Anda di halaman 1dari 15

EFEK RADIASI SINAR X PADA RONGGA MULUT

Sinar X adalah pancaran gelombang elektromagnetik yang sejenis dengan gelombang radio,
panas, cahaya dan sinar ultraviolet tetapi dengan panjang gelombang yang sangat pendek.
Sinar X bersifat heterogen, panjang gelombang bervariasi dan tidak terlihat. Perbedaan antara
sinar X dengan sinar elektromagnetik lainnya juga terletak pada panjang gelombangnya,
dimana panjang gelombang sinar X sangat pendek yaitu hanya 1/10.000 panjang gelombang
cahaya yang keliahatan, karena panjang gelombang yang pendek itu, maka sinar X dapat
menembus benda.
Dinegara-negara maju sepertiga hingga separuh keputusan medic yang menentukan
bergantung pada diagnosis sinar X, bahkan beberapa penyakit diagnosis awalnya bergantung
pada pemeriksaan sinar X, hal ini karena perkembangan radiologi dirasakan sangat cepat,
sehingga peranannya sebagai penunjang diagnosis semakin penting. Untuk orang sehat,
penyinaran radiasi harus selalu dibuat seminimal mungkin. Pada kasus penyakit atau
kecelakaan tertentu, secara medis dapat dibenarkan terapi radiasi ionisasi untuk mendapatkan
hasil diagnose yang bermanfaat.
Sinar X, selain memiliki sifat yang menguntungkan juga memiliki beberapa efek yang
berdampak buruk pada tubuh maupun lingkungan. Sejak ditemukannya pada tahun 1895 oleh
Wilhem Conrad Roentgen, ternyata kemudian dilaporkan adanya kelainan dari jaringan tubuh
yang terkena radiasi sinar X. Ketika menembus jaringan tubuh, radiasi sinar ionisasi
menimbulkan kerusakan pada tubuh, terutama dengan ionisasi atom-atom pembentuk
jaringan. Indikasi radiasi yang merusak dalam tingkat atom akan menimbulkan perubahan
molekul, yang menimbulkan kerusakan seluler, serta menimbulkan fungsi sel abnormal atau
hilangnya fungsi sel.
Efek radiasi pada manusia merupakan hasil dari rangkaian proses fisik dan kimia yang terjadi
segera setelah terpapar (10-15 detik), kemudian diikuti dengan proses biologic dalam tubuh.
Proses biologic meliputi rangkaian perubahan pada tingkat molekuler, seluler, jaringan dan
tubuh. Konsekuensi yang timbul dapat berupa kematian sel atau perubahan pada sel.
Bergantung pada dosis radiasi yang diterima tubuh. Pada paparan akut dosis relative tinggi,
efek yang timbul merupakan hasil kematian dari sel yang dapat menyebabkan gangguan
fungsi jaringan dan organ tubuh, bahkan kematian.
Efek seperti ini disebut efek deterministic yang umumnya segera dapat teramati secara klinis
setelah tubuh terppar radiasi dengan dosis diatas dosis ambang. Selain itu, radiasi dapat tidak
mematikan sel tetapi menyebabkan perubahan atau transformasi sel sehingga terbentuk sel
baru yang abnormal. Perubahan ini terutama karena rusaknya materi inti sel, kususnya DNA
dan kromosom. Perubahan ini berpotensi menyebabkan terbentuknya kanker pada sebagian
individu terpapar atau penyakit herediter meningkat dengan bertambahnya dosis, tetapi tidak
halnya dengan keparahannya. Efek ini disebut efek stokastik yang terjadi akibat paparan
radiasi tanpa ada dosis ambang.
Dengan demikian, radiasi pada dosis serendah apapun, dapat menimbulkan efek kesehatan
karena sebuah kejadian ionisasi dapat menimbulkan kerusakan DNA. Dosis kecil 10-100mSv,
meningkatkan sekitar 1% laju latar kerusakan DNA yang terjadi secara alamiah. Tidak
diragukan lagi bahwa tidak ada dosis atau laju dosis radiasi yang aman dalam hal
menimbulkan efek pada manusia. Adanya efek kesehatan radiasi pengion dosis rendah telah
mengubah pernytaan small dose may cause harm menjadi small dose definitely will cause
harm. Ketika diketahui adanya efek radiasi ionisasi yang berbahaya, kalangan medis
memutuskan bahwa perlu dilakukan reduksi radiasi penyinaran diseluruh dunia dengan cara
membuat standard pengukuran dan membatasi penyinaran. Radiografer gigi harusn mengenal
jumlah dan unit radiasi standard agar dapat mengukur radiasi penyinaran pasien dan

raqdiografer secara konsisten.

II.1 Filosofi Radiasi(1)


