Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Sitologi adalah ilmu yang mempelajari sel. Hal yang dipelajari dalam biologi sel
mencakup sifat-sifat fisiologis sel seperti struktur dan organel yang terdapat di
dalam sel, lingkungan dan antaraksi sel, daur hidup sel, pembelahan sel dan fungsi
sel (fisiologi), hingga kematian sel. Hal-hal tersebut dipelajari baik pada skala
mikroskopik maupun skala molekular, dan sel biologi meneliti baik organisme
bersel tunggal seperti bakteri maupun sel-sel terspesialisasi di dalam organisme
multisel seperti manusia.
Sitologi darah adalah ilmu yang mempelajari sel darah yang meliputi sifat
fisologis sel darah. Sel darah terdiri dari eritrosit, leukosit dan trombosit. Maka
dalam makalah ini akan dibahas mengenai sifat fisiologis dari masing masing
sel tersebut yang meliputi struktur, fungsi serta pembentukan sel- sel darah.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis merumuskan rumusan
masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah sifat fisiologis eritrosit?
2. Bagaimanakah sifat fisiologis leukosit?
3. Bagaimanakah sifat fisiologis trombosit?
C. Tujuan makalah
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan
mengetahui :
1. Sifat fisiologis eritrosit
2. Sifat fisiologis leukosit
3. Sifat fisiologis trombosit
4. Kegunaan makalah
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan bagi pembaca
sebagai sarana penambah pengetahuan tentang Sitologi Darah yang mencakup
fungsi fisiologis masing masing sel darah. Makalah ini disusun dengan
menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode
deskriptif. Data teoritis dalam makalah ini dikumpulkan dengan menggunakan
teknik kajian pustaka, artinya penulis mengambil data melalui kegiatan membaca
berbagai literatur yang relevan dengan tema makalah.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Fisiologis Sel darah Merah ( Eritrosit)
1. Struktur
Sel darah merah, eritrosit (red blood cell, RBC, erythrocyte) adalah jenis sel darah
yang paling banyak dan berfungsi membawa oksigen ke jaringan-jaringan tubuh
lewat darah dalam hewan bertulang belakang. Sel darah merah normal, berbentuk
lempeng bikonkaf dengan diameter rata-rata kira-kira 7,8 mikrometer dan
ketebalan 2,5 mikrometer pada bagian yang paling tebal serta 1 mikrometer di
bagian tengahnya. Volume rata-rata sel darah merah adalah 90 sampai 95
mikrometer kubik. Sel darah merah tidak memiliki inti sel, mitokondria dan
ribosom, serta tidak dapat bergerak. Sel ini tidak dapat melakukan mitosis,
fosforilasi oksidatif sel, atau pembentukan protein.

Gambar . Sel darah merah


Pada pria normal, jumlah rata-rata sel darah merah per milimeter kubik adalah
5.200.000 ( 300.000) dan pada wanita normal, 4.700.000 ( 300.000).
Sel darah merah terdiri dari komponen berupa :
a. Membran
b. Sistem enzim : enzim G6PD (Glucose 6-Phosphatedehydrogenasel
c. Hemoglobin. Hemoglobin inilah yang berperan dalam pengangkutan oksigen
dari paru-paru ke jaringan. Hemoglobin tersusun atas heme (gugus
nitrogenosa non protein-Fe) dan globin (protein dengan empat rantai
polipeptida). Dengan struktur tersebut, hemoglobin dapat mengangkut empat
molekul oksigen.

Pembentukan
2

suksinil

ko-A

Pirol

Protoporfirin
Heme

Hemoglobin

amino

IX

2+

glisin

Pirol

protoporfirin

Fe

Polipeptida/Globin

Rantai

asam

Rantai

IX

Porfirin/
Rantai

Hb

Heme
//

HbA1

Sintesis hemoglobin dimulai dalam proeritroblas dan kemudian dilanjutkan


sedikit dalam stadium retikulosit, karena ketika retikulosit meninggalkan
sumsum tulang dan masuk ke dalam aliran darah, maka retikulosit tetap
membentuk sedikit hemoglobin selama beberapa hari berikutnya.Skema di
atas

