Anda di halaman 1dari 37

PERSYARATAN UMUM

PENGEMBANGAN DAN PEMELIHARAAN SKEMA


SERTIFIKASI PROFESI

Oleh
Asrizal Tatang
Ketua Komisi Sertifikasi

DATA PRIBADI
NAMA
: ASRIZAL TATANG
TEMPAT/TGL LAHIR : SAWAHLUNTO
PEKERJAAN
: 1. DOSEN POLITEKNIK NEGERI
JAKARTA (1983- skrg)
2. Dewan Pelatihan Kerja
Nasional ( DPKN )
3. Anggota BADAN NASIONAL
SERTIFIKASI PROFESI
(BNSP ) 2011- 2016
4. KETUA KOMISI SERTIFIKASI BNSP

ALAMAT
BEJITIMUR
TELP/HP
EMAIL

PERUM. POLITEKNIK UI ,

:
:

DEPOK
021-7774693 / 08161380135
asrizal.tatang@yahoo.co.id

Ruang Lingkup
Pedoman pengembangan dan
pemeliharaan Skema Sertifikasi adalah
acuan
dan
tata
cara
untuk
mengembangkan
dan
memelihara
Skema Sertifikasi yang mampu telusur
terhadap regulasi teknis dan standar /
pedoman internasional:
KBLUI 2005
ICIS (international Standar for international
classification of all Economic Activities) Rev. 4
tahun 2008

Acuan Normatif
UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
Undang Undang No 20 tahun 2003 tentang
Sisdiknas
PP 31/2006 tentang Sistem Pelatihan Kerja
Nasional
Tatacara penetapan SKKNI Permennakertrans
N0.8 Tahun 2012
Peraturan Presiden No.8Tahun 2012 tentang KKNI
RMCS ILO 2006
ISO 17024 : 2012

SISTEM SERTIFIKASI KOMPETENSI PROFESI NASIONAL

Verifikasi
Standar
Kompeten
si

PENGEMBANGAN
PENGEMBANGAN
SKEMA
SERTIFIKASI
SKEMA
SERTIFIKASI

Perbaikan
Berlanjut

PENERAPAN SKEMA
SERTIFIKASI

Regulasi
:
Wajib,
Disaranka
n
Sukarela

Lisensi LSP
Pihak 1, 2, &
3.

Profesional
Profesiona
Kompeten
Kompeten
Sertifika
si

Lisensi
Lembaga
profisiensi

Harmonisasi

Kooperas
i

Notifikas

MRA
MRA

Skema sertifikasi ?
Persyaratan sertifikasi spesifik yang
berkaitan dengan kategori profesi
yang ditetapkan dengan
menggunakan standar kompetensi
dan aturan khusus yang sama,
serta prosedur yang sama.

Pengembangan skema
sertifikasi
1. Skema sertifikasi dikembangkan oleh Komite
Skema.
2. Komite
skema
dalam
merumuskan
pengembangan dan pemeliharaan skema
menetapkan Tim perumus yang terdiri dari
para pihak kepentingan dan para pakar terkait.
3. Pengembangan
skema
sertifikasi
menggunakan standar kompetensi yang sah
(Standar Kompetensi Kerja Nasional dan
Harmonized International Standards) dan atau
standar kompetensi khusus yang ekivalen
yang diverifikasi oleh Otoritas kompeten.

LANJUTAN...........
4.Inisiasi
usulan
pengembangan
skema
sertifikasi
KKNI
dilakukan
berdasarkan
permintaan / tuntutan dari:

Dunia usaha melalui asosiasi industri terkait dan/ atau


Kadin, dan/ atau;
Dunia profesi melalui asosiasi profesi terkait dan/ atau;
Pasar terkait dari hasil survey intern / extern atau LSM;
Institusi pendidikan, lemdiklat;
Dalam
hal
industri
tidak
melakukan
inisiasi
pengembangan skema, sedangkan keberadaannya
sudah mendesak, maka Otoritas Kompeten dapat
mengambil inisiatif untuk mengembangkan skema
bersama-sama dengan para pemangku kepentingan.

