Anda di halaman 1dari 12

RENCANA TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI

KEPERAWATAN JIWA
RUMAH SAKIT JIWA Prof. dr. SOEROJO MAGELANG

Disusun oleh :
Nama

: Dzurriyatun Thoyyibah ZA.

NIPP

: 2014-403-1-065

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2015

RENCANA TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK


A. TOPIK
Terapi aktivitas kelompok (TAK) sosialisasi dengan permainan bola dan musik.
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Klien dapat meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok secara bertahap.
2. Tujuan Khusus
a. Klien mampu memperkenalkan diri atau berkenalan dengan anggota kelompok atau
klien lainnya
b. Klien mampu menyampaikan tentang dirinya kepada klien yang lain di tengah
forum yang disediakan
c. Klien mampu memberikan tanggapan atau feedback kepada klien lain yang sedang
memperkenalkan diri
d. Klien mampu memberikan tanggapan atau feedback kepada klien yang memberikan
tanggapan terhadap perkenalan atau penjabaran tentang dirinya
e. Klien mampu bekerja sama dalam permainan sosial kelompok
f. Klien mampu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan terapi yang telah
dilakukan
C. LANDASAN TEORITIS
Kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi sehat emosional, psikologi dan sosial
yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, perilaku dan koping yang
efektif, konsep diri yang positif, dan kestabilan emosi. Upaya kesehatan jiwa dapat
dilakukan oleh perorangan, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan pekerjaan,
lingkungan masyarakat yang didukung sarana pelayanan kesehatan jiwa dan sarana lain
seperti keluarga dan lingkungan sosial. Lingkungan tersebut selain menunjang upaya
kesehatan jiwa juga merupakan stressor yang dapat mempengaruhi kondisi jiwa seseorang,
pada tingkat tertentu dapat menyebabkan seseorang jatuh dalam kondisi gangguan jiwa
Meningkatnya klien dengan gangguan jiwa ini disebabkan banyak hal. Kondisi
lingkungan sosial yang semakin keras diperkirakan menjadi salah satu penyebab
meningkatnya jumlah masyarakat yang mengalami gangguan kejiwaan. Apalagi untuk
individu yang rentan
menekan.

terhadap kondisi lingkungan dengan tingkat kemiskinan terlalu

Salah satu jenis gangguan jiwa yang dapat dialami adalah schizoprenia. Pada
klien gangguan jiwa dengan diagnosa medis schizoprenia akan muncul banyak masalah
keperawatan yang harus mendapatkan intervensi keperawatan diantaranya isolasi sosial,
menarik diri, harga diri rendah, halusinasi, waham dan banyak lainnya.
Skizofrenia merupakan suatu penyakit yang mempengaruhi otak yang dapat
menyebabkan timbulnya perubahan kepribadian seperti

menarik

diri,

tidak

dapat

membina hubungan sosial secara mendalam bahkan dapat menyebabkan terjadinya


narkisisme yaitu harga diri yang rapuh.
Gangguan isolasi sosial yang tidak mendapat perawatan lebih lanjut dapat
menyebabkan klien makin sulit dalam mengembangkan hubungan dengan orang lain,
sehingga klien menjadi regresi, mengalami penurunan dalam aktivitas, dan kurangnya
perhatian terhadap penampilan

dan kebersihan diri bahkan bisa berlanjut menjadi

halusinasi yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
Penatalaksanaan keperawatan klien selain dengan pengobatan psikofarmaka juga
dengan pemberian terapi modalitas yang salah satunya adalah Terapi Aktifitas Kelompok
(TAK). Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu terapi modalitas yang dilakukan
perawat pada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama.
Aktifitas digunakan sebagai terapi, dan kelompok digunakan sebagai target asuhan.
Terapi Aktivitas Kelompok sangat efektif mengubah perilaku karena di dalam
kelompok terjadi interaksi satu dengan yang lain dan saling mempengaruhi. Dalam
kelompok akan terbentuk satu sistem sosial yang saling berinteraksi dan menjadi tempat
klien berlatih perilaku baru yang adaptif untuk memperbaiki perilaku lama yang
maladaptif.
TAK dibagi sesuai dengan masalah keperawatan klien, salah satunya adalah
TAK Sosialisasi. TAK Sosialisasi adalah upaya memfasilitasi kemampuan sosialisasi
sejumlah klien dengan masalah hubungan sosial. Dengan TAK sosialisasi maka klien
dapat meningkatkan hubungan sosial secara bertahap dari interpersonal (satu dan satu),
kelompok dan masyarakat.
D. KLIEN
1. Karakteristik/Kriteria
TAK sosialisasi dilakukan dalam 2 sesi yang bertujuan untuk melatih kemampuan
sosialisasi klien. Kriteria ini disusun berdasarkan kondisi klien di bangsal, kritesia
tersebut adalah :

