Anda di halaman 1dari 57

KULIAH GENESA ENDAPAN BAHAN GALIAN

Oleh :
Najamuddin Nawawi

GENESA ENDAPAN (DEPOSIT)


BAHAN GALIAN/MINERALISASI
I. PENDAHULUAN
- Dibutuhkan dan dicari dalam mendukung kegiatan
industri.
- Mengerti dan memahami asal muasal/genesa (proses
terakumulasinya suatu deposit mineral).
- Petunjuk dalam kegiatan eksplorasi, agar terarah dan
evaluasi prospek dan ekonomis suatu bahan galian.
- Petunjuk dalam kegiatan tatacara eksploitasi dan
pengolahan

Genesa endapan bahan galian adalah genesa bahan galian


yang difokuskan pada logam atau bijih (ore), atau dapat juga
diartikan proses pembentukan bijih, biasa juga disebut
mineralisasi logam (primer dan sekunder).
Beberapa pengertian dari bahan galian :
1. UU no 11/1967, tentang pokok-pokok pertambangan,
diartikan sebagai unsur-unsur kimia, mineral, bijih dan segala
macam batuan, termasuk batu mulia yang merupakan endapan
alam;
2. PP no. 27/1980, penggolongan bahan galian atas 3 (tiga) : 1.
Golongan A, gol bahan galian strategis, yaitu strategis terhadap
pertahanan dan keamanan negara, serta perekonomian negara
(migas, unsur radio aktif, batubara, dll)

2. Golongan B, golongan bahan galian vital, yaitu dapat


menjamin hajat hidup orang banyak atau yang dianggap
dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara luas (besi,
mangan, kromit, bauksit, tembaga, timah, seng, emas,
platina, air raksa, dll);
3. Golongan C, golongan bahan galian yang tidak termasuk
golongan A dan B (pasir, batu, talk, magnesit, batugamping,
pasir kuarsa, dll).
3. UU no.4/2009, tentang pertambangan, mineral dan
batubara.
- Defenisi mineral, senyawa anorganik yang terbentuk di
alam, memiliki sifat fisik dan kimia tertentu serta susunan

kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan,


baik dalam bentuk lepas atau padu.
- Penggolongan bahan galian atas 5 (lima), yaitu :
Radioaktif, batubara, logam, bukan logam dan golongan
batuan

II. MATERI BAHASAN


1. Pembentukan endapan bahan

galian/mineralisasi
magmatik : magmatik awal (orthomagmatik), dan
magmatik akhir (pegmatik/pneumatolitik)
2. Pembentukan endapan bahan galian hidrotermal
(porfiri, mesotermal dan epitermal)
3. Pembentukan endapan residu, dan
4. Pembentukan endapan bahan galian yang
berhubungan dengan aktifitas endapan aluvial

III. HUBUNGAN KONSEP/KAIDAH GEOLOGI DENGAN


PROSES PEMBENTUKAN ENDAPAN BAHAN GALIAN
1. Berhubungan dengan unsur tektonik atau keberadaannya
dapat diterangkan dengan teori tektonik lempeng
2. Penyebaran atau keterdapatannya dipermukaan bumi
tidak merata
3. Pembentukan endapan bahan galian berhubungan
dengan :
A. Magma, larutan pijar/panas yang bersifat mobil dan
terbentuk secara alamiah pada mantel bumi bagian atas
atau pada kerak bumi; temperatur sangat panas dari

625 (magma felsik) - > 1200 derajat celsius (magma


mafik), komposisi magma tidak homogen, sebagian
kaya/dominan unsur ferromagnesian dan sebagian kaya
unsur silika, sodium, potasium, volatile, zenolith reaktif
atau substansi lainnya.
B. Komposisi magma juga akan terus berubah, karena
adanya reaksi kimia selama proses asimilasi dan
difrensiasi dalam magma berlangsung. Magma tidak
bersifat statis dan bukan merupakan suatu sistim tertutup.
- Asimilasi magma adalah proses larutnya batuan samping
(country rock) kedalam magma sebagai akibat pergerakan
magma.

Penyebab terjadinya pergerakan magma adalah :


1. Tekanan grafitasi batuan sekitarnya terhadap dapur
magma
2. Tekanan lateral karena gerakan tektonik
3. Perubahan volume pada waktu magma mengkristal
dimana gas gas keluar
4. Stoping (batuan samping yang jatuh ke dalam magma
akibat pergerakan/desakan magma ke batuan samping)
- Difrensiasi magma adalah proses yang penyebabnya
magma terpisah menjadi 2 bagian atau lebih yang
berbeda komposisi

Difrensiasi magma meliputi : 1. Liquid immiscibility,


pembentukan 2 liquit yang tidak bercampur dalam suatu
tempat (spt minyak dan air), 2. Kristalisasi fraksional,
pemisahan kristal yang terbentuk lebih dulu dari larutan
karena gaya gravity settling, mekanika filter pressing
atau pengaruh arus konveksi dalam dapur magma,
3. Transport material dalam larutan (magma) oleh
pemisahan gas dari magma terletak pada bagian atas
dapur magma, dan 4. Dilusi termal, gradient temperatur
menyebabkan perbedaan mineral yang terbentuk.