LANJUTAN.........
5.Inisiasi usulan pengembangan skema
sertifikasi Okupasi Nasional
dilakukan
berdasarkan permintaan / tuntutan dari:
Dunia usaha melalui asosiasi industri terkait dan/
atau Kadin, dan/ atau;
Dunia profesi melalui asosiasi profesi terkait dan/
atau;
Pasar terkait dari hasil survey intern / extern atau
LSM;
Institusi pendidikan, lemdiklat;
Dalam hal industri tidak melakukan inisiasi
pengembangan skema, sedangkan keberadaannya
sudah mendesak, maka Otoritas Kompeten dapat
mengambil inisiatif untuk mengembangkan skema
bersama-sama dengan para pemangku kepentingan.

LANJUTAN........
6.Inisiasia usulan pengembangan skema
sertifikasi klaster dilakukan berdasarkan
permintaan / tuntutan dari:
Perusahaan tertentu
Dunia profesi melalui asosiasi profesi terkait dan/
atau;
Pasar terkait dari hasil survey intern / extern atau
LSM;
Institusi pendidikan, lemdiklat;
Dalam hal industri tidak melakukan inisiasi
pengembangan skema, sedangkan keberadaannya
sudah mendesak, maka LSP dapat mengambil
inisiatif untuk mengembangkan skema bersamasama dengan para pemangku kepentingan dan
para pakar.

Komite Skema
1. Komite Skema Sertifikasi dibentuk oleh :

Otoritas Kompeten bersama sama BNSP berdasarkan Surat


Keputusan Pimpinan Otoritas Kompeten terkait untuk skema
sertifikasi KKNI,.
Otoritas Kompeten bersama sama Asosiasi Profesi terkait dan BNSP
berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan Otoritas Kompeten terkait
untuk skema sertifikasi Okupasi Nasional,
LSP bersama sama Asosiasi/industri/peruhaan terkait berdasarkan
Surat
Keputusan
Pimpinan
LSP
dan
atau
pimpinan
Asosiasi/pimpinan perusahaan terkait untuk skema sertifikasi
klaster.

2. Komite Skema dibentuk dengan tujuan:


Memastikan dukungan dari para pemangku kepentingan serta
pihak-pihak lain yang terkait
Memastikan bahwa proses pengembangan Skema dilakukan dengan
mengikutsertakan wakil-wakil dari semua para pemangku
kepentingan sesuai dengan porsi peranan masing-masing
Memastikan bahwa proses pengembangan skema telah dilakukan
sesuai dengan Pedoman BNSP terkait dengan pengembangan
skema termasuk memastikan ketelusuran dari skema yang
dikembangkan.

LANJUTAN......
3.
Tugas
meliputi:

dan

tanggung

jawab

komite

skema

Memastikan
dukungan
dan
partisipasi
para
pemangku
kepentingan dan semua pihak-pihak lain terkait
Memastikan proses pengembangan skema telah mengikuti
pedoman BNSP
Memastikan ketelusuran skema
Menetapkan lingkup sesuai jenjangnya dan atau kluster tertentu
Menetapkan Jenjang kualifikasi, Okupasi sesuai KKNI maupun
kluster tertentu sesuai permintaan.
Menetapkan persyaratan Dasar Sertifikasi sesuai dengan
jenjangnya
Memelihara dan memastikan kesesuaian kualitas skema sesuai
perkembangan terkini
Membuat rencana kerja untuk periode masa kerjanya
Membentuk tim perumus Skema Sertifikasi
Menemukenali dan menetapkan keputusan atas masalahmasalah tuntutan yang meungkin terjadi

LANJUTAN.....
4. Organisasi komite skema :
harus anggota dari wakilwakil para
pemangku kepentingan terkait,
sebaiknya terdiri dari seorang ketua
merangkap anggota, seorang sekretaris
merangkap anggota dan anggota,
komposisi
anggotanya
harusmemperhatikan
perimbangan
wakil-wakil dari dunia usaha dan profesi
terkait tidak ada yang mendominasi.
5. Masa Kerja Komite Skema bersifat
sementara dengan masa kerja yang
ditetapkan pembuat keputusan.