Filosofi modern dari perlindungan radiasi adalah berdasar pada anggapan bahwa terdapat
hubungan linier antara dosis radiasi dan respon biologi. Hal ini berarti bahwa kemungkinan
untuk dapat terkena kerusakan biologi dan jumlah kerusakan berhubungan langsung dengan
jumlah radiasi yang terserap dan belum ada batas dosis absorbs tertentu dimana bila radiasi
dibuat lebih kecil dari batas tersebut, tidak ada kemungkinan terjadinya kerusakan biologi.
Akibatnya, bahkan dosis radiasi yang sekecil apapun juga dapat menimbulkan kerusakan.
Filosofi modern juga mengatakan bahwa radiasi ionisasi memiliki manfaat dan kemampuan
merusak sehingga dianjurkan jika menggunakannya untuk keperluan pengobatan pasien,
manfaat radiasi ionisasi ini harus lebih besar daripada kerugiannya.
II.2 Sifat Radiasi Sinar X(1)
Sebelum memahami penggunaan sinar X perlu dipahami bahwa sinar X memiliki beberapa
sifat yang apabila dapat dipahami dapat menjadi batasan kita dalam pemanfaatan sinar X agar
dapat meminimalisir efek negative yang dapat timbul. Sifat-sifat itu antara lain : (2)
1. Tak dapat dilihat dengan mata
2. Tidak dapat dibelokan oleh medan magnet
3. Tidak dapat difokuskan oleh lensa apapun
4. Dapat diserap oleh timah hitam (Pb)
5. Dapat dibelokan setelah menembus logam atau benda padat
6. Dapat difaksikan oleh unsur kristal tertentu
7. Mempunyai panjang gelombang sangat pendek
8. Mempunyai frekuensi gelombang yang tinggi
9. Mempunyai daya tembus yang tinggi
10. Dapat menimbulkan efek biologik sebagai akibat energi ionisasi
11. Dapat bereaksi dengan film yang digunakan untuk roentgenodiagnosa
12. Dapat menstimulasi sel-sel muda dari organ tubuh hidup
13. Dapat menyebabkan nekrotik pada jaringan tubuh hidup
14. Dapat memutasikan sel-sel gonad
15. Dapat menimbulkan sindrom susnan syaraf pusat
Karena mempunyai sifat-sifat yang seperti di atas, maka Sinar X dapat digunakan dalam
bidang kedokteran, salah satunya adalah kedokteran gigi. Kegunaan sinar X dalam ilmu
Kedokteran Gigi dapat terbagi dalam dua bagian, yaitu kegunaan sinar X dalam membuat
roentgenogram dengan teknik radiografi intraoral dan kegunaan sinar X dalam membuat
roentgenogram dengan teknik radiografi eksternal
II.3 Dosis Radiasi(1)
Sebelum mengetahui dosis serap kira-kira untuk jaringan baik jaringan lunak maupun keras,
sebelumnya perlu diketahui satuan dari radiasi sinar X yaitu Roentgen(R). Roentgen(R)
adalah satuan radiasi sinar X atau sinar tembus lain yang setara yaitu banyaknya radiasi yang
dikeluarkan pada 1 cm3 volume udara dengan tekanan tertentu. Dapat juga dikatakan sebagai
suatu pemaparan radiasi yang memberikan muatan 2,58 x 10-4 coulomb / kg udara (1 R =
1000mR)
Tabel dosis serap kira-kira untuk jaringan / Roentgen pemaparan
Jaringan Rad per Roentgen pemaparan
50 KVp 1 MsV

Jaringan lunak 0,95 0,95


Tulang 5 0,9
II.4 Kerusakan Biologis Akibat Terapi Radiasi Sinar X(1)
Penggunaan radiasi pengion dosis tinggi yang digunakan pada terapi radiasi dapat
berpengaruh pada sel-sel tubuh yang masih sehat, karena tubuh manusia tidak dapat
dilindungi sepenuhnya dari sinar radiasi baik sinar terapi radiasi maupun radiodiagnosis.
Sebagian dari energy radiasi akan diserap oleh tubuh manusia, sehingga dapat menimbulkan
efek biologis pada sel tubuh yang masih hidup. Secara umum, perubahan jaringan atau sel
yang terkena radiasi sinar X sebagai akibat terurainya ion-ion air (akibat ionisasi) dengan
terbentuknya molekul air dan peroksida yang merupakan racun dalam jaringan atau sel, serta
terbentuknya ion bebas hydrogen yang akan menimbulkan reaksi kimiawi pada jaringan atau
sel.
Radiasi sinar X dapat mengakibatkan perubahan-perubahan struktur kimia tubuh, sel-sel,
jaringan, dan organ. Akan tetapi, efek radiasi tidak akan dapat dilihat selama beberapa waktu
setelah terapi sinar X, rentang waktu ini disebut sebagai periode laten. Contoh sehari-hari
darin periode laten adalah kulit yang semakin gelap dari hari ke hari setelah terpapar sinar
matahari.
II.5 Efek Radiasi Sinar X pada Rongga Mulut(1,2)
Begitu pentingnya manfaat radiografi sehingga bidang kedokteran gigipun menggunakannya
baik sebagai penegak diagnose maupun terapi radiasi.Dalam pemeriksaan dan perawatan gigi,
meskipun riwayat kesehatan gigi dan temuan klinis sangat penting bagi dokter, pemeriksaan
radiografis juga teramat penting untuk diagnosis. Radiografis juga digunakan untuk
menentukan anatomi gigi dan pulpa sebelum membuat akses endodonti, untuk menetapkan
panjang saluran, memastikan penempatan konguta perca, dan untuk mengevaluasi
keberhasilan perawatan. Selain itu, dokter mendapatkan informasi penting menyangkut
kesulitan kasus dan prognosis jangka panjang hasil pemeriksaan radiografis sebelum memulai
perawatan.
Radiografi awal bertujuan untuk membantu menegakkan diagnosis dan menunjukkan
keadaan anatomi gigi, kamar pulpa, dan saluranh akar sebelum dilakukan akses ke gigi.
Umumnya satu radiografi periapikal saja dapat memberi informasi yang diperlukan. Sama
halnya dengan radiografi, dikenal juga radioterapi yang berfungsi sebagai pengobatan.
Radioterapi merupakan radiasi, seperti sinar X untuk membunuh sel-sel limfoma non
Hodgkin atau memperlambat pertumbuhan perkembangannya. Agar radiasi benar ditujukan
pada limfoma dan efek samping diperkecil, perencanaan pengobatan sangat penting pada
radioterapi.
Perencanaan pengobatan dan meminimalkan efek samping adalah bagian penting dalam
radioterapi. Daerah yang akan diobati akan dipetakan dengan seksama dan mesin pengobatan
akan diatur sehingga sel-sel limfoma yang terpapar dosis penuh radioterapi. Rongga mulut di
radiasi selama perawatan radiosensitiftumor maligna, biasanya squamosa sel karsinoma.
Perawatan spesiifik merupakan pilihan untuk lesi tersebut berdasarkan banyaknya tumor,
radiosensifitas, histology, ukuran, lokasi, invasi pada jaringan terdekat, dan durasi gejalanya.
Terapi radiasi untuk tumor maligna pada rongga mulut biasanya diindikasikan ketika lesi
tersebut radiosesitif, mengalami perluasan, letaknya sangat dalam sehingga tidak dapat
dilakukan pembedahan.
Radiasi digunakan untuk membunuh sel-sel kanker tetapi perawatan ini juga dapat merusak
sel yang normal sehingga menyebabkan masalah pada gigi dan jaringan lunak, glandula
saliva dan rahang. Pemisahan dari total radiasi menjadi dosis-dosis yang kecil dapat membuat
kerusakan tumor yang lebih ringan daripada pemberian dosis yang besar sekaligus. Peecahan
dosis juga dapat dipercaya mempunyai sifat penyembuhan yang cukup baik. Pemecahan dosis

