Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN
Anastesi merupakan kehilangan kemampuan untuk merasakan sakit, disebabkan
karena pemberian obat atau intervensi medis lainnya (Dorland, 2010). Berdasarkan hal
tersebut, anestesi dapat diartikan sebagai suatu tindakan menghilangkan rasa sakit
ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa
sakit pada tubuh. Anestesi sendiri dibagi menjadi dua kelompok yaitu anestesi umum
dan anestesi regional. Anestesi umum adalah keadaan tidak sadar tanpa nyeri yang
bersifat sementara (reversibel) akibat pemberian obat-obatan serta menghilangkan rasa
sakit seluruh tubuh secara sentral. Sedangkan anestesi regional adalah anestesi pada
sebagian tubuh, keadaan bebas nyeri sebagian tubuh tanpa kehilangan kesadaran (Latif,
2009).
Anestesi regional yang meliputi blok spinal, epidural dan kaudal pertama kali
digunakan untuk prosedur pembedahan pada pergantian abad ke-20. Blok sentral ini
sempat digunakan secara luas hingga muncul berbagai laporan yang menyebat prosedur
ini dapat mengakibatkan kerusakan saraf permanen, terutama di Inggris. Namun studi
epidemiologis bersakal besar yang dilaksanakan pada 1950-an menyatakan bahwa
komplikasi ini jarang terjadi bila blok ini dilakukan oleh orang yang terampil,
menggunakan metode asepsis dan dengan agen anestesi yang lebih baru dan aman.
Sekarang blok regional telah digunakan secara luas untuk analgesia kelahiran, sectio
caesaria, prosedur ortopedi, analgesia perioperatif dan tatalaksana nyeri kronik. Selain
sebagai analgetik yang poten, anestesi regional juga dapat menurunkan respon stres
tubuh akibat operasi, mengurangi kebutuhan analgetik sistemik, mengurang efek
samping opioid, menurunkan kebutuhan anestesi umum dan mengurangi nyeri kronik
(Butterworth, et al, 2013).
Sekarang hampir semua operasi di bawah umbilikus telah dilakukan di bawah
pengaruh anestesi regional. Bahkan, terdapat pembedahan jantung dan toraks yang
dilaksanakan dengan metode anestesi ini. Namun, karena operasi intratorakal dan perut
bagian atas dapat mengganggu ventilasi maka anestesi umum dengan intubasi
endotrakeal masih diperlukan. Beberapa studi menunjukkan bahwa morbiditas post
operasi berkurang ketika anestesi regional digunakan baik secara tunggal maupun
1

kombinasi dengan anestesi umum. Blok regional menurunkan insidensi trombosis


venosus dan emboli paru, komplikasi jantung pada pasien dengan risiko tinggi, dan
depresi pernapasan. Regional anestesi juga dapat mengembalikan fungsi gastrointestinal
secara cepat. Penurunan kebutuhan opioid parenteral dapat menurunkan insidensi
depresi pernapasan, hipoventilasi, aspirasi pneumonia dan menurunkan durasi ileus.
Analgetik epidural post operasi dapat menurunkan kebutuhan ventilasi mekanik secara
signifikan pada pasien post operasi toraks atau abdomen major (Butterworth, et al,
2013).
Anestesi

regional

telah

memperluas

metode

yang

dapat

digunakan

anestesiologis, memberikan alternatif selain anestesi umum. Anestesi regional juga


dapat digunakan secara bersamaan dengan anestesi umum atau untuk analgetik post
operasi. Teknik anestesi regional telah terbukti aman ketika dilakukan dengan baik.
Walaupun demikian, masih terdapat risiko komplikasi dimulai dari nyeri punggung
hingga defisit neurologis permanen. Oleh karena itu, praktisi harus memiliki
pemahaman yang baik mengenai anatomi, farmakologi dan dosis toksik agen yang
digunakan, menggunakan teknik steril dan mengantisipasi serta menangani secara cepat
gangguan fisiologis baik intra maupun post operasi (Butterworth, et al, 2013).