menunjukkan

tahap

dasar

kimiawi

pemebentukan

hemoglobin

(Guyton,1997)
2. Fungsi
Secara umum sel darah merah memiliki fungsi yaitu ;
a. Mentranspor oksigen ke seluruh jaringan melalui pengikatan hemoglobin
terhadap oksigen.
b. Mentranspor karbon dioksida ke paru paru melalui ikatan hemoglobin
karbon dioksida.
c. Berperan dalam pengaturan pH darah karena ion bikarbonat dan hemoglobin
merupakan buffer asam basa.
3. Pembentukan
Pembentukan sel darah merah (eritropoiesis) terjadi di sumsum tulang dada, iga,
panggul, pangkal tulang paha, dan lengan atas dengan laju produksi sekitar 2 juta
eritrosit per detik (Pada embrio, hati berperan sebagai pusat produksi eritrosit
utama). Eritropoesis distimulasi oleh hormon eritropoietin (EPO) yang disintesa
oleh ginjal. Hormon ini sering digunakan dalam aktivitas olahraga sebagai doping.
Saat sebelum dan sesudah meninggalkan sumsum tulang belakang, sel yang
berkembang ini dinamai retikulosit dan jumlahnya sekitar 1% dari seluruh darah
yang beredar.
Eritrosit dikembangkan dari sel punca melalui retikulosit untuk mendewasakan
eritrosit dalam waktu sekitar 7 hari dan eritrosit dewasa akan hidup selama 100120 hari.
Mekanisme ringkasnya sebagai berikut:

Sel stem hematopoietik pluripoten commited stem cell (disebut juga CFU-E)
diatur penginduksi pertumbuhan, misal IL-3 memicu pertumbuhan
penginduksi diferensiasi, misal oksigen eritrosit.
Sedangkan perkembangan sel dari proeritroblas adalah sebagai berikut:
Proeritroblas eritroblas basofil eritroblas polikromatofil eritroblas
ortokromatik retikulosit eritrosit.
Adapun penjelasan dari masing- masing perkembangan sel dari seri eritrosit yaitu:

Pronormoblast
Pronormoblast disebut juga Rubriblast atau proeritrosit, merupakan sel
termuda dalam sel eritrosit. Sel ini berinti bulat dengan beberapa anak inti dan
kromatin yang halus. Dengan pulasan Romanowsky inti berwarna biru
kemerah-merahan sitoplasmanya berwarna biru. Ukuran sel rubriblast
bervariasi 18-25 mikron. Dalam keadaan normal jumlah rubriblast dalam

sumsum tulang adalah kurang dari 1 % dari seluruh jumlah sel berinti.
Normoblast basofil
Normobalst basofil disebut juga Prorubrisit atau eritroblast basofilik. Pada
pewarnaan kromatin inti tampak kasar dan anak inti menghilang atau tidak
tampak, sitoplasma sedikit mengandung hemoglobin sehingga warna biru dari
sitoplasma akan tampak menjadi sedikit kemerah-merahan. Ukuran lebih
kecil dari rubriblast. Jumlahnya dalam keadaan normal 1-4 % dari seluruh sel

berinti.
Normoblast polikromatik
Normoblast polikromatik disebut juga rubrisit atau eritroblast polikromatik.
Inti sel ini mengandung kromatin yang kasar dan menebal secara tidak teratur,
di beberapa tempat tampak daerah-daerah piknotik. Pada sel ini sudah tidak
terdapat lagi anak inti, inti sel lebih kecil daripada prorubrisit tetapi
sitoplasmanya lebih banyak, mengandung warna biru karena kandungan asam
ribonukleat

(ribonucleic

acid-RNA)

dan

merah

karena

kandungan

hemoglobin, tetapi warna merah biasanya lebih dominan. Jumlah sel ini

dalam sumsum tulang orang dewasa normal adalah 10-20 %.\


Normoblast ortokromatik
Sel
ini
disebut
juga

metarubrisit

atau eritroblast ortokromatik. Inti sel ini kecil padat dengan struktur kromatin

yang menggumpal. Sitoplasma telah mengandung lebih banyak hemoglobin


sehingga warnanya merah walaupun masih ada sisa-sisa warna biru dari

RNA. Jumlahnya dalam keadaan normal adalah 5-10 %.