LANJUTAN........
6. Pembentukan Tim Perumus Skema Sertifikasi oleh keputusan Komite
Skema.
a. Tujuan dari Tim Perumus ini adalah:
Memastikan standar yang akan digunakan untuk skema sertifikasi
Merumuskan struktur skema sertifikasi yang sesuai dengan kondisi
persaratan jenjang kualifikasi, okupasi, maupun klustrer spoesifik
tertentu yang terkini.
b. Tugas dan tanggung jawab Tim Perumus harus meliputi:
Merumuskan persyaratan kompetensi dan persyaratan lainnya
Merumuskan persyaratan Asesor
Merumuskan persaratan Tempat Uji Kompetensi
Menetapkan lingkup kompetensi (jumlah dan judul unit kompetensi)
untuk setiap skema sertifikasi yang dikembangkan
c. Organisasi Tim Perumus sebaiknya:
terdiri dari sedikitnya 5 (lima) orang anggota untuk setiap Jenjang atau
beberapa dalam area kerja yang sama
terdiri dari seorang Ketua merangkap Anggota, seorang Sekretaris
merangkap Anggota dan Anggota.
dibentuk lebih dari satu sesuai lingkup yang ditanganinya.
memenuhi persaratan asesor kompetensi sesuai dengan jenjang dan
lingkup sekema yang dikembangkan.

Perumusan Skema Sertifikasi


1. Perumusan Skema Sertifikasi KKNI :

sesuai kebutuhan perkembangan mikro, makro, regional


internasional,
berlandaskan pada hubungan industri,
spesifik pada salah satu atau beberapa jenjang kualifikasi.

dan

2. Perumusan skema Sertifikasi Okupasi Nasional :

sesuai kebutuhan perkembangan okupasi nasional, regional dan


internasional,
berlandaskan pada permintaan dari dunia usaha/indindustri,
spesifik pada salah satu atau beberapa jenjang okupasi.

3. Perumusan Skema Sertifikasi Klaster :

atas dasar kebutuhan perkembangan tertentu pada area kerja tertentu,


berlandaskan pada permintaan dari dunia usaha/indindustri tertentu,
spesifik pada salah satu atau beberapa area kerja yang spesifik.

4. Perumusan skema sertifikasi


pengembangan skema sertifikasi.

didasarkan

pada

rencana

SKEMA SERTIFIKASI KKNI

1. Skema sertifikasi yang bersifat Nasional, yang ditetapkan


oleh otoritas kompeten.
2. Skema ini mengidentifikasi jenjang kualifikasi berdasarkan 9
level KKNI.
3. Identifikasi unit-unit kompetensi dalam setiap jenjang
berdasarkan diskripsi dalam KKNI.
4. Jenjang KKNI pada umumnya dapat digunakan sebagai
acuan jenjang fungsional/golongan pada suatu
industri/orgtanisasi.
5. Setiap LSP yang melakukan kegiatan ini harus dilisensi oleh
Lembaga Otoritas Sertifikasi Profesi (BNSP).
6. Mampu telusur dengan standar nasional dan/atau
internasional.
7. Pada skema ini, dapat diidentifikasi unit-unit kompetensi
inti dan pilihan, yang diverifikasi oleh BNSP.
8. Dikembangkan oleh Komite Skema Sertifikasi Komite
Standardisasi Instansi Teknis

Skema Sertifikasi KKNI ( Perpres


08/2012 )
JENJANG PENDIDIKAN

JENJANG PENDIDIKAN
FORMAL
Subspesiali
S3
s
S2

S1

Spesialis

Profesi

AHLI

D IV

D III
D
II
Sekolah
Menenga
h Umum

NONFORMAL, INFORMAL,
PELATIHAN, PENGALAMAN

TEKNISI/ANALIS

4
DI

Sekolah
Menengah
Kejuruan

PROGRAM KEJURUAN, VOKASI,


AKADEMIK
PROFESI

OPERATOR

Unsur
Deskrip
si KKNI

Sikap
dan tata
(deskripsi
nilai
umum)

Kemampua
n kerja
(alinea 1 disetiap
level)
1 2 3 4 5 6 7 8 9

Kemampu
an
(alinea
3&4
manajeria
disetiap level) l

Penguasaa
n
pengetahu
(alinea
2 disetiap
level)
an

Alur pikir pemaketan unit kedalam


kualifiksi
Analisis
Pembidangan
Sub bidang
Pekerjaan

Kualifikasi
sektoral
9
8

Unit
kompetensi

KKNI
3
Karasteristik Pemaketan
unit

2
1

PENYANDINGAN DAN PENYETARAAN KUALIFIKASI JABATAN


KE LEVEL KKNI (CONTOH)
JOB
TITLE

Teknisi
JTM

PARAMETER DESKRIKSI KKNI


UNIT KOMPETENSI

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Menerapkan K3
Menggelar SKTM
Memasang kotak
sambung dan kotak
ujung SKTM
Mendirikan Tiang
Memasang SUTM
Memasang SKUTM
Memasang peralatan
hubung
Memasang kotak
sambung dan kotak
ujung SKUTM
Memasang instalasi
pembumian

