Anda di halaman 1dari 14

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Percobaan
Berdasarkan perumusan yang diperoleh dari literatur dan data yang diperoleh dari
hasil percobaan, diperoleh :

r kC n
ln r ln k n ln C
y A Bx

(Qiao, 2012)

dimana : k = 10A (konstanta kecepatan reaksi)


n = B

(orde reaksi)

4.1.1 Hasil Percobaan pada Run I


Laju alir A (NaOH)

= 100 ml / 5 menit

Laju alir B (CH3COOC2H5)

= 100 ml / 5 menit

Kecepatan Pengadukan

= 115 rpm

Tabel 4.1 Tabel Hasil Percobaan pada Run I


t
0
3
6
9
12
15
18
21

Vol
HCl
11,2
8,4
8,4
8,2
7,6
6,3
6,3
6,3

CA

- rA

0,0112
0,0084
0,0084
0,0082
0,0076
0,0063
0,0063
0,0063

0,000000
0,000930
0,000467
0,000333
0,000300
0,000327
0,000272
0,000233

log CA
X
-1,951
-2,076
-2,076
-2,086
-2,119
-2,201
-2,201
-2,201
-16,910

log -rA
Y
0,000
-3,030
-3,331
-3,477
-3,523
-3,486
-3,565
-3,632
-24,044

1 / -rA

X2

XY

~
1071,429
2142,857
3000,000
3333,333
3061,224
3673,469
4285,714
20568,027

3,806
4,309
4,309
4,352
4,491
4,843
4,843
4,843
35,795

0,000
6,289
6,914
7,254
7,466
7,671
7,846
7,933
51,433

Orde Reaksi (B)

: 1,316

: -0,256

Konst Kec. Reaksi

: 0,554

(-rA)

: 0,554 CA1,316 mol ml-1menit-1

Konversi
XA
0,000
0,250
0,250
0,268
0,321
0,438
0,438
0,438

4.1.2 Hasil Percobaan pada Run II


Laju alir A (NaOH)

= 150 ml / 5 menit

Laju alir B (CH3COOC2H5)

= 150 ml / 5 menit

Kecepatan Pengadukan

= 115 rpm

Tabel 4.2 Tabel Hasil Percobaan pada Run II


t
0
3
6
9
12
15
18

Vol
HCl
16,3
15,5
14,0
13,7
13,6
13,6
13,6

CA

- rA

0,01087
0,01033
0,00933
0,00913
0,00907
0,00907
0,00907

0
0,000178
0,000256
0,000193
0,000150
0,000120
0,000100

log CA
X
-1,964
-1,986
-2,030
-2,039
-2,043
-2,043
--2,043
-14,147

log -rA
Y
0
-3,750
-3,593
-3,715
-3,814
-3,912
-4,000
-22,803

1 / -rA

X2

XY

~
5625,000
3913,043
5192,308
6666,667
8333,333
10000,000
39730,351

3,857
3,943
4,121
4,159
4,172
4,172
4,172
28,596

0
7,447
7,293
7,577
7,811
8,008
8,170
46,306

1 / -rA

X2

XY

~
2500,000
4285,714
4500,000
5714,286
7142,857
8571,429

3,690
3,867
3,899
4,000
4,017
4,017
4,017

0
6,682
7,172
7,307
7,530
7,725
7,883

Orde Reaksi (B)

: 1,567

: -0,105

Konst Kec. Reaksi

: 0,785

(-rA)

: 0,785 CA1,567 mol ml-1menit-1

Konversi
XA
0
0,049
0,141
0,160
0,166
0,166
0,166

4.1.3 Hasil Percobaan pada Run III


Laju alir A (NaOH)

= 200 ml / 5 menit

Laju alir B (CH3COOC2H5)

= 200 ml / 5 menit

Kecepatan Pengadukan

= 115 rpm

Tabel 4.3 Tabel Hasil Percobaan pada Run III


t
0
3
6
9
12
15
18

Vol
HCl
16,3
15,5
14,0
13,7
13,6
13,6
13,6

CA

- rA

0,01200
0,01080
0,01060
0,01000
0,00990
0,00990
0,00990

0
0,000400
0,000233
0,000222
0,000175
0,000140
0,000117

log CA
X
-1,921
-1,967
-1,975
-2,000
-2,004
-2,004
-2,004

log -rA
Y
0
-3,398
-3,632
-3,653
-3,757
-3,854
-3,933

Konversi
XA
0
0,100
0,117
0,167
0,175
0,175
0,175

-13,875

-22,227

32714,286

27,509

44,299

1 / -rA

X2

XY

~
1875,000
3488,372
4687,500
5084,746
5514,706
6617,647
7720,588
34988,559

3,598
3,824
3,842
3,874
3,945
4,007
4,007
4,007
31,104

0,000
6,400
6,944
7,225
7,362
7,490
7,648
7,782
50,851

Orde Reaksi (B)