juga juga dapat meningkatkan tekanan oksigen pada tmor yang diradiasi. Sebagai hasilnya
tumor dapat dimatikan dengan cepat dan massa tumor mengecil, untuk mematikan tumor
yang tersisa jarak radiasi harus dikurangi dan difusi oksigen melewati tumor harus dilakukan.
II.6 Efek Radiasi pada Membran Mukosa Mulut(2,3)
Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya nasofaring akan mengikutsertakan sebagian
besar mukosa mulut. Akibatnya dalam keadaan akut akan terjadi efek samping pada mukosa
mulut berupa mukositis yang dirasa pasien sebagai nyeri pada saat menelan, mulut kering dan
hilangnya cita rasa (taste). Keadaan ini seringkali diperparah oleh timbulnya infeksi jamur
pada mukosa lidah serta palatum. Setelah radiasi selesai maka efek samping akut di atas akan
menghilang dengan pengobatan simptomatik.
Membrane mukosa mulut terdiri dari sel basla yang komposisinya terdiri dari sel yang
radiosensitive dan sel intermitotik yang berdifferensiasi. Pada minggu kedua terapi sebelum
terapi berakhir, beberapa sel tersebut mati, membrane mukosa mulai kemerahan dan
mengalami inflamasi (mukositis). Jika terapi dilanjutkan, membrane mukosa yang terkena
radiasi mulai mengalami kerusakan, dengan membentuk lapisan ,membran yang putih
kekuning-kuningan (lapisan epitel terdesquamasi).
Pada akhir terapi mukositis biasanya bertambah parah, sangat tidak nyaman, sulit utuk
makan. Kebersihan mulut yang baik akan mengurangi infeksi. Topical anastesi mungkin
diperlukan sebelum makan. Infeksi sekunder oleh Candida albicans merupakan komplikasi
yang umum dan harus dilakukan perawatan. Efek radiasi menyebabkan perubahan di dalam
rongga mulut salah satunya mucositis. Mucositis digambarkan sebagai suatu proses kompleks
biologi yang dimana terjadi dalam empat tahap serial: pembengkakan vaskuler, epithelial,
ulcerative-bacteriologic, dan penyembuhan.
Penanganan mukositis akut kadang membutuhkan waktu satu minggi setelah penghentian
terapi. Anastesi topical/local mungkin bermanfaat, tetapi bila terdapat nyeri biasanya
memerlukan pengobatan analgesic sistemik. Selama infeksi masih ada, diagnose yang tepat
dan agen antimikroba harus diperhatikan baik untuk organisme jamur maupun bakteri. Infeksi
virus jarang berkomplikasi dari penyebab mukositis. Pengobatan sistemik prednisone dalam
jangka pendek (40-80 mg/hari idak lebih dari satu minggu) telaj membantu menurunkan
inflamasi dan rasa tidak nyaman.
Gambar 1. Mukositis pada jaringan lunak lidah
Sumber : www. Martariwansyah.blogspot.com
II.7 Efek Radiasi pada Glandula Salivarius(2,3)
Terapi radiasi pada daerah leher dan kepala untuk perawatan kanker telah terbukiti dapat
mengakibatka rusaknya struktur kelenjar saliva dengan berbagai drajat kerusakan pada
kelenjar saliva yang terkena radioterapi. Hal ini ditunjukkan denan berkurangnya volume
saliva. Jimlah dan keparahan kerusakan jaringan kelenjar saliva tergantung dosis dan lamanya
penyinaran.
Dosis Gejala
< 10 Gray 10 15 Gray 15 40 Gray >40 Gray Reduksi tidak tetap sekresi saliva
Hipoplasia yang jelas dapat ditunjukkan
Reduksi masih terus berlangsung, reversible
Perngrusakan irreversible jaringan kelenjar (Hipoplasia Irreversibel)
Glandula saliva mayor harus dihindari terkena radiasi dengan pancaran sinar 20 sampai 30
Gy selama radioterapi untuk kanker mulut atau oropharink. Komponen parenkim labih

radiosensitive (glandula parotid lebih jika dibandingkan glandula submandibular atau