KEMAMPUAN
BIDANG KERJA

PENGETAHUAN
YANG DIKUASAI

KEMAMPUAN
MANAJERIAL

Mampu melaksanakan
pemasangan
jaringan/saluran
tegangan menengah
(JTM) untuk SKTM,
SUTM dan SKUTM
mulai dari mendirikan
tiang
sampai
pemasangan instalasi
pembumian, dengan
menggunakan
,
peralatan,
gambar
kerja
dan metode
kerja yang sesuai
dengan SOP, serta
mampu menunjukkan
kinerja dengan mutu
dan kuantitas yang
sesuai
dengan
spesifikasi yang telah
ditetapkan , dibawah
pengawasan
tidak
langsung.

Memiliki
pengetahuan
tentang :
Teori dasar Listrik
Bahan listrik
saluran JTM
Instalasi JTM
PUIL

Mampu bekerja
sama
dan
melakukan
komunikasi
ditempat kerja
Memimpin
kelompok kerja
dan
Bertanggung
jawab
atas
pencapaian
mutu
dan
kuantitas
pekerjaan
pemasangan
saluran
JTM
secara utuh

LEVEL
KKNI

LEVEL
3

SKEMA SERTIFIKASI OKUPASI NASIONAL


1. Skama sertifikasi yang bersifat Nasional, yang ditetapkan
oleh
otoritas kompeten / Sektor
2. Dapat berupa, okupasi/ jabatan :
Jabatan struktural atau jabatan fungsional dalam rangka
standardisasi kompetensi nasional.
Setiap LSP yang melakukan kegiatan ini harus dilisensi
oleh Lembaga Otoritas Sertifikasi Profesi (BNSP).
Dibuat
atas
Kebutuhan
industri/organisasi
untuk
standardisasi pada suatu fungsi terbatas, atau fungsi
utama (major) dalam sistem industri, atau standar
jabatan/fungsi okupasi khusus yang mampu telusur
dengan standar nasional dan/atau internasional.
Pada skema ini, dapat diidentifikasi kompetensi inti dan
pilihan yang diverifikasi oleh BNSP.
Dikembangkan oleh Komite Skema Sertifikasi Komite
Standardisasi Instansi Teknis/sektor

SKEMA SERTIFIKASI OKUPASI


NASIONAL
Jabatan Fungsional
Contoh
Asesor
Analis

Jabatan Struktural
Contoh:
Manager
Direktur
Supervisor
Team Leader

Dibuat oleh Otoritas


nasional
Berlaku nasional dan
harmonis dengan skema
sertifikasi internasional

SKEMA SERTIFIKASI KLASTER

Identifikasi unit-unit mandiri yang biasanya


dibutuhkan :
1. Untuk bisnis mandiri yang membutuhkan
kelompok unit kompetensi untuk membuka suatu
bisnis terbatas.
2. Kebutuhan industri/organisasi pada suatu
fungsi terbatas, atau fungsi utama (major)
dalam sistem industri, atau standar
jabatan/okupasi khusus pada suatu indudtri.
3. Jumlah unit pada skema ini dapat berbeda antar
kebutuhan industri/organisasi.
4. Dikembangkan oleh Komite Skema Sertifikasi LSP

ANALISIS KEBUTUHAN KOMPETENSI

STANDAR KOMPETENSI

JABATAN
KERJA/PEKERJAAN
YANG ADA DI
INDUSTRI (JOB DES)

UNIT-UNIT
KOMPETENSI

SEJUMLAH UNIT KOMPETENSI

SEJUMLAH UNIT KOMPETENSI DALAM


CLUSTER

LANJUTAN.....
5. Struktur Skema Sertifikasi disusun dan
memuat hal-hal sebagai berikut :

