Anda di halaman 1dari 22

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini membahas
mengenai Pengolahan Limbah Cair Domestik yang disusun untuk memenuhi
tugas terstruktur mata kuliah Ilmu Lingkungan pada Semester 100 2014/2015.
Keberhasilan penulisan makalah ini tidak terlepas dari bantuan serta arahan
dari berbagai pihak baik itu secara individu maupun secara umum untuk itu penulis
ingin mengucapkan terima kasih Ibu Erna M.Si selaku dosen mata kuliah Ilmu
Lingkungan yang telah membimbing dan mencurahkan ilmu kepada kami serta
teman-teman semua yang telah ikut serta membantu dan memberikan semangat
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak, oleh karena itu penulis
menyadari dalam penyusunan laporan ini masih banyak kekurangan-kekurangan
yang terdapat di dalamnya, untuk itu penulis sangat mengharapkan adanya kritikan
dan masukan yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini.
Penulis berharap semoga laporan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi
penulis sendiri dan orang lain pada masa-masa yang akan datang.

Jakarta, 27 Maret 2014


Penulis

Pengolahan Limbah Cair Domestik

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

..

B. Rumusan Masalah .

C. Tujuan Pengamatan ..

D. Manfaat Pengamatan ...

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Limbah .

B. Limbah cair domestic ....

C. Jenis limbah cair

10

D. Teknik pengolahan limbah .....

11

BAB III

METODE PENGAMATAN

15

A. Tempat dan Waktu Pengamatan

15

B. Metode Pengamatan

15

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

16

A. Aspek-aspek pengamatan pengolahan limbah cair domestik ..........


BAB IV

PENUTUP

19

DAFTAR PUSTAKA
Pengolahan Limbah Cair Domestik

16

20
2

LAMPIRAN FOTO

21

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap aktivitas yang dilakukan manusia akan menghasilkan limbah, limbah
ini dalam skala kecil tidak akan menimbulkan masalah karena alam memiliki
kemampuan untuk menguraikan kembali komponen-komponen yang terkandung
dalam limbah. Namun bila terakumulasi dalam skala besar, akan timbul
permasalahan yang dapat menggangu keseimbangan lingkungan hidup.
Permasalahan lingkungan saat ini yang dominan adalah limbah cair yang
berasal dari hasil kegiatan rumah tangga dan industri. Limbah cair yang tidak
dikelola akan menimbulkan dampak pada perairan. Pengelolaan limbah cair dalam
proses produksi dimaksudkan untuk meminimalkan limbah yang terjadi, serta untuk
menghilangkan atau menurunkan kadar bahan pencemar yang terkandung di dalam
perairan.
Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 112 Tahun 2003, air
limbah domestik terdiri dari parameter BOD, TSS, pH, minyak dan lemak yang
apabila keseluruhan parameter tersebut dibuang langsung ke badan penerima,
maka akan mengakibatkan pencemaran air. Oleh karena itu sebelum dibuang ke
badan penerima air, terlebih dahulu harus diolah sehingga dapat memenuhi standar
air yang baik.
Permasalahan lingkungan hidup akan terus muncul secara serius diberbagai
pelosok

bumi

sepanjang

penduduk

bumi

tidak

segera

memikirkan

dan

mengusahakan keselamatan dan keseimbangan lingkungan. Demikian juga di


Indonesia,

permasalahan

lingkungan

hidup

seolah-olah

seperti

dibiarkan

menggelembung sejalan dengan intensitas pertumbuhan industri, walaupun


industrialisasi itu sendiri sedang menjadi prioritas dalam pembangunan. Tidak kecil
jumlah korban ataupun kerugian yang justru terpaksa ditanggung oleh masyarakat
luas tanpa ada konpensasi yang sebanding dari pihak industri.
Walaupun proses perusakan lingkungan tetap terus berjalan dan kerugian
yang ditimbulkan harus ditanggung oleh banyak pihak, tetapi solusinya yang tepat
Pengolahan Limbah Cair Domestik

