Anda di halaman 1dari 7

24

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian


Penelitian mengenai pengaruh cat yang ditambahkan tanin terhadap korosi logam
telah dilakukan, data hasil pengamatan karat dapat dilihat pada lampiran 2.

4.2 Analisa Data


Perhitungan korosi dilakukan dengan menimbang berat karat hasil korosi dan
menghitung persentase berat karat.
Menurut Achmadi (1987), rumus perhitungan persentase berat karat:

4.3 Pembahasan
Penelitian ini terdiri atas pengujian cat yang ditambahkan ekstrak tanin pada
sampel plat besi dan seng dengan menggunakan tiga merek cat yang berbeda, dilakukan
dengan enam komposisi campuran untuk setiap merek cat yang berbeda, yaitu 1:0, 1:1,
1:2, 1:3, 1:4 dan 1:5. Pengujian cat yang ditambahkan tanin mangrove terhadap korosi
logam dilakukan selama 4 minggu dengan pengukuran berat karat setiap satu minggu.

25

4.3.1 Pengaruh cat yang ditambahkan tanin mangrove terhadap korosi logam
Tanin adalah molekul poliphenofilik yang besar yang terdapat pada tumbuhan
dan sayur-sayuran. Tanin banyak dikonsumsi oleh manusia atau hewan yang dapat
mempengaruhi pemanfaatan protein dengan membentuk protein yang terlarut,
antioksidan, dan pemanfaatan dalam pencegahan reaksi-oksidasi pada logam
(Hangerman, 2002).
Tanin merupakan polifenol alami yang terdapat pada bagian kulit kayu. Tanin
banyak mengandung fenol yang memiliki gugus OH (Carter et al., 1978). Penghambatan
korosi terjadi karena tanin memiliki gugus OH yang dapat mengikat ion logam, gugus
OH yang terdapat pada tanin memiliki peran yang sangat penting dalam proses
penghambatan korosi karena dapat mengikat ion logam, sehingga logam tidak
kehilangan ion dan dapat menghentikan proses oksidasi dan reduksi pada logam. Hal ini
yang menyebabkan terhambatnya korosi pada logam. (Carter et al., 1978).
Ekstrak tanin diperoleh dari proses perebusan kulit akar kayu mangrove
Rhizopora apiculata dengan menggunakan air. Ekstrak tanin yang diperoleh merupakan
tanin mentah yang sebagian besar adalah tanin terkondensi dan sebagian kecil tanin
terhidrolisis (Noordin, 2001).
Korosi logam melibatkan proses anodik, yaitu oksidasi logam menjadi ion
dengan melepaskan elektron logam dan proses katodik yang mengkonsumsi elektron.
Proses katodik merupakan reduksi ion hidrogen atau oksigen dari lingkungan sekitarnya
(Threthewey et al., 1991).

26

Korosi atau secara awam lebih dikenal dengan istilah perkaratan, merupakan
fenomena kimia pada bahan-bahan logam yang pada dasarnya merupakan reaksi logam
menjadi ion pada permukaan logam yang kontak langsung dengan lingkungan yang
mengandung air dan oksigen. Faktor yang cukup besar pengaruhnya terhadap peristiwa
korosi adalah gerakan dari logam terhadap oksigen dan air (susanti, 1991).

4.3.2 Uji komposisi campuran cat yang ditambahkan tanin mangrove


Pengujian pada cat merek Nipon yang ditambahkan tanin dengan komposisi
campuran 1:0, 1:1, 1:2, 1:3, 1:4, 1:5. Sampel pada plat seng tidak terjadi korosi. Hal ini
terjadi karena seng memiliki lapisan zink, akan tetapi pada plat besi terjadi korosi
sebanyak 1,6810-3% untuk kontrol, pada komposisi campuran 1:0 sebanyak 7,3710 4

%, pada komposisi campuran 1:1 sebanyak 2,1110-4%, pada komposisi campuran 1:2

sebanyak 1,0510-4%, pada komposisi campuran 1:3 sebanyak 2,1110-4%, pada


komposisi campuran 1:4 sebanyak 2,1110-4%, dan pada komposisi campuran 1:5
sebanyak

2,1110-4%

dalam

pengamatan

selama

minggu.

