Paling tidak dalam karakteristik alirannya. Aspek ini dan banyak lagi aspek-aspek rheologi yang
diterapkan dibidang farmasi. Ada beberapa istilah dalam rheologi ini :
Rate of shear (D) dv/dr untuk menyatakan perbedaan kecepatan (dv) antara dua bidang
cairan yang dipisahkan oleh jarak yang sangat kecil (dr).
Shearing stress ( atau F ) F/A untuk menyatakan gaya per satuan luas yang diperlukan
untuk menyebabkan aliran F/A = dv/dr = (F/A) / (dv/dr)= F / G.
Penggolongan sistem cair menurut tipe aliran dan deformasinya ada dua yaitu:
Sistem Newton
Sistem Non Newton
Pemilihan bergantung pada sifat-sifat alirannya apakah sesuai dengan hukum aliran dari
A.

newton atau tidak.


Sistem Newton
Pada cairan Newton, hubungan antara shearing rate dan shearing stress adalah linear,

dengan suatu tetapan yang dikenal dengan viskositas atau koefisien viskositas. Tipe alir ini
umumnya dimiliki oleh zat cair tunggal serta larutan dengan struktur molekul sederhana dengan
volume molekul kecil. Tipe aliran yang mengikuti Sistem Newton, viskositasnya tetap pada suhu
dan tekanan tertentu dan tidak tergantung pada kecepatan geser, sehingga viskositasnya cukup
ditentukan pada satu kecepatan geser.
B.

Sistem Non Newton

Pada cairan non-Newton, shearing rate dan shearing stress tidak memiliki hubungan linear,
viskositasnya berubah-ubah tergantung dari besarnya tekanan yang diberikan. Tipe aliran nonNewton terjadi pada dispersi heterogen antara cairan dengan padatan seperti pada koloid, emulsi,
dan suspense cair,salep. Ada 3 jenis tipe aliran dalam sistem Non-Newton, yaitu : PLASTIS,
PSEUDOPLASTIS, dan DILATAN.
Aliran PlastisKurva aliran plastis tidak melalui titik (0,0) tapi memotong sumbu shearing
stress (atau auakan memotong jika bagian lurus dari kurva tersebut diekstrapolasikan ke sumbu)
pada suatu titik tertentu yang dikenal dengan sebagai harga yield. Cairan plastis tidak akan
mengalir sampai shearing stress dicapai sebesar yield value tersebut. Pada harga stress di bawah
harga yield value, zat bertindak sebagi bahan elastis (meregang lalu kembali ke keadaan semula,
tidak mengalir).
U=(Ff)/G
U adalah viskositas plastis,
f adalah yield value
Aliran plastis berhubungan dengan adanya partikel-partikel yang tersuspensi dalam
suspensi pekat. Adanya yield value disebabkan oleh adanya kontak antara partikel-partikel yang
berdekatan (disebabkan oleh adanya gaya van der Waals), yang harus dipecah sebelum aliran
dapat terjadi. Akibatnya, yield value merupakan indikasi dari kekuatan flokulasi. Makin banyak
suspensi yang terflokulasi, makin tinggi yield value-nya. Kekuatan friksi antar partikel juga
berkontribusi dalam yield value. Ketika yield value terlampaui (shear stress di atas yield value),
sistem

plastis

akan

menyerupai

sistem

newton

Aliran

Pseudoplastis .

Aliran pseudoplastis ditunjukkan oleh beberapa bahan farmasi yaitu gom alam dan sisntesis
seperti dispersi cair dari tragacanth, natrium alginat, metil selulosa, dan natrium karboksimetil
selulosa. Aliran pseudoplastis diperlihatkan oleh polimer-polimer dalam larutan, hal ini
berkebalikan dengan sistem plastis, yang tersusun dari partikel-partikel tersuspensi dalam emulsi.
Kurva untuk aliran pseudoplastis dimulai dari (0,0) , tidak ada yield value, dan bukan suatu harga
tunggal.
Viskositas aliran pseudoplastis berkurang dengan meningkatnya rate of shear. Rheogram
lengkung untuk bahan-bahan pseudoplastis ini disebabkan adanya aksi shearing terhadap
molekul-molekul polimer (atau suatu bahan berantai panjang). Dengan meningkatnya shearing
stress, molekul-molekul yang secara normal tidak beraturan, mulai menyusun sumbu yang
panjang dalam arah aliran. Pengarahan ini mengurangi tahanan dari dalam bahan tersebut dan
6