a. Klien yang mengalami halusinasi, resiko perilaku kekerasan maupun waham


dengan kondisi baik dan hanya membutuhkan sosialisasi lebih sebelum kembali ke
masyarakat
b. Klien yang membutuhkan bimbingan dalam sosialisasi dan sulit mengungkapkan
perasaannya melalui komunikasi verbal
c. Klien dalam keadaan tenang, kooperatif, dan dapat berinteraksi
d. Klien yang yang sulit mengungkapkan perasaannya melalui komunikasi verbal
e. Klien dengan kondisi fisik yang sehat (tidak sedang mengidap penyakit fisik
tertentu seperti diare, thypid, dan lain-lain)
2. Proses Seleksi
Seleksi dilakukan melalui proses observasi dan wawancara yang telah dilakukan
dengan klien. Kedua proses tersebut diharapkan dapat mengidentifikasikan masalah
serta tahap penyembuhan yang dialami klien, sehingga proses TAK dapat berjalan
sesuai dengan tujuan.
Berdasarkan proses observasi dan wawancara yang telah dilakukan di ruang
Gatotkaca (P9) RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang terdapat 7 klien. Klien dengan
masalah keperawatan isolasi sosial dan halusinasi pendengaran terdapat 1 orang, 3
orang klien dengan masalah keperawatan halusinasi pendengaran, 3 orang dengan
masalah keperawatan halusinasi penglihatan, 2 orang dengan masalah keperawatan
RPK dan 2 orang dengan masalah waham. Walaupun terdapat 4 orang klien yang
mengalami halusinasi, klien-klien tersebut tidak berada pada tahap penyembuhan yang
sama. Oleh karena itu, kebutuhan sosialisasi diangkat dalam mengeneralisasikan
kebutuhan klien. Terdapat klien yang kondisinya baik dan hanya membutuhkan
sosialisasi lebih sebelum kembali ke masyarakat serta klien yang membutuhkan
bimbingan dalam sosialisasi. TAK ini diharapkan dapat memberikan motivasi bagi
klien yang telah cukup baik dalam bersosialisasi maupun klien yang memiliki
hambatan dalam bersosialisasi.
Berdasarlan hal tersebut

maka terapis tertarik untuk melaksanakan TAK

sosialisasi. TAK akan diikuti oleh peserta :


No.
1
2
3
4
5
6

Nama Klien
Tn. Dwi Aga
Tn Heru Eko
Tn. Saptono
Tn. Eko S.
Tn. Hanafi
Tn. Salis

Diagnosa Keperawatan
RPK
Waham
RPK
Halusinsi Penglihatan
Halusinsi Penglihatan
Halusinsi Penglihatan

Peserta Cadangan
No.
1

Nama Klien
Tn. Nurudin

E. PENGORGANISASIAN
1. Waktu
Tempat pelaksanaan TAK
Lama pelaksanaan TAK
Waktu pelaksanaan TAK
Hari, tanggal TAK

Diagnosa Keperawatan
Halusinsi Pendengaran

: Lapangan di depan bangsal Gatotkaca (P9)


: 60 menit
: 08.30-09.30 wib
: Sabtu, 4 September 2015

2. Tim Terapis
a. Leader
Nama
: Dzurriyatun Thoyyibah ZA.
Tugas leader :
1) Mengkoordinasi seluruh kegiatan
2) Memimpin jalannya terapi
3) Memimpin diskusi
b. Co-leader
Nama
: Agung P. W.
Tugas co-leader:
1) Membantu leader mengorganisasi anggota
2) Apabila therapi aktivitas pasif diambil oleh co-leader
3) Menggerakkan anggota kelompok
c. Observer
Nama
: Edi Nurfadillah
Tugas observer :
1) Mengobservasi jalannya TAK atau proses kegiatan yang berkaitan dengan
waktu, tempat dan jalannya acara
2) Melaporkan respon klien pada co-leader atau leader apabila berada diluar
kendalinya saat proses TAK berlangsung
3) Mengingatkan co-leader atau leader terkait kesesuaian proses TAK yang telah
berjalan (misalnya waktu yang telah dihabiskan/time keeper)