sublingual). Gejala kehilangan sekresi saliva selama beberpa minggu pertama radioterapi
biasanya dapat terlihat. Pengurangan aliran saliva tergantung dosis yang diberikan, biasanaya
0- 60 Gy. Mulut akan menjadi kering (Xerostomia) dan sakit, serta pembengkakan dan nyeri
karena berkurangnya saliva sehingga menyebabkan hilangnya fungis lubrikasi.
Selama radiasi, sekresi kelenjar biasanya berkurang, tebal, lengket, dan sangat mengganggu
pasien. Beberapa pasien tidak dapat memproduksi lebih dari 1 ml (15 tetes) cadangan saliva
dalam waktu 10 menit. Durasi ini menurunkan fungsi air liur yang bermacam-macam antara
satu pasien dengan pasien yan lain. Beberapa regenerasi dapat terjadi selama beberapa bulan
setalah pengobatan, serta tanda dan gejala xerostomia (mulut kering dengan perasaan tidak
nyaman, sukar berbicara dan menelan) dapat diubah. Bagaimanapun, proses menegmbalikan
saliva sampai cukup untuk kenyamanan dan fungsi mulut mebutuhkan waktu sampai 12
bulan.
Selain itu, sias saliva yang tidak mencukupi merupakan sebagian besar keluhan utama setelah
pengobatan. Bila kelenjar parotis terkena sinar radiasi pada saat pengobatan, pengurangan
saliva adalah dampak utama, dan prognosis untuk pengobatan selanjutnya sangat buruk.
Kenyataannya, semakin tinggi dosis radiasi, semakin buruk prognosis xerostomia.
Minum air dan berkumur teratur penting untuk mengontrol sebagian efek radiasi penyebab
xeroxtomia. Bagi yang kekurangan gula, mengunyah permen karet dan permen asam dapat
menolong. Pada beberapa pasien, pilocarpine, hydrochloride merupakan jalan keluar dalam
merangsang produksi saliva. Efek sampingnya adalah berkeringat dan rasa tidak nyama pada
perut. Solusi saliva buatan dan saliva yang digantikan dengan pelumas terbatas dalam
membantu sebagian besar pasien dengan mulut kering.
Gambar 2. Xerostomia atau dry mouth
Sumber: www. Ocw.tufts.edu.data/51.html
II.8 Efek Radiasi pada Gigi(2,3)
Gigi yang telah erupsi cenderung mengalami kerukan akibat radiasi daerah rongga mulut,
meskipun kerusakannya baru tampak setelah beberapa tahun setelah radiasi. Manifestasi
kerusakan berupa destruksi substansi gigi yang disebut karies radiasi dan dimulai pada
servikal gigi. Lesi berupa demineralisasi yang lebih daripada karies pada umumnya, dengan
pola melintas gigi dan menyebabkan kerusakan mahkota gigi pada daerah servikal.
Kerusakan jaringan keras gigi (email, dentin, sementum) mengakibatkan karies gigi. Secara
radiografi daerah karies bersifat radiolusen bila dibandingkan dengan email atau dentin. Hal
ini penting bagi pendiagnosa untuk melihat radiografi dalam situasi pengamatan yang tepat
dengan pandangan yang jelas agar dapat membedakan antara restorasi dan anatomi gigi yang
normal. Pada gigi terjadi dua efek radiasi yaitu efek radiasi secara langsung dan tidak
langsung.
a. Efek Radiasi Langsung
Efek radiasi ini terjadi paling dini dari benih gigi, berupa gangguan kalsifikasi benih gigi,
gangguan perkembangan benih gigi dan gangguan erupsi gigi.
b. Efek Radiasi tidak Langsung
Efek radiasi tidak langsung terjadi setelah pembentukan gigi dan erupsi gigi normal berada
dalam rongga mulut, kemudian terkena radiasi ionosasi, maka akan terlihat kelainan gigi
tersebut misalnya adanya karies radiasi. Biasanya karies radiasi pada beberapa gigi bahkan
seluruh region yang terkena pancaran sinar radiasi, keadaan ini disebut rampan karies radiasi.
Radiasi karies merupakan bentuk rampan dari kerusakan gigi yang dapat terjadi pada tiap
individu yang mendapatkan radioterapi termasuk penyinaran dari glandula saliva. Lesi karies
dihasilkan dari perubahan glandula salivarius. Penurunan arus, peningkatan pH, penurunan