mengakibatkan rate of shear yang lebih besar pada tiap shearing stress berikutnya. FN = G
Eksponen N meningkat pada saat aliran meningkat hingga seperti aliran newton. Jika N=1 aliran
tersebut sama dengan aliran newton.
Aliran Dilatan Aliran dilatan terjadi pada suspensi yang memiliki presentase zat padat
terdispersi dengan konsentrasi tinggi. Terjadi peningkatan daya hambat untuk mengalir
(viskositas) dengan meningkatnya rate of shear. Jika stress dihilangkan, suatu sistem dilatan akan
kembali ke keadaan fluiditas aslinya. Pada keadaaan istirahat, partikel-partikel tersebuat
tersususn rapat dengan volume antar partikel pada keadaan minimum. Tetapi jumlah pembawa
dalam suspensi ini cukup untuk mengisi volume ini dan membentuk ikatan lalu memudahkan
partikel-partikel bergerak dari suatu tempat ke tempat lainnya pada rate of shear yang rendah.
Pada saat shear stress meningkat, bulk dari system itu mengembang atau memuai (dilate). Hal itu
menyebabkan volume antar partikel menjadi meningkat dan jumlah pembawa yang ada tidak
cukup memenuhi ruang kosong tersebut. Oleh karena itu hambatan aliran meningkat karena
partikel-partikel tersebut tidak dibasahi atau dilumasi dengan sempurna lagi oleh pembawa.
Akhirnya suspense menjadi pasta.
Cara Menentukan Viskositas
Cara menentukan viskositas suatu zat menggunakan alat yang dinamakan viskometer. Ada
beberapa tipe viskometer yang biasa digunakan antara lain :
a.Viskometer kapiler / Ostwald
Viskositas dari cairan newton bisa ditentukan dengan mengukur waktu yang dibutuhkan
bagi cairan tersebut untuk lewat antara 2 tanda ketika ia mengalir karena gravitasi melalui
viskometer Ostwald. Waktu alir dari cairan yang diuji dibandingkan dengan waktu yang
dibutuhkan bagi suatu zat yang viskositasnya sudah diketahui ( biasanya air ) untuk lewat 2 tanda
tersebut.
b. Viskometer Hoppler
Berdasrkan hukum Stokes pada kecepatan bola maksimum, terjadi keseimbangan sehingga
gaya gesek = gaya berat gaya archimides. Prinsip kerjanya adalah menggelindingkan bola
(yang terbuat dari kaca ) melalui tabung gelas yang hampir tikal berisi zat cair yang diselidiki.
Kecepatan jatuhnya bola merupakan fungsi dari harga resiprok sampel.
c. Viskometer Cup dan Bob
Prinsip kerjanya sample digeser dalam ruangan antara dinding luar dari bob dan dinding
dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengah-tengah. Kelemahan viscometer ini adalah
7

terjadinya aliran sumbat yang disebabkan geseran yang tinggi disepanjang keliling bagian tube
sehingga menyebabkan penueunan konsentrasi. Penurunan konsentrasi ini menyebabkab bagian
tengah zat yang ditekan keluar memadat. Hal ini disebt aliran sumbat.
d. Viskometer Cone dan Plate
Cara pemakaiannya adalah sampel ditempatkan ditengah-tengah papan, kemudian
dinaikkan hingga posisi dibawah kerucut. Kerucut digerakkan oleh motor dengan bermacam
kecapatan dan sampelnya digeser didalam ruang semit antara papan yang diam dan kemudian
kerucut yang berputar.
2. PENERAPAN RHEOLOGI DALAM FARMASI
1. Cairan dapat diterapkan pada :
a. Pencampuran
b. Pengurangan ukuran partikel dari sistem sistem dispersi dengan shear
c. Pelewatan melalui mulut, penuangan, pengemasan dalam botol, pelewatan melalui jarum
suntik
d. Perpindahan cairan
e. Stabilitas fisik sistem dispersi
2. Semi solid diterapkan pada :
a. Penyebaran dan pelekatan pada kulit
b. Pemindahan dari wadah/tube
c. Kemampuan zat padat untuk bercampur dengan cairan-cairan
d. Pelepasan obat dari basisnya
3. Padatan diterapkan pada :
a. Aliran serbuk dari corong ke lubang cetakan tablet/kapsul
b. Pengemasan serbuk/granul
4. Pemprosesan diterapkan pada
a. Kapasitas produksi alat
b. Efisiensi pemrosesan
2.1 Sifat Rheologi Dalam Suspensi
Viskositas dari suatu suspensi apabila mempengaruhi pengendapan dari partikelpartikel zat terdispersi perubahan dalam sifat-sifat aliran dari suspensi bila wadahnya
dikocok dan bila produk tersebut dituang dari botol, dan kualitas penyebaran dari cairan
( lotio ) bila digunakan untuk suatu bagian permukaan yang akan diobati. Pertimbangan
rheologi juga penting dalam pembuatan suspensi.
Satu-satunya shear yang terjadi dalam suatu suspensi pada penyimpanan adalah
lantaran pengendapan dari partikel-partikel yang tersuspensi; Gaya ini diabaikan dan
bisa dibuang. Tetapi jika wadah dikocok dan produk dituang dari botol, terdapat laju
8

