Anda di halaman 1dari 161

re"flka

ADITAMA

Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat


Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial
dan Pekerjaan Sosial

RF.SP0.21.03.2009

Edi Suharto, Ph.D.


Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat
Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosia/ & Pekerjaan Sosia/
Editor : Aep Gunarsa, SH.
Desain Sampul
Setting & Layout lsi

lman Taufik
: Creative Division

Diterbitkan & dicetak oleh PT Refika Aditama


)1. Mengger Girang t~o. 98, Bandung 40254
Telp. (022) 5205985, Fax. (022) 5205984
Website : www.refika-aditama.com
e-mail
: penerbit@refika-aditama.com & refika_aditama@yahoo.co.id
Anggota lkapi

Cetakan Ketiga: Februari 2009


ISBN 979-3304-39-1
2005. Hak Cipta Dilindungi Undang-undang.
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
TANPA IZIN TERTULIS dari penerbit.

Kupersembahkan untuk
Kedua orang tua di Burujul Wetan, Jatiwangi:
H. Dudi dan Hj. lnik Dahini
yang mengajarkan doa dan usaha
dalam setiap nafas pengharapan; yang memaknakan
pengorbanan dan keberanian dalam segala denyut
penghidupan.

Satu tragedi dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat (c9mmunity


empowerment) adalah bahwa pendekatan yang diterapkan seringkali terlalu
terkesima oleh, untuk tidak menyatakan sangat mengagungkan, konteks lokal.
Sedangkan sistem sosial yang lebih luas yang menyangkut pembangunan
sosial, kebijakan sosial, relasi kekuasaan, ketidakadilan gender, ekslusifisme,
pembelaan hak-hak publik, dan kesetaraan sosial kurang mendapat perhatian.
Seakan-akan komunitas lokal .merupakan entitas sosiai yang vacuum dan
terpisah dari dinamika dan pengaruh sistem sosial yang mengitarinya.
Penyempit<;1n makna pernberdayaan masyarakat semacam ini, antara lain,
bisa dilihat dari dominannya program-program pengembangan masyarakat
(community development) yang bermatra usaha ekonomi produktif berskala
mikro, sep.erti '1warungisasi" (setiap kelompok sasaran atau warga binaan
dilatih atau diberi modal agar dapat membuka warung) atau "kambingisasi"
(pemberian kambing kepada kelompok miskin untuk dikelola secara kelompok).
Tidak ada yang salah dengan pendekatan lokalisme seperti itu. Hanya
saja, tanpa perspektif holistik yang memadukan kegiatan-kegiatan lokal dengan
analisis kelembagaan dan kebijakan sosial secara terintegrasi, pendekatan
pemberdayaan masyarakat bukan saja akan kurang efektif, melainkan pula
tidak akan berkelanjutan. Diibaratkan dengan analogi "ikan dan pancing",
maka meskipun kelompok sasaran (target group) diberi ikan dan pancing
sekaligus, mereka tidak akan berdaya jika seandainya kolam dan sungai
yang ada di seputar mereka telah dikuasai oleh elit atau kelompok kuat.
Berpijak pada perspektif pembangunan kesejahteraan sosial dan
pekerjaan sosial, buku ini berargumen bahwa gerakan membangun dan
memberdayakan masyarakat memerlukan pendekatan holistik yang
mempertimbangkan isu-isu lokal dan global. Karenanya, tema-tema
pemberdayaan masyarakat dan pembangunan rakyat yang dibahas tidak
saja mencakup aras lokal, rnelainkan pula aras global. Setelah Bab 1 dan 2
menjelaskan konsepsi tentang pembangunan kesejahteraan sosial dan
vii