: 1,551

: -0,011

Konst Kec. Reaksi

: 0,764

(-rA)

: 0,764 CA1,551 mol ml-1menit-1

4.1.4 Hasil Percobaan pada Run IV


Laju alir A (NaOH)

= 250 ml / 5 menit

Laju alir B (CH3COOC2H5)

= 250 ml / 5 menit

Kecepatan Pengadukan

= 115 rpm

Tabel 4.4 Tabel Hasil Percobaan pada Run IV


t
0
3
6
9
12
15
18
21

Vol
HCl
31,7
27,7
27,4
26,9
25,8
24,9
24,9
24,9

CA

- rA

0,01268
0,01108
0,01096
0,01076
0,01032
0,00996
0,00996
0,00996

0,000000
0,000533
0,000287
0,000213
0,000197
0,000181
0,000151
0,000130

log CA
X
-1,897
-1,955
-1,960
-1,968
-1,986
-2,002
-2,002
-2,002
-15,775

log -rA
Y
0,000
-3,273
-3,543
-3,671
-3,706
-3,742
-3,821
-3,888
-25,643

Orde Reaksi (B)

: 3,201

: -0,142

Konst Kec. Reaksi

: 0,720

(-rA)

: 0,720 CA3,201 mol ml-1menit-1

Konversi
XA
0,000
0,126
0,136
0,151
0,186
0,215
0,215
0,215

4.1.5 Hasil Percobaan pada Run V


Laju alir A (NaOH)

= 300 ml / 5 menit

Laju alir B (CH3COOC2H5)

= 300 ml / 5 menit

Kecepatan Pengadukan

= 115 rpm

Tabel 4.5 Tabel Hasil Percobaan pada Run V


t
0
3
6
9
12
15
18
21

Vol
HCl
38,0
34,8
34,1
33,6
31,0
29,4
29,4
29,4

CA

- rA

0,01267
0,01160
0,01137
0,01120
0,01033
0,00980
0,00980
0,00980

0,000000
0,000356
0,000217
0,000163
0,000194
0,000191
0,000159
0,000137

log CA
X
-1,897
-1,936
-1,944
-1,951
-1,986
-2,009
-2,009
-2,009
-15,740

log -rA
Y
0,000
-3,449
-3,664
-3,788
-3,711
-3,719
-3,798
-3,865
-25,994

1 / -rA

X2

XY

~
2812,500
4615,385
6136,364
5142,857
5232,558
6279,070
7325,581
37544,315

3,600
3,746
3,781
3,806
3,943
4,035
4,035
4,035
30,971

0,000
6,676
7,125
7,389
7,370
7,470
7,629
7,764
51,422

Orde Reaksi (B)

: 3,258

: -0,131

Konst Kec. Reaksi

: 0,738

(-rA)

: 0,738 CA3,258 mol ml-1menit-1

Konversi
XA
0,000
0,084
0,103
0,116
0,184
0,226
0,226
0,226

4.2 Pembahasan
4.2.1 Kinerja/ Performance Reaktor Fasa Cair
Reaktor semibatch atau reaktor fed-batch adalah variasi reaktor batch dimana
satu atau lebih aliran umpan dikontakkan tetapi tidak ada aliran limbah sehingga
volume reaktor berubah terhadap waktu. Operasi dimulai dengan volume spesifik
dan konsentrasi reaktan mula-mula.Umpan yang mengandung reaktan, penginduksi,
atau nutrien diumpankan secara sedikit-sedikit atau secara terus menerus ke dalam
reaktor batch dan sebagai hasilnya, volume reaktor meningkat dengan waktu. Ketika
volume reaktor penuh, pengumpanan berhenti dan operasi lanjut dalam mode batch
sampai konversi yang diinginkan tercapai (Lim, 2013).

