Anda di halaman 1dari 8

FERMENTASI

TEKNOLOGI PRODUKSI ALKOHOL YANG MODERN

Disusun oleh :
1. Lila Rizki Herjulia
2. Nur Diana Septi

(12330100)
(1233010021)

JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UPN VETERAN JAWA TIMUR
SURABAYA
2013/2014

Hydrogen Production
Konversi biomassa menjadi hidrogen secara biologi dapat dilakukan dengan proses
photofermentation maupun darkfermentation. Perolehan hidrogen dengan dark fermentation
hanya mencapai 10-20% dari jumlah kandungan hidrogen dalam bahan organik teoretik.
Perolehan hidrogen bervariasi dari 0,52 mol/mol heksosa yang diperoleh jika menggunakan
subtrat molase dalam batch culture Enterobacter aerogenes, hingga 2,3 mol/mol heksosa jika
menggunakan glukosa sebagai substrat dalam continuous culture Clostridium butyricum.
Selain perolehan yang rendah, permasalahan lain yang ada dalam produksi hidrogen secara
fermentasi adalah konsumsi hidrogen oleh organisme lain seperti metanogenik sehingga
substrat awal harus di sterilisasi terlebih dahulu dan menggunakan inokulum yang dalam
keadaan murni. Proses produksi hidrogen yang berdiri sendiri dengan cara ini masih tidak
laik untuk diaplikasikan saat ini.
Methane Production
Dalam ekosistem anaerobik degradasi biomassa (yang tak tersterilisasi) secara normal dapat
mengikuti jalur yang diilustrasikan pada Fig 1. Jika tidak ada akseptor elektron anorganik
seperti sulfat atau nitrat, metana menjadi produk akhir proses karena semua senyawa
intermediet dari bakteri fermentasi dapat di degradasi menjadi metana, karbondioksida, dan
air. Hampir 90% energi dalam biomassa terkonversi menjadi produk akhir dan hanya 10%
digunakan untuk bakteri fermentasi. Dalam tahap akhir proses pembentukan metana, karbon
(dalam biomassa) hampir sepenuhnya diubah menjadi keadaan paling teroksidasi (CO2) dan
paling tereduksi (CH4). Hanya 4% energi digunakan unuk mikroorganisme dan 86% energi
terkandung dalam metana.

Dalam proses fermentasi metanogenik secara umum diperoleh perolehan metana mendekati
perolehan maksimum teoretik 3 mol CH4/mol glukosa.
Production Biofuels Using the Maxifuel Concept

Proses produksi hidrogen, metana, dan bioetanol dapat dilangsungkan secara terintegrasi,
seperti dalam Maxifuel concept (ilustrasi Fig 2). Konsep ini didesain untuk produksi Etanol
dari bahan lignoselulosa, untuk menghasilkan jumlah biofuel yang maksimum per unit raw
material dan memanfaatkan residu untuk konversi lebih lanjut menjadi energi. Produk utama
bioetanol digunakan untuk bahan bakar transportasi dan penekanan proses ini untuk optimasi
produksi etanol. Produksi biofuel yang lain seperti metana, hidrogen, dan produk bernilai lain
seperti bahan bakar padat akan menambah nilai lebih pada proses. Proses ini juga ramah
lingkungan karena dilakukan recycle dan reuse aliran keluaran. Pengembangan produksi
etanol berbasis bahan lignoselulosa dapat diintegrasikan lebih lanjut dalam produksi
bioetanol konvensional dari bahan jagung, dimana residu jagung dan fiber dapat
dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas 20% seperti tertera pada ilustrasi Fig 3.

Lebih dari 19% bahan baku terpisahkan sebagai padatan, yang dapat dimanfaatkan untuk
proses pembakaran. Jika diinginkan, fraksi ini dapat ditingkatkan, sebaliknya jika tidak
diinginkan dapat diresirkulasi pada proses pretreatment bersama dengan bahan baku. Neraca
massa dari proses Maxifuel dapat dilihat pada ilustrasi Fig 4. Pilot plant proses ini telah di

buat di Technical University of Denmark, DTU (ilustrasi Fig 5) dan konsep ini akan
didemonstrasikan pada tahun 2008.