kapasitas buffer karena adanya perubahan elektrolit dan peningkatan viskositas. Saliva
normal dapat menurun dan akumulasi debris yang cepat karena tidak adanya tindakan
pembersihan. Karies sekunder yang disebabkan radiasi memiliki bentuk jelas yang merata
pada cement enamel junction (CEJ) dari permukaan bukolabial, merupakan lokasi yang
biasanya tahan terhadap karies.
Permukaan bukal dan lingual sering Nampak warna putih atau opak karena terjadi
demineralisasi dari email. Daerah ini terjadi demineralisasi bila saliva menjadi asam dan
kehilangan suplai mineral yang secara normal mengisi ion negative berubah, permukaan
lembut, kehailangan translusensi dan sering fraktur, menyebabkan erosi, membuat dentin
menjadi terbuka.
Kebersihan mulut utamanya harus dijaga, dan sangat dianjurkan sehari-hari menggunakan gel
yang berfluoride. Secara klinis, terdapat 3 tipe karies radiasi. Biasanya kebanyakan meluas
pada lesi superficial menyerang permukaan bukal, oklusal, insisal dan palatal. Tipe lain
meliputi cementum dan dentin pada daerah cervical . lesi ini dapat meningkat mengelilingi
servikal dan menyebabkan kehilangan mahkota. Tipe akhir terlihat sebagai pigmentasi yang
gelap dari keseluruhan mahkota.
Gambar 3. Karies radiograph
Sumber: drstoute.com/procedures/pat_pics.html
II.9 Efek Radiasi pada Tulang(2,3,4)
Perawatan kanker pada daerah mulut sering dialkukan penyinaran termasuk pada mandibula.
Kerusakan primer pada tulang disebabkan oleh penyinaran yan mengakibatkan rusaknya
pembuluh darah periosteum dan tulang kortikal, yang dalam keadaan normalnya sudah tipis.
Radiasi juga dapat merusak osteoblas dan osteoklas. Jaringan sumsusm tulang menjadi
hipovaskular, hipoxik, dan hiposelular. Sebagai tambahan, endosteum menjadi terjadi atrofi
pada endosteum menunjukkan berkurangnya aktifitas osteoblas dan osteoklas, dan beberapa
lacuna pada tulang yang kompak tampak kosong, hal tersebut merupakan indikasi terjadinya
nekrosis. Derajat mineralisasi menjadi berkurang, memicu terjadinya kerapuhan, aytau
perubahandari tulang yang normal. Jika keadaan ini bertambah parah tulang akan mangalami
kematian, kondisi seperti ini disebut osteoradionecrosis. Osteoradionekrosis merupakan
komplikasi klinik yang sangat serius yang muncul pada tulang setelah terapi radiasi.
Osteoradionekrosis adalah istilah yang biasa digunakan untuk komplikasi serius seelah
radioterapi dan karsinoma kepala dan leher. Lesi juga disebut sebagai osteonekrosis radiasi,
osteitis radiasi, nekrosis radiasi, dan osteodisplasia radiasi. Fosteoradionekrosis terjadi
hampir hanya pada mandibula karena mandibula mempunyai suplai vascular yang terbatas
bila dibandingkan dengan maksila dan biasana berada lebih pada garis radiasi. Meyers
menentukan rasio 26 mandibuka terhadap satu maksila.
Gejala utamanya adalah sakiy yang berdenyut-denyut dan konstan. Selain itu, juga dapat
terjadi trismus. Secaa klinis, osteoradionekrosis ini ditandai dengan tulang terbuka yang
telanjang. Pernanahan biasanya ada dan perdaran dari daerah ulserasi seringkali terjadi. Juga
terdapat nekrosis dan pembentukan nanah yang tertunda serta kelainan bentuk permanen.
Fraktur patoogis dari mandibula dapat terjadi melalui daerah osteoradionekrosis. Pada
penelitian Bedwinek dilakukan perbandingan dua periode.
Pada periode pertama, 1966-1969 dilakukan pencabutan dengan dasar elektif dari semua gigigigi yang tidak berada pada kondisi yang baik. Pada periode kedua, 1969-1971, ada
kebijaksanaan baru yaitu mempertahankan semua gigi kecuali gigi yang tidak dapat
dipertahankan lagi. Kebijaksanaan untuk mempertahankan gigi yang meliputi pembuatan
restorasi gigi, meenjaga kebersihan mulut yang baik dan kumur-kumut dengan fluoride setiap
hari. Pada periode pertama, insiden osteoradionekrosis aalah 20% sedang pada periode kedua
hanya 8%.
Peneliti yang sama huga menemukan bahwa dari 54 kaus osteoradionekrosis, 65%

berhubungan dengan pencabutan gigi atau iritasi gigitiruan. Sisanya, 35% dianggap timbul
secara spontan. Pada penelitian Breumer dkk (1972) ditemukan bahwa pasien yang masih
bergigi mempunyai resiko terserang osteoradionekrosis empat kali lebih besar daripada
pasien tidak bergigi. Namun, bahkan pada pasien bergigi, terlihat kemungkinan tidak
terserang nekrosis lebih drai 94%.
Pasien dengan tumor primer di atas atau di dekat tulang juga mempunyai resiko tinggi untuk
terserang osteoradionerosis spontan daripada pasien dengan tumor yang tidak terletak di
dekat tulang. Kemungkinan terjadinya osteoradionekrosis spontan berhubungan dengan dosis
yang diterima mandibula dan tampaknya da ambang dosis sebesar 6000 rad, di bawah dosis
ini, osteoradionekrosis jarang terjadi.
Secara histologist, osteoradionekrosis ditandai dengan kerusakan osteosit dan tidak adanya
osteoblast. Radiasi juga menimbulkan penebalan dinding-dinding arteri dan arteriole yang
mendorong terjandinya endarteritis obliterasi. Pernanahan dari tulang yang terserang
isteoradionekrosis terbentuk lebih lambat daripada nekrosis karena infeksi dan trauma saja.
Selain perkembangan cara perawatan seperti penggunaan megavoltase, yang mempunyai
koefisen absorpsi tulang yang lebih rendah daripada ortovoltase yang menimbulkan
kerusakan selular tulang daripada ortovoltase yang menimbulkan ketusakan seluler tulang
yang lebih ringan, masih terus dilakukan usaha untuk dapat mempertahankan semua gigigigi.
Gambar 4. Osteoradionekrose
Sumber : navyhyperbaric.mil.n2.com
II.10 Efek Radiasi pada Pulpa(5)
Apoptosis adalah mekanisme biologis yang merupakan jenis kematian sel yang terprogram,
yang dapat terjadi pada kondisi fisiologis maupun patologis. Apoptosis digunakan oleh
organism multi sel untuk membuang sel yang sudah tidak diperlukan oleh tubuh. Apoptosis
umumnya berlangsung seumur hidup dan bersifat menguntungkan bagi tubuh. Apoptosis
dapat terjadi selama selama perkembangan, sebagai mekanisme homeostatis untuk menjaga
atau memelihara populasi sel dalam jaringan, sebagai mekanisme pertahanan jika sel rusak
oleh suatu penyakit atau bahan racun pada proses penuaan.
Apoptosis pada jaringan fibroral pulpa dapat terjadi akibat dosis radiasi yang diterima selama
terapi radiasi adalah 200 rad sehingga apoptosis pada sel fibrolas pulpa meningkat pulpa
sehingga selain sel sel fibrolas, sel-sel lain juga turut mati akibat efek radiasi. Dikarenakan
sel fibrolas merupakan sel terbanyak yang ada di pulpa dengan fungsi sebagai menjaga
integritas dan vitalitas pulpa berupa membentuk dan mempertahankan matriks jaringan pulpa
dengan membentuk ground substance dan serat kolagen sehingga apoptosis pada sel fibrolas
pulpa menjadi proses awal terjadinya karies radiasi.
II.11 Perlindungan terhadap Efek Radiasi(1,6)
I. Perlindungan Radiasi bagi Pasien
Pasien merupakan yang paling rentan terkena radiasi sinar X dikarenakan pasien berkontak
langsung dengan sinar X itu sendiri. Untuk menjaga perlindungan bagi pasien itu sendiri,
maka operator atau dokter gigi melakukan pembatasan penyinaran dengan cara :
a. Komunikasi Efektif
Komunikasi menimbulkan rasa dekat, mengurangi kecemasan dan menimbulkan kooperatif.
Sedangkan komunikasi yang buruk/ tidak jelas dapat menyebabkan pasien kurang mau
bekerja sama. Hal ini dapat menyebabkan penyinaran yang berulang kali contohnya, selama
pemeriksaan radiografy intervensional dimana pasien merasa ada sensasi tertentu sehingga
terkejut dan memberi tanda bahwa ada sesuatu yang salah pada operator atau dokter gigi. Hal
ini menyebabkan perlunya penyinaran ulang