tetap saja belum bisa ditemukan. Bahkan di sisi lain sebenarnya sudah ada
perangkat hukum yaitu Undang-Undang Lingkungan Hidup, tetapi tetap saja
pemecahan masalah lingkungan hidup menemui jalan buntu. Hal demikian pada
dasarnya disebabkan oleh adanya kesenjangan yang tetap terpelihara menganga
antara masyarakat, industri dan pemerintah termasuk aparat penegak hukum.
Kesan pelik semakin jelas bisa dilihat apabila kita mencoba memperhatikan
respon maupun persepsi para pihak yang berwenang mengenai permasalahan
lingkungan hidup, baik hakim, jaksa, kepolisian, pengacara, pengusaha maupun
masyarakat umum. Respon dan persepsi mereka mengenai konsep, konteks,
substansi dan pensangannan terhadap lingkungan hidup sangan berbeda dan
beragam. Padahal untuk menangani suatu kasus lingkungn hidup, misalnya
pencemaran suatu sungai, segenap pihak yang berwenang menanganinya harus
mempunyai visi dan persepsi yang sama mengenai lingkungan hidup, sehingga bisa
diperoleh solusi yang optimal dan dirasakan adil bagi berbagai pihak.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut:
1. Darimana sumber limbah cair domestik rawabebek berasal ?
2. Apa teknologi yang digunakan dalam pengolahan limbah cair domestik ?
3. Apa hasil olahan limbah cair domestik tersebut ?
4. Berapa kapasitas limbah yang ditampung di lokasi rawabebek ?
5. Bagaimana perbandingan limbah sebelum dengan sesudah diolah ?
6. Apa saja kendala dalam pengolahan limbah cair domestik ?
7. Apakah terdapat limbah sampingan dari pengolahan tersebut ?
8. Apa saja pemanfaatan hasil dari limbah cair domestik tersebut ?
C. Tujuan Pengamatan
Tujuan pengamatan dalam makalah ini sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui sumber limbah cair domestik rawabebek
2. Untuk mengetahui teknologi yang digunakan dalam pengolahan limbah
3.
4.
5.
6.
7.
8.

cair domestik
Untuk mengetahui hasil olahan limbah
Untuk menghitung kapasitas limbah yang ditampung
Untuk membandingan limbah sebelum dengan sesudah diolah
Untuk mengetahui kendala dalam pengolahan limbah cair domestik
Untuk limbah sampingan dari pengolahan
Untuk mengetahui pemanfaatan hasil dari limbah cair domestik

D. Manfaat Pengamatan
Manfaat Pengamatan dalam makalah ini sebagai berikut :
1. Agar masyarakat mengetahui proses pengolahan limbah cair domestik
Pengolahan Limbah Cair Domestik

2. Menjadikan hasil pengamatan untuk membandingkan limbah cair domestik


yang sudah di olah dengan yang langsung dibuang tanpa pengolahan
3. Memberikan informasi mengenai proses pengolahan limbah cair domestik

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Limbah
1. Pengertian Limbah
Limbah adalah permasalahan setiap negara. Sebuah penelitian
menyebutkan bahwa 85% aktivitas manusia di muka bumi ini selalu
Pengolahan Limbah Cair Domestik

menghasilkan sampah. Bila tidak ditangani dengan serius, masalah limbahini


akan menjadi isu global yang bisa menjadi masalah bagi manusia di muka
bumi ini.
Berdasarkan asalnya, limbah dibedakan menjadi 3, yaitu: limbah
pertanian, limbah pabrik, dan limbah domestik. Limbah pertanian biasanya
berasal dari pemakaian pestisida ataupun insektisidan pertanian. Sedangkan
limbah pabrik atau yang juga disebut dengan limbah industri adalah limbah
yangg dihasilkan sebagai akibat dari sebuah proses produksi. Limbah
domestik sendiri sering disebut dengan limbah rumah tangga karena limbah
domestik merupakan limbah yang berasal dari rumah tangga.
Pada limbah domestik, dibedakan menjadi 2 berdasarkan bentuknya,
yaitu limbah domestik cair dan limbah domestiik padat. Limbah domestik cair
biasanya berupa air bekas cucian yang mengandung detergen, air bekas
mandi yang mengandung sabun, minyak goreng bekas, dll. Sedangkan
limbah domestik padat bisa berupa sisa sayur, sisa makanan, dll. Belum lagi
bila sebuah rumah tangga sedanga mengadakan sebuah acara, bisa
dipastikan jumlah sampah domestik yang dihasilkan meningkat sampai
berlipat - lipat.
Limbah domestik menjadi permasalahan pelik bagi sejumlah kota
besar yang padat penduduknya seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dll.
Pemerintah setempat tentu sudah menggalakkan pemisahan sampah
berdasarkan jenisnya. Biasanya disediakan 2 tempat sampah yang berbeda,
yaitu untuk sampah basah dan untuk sampah kering. Dengan dipisahkannya
sampah bassah dan sampah keringg diharapkan akan lebih mudah dalam
melakukan daur ulang sehingga bisa mengurangi jumlah sampah domestik
yang jumlahnya semakin meningkat.
B. Limbah Cair Domestik
Limbah cair baik domestik maupun non domestik mempunyai
beberapa karakteristik sesuai dengan sumbernya, karakteristik limbah cair
dapat digolongkan pada karakteristik fisik, kimia, dan biologi sebagai berikut
(Metcalf and Eddy, 2003) :
1. Karakteristik Fisika
Karakteristik fisika ini terdiri dari beberapa parameter, diantaranya :
a. Total Solid (TS)
Pengolahan Limbah Cair Domestik

Padatan terdiri dari bahan padat organik maupun anorganik yang


dapat larut, mengendap atau tersuspensi. Bahan ini pada akhirnya
akan mengendap di dasar air sehingga menimbulkan pendangkalan
pada dasar badan air penerima
b. Total Suspended Solid (TSS)
Merupakan jumlah berat dalam mg/l kering lumpur yang ada
didalam air limbah setelah mengalami penyaringan dengan membran
berukuran 0,45 mikron.
c. Warna.
Pada dasarnya air bersih tidak berwarna, tetapi seiring dengan
waktu dan menigkatnya kondisi anaerob,warna limbah berubah dari
yang abuabu menjadi kehitaman.
d. Kekeruhan
Kekeruhan disebabkan oleh zat padat tersuspensi, baik yang
bersifat organik maupun anorganik, serta menunjukkan sifat optis air
yang akan membatasi pencahayaan kedalam air.
e. Temperatur
Merupakan parameter yang sangat penting dikarenakan efeknya
terhadap reaksi kimia, laju reaksi, kehidupan organisme air dan
penggunaan air untuk berbagai aktivitas sehari-hari.
f. Bau
Bau yang disebabkan oleh udara yang dihasilkan pada proses
dekomposisi materi atau penambahan substansi pada limbah.

2. Karakteristik Biologi
Karakteristik biologi digunakan untuk mengukur kualitas air terutama
air yang dikonsumsi sebagai air minum dan air bersih.
Parameter yang biasa digunakan adalah banyaknya mikroorganisme
yang terkandung dalam air limbah. Pengolahan air limbah secara biologis
dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang melibatkan kegiatan
mikroorganisme dalam air untuk melakukan transformasi senyawa-senyawa
Pengolahan Limbah Cair Domestik

kimia yang terkandung dalam air menjadi bentuk atau senyawa lain.
Mikroorganisme mengkonsumsi bahan-bahan organik membuat biomassa sel
baru serta zat-zat organik dan memanfaatkan energi yang dihasilkan dari
reaksi oksidasi untuk metabolismenya (Metcalf and Eddy, 2003).
3. Karakteristik Kimia.
Karakteristik kimia ini terdiri dari beberapa parameter, diantaranya :
a. Biological Oxygen Demand (BOD)
Biological Oxygen Demend ( BOD ) atau kebutuhan oksigen
biologis

adalah

jumlah

oksigen

yang

dibutuhkan

oleh

mikroorganisme di dalam lingkungan air untuk memecah atau


mendegdrasi atau mengoksidasi limbah organic yang terdapat di
dalam air.

Pengolahan Limbah Cair Domestik

b. Chemical Oxygen Demand (COD)


Chemical Oxygen Demand (COD) merupakan jumlah kebutuhan
oksigen dalam air untuk proses reaksi secara kimia guna
menguraikan unsur pencemar yang ada. COD dinyatakan dalam
ppm (part per milion) (Metcalf and Eddy, 2003).
c. Protein
Protein merupakan bagian yang penting dari makhluk hidup,
termasuk di dalamnya tanaman, dan hewan bersel satu. Di dalam
limbah cair, protein merupakan unsur penyabab bau, karena
adanya proses pembusukan dan peruraian oleh bakteri. (Metcalf
and Eddy, 2003).
d. Karbohidrat
Karbohidrat antara lain : gula, pati, sellulosa dan benang-benang
kayu terdiri dari unsur C, H, dan O. Gula dalam limbah cair
cenderung terdekomposisi oleh enzim dari bakteri-bakteri tertentu
dan ragi menghasilkan alkohol dan gas CO2 melalui proses
fermentasi.
e. Minyak dan Lemak
Minyak dan lemak merupakan bahan pencemar yang banyak
ditemukan di berbagai perairan, salah satu sumber pencemarnya
adalah dari agroindustri.
f. Detergen
Deterjen termasuk bahan organik yang sangat banyak digunakan
untuk keperluan rumah tangga, hotel, dan rumah sakit. Fungsi
utama deterjen adalah sebagai pembersih dalam pencucian,
sehingga tanah, lemak dan lainnya dapat dipisahkan.
g. Derajat keasaman (pH)
Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan
mempunyai pH sekitar 6,5 7,5. Air akan bersifat asam atau basa
tergantung besar kecilnya pH. Bila pH di bawah pH normal, maka
air tersebut bersifat asam, sedangkan air yang mempunyai pH di
atas pH normal bersifat basa.
h. Alkalinitas
Pengolahan Limbah Cair Domestik

Tinggi rendahnya alkalinitas air ditentukan senyawa karbonat,


bikarbonat, garam hidroksida, kalium, magnesium dan natrium
dalam air. Semakin tinggi kesadahan suatu air semakin sulit air
membuih.
i. Besi dan Mangan
Besi dan mangan yang teroksida dalam air berwarna kecoklatan
dan tidak larut, menyebabkan penggunaan air menjadi terbatas. Air
tidak dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga dan industri.
h. Chlorida
Chlorida banyak dijumpai dalam pabrik kaustik soda. Chlorida
merupakan zat terlarut dan tidak menyerap. Sebagai chlor
bebasberfungsi sebagai disinfektans, tapi dalam bentuk ion yang
bersenyawa dengan ion natrium menyebabkan air menjadi asin dan
merusak pipa-pipa instalasi.
i. Phospat
Kandungan phospat yang tinggi menyebabkan suburnya algae dan
organisme lainnya. Pengukuran kandungan phospat dalam air
limbah berfungsi untuk mencegah tingginya kadar phospat
sehingga tidak merangsang pertumbuhan tumbuhan-tumbuhan
dalam air. Sebab pertumbuhan subur akan

menghalangi

kelancaran arus air dan pada danau akan mengakibatkan


berkurangnya oksigen terlarut serta kesuburan tanaman lainnya.
j. Sulfur
Sulfat dalam jumlah besar akan menaikan keasaman air. Dalam
bentuk H2S bersifat racun dan berbau busuk.

H2S akan

menghitamkan air dan lumpur yang bila terikat dengan senyawabesi


membentuk Fe2S.
m. Logam berat dan beracun
Logam berat pada umumnya seperti tembaga, perak, seng,
cadmium, air raksa, timah, chromium, besi, dan nikel. Logam ini
dalam konsentrasi tertentu membahayakan bagi manusia.
n. Fenol
Istilah fenol dalam air limbah tidak hanya terbatas pada fenol
(C6H5OH) tapi bermacam-macam campuran organik yang terdiri
Pengolahan Limbah Cair Domestik

10

dari satu atau lebih gugusan hidroxil. Fenol yang dengan


konsentrasi 0,005/liter dalam air minum menciptakan rasa dan bau
apabila bereaksi dengan chlor membentuk chlorophenol.
C. Jenis Limbah Cair
1. Limbah cair domestik
Yaitu limbah cair hasil buangan dari perumahan (rumah tangga),
perkantoran, bangunan perdagangan, dan sarana jenis. Contoh : air
detergen sisa cucian
2. Limbah cair industri
Yaitu limbah cair hasil buangan industri. Contoh : cairan sisa pewarna
tekstil dari industri tekstil.
3. Rembesan dan luapan
Yaitu limbar cair yang berasal dari berbagai sumber yang memasuki
saluran pembuangan limbah cair melalui rembesan ke dalam tanah atau
melalui luapan dari permukaan. Contoh : luapan air buangan talang atap,
pendingin ruangan.
4. Air hujan
Yaitu limbah cair yang berasal dari aliran air hujan diatas permukaan
tanah.
D. Teknik Pengolahan Limbah
1. Pengolahan Primer (Primary Treatment)
Tahap pengolahan primer limbah cair sebagian besar adalah berupa
proses pengolahan secara fisika.
a. Penyaringan (Screening)
Limbah yang mengalir melalui

saluran

pembuangan

disaring

menggunakan jeruji saring. Metode ini merupakan cara yang efisien


dan murah untuk menyisihkan bahan-bahan padat berukuran besar
dari air limbah.
b. Pengolahan Awal (Pretreatment)
Limbah yang sudah disaring kemudian disalurkan ke suatu tangki atau
bak yanf berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat
tersuspensi lain yang berukuran relatif besar.
c. Pengendapan
Setelah itu limbah cair akan dialirkan ke tangki atau bak pengendapan.
Di tangki pengendapan, limbah cair didiamkan agar partikel-partikel
padat yang tersuspensi dalam air limbah dapat mengendap ke dasar
tangki. Endapan partikel tersebut akan membentuk lumpur yang
Pengolahan Limbah Cair Domestik

11

kemudian akan dipisahkan dari air limbah ke saluran lain untuk diolah
lebih lanjut.
d. Pengapungan (Floation)
Metode ini efektif untuk menyingkirkan polutan berupa minyak atau
lemak. Proses pengapungan dilakukan dengan menggunakan alat
yang dapat menghasilkan gelembung-gelembung udara berukuran
kecil (30-120 mikron). Gelembung udara tersebut akan membawa
partikel-partikel minyak dan lemak ke permukaan air limbah sehingga
kemudian dapat disingkirkan.
2. Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment)
Tahap pengolahan sekunder merupakan proses pengolahan secara
biologis,

yaitu

dengan

melibatkan

mikroorganisme

yang

dapat

mengurai/mendegradasi bahan organik. Mikroorganisme yang digunakan


umumnya adalah bakteri aerob. Terdapat 3 metode pengolahan secara
biologis, yaitu :
a. Metode Trickling Filter
Pada metode ini, bakteri aerob yang digunakan untuk mendegradasi
bahan organik melekat dan tumbuh pada suatu lapisan media kasar,
bisanya berupa serpihan batu atau plastik, dengan ketebalan 1-3 m.
Limbah cair kemudian disemprotkan ke permukaan media dan
dibiarkan merembes melewati media tersebut. Selama proses
perembesan, bahan organik yang terkandung dalam limbah akan
didegradasi oleh bakteri aerob. Setelah merembes sampai ke dasar
lapisan media, limbah akan menetes ke suatu wadah penampung dan
kemudian

disalurkan

ke

tangki

pengendapan

dan

selanjutnya

mengalami proses pengendapan.


b. Metode Activated Sludge
Pada metode lumpur aktif ini, limbah cair disalurkan ke suatu tangki
dan didalamnya limbah dicampur dengan lumpur yang kaya akan
bakteri aerob. Proses degradasi berlangsung didalam tangki tersebut
selama beberapa ja, dibantu dengan pemberian gelembung udara
aerasi. Aerasi dalam mempercepat kerja bakteri dalam mendegradasi
limbah.
c. Metode Treatment Ponds/Lagoons
Metode perlakuan kolam merupakan metode yang murah namun
proses nya berlangsung relatif lamba. Pada metode ini, limbah cair
Pengolahan Limbah Cair Domestik

12

ditempatkan

dalam

kolam-kolam

terbuka. Algae

yang

tumbuh

dipermukaan kolam akan berfotosintesis menghasilkan oksigen.


Oksigen tersebut kemudian digunakan bakteri aerob untuk proses
degradasi bahan organik dalam limbah. Selama proses degradasi di
kolam, limbah juga akan mengalami proses pengendapan.
3. Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment)
Pengolahan tersier dilakukan jika setelah pengolahan primer dan
sekunder

masih

terdapat

zat

tertentu

dalam

limbah

cair

yang

membahayakan bagi lingkungan dan masyarakat. Pengolahan tersier


bersifat khusus, artinya pengolahan ini disesuaikan dengan kandungan zat
yang tersisa dalam air limbah. Contoh metode pengolahan tersier yang
dapat digunakan adalah metode saringan pasir, saringan multimedia,
precoal filter, micristaining, vacum filter, dan osmosis bolak-balik. Metode
pengolahan tersier jarang diaplikasikan pada fasilitas pengolahan limbah
karena biaya yang dilakukan untuk proses pengolahan ini cenderung
tinggi sehingga tidak ekonomis.
4. Desinfeksi (Desinfection)
Desinfeksi atau pembunuhan kuman bertujan untuk membunuh atau
mengurangi mikroorganisme patogen yang ada dalan limbar cair.
Mekanisme desinfeksi dapat secara kimia, yaitu dengan menambahkan
senyawa/zat tertentu, atau dengan perlakuan fisik. Dalam menentukan
senyawa untuk membunuh mikroorganisme, terdapat beberapa hal yang
perlu diperhatikan, yaitu :
Daya racun zat
Waktu kontak yang diperlukan
Efektivitas zat
Kadar dosis yang digunakan
Tidsk boleh bersifat toksik terhadap manusi dan hewan
Tahan terhadap air
Biayanya murah
Proses desinfeksi limbah cair biasanya dilakukan setelah proses
pengolahan limbah selesai, yaitu setelah pengolahan primer, sekunder,
atau tersier, sebelum limbah dibuang ke lingkungan.
5. Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment)
Pengolahan Limbah Cair Domestik

13

Setiap tahap pengolahan limbar cair, baik primer, sekunder maupun


tersier, akan menghaslkan endapan polutan berupa lumpur. Lumpur
tersebut tidak dapat dibuang secara langsung, melainkan perlu diolah
lebih lanjut. Endapan lumpur hasil pengolahan limbah biasanya akan
diolah dengan cara diurai/dicerna secara aerob, kemudian disalurkan ke
beberapa alternatif, yaitu dibuang ke laut atau ke lahan pembuangan
(landfill), dijadikan pupuk kompos, atau dibakar.

BAB III
METODE PENGAMATAN
A. Tempat dan Waktu Pengamatan
Pengamatan pengolahan limbah cair domestic ini dikakukan di Rawa Bebek,
Cakung, Jakarta timur. Pada hari Rabu tanggal 30 Maret 2014
B. Metode Pengamatan
Metode yang dilakukan pada pengamatan kali ini adalah dengan cara
pengamatan langsung ke pengolahan limbah tersebut sambil mewawancarai
petugas yang mendampingi pengamatan lapangan kami.

Petugas yang kami

wawancarai adalah ketua koordinasi peralatan, yakni bapak Walim.

Pengolahan Limbah Cair Domestik

14

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Aspek-aspek Pengamatan Pengolahan Limbah domestic cair (septik
tank)
No.
1.

Aspek yang diamati


Asal sumber limbah cair domestic

Hasil pengamatan
Limbah berasal dari limbah cair rumah

Rawa bebek

tangga khususnya septic tank warga, toilet


umum, perusahaan sekitar disekitar lokasi
pengolahan.

2.

3.

Teknologi yang digunakan dalam

Teknologi yang sekarang digunakan dalam

pengolahan limbah cair domestic

pengolahan limbah ada dua, yakni semi

Hasil olahan limbah cair domestic

teknologi, dan teknologi.


Olahan limbah cair ini ada dua bentuk,
yakni:
-

cairan
Biasanya bentuk cair setelah diuji
mutunya dan memenuhi persyaratan
bahwa tidak mengandung BOD dan
COD yang tinggi, maka langsung
begitu saja dibuang ke kali di sekitar
tempat pengolahan, selain itu bisa

Pengolahan Limbah Cair Domestik

15

juga dijadikan sebagai pupuk cair


padatan

bentuk padatan ini awalnya berupa


lumpur setelah diendapkan dan
dibuang airnya yang tersisa
hanyalah lumpur. Lumpur ini biasa
dimanfaatkan sebagai pupuk. Sudah
banyak diteliti dan memang pupuk
ini baik untuk pertanian, khususnya
padi dan jagung. Meskipun
demikian, sebelum lumpur
digunakan sebagai pupuk, lumpur ini
harus ditambahnya beberapa zat
agar tanaman lebih baik tumbuhnya,
seperti fosfor dan kalium
4.

5.

Kapasitas limbah yang ditampung

Setiap kolam memiliki ukuran 125m x 20m

di pengolahan limbah septic tank

x 1,5m sehingga dapat menampung sekitar

Rawabebek

3750 m3

Perbandingan limbah sebelum

Perbandingan yang sangat terlihat adalah

dengan sesudah diolah

kadar COD dan BOD dalam limbah yang


sebelum dan sesudah diolah.
Kadar COD dan BOD pada limbah sebelum
diolah sekitar dan setelah diolah menjadi.
sehingga limbah tersebut bisa diterima oleh
alam dan tidak membahayakan jika

6.

Kendala dalam pengolahan limbah

langsung dibuang ke alam


Ada beberapa kendala yang dialami seperti

cair domestic

:
1. Mesin mengalami macet dan rusak
2. Limbah mengandung sampah yang
menyebabkan sulit di olah
3. Bau limbah yang menyengat
menyebabkan warga sekitar
terganggu dan resah
4. Kurang sosialisasi, sehingga hasil

Pengolahan Limbah Cair Domestik

16

olahan limbah kurang di manfaatkan


oleh warga sekitar. Karna mengingat
hasil olahan limbah tersebut berasal
7.

Limbah sampingan dari

dari tinja.
Tidak ada, karena semua yang sudah

pengolahan tersebut

diolah didipengolahan ini tidak lagi


mengandung limbah, karena kadar BOD
dan COD sudah rendah, sehingga sudah

8.

9.

Pemanfaatan hasil dari pengolahan

bisa diterima oleh alam


Dapat dimanfaatkan sebagai

limbah cair domestic

pupuktanaman, sebagai bahan penelitian,

Tahapan pengolahan limbah cair


domestic di Rawa Bebek

BAB V
Pengolahan Limbah Cair Domestik

17

Kolam penampungan
Kolam aerasi
Mesin decanter
Pengendapan lumpur
Oksidasi
Netralisasi

PENUTUP
A. Kesimpulan
Limbah cair domestik di Rawa Bebek, Cakung Jakarta Timur berasal
berasal dari limbah cair rumah tangga khususnya septic tank warga, toilet
umum,

perusahaan sekitar di sekitar lokasi pengolahan. Limbah cair

domestik Rawa Bebek sudah mengalami tahapan proses pengolahan yang


cukup baik sehingga menghasilkan olahan berupa pupuk cair dan pupuk
padat (lumpur) yang memiliki kadar BOD dan COD rendah dan tidak
membahayakan jika dibuang ke alam. Hasil olahan pupuk sudah banyak
diteliti dan memang pupuk ini baik untuk pertanian, khususnya padi dan
jagung. Meskipun demikian, sebelum lumpur digunakan sebagai pupuk,
lumpur ini harus ditambahnya beberapa zat agar tanaman lebih baik
tumbuhnya, seperti fosfor dan kalium.
Pengolahan limbah cair domestik Rawa Bebek juga memiliki beberapa
kendala, yaitu : mesin macet dan rusak, adanya sampah dalam limbah, bau
menyengat yang menggangu.
B. Saran
Penulisan laporan pengamatan pengolahan limbah cair domestik di
Rawa Bebek, Cakung masih ada kekurangan dan kesalahan mohon kritik,
saran dan masukkan agar dapat memberikan informasi dan menambah
wawasan para pembaca.

DAFTAR PUSTAKA
Djajadiningrat, A., 1999. Pengolahan Limbah Cair. Penelitian Pengelolaan
Pengolahan Limbah Cair Domestik

18

Limbah. ITB. Bandung.


Firdus dan Muchlisin ZA. 2010. Degradation Rate Of Sludge and Water Quality of
Tangki septik (Water Closed) by Using Starbio and Freshwater Catfish as
Biodegradator. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Universitas Syiah Kuala Darussalam. Banda Aceh, Aceh. Jurnal Natural
Vol.10No. 1
Saadah, N. R dan P. Winarti. 2009. Pengolahan Limbah Cair Domestik
Menggunakan Lumpur Aktif Proses Anaerob. Jurusan Teknik Kimia Fakultas
Teknik Universitas Diponegoro Semarang. Diakses dari
http://eprints.undip.ac.id/11591/2/laporan_penlit_Puji_Rahmi.pdf Pada tanggal
5 mei 2014 Pukul 19.40 WIB.
Said N. I. dan H.D.Wahjono. 1999. Alat Pengolah Air Limbah Rumah Tangga Semi
Komunal Kombinasi Biofilter Anaerob dan Aerob. Kelompok Teknologi
Pengelolaan Air Bersih dan Limbah Cair Direktorat Teknologi Lingkungan,
Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, Material dan Lingkungan. Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta.
Seabloom, R. B. 2004. University Curriculum Development for Decentralized
Wastewater Management : Septic Tanks. Emeritus Professor of Civil and
Environmental Engineering Dept. of Civil and Environmental Engineering,
University of Washington.
Sutapa I.DA. 1999. Lumpur Aktif: Alternatif Pengolah Limbah Cair. Jurnal Studi
Pembangunan, Kemasyarakatan dan Lingkungan Vol I No. 3: 25-38.
Suhardjo, D. 2008. Penurunan COD, TSS, danTotal Fosfat Pada Tangki septik
Limbah Mataram Citra Sembada Catering Dengan Menggunakan Wastewater
Garden.Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia.
Jurnal Manusia Dan Lingkungan Vol. 15, No.2:79-89.

Lampiran Foto

Pengolahan Limbah Cair Domestik

19

(Tempat penampungan limbah)

(Kolam Aerasi)

(Kolam limbah)

(Gas metana untuk kompor)

( Penyaringan limbah )

(Mesin Lumpur)

(Mesin penyedot)

( Kolam Pengeringan lumpur )

Pengolahan Limbah Cair Domestik

20

( Kolam Oksidasi)

(Kolam lumpur cair)

(Kolam Klorisasi)

(Lumpur padat )

(Mesin pemisah lumpur dan sampah)

(Endapan lumpur akhir)

Pengolahan Limbah Cair Domestik

21