4) Membuat laporan atau evaluasi jalannya aktivitas kelompok dengan lembar


penilaian yang telah disediakan
5) Melaporkan hasil pengamatan pada leader dan semua anggota kelompok
dengan evaluasi kelompok
d. Fasilitator
Nama
: Asti Febriana dan Eriyansyah Farwa
Tugas fasilitator :
1) Memotiviasi peserta dalam aktivitas kelompok
2) Memotivasi anggota dalam ekspresi perasaaan setelah kegiatan
3) Mengatur posisi kelompok dalam lingkungan untuk melaksanakan kegiatan
4) Membimbing kelompok selama permainan diskusi
5) Membantu leader dalam melaksanakan kegiatan
6) Membantu leader dalam terhadap program antisipasi masalah
3. Setting Tempat
Terapis dan klien duduk bersama dalam bentuk lingkaran
keterangan

: leader
: co-leader
: peserta
: fasilitator
: Observer

4. Metode dan Media


a. Metode
1) Games
2) Dinamika kelompok
3) Diskusi dan tanya jawab
b. Media

1) Hand phone
2) Musik
3) Speaker
5. Program Antisipasi
Masalah yang mungkin muncul pada saat kegiatan berlangsung :
a. Klien tiba-tiba meninggalkan kegiatan.
b. Klien tiba-tiba tidak mau mengikuti dan melakukan kegiatan.
c. Klien lain di luar anggota kelompok ingin bergabung
Antisipasi
a. Menanyakan alasan apa yang menyebabkan sehingga klien meninggalkan
tempat pelaksanaan TAK, tidak mau melakukan kegiatan, dan mengapa klien
ingin bergabung.
b. Memotivasi klien yang tidak mau mengikuti kegiatan dan melakukan
rangkaian kegiatan selama TAK dan menyiapkan klien cadangan untuk
mengganti klien yang tidak mengikuti
c. Menjelaskan kepada klien yang ingin bergabung bahwa kegiatan TAK hanya
diikuti oleh 8 orang klien yang telah bersedia ikut pada hari sebelumnya.
F. PROSES PELAKSANAAN
1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak klien (sesuai kriteria) berkumpul di tempat pelaksanaan TAK
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
c. Klien diminta duduk di tempat yang dipandu oleh fasilitator dan dan co-leader.
2. Orientasi
a. Salam
1) Salam dari terapis
2) Perkenalan nama, dan panggilan nama dari terapis.
b. Validasi
Menanyakan perasaan klien hari ini serta tahap penyembuhan yang telah dilalui
secara individu atau satu persatu ditanyakan pada klien.
c. Penjelasan tujuan TAK
Leader menjelaskan tujuan dilakukannya TAK
d. Penjalasan aturan main TAK
1) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada
terapis atau leader

2) Tidak boleh merokok, tidak boleh melakukan kekerasan


3) Klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
4) Meminta izin dengan mengacungkan tangan ketika ingin ke toilet
5) Seluruh peserta harus bermain secara sportif

e. Kontrak waktu
Terapis atau leader menawarkan kontrak waktu selama 60 menit maksimal
3. Kerja
a) Terapis atau leader mengajak klien untuk saling memperkenalkan diri (nama, dan
nama panggilan) dimulai dari terapis secara berurutan searah jarum jam.
b) Setiap kali seorang klien selesai memperkenalkan diri, terapis mengajak semua
klien untuk memberikan reinforcement positif misalnya dengan kata bagus.
c) Terapis atau leader menjelaskan bahwa akan diputar lagu, klien boleh tepuk
tangan atau berjoget sesuai dengan irama lagu disertai dengan operan bola pada
setiap klien.
d) Terapis atau leader memutar lagu, klien mendengar boleh berjoget, tepuk tangan
musik yang diputar boleh diulang beberapa kali (15 menit). Terapis
mengobservasi respon klien terhadap musik
e) Secara bergiliran, klien diminta untuk perkenalan diri secara lengkap serta
menyampaikan perasaannya dengan :
(1) Menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, alamat dan hobi
(2) Menyampaikan perasaan atau masalahnya saat ini
f) Ulangi langkah e) sampai semua klien mendapatkan giliran
g) Klien lain yang tidak mendapatkan giliran diminta untuk memberi tanggapan
terhadap jawaban klien yang mendapatkan giliran
h) Terapis atau leader memberikan pujian, setiap klien bercerita tentang dirinya dan
klien yang memberi tanggapan, dan mengajak klien lain bertepuk tangan.
4. Terminasi