b. Immobilisasi
Bila pasien bergerak selama penyinaran radiografy, gambar radiograf akan kabur. Radiograf
ini hanya sedikit atau tidak mempunyai manfaat diagnosa. Sehingga perlu dilakukan
pemeriksaan ulang, yang menyebabkan pasien dan radiografer menerima radiasi tambahan.
c. Alat untuk Membatasi Pancaran Sinar
1. Lubang Diaphragma
Adalah alat yang berfungsi untuk memperkecil pancaran sinar yang paling sederhana. Terdiri
dari sepotong timah datar dengan lubang di bagian tengahnya.
2. Cone
Adalah tabung logam bulat yang diletakkan pada tempat tabung sinar X, berfungsi untuk
memperkecil sinar ke ukuran dan bentuk yang sudah di tentukan. Desain alat ini berupa :
cone retangular dan silinder lurus.
c. Filtrasi yang Tepat
Filtrasi pancaran sinar radiography, dapat mengurangi penyinaran pada kulit pasien dan
jaringan superfacial dengan menyerap sebagian besar foton energi bawah (gelombang
panjang atau sinar x yang lembut) dari pancaran heterogenus. Karena filtrasi menyerap
beberapa foton pada pancaran radiograf, intensitas radiografi akan berkurang. Ada dua tipe
filtrasi yaitu :
1. Filtrasi Cekat
Filtrasi cekat meliputi sampul kaca yang membungkus tabung sinar x, minyak isolasi yang
mengelilingi tabung, dan jendela kaca pada wadah tabung. Filtrasi ini biasanya dinyatakan
dengan ketebalan aluminium dan harus seimbang dengan sekurang-kurangnya 0,5 mm
aluminium.
2. Filtrasi Tambahan
Filttrasi tambahan terdiri dari lembaran aluminium dengan ketebalan tertentu. Filtrasi
tambahan diletakkan di luar jendela kaca dari wadah tabung. Filtrasi tambahan dan cekat
bersama-sama berkombinasi menghasilkan jumlah filtrasi yang diperlukan untuk memfiltrasi
pancaran sinar efektif.
e. Penggunaan Pelindung
- Radiografy gigi biasanya terbatas pada penyinaran kepala dan leher
- Pasien pada kursi unit membutuhkan perlindungan untuk organ-organ reproduksi
- Pelindung yang paling sering digunakan adalah apron timah (Pb)
- Apron timah tersedia dalam berbagai model dan dibuat dengan ketebalan timah yang
bervariasi dari 0,25 sampai 1,25 mm dan bersifat fleksibel
f. Teknik Pemrosesan Radiografy yang Baik
Pemrosesan radiografy yang tepat akan menambah kualitas gambar sehingga memberikan
informasi diagnosa yang tepat. Radiograf yang terproses kurang baik menghasilkan informasi
diagnosa yang kurang baik sehingga perlu dilajkan radiograf ulang.
g. Jumlah Radiograf Ulang Se-sedikit Mungkin
- Radiograf ulang akan memperbesar dosis radiasi pada pasien
- Radiograf ulang hanya kadang-kadang saja dilakukan oleh dokter gigi untuk mendapat
informasi diagnosa tambahan
- Pemeriksaan ulang karena kecerobohan atau penilaian yang buruk dari radiograf gigi harus
dihindari
Oleh karena itu, radiografer gigi harus memilih,menguasai teknik radiograf dan faktor
penyinaran sehingga menghasilkan radiograf berkualitas tinggi pada setiap pemeriksaan
pertama kali.

II. Perlindungan Radiasi bagi Operator


Tidak hanya pasien yang rentan akan dampak negatif dari sinar X melainkan juga operator
atau dokter gigi. Mengingat lingkup kerja mereka sehari-hari berhubungan dengan sinar X.
a. Ruang Radiasi
Usaha menjaga atau memproteksi ruangan radiasi adalah :
1. Tempat dan lokasi ruangan radiasi harus memenuhi syarat internasional, yaitu sinar radiasi
tidak menembus ruangan lain
2. Dinding di dalam ruangan harus dilapisi lembaran atau lempengan timah hitam setebal
minimal 2 mm
3. Penempatan pesawat roentgen diatur sedemikian rupa agar arah sinar radiasi ke tempat
yang aman
4. Menggunakan kaca pelindung untuk membuat sebagian dinding tembus pandang. Kaca
pelindung ini dibuat dari campuran bubuk timah hitam dengan butir-butir kaca
b. Memakai Baju Timah Hitam (Apron)
Terdapat berbagai jenis pelindung timah antara lain :
1. Baju pelindung timah untuk seluruh tubuh (whole body) yaitu melindungi tubuh dari bahu
sampai tungkai bawah
2. Apron untuk kelenjar tiroid, apron ini disebut tiroid shield
3. Apron untuk kelenjar gonad, disebut Gonadopron berbentuk seperti celemek tukang masak
yang hanya melindungi perut bagian bawah.
c. Posisi Operator
Posisi operator selama penyinaran harus berdiri sekurang-kurangnya 2-3 meter dari pasien
dan sumber radiasi. Posisi yang dianjurkan adalah daerah antara 90 dan 135 dari arah berkas
sinar radiasi primer.

