Anda di halaman 1dari 6

INTISARI

Larutan adalah fase yang homogen yang mengandung lebih dari satu
komponen. Bila sistem hanya terdiri dari dua fase zat maka disebut larutan biner.
Tujuan dari praktikum ini adalah memahami kesetimbangan antara dua fase (uapcair) dari larutan etanol-air serta membuat diagram komposisi versus suhu untuk
larutan etanol-air. Pada percobaan kesetimbangan fasa dipelajari diagram komposisi
suhu pada tekanan tetap. Komposisi etanol dan air di fase uap (yi) dan cair (xi) pada
berbagai suhu. Komposisi ini kemudian dipakai untuk membuat diagran komposisi
vs suhu pada etanol-air. Bahan yang digunakan dalam percobaan adalah etanol 75
ml serta aquadest 150 ml, sedangkan alat yang digunakan adalah labu destilasi ,
termometer, pengambil sampel, pendingin liebig, erlenmeyer, refraktometer,
waterbath, thermostat, serta pipet.
Cara kerja yang pertama yaitu membuat kurva standar hubungan komposisi
etanol Vs indeks bias. Setelah itu, memasukkan etanol 75 ml ke dalam labu destilasi
kemudian lakukan destilasi sambil tambahkan 25 ml aquadest, penambahan
aquadest dilakukan sebanyak 5 kali, ketika suhu konstan, ukur indeks bias residu
dan destilat kemudian hasilnya di plotkan ke kurva standar sehingga terdapat kurva
hubungan %W etanol Vs suhu pada destilat dan residu.
Dari hasil percobaan, didapatkan data bahwa induksi bias naik seiring
bertambahnya %W etanol, semakin besar %W etanol titik didih destilat maupun
residu semakin mendekati titik didih etanol, titik didih larutan praktis lebih rendah dari
teoritisnya akibat adanya perbedaan tekanan udara. Sebagai saran teliti dalam
mengamati titik didih konstan, pembacaan skala dalam kurva hasil percobaan harus
benar, serta teliti mengukur suhu aquadest agar diperoleh destilat yang akurat.

BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

4.1.

Hasil Percobaan
Tabel 4.1. Hubungan Komposisi Etanol (larutan etanol-air) dengan Indeks Bias
Komposisi Etanol (%W)
0
10
20
30
40
50
58

V Air (ml)
10
8
6,4
5,6
2,7
1,1
0

V Etanol (ml)
0
2
3,9
4,4
7,3
8,9
10

Indeks Bias
1,332
1,335
1,336
1,338
1,341
1,345
1,349

Tabel 4.2. Pengaruh Komposisi Umpan Destilasi


V Etanol (ml)

V Air (ml)

Titik Didih (oC)

75
75
75
75
75
75

0
25
50
75
100
125

72
73
75
76
78
79

4.2.
4.2.1.

Indeks Bias

Indeks Bias

Residu
1,339
1,342
1,343
1,344
1,345
1,346

Destilat
1,342
1,343
1,345
1,346
1,347
1,348

Pembahasan
Hubungan komposisi etanol dengan indeks bias

Grafik Hubungan Komposisi (%w) Etanol vs Indeks Bias


1.36
1.35
1.35 f(x) = 0x + 1.33
1.34 R = 0.96
Indeks Bias (n) 1.34
1.33
1.33
1.32
0

10

20

30

40

%w Etanol

50

60

70

Gambar 4.1. Grafik Hubungan Komposisi (%w) Etanol vs Indeks Bias


Berdasarkan gambar 4.1, dapat disimpulkan bahwa komposisi (%w) etanol
berbanding lurus dengan indeks bias. Sehingga, semakin besar konsentrasi larutan
etanol yang digunakan maka nilai indeks biasnya juga akan semakin besar.
Indeks bias merupakan perbandingan antara kelajuan cahaya di ruang hampa
terhadap kelajuan cahaya di dalam bahan (Ardiyanto,2012). Hal ini dapat dinyatakan
dalam rumus :
c
n=
v
Sehingga, apabila %w etanol dalam larutan semakin besar maka konsentrasi etanol
dalam larutan etanol-air akan semakin besar. Akibatnya kelajuan cahaya di dalam
bahan (v) akan semakin kecil karena semakin banyaknya molekul yang menghalangi
cahaya untuk merambat. Jika kelajuan cahaya di dalam larutan / bahan (v) semakin
kecil maka nilai indeks bias akan semakin besar, karena indeks bias berbanding
terbalik dengan kelajuan cahaya dalam bahan.
Selain itu, etanol dan air memiliki perbedaan berat molekul yang cukup jauh.
Etanol memiliki berat molekul 46 g/mol, sedangkan air memiliki berat molekul 18
g/mol. Hal ini menyebabkan etanol memiliki komposisi(%w) yang lebih tinggi dalam
larutan etanol-air. Sehingga apabila %w semakin besar maka indeks biasnya akan
semakin besar pula.

4.2.2.