Jenis operasi ini menguntungkan ketika efek panas besar menyertai reaksinya.
Reaksi eksotermik dapat di perlambat dan kontrol suhu dipertahakan dengan
mengatur laju dimana salah satu reaktan diumpankan. Reaktor semi batch juga
digunakan ketika konsentrasi reaktan tinggi melakukan pembentukan produk
samping yang tidak diinginkan atau ketika salah satu reaktan adalah gas yang
memiliki kelarutan terbatas. Proses semibatch atau semiflow berada diantara hal
yang paling sulit untuk dianalisa dari sudut pandang perancangan reaktor karena
harus berhubungan dengan pengoperasian sistem terbuka pada keadaan tidak tunak
(Hill, 2014).
Untuk reaktor laju kontinyu space time

didefenisikan sebagai

perbandingan volume reaktor (VR) dengan laju volumetrik fluida (V) :

= vR/V

(Hill,

2014)
4.2.2 Pengaruh Waktu Terhadap Konsentrasi NaOH
.014
.012
.01
vA= vB= 100 ml/ menit
.008

vA= vB= 150 ml / menit

vA=vB=200 ml / menit

Konsentrasi NaOH .006


.004
.002
vA=vB=250 ml / menit

vA=vB=300 ml / menit

.
.

12 15 18 21 24 27 30 33 36
Waktu (menit)

Gambar 4.1 Grafik Pengaruh Waktu Terhadap Konsentrasi NaOH


Dari Gambar 4.1 di atas terlihat bahwa semakin lama waktu reaksi maka
konsentrasi NaOH cenderung berkurang sampai mencapai suatu titik konstan. Hal ini
terjadi karena semakin lama garam natrium asetat yang terbentuk dari reaksi antara
NaOH dan etil asetat semakin banyak sehingga reaktan yang tersisa semakin sedikit.

Pada Run I (NaOH 0,023 M) mencapai konstan pada konsentrasi 0,0063 M,


pada Run II (NaOH 0,023 M) mencapai konstan pada 0,00907 M, Pada Run III
(NaOH 0,023 M) mencapai konstan pada konsentrasi 0,00990 M, Pada Run IV
(NaOH 0,023 M) mencapai konstan pada konsentrasi 0,00996 M, Pada Run V
(NaOH 0,023 M) mencapai konstan pada konsentrasi 0,00980 M.
Secara teori, waktu reaksi berbanding terbalik dengan konsentrasi reaktan.
Semakin lama waktu reaksi, produk yang dihasilkan akan semakin banyak hingga
salah satu reaktan yang digunakan mulai habis bereaksi, maka produk yang
dihasilkan akan menurun. Hal ini sesuai dengan persamaan :
-r A =

dC A
dt

(Selvamony, 2013)

Dimana :
t

= waktu (menit)

-rA

= Laju reaksi pengurangan zat A (mol/ml.menit)

CA

= Konsentrasi zat A (mol/ml)


Berikut adalah grafik yang menunjukkan hubungan antara kosentrasi dengan

waktu :

Gambar 4.2 Grafik Hubungan Konsentrasi dengan Waktu


(Hill, 2014)
Hasil percobaan yang diperoleh telah sesuai dengan teori karena semakin lama
waktu reaksi, salah satu reaktan yang digunakan mulai habis.

4.2.3 Pengaruh Log (CA) Terhadap Log (-rA)


-3

-2

-1

.
.

vA= vB= 100 ml / menit


Log (-rA)

vA=vB=250 ml / menit

Run I VA=VB=100 ml/5menit


-1
vA=II vB=
150B=150
ml / menit
Run
VA=V
ml/5menitvA=vB=200 ml / menit
-2
Run III VA=VB=200 ml/5menit
Run IV VA=VB=250 ml/5menit
-3
Run V VA=VB=300 ml/5menit
-4

vA=vB=300 ml / menit

-5
Log CA
Gambar 4.3 Grafik Pengaruh Log (CA) terhadap Log (-rA)
Dari Gambar 4.3 di atas terlihat pengaruh log (C A) terhadap log (-rA). Kelima
grafik untuk Run I, Run II, Run III, Run IV, dan Run V diperoleh grafik yang
fluktuatif.
Untuk mencari persamaan kecepatan reaksi dari suatu reaksi yang ordenya
tidak diketahui atau orde n, didapat suatu pengaruh antara log (r A) dengan log CA.
Secara teori, plot Pengaruh log (-r A) dengan log CA akan membentuk garis lurus,
dalam bentuk persamaan sebagai berikut :
log (-dCA/dt) = log k + n log CA