BAB III
PEMBAHASAN

III.1 Laporan Kasus


Seorang wanita berumur 45 tahun dating ke rumah sakit gigi dengan keluhan saliva kental
dan lengket, sukar menelan dan berbicara, mulut kering dengan perasaan tidak nyaman.
Wanita ini menjalani pemeriksaan terapi radasi inflamasi beberapa bulan yang lalu. Dalam
pemeriksaan ditemukan adanya debris plak dan karies pada beberapa gigi.
Sumber : Indonesian Journal of Dentistry Vol.10 No.5
III.2 Penanganan Kasus
Dari kasus diatas, pasien didiagnosa menderita xerostomia dengan gejala-gejala yang
diperlihatkan dengan dugaan terjadinya xerostomia akibat terapi radiasi yang dijalani pasien
beberapa saat yang lalu. Penanganan yang dapat dilakukan adalah meminum air dan
berkumur teratur penting untuk mengontrol sebagian efek radiasi penyebab xeroxtomia. Bagi
yang kekurangan gula, mengunyah permen karet dan permen asam dapat menolong. Pada
beberapa pasien, pilocarpine, hydrochloride merupakan jalan keluar atau tablet (salagen)
efektif dalam merangsang produksi saliva (5 mg 3 atau 4 kali sehari).
Efek sampingnya adalah berkeringat dan rasa tidak nyaman pada perut. Perangsang saliva
yang lain adalah cevimeline (Evoxac), diberikan 30mg kapsul 3 kali sehari, telah membantu
beberapa pasien xerostomia. Obat ini kontraindikasi dengan pasien asma, GI ulcer dan
glaucoma. Solusi saliva buatan dan saliva yang digantikan dengan pelumas terbatas dalam
membantu sebagian besar pasien dengan mulut kering.
BAB IV
PENUTUP
IV.1 Kesimpulan
1. Filosofi modern dari perlindungan radiasi adalah berdasar pada anggapan bahwa terdapat
hubungan linier antara dosis radiasi dan respon biologi, dimana semakin tinggi dosis radiasi,
maka respon biologis yang diberikan semakin tinggi pula
2. Dosis serap untuk jaringan lunak pada 50KVp adalah 0,95 dan pada 1 MRV adalah 0,95
sedangkan dosis serap tulang pada 50KVp adalah 5 dan pada 1 MRV adalah 0,9
3. Efek radiasi pada rongga mulut dapat berupa mukositis pada jaringan mukosa, xerostomia,
karies radiography pada gigi geligi, osteoradionekrose pada mandibula, dan apoptosis
berlebihan pada sel fibrolas pulpa
4. Perlindungan radiasi bagi pasien dapat berupa meminimalkan frekuensi dan penyinaran
yang berulang dengan mengefektifkan komunikasi, alat pelindung, alat filter, dan teknik yang
baik
5. Perlindungan radiasi bagi operator dapat berupa pemenuhan ruang radiasi yang memenuhi
standar, memakai baju pelindung, serta bekerja pada posisi yang benar
Sumber >>>
1. Edwards Cris, Statkiewichz, Russel ritenour. Editor, Lilian yuwono. Perlindungan Radiasi
Bagi Pasien dan Dokter Gigi. Jakarta : CV Mosby Company ; 1990.
2. Langais Robert P, Miller Craig S. Editor, Lilian Juwono. Atlas Berwarna Kelainan Rongga
Mulut yang Lazim. Jakarta : Hipokrates ; 1994
3. Oedijani.Efek Samping Terapi Radiasi di Daerah Kepala dan Leher terhadap Jaringan
Sekitarnya. Jurnal PDGI th.46. No.1 ed.Khusus.2007
4. Pindborg Jens J. Editor: Lilian Yuwono. Kanker dan Prakenker Rongga Mulut. Jakarta :
EGC ; 1991
5. Supriyadi.Apoptosis Sel Fibrolas Jaringan Pulpa Akibat Paparan Radiasi Ionisasi.
Indonesian Journal of dentistry vol.14. No.1 ed.Khusus.2007
6. Sarianoferni, Brahmanta Arya. Proteksi Radiasi di Bidang Kedokteran Gigi. DENTA Jurnal
Kedokteran Gigi. Vol. 1, No.1.2007

BRAKHITERAPI

Brakhiterapi adalah penggunaan dari isotop radioaktif tertutup


untuk pengobatan, dengan menempatkan bahan radioaktif ke dalam atau
berdekatan dengan sasaran radiasi. Hal ini bertujuan agar diperoleh
distribusi dosis radiasi yang tinggi dan homogen dalam ruang lingkup
yang sesuai dengan bentuk dan volume sasaran radiasi, sedang dosis
pada jaringan sehat disekitarnya rendah, sehingga dapat dicapai kontrol
lokal yang tinggi dengan efek samping yang rendah.
Caracara penempatan sumber radiasi dalam brakhiterapi meliputi :
1. Implantasi interstitial

Lama waktu tertentu (temporary)

Menetap (permanent)