shearing yang tinggi. Zat pensuspensi yang ideal harus mempunyai viskositas yang
tinggi pada shear yang dapat diabaikan, yakni selama penyimpanan; dan zat pensuspensi
itu harus mempunyai viskositas yang rendah pada laju shearing yang tinggi, yakni ia
harus bebas mengalir selama pengocokan, penuangan, dan penyebarannya ini. Gliserin
yang merupakan cairan Newton termasuk dalam grafik untuk pembanding. Viskositasnya
sesuai untuk partikel-partikel yang mensuspensi, tapi terlalu tingii untuk dituangkan
dengan mudah dan untuk disebarkan pada kulit. Lebih-lebih lagi, gliserin menunjukkan
sifat melekat (tackiness stickiness) yang tidak diinginkan dan ia terlalu higroskopik
untuk digunakn dalam bentuk tidak diencerkan. Kurva dalam gambar 1 diperoleh
menggunakan viskometer Stormer yang sudah dimodifikasi .
Suatu zat pensuspensi yang tiksotropik seperti juga pseudoplastik harus terbukti
berguna karena ia membentuk gel pada pendiaman dan menjadi cair jika digoyangkan.
Gambar 2 menunjukkan kurva konsistensi untuk bentonit, veegum, dan suatu kombinasi
dari bentonit dan natrium karboksimetil selulosa ( CMC ). Bentuk histeresis dari bentonit
sangat terkenal. Veegum juga menunjukkan tiksotropi yang dapat dipertimbangkan, baik
jika dites dengan membalikkan suatu bejana yang mengandung dispersi maupun jika
dianalisis dalam suatu viskometer putar. Jika dispersi bentonit dan CMC dicampur, kurva
yang dihasilkan menunjukkan karakteristik tiksotropik maupun pseudoplastik.
Kombinasi seperti ini harus menghasilkan suatu medium pensuspensi yang sangat baik.
2.2 Sifat Rheologi Dalam Emulsi
Produk yang diemulsikan mungkin mengalami berbagai shear-stress selama
pembuatan atau penggunaanya. Pada kebanyakan proses ini sifat aliran produk akan
menjadi sangat penting untuk penampilan emulsi yang tepat pada kondisi penggunana
dan pembuatannya. Jadi penyebaran produk dermatologik dan produk kosmetik harus
dikontrol agar didapat suatu preparat yang memuaskan. Aliran emulsi parenteral melalu
jarum hipodermik, pemindahan suatu emulsi dari botol atau tube, dan sifat dari satu
emulsi dalam berbagai proses penggilingan yang digunakandalam pembuatan produk ini
secara besar-besaran, menunjukkan perlunya karakteristik aliran yang tepat.
Kebanyakan emulsi, kecuali emulsi encer, menunjukkan aliran non Newton yang
mempersulit interpretasi data dan perbandingan kuantitatif antara sistem-sisten dan
formulasi-formulasi yang berbeda.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan fase terdispersi meliputi perbandingan