Retikulosit
Pada proses maturasi eritrosit, setelah pembentukan hemoglobin dan
penglepasan inti sel, masih diperlukan beberapa hari lagi untuk melepaskan
sisa-sisa RNA. Sebagian proses ini berlangsung di dalam sumsum tulang dan
sebagian lagi dalam darah tepi. Pada saat proses maturasi akhir, eritrosit
selain mengandung sisa-sisa RNA juga mengandung berbagai fragmen
mitokondria dan organel lainnya. Pada stadium ini eritrosit disebut retikulosit
atau eritrosit polikrom. Retikulum yang terdapat di dalam sel ini hanya dapat
dilihat dengan pewarnaan supravital. Tetapi sebenarnya retikulum ini juga
dapat terlihat segai bintik-bintik abnormal dalam eritrosit pada sediaan apus
biasa. Polikromatofilia yang merupakan kelainan warna eritrosit yang kebirubiruan dan bintik-bintik basofil pada eritrosit sebenarnya disebabkan oleh
bahan ribosom ini. Setelah dilepaskan dari sumsum tulang sel normal akan
beredar sebagai retikulosit selama 1-2 hari. Kemudian sebagai eritrosit

matang selama 120 hari. Dalam darah normal terdapat 0,5-2,5 % retikulosit.
Eritrosit
Eritrosit normal merupakan sel berbentuk cakram bikonkav dengan ukuran
diameter 7-8 um dan tebal 1,5-2,5 um. Bagian tengah sel ini lebih tipis
daripada bagian tepi. Dengan pewarnaan Wright, eritrosit akan berwarna
kemerah-merahan karena mengandung hemoglobin. Eritrosit sangat lentur
dan sangat berubah bentuk selama beredar dalam sirkulasi. Umur eritrosit
adalah sekitar 120 hari dan akan dihancurkan bila mencapai umurnya oleh
limpa. Banyak dinamika yang terjadi pada eritrosit selama beredar dalam
darah, baik mengalami trauma, gangguan metabolisme, infeksi Plasmodium
hingga di makan oleh Parasit.

Gambar. Sel Seri Eritrosit


B. Fisiologis Sel Darah Putih ( Leukosit )
1. Struktur

Sel darah putih, leukosit (bahasa Inggris: white blood cell, WBC, leukocyte)
adalah sel yang membentuk komponen darah. Sel darah putih ini berfungsi untuk
membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem
kekebalan tubuh. Sel darah putih tidak berwarna, memiliki inti, dapat bergerak
secara amoebeid, dan dapat menembus dinding kapiler / diapedesis. Dalam
keadaan normalnya terkandung 4x109 hingga 11x109 sel darah putih di dalam
seliter darah manusia dewasa yang sehat - sekitar 7000-25000 sel per tetes.Dalam
setiap milimeter kubil darah terdapat 6000 sampai 10000(rata-rata 8000) sel darah
putih .Dalam kasus leukemia, jumlahnya dapat meningkat hingga 50000 sel per
tetes.

Di dalam tubuh, leukosit tidak berasosiasi secara ketat dengan organ atau jaringan
tertentu, mereka bekerja secara independen seperti organisme sel tunggal.
Leukosit mampu bergerak secara bebas dan berinteraksi dan menangkap serpihan
seluler, partikel asing, atau mikroorganisme penyusup. Selain itu, leukosit tidak
bisa membelah diri atau bereproduksi dengan cara mereka sendiri, melainkan
mereka adalah produk dari sel punca hematopoietic pluripotent yang ada pada
sumsum tulang.
2. Fungsi
Granulosit dan Monosit mempunyai peranan penting dalam perlindungan badan
terhadap mikroorganisme. dengan kemampuannya sebagai fagosit (fagomemakan), mereka memakan bakteria hidup yang masuk ke sistem peredaran
darah.