Diberikan secara temporer dengan menanamkan sumber radiasi baik


secara langsung mis. Implantasi jarum radium/cesium pada tumor
lidah, atau secara interstitial dengan menanamkan aplikator terlebih
dahulu, baru kemudian dimasukkan sumber radiasinya mis. Radiasi
interstitial pada tumor lidah/dasar mulut.
1. Intrakaviter
Sumber radiasi dimasukkan kedalam kavitaskavitas yang ada di tubuh
manusia, mis. Pada kasus Ca. cerviks uteri.
1. Intralumenal
Brakhiterapi ditujukan untuk tumortumor yang ada dalam tubuh
manusia, mis. untuk carsinoma bronchus dan oesofagus.
1. Superfisial (dengan mould)
Adalah bentuk brakhiterapi dengan menempatkan sumber radiasi pada
mould (biasanya dibuat dari lilin), kemudian mould yang telah ada
sumber radiasinya tersebut diletakkan pada tumor dipermukaan tubuh
manusia (diatas kulit).
5, Intravaskular

Adalah bentuk radiasi mutakhir dengan memasukkan sumber radiasi


kedalam pembuluh darah, banyak digunakan untuk mencegah
terjadinya restenosis setelah bedah angioplastik.

Jenis Brakhiterapi berdasarkan laju dosis radiasi (dose rate) yaitu :


1. Low Dose Rate ( LDR ) : 0.4 2 Gy / jam
Radioaktif temporary yang digunakan : Radium, Cesium, Iridium
Radioaktif permanent yang digunakan : Radon, Iodium 125
Contoh : radiasi jarum radium pada pengobatan Ca. cerviks
1. Medium Dose Rate (MDR) : 212 Gy/jam
Radioaktif yang digunakan : Cesium, Cobalt, Iridium.
1. High Dose Rate (HDR) : >12 Gy/jam
Saat ini HDR paling banyak digunakan. Dan Radioaktif yang
digunakan : Cobalt dan Iridium.
Ditinjau dari segi proteksi radiasi, penggunaan Radium 226 tidak lagi
direkomendasikan untuk pemakaian dalam radioterapi.
Adapun teknik aplikasi yang digunakan dalam brakhiterapi yaitu :
1. Teknik Manual, hanya untuk LDR.
2. Teknik Afterloading:
Terlebih dahulu dipasang aplikator kosong ke daerah sasaran radiasi,
bahan radioaktif dimasukkan kedalam aplikator dengan sistem
penggerak yang diatur oleh panel kontrol diluar ruang radiasi.
Digunakan untuk LDR, MDR, HDR.
Kelebihan teknik afterloading :
1. Aman untuk petugas
2. Lebih akurat pemasangan aplikator kosong
3. Dapat untuk HDR, waktu penyinaran pendek, dan tidak memerlukan
perawatan yang lama.
Aplikasi Klinis dari Brakhiterapi :

1. Brakhiterapi definitif :
Dosis radiasi penuh, Ca. lidah, dasar mulut, kulit, prostat.
1. Brakhiterapi kombinasi dengan radiasi eksternal, sebagai radiasi
booster.
Untuk Ca. cerviks, nasofaring, bronchus, esofagus.
1. Brakhiterapi pasca bedah
Pada sarkoma jaringan lunak, payudara (setelah radiasi eksterna).

Indikasi dari Brakhiterapi :


1. Tumortumor dengan ukuran kecil
Contoh : Ca. prostat, Ca cerviks dan nasofaring pada stadium IA
1. Tumortumor besar, diberikan sebagai booster
Contoh : Ca cerviks pada stadium IB IIIB, KNF, Ca. mammae
1. Sebagai terapi paliatif dikombinasikan dengan radiasi eksterna
dengan tujuan untuk
mengurangi waktu pengobatan.
Keuntungan Brakhiterapi dibandingkan radiasi eksterna :
1. Dosis yang diberikan pada brakhiterapi lebih tertuju pada tumor/target
saja,
sehingga akan memberikan lokal kontrol yang baik.
1. Akan terjadi penurunan dosis pada jaringan sehat dengan
menggunakan brakhiterapi
sehingga efek samping akan berkurang.
Proteksi Radiasi dalam Brakhiterapi meliputi :
1. Proteksi Pasien :

Program monitoring paparan radiasi

Emergency procedure

Data lengkap dari parameter radiasi

Sistem check parameter radiasi oleh dokter/ahli fisika

1. Proteksi Petugas :

Program monitoring paparan radiasi

Test kebocoran sumber tertutup.

Tujuan Utama treatment planning dalam brakhiterapi adalah :

Untuk memperoleh distribusi dosis yang akan digunakan untuk


menentukan dosis perskripsi, dengan cara memberikan dosis yang
tinggi pada target volume namun pada jaringan normal akan
mendapatkan dosis seminimal mungkin (dosis toleransi).

Karena dalam brakhiterapi, distribusi dosis dalam target volume


sangat tidak homogen. Daerah dekat sumber akan menerima dosis
yang sangat tinggi. Selain itu, planning dipersulit oleh kenyataan
bahwa geometri sumber tidak selalu dapat persis seperti yang
direncanakan karena kesulitan penempatan sumber dalam jaringan.
Oleh karenanya, ketidaktelitian planning dalam brakhiterapi relatif
lebih longgar yaitu : 15 %.

Adapun peran fisikawan medik dalam planning brakhiterapi adalah :


1. Untuk melakukan verifikasi sumber.
Dapat dilakukan pada saat pertama kali sumber terpasang,
verifikasi dilakukan dengan menggunakan bilik ionisasi sumur (wellionisation chamber) ataupun dengan menggunakan bilik ionisasi
farmer.
1. Untuk menentukan lokalisasi sumber
Melalui teknik pembuatan radiografi orthogonal (APLateral) dengan
teknik isocenter. Dilakukan dibagian simulator, dengan mengatur
pergerakan dari gantry dan meja juga perhitungan faktor
magnifikasi yang digunakan.
1. Kalkulasi dosis
Dengan menggunakan TPS (Treatment Planning System)