pekerjaan sosial, bab-bab selanjutnya mengkaji isu-isu strategis mengenai


bagaimana selayaknya membangun dan memberdayakan rakyat dilakukan
secara partisipatis, dinamis dan sekaligus multidimensional.
Perlu dijelaskan bahwa istilah pembangunan kesejahteraan sosial yang
dimaksud dalam buku ini secara sektoral merupakan bagian dari konsep
pembangunan sosial (social development) yang di Indonesia sering mencakup
bidang pendidikan, kesehatan, perumahan dalam arti luas. Pembangunan
kesejahteraan sosial (social welfare development) .didefinisikan sebagai
pendekatan pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup
masyarakat melalui peningkatan modal ekonomi (economic capital), manusia
(human capita/), kemasyarakatan (societal capital), dan perlindungan (security capital) secara terintegrasi dan berkesinambungan. Kata kunci dari
peningkatan modal ekonomi masyarakat adalah tumbuhnya mata pencaharian
(livelihood) masyarakat yang memungkinkan mereka mampu memperoleh
dan mengelola aset-aset finansial dan material untuk memenuhi kebutuhan
dasarnya sesuai dengan standar kemanusiaan yang layak dan berkelanjutan.
Kata kunci dari peningkatan modal manusia adalah berkembangnya
kemampuan atau kapabilitas (capability) intelektual, emosional dan spiritual
manusia yang memungkinkan mereka mampu menjalankan peran-peran
sosial secara adekwat dalam kehidupannya. Sementara itu, tujuan utama
dari peningkatan modal kemasyarakatan (sering disebut social capitan adalah
tumbuh dan menyebarnya kepercayaan (trust) di antara berbagai elemen
masyarakat. Sedangkan, terciptanya keamanan dan keterjaminan (security)
adalah tujuan utama dari proses peningkatan modal perlindungan.
Makna pekerjaan sosial yang menjadi ruh dan fokus dari buku ini juga
bukanlah "pekerjaan sosial" sebagaimana sering diartikan oleh kalangan
kebanyakan sebagai kegiatan amal atau sukarela begitu saja, seperti
membagikan mie instant, beras atau baju bekas kepada kaum miskin.
Pekerjaan sosial yang dimaksud dalam buku ini menunjuk pada sebuah
disiplin dan pendekatan profesional. Pekerjaan sosial diartikulasikan sebagai
profesi atau keahlian di bidang pertolongan kemanusiaan yang didasari oleh
pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai yang diajarkan melalui pendidikan
fa-mal dan pengalaman praktek aktual.
Pendidikan pekerjaan sosial di Indonesia telah dimulai sejak tahun
1960-an di STKS Bandung yang saat itu bernama Kursus Kejuruan Sosial
Tingkat Tinggi (KKST). Saat ini, perguruan tinggi negeri dan swasta di Tanah
Air yang menyelenggarakan pendidikan pekerjaan sosial telah berjumlah
lebih dari 20 sekolah. lni belum termasuk pendidikan pekerjaan sosial
VIII

tingkat menengah kejuruan (SMK) di Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial


(SMPS) yang tersebar di seluruh Indonesia.
Di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, lnggris, Australia, Selandia
Baru, Singapura maupun di negara berkembang, seperti Malaysia, India dan
Filipina, pendidikan pekerjaan sosial telah diajarkan hingga program doktoral.
Di Indonesia pendidikan pekerjaan sosial"baru" sampai tingkat magister (52),
yakni di Fakultas llmu Sosial dan llmu Politik Universitas Indonesia, Program
Magister Profesional Pengembangan Masyarakat (MPM), kerjasama lnstitut
Pertanian Bogor dan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung,
dan Program Pascasarjana Interdisciplinary Islamic Studies, Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Setara dengan pendidikan magister (52),
pada tahun 2006 nanti, STKS akan mempelopori program pendidikan spesialis
satu (SP1) di bidang pekerjaan sosial dengan dua konsentrasi utama: pekerjaan
sosial komunitas dan pekerjaan sosial klinis.
Seperti halnya wartawan (pelaku profesi di bidang jurnalistik), dokter
(di bidang kesehatan), guru (di bidang pendidikan) dan psikiater (di bidang
kesehatan psikis), para pekerja sosial (atau bisa pula disebut para sosiawan
atau sosiater), terlibat dalam menjalankan program-program pembangunan
nasional. Namun demikian, berbeda dengan para dokter atau guru yang
lebih concern di bidang pembangunan sosial, para pekerja kemanusiaan
(human worker) ini lebih memfokuskan diri kepada pembangunan
kesejahteraan sosial (PKS). Dalam mengemban tugas profesionalnya, para
pekerja sosial dibekali dengan ilmu dan metoda penyembuhan sosial (social
treatment) yang umumnya meliputi terapi individu (casework), terapi kelompok
(groupwork), terapi masyarakat (communit}1Work -populer dengan nama