(Anjana, 2014)

Dengan slope adalah orde reaksi (n) dan intersep adalah log konstanta
kecepatan reaksi (log k). Dari grafik diperoleh :
- Run I : n = 1,316, sedangkan k = 0,554 (mol-1.ml-1.menit-1)
- Run II : n = 1,567, sedangkan k = 0,785 (mol-1.ml-1.menit-1)
- Run III : n = 1,551, sedangkan k = 0,764 (mol-1.ml-1.menit-1)
- Run IV : n = 3,201, sedangkan k = 0,720 (mol-1.ml-1.menit-1)
- Run V : n = 3,258, sedangkan k = 0,738 (mol-1.ml-1.menit-1)

Berikut adalah grafik yang menunjukkan hubungan antara kecepatan reaksi


dengan konsentrasi :

Gambar 4.4 Grafik Hubungan Antara Kecepatan Reaksi dengan Konsentrasi


(Hill, 2014)
Hasil yang didapatkan dari grafik tidak sesuai dengan teori karena kurvanya
yang fluktuatif, hal ini dapat disebabkan oleh:
1.

Kecepatan pengadukan setiap selang waktu tidak sama diakibatkan alat


pengadukan rusak.

2.

Pengambilan sampel yang terlalu lama yang telah melewati waktu pengambilan
sampel yang telah ditentukan.

4.2.4 Pengaruh Waktu Terhadap Laju Reaksi (-rA)


.001
.0009
.0008
.0007 ml / menit
vA=vB=100
.0006
.0005
(-rA)
.0004
.0003
vA=vB= 250 ml / menit
.0002
.0001
.
.
3
6

Run I VA=VB = 100 ml/5menit


Run II VA=VB = 150 ml/5menit
Run III VA=VB = 200 ml/5menit
VA=VB = 250
ml/5menitml / menit
vA=vB=150Run
ml /IVmenit
vA=vB=200
Run V VA=VB = 300 ml/5menit

vA=vB=300 ml / menit

12 15 18
Waktu (menit)

21

24

27

30

33

36

Gambar 4.5 Grafik Pengaruh Laju Reaksi Terhadap Waktu


Dari hasil percobaan yang telah dilakukan diperolah data yang dapat dilihat
pada gambar 4.5 di atas, terlihat bahwa pada run I, run II, run III, run IV dan run V,
kurva yang terbentuk cenderung berfluktuasi, yaitu pada run I, pada menit ke 3
makin turun sampai menit ke 21, pada run II, pada menit ke 3 mengalami kenaikan
sampai menit ke 6 kemudian makin turun sampai menit ke 18, pada run III, pada
menit ke 3 mengalami penurunan sampai menit 6 kemudian berfluktuasi sampai
menit ke 18, pada run IV, pada menit ke 3 mengalami penurunan sampai menit ke 21,
pada run V, pada menit ke 3 mengalami penurunan sampai menit ke 9 kemudian
mengalami fluktuasi sampai menit ke 21.
Penurunan laju reaksi disebabkan oleh konsentrasi reaktan yang semakin
menurun dengan bertambahnya waktu karena semakin banyak reaktan yang bereaksi
membentuk produk. Hal ini sesuai dengan rumus laju reaksi seperti dibawah :
-r A =

dCA
dt

Dimana :
t

= Waktu (menit)

-rA

= Laju reaksi pengurangan zat A (mol/ml.menit)

CA = Konsentrasi zat A (mol/ml)

(Selvamony, 2013)

Berikut adalah grafik yang menunjukkan hubungan antara laju reaksi dengan
waktu :

Gambar 4.6 Grafik Hubungan Antara Laju Reaksi dengan Waktu


(Lim, 2013)
Hasil percobaan yang diperoleh belum sesuai dengan teori, karena grafik yang
digambarkan berfluktuasi. Penyimpangan yang terjadi mungkin disebabkan karena :
1.

Kecepatan pengadukan setiap selang waktu tidak sama diakibatkan alat


pengadukan rusak.

2.

Pengambilan sampel yang terlalu lama yang telah melewati waktu pengambilan
sampel yang telah ditentukan.