Lingdren, 1911, membuat suatu klasifikasi yang


didasarkan
pada
genetik/asal
muasal
suatu
endapan/deposit bijih/ore (deposit yang meliputi mineral
bijih, mineral gang dan batuan samping, dimana dapat
diekstraksi satu atau lebih jenis logam). Dengan fokus
hasil penelitian terhadap kumpulan mineral yang
dilakukan, baik di lapangan maupun dilaboratorium. Fokus
penelitian adalah kondisi tekanan (P) dan temperatur (T)
pembentukan dari masing masing mineral.
Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut, disimpulkan
bahwa kebanyakan deposit/endapan mineral terbentuk
dari :

(I) Proses fisika-kimia dalam intrusi dan ekstrusi batuan


beku, larutan atau dalam gas, yang terkumpul dalam
jumlah besar, dan
(II) Proses konsentrasi secara mekanik
Oleh karena klasifikasi tersebut didasarkan terhadap T dan P
dan kadang hanya didasarkan pada pengamatan
dilaboratorium, maka beberapa deposit belum dapat
dimasukkan kedalam klasifikasi tersebut, dan harus
dipisahkan dengan istilah lain, seperti deposits of
native copper dan deposits resulting from oxidation
and supergen sulfide enrichment serta regionally
metamorphosed sulfide deposits.

KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN

NIGGLI (1925), didasarkan terhadap


magmatik menjadi plutonik dan vulkanik

pemisahan

proses

LINDGREN (1929), didasarkan terhadap hasil pengamatan


lapangan dan laboratorium terhadap deposit, yaitu tekanan (P)
dan temperatur (T)
KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN MENURUT
SCHNEIDERHOEN (1941)
KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN MENURUT
PETRASCHECK
KLASIFIKASI ENDAPANN BAHAN GALIAN MENURUT Mead L.
Jensen dan Alan M. Bateman (1981)

KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN MENURUT NIGGLI

I.

Plutonik (Intrusif)
A. Ortomagmatik
1) Intan, platina khrom
2) Titan besi nikel tembaga
B. Pneumatolitik Pegmatitik
1) Logam logam berat alkali tanah fosfor titan
2) Si alkali fluorin Br Sn Mo tungsten
3) Assosiasi tourmalin kuarsa
C. Hidrotermal
a) Besi tembaga emas arsenik
b) Timbal seng perak
c) Nikel kobalt arsenik perak
d) Karbonat oksida sulfat - fluorida

KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN MENURUT NIGGLI

II.

Volkanik (extrusif)
a) Sn Ag Bi
b) Logam logam berat
c) Emas perak
d) Sb Hg
e) Tembaga (native copper)
f) Endapan subaquatic volcanik dan biokimia

KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN MENURUT LINDGREN (1929)

KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN MENURUT LINDGREN (1929)

KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN MENURUT SCHNEIDERHOEN (1941)


I.

Endapan2 intrusif dan magmatik cair

II.

Endapan2 pneumatolitik
A.
Urat2 pegmatitik
B.
Urat2 pneumatolitik dan impregnasi
C.
Ubahan2 pneumatolitik kontak

III.

Endapan2 hidrotermal
A.
Asosiasi emas dan perak
1.
Kompak hipabisal (cebakan dalam)
a. Urat2 emas kuarsa katatermal (sampai hipotermal)
b. Endapan2 impregnasi mengandung emas pada batuan silikat
c. Endapan2 ubahan (replacement) mengandung emas pada batuan karbonat
d. Endapan2 emas timbal selenium - mesotermal
2.
Kompak subvulkanik (dekat permukaan)
a. Urat2 emas kuarsa dan urat2 perak emas propilitik epitermal
b. Urat2 emas telurida epitermal
c. Urat2 emas selenium epitermal
d. Endapan2 emas alunitik
e. Endapan2 perak epitermal

KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN MENURUT SCHNEIDERHOEN (1941)


B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
4.

Asosiasi pirit dan tembaga


Asosiasi timbal perak seng
Asosiasi perak kobalt nikel bismut uranium
Asosiasi timah perak tungsten bismut
Asosiasi antimon raksa arsen selenium
Asosiasi nir sulfida
Asosiasi nir metalik

Endapan2 ekshalasi

KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN MENURUT PETRASCHECK


I.

Endapan bijih magmatogen


1.
Endapan magmatik cair (intra magmatik)
2.
Endapan pegmatitik (peri magmatik)
3.
Endapan pneumatolitik (peri magmatik)
4.
Endapan hidrotermal (apo magmatik)
5.
Endapan vulkano sedimenter (mis. kuroko)

II.

Endapan hasil pelapukan


1.
Endapan hasil pelapukan mekanis (mis. Eluvial Pt)
2.
Endapan hasil pelapukan kimiawi (mis. laterit)
3.
Endapan hasil larutan pelapukan (mis. Ni - hidrosilikat)

III.

Endapan sedimenter
1.
Endapan sedimenter mekanis (mis. Aluvial Au, Sn)
2.
Endpaan sedimenter kimiawi dan sin diagenetik
a)
Endapan hasil larutan pelapukan yang terkonsentras di daerah kering (mis.
Endapan Cu Red Bed)
b)
Endapan hasil larutan pelapukan larutan garam yang termigrasi (mis. Endapan
Pb Zn Mississippi)

KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN MENURUT PETRASCHECK


c)
d)
e)

Endapan oolitik marine (mis. Fe Oolitik, Mn oolitik)


Endapan sulfida sedimenter (mls, Kupfershiefer)
Endapan akibat pengaruh pemisahan bakteri (mls. bog iron ore, end danau)

IV.

Endapan Metamorfosa
1.
Endapan metamorfosa kontak
2.
Endapan metamorfosa regional

V.

Endapan metamorfogen
1.
Endapan metamorfosa hidatogen
2.
Endapan metamorfosa magmatogen
3.
Endapan granitisasi (mis. End. Sulfida berbentuk skelet)

VI.

Endapan regenerasi
1.
Endapan hidrotermal sekunder (mis. End Pb/Zn di batuan gamping, Kara)
2.
Endapan regenerasi palingen (mls. End. Sn Ag Sb di Bolivia)

Mead L. jensen dan Alan M. Bateman (1981) mengembangkan klasifikasi sebagai


berikut :
TEORI

PROSES

TIPE DEPOSIT

Terbentuk Oleh Proses Internal

Kristalisasi magmatik Presipitasi minerak bijih


Magmatic
sebagai unsur utama
crystallization
atau unsur minor batuan
beku dalam membentuk
disseminated gratis atau
segregation.

1. Disseminated di
kimberlit
2. Mineral REE di
carbonalites
3. Semua deposit
granit, basal, dunit,
nefelin senit

Segresi magmatik
Magmatic
segregation

1. Layer Kromit di
Great Dyke
Zimbabwe Dan
bushveld Complex
RSA

1. Tubuh bijih tembaga


nikel Sudbury,
Canada; Pechenga,
USSR dan Yilgam
Blocl, Westerm

Pemisahan minerak biji


oleh kristalisasi traksinasi
dan proses yang
berhubungan selama
difrensiasi magma

Liquation. Pemisahan
liquid (liquid
immiscibility), pemisahan
sulfida dari magma,
larutan sulfida-oksida
atau oksida yang

Mead L. jensen dan Alan M. Bateman (1981) mengembangkan klasifikasi sebagai


berikut :
TEORI

PROSES

TIPE DEPOSIT

Terbentuk Oleh Proses Internal

Hidrotermal
hydrothermal

Pengendapan dari hot


aquaeous solution, yang
bisa berasal dari
magmatik, metamorfik,
atau sumber lainnya

1. Vein dan stockwork


timah-tungstentembaga Cornwall,
UK
2. Deposit tembaga
porfiri panguna, PNG
dan Bingham, USA

Sekresi Lateral
Lateral secretion

Difusi material
pembentuk bijih atau
gangue dari batuan
samping kedalam
patahan atau struktur
lainnya

1. Deposit tembaga
yellowknife, Canada
2. Deposit emas
Mother Lode, USA

Mead L. jensen dan Alan M. Bateman (1981) mengembangkan klasifikasi sebagai


berikut :
TEORI

PROSES

TIPE DEPOSIT

Metamorfisme kontak
atau regional yang
menghasilkan deposit
mineral industri.

Deposit pirometasomatik
(skarn) terbentuk oleh
proses replasemen
batuan samping disekitar
intrusi.

Konsentrasi awal atau


furlher elemen bijih oleh
proses metamorfisme,
seperti granitisasi, proses
alterasi, dll.

1. Deposit Andalusit,
Transvaal, RSA.
2. Deposit garnet, NY,
USA

1. Deposit tembaga
Mackay, USA dan
Craigmont, Canada.
2. Deposit talk,
Luzenac, France

1. Beberapa vein emas


dan deposit
disseminated nikel
dalam tubuh
ultramafik

Terbentuk Oleh Proses Internal

Proses Metamorfik
Metamorphic
Processes

Mead L. jensen dan Alan M. Bateman (1981) mengembangkan klasifikasi sebagai


berikut :
TEORI

PROSES

TIPE DEPOSIT

Terbentuk Oleh Proses eksternal

Akumulasi mekanik

Konsentrasi gravitasi,
1. Timah placer
mineral resisten ke dalam
malaysia
endapan placer.
2. Emas placer Yukon,
Canada
3. Deposit kaolin
georgia, USA

Presipitasi
sedimenter
Sedimentary
precipitates

Presipitasi particular
elements dalam suitable
sedimentary
environment, dengan
atau tanpa intervensi
organismebiologis

Proses Residual

Pencucian (leaching)
1. Nikel laterit new
elemen yang mudah larut
caledonia.

1. Banded Iron
Formations Of The
Precambrian
Shields.
2. Deposit Mangan
Chiatri, Ussr
3. Deposit Evaporit
Zechstein, Eropa.
4. Deposit Posfat
Florida

Mead L. jensen dan Alan M. Bateman (1981) mengembangkan klasifikasi sebagai


berikut :
TEORI

PROSES

TIPE DEPOSIT

Terbentuk Oleh Proses eksternal

Pengayaan sekunder
atau supergen
Secondary or
supergene
enrichment

Pencucian (leaching)
1. Beberapa bonanza
elemen beberapa dari
emas dan perak.
bagian atas suatu deposit 2. Bagian atas
mineral dan kemudian
sejumlah deposit
dipresipitasikan pada
tembaga porfiri
kedalaman untuk
membentuk konsentrasi
yang tinggi

Volcanic exhalarit
(=sedimentary
exhalatil)

Exhalations larut
hidrotermal di
permukaan, biasanya di
bawah laut dan
umumnya menghasilkan
tubuh bijih stratiform

1. Deposit Logam
Dasar Maggan,
Jerman ;
2. Deposit Kuroko,
Jepang; Black
Smoker Deposits Of
Modern Oceans
3. Merkuri Almaden,
Spanyol
4. Deposit Solfatara
(Kaolin + Alunit),

FLUIDA HIDROTERMAL
(larutan hidrotermal)
Sisa magma semakin banyak mengandung air meteorik (juvenil). Air
magmatik mengandung volatil dan larutan mineral yang memiliki titik
beku yang cukup rendah dan merupakan mother liquors dari larutan
hidrotermal. Bowen dan ahli geologi lainnya menyatakan bahwa larutan
hidrotermal adalah residu dari injeksi pegmatit setelah unsur-unsur
pegmatit mengkristal.
Kandungan volatil dan larutan mineral yang titik beku yang cukup
rendah, atau mineralizers yang mengandung : (1). Elemen/unsur bersifat
mobil dalam jumlah cukup banyak dalam batuan;
(2)
Elemen/unsur, seperti tembaga (Cu), lead (Pb), zink (Zn), perak (Ag),
Emas (Au), stibnit (Sb), besi (Fe), mangan (Mn) dll;
(3)
Elemen/unsur Li, Be, B, Rb, dan Cs; dan; (4) Alkali yang dijumpai dalam
jumlah cukup banyak, spt : alkali tanah dan volatil, khususnya Na, K, Ca,
Cl dan CO2. Keseluruhannya memegang peranan penting .

Keseluruhan memegang peran penting terhadap transportasi


logam pada proses hidrotermal.
Kandungan air magmatik menyebabkan : viskositas magma
berkurang; titik beku mineral semakin rendah dan
memungkinkan pembentukan mineral yg tidak bisa terbentuk
pada kondisi dry melt
Komposisi air magma dapat ditentukan dari (White, 1967) dari
: (1). Tipe magma dan sejarah kristalisasi; (2) Hubungan
temperatur dan tekanan selama dan setelah pemisahan dari
magma; (3) Jenis air lain yg kemungkinan bercampur dengan
air magma pada saat bergerak; dan (4) reaksi dengan batuan
samping.

Air merupakan komponen bersifat mobil paling penting pada


magma, jumlahnya terus bertambah seiring dengan proses
difrensiasi, dan memegang peranan penting terhadap
transportasi komponen bijih (logam). Prosentasenya dalam
magma dari 1 15%, merupakan fungsi dari berbagai
parameter, spt : kandungan air pada magma awal; banyaknya
air yang masuk pada batuan samping; tekanan magma dan
tekanan dinding dapur magma dan temperatur.
Pemahaman sifat fluida (hidrotermal) sangat penting untuk
menjelaskan tentang potensi kimia dan pergerakan fluida
disepanjang zona-zona lemah (patahan, kekar, pori-pori, dll).
Selain faktor tersebut di atas yg berpengaruh terhadap
pembentukan endapan bijih/mineralisasi,maka faktor lain yang

Adalah : kandungan volatil, densitas fluida, salinitas dan


kandungan senyawa-senyawa kompleks dalam fluida.
Kandungan volatil, jumlahnya sedikit, tetapi berperan dalam
mengurangi viskositas larutan, menurunkan titik melting,
mengumpulkan dan media transportasi logam, dan juga
berperan penting dalam pembentukan deposit/endapan mineral.
Densitas fluida hidrotermal mempengaruhi : viskositas,
dinamika aliran dan mengontrol kelarutan komponen bijih
(Helgeson, 1964)
Salinitas, berhubungan langsung dengan konsentrasi logam
pada temperatur tinggi, dimana semakin tinggi salinitas
fluida

maka semakin besar konsentrasi logam berat dalam


larutan (Elis, 1970).
Senyawa kompleks yang paling penting dalam fluida adalah
kompleks klorida, karena perannya dalam transportasi dan
pembentukan endapan/deposit bijih (logam). Kompleks ini
dapat membentuk bijih dengan berbagai unsur, seperti : Cu,
Pb, Ag dan Hg

AIR METEORIK,

adalah air yg berasal dr atmosfir (hujan,


salju), mengalami perkolasi kebawah permukaan tanah/batuan
dan bereaksi dg lithosfer dalam proses supergen. Dalam proses
tersebut , maka air meteorik akan melarutkan oksigen, nitrogen,
karbon dioksida, dan gas-gas lain, serta berbagai unsur kerak
bumi lainnya (Sodium, Kalsium, Magnesium, Sulfat dan
karbonat) yang sangat penting untuk mengikat dan membentuk
endapan
bijih.

AIR LAUT, karakteristik air laut sebagai fluida pembentuk


bijih adalah dalam konteks evaporasi, fosforit, submarine
exhalites, nodul mangan, dan endapan kerak samudera.
Air laut diasumsikan dapat : (1) berperan pasif sebagai
medium dispersi untuk pelarutan ion, molekul, dan
partikel suspensi, dan (2) berperan aktif dalam melarutkan
ion dalam batuan di lantai dasar samudera.
AIR KONAT, adalah air yang terperangkap dalam batuan
sedimen bersamaan dengan pengendapan material
sedimen. Air tersebut banyak diteliti karena berhubungan
dengan eksplorasi dan produksi lapangan minyak, serta
banyak
mengandung
sodium,
klorida,
kalsium,
magnesium, bikarbonat, dan kadang juga stronsium,

Barium, dan nitrogen (White, 1968). Pada kondisi aktif, air


konat memiliki daya pelarutan yang sangat tinggi terhadap
unsur-unsur logam.
FLUIDA METAMORFIK, air konat dan meteorik yang berada
dalam bumi, karena pengaruh panas dan tekanan yang
dihasilkan dari intrusi magma atau metamorfisme regional,
maka akan menjadi sangat reaktif (Shand, 1943). Perubahan
inilah yang kemudian menjadi air meteorik yang diyakini
sangat aktif sebagai pembawa bijih.

KONSENTRASI MAGMATIK
Endapan magmatik dihasilkan dari kristalisasi langsung,
atau konsentrasi oleh proses difrensiasi di dalam dapur
magma.
Beberapa bijih (endapan yg meliputi mineral bijih,
mineral gang dan batuan samping, dapat diekstraksi
satu atau lebih jenis logam) terbentuk karena adanya
efek fisika, seperti gravitasi (contoh pembentukan
khromit pada lantai dapur magma) dan sebagian
terbentuk karena perubahan kimia, spt perubahan pH yg
dihasilkan dari reraksi antara fluida pembawa bijih
dengan batuan induk (host rock).

Turunnya temperatur dan tekanan, atau perubahan


velocity media transport atau pemisahan larutan, juga
dapat menyebabkan terjadi reaksi kimia yang
menghasilkan pengendapan bijih.
Secara umum pembentukan endapan bijih untuk proses
magmatik, maka magma yang terbentuk pada awalnya
masih bersifat mafik, terutama yang terbentuk pada zona
penekukan/subduksi (dibawah kerak kontinen atau pada
kerak samudera).
Magma mafik umumnya mengandung komponen silikat
dan dalam jumlah terbatas mengandung komponen oksida
dan sulfida. Pada kondisi ini unsur/elemen logam

dapat terkonsentrasi dalam berbagai bentuk oleh


mekanisme pembentukan batuan berupa kristalisasi,
fraksinasi dan difrensiasi magma.
Kristalisasi magma mafik akan menghasilkan logam
bernilai ekonomi, spt: kromit, nikel, platinum, cobal, dll.
Setelah kristalisasi atau konsentrasi oleh proses
difrensiasi magma mafik, maka selanjutnya magma sisa
(rest magma) semakin bersifat felsik dan semakin
banyak mengandung komponen sulfida dan oksida.
Proses difrensiasi magma pada tahapan ini memegang
peranan penting thdp pembentukan endapan- endapan
mineral berharga.

Kristalisasi magma felsik akan menghasilkan tin,


zirconium, thorium, dll.
Selanjutnya sebagian magma sisa akan menerobos
batuan samping (country rock) atau injeksi magmatik.
Proses atau peristiwa ini juga dapat menghasilkan
endapan-endapan mineral berharga.
Pasca kristalisasi atau konsentrasi oleh proses
difrensiasi magma mafik dan magma sisa, maka
berangsur kadar air dan konsentrasi volatil didalam
magma sisa bertambah banyak, termasuk CO2, boron,
fluorin, chlorine, sulfur, phosphor dan elemen lainnya.

Dampak proses dan penambahan unsur tersebut di atas,


maka viskotas magma berkurang dan menurunkan titik
beku mineral. Magma sisa pada tahapan ini akan
memasuki tahapan peralihan antara fase igneous
menjadi fase hidrotermal, atau disebut fase aqoeoigneous dan disebut sebagai tahapan pegmatik.
Jika kandungan gas dalam magma, yg terdiri dari air
(90%,) CO2, H2S dan S melimpah; dan CO, HCl, HF,
H2, N, Cl, F, B dan lainnya semakin besar, maka
proses
magmatik
akan
memasuki
proses
pneumatolitik (proses lepasnya gas dari dalam
magma).

Gas adalah agen/media yang baik untuk memisahkan


dan mengangkut, material berharga dari magma. Proses
pneumatolitik adalah proses yang sangat penting dalam
membentuk metasomatis kontak (Daubree, 1841).
5 (lima) cara pengendapan endapan bijih magmatik
(Guilbert dan Park, 1981) : 1. Sedimentasi magmatik atau
pengendapan dan akumulasi mineral yang telah
mengkristal (crystal settling). 2. Kristalisasi langsung
pada dinding atau lantai dapur magma. 3. Pemisahan
liquid dan pemadatannya; 4. Konsolidasi batuan beku
yang mengandung assesori mineral ekonomik; dan
5. Kristalisasi magma secara keseluruhan.

PEMBENTUKAN ENDAPAN BIJH SECARA KONSENTRASI


MAGMATIK DIBEDAKAN ATAS MAGMATIK AWAL DAN AKHIR

ENDAPAN MAGMATIK AWAL (ORTHOMAGMATIK),

persyaratan terbentuknya harus ada sumber magma/magma


primer yang umumnya berkomposisi ultra basa basa. Magma
tersebut dapat bersumber dari :1) lapisan bawah kerak samudera,
jika dalam perjalanannya kepermukaan bumi hanya melewati
lapisan kerak samudera, maka akan bersifat ultra basa; 2) lapisan
bawah kerak samudera, jika dalam perjalanannya ke permukaan
bumi melewati lapisan kerak bumi bagian atas (tholoiite) dan kerak
benua, maka magmanya berdsifat basa; dan 3) lapisan atas kerak
samudera, jika dalam perjalannya kepermukaan bumi hanya
melewati kerak benua, magmanya akan bersifat tholeiite.
Magma primer yang berhubungan dengan endapan magmatik
awal, umumnya mineral-mineral yang sulit menguap (olivin,
piroksin dan plagioklas bersifat basa).

Proses pembentukan endapan magmatik awal dan endapan


lainnya adalah berhubungan dengan diffrensiasi dan
kristalisasi magma. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kehadiran
mineral logam dan non logam.
Proses diffrensiasi dan kristalisasi untuk endapan magmatik awal
berlangsung tidak jauh dari sumber magma, yaitu jauh di bawah
permukaan bumi ( > 5000 m).
Niggli, 1933, pengertian endapan magmatik awal/orthomagmatik
adalah sama dengan endapan plutonik atau intrusif.
Endapan logam yang terbentuk oleh proses magmatik awal adalah :
intan (C), platina (Pt), khrom (Cr2O3), titan (Ti) besi (Fe3O4,
Fe2O3) - nikel (Ni) dan tembaga (Cu).

Endapan magmatik awal dibedakan atas : early


magmatik (magmatik awal)
dan late magmatik
(magmatik akhir).
Proses yang terjadi pada early magmatik dan
berhubungan dengan pembentukan endapan logam
adalah :
1. Dissemination, kondisi ini terjadi jika tidak terjadi
konsentrasi, sehingga mineral bijih/logam yang akan
terbentuk menyebar pada batuan kimberlit, lamroit dan
batuan karbonatit (intan/C dan korondum/Al2O3, pirope
garnet/[(Ca, Mg, Fe, Mn)3. Al2O3(SiO4)3], diopsit khromi
[CaMg(SiO3)2-Cr2O3], spinel khrom (FeO.Cr2O3),
enstatit (MgSiO3), ilmenit (FeTiO3, magnetit (Fe3O4)
dan rutil (TiO2).

2. Segregation, proses ini akan terbentuk jika terjadi proses


diffrensiasi
kristalisasi
(normal/grafitasi)
dan
accumulation, sehingga mineral/unsur yang akan terbentuk
akan terkonsentrasi/segregasi, spt khromit (Busveld
compleks dan Lydenburg, Afrika selatan). Bentuk
mineralisasi khromitnya adalah statiform atau tipe Sudbury,
yaitu penerobosan konkordan diantara batuan beku,
semacam sill. Lebih dari 98% produksi khromit dunia
dihasilkan dari tipe ini, ketebalan dari beberpa centimeter
2,0 m, panjang penyebaran 63 km, kandungannya dari 45%
- 50%, terdiri dari 29 lapisan, bagian bawahnya adalah
platina bearing dan bagian atasnya vanadi ferous magnetit.

Tipe endapan khromit startiform juga di jumpai di Great Dyke of


Zimbabwe, yaitu pada batuan basa ultra basa yang berumur
sangat tua, menyebar sepanjang 532 km, lebar dari 5,0 km 9,5
km, terdiri dari dari 4 lapisan dengan ketebalan dari 5,0 cm
1,0 m.
3.

Injection, terbentuk akibat penerobosan ketempat lain,


akibatnya logam yang telah terbentuk akan terkonsentrasi di
tempat lain, seperti yang dijumpai di daerah Kirunia, Swedia.
Penerobosan endapan magnetit (Fe3O4) terjadi diantara batuan
Syenit porphyry dengan Quartz porphyry (endapan bijih
magnetitnya tebal) dan

untuk endapan bijih magnetit yang terletak diantara


Quartz phorphyry lebih tipis, kondisi ini dipengaruhi oleh
struktur geologi dan tekstur. Endapan bijih magnetit dan
ilmenit (TiO2) adalah lebih awal mengkristal sebelum
silikat, dimana injeksi tidak akan terjadi pada kristalkristal myang padat.
ENDAPAN MAGMATIK AKHIR, gejala yang biasa dijumpai
pada endapan magmatik akhir adalah memotong
endapan early magmatik. Proses yang berlangsung
pada early magmatik adalah :

1. Residual liquid segregation, terjadi pada magma sisa


yang telah mengkristal, tapi belum membentuk mineral,
kemudian membentuk mineral secara terkonsentrasi oleh
proses difrensisasi kristalisasi grafitasi (normal). Bentuk
endapannya umumnya paralel terhadap batuan pembawa
(heat sources) ataupun pada host rocknya, umumnya
batuan anorthosit, norit, gabro, seperti pembentukan
titaniferous magnetit bands dan platina di daerah Busveld
compleks, Afrika selatan.
2. Residual liquid injection, terjadi pada magma sisa early
magmatik yang belum mengkristal, kemudian diinjeksi ke
tempat lain yang kondisi tekanannya lebh

rendah, sehingga membentuk endapan logam secara


terkonsentrasi (resoidual), seperti pembentukan endapan
titanoferous di daerah Adivondack region of New York,
berasosiasi dengan batuan basa. Proses pembentukan
endapan logam secara residual liquid injection kaya akan
besi.
3. Immisible liquid separation and accumulation, terjadi
pada magma sisa yang belum mengkristal pada erly
magmatik. Magma sisa tersebut akan menerobos dan
merusak terhadap mineral/unsur yang sudah terbentuk,
kemudian membentuk mineral baru secara terkonsentrasi,
seperti pembentukan endapan :

1. Nickel Copper Sulphide Type Insizwa, Afrika


Selatan; 2, Nickelferous Sulphide Deposits, Bushveld,
Afrika Selatan, dan 3. Marginal Sudbury Deposits,
Norwegia.

Walaupun oksida-oksida logam dalam bentuk larutan tidak


dapat larut pada larutan silikat magma. Oleh Voght,
memperlihatkan bahwa sulfida-sulfida besi, nikel dan
tembaga dapat larut pada magma basal, dimana
konsentrasi sulfidanya sekitar 6% - 7%. Larutan sisa sulfida
akan mengkristal setelah silikat dan akan menerobos dan
merusak kristal dan mineral tersebut.

Pada akumulasi sulfida tidak diperlukan tidak diperlukan


peleburan sulfida murni, pengkayaan sulfida adalah
dibagian paling bawah dari magma, dimana pada batuan
beku basa kandungan sulfidanya adalah 10% - 20%.
Endapan bijih yang terbentuk oleh proses ILSA adalah
pirhotit (Fe7S8), kalkopirit (CuFeS2), petlandite nickel
(2FeS.Ni.S), Cu, serta platina, emas, perak.
Pembentukan endapan tersebut di atas umumnya pada
batuan beku basa, dimana segregasi terbentuk oleh
gaya berat.