Jastifikasi
Ruang Lingkup skema sertifikasi
Tujuan Sertifikasi
Acuan Normatif
Organisasi pengusul
Lingkup Persyaratan Kompetensi
Persyaratan Dasar.
Permohonan Sertifikasi
Evaluasi.
Keputusan Sertifikasi
Penggunaan Sertifikat dan Logo / Tanda
Surveilan Pemegang Sertifikat
Sertifikasi Ulang

Validasi skema sertifikasi

1. Skema sertifikasi harus menjelaskan


tata cara dan mekanisme Validasi
Skema Sertifikasi untuk memastikan
bahwa :
Pembentukan dan keanggotaan Komite
Skema dan tim perumus sudah memenuhi
persyaratan dan aturan yang ditetapkan.
Kapabilitas anggota Komite Skema dan
tim perumus sudah sesuai dengan tujuan
pengembangan skema
Standar dan acuan yang digunakan dalam
merumuskan skema sertifikasi sudah
sesuai dengan kebutuhan jenjangnya.

LANJUTAN........
2. Skema sertifikasi Nasional divalidasi berdasarkan konvensi
rumusan skema sertifikasi, yaitu forum untuk mencapai
konsensus dari para pemangku kepentingan dan masyarakat
sektor profesi tentang Skema Sertifikasi Nasional.

Konvensi rumusan Skema Sertifikasi Nasional


diselenggarakan oleh komite skema.
Peserta konvensi terdiri atas para pemangku kepetingan
terkait.
Konvensi diselenggarakanmenggunakan prinsip-prinsip
transparan, objektif , tidak memihak dan akuntabel.
Hasil konvensi dirumuskan dalam bentuk Dokumen
Rancangan Akhir Skema Sertifikasi Sertifikasi untuk
diusulkan penetapannya kepada otoritas kompeten.
3. Skema sertifikasi kluster divalidasi berdasarkan konvensi
rumusan skema, yaitu forum untuk mencapai konsensus dari
para pemangku kepentingan dan asosiasi/perusahaan
tentang Skema Sertifikasi kluster tertentu.

Verifikasi Rumusan
Skema
1. Semuapersyaratan skema sertifikasi
diverifikasi secara objektif dan sistematis
dengan bukti terdokumentasi sehingga
memadai untuk menegaskan kompetensi
calon.
2. Rancangan skema sertifikasi nasional hasil
konvensi diverifikasi oleh BNSP.
3. Bila dianggap perlu, BNSP dapat mengkaji
ulang / meminta masukan dari para
pemangku kepentingan.
4. Hasil verifikasi diserahkan kepada Otoritas
Kompeten terkait untuk ditetapkan sebagai
dokumen yang sah.

Penetapan Skema Sertifikasi


1. Skema sertifikasi Nasional ditetapkan
melalui
Surat
Keputusan
yang
diterbitkan Otoritas Kompeten terkait
2. Sosialisasi skema sertifikasi Nasional
kepada para pemangku kepentingan
dan
masyarakat
sektor
terkait
dilakukan oleh otoritas kompeten
terkait.
3. Skema sertifikasi kluster ditetapkan
melalui
surat
keputusan
yang
diterbitkan oleh BNSP.

Pemeliharaan Skema Sertifikasi


1. Setiap
pemangku
kepentingan
wajib
melakukan
pemeliharaan skema sertifikasi.
2. Ruang lingkup pemeliharaan skema sertifikasi mencakup
tetapi
tidak
terbatas
pada
standar
kompetensi,
perkembangan dunia usaha / profesi dan perkembangan
secara umum.
3. Kegiatan pemeliharaan
dilaksanakan secara periodik
minimal satu tahun satu kali atau dalam keadaan tertentu
sesuai kesepakatan, meliputi:
a. mengevaluasi
metode
uji
kompetensi
calon.
Penyelenggaraan uji kompetensi harus jujur, absah dan
dapat dipertanggungjawabkan, metodologi dan prosedur
yang tepat (seperti pengumpulan dan pemeliharaan data
statistik) harus ditetapkan untuk menegaskan kembali
kejujuran, keabsahan, kepercayaan dan kinerja umum
setiap uji kompetensi dan semua perbaikan perbedaan
yang teridentifikasi.
b. segera memberikan informasi mengenai setiap perubahan
di dalam persyaratan kepada komite skema.

LANJUTAN.......
c.