dengan fase terdispers meliputi perbandingan volume fase, distribusi ukuran partikel,
dan viskositas dari fase dalam itu sendiri. Jadi, jika konsentrasi volume dari fase
terdispers rendah (kurang dari 0,05), sistem tersebut adalah Newton. Dengan naiknya
konsentrasi volume, sistem tersebut menjadi lebih tahan terhadap aliran dan menujukkan
karekteristik aliran pseudoplastis. Pada konsentrasi yang cukup tinggi, terjadi aliran
plastis. Jika konsentrasi volume mendekati 0,74, mungkin terjadi inversi dengna
berubahnya viskositas secara nyata. Pengurangan ukuran partikel rata-rata akan
menaikkan viskositas. Makin luas distribusi ukuran partikel, makin rendah viskositasnya
jika dibandingkan dengan sistem yang memiliki ukuran partikel rata-rata serupa tetapi
dengan distribusi ukuran partikel yang lebih sempit.
Sifat utam fase kontinu yang mempengaruhi sifat-sifat alira dari sustu emulsi
adalah bukan pada viskositasnya. Tetapi efek viskositas dari fase kontinu mungkin lebih
besar dari yang diramalkan dengan menentukan viskositas bulk dari fase kontinu itu
sendiri. Ada indikasi bahwa viskositas dari suatu lapisn cair yang tpis, katakanlah 100
200 A adalah beberapa kali harga viskositas dari cairan bulk. Oleh karena itu viskositas
yang lebih tinggi bisa terdapat pada emulsi yang mempunyai konsentrasi tinggi, jika
ketebalan fase kontinu antara tetesan-tetesan yang berdekatan mendekati dimensi ini.
Pengurangn viskositas dengan penaikan shear sebagian bisa disebabkan oleh penurunan
viskositas dari fase kontinu karena jarak pemisahan antara bola-bola yang meningkat.
Komponen ketiga yang mungkin mempengaruhi vskositas emulsi adalah zat
pengemulsi. Tipe zat akan mempengaruhi flokulasi partikel dan daya tarik-menarik
antarpartikel, dan ini, sebaliknya akan mengbuah aliran. Tambahan pula, untuk sistem
apa saja, makin tinggi konsentrasi zat pengemulsi, akan makin tinggi pula viskositas
produk tersebut. Sifat-sifat fisika dari lapisan dan sifat-sifat listriknya juga merupakan
faktor yang bermaknanya.
2.3 Sifat Rheologi Dalam Semisolid
Pembuat salep farmasetis dan krim kosmetik menyadari adanya keinginan untuk
mengontrol konsistensi bahan non-Newton. Insrumen yang paling baik untuk
menentukan sifat-sifat rheologi dari semisolid di bidang farmasi adalah viskometer putar
(rotational viscometer). Untuk analisis semisolid yang berbentuk emusi dan suspensi

10

digunakan cone-plate viscometer. Viscometer Stormer terdiri dari cup yang stationer dan
bob yang berputar, dan alat ini juga baik untuk semisolid.
Kurva konsistensi untu basis salep yang dapat mengemulsi, petrolatum hidrofilik
dan petrolatum hidrofilik yang telah dicampur dengan air, terlihat pada gambar 3. Akan
terlihat bahwa penambahan air ke dalam petrolatum hidrifilik menunrunkan yielpoint
(perpotongan antara ekstrapolasikurva menurun dan sumbu horizontal, muatan dalam
gram). Dari 520 sampai 340 gram. Viskositas plastis (kebalikan dari kemiringan kurva
yang menurun ke bawah) dan tiksotropi ( dareah lengkung histeresis) ditingkatkan
dengan penambahan air ke dalam Petrolatum Hidrifilik.
Efek temperatur terhadap konsistensi dari suatu basis salep dapat dianalisis
menggunakan suatu viskometer putar yang didesain dengan tepat. Gambar 4 dan gambar
5 menunjukkan perubahan viskositas plastis dan tiksotropi dari petrolatum dan plastibase
sebagai fungsi dari temperatur. Viskometer Stormer yang dimodifikasi digunakan untuk
memperoleh kurva-kurva ini. Seperti terlihat pada gambar 4, kedua basis menunjukkan
koefisien temperatur dari viskositas plastis yang sama. Hasil ini merupakan suatu
kenyataan bahwa basis tersebut mempunyai derajat kelembutan (sofness) yang hampir
sama jika diraba diantara dua jari. Kurva Yield Value terhadap temperatur ternyata
mengikuti pola hubungan yang hampir sama. Kurva pada gambar 5 memperlihatkan
dengan jelas perubahan tiksotropi terhadap temperatur yang membedakan kedua basis
tersebut ( Petrolatum dan Plastibase). Karena merupakan suatu akibat dari struktur gel,
gambar 5 menunjukkan bahwa matriks malam (wax) dari Petrolatum kemungkinan besar
pecah dengan naiknya temperatur, sedangkan struktur resin dari Plastibase tahan
terhadap perubahan temperatur pada percobaan tersebut.
Berdasarkan data dan kurva seperti ini, ahli farmasi dalam laboratorium
pengembangan dapat memformulasi salep dengan karekteristik konsistensi yang lebih
diinginkan, para pekerja pada bagian produksi dapat mengontrol keseragaman dari
produk akhir yang lebih baik, dan ahli dermatologi dan pasien dapat mengandalkan
adanya suatu basis yang menyebar secara merata dan halus pada berbagai iklim, tapi
melekat baik pada daerah dimana obat itu bekerja dan tidak sulit untuk dihilangkan
sesudah obat tersebut digunakan.
2.4 Sifat Aliran Pada Serbuk