a) Leader melakukan evaluasi subjektif


1) Terapis atau leader menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
2) Terapis atau leader memberikan pujian atas keberhasilan kelompok
b) Leader melakukan evaluasi objektif
Terapis atau leader menanyakan permainan apa yang telah dilakukan
c) Leader bersama pasien membuat rencana tindak lanjut terkait topik TAK
d) Menganjurkan tiap anggota kelompok melatih memperkenalkan diri kepada orang
lain di kehidupan sehari-hari.
e) Masukkan kegiatan memperkenalkan diri pada jadwal kegiatan harian klien.
f) Membuat kontrak dengan pasien
1) Menyepakati kegiatan TAK yang akan datang
2) Menyepakati waktu dan tempat
5. Evaluasi
a. Evaluasi Input
1) Tim berjumlah 13 orang yang terdiri atas 1 leader, 1 co-leader, 7 fasilitator, 3
2)
3)
4)
5)

observer dan 1 operator.


b. Lingkungan memiliki syarat luas dan sirkulasi baik.
c. Peralatan mp3 sound system berfungsi dengan baik.
d. Tersedia bola
Klien, tidak ada kesulitan memilih klien yang sesuai dengan kriteria dan

karakteristik klien untuk melakukan terapi aktivitas kelompok sosialisasi.


b. Evaluasi Proses
1) Leader menjelaskan aturan main dengan jelas.
2) Fasilitator menempatkan diri di tengah-tengah klien.
3) Observer menempatkan diri di tempat yang memungkinkan untuk dapat
mengawasi jalannya permainan.
4) 100% klien yang mengikuti permainan dapat mengikuti kegiatan dengan aktif
dari awal sampai selesai.
c. Evaluasi Output
1) Setelah mengadakan terapi aktivitas kelompok sosialisasi dengan 7 klien yang
diamati, hasil yang diharapkan adalah sebagai berikut;
2) 100% klien yang mengikuti permainan dapat mengikuti kegiatan dengan aktif
dari awal sampai selesai.
3) 100% klien dapat meningkatkan komunkasi non verbal: bergerak mengikuti
instruksi, ekspresi wajah cerah, berani kontak mata.

4) 100% klien dapat meningkatkan komunikasi verbal (menyapa klien lain atau
perawat, mengungkapkan perasaan dengan perawat).
5) 100% klien dapat meningkatkan kemampuan akan kegiatan kelompok
(mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai).
6) 100% klien mampu melakukan hubungan sosial dengan lingkungannya (mau
berinteraksi dengan perawat / klien lain)

TAK SOSIALISASI
a. Kemampuan verbal
N

Aspek yang di nilai

o
1

Menyebutkan

nama

lengkap
Menyebutkan

nama

3
4
5

panggilan
Menyebutkan alamat asal
Menyebutkan hobi
Menyampaikan perasaan

dengan jelas
Menyampaikan

perasaan

secara ringkas
Menyampaikan

perasaan

Nama Klien

secara spontan
b. Kemampuan non verbal
N

Aspek yang di nilai

o
1
2
3

kontak mata
Duduk Tegak
menggunakan

tubuh yang sesuai


mengikuti kegiatan dari
awal-akhir

bahasa

Nama Klien

Petunjuk
1) Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien
2) Untuk tiap klien, beri penilaian pada semua aspek dengan memberi tanda () jika klien
mampu dan tanda (-) jika klien tidak mampu
3) Jumlahkan kemampuan yang ditemukan, jika nilai 3 atau 4 klien mampu dan jika nilai < 2
klien belum mampu

DAFTAR PUSTAKA
Copel, L.C (2007) kesehatan jiwa dan psikiatrik; Pedoman klinis perawat. Ed.2, EGC: Jakarta.
Christopher L (2007). Terapi aktivitas sosialisasi di rumah sakit jiwa. Journal of psychosocial
nursing ang mental health services. Vol 45. P.1/3
Fortinash, K.M & Worret, P.A (2004). Psychiatric mental health nursing. Ed.3, mosby: USA.
Keliat. A. B. 2004. Keperawatan jiwa: Terapi aktivitas kelompok. Jakarta: EGC.
Keliat. A. B. 2011. Keperawatan jiwa komunitas. Jakarta : EGC
Maramis, W.F (2005). Catatan ilmu kedokteran jiwa. Airlangga University Press: Surabaya.
Stuart, G.W (2007). Buku saku keperawatan jiwa. Ed.5,EGC: Jakarta