Setelah
pengambilan
keputusan
dan
publikasi
mengenai perubahan persyaratan, LSP memberikan
informasi kepada pihak-pihak yang terkait dan profesi
yang disertifikasi, memverifikasi bahwa setiap profesi
yang disertifikasi memenuhi persyaratan yang diubah
dalam periode waktu, yang penetapannya harus
mempertimbangkan pendapat komite skema.
d. Menganalisis pekerjaan/praktek dilakukan secara
periodic untuk menghasilkan atau menegaskan hal-hal
berikut:
Deskripsi target populasi kandidat dan pernyataan
tujuan atau hasil yang diharapkan dalam sertifikasi;
Daftar tugas yang penting dan kritis yang
dilaksanakan oleh Personel yang kompeten dalam
profesinya;
Daftar persyaratan sertifikasi, termasuk dasar dan
mekanisme asesmen yang dipilih untuk setiap

LANJUTAN.......
Spesifikasi struktur metode asesmen (tertulis, wawancara,
demonstrasi, buku harian atau portfolio) merupakan bagian
dari proses evaluasi yang mencakup garis besar, jenis
pertanyaan yang dibuat, tingkat kognitif pertanyaan, jumlah
pertanyaan untuk setiap subjek, lama waktu asesmen, metode
penetapan tingkat keberterimaan nilai, metode penilaian.
Ulasan tentang bagaimana skema yang diusulkan mencapai
tranparansi pasar.
Semua mekanisme disiapkan oleh personel yang kompeten
tentang sertifikasi profesi dan subjek yang relevan, serta
terlatih dalam mempersiapkan mekanisme tersebut.
Semua asesmen
sesuai dengan spesifikasi asesmen,
menjamin penerapan yang sama dan tidak bias.
Menetapkan pengendalian untuk rotasi materi uji kompetensi
dan revisinya dalam rangka memelihara objektivitas dan
kerahasiaannya.

PROSEDUR PENGEMBANGAN
SKEMA SERTIFIKASI
1.

MENGIDENTIFIKASI PERSYARATAN PENGEMBANGAN SKEMA


a. Identifikasi ketersediaan standar kompetensi ( SKKNI, SKK Khusus ,
SKK Internasional )
b. Verifikasi Kelayakan standar kompetensi untuk menyusun Skema
Sertifikasi
c. Identifikasi Skema Sertifikasi yang akan dikembangkan ( Skema
Klaster, Okupasi atau jenjang kualifikasi )
d. Identifikasi Komite Skema Sertifkasi

2. MENGEMBANGKAN STRUKTUR SKEMA SERTIFIKASI


a. Persyaratan peserta dasar Uji Kompetensi
b. Persyaratan sertifikasi ( hak dan kewajiban, dan kode etik )
c. Proses Sertifikasi ( Permohonan, Evaluasi, Keputusan Asesmen,
Survailen, Perpanjangan Sertifikat, dan Penggunaan sertifikat )

PROSEDUR PENGEMBANGAN
SKEMA SERTIFIKASI ( lanjutan )
3. MELAKUKAN VALIDASI SKEMA SERTIFIKASI
a. Identifikasi Prosedur validasi skema sertifikasi.
b. Validasi Kriteria kompetensi peserta uji kompetesi.
c. Verifikasi Semua persyaratan skema sertifikasi
secara
objektif dan sistematis dengan bukti
terdokumentasi
sehingga memadai untuk menegaskan
kompetensi
calon.
d. Laporkan Skema sertifikasi yang divalidasi
kepada BNSP.

PROSEDUR PENGEMBANGAN
SKEMA SERTIFIKASI ( lanjutan )
4. MEMELIHARA SKAMA SERTIFIKASI
a. Evaluasi Metode dan prinsip-prinsip asesmen.
b. Pertimbangkan Pendapat dari pemangku kepentingan
dalam rekomendasikan perbaikan.
c. Berikan Informasi mengenai setiap perubahan di dalam
persyaratan kepada wakil-wakil komite/bidang
sertifikasi
dan dewan pengarah kepada pemangku kepentingan.
d. Verifikasi Perbaikan skema sertifikasi profesi dari usulan
pemangku kepentingan berdasarkan pedoman BNSP.
e. Identifikasi Analisis pekerjaan/praktek.

TERIMA KASIH