11

Serbuk bulk agak analog dengan cairan non Newton, menunjukkan aliran plastik
dan kadang-kadang dilatansi, partikel-partikel dipengaruhi oleh gaya tarik menarik
sampai derajat yang bervariasi. Oleh karena itu, serbuk bisa jadi mengalir bebas (freeflowing) atau melekat. Dalam pengertian khusus yaitu ukuran partikel porositas dan
kerapatan, dan kehalusan permukaan. Sifat-sifat dari zat padat yang menentuk besarnya
interaksi partikel-partikel.
Akan halnya partikel-partikel yang relati kecil (kurang dari 10m), aliran partikel
melalui lubang dibatasi karena gaya lekat antara partikel besarnya sama dengan gaya
gravitasi. Karena gaya yang terakhir ini merupakan fungsi dari garis tengah yang di
naikkan pangkat tiga, gaya-gaya tersebut menjadi lebih bermakna apabila ukuran partikel
meningkan dan aliran dipermudah. Laju aliran maksimum dicapai setelah aliran
berkurang apabila ukuran partikel mendekati besarnya lubang tersebut. Jika suatu serbuk
mengandung sejumlah partikel-partikel kecil, sifat-sifat aliran serbuk bisa diperbaiki
dengan menghilangkan fines atau mengadsorbsinya pada partikel-partikel yang lebih
besar. Kadang kadang, aliran yang jelek bisa diakibatkan karena adanya kelembapan
dalam hal mana pengeringan partikel-partikel akan mengurangi lekatnya partikel-partikel
tersebut.
Partikel-partikel panjang atau plat cenderung untuk mengepak walaupun dengan
sangat longgar sehingga memberikan serbuk yang mempunyai porositas tinggi. Partikelpartikel dengan kerapatan tinggi dan porositas dalam rendah cenderung untuk
mempunyai sifat-sifat bebas mengalir. Ini dapat dikurangi dengan kasarnya permukaan,
yang cenderung mengakibatkan karakteristik aliran yang jelek disebabkan oleh gesekan
dan kelekatannya.
Serbuk bebas mengalir berciri khas menyerupai debu, yang disebut dustibility,
suatu batasan yang berarti kebalikan dari kelekatan (stickiness). Likopodium
menunjukkan derajat dustibility yang terbesar, jika likopodium diberi angka dustibility
(sebarang) 100%, serbuk talk mempunya harga 57%, tepung kentang 27%, arang halus
23%, kalomel yang ditumbuk halus mempunyai dustibility 0,7%. Harga-harga ini harus
berhubungan dengan keseragaman menyebarnya serbuk yang ditaburkan bila digunakan
ke kulit, dan daya lekat, suatu ukuran kekohesifan partikel dari suatu serbuk yang
dikeraskan (compacted powder), adalah penting dalam aliran serbuk melalui mesin
pengisi dan dalam pelaksanaan mesin kapsul otomatis.
12

Serbuk yang mengsalir tidak baik atau granulat memberikan banyak kesulitan
pada industri farmasi. Produksi unit sediaan tablet yang seragam terbukti bergantung
pada beberapa sifat granulat. Jika ukuran granular berkurang, variasi berat tablet pun
berkurang. Variasi berat minimum dicapai pada granul yang mempunyai garis tengah
400 sampai 800 m. Jika ukuran granul dikurangi lagi, granul mengalir kurang bebas
dan variasi berat granul meningkat. Distribusi ukuran partikel mempengaruhi aliran
dalam dan pemisahan dari suatu granulat.
Aliran dalam dan granule demixing (yakni kecendrungan serbuk untuk memisah
menjadi lapisan-lapisan dengan ukuran berbeda) selama mengalir melalui corong
(hopper) membantu penurunan berat teblet selama bagian terakhir dari periode kompresi.
Laju alirann dari suatu granulat tablet meningkat denagan meningkatnya jumlah fines
yang di tambahkan. Kenaikan jumlah pelincir juga menaikkan laju aliran, dan kombinasi
dari pelincir serta penghalus (fines) tampak mempunyai aksi sinergistik.
Gaya gesekan pada serbuk renggang dapat diukur dengan sudut istirahat (angle of
repose), . Ini adalah sudut maksimum yang mungkin terdapat antara permukaan dari
setumpuk

serbuk

dan

bidang

horizontal.

Jika

ditambahkan

bahan

lebih

banyakketumpukan tersebut, maka serbuk tersebut akan tuyrun ke berbagai sisi sampai
gesekan timbal balik dari partikel-partikel tersebut yang menghasilkan suatu permukaan
pada sudut ada dalam keseimbangan denagn gaya gravitasi. Tangen sudut istirahat
sama dengan koefisien gesekan antara partikel-partikel tersebut.
Tan =
Jadi, makin kasar dan makin tidak beraturan permukaan dari partrikel, akan makin
tinggi sudut istirahatnya. Sudut istirahat terutama merupakan suatu fungsi

dari

kekasaran permukaan. Dengan menggunakan batch-batch pasir dengan ukuran yang


berdekatan, yang dipisahkan ke dalam ukuran yang berbeda, dibuktikan bahwa dengan
meningkatkan bentuk yang semakin jauh dari bentuk bola, sudut istirahat meningkat
sedang

kerapatan

bulk

dan

kemampuan

alir

(flowability)

berkurang.

Untuk memperbaiki karakteristik aliran, seringkali ditambahkan pelincir (glidant)


pada serbuk granular. Contoh glidant yang umum digunakn adalah magnesium stearat,
amilum dan talk. Dengan menggunakan suatu pencatat pengukuran aliran serbuk, yang
mengukur berat serbuk yang mengalir per satuan waktu melalui lubang corong (hopper),

13

konsentrasi pelincir optimum adalah 1% atau kurang. Di atas kadar ini, biasanya teramati
penurunan dalam laju aliran. Ditemukan tidak shear cel dan tensile tester.
Sudut istirahat dari granulat sulfhatiazol sebagai suatu fungsi ukuran partikel ratarata, adanya pelumas, dan penambahan penghalus (fines) ke dalam campuran. Pada
umumnya sudut istirahat meningkat dengan berkurangnya ukuran partikel. Penambahan
talk dalam konsentrasi rendah mengurangi sudut istirahat, tapi pada konsentrasi yang
lebih tinggi talk akan menaikkan sudut tersebut. Penambahan fines yakni : partikelpartikel yang lebih kecil dari mesh 100 ke dalam granul kasar menghasilkan kenaikan
sudut istirahat yang nyata.
Kemampuan serbuk untuk mengalir merupakan satu diantara faktor-faktor yang
termasuk dalam pencampuran bahan-bahan yang berbeda untuk membentuk suatu
campuran serbuk. Pencampuran, dan pencegahan ketidakcampuran, merupakan suatu
pekerjaan farmasetis yang penting dalam pembuatan bentuk-bentuk sediaan umumnya,
termasuk tablet dan kapsul. Faktor-faktorblain yang mempengaruhi proses pencampuran
adalah agregasi partikel, ukuran, bentuk, perbedaan kerapatan, dan adanya muatan listrik
statis.

14

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dari beberapa penjelasan di atas kelompok kami dapat menarik sebuah kesimpulan
bahwa :

3.2 Saran

15

DAFTAR PUSTAKA

Kosman, Rachmat, 2006, Farmasi Fisika , UMI, Makassar


Martin, Alfred, 1993, Farmasi Fisika , Universitas Indonesia, Jakarta
Wikipedia.com

16