Anda di halaman 1dari 38

CLINICAL SCIENCE SESSION

PPOK
Preceptor: Juke Roslia Saketi, dr., Sp.PDKGEH

PPOK
Definisi :
penyakit paru kronik yang dapat dicegah dan dapat diobati,
dengan karakteristik hambatan aliran udara menetap dan
progresif yang disertai dengan peningkatan respon inflamasi
kronis pada saluran napas dan paru terhadap partikel
berbahaya.
Gejala PPOK termasuk:
Sesak napas kronis
Batuk kronis
Produksi sputum kronis
Mudah lelah

Prevalensi
Meningkat pada smoker dan ex-smoker, usia >40 tahun,

dan laki-laki

Faktor Resiko
i. MEROKOK

Derajat berat merokok Indeks Brinkman (IB)


perkalian jumlah rata-rata batang rokok dihisap sehari dikalikan lama merokok
dalam tahun :
Ringan : 0-200
Sedang : 200-600
Berat : >600
ii.Riwayat terpajan polusi udara di lingkungan dan tempat kerja, dalam
ruangan
iii. Defisiensi antitripsin alfa - 1, umumnya jarang terdapat di Indonesia
iv. Masalah pada paru yang terjadi saat masa gestasi atau saat kanak-kanak
(berat badan lahir rendah, infeksi pernapasan)
v. >> usia: gangguan ventilasi
vi. Gender: laki-laki
Vii. Alergi dan hiperresponsif airway

Anatomi Paru

Patogenesis
Merokokmerangsang perubahan-perubahan pada sel-

sel penghasil mukus bronkus dan siliakelumpuhan atau


disfungsional serta metaplasia
penumpukan mukus kental dalam jumlah besar dan sulit
dikeluarkan dari saluran nafastempat mikroorganisme
penyebab infeksiinflamasiedema dan pembengkakan
jaringan
gangguan ventilasi terutama ekspirasi melambat

Klasifikasi (GOLD, 2014)

FEV1 (VEP1): volum ekspirasi paksa detik pertama. FVC (KVP):


Kapasitas vital paksa

Diagnosis
Anamnesis
gejala sesak napasprogresif, menetap, dan memburuk

dengan olahraga/aktivitas
batuk kronis: 3 bulan dalam 2 tahun berturut
produksi sputum kronis: 3 bulan dalam 2 tahun berturut,
dan terdapat paparan sputum kronis.
terdapat paparan faktor risiko
Gejala lain: mengi, lelah, penurunan berat badan

Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Pursed - lips breathing
Barrel chest (diameter antero - posterior dan transversal sebanding)
Penggunaan otot bantu napas
Hipertropi otot bantu napas
Pelebaran sela iga
Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena jugularis
leher dan edema tungkai

Palpasi
fremitus melemah, sela iga melebar

Perkusi
hipersonor, letak diafragma rendah, hepar terdorong ke bawah

Auskultasi
Suara napas vesikuler normal, atau melemah
Terdapat ronki dan atau mengi pada waktu bernapas biasa atau pada
ekspirasi paksa ekspirasi memanjang

Penunjang
1. Foto toraks: gambaran hiperinflasi, hiperlusen,

diafragma mendatar, corakan bronkovaskular meningkat,


jantung pendulum

2. Spirometri
hasil VEP1/KVP <70% (0.70) menjelaskan bahwa pasien mengalami

PPOK. Jika hasil >=0.70, berarti bukan PPOK.

3. Bakteriologi

sputum pewarnaan Gram dan kultur resistensi diperlukan untuk


mengetahui pola kuman dan untuk memilih antibiotik yang tepat

Diagnosis Banding
Asma
SOPT (Sindroma Obstruksi Pascatuberculososis)
Gagal jantung kongestif
Bronchiectasis
Obliterative bronchiolitis
Diffuse Panbranchiolitis

Penilaian PPOK
1. Penilaian gejala: kuesioner CAT (COPD Assessment

Test) atau mMRC ( modified British Medical Research


Council)
Pasien Karakteristik
A

Risiko

Klasifikasi

Eksaserbasi

Spirometri

pertahun

rendah, GOLD 1-2

CAT

mMRC

<=1

<10

0-1

<=1

>=10

>=2

>=2

<10

0-1

>=2

>=10

>=2

gejala sedikit
B

Risiko

rendah, GOLD 1-2

gejala banyak
C

Risiko

tinggi, GOLD 3-4

gejala sedikit
D

Risiko

tinggi, GOLD 3-4

gejala banyak

2. Penilaian Spirometri

3.Penilaian risiko eksaserbasi

4. Komorbiditas

penyakit kardiovaskular, osteoporosis, depresi dan cemas,


sindrom metabolik, kanker paru, disfungsi otot skeletal

Penatalaksanaan
Secara umum:

1. Edukasi
2. Obat obatan
3. Terapi oksigen
4. Ventilasi mekanik
5. Nutrisi
6. Rehabilitasi

Tatalaksana PPOK Stabil


Nonfarmakologis

1. Pasien kelompok A: smoking cessation (konseling, terapi


pengganti nikotin), aktivitas fisik
2. Pasien kelompok B, C, D: smoking cessation, rehabilitation
pulmonal, aktivitas fisik
Smoking Cessation:

Ask
Advise
Assess
Assist
Arrange

Farmakologis
A

Antikolinergik kerja cepat atau 2 agonis kerja cepat

Antikolinergik kerja lama atau 2 agonis kerja lama

Kortikosteroid

inhalasi+

agonis

kerja

lama

atau

antikolinergik kerja lama

Kortiosteroid inhalasi+ 2 agonis kerja lama dan/atau


antikolinergik kerja lama

Tatalaksana PPOK eksaserbasi


sputum berubah warna ATAU semakin banyak DAN
sesak yang memberat. Gejala dapat disertai batuk semakin
sering, keterbatasan aktivitas, gagal napas acute on
chronic, hingga penurunan kesadaran.
Klasifikasi eksaserbasi
1. Eksaserbasi berat: 3 gejala kardinal
2. Eksaserbasi sedang: 2 dari 3 gejala kardinal
3. Eksaserbasi ringan: 1 dari 3 gejala kardinal ditambah
salah satu dari kriteria tambahan antara lain infeksi saluran
napas atas >5 hari, demam tanpa sebab lainnya,
peningkatan batuk, mengi, peningkatan laju pernapasan
atau frekuensi nadi >20% nilai dasar.

??? infeksi saluran pernapasan oleh virus atau bakteri,

pneumonia, gagal jantung, aritmia, emboli paru, asupan


nutrisi buruk, aspirasi, polusi udara, pneumotoraks,
penyebab sistemik (DM atau gangguan elektrolit)

1. Penilaian awal (derajat, kesadaran)

2. Pemeriksaan penunjang
Analisis gas darah
darah perifer lengkap
foto toraks
EKG.

3. Pemberian Oksigen

4. Bronkodilator
2 agonis kerja cepat dengan/tanpa antikolinergik kerja

cepat

Nebulizer: agonis 2 kerja cepat(salbutamol)


+antikolinergik (2,5+0,5 mg, lama kerja 4-8 jam)
-Xantin IV (bolus dan drip)
Contoh: aminofilin(sediaan oral: 200 mg, IV: 240 mg, lama
kerja 4-6 jam), teofilin (oral: 100-400 mg, lama kerja
bervariasi hingga 24 jam)

5. Kortikosteroid Sistemik
prednison 30-40 mg selama 10-40 hari. Diberikan PO

untuk eksaserbasi ringan atau IV untuk eksaserbasi berat

6. Antibiotik
antibiotik spektrum sempit jika belum memiliki riwayat

penggunaan antibiotik sebelumnya


amoksisilin 500 mg 3x/hari PO 3-14 hari atau doksisiklin
100 mg 2x/hariPO 3-14 hari)
spektrum luas jika diketahui terdapat resistensi antibiotik
amoksisiklin/klavulanat 875 mg 2x/hari atau 500 mg
3x/hari PO 5 hari atau levofloksasin 500 mg 1x/hari PO 5
hari)
IV jika dirawat di RS

7. Terapi suportif
Terapi komorbiditas
Nutrisi
Keseimbangan cairan

Antikolinergik

Ipratropium

Nebulizer: 0,25-0,5

bromida

mg

6-8 jam

Oral:IDT: 20; 40 g
Agonis

Salbutamol

kerja singkat

IDT: 100-200g

4-6 jam

Nebu:2,5-5 mg
Oral 2-4 mg
Fenoterol

IDT: 100-200g

4-6 jam

Nebu:0,25-2 mg
Oral 0,05% (sirup)
Terbutalin

IDT: 250-500g

4-6 jam

Nebu:5-10 mg
Oral 2,5-5 mg
Agonis

Formoterol

IDT: 4,5-12g

12 jam

kerja lama

Salmoterol

IDT: 50-100g

12 jam

Metilsantin

Aminofilin

Oral: 200 mg

4-6 jam

Teofilin

Injeksi: 240 mg

Variasi s.d 24
jam

Kombinasi

Salbutamol+ipratropiu

IDT: 75 +15 g

Nebu:2,5+0,5 mg

Fenoterol+ipratropium

IDT: 200+20g

4-8 jam

IDT 80/160+4.5g

12 jam

Budesonid+formoterol

Kortikosteroi

Budesonid

d inhalasi

IDT: 100,200,400g
Nebu:0,5 mg
Nebu: 0,5 mg

Flutikason

4-8 jam

OralIDT 100,200g

Beklometason

Oral-

Kortikosteroi

Prednison

Oral 5;30 mg

d sistemik

Metil prednisolon

IDT 10-1000g
NebuOral 4,8,16mg
Injeksi 125 mg

Terapi lainnya
Mukolitik:

pada eksaserbasi akut


Antioksidan:
Dapat mengurangi eksaserbasi dan memperbaiki kualitas
hidup-> N - asetilsistein
Terapi oksigen
Indikasi jangka panjang:
Pao2 < 55mmHg atau Sat O2 < 90%, dengan atau tanpa
hiperkapnia dikonfirmasi dua kali selama 3 minggu
Pao2 diantara 55 - 60 mmHg atau Sat O2 <88% disertai Kor
Pulmonal, Pulmonary hypertension, Ht >55% dan tanda tanda gagal jantung kanan

Nutrisi
Terapi pembedahan:

-Bulektomi
-Bedah reduksi volume paru (BRVP) / lung volume
reduction surgey (LVRS)
-Transplantasi paru

Komplikasi
Gagal napas
Infeksi berulang
Kor pulmonal

Indikasi Rawat Inap


Peningkatan intensitas gejala (misal timbul saat tidak

beraktivitas)
PPOK derajat berat
timbul tanda fisik yang baru (sianosis, edema)
tidak ada perbaikan dari penatalaksanaan inisial
komorbiditas serius
sering terjadi eksaserbasi
usia lanjut
tidak sanggup perawatan di rumah.

TERIMAKASIH