"pengembangan masyarakat" atau community development), manajemen


pelayanan kemanusiaan (human service management -dapat pula disebut
terapi kelembagaan/organisasi atau institutional/organisational therapy) dan
anal isis kebijakan sosial (social policy analysis). Pendekatan holistik pekerjaan
sosial dibangun secara sistematik dari strategi dan metoda penyembuhan
sosial tersebut.
Sebagian besar bahan yang dihimpun dalam buku ini dikembangkan
dari makalah-makalah penulis yang disajikan dalam seminar, pelatihan dan
pertemuan ilmiah lainnya. Oleh karena itu, penulis sangat berhutang budi
dan menyampaikan penghargaan kepada para peserta pertemuan ilmiah
tersebut yang secara langsung maupun tidak langsung telah memperkaya
materi pad a buku ini. Kepada guru-guru penulis di STI<S Bandung, antara
lain Drs. Holil Soelaiman, MSW., APU, Ora. Miryam Sinaga, MSW., DR.
ix

lrawan Soehartono, Prof. DR. Syarif Muhidin, M.Sc., Prof. DR. Jusman
Iskandar, MS. dan DR. Caroliha Nitimaharja, penulis ingin menghaturkan
penghargaan atas bimbingan dan pengajarannya yang masih berkesan hingga
kini. Kepada Ketua STKS Bandung, DR. Marjuki, M.Sc., penulis
mengucapkan terima kasih atas perhatian, kesempatan dan dorongan yang
diberkan hingga buku ini bisa dirampungkan. Tidak perlu cfiragukan lagi,
istri saya, Oom Komariah Suharto beserta anak-anak kami tercinta, Febry
Hizba Ahshaina Suharto, Fabiola Hazimah Zealandia Suharto dan Fadlih
Syari'ati Augusta Suharto, adalah sumber inspirasi dan motivasi yang tiada
henti-hentinya. Doa, nasi hat dan bimbingan dari orang tua penulis di Burujul
Wetan, Jatiwangi adalah perlambang dari gugusan cinta kasihnya nan sejati.

Edi Suharto

Prolog- vii
Daftar lsi - ix
Bab 1

Pembangunan Kesejahteraan Sosial - 1

Kesejahteraan Sosial ................................................... .

Pembangunan Kesejahteraan Sosial .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Pembangunan Nasional . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Fokus Pembangunan Kesejahteraah Sosial . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Pendekatan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Pendekatan Residual . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Pendekatan lnstitusional..........................................
Pendekatan Pengembangan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

lsu-lsu Pembangunan Kesejahteraan Sosial . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


Lemahnya Visi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
~
Program Strategis...................................................
Visi dan Misi Pembangunan Kesejahteraan Sosial . . . . . . . . . . . . . .

Bab 2

Pekerjaan Sosial- 23

Pekerjaan Sosial . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Keberfungsian Sosial . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Model Pertolongan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . .
Kerangka Kerja......................................................
Model yang Berbasis Kekuatan Klien . . . . . . . . . . . . . . . . . ... . . ...
Analisis Jaringan Sumber .........................................

Bab 3

4
5
8
10
10
11
13
16
16
18
19

23
26
29
29
31
33

Pengembangan Masyarakat- 37

Konsep dan Cakupan . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . .. . . .. . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . .


Perspektif Teoritis........................................................

38
40
XI

Model-model Pengembangan Masyarakat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


Pengembangan Masyarakat Lokal .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. ..
Perencanaan Sosial . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Aksi Sosial . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Pengetahuan dan Keterampilan .. .... .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. ..
Mempelajari Masyarakat .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. . .. ..
Pendidikan dan Pelatihan . .. .. . . . .. .. . .. . .. . .. . . . .. .. . . . .. . .. .. . .
Mempelajari Lembaga Pelayanan Kemanusiaan . . . . . . . . . . . .
Pemasaran Pelayanan Kemanusiaan...........................
Pengumpulan Dana Bagi Lembaga Pelayanan
Kemanusiaan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Membuat Proposal untuk Memperoleh Dana
dari Lembaga Eksternal .. .. . .. .. . .. .. .. .. . .. .. .. .. .. .. . .. .. .. .. . ..

Bab 4

XII

52
54

Pemberdayaan Masyarakat- 57

Pemberdayaan.......................... .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Kelompok Lemah dan Ketidakberdayaan .. .. . .. . .. .. . .. .. .. .. . .. ..
lndikator Keberdayaan............................. .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Strategi Pemberdayaan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Prinsip .. .. . .. . . . .. . . ... . .......... ...... .... ... . ........ .. .. .. . .......
Tugas Pekerja Sosial .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. . .. .. . .. ..