Hubungan komposisi etanol dengan titik didih


80
f(x)+=58.6
0.48x + 51.45
f(x) = 0.38x
R
=
0.97
R = 0.88

75
Titik Didih (oC)

Residu
Linear (Residu)
Linear (Residu)

70

Destilat
Linear (Destilat)

65
30

35

40

45

50

Komposisi (%w)

55

60

Linear (Destilat)
Linear (Destilat)

Gambar 4.2 Grafik Hubungan komposisi(%w) etanol dengan titik didih

Berdasarkan gambar 4.2, dapat disimpulkan bahwa komposisi (%w) etanol


berbanding lurus dengan titik didih larutan etanol-air, baik di dalam residu maupun
destilat. Sehingga, semakin besar komposisi (%w) etanol dalam larutan etanol-air
maka titik didihnya juga akan semakin tinggi. Hal tersebut kurang sesuai dengan
kondisi teoritisnya. Karena, berdasarkan Hukum gas ideal dan Hukum Raolt,
besarnya titik didih larutan dapat dinyatakan dalam rumus :
Td=XA.TA + XB.TB
Meskipun berdasarkan persamaan diatas, terlihat bahwa fraksi mol (X) berbanding
lurus dengan titik didih larutan. Namun, secara teoritis titik didih larutan seharusnya
lebih condong ke titik didih komposisi larutan yang dominan. Dalam hal ini,
komposisi (%w) etanol yang digunakan semakin bertambah dan jumlah airnya
semakin berkurang. Sehingga, semakin besar komposisi (%w) etanol yang
digunakan, maka titik didih larutan etanol-air semakin mendekati titik didih etanol.
Meskipun, air memiliki titik didih jauh lebih tinggi yaitu 100 oC daripada etanol yang
hanya sekitar 78,5oC.
Tetapi, hasil percobaan yang diperoleh kurang sesuai dengan dasar teoritisnya.
Hal ini disebabkan karena adanya etanol yang menguap sehingga komposisi etanol
dalam larutan etanol-air berkurang. Karena, komponen etanol bersifat volatile,
sebaliknya komponen air bersifat non volatile (Sari,2012). Hal ini semakin didukung
dengan suhu operasi yang mencapai 90 oC, jauh diatas titik didih etanol. Sehingga,
lama kelamaan justru air yang menjadi dominan di dalam larutan etanol-air. Maka
titik didih larutan yang didapat semakin tinggi

4.2.3.

Hubungan volume penambahan air dengan titik didih praktis dan teoritis

Hubungan Penambahan Volume Air dengan Titik Didih


150
100

Titik Didih (oC)

Praktis
Linear (Praktis)

50

Teoritis

25
0

75
50

125
100
150

V Aquades (ml)

Gambar 4.3 Grafik Hubungan Volume Penambahan Air dengan Titik Didih

Berdasarkan gambar 4.3, dapat disimpulkan bahwa penambahan volume


aquadest pada larutan etanol-air berbanding lurus dengan titik didih larutan tersebut,
baik secara praktis maupun teoritis. Penambahan aquadest sama artinya dengan
penambahan fraksi mol aquadest pada larutan. Penambahan tersebut dapat
menurunkan nilai fraksi mol etanol yang jumlah molnya tetap. Selain itu, air memiliki
titik didih yang jauh lebih tinggi daripada etanol. Sehingga, semakin besar volume
aquadest yang ditambahkan pada larutan etanol-air maka titik didihnya juga akan
semakin tinggi.
Tetapi, berdasarkan hasil percobaan terdapat perbedaan antara titik didih
teoritis dengan titik didih praktis. Hal ini disebabkan oleh perbedaan tekanan udara
karena percobaan dilakukan di Tembalang yang memiliki ketinggian 250 mdpl.
Padahal secara teoritis titik didih diukur pada tekanan 1 atm. Sehingga tekanan
udara di Tembalang dapat diketahui berdasarkan perhitungan berikut :
h
250
P= 76
cmHg 76
cmHg
100
100

73,5 cmHg
Berdasarkan hasil perhitungan matematis menggunakan persamaan gas ideal,
terbukti tekanan udara di Tembalang dapat mempengaruhi titik didih menjadi lebih
rendah dari titik didih teoritisnya. Maka, semakin rendah tekanan udara di suatu
tempat, semakin besar tekanan uapnya sehingga titik didihnya menjadi semakin
rendah.

BAB V
PENUTUP

V.1.
Kesimpulan
1. Semakin besar komposisi etanol maka indeks bias larutan etanol-air akan
semakin besar.
2. Semakin besar komposisi etanol dalam larutan etanol-air, maka titik didih larutan
tersebut akan semakin mendekati titik didih etanol.
3. Titik didih praktis larutan-etanol air yang diperoleh lebih rendah dari teoritisnya
karena adanya perbedaan tekanan udara.

V.2.

Saran

1. Menentukan titik didih harus sampai benar-benar konstan.


2. Teliti pada pembacaan angka di refraktometer.
3. Mengukur perbandingan etanol dengan air harus sesuai agar tidak terjadi
kesalahan pada komposisi etanol.
4. Letakkan refraktometer pada tempat yang terang
5. Teliti dalam mengukur suhu aquadest agar tidak salah saat menentukan densitas
air.