Proses Maxifuel yang telah dipatenkan terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut:
1. PretreatmentProses pretreatment dari bahan lignoselulosa lebih intensif
dibandingkan dengan bahan gula dan bahan berpati. Metode pretreatment bahan
lignoselulosa sekarang ini mengonsumsi 30-40% biaya total untuk produksi bioetanol.
2. Hydrolysis
Hidrolisa keluaran tahap pretreatment direaksikan dengan enzim untuk memecah
selulosa dan hemiselulosa menjadi heksosa dan pentosa sehingga dapat di fermentasi
mejadi etanol. Harga enzim sangat mahal, sehingga penelitian untuk mendapatkan
enzim dengan aktivitas tinggi dan harga murah adalah kunci untuk mengatasi
hambatan ini. Adapun cara lain untuk mereduksi biaya adalah dengan melakukan
recycle loops untuk mengumpan balik enzim dalam tangki hidrolisis enzimatik.
3. Fermentation of C6 sugars
Tahap hidrolisis dapat dioptimalkan dengan melakukan kombinasi hidrolisis enzymatik
bersamaan dengan proses fermentasi oleh ragi (simultaneous saccharification and
fermentation, SSF). Temperatur optimum enzim yang lebih tinggi dari pada temperatur
optimum ragi dapat mengurangi keuntungan menggunakan proses SSF dibandingkan dengan
proses terpisah. Ragi roti Saccharomyces cerevisiae digunakan untuk menghasilkan etanol,
dan telah banyak digunakan dalam produksi skala industrial. Produktivitas etanol yang besar
serta toleran terhadap etanol dan inhibitor lain dalam hidrolisa biomassa adalah alasan
penting digunakannya organisme ini, meskipun proses fermentasi xylose organisme ini
kurang.
4. Separation
Setelah fermentasi glukosa oleh ragi dalam konsep Maxifuel, lignin dipisahkan
dengan menggunakan filter, yang sangat mungkin didapatkan lignin dengan berat
kering yang tinggi untuk menghindari pembuangan xylose dan etanol yang berada
dalam fasa likuid.
5. Fermentation of C5 sugars
Gula residu dalam hidrolisat setelah proses fermentasi oleh ragi di fermentasikan lagi
menggunakan mikroorganisme termofilik, Thermobacter BG1. Modifikasi genetik pada
mikroorganisme ini dapat menghasilkan 38,7 g/L atau 5,4% v/v etanol dalam sistem kontinu
dari hidrolisa bahan nondetoxified lignoselulosa. Temperatur pertumbuhan pada 75 oC
memberi kemudahan untuk proses distilasi etanol dari reaktor. Operasi pada kondisi
termofilik dapat menurunkan pengaruh kontaminasi, yang merupakan hambatan utama proses
fermentasi pada kondisi mesofilik. Selama proses fermentasi gula residu ini, 0,5 sampai 1,1
mol hidrogen/mol substrat dihasilkan sebagai produk samping. Untuk optimasi kelayakan,
proses fermentasi termofilik bioetanol dilakukan dalam sistem reaktor terimobilisasi.
Imobilisasi organisme ini dalam up flow reactor meningkatkan toleransi etanol,
meningkatkan konversi substrat, dan menurunkan sensitivitas ketidakseimbangan proses
fermentasi
6. Anaerobic digestion of process water and recirculation