Bab 5

42
42
44
45
45
47
49
50
51

57
60
63
66
68
69

Perencanaan Program - 71

Hakekat Perencanaan...................................................
Model Perencanaan . . . . .. . .. .. .. .. .. .. .. . .. .. .. .. . .. .. . . . . .. .. . . .. . . .. ..
Model Rasional Komprehensif..................................
Modellnkremental...... ..... .......... ......... ..... .. ............
Model Pengamatan Terpadu ............. ..... ..... .. .. .... ......
Model Transaksi....................................................
Proses Perencanaan Program .. .. .. .. . .. .. .. .. . .. .. .. . .. .. .. .. .. .. .. ..
ldentifikasi Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Penentuan Tujuan..................................................
Penyusunan dan Pengembangan Rencana Program . . . . . . .
Pelaksanaan Program . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Evaluasi Program...................................................

71
73
73
74
74
75
75
76
77
78
79
79

Bab 6

Pemetaan Sosial - 81

Apa ltu Pemetaan Sosial? .... .. ..... ... ......... ..... .. . ...... .. .......
Masalah Sosial . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Memahami Masyarakat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Pendekatan Pemetaan Sosial .. .. .. .. .. .. .. . . .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. ..
Survey Formal . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Pemantauan Cepat (Rapid Appraisal Methods) .. .. .. .. .. .. .
Metode Partisipatoris..............................................

Bab 7

81
83
85
89
89
91
92

Pendampingan Sosial - 93

Pendampingan Sosial ...................................................

93

Bidang Tugas . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Pemungkinan atau Fasilitasi .. .. .. .. .. .... .... .. .... .. ........ ...
Penguatan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Perlindungan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
~
Pendukungan........................................................

95
95

Peran Pekerja Sosial . . . . . . . . . . . . . .. . .. . . . .. .. . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


Fasi I ita tor.............................................................

97
98
99
101
102
1 03
1 03
105

Broker .. ...... .. ....................... ..... .. . . ..... .. . ... . . . . .......


Mediator..............................................................
Pembela . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Pelindung . . .. .. .. .. . . . .. . . . . . .. .. . . . . .. .. .. .. .. . . . .. . .. . .. . .. .. .. . . ..

Strategi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Kerangka Kerja . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Bab 8

96
96
97

Anal isis Kebijakan Sosial - 107

Batasan Kebijakan Sosial .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. ..

Tujuan Kebijakan Sosial . . . .. . . . .. . .. . .. .. . . . . . . . . .. .. .. . .. . . . . . . .. .. . .


Anal isis Kebijakan Sosi.al .. .... .. . .. .. .. . .... .. .. . .. .. .. . .. . ...... ... ..

107
110
112

Model Anal isis Kebijakan .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. . .. .. .. .. .. .. .. .. ..

113

Kerangka Analisis .... ....................................................

114

Bab 9

Monitoring dan Evaluasi Program - 117

Apa ltu MONEV... ... . .... ................... .................. ... . . . . . .

117

Monitoring...........................................................
Evaluasi . . . . . .. .. .. . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . .

118
119

xiii

Prinsip-prinsip MONEV . . . . .. . . . . . . . .. . . .. .. .. ... . . . .. . . . . . . . . . . . . .. ..


PrDses MONEV ....... ............ ............ ... ........ .... .. . . . . . .....
Desain MONEV ............ ....... .. ........ .... ............... .. . ......
lndikator ............. .. ....... ....... ... ............ ....... .. . . . . ..........
Kriteria lndikator . .. . .. . . . . ...... .. . . .. . . .. .. . ... . . . . ...............

119
122
125
126
128

Bab 1 0 Kemiskinan - 131

Definisi. dan Dime,nsi Keniiskinap......................... ... .......


Potret Kemiskinan di Indonesia ......................................
Paradigma Kemiskinan .. .. . .. . . . . .. . . . .. . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . .. . . .

leori Neo-liberal................................... ... . . . . . . . . . . . . . .


Teori Demokrasi-sosial . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Peru bah an Paradigma ............................. .,. . . . . . . . .. . . . . . . . . . .

Paradigma Lama....................................................
Paradigma Baru ....................... :.............................
Keberfungsian sosial...............................................

Pekerjaan Sosial dan Kemiskinan . .. . . . .. . . . . . . . . . . . . . . .. . .. . . . . . . . . .


Kemiskinan dan Perlindungan Sosial . . . . . . . .. