Anda di halaman 1dari 11

Akuntansi Bagian Dari Ilmu Sosilal

BAB I
A. Latar Belakang
Pembahasan mengenai akuntansi sangat kental dengan ruang
lingkup dan kegiatan yang berkaitan dengan perusahaan secara
operasional dan profit oriented. Bahkan dalam penelitian mengenai
Akuntansi, khususnya penelitianan keakademikan yang notabene masih
setia

dengan metode

penelitian yang bersifat ke-angkaan yang

ujungnya tak lain akan menggunakan teknik kuantitatif. Padahal di sisi


lain, jika ditelik lebih dalam mengenai akuntansi akan ditemukan
karakter-karakter keakuntansian yang dapat di sajikan dalam berbagai
dimensi, sudut pandang, paradigma, atau apa lagi sebutannya yang
preveren. Apakah akuntansi itu adalah suatu ilmu, atau mengandung
ilmu, atau bagian dari ilmu, atau mungkin tak ada kaitannya sama
sekali dengan ilmu? Hal itulah yang justru telah menimbulkan rasa
penasaran bagi-(mungkin sebagaian kecil)-dari orang-orang yang yang
berkompeten

membidanginya

untuk

melakukan

suatu

penelitian

tentangnya. Lalu apakah akuntansi yang disinyalir memiliki kaitan yang


erat dengan ilmu atau keilmuan telah memiliki posisi yang tetap untuk
dinobatkan sebagai disiplin ilmu tertentu. Dalam sebuah sumber,
defenisi ilmu adalah pengetahuan yang berupa penjelasan tentang
fenomena dan gejala-gejala kealamian maupun sosial yang terbebas
dari pertimbangan nilai karena memang harus deskripasikan sesuai apa
adanya.
Sebelum membahas apa itu ilmu, sebaiknya terlebih dahulu harus
diketahui beberapa definisi dari akuntansi itu sendiri. Apabila kita
perhatikan telah banyak sekali definisi akuntansi yang diajukan oleh
para ahli dan lembaga-lembaga terkait. Pada awal mulanya, akuntansi
dipandang

sebagai

suatu

seni

karena

tersirat

kebutuhan

akan

keterampilan tertentu di dalam praktiknya. Seni yang dimaksud sebagai


defenisi akuntansi pada saat itu Senada dengan pengertian Akuntansi
menurut American Institute of Certified Public Accountans (1953),
akuntansi adalah seni pencatatan, pengelompokan, dan peringkasan,
dalam bentuk yang berarti tentang transaksi dan peristiwa ekonomi
(keuangan) dan interprestasi hasilnya. Jadi, jika akuntansi dikatakan
sebagai suatu seni maka yang dimaksud seni disini adalah bagaimana
cara menerapkannya dan bukan sifatnya.
Selanjutnya akuntansi juga diterjemahkan ke dalam beberapa
pengertian (multi tafsir) sesuai dengan arah dan perspektif masingmasing. Salah satu sudut pandang akuntansi yang bisa dilihat dari cara
yang berbeda adalah hubungan akuntansi dengan keilmuan (sains).
Para akuntan memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang proses
akuntansi

dalam

menguraikan

perbedaan

teori-teori.

Pandangan-

pandangan tersebut adalah akuntansi sebagai bahasa, akuntansi


sebagai catatan peristiwa yang lalu, akuntansi sebagai realitas ekonomi
saat

ini,

akuntansi

sebagai

sistem

informasi,

akuntansi

sebagai

komoditas, dan akhirnya, akuntansi sebagai sebuah ideologi.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang akan
dipecahkan melalui telaahan dan kajian-kajian dari hasil penelitian atau
teori-teori yang sudah dibangun oleh para ilmuan/peneliti sebelumnya,
adalah :
1. Apakah Akuntansi Suatu ilmu
2. Jika akuntansi suatu ilmu, apakah masuk sebagai ilmu alam ataukah
sebagai ilmu sosial

BAB II
A. Kerangka Teori
Pengetahuan akuntansi dapat di pandang dari dua sisi pengertian
yaitu sebagai pengetahuan profesi (keahlian) yang dipraktikan di dunia
nyata dan sekaligus sebagai suatu disiplin pengetahuan yang diajarkan
di perguruan tinggi. Dari segi profesi, akuntansi sering dipandang
semata-mata sebagai serangkaian prosedur, metoda dan teknik tanpa
memperhatikan teori di balik praktik tersebut. Akuntansi dipandang
sebagai pelaksanaan dan penerapan standar untuk

menyususun

seperangkat laporan keuangan.


Dari segi lain, sebagai objek pengetahuan diperguruan tinggi,
akademisi memandang akuntansi sebagai dua bidang kajian yaitu
bidang praktik dan teori.

Bidang

praktik

berkepentingan

dengan

masalah bagaimana praktik dijalankan sesuai dengan PABU. Bidang


teori berkepentingan dengan penjelasan, deskripsi, dan argumen yang
dianggap melandasi praktik akuntansi yang semuanya dicakup dalam
suatu pengetahuan yang disebut dengan teori akuntansi. Pendidik
akuntansi berperan untuk menjembatani praktik dengan teori akuntansi
sehingga praktik akuntansi selalu berkembang menuju keadaan yang
lebih baik.
Sebagai sains, kegiatan penjelajahan dan riset akuntansi lebih
diarahkan untuk menguji secara ilmiah teori-teori tersebut yang
diajukan sebagai penjelasan fenomena akuntansi, alam, atau sosial.
Dari

pengertian

tersebut,

tujuan

teori

adalah

menjelaskan

dan

memprediksi. Bila pengertian di atas diterapkan untuk akuntansi, teori


akuntansi sering dimaksudkan sebagai sains yang berdiri sendiri yang
menjadi sumber atau induk pengetahuan dan praktik akuntansi.
Memang akuntansi belum dapat dikategorikan sebagai ilmu dalam
artian ilmu pengetahuan murni, tetapi akuntansi bukanlah pula sematamata sebagai pengetahuan teknik dan mekanik yang isinya hanya
tentang bagaimana cara mencatat dan menyusun laporan keuangan
saja (Suwardjono), tetetapi di dalamnya terdapat konsep-konsep yang
fundamental, prinsip dan standar yang dihasilkan dari suatu proses
pemikiran yang ilmiah atau menggunakan rnetodologi yang ilmiah.
Karakteristik Sains :

Pengetahuan untuk menjelaskan dan meramalkan gejala alam dan

sosial seperti apa adanya dengan metoda ilmiah.


Menguji dan menetapkan kebenaran penjelasan atau pernyataan

tentang suatu masalah.


Bebas nilai (value-free).
Karakteristik:
koherensi,

korespondensi,

keterujian,

dan

keuniversalan.
Karakteristik akuntansi sebagai sains:

Akuntansi sebagai bidang pengetahuan yang menjelaskan fenomena

akuntansi secara objektif, apa adanya, dan bebas nilai.


Penjelasan dinyatakan dalam bentuk aksioma, proposisi, prinsip
umum,

atau

hipotesis

yang

tidak

langsung

berkaitan

dengan

kebijakan (praktik).
Pertimbangan dan penyimpulan dituntun oleh kaidah ilmiah (rules of
science).
Perdebatan mengenai definisi akuntansi dimulai sejak tahun 1930

sampai dengan 1970. Para akuntan memiliki pandangan yang berbedabeda tentang proses akuntansi dalam menguraikan perbedaan teoriteori. Pandangan-pandangan tersebut adalah akuntansi sebagai bahasa,
akuntansi sebagai catatan peristiwa yang lalu, akuntansi sebagai

realitas ekonomi saat ini, akuntansi sebagai sistem informasi, akuntansi


sebagai komoditas, dan akhirnya akuntansi sebagai sebuah ideology.
Adapun definisi akuntansi menurut para ahli yaitu sebagai berikut.
1. Akuntansi Sebagai Seni (Art)
Akuntansi sebagai seni menurut AICPA (American Institute of Certified
Public

Accountant,

1953)

adalah

seni

(art)

mencatat,

mengklasifikasikan, dan meringkas transaksi atau peristiwa yang


dilakukan sedemikian rupa dalam benuk uang, atau paling tidak
memiliki sifat keuangan dan menginterpretasikan hasilnya.
Definisi di atas lebih menekankan akuntansi sebagai seni bukannya
akuntansi sebagai body of knowledge. Artinya penerapan prosedur
akuntansi dalam menghasilkan laporan keuangan, sangat tergantung
pada lingkungannya dan dipengaruhi berbagai faktor pertimbangan
(judgment) tertentu.
2. Akuntansi Sebagai Komunikasi
Akuntansi

sebagai

komunikasi

menurut American

Accounting

Associaion (1966:1) adalah proses mengidentifikasi, mengukur dan


mengkomunikasikan

informasi

untuk

membanu

pemakai

dalam

membuat keputusan atau pertimbangan yang benar. Definisi ini


menunjukkan bahwa akuntansi merupakan media/alat yang dapat
digunakan untuk menyampaikan informasi kepada pemakai yang
berkepentingan dengan masalah pengelolaan perusahaan.
3. Akuntansi Sebagai Aktivitas Jasa
Definisi

akuntansi

ini

menurut Accounting

Principles

Board dalam Statement No. 4 (1970) menyatakan bahwa akuntansi


adalah kegiatan jasa. Fungsinya adalah untuk memberikan informasi
kuantitatif,

termasuk

yang

bersifat

keuangan,

tentang

entitas

ekonomi, yang diharapkan bermanfaat bagi pengambilan keputusan


ekonomi.
4. Akuntansi Sebagai Teknologi
Akuntansi tidak memiliki sifat-sifat sebagai ilmu murni, sehingga tidak
memerlukan teori akuntansi dalam arti hipotesis-hipotesis. Menurut
Sudibyo (1987) akuntansi merupakan teknologi, sehingga harus

diperlakukan

sebagai

teknologi.

Teknologi

digunakan

untuk

mengendalikan variabel-variabel alam dan sosial untuk mencapai


kehidupan tertentu yang lebih baik. Apabila akuntansi diarahkan
menjadi teori, maka seharusnya teori akuntansi, bebas dari nilai sosial
dan tidak bersifat normatif. Teori semestinya tidak mempengaruhi
secara langsung terhadap praktik-praktik akuntansi, karena teori tidak
mengendalikan variabel-variabel yang diteorikan. Paton dan Littleton
(1940) juga mendefinisikan akuntansi sebagai teknologi. Meskipun
demikian, terdapat pendapat yang menyatakan akuntansi diarahkan
ke dalam ilmu murni.

B. Tinjauan Hasil Penelitian


Dalam pernyataan Jensen (1983), ada beberapa pengertian
perihal kajian akuntansi yakni : Pertama,

bahwa domain (ranah) di

mana akuntansi yang pada akhirnya dipraktikkan adalah organisasi.


Kedua,

Penekankan

bahwa

kajian

atas

organisasi (organization

studies) berada dalam wilayah ilmu-ilmu sosial (social sciences,


maka klaim bahwa kajian akuntansi bersifat monoparadigmatic atau
single perspective sulit bisa diterima secara ilmiah. Lebih sulit lagi jika
harus menerima pandangan bahwa kajian atas masalah-masalah
akuntansi hanya boleh dilakukan mengikuti tradisi keilmuan yang
paling dikenal selama ini, yakni ilmu ekonomi, dan juga psikologi
maupun sosiologi. Bahkan Di luar ketiganya tersebut, tentu saja juga
masih banyak ilmu sosial lain yang berpotensi untuk dijadikan
landasan

teoritik

anthropology

dalam

(terutama

jika

kajian-kajian
berkaitan

akuntansi,

dengan

seperti

budaya), politik,

agama, dan sebagainya.


Dalam
Morgan

sosiologi,

(1979)

terutama

bisa

sosiologi

dikatakan

organisasi,

sebagai

peletak

Burrell

dan

fondasi

atas

kategorisasi secara sistematik perspektif sosiologis dalam


atas

masalah-masalah

organisasi

dimana

akuntansi

pengkajian

termasuk

di

dalamnya. Kontribusi karya Burrell dan Morgan ini tidak saja dalam

bentuk suatu cara yang lebih mudah yang ditawarkan bagi para
peneliti berikutnya untuk melakukan pemetaan atas dasar perspektif
sosiologis

atau

atas

keorganisasian

berbagai

teori

maupun

(termasuk akuntansi)

yang

hasil

penelitian

telah

dilakukan

sebelumnya, namun sekaligus juga memberikan pencerahan berupa


ruang potensi penelitian ilmiah yang lebih terbuka luas, sesuatu yang
sebelumnya belum banyak diketahui atau disadari oleh para ilmuwan
sosial.
Menurut pandangan Mautz bawa akuntansi adalah ilmu sosial
yang

lengkap,

dan

menurut

argumentasinya

adalah:

akuntansi

berhubungan dengan perusahaan, yang tentunya merupakan kelompok


sosial;

akuntansi

berkepentingan

dengan

transaksi-transaksi

dan

kejadian-kejadian ekonomi lainnya yang memiliki konsekuensi dan


mempunyai dampak atas hubungan sosial; akuntansi menghasilkan
pengetahuan yang berguna dan berarti bagi orang-orang yang terlibat
dalam aktivita-aktivitas yang memiliki implikasi sosial; akuntansi pada
hakikatnya bersifat mental menurut dasar-dasar pedoman yang ada,
akuntansi adalah suatu ilmu sosial.
Melalui pengungkapan beberapa fakta historis, salah satunya
adalah kesadaran
berubah

bahwa

pemahaman

atas

lembagakan
multiple

sedang

dan memerlukan upaya-upaya interdisiplinary studies tidak

saja mulai dirasakan bahkan mulai secara


Chicago

akuntansi

dalam

penelitian-penelitian

sistematik

doktoral

dicoba

akuntansi

di

University, ingin menegasakan bahwa akuntansi adalah


paradigm science

dan bukan

single

paradigm science.

Meskipun kenyataan ini belum banyak disadari di kalangan akuntan di


Indonesia, namun keyakinan ini penting secara akademik. Implikasinya
sangat terasakan pada berbagai pendekatan penelitian yang dilakukan
di berbagai program doktor akuntansi di tanah air yang sangat
mempertahankan ortodoxy dengan menutup secara rapat semua
kemungkinan interdisciplinary
approaches on accounting.

studies

atau

multiparadigmatic

Dengan

mengacu

kepada

karakteristik

interpretivism

yang

diberikan Chua (1988), terdapat poin penting yang bisa diidentifikasi,


yaitu bahwa tradisi interpretivisme ini

menekankan

pada

upaya

mengonstruksi (constructivis) dan menafsirkan tindakan masyarakat,


baik melalui pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya maupun
sebagaimana yang direfleksikan melalui pengalaman mereka (aktor
atau pelaku) yang terlibat dalam tindakan sosial. Oleh sebab itu,
tujuan sosiologi interpretive adalah menemukan makna tersembunyi
yang ada di balik tindakan-tindakan sosial sebagaimana dipahami
oleh para pelaku (aktor yang diteliti) melalui suatu upaya pemahaman
yang baik.
Berger
masyarakat

dan Luckman,
(society)

pada

misalnya,
hakikatnya

berpendapat
suatu bentukan

bahwa
manusia;

masyarakat juga adalah suatu realitas sosial yang obyektif; dan


manusia merupakan produk sosial (Appelrouth dan Edles, 2007).
Gagasan Berger dan Luckmann ini memperkuat apa yang sebelumnya
dipahami sebagai gagasan interactionism, yakni
manusia

dengan

masyarakat
ini,

Berger

yang
dan

antara

seorang

melingkupinya.

Dengan

pemahaman

seperti

Luckmann

mengatakan

bahwa masyarakat, termasuk suatu

lebih

lanjut

organisasi, pada

hakikatnya merupakan suatu kondisi stabil dari suatu proses saling


memengaruhi

antara

manusia

dengan

lingkungan

yang

melingkupinya yang diikat oleh pemahaman (cara pandang) dan


nilai-nilai yang sama.

BAB III
A. Kesimpulan
Akuntansi

secara

konvensional

lebih

mengutamakan

dan

mengedepankan pemilik modal dan pihak manajemen, tanpa adanya


perhatian pada masyarakat dan lingkungan sekitar. Demikian juga
dalam

pertanggungjawaban

atas

pelaporan

laporan

akuntansinya

berorientasi pada kepentingan stockholders semata. Namun pada saat


ini, defenisi akuntansi tidak dilihat hanya dari aspek konvensional yang
eksistensi kepraktisannya sudah mengikuti perkembangan zaman yang
mau tidak mau harus disesuaikan, sehingga lebih mengarah pada sisi
ke-multiparadigmanya. Begitu juga dengan akuntansi yang hanya
dikaitkan dengan tekhnik dan praktik, namun terlebih dari itu bahwa
akuntansi dapat ditafsirkan dari hakekat teori yang melingkupinya.
Selanjutnya, berdasarkan telaahan dari berbagai hasil penelitian
terdahulu maupun dari berbagai kajian yang mendasari keilmuan
akuntansi, maka dapat disimpulkan bahwa akuntansi itu adalah suatu
bagian dari disiplin ilmu ekonomi dimana ilmu ekonomi itu sendiri
sangat erat kaitannya dengan unsur-unsur atau bagian dari aktifitas
ekonomi, yaitu perusahaan. Dimana perusahaan merupakan komunitas
yang didalamnya penuh dengan kegiatan-kegiatan yang tidak terlepas
dari hubungannya dengan manusia.