4. Immicible liquid injection, terbentuk dari magma sisa


early magmatic, akan membawa mineral/unsur yang telah
terbentuk pada early magmatic ketempat lain oleh proses
injeksi, sehingga akan terkonsentrasi bersama-sama
mineral lain yang terbentuk kemudian. Proses ini hampir
sama dengan early magmatic.
Contoh lokasi pembentukan endapan adalah : endapan
nikel Norwegia, endapan tembaga-nikel, daerah Merensky
Reef of the Busveld, Afrika Selatan, endapan nikeltembaga, Sudbury.
Umumnya tipe endapan late magmatic dijumpai pada
daerah dengan kondisi tektonik kompleks, seperti ofiolit

Dan melange/bancuh. Contoh pembentukan endapan


khromit primer tipe podiform, spt Sulsel (Barru, Pangkep
dan Malili, Sultra (Buton), Latau (Sulteng), Maluku
(P.Doi),
G.
Batan
Bulu
Kalimantan
Selatan.
Penyebarannya dijumpai pada zona penggerusan kuat.
Selaian itu juga dijumpai di daerah Urals, Filipina,
kompleks ofiolitnya adalah tipe Alpin, yaitu berasal dari
luar (allochthnous), penyebaran peridotit sekitar 10 km,
yang terkonsentrasi pada jalur serpentinit, dan sebagai
pembawa khromit adalah harzburgit. Endapan seperti ini
juga dijumpai di Albania, Turki, Cuba, New Caledonia,
dan Yugoslavia.

3 hal penting dalam mempelajari genesa endapan


bahan galian logam, termasuk kegiatan eksplorasi :
1. Sumber endapan yang membawa logam (heat
sources); 2. Harus ada batuan tempat kedudukan atau
akumulasi dari endapan bahan galian tersebut (host
rock); dan 3 struktur geologi (patahan, kekar).
Proses pembentukan endapan magmatik awal (nikel,
cobal, khromit, platina, intan, dst), maka sumber pembawa
logam tersebut adalah magma yang bersifat basa ultara
basa, terbentuk pada temperatur tinggi (>1000 derajad
celcius) dan berlangsung lebih kurang 10 km dibawah
permukaan bumi.

Proses pembentukan endapan magmatik akhir (Be, Li,


Sn, W, Rb, Cs, Nb, Al/Spodumene dan Petalit, unsur
tanah jarang/rare earth elements, uranium dan besi
uranium). Endapan timah putih/kasiterit (SnO2) dijumpai
di P. Bangka, P. Belitung dan P. Singkep yang menerus
ke semenanjung Malaysia, dan umumnya dijumpai pada
batuan granit dan batuan sedimen Pra tersier. Oleh
karena proses pembekuan kristalisasi berlangsung
lambat, maka kristal mineral berukuran besar. Secara
umum keberadaannya pada batuan pembawa sangat
kecil/rendah. Terbentuk pada temperatur < 1000 derajad
celcius).

Proses
pembentukan
endapan
porfiri
dan
hidrotermal/larutan sisa magma (emas, perak, stibnit,
molibdenit, logam dasar/Cu, Pb, Zn, besi), tempaearatur
pembentukan < 400 derajad celcius.
Host Rock, sifat fisik (kekerasan dan ukuran butir) dan
kimia/reaktifitas.
Struktur Geologi (fault/patahan, joint/rekahan)

Setelah ada sumber yang membawa unsur/logam


(magma dan larutan sisa magma/hidrotermal), maka
harus ada batuan tempat akumulasi/cebakan/kedudukan
dari unsur/logam (host rock) yang punya nilai ekonomi.
Host rock dikontrol oleh : 1. urutan keterjadiannya
(stratigrafi) untuk batuan sedimen, dan umur batuan
untuk batuan plutonik (granit, diorit, monzonit, dan
granit), batuan gunungapi (breksi vulkanik, agglomerat,
tufa dan aliran lava atau retas); 2. sifat fisik dan kimia
(lapuk, kompak, ukuran butir/tekstur, porositas, reaktif
dan komposisi kimia, khususnya batuan beku); dan 3.
Struktur geologi (patahan, lipatan dan kekar).

Umumnya host rock mineralisasi yang baik


(fafourable) adalah :
1. Reaktif (batugamping, marmer, dolomit, dan batuan
sedimen klastik gampingan);
2. Lapuk agak kompak;
3. Porous (keseragaman ukuran butir); dan
4. Komposisi kimia, khususnya batuan beku
(asam/umum, menengah/sebahagian,
basa/jarang/setempat dan ultra basa/sangat jarang)