Efluen dari produksi bioetanol masih mengandung bahan organik yang besar, kecuali
karbohidrat. Anaerobik digestion telah lama digunakan untuk mengolah limbah yang
mengandung zat organik dalam konsentrasi yang tinggi. Keuntungan proses ini antara lain
menstabilkan aliran limbah, efisiensi reduksi kandungan zat organik tinggi, dan produksi
metana sebagai bahan baku energi. Pendapatan dari produksi metana dapat mengurangi biaya
produksi bioetanol hingga mencapai 34%. Efluen dari tahap fermentasi mengandung lignin
berberat molekul rendah yang dihasilkan selama proses fisik-kimia pada tahap pretreatment,
yang berupa senyawa aromatik. Senyawa aromatik ini secara umum sukar di degradasi pada
proses anaerob, dan jika digunakan kembali akan menginhibisi proses fermentasi. Oleh
karena itu, pencapaian dalam proses purifikasi anaerobik yang dapat mendegradasi senyawa
ini sangat penting dilakukan.
Bio/Catalytic Refineries
Perkembangan lanjut biorefineries dapat dilakukan dengan teknik hibrida menggabungkan
proses konversi biologi dengan proses hilir katalitik. Proses dalam autothermal reformer
dengan efisiensi tinggi dapat mengubah 1 mol etanol menjadi 5 mol hidrogen. Jika
digabungkan dengan proses biologi dimana 2 mol etanol dihasilkan dari setiap molekul gula
(glukosa) perolehan hidrogen dalam dua tahap menjadi 83 % dari nilai maksimum teoretik,
lebih besar jika dibandingkan dengan proses fermentasi yang hanya mencapai 10-20%. Selain
itu, dihasilkan juga hidrogen dari proses fermentasi termofilik yang akan menambah
perolehan hidrogen pada keseluruhan proses mendekati nilai maksimal teoretik yaitu 12 mol
hidrogen/mol monosakarida.
Hidrogen dipandang sebagai salah satu energi masa depan. Pengenalan proses hilir konversi
katalitik biofuel memungkinkan digunakannya bahan bakar yang tidak memerlukan
perlakuan yang lebih kompleks (etanol untuk menghasilkan hidrogen) untuk alat transportasi
dengan menggabungkan teknologi fuel cell.
Integrated Conventional and Bio/Catalytic Refineries
Adanya perhatian dan perkembangan yang pesat pemanfaatan biomassa sebagai bahan baku
energi, tidak menutup kemungkinan bahan bakar minyak akan terganti semua dalam kurun
waktu 50 tahun. Integrasi antara conventional refineries dengan bio/catalytic refineries akan
menimbulkan kesinergian dalam proses, ketersediaan bahan kimia, dan logistik. Beberapa
aliran proses, limbah, dan panas dari conventional refinery dapat dimanfaatkan dalam
biorefinery (ilustrasi Fig 6). Air pendingin dan beberapa aliran efluen dapat digunakan
sebagai air proses dalam biorefinery. Conventional refinery memiliki sejumlah besar energi
dengan temperatur rendah yang dapat ditukar dan dimanfaatkan untuk energi proses dalam
biorefinery. Produk biorefinery dapat digunakan sebagai bahan baku untuk bermacam-macam
proses dalam conventional refinery. Sebagai contoh, etanol digunakan sebagai bahan
campuran produk gasolin.
Hidrogen yang dihasilkan dari proses biologi dapat dimanfaatkan untuk proses hidrogenasi
dalam conventional refiery. Methane dari proses biorefinery dapat digunakan untuk bahan
bakar, dan dapat juga digunakan sebagai bahan baku proses reformasi katalitik untuk
menghasilkan hidrogen. Dapat juga digunakan untuk menghasilkan gas sintesis (CO/H2),
yang dapat dimanfaatkan dalam proses gas to liquids atau produksi metanol. Adanya tahap
proses katalitik antara kedua refinery ini dapat meningkatkan keuntungan dua kali lipat ,

karena hidrokarbon keluaran proses katalitik dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku proses
refining lebih lanjut pada coventional refinery.
Source : http://aguskrisnoblog.wordpress.com/2012/01/01/pemanfaatan-saccharomycescerevisiae-dalam-industri-alkohol/