melalui

mikroskop

adakalanya

dapat

dijumpai

sebanyak

10-20

mikroorganisme tertelan oleh sebutir granulosit. pada waktu menjalankan fungsi


ini mereka disebut fagosit. dengan kekuatan gerakan amuboidnya ia dapat
bergerak bebas didalam dan dapat keluar pembuluh darah dan berjalan mengitari
seluruh bagian tubuh. dengan cara ini ia dapat:
Mengepung daerah yang terkena infeksi atau cidera, menangkap organisme hidup
dan menghancurkannya,menyingkirkan bahan lain seperti kotoran-kotoran,
serpihan-serpihan dan lainnya, dengan cara yang sama, dan sebagai granulosit
memiliki enzim yang dapat memecah protein, yang memungkinkan merusak
jaringan hidup, menghancurkan dan membuangnya. dengan cara ini jaringan yang
sakit atau terluka dapat dibuang dan penyembuhannya dimungkinkan
Sebagai hasil kerja fagositik dari sel darah putih, peradangan dapat dihentikan
sama sekali. Bila kegiatannya tidak berhasil dengan sempurna, maka dapat
terbentuk nanah. Nanah beisi "jenazah" dari kawan dan lawan - fagosit yang
terbunuh dalam kinerjanya disebut sel nanah. demikian juga terdapat banyak
kuman yang mati dalam nanah itu dan ditambah lagi dengan sejumlah besar

jaringan yang sudah mencair. dan sel nanah tersebut akan disingkirkan oleh
granulosit yang sehat yang bekerja sebagai fagosit.
3. Pembentukan
Tahap-tahap perkembangan dan pematangan sel darah putih secara umum sebagai
berikut : berawal dari pluripoten stem cell akan membelah menjadi dua macam sel
bakal yaitu mieloid stem cell (sel bakal dari sel granulosit, monosit, trombosit,
dan eritrosit) dan limfoid stem cell (sel bakal dari sel limfosit). Perkembangan
selanjutnya untuk kedua sel bakal tersebut mempunyai kemiripan yaitu : Dari
stem cell akan berkembang membentuk CFU (colony-forming-unit), kemudian
mieloblast/limfoblast, promielosit, mielosit, selanjutnya akan mengalami maturasi
menjadi metamielosit, band (batang), dan hasil akhir berupa sel darah putih yang
bermacam-macam yang dapat dilihat variasi bentuknya dalam apusan darah tepi.
Penjelasan dari perkembangan dan pematangan sel darah putih :
Mieloblast
Mieloblast adalah sel termuda diantara seri granulosit. Sel ini memiliki inti
bulat yang berwarna biru kemerah-merahan, dengan satu atau lebih anak inti,
kromatin inti halus dan tidak menggumpal. Sitoplasma berwarna biru dan
sekitar inti menunjukkan warna yang lebih muda. Mieloblast biasanya lebih
kecil daripada rubriblast dan sitoplasmanya kurang biru dibandingkan
rubriblast. Jumlahnya dalam sumsum tulang normal adalah < 1% dari jumlah

sel berinti.
Promielosit
Dalam fase ini sitoplasma seri granulosit telah memperlihatkan granula
berwarna biru tua / biru kemerah-merahan. Berbentuk bulat dan tidak teratur.
Granula sering tampak menutupi inti. Granula ini terdiri dari lisozom yang
mengandung mieloperoksidase, fosfatase asam, protease dan lisozim. Inti
promielosit biasanya bulat dan besar dengan struktur kromatin kasar. Anak
inti masih ada tetapi biasanya tidak jelas. Jumlah sel ini dalam sumsum tulang

normal adalah 1-5 %.


Mielosit
Pada mielosit granula sudah menunjukkan diferensiasi yaitu telah
mengandung laktoferin, lisozim peroksidase dan fosfatase lindi. Inti sel

mungkin bulat atau lonjong atau mendatar pada satu sisi, tidak tampak anak
inti, sedangkan kromatin menebal. Sitoplasma sel lebih banyak dibandingkan

dengan promielosit. Jumlahnya dalam keadaan normal adalah 2-10 %.


Metamielosit
Dalam proses pematangan, inti sel membentuk lekukan sehingga sel
berbentuk seperti kacang merah, kromatin menggumpal walaupun tidak
terlalu padat. Sitoplasma mengandung granula kecil berwarna kemerahmerahan. Sel ini dalam keadaan normal tetap berada dalam sumsum tulang

dengan jumlah 5-15 %.


