Anda di halaman 1dari 5

TUGAS UNDANG-UNDANG DAN ETIKA KEFARMASIAN

OLEH
RAFIKA ZIDNI ILMA
152211101054

PROGRAM STUDI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2015

Kasus
Seorang apoteker A telah bekerja sebagai apoteker penanggung jawab di sebuah PBF X, apoteker
A juga bekerja sebagai apoteker pendamping pada malam hari di sebuah apotek di kota yang
sama, apoteker A ini juga merupakan PSA apotek tersebut. Dalam kesehariannya, terkait
pengadaan perbekalan farmasi , apotek yang dikelolanya bekerjasama dengan PBF tempat ia
bekerja untuk mendistribusikan perbekalan farmasi ke klinik dan rumah sakit-rumah sakit. Dari
kerjasama ini, apoteker A mendapatkan fee 1% faktur penjualan dan ia juga dapat mengendalikan
semua yang terkait administrasi di apotek.
Bagaimanakah kajian saudara terhadap kasus tersebut di atas, ditinjau dari sisi etika profesi
apoteker dan peraturan perundang-undangan kefarmasian yang berlaku di Indonesia?

Apoteker adalah seseorang yang mempunyai keahlian dan kewenangan di bidang kefarmasian
baik di apotek, rumah sakit, industri, pendidikan, dan bidang lain yang masih berkaitan dengan
bidang kefarmasian. Bagi apoteker yang ingin bekerja pada industri farmasi maka maka harus
memiliki SIKA (Surat Izin Kerja) sedangkan untuk apoteker yang ingin bekerja di pelayanan
kefarmasian harus memiliki SIPA (Surat Izin Praktek Apoteker) Yang dimaksud dengan fasilitas
pelayanan kefarmasian adalah apotek, instalasi farmasi rumah sakit, puskesmas, toko obat,
klinik, dan praktek bersama dokter.Apabila aturan ini bisa dipatuhi, maka tidak akan ada lagi
apoteker yang sudah tercatat bekerja di industri farmasi atau sarana distribusi yang merangkap
sebagai Apoteker Pengelola Apotek karena izin yang mereka terima berbeda. Ketika seorang
apoteker memutuskan untuk bekerja di sarana pelayanan kefarmasian, maka ia seharusnya
menjalankan fungsinya dengan penuh tanggung jawab. Dalam PP 51 tahun 2009 ditegaskan
bahwa yang dimaksud dengan pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan
bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud
mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Jadi seharusnya ke
depan, tidak ada lagi apoteker yang menjadi penanggung jawab suatu apotek hanya sesekali
datang ke apotek yang menjadi tanggung jawabnya, atau tidak akan ada lagi apoteker yang
bekerja di rumah sakit yang tidak memantau pengobatan yang sedang dijalani oleh pasien.
Apabila perbuatan yang tidak bertanggung jawab ini tetap dilakukan oleh apoteker, berarti
tindakannya tersebut melanggar PP dan yang penting lagi apoteker tersebut tidak peduli dengan
peningkatan kualitas hidup konsumen obat/ pasien yang menjadi pelanggannya.

Menurut

Permenkes RI nomor 889/MENKES/PER/V/2011 dijelaskan pada pasal 18 tentang SIPA bagi


Apoteker penanggung jawab di fasilitas pelayanan kefarmasian atau SIKA hanya diberikan untuk
1 (satu) tempat fasilitas kefarmasian, jadi jika seorang apoteker bekerja sebagai apoteker
penanggung jawab di PBF dan menjadi apoteker pendamping di apotek tidak diperkenankan
dikarenakan akan menyalahi aturan, sehingga apoteker tersebut harus memilih antara bekerja di
PBF atau di apotek. Di dalam undang undang nomor 5 tahun 1999 tentang larangan praktek
monopoli dan persaingan usaha tidak sehat dalam disebutkan bahwa Pelaku usaha dilarang
melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dapat
mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat sehingga
dapat dikatakan bahwa apoteker tersebut juga telah menyalahi aturan tentang undang undang
nomor 5 tentang

adanya praktek monopoli usaha. Apoteker

dalam kasus ini merupakan

apoteker yang memiliki apotek tersebut kalau apoteker tersebut hanya sebagai pemilik dan
bekerja bertanggung jawab pada PBF saja maka diperbolehkan dan apoteker tersebut harus
mencari apoteker lain untuk bekerja sebagai penanggung jawab apoteknya, meskipun apoteker
tersebut bekerja sebagai apoteker pendamping di apotek tersebut tetap harus bertanggung jawab
atas apotek tersebut dan pada akhirnya apoteker itu harus memilih antara bekerja pada PBF atau
apoteknya sendiri. Terkait fee yang didapatkan memang sepantasnya didapatkan oleh apoteker
tersebut jikalau apoteker tersebut hanya bekerja bertanggung jawab penuh atas PBF bukan
sebagai apoteker pendamping di apoteknya, kalau saya dapat memberikan saran seharusnya ada
peraturan-peraturan lagi terkait praktik kefarmasian dan adanya batas atau sekat yang
membedakan antara apoteker yang bekerja di pelayanan kefarmasian dan di PBF maupun di
industri farmasi dan diberikan sanksi tegas jika nanti ada apoteker yang menyimpang atau tidak
mematuhi aturan-aturan yang berlaku. Etika apoteker tersebut juga kurang menghargai teman
sejawat lainnya dalam hal ini apoteker selain itu apoteker ini juga kurang bertanggung jawab atas
pekerjaan yang dipilih.

DAFTAR PUSTAKA
Peraturan menteri kesehatan republik indonesia nomor 889/menkes/per/v/2011 tentang registrasi,
izin praktik, dan izin kerja Tenaga kefarmasian.
Peraturan pemerintah republik indonesia Nomor 51 tahun 2009 Tentang Pekerjaan kefarmasian.
Undang-undang republik indonesia 5 nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan praktek monopoli
dan Persaingan usaha tidak sehat.