Data

tersebut

memperlihatkan adanya pengaruh pemberian tanin mangrove terhadap penghambatan


korosi logam. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 4.1

27

Gambar 4.1 Komposisi campuran persentase karat untuk cat merek Nipon yang
ditambahkan tanin terhadap plat seng dan besi
Gambar 4.1 memperlihatkan adanya pengaruh pemberian tanin mangrove
terhadap penghambatan korosi logam, hal ini terlihat pada gambar adanya penurunan
persentase karat yang disebabkan oleh penambahan tanin pada cat. Persentase karat yang
paling sedikit terjadi pada komposisi campuran 1:2. Pada komposisi campuran 1:1 juga
terjadi penurunan persentase dibandingkan dengan komposisi campuran 1:0, sedangkan
pada komposisi campuran 1:3, 1:4 dan 1:5 memiliki jumlah persentase karat yang sama.
Pengujian pada cat merek Kuda Terbang yang ditambahkan tanin dengan
komposisi campuran 1:0, 1:1, 1:2, 1:3, 1:4, 1:5. Sampel plat logam seng tidak terjadi
korosi. Hal ini terjadi karena seng memiliki lapisan zink, pada plat besi terjadi korosi
sebanyak 16810-3% untuk kontrol, pada komposisi campuran 1:0 sebanyak 7,37 10-4%,
pada komposisi campuran 1:1 sebanyak 3,1610-4%, pada komposisi campuran 1:2
sebanyak 2,1110-4%, pada komposisi campuran 1:3 sebanyak 2,1110-4%, pada
komposisi campuran 1:4 sebanyak 3,1610-4%, dan pada komposisi campuran 1:5

28

sebanyak

3,1610-4%

dalam

pengamatan

selama

minggu.

Data

tersebut

memperlihatkan adanya pengaruh pemberian tanin mangrove terhadap penghambatan


korosi logam. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 4.2

Gambar 4.2 Komposisi campuran persentase karat untuk cat merek Kuda
Terbang yang ditambahkan tanin terhadap plat seng
dan besi
Gambar 4.2 memperlihatkan adanya pengaruh pemberian tanin mangrove
terhadap penghambatan korosi logam, hal ini terlihat pada gambar adanya penurunan
persentase karat yang disebabkan oleh penambahan tanin pada cat. Persentase karat yang
paling sedikit terjadi pada komposisi campuran 1:2 dan 1:3.. Pada komposisi campuran
1:1 juga terjadi penurunan persentase dibandingkan dengan komposisi campuran 1:0,
sedangkan pada komposisi campuran 1:4 dan 1:5 memiliki persentase karat yang sama.
Pada pengujian cat merek Avian yang ditambahkan tanin dengan komposisi
campuran 1:0, 1:1, 1:2, 1:3, 1:4, 1:5. Pada plat seng tidak terjadi korosi. Hal ini terjadi
karena seng memiliki lapisan zink. Pada plat besi terjadi korosi sebanyak 1,6810 -3%

29

untuk kontrol, pada komposisi campuran 1:0 sebanyak 5,2610 -4%, pada komposisi
campuran 1:1 sebanyak 2,1110-4%, pada komposisi campuran 1:2 sebanyak 1,05104

%, pada komposisi campuran 1:3 sebanyak 1,0510-4%, pada komposisi campuran 1:4

sebanyak 2,1110-4%, dan pada komposisi campuran 1:5 sebanyak 2,1110 -4% dalam
pengamatan selama 4 minggu. Data persentase tersebut memperlihatkan adanya
pengaruh pemberian tanin mangrove terhadap penghambatan korosi logam. Hal ini dapat
dilihat pada Gambar 4.3

Gambar 4.3 Komposisi campuran persentase karat untuk jenis cat Avian yang
ditambahkan tanin terhadap plat seng dan besi

Gambar 4.3 memperlihatkan adanya pengaruh pemberian tanin mangrove


terhadap penghambatan korosi logam, hal ini terlihat pada gambar adanya penurunan
persentase karat yang disebabkan oleh penambahan tanin pada cat. Persentase karat yang
paling sedikit terjadi pada komposisi campuran 1:2 dan 1:3. Pada komposisi campuran
1:1 juga terjadi penurunan persentase dibandingkan dengan komposisi campuran 1:0,

30

akan tetapi tanin yang ditambahkan masih sedikit sehingga hasilnya masih kurang baik,
sedangkan pada komposisi campuran 1:4 dan 1:5 memiliki persentase karat yang sama.
Dari tiga jenis cat yang ditambahkan tanin mangrove dengan komposisi
campuran 1:0, 1:1, 1:2, 1:3, 1:4 dan 1:5, pada masing-masing cat yang ditambahkan
tanin memiliki perbedaan persentase karat yang dihasilkan, hal ini dapat dilihat pada
Gambar 4.4

Gambar 4.4 Komposisi campuran persentase karat untuk jenis cat Nipon, Kuda
Terbang, dan Avian yang ditambahkan tanin terhadap plat seng dan besi.
Pada Gambar 4.4 memperlihatkan adanya perbedaan persentase karat yang
dihasilkan pada setiap merek cat, dari tiga merek cat yang digunakan terlihat bahwa
komposisi campuran cat merek Avian yang paling sedikit terjadi korosi pada logam besi
dibandingkan dengan cat merek Nipon dan Kuda Terbang, sedangkan cat nipon lebih
banyak terjadi korosi daripada merek Kuda Terbang, dan cat Merek Kuda Terbang
paling banyak terjadi korosi pada plat besi dibandingkan dengan cat Avian dan Nipon.