Neutrofil

Batang

dan

Segmen

Metamielosit menjadi batang apabila lekukan pada inti melebihi setengah


ukuran inti yang bulat sehingga berbentuk seperti batang yang lengkung. Inti
menunjukkan proses degeneratif, kadang-kadang tampak piknotik pada kedua
ujung inti. Sitoplasma mengandung granula halus berwarna kemerahmerahan. Dalam darah tepi ditemukan hanya 2-6% dari sel-sel leukosit
normal. Selanjutnya sel ini menjadi neutrofil segmen. Dalam sumsum tulang
normal sel ini merupakan 10-40 % dari sel berinti.

Gambar. Sel Seri Granulosit

4. Jenis Jenis Leukosit


a. Neutrofil
Neutrofil berkembang dalam sumsum tulang dikeluarkan dalam sirkulasi,
selsel ini merupakan 60 -70 % dari leukosit yang beredar. Garis tengah
bervariasi 10-20um, satu inti dan 2-5 lobus. Granula pada neutrofil ada dua :

Azurofilik yang mengandung enzym lisozom dan peroksidase.


Granul spesifik lebih kecil mengandung fosfatase alkali dan zat-zat
bakterisidal (protein Kationik) yang dinamakan fagositin.
Neutrofil merupakan garis depan pertahanan seluler terhadap invasi jasad
renik, menfagosit partikel kecil dengan aktif. Adanya asam amino D
oksidase dalam granula azurofilik penting dalam pengenceran dinding sel
bakteri yang mengandung asam amino D. Selama proses fagositosis
dibentuk peroksidase. Mielo peroksidase yang terdapat dalam neutrofil
berikatan dengan peroksida dan halida bekerja pada molekultirosin
dinding sel bakteri dan menghancurkannya. Dibawah pengaruh zat toksik
tertentu seperti streptolisin toksin streptokokus membran granula-granula
neutrofil pecah, mengakibatkan proses pembengkakan diikuti oleh
aglutulasiorganel- organel dan destruksi neutrofil.
Neotrofil mempunyai metabolisme yang sangat aktif dan mampu
melakukan glikolisis baik secara arrob maupun anaerob. Kemampuan
nautropil untuk hidup dalam lingkungan anaerob sangat menguntungkan,
karena mereka dapat membunuh bakteri dan membantu membersihkan
debris pada jaringan nekrotik. Fagositosis oleh neutrfil merangsang
aktivitas heksosa monofosfat shunt, meningkatkan glicogenolisis. (Effendi,
2003).
Prekursor paling dini adalah mieloblas yang dengan pembelahanpembelahan sel nantinya menjadi promielosit, mielosit, metamielosit.
Maturasi netrofil diklasifikasikan di antara metamielosit.(Hoffbrand dan
Pettit, 1996).

Gambar. Neutrofil batang

Gambar. Neutrofil segmen


b. Eosinofil
Jumlah eosinofil hanya 1-4 % leukosit darah, bergaris tengah 9um. Inti
biasanya berlobus dua, Retikulum endoplasma mitokonria dan apparatus
Golgi kurang berkembang. Mempunyai granula ovoid yang dengan eosin
asidofkik, granula adalah lisosom yang mengandung fosfatae asam,
katepsin,

ribonuklase,

tapi

tidak

mengandung

lisosim.

Eosinofil

mempunyai pergerakan amuboid, dan mampu melakukan fagositosis, lebih


lambat tapi lebih selektif dibanding neutrifil. Eosinofil memfagositosis
komplek antigen dan anti bodi, ini merupakan fungsi eosinofil untuk
melakukan fagositosis selektif terhadap komplek antigen dan antibody.
Eosinofil mengandung profibrinolisin, diduga berperan mempertahankan
darah dari pembekuan, khususnya bila keadaan cairnya diubah oleh
proses-proses Patologi. Kortikosteroid akan menimbulkan penurunan
jumlah eosinofil darah dengan cepat. (Effendi, 2003).