4.2.5 Pengaruh Waktu Terhadap Konversi (XA)


.5
.45
.4
.35
vA= vB= 100 ml.3/ menit

Run I VA=VB=100ml/5menit
Run II VA=VB=150ml/5menit
Run III VA=VB=200ml/5menit
vA= vB= 150 ml / menit Run IVvA=vB=200
VA=VB=250ml/5menit
ml / menit
Run V VA=VB=300ml/5menit

.25
.2
.15
.1
vA=vB= 250 ml
/ menit
.05

Konversi (XA)

vA=vB=300 ml / menit

.
.

12

15

18

21

24

27

30

33

36

Waktu (menit)
Gambar 4.7 Grafik Pengaruh Konversi Terhadap Waktu
Dari Gambar 4.7 tampak bahwa jika laju reaksi semakin meningkat, maka
konversi yang dihasilkan semakin meningkat dan akan konstan ketika reaksi sudah
setimbang.
Secara teori, laju reaksi adalah sebanding dengan konversi produk karena yang
mempengaruhi konversi produk adalah orde reaksi, konstanta kecepatan reaksi,
konsentrasi reaktan, dan waktu reaksi.
X A=

C A 0C A
CA 0

2009)
Dimana :
XA

= Konversi Reaksi

CA

= Konsentrasi zat (mol/liter)

CAo

= Konsentrasi zat awal (mol/liter)

(Roberts,

Berikut adalah grafik yang menunjukkan hubungan antara konversi dengan


waktu :

Gambar 4.9 Grafik Hubungan Antara Konversi dengan Waktu


(Roberts, 2009)
Sehingga percobaan ini sudah sesuai dengan teori, yakni semakin
meningkatnya konversi seiring lamanya reaksi karena konversi berbanding lurus
terhadap waktu.

4.2.6 Pengaruh Konversi (XA) Terhadap Laju Reaksi (-rA)


.5
.45
Run I VA=VB = 100 ml/5menit
.4
Run II VA=VB = 150 ml/5menit
Run III VA=VB = 200 ml/5menit
.35
IV VA=VB = ml
250/ menit
ml/5menit
vA=vB=100
ml/ menit
vA=vB= 150 ml/ menit Run vA=vB=200
.3
Run V VA=VB = 300 ml/5menit
.25
XA
.2
.15
.1
vA=vB=250
ml / menit
vA=vB=300 ml / menit
.05
.
. .0001 .0002 .0003 .0004 .0005 .0006 .0007 .0008 .0009 .001
-rA

Gambar 4.10 Grafik Pengaruh Konversi Terhadap Laju Reaksi


Dari Gambar 4.10 tampak bahwa pada Run I, Run II, Run III, Run IV dan Run
V grafik yang diperoleh antara hubungan konversi dengan laju reaksi cenderung
fluktuatif. Dari hasil percobaan pada run I diperoleh konversi tertinggi sebesar 0,438
pada laju reaksi 0,000327 , pada run II diperoleh nilai konversi tertinggi sebesar
0,166 pada laju reaksi 0,000150, pada run III diperoleh nilai konversi tertinggi
sebesar 0,175 pada laju reaksi 0,000175, pada run IV diperoleh nilai konversi
tertinggi sebesar 0,215 pada laju reaksi 0,000181, pada run V diperoleh nilai
konversi tertinggi sebesar 0,226 pada laju reaksi 0,000191.
Berdasarkan teori, semakin besar konversi yang dihasilkan maka akan semakin
bertambah laju reaksi. Hal ini sesuai dengan persamaan :
rA = -C0
2012)
Dimana :
C0

= konsentrasi zat awal (mol/liter)

rA

= kecepatan reaksi (mol/liter.detik)

xA

= konversi reaksi

dXA
dt

(Theodore,

= waktu (menit)
Berikut adalah grafik yang menunjukkan hubungan antara konversi dengan

laju reaksi :

Gambar 4.11 Grafik Hubungan Antara Konversi dengan Laju Reaksi


(Smith, 1997)
Jadi, berdasarkan data yang diperoleh dari percobaan dapat disimpulkan bahwa
terdapat adanya penyimpangan yang mungkin disebabkan oleh :
1.

Kecepatan pengadukan setiap selang waktu tidak sama diakibatkan alat


pengadukan rusak.

2.

Pengambilan sampel yang terlalu lama yang telah melewati waktu pengambilan
sampel yang telah ditentukan.