Gambar. Eosinofil
c. Basofil
Basofil jumlahnya 0-% dari leukosit darah, ukuran garis tengah 12um, inti
satu, besar bentuk pilihan ireguler, umumnya bentuk huruf S, sitoplasma
basofil terisi granul yang lebih besar, dan seringkali menutupi inti,
bentuknya ireguler berwarna metakromatik, dengan campuran jenis
Romanvaki tampak lembayung. Granula basofil metakromatik dan
mensekresi histamin dan heparin, dan keadaan tertentu, basofil merupakan
sel utama pada tempat peradangan ini dinamakan hypersesitivitas kulit
basofil. Hal ini menunjukkan basofil mempunyai hubungan kekebalan.
(Effendi, 2003).

Gambar. Basofil
d. Limfosit
Limfosit merupakan sel yang sferis, garis tengah 6-8um, 20-30% leukosit
darah.Normal, inti relatifbesar, bulat sedikit cekungan pada satu sisi,
kromatin inti padat, anak inti baru terlihat dengan electron mikroskop.
Sitoplasma sedikit sekali, sedikit basofilik, mengandung granula-granula
azurofilik. Klasifikasi lainnya dari limfosit terlihat dengan ditemuinya
tanda-tanda molekuler khusus pada permukaan membran sel-sel tersebut.

Beberapa diantaranya membawa reseptos seperti imunoglobulin yang


mengikat antigen spesifi. Lirnfosit dalam sirkulasi darah normal dapat
berukuran 10-12um ukuran yang lebih besar disebabkan sitoplasmanya
yang lebih banyak. Kadang-kadang disebut dengan limfosit sedang. Sel
limfosit besar yang berada dalam kelenjar getah bening dan akan tampak
dalam darah dalam keadaan Patologis, pada sel limfosit besar ini inti
vasikuler dengan anak inti yang jelas. Limfosit-limfosit dapat digolongkan
berdasarkan asal, struktur halus, surface markers yang berkaitan dengan
sifat imunologisnya, siklus hidup dan fungsi. (Effendi, 2003).

Gambar. Limfosit
e. Monosit
Merupakan sel leukosit yang besar 3-8% dari jumlah leukosit normal,
diameter 9-10 um tapi pada sediaan darah kering diameter mencapai
20um, atau lebih. Inti biasanya eksentris, adanya lekukan berbentuk tapal
kuda. Kromatin kurang padat, susunan lebih fibriler, ini merupakan sifat
tetap momosit Sitoplasma relatif banyak dengan pulasan wrigh berupa bim
abu-abu pada sajian kering. Granula azurofil, merupakan lisosom primer,
lebih banyak tapi lebih kecil. Ditemui retikulim endoplasma sedikit. Juga
ribosom, pliribosom sedikit, banyak mitokondria. Aparatus Golgi
berkembang baik, ditemukan mikrofilamen dan mikrotubulus pada daerah
identasi inti.
Monosit ditemui dalam darah, jaingan penyambung, dan rongga-rongga
tubuh. Monosit tergolong fagositik mononuclear (system retikuloendotel)
dan mempunyai tempat-tempat reseptor pada permukaan membrannya.
Untuk imunoglobulin dan komplemen. Monosit beredar melalui aliran

darah, menembus dinding kapiler masuk kedalam jaringan penyambung.


DaIam darah beberapa hari. Dalam jaringan bereaksi dengan limfosit dan
memegang peranan penting dalam pengenalan dan interaksi sel-sel
immunocmpetent dengan antigen. (Effendi, 2003).

Gambar. Monosit
C. Fisiologis Keping Darah ( Trombosit )
1. Struktur
Trombosit dalam sirkulasi adalah kepingan-kepingan dari sitoplasma megakariosit
dan dihasilkan dalam sumsum tulang. Umurnya dalam sirkulasi sekitar 10 hari.
Trombosit yang baru dibentuk berukuran lebih besar dan memiliki kemampuan
hemostatis lebih baik dari trombosit tua dalam sirkulasi.

Gambar. Trombosit
Membran trombosit kaya fosfolipid, diantaranya faktor trombosit 3 yang dapat
meningkatkan pembekuan saat hemostatis. Trombosit mengandung serabut
protein yang dapat mengerut, yakni aktin dan miosin, pipa halus sejenis kerangka
yang memungkinkan trombosit berubah bentuk, granula berisi ADP dan ATP, ion
Ca dan serotonin, serta granula alfa yang mengandung enzim lisozim. Faktor
trombosit 4 dan beta-tromboglobulin adalah zat yang hanya terdapat dalam
trombosit utuh. Adanya trombosit ini dalam plasma menunjukkan adanya proses
penghancuran trombosit berlebih.
Struktur trombosit secara ultrastruktur trombosit terdiri atas :

a. Zona perifer : glikokalik (membrane ekstra yang terletak di bagian paling


luar, didalamnya terdapat membrane plasma dan lebih dalam lagi terdapat
system kanal terbuka.

Glikoprotein (GP) penting untuk reaksi adhesi dan agregasi trombosit


yang merupakan kejadian awal yang mengarah pada pembentukan
sumbat trombosit selama hemostasis.
GP Ia
: adhesi pada kolagen
GPIb, IIb//IIIa : reseptor faktor von willebrand (vWF) dan karenanya
juga perlekatan pada subendotel vaskular.
GP IIb/IIIa
: reseptor fibrinogen yang penting dalam agregasi

trombosit.
Membran plasma berinvaginasi ke bagian dalam trombosit untuk
membentuk

suatu

sistem

membran

(kanalikular)

terbuka

yang

menyediakan permukaan reaktif yang luas tempat protein koagulasi


plasma diabsorbis secara selektif. Fosfolipid membran (faktor trombosit
3) sangat penting dalam konversi faktor koagulasi X menjadi Xa, dan
protrombin (faktor II) menjadi trombin (faktor IIa).
b. Zona sol-gel : Mikrotubulus, mikrofilamen, system tubulus padat (berisi
nukleotida adenine dan kalsium). Selain itu adapula trombostenin, suatu
protein penting untuk fungsi kontraktil.
c. Zona organela : Granula padat elektron , mitokondria, granula dan organela
(lisosom dan retikulum endoplasmik).

Granula padat berisi dan melepaskan nukleotida adenin(terutama ADP),


serotonin, katekolamin, dan faktor trombosit. Granula padat lebih sedikit

dan mengandung ADP, ATP, 5-hidroksitriptamin (5-HT), dan kalsium.


Granula berisi antagonis heparin (platelet factor 4, PF4),
tromboglobulin,

vWF,

faktor

pertumbuhan

yang

berasal

dari

trombosit/PDGF (platelet-derived growth factor), dan melepaskan

fibrinogen enzim lisosom.


Terdapat 7 faktor trombosit yang telah diidentifikasi dan diketahui ciricirinya. Dua diantaranya dianggap penting yaitu faktor trombosit 3
(Platelet Factor 3, PF 3) /membran fosfolipoprotein trombosit (untuk

konversi faktor koagulasi X menjadi Xa dan protrombin) dan faktor


trombosit 4 (Platelet Factor 4, PF4)/faktor antiheparin (anti-heparin

factor, AHF).
Organel spesifik lain meliputi lisosom yang mengandung enzim
hidrolitik dan peroksisom yang mengandung katalase. Selama reaksi

pelepasan, isi granula dikeluarkan ke dalam sistem kanalikular.


Energi untuk reaksi trombosit berasal dari fosforilasi oksidatif dalam
mitokondria dan glikolisis anaerobik dengan memakai glikogen
trombosit.

Sistem

membran

tertutup

(dense

tubular)

trombosit

menunjukkan retikulum endoplasma sisa.


2. Fungsi
Fungsi utama adalah pembentukan sumbat mekanis selama respon hemostatik
normal terhadap luka vaskular. Selain itu punya protein stabilisasi fibrin,
penggandaan sel endotel setelah rusak, penyimpanan ion kalsium. Proses
pemebentukan sumbat statik melibatkan fungsi trombSosit yaitu ;
a.

Pelepasan ADP, ATP, Ca, dan serotonin dari granula dalam trombosit
menyebabkan agregasi sekunder trombosit pada bagian pembuluh darah
yang rusak.

b.

Pembentukan tromboksan A2 trombosit, suatu agregator trombosit yang


kuat dan vasokonstriktor. Sebaliknya prostaglandin intermediate yang
dibentuk oleh trombosit dimetabolisir dalam dinding pembuluh darah menjadi
prostasiklin (PGI2), suatu antiagregator dan vasodilatator.

c.

Peran serta trombosit dalam pembekuan darah. Beberapa reaksi bertingkat


koagulasi memerlukan lipid trombosit dan terjadi pada membran trombosit.
Reaksi mencakup Faktor XI, VIII, X, dan V. Trombosit juga berperan dalam
pembekuan dengan pelepasan Faktor pembekuan I, V, VIII, dan XIII yang
tersimpan. Trombin yang dihasilkan merupakan suatu agregator trombosit
yang kuat. Setelah itu, terjadi pembentukan jaring fibrin yang terikat dengan
agregat tormbosit sehingga terbentuk sumbat trombosit atau trombus yang
lebih stabil. Kemudian pelarutan parsial atau total agregat hemostasis atau
trombus yang lebih stabil. (Biokim Harper, 2003; Kapita Selekta Hematologi,
Edisi3, 2001)

3. Pembentukan
Trombosit berasal dari sel induk pluripoten yang tidak terikat (noncommitted
pluripotent stem cell), yang jika ada permintaan dan dalam keadaan adanya faktor
perangsang

trombosit,

interleukin,

dan

TPO

(faktor

pertumbuhan

dan

perkembangan megakariosit), berdiferensiasi menjadi sekelompok sel induk yang


terikat (committed stem cell pool) untuk membentuk megakarioblas dan
mengalami maturasi menjadi megakariosit raksasa. Megakariosit mengalami
endomitosis, terjadi pembelahan inti di dalam sel tetapi sel itu sendiri tidak
membelah. Sitoplasma sel akhirnya memisahkan diri menjadi trombosittrombosit. (Patofisiologi, Edisi 6, Price and Wilson)

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan uraian bab sebelumnya penulis dapat mengemukakan
simpulan sebagai berikut :
Sel darah terdiri dari sel daarh merah (eritrosit), sel drah putih (leukosit) dan

keping darah ( trombosit)


Setiap sel memiliki fungsi berbeda,eritrosit berperan dalam proses
pengangkuatan oksigen dan karbon dioksida, leukosit berperan dalam proses

eprtahan tubuh dan trombosit berperan dalam proses pembekuan darah.


Sel darah baik eritrosit, leukosit dan trombosit berasal dari sel yang sama
yaitu Sel stem hematopoietik pluripoten, yang kemudian berdiferensiasi dan
bermaturasi menjadi sel sel matang.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim

2012.

Biologi

Sel.

[Online].

Tersedia

http://id.wikipedia.org/wiki/Biologi_sel [19 Maret 2012]


Anonim . 2009. Fisiologi Hemoglobin dan Eritrosit. [Online]. Tersedia :
http://cimobi.blogspot.com/2009/11/fisiologi-hemoglobin-dan-eritrosit.html
[19 Maret 2012]
Anonim . 2009. Fisiologi Sel Darah Manusia. [Online]. Tersedia :
http://cimobi.blogspot.com/2009/11/fisiologi-sel-darah-manusia.html [19 Maret
2012]
Anonim

2012.

Sel

Darah

Merah.

[Online].

Tersedia

Tersedia

http://id.wikipedia.org/wiki/Sel_darah_merah [19 Maret 2012]


Anonim.

2010.

Sel

Seri

Eritropoesis.

[Online].

http://alchudorisblog.blogspot.com/2010/06/sel-seri-eritropoesis.html [19 Maret


2012
Effendi, Zukesti. 2003. PERANAN LEUKOSIT SEBAGAI ANTI INFLAMASI
ALERGIK DALAM TUBUH. library.usu.ac.id/download/fk/histologi-zukesti2.pdf
Hoffbrand, A.V., Pettit, J.E., Moss, P.A.H., 2005. Kapita Selekta Hematologi ed.
2. Jakarta : EGC. pp : 102-126
Murray, Robert K et.al., 2003. BIOKIMIA HARPER EDISI 25. Jakarta : EGC
Musyaffa,

Rifani.

2010.

Sel

Seri

Granulosit.

[online].

Tersedia

http://ripanimusyaffalab.blogspot.com/2010/02/sel-seri-granulosit.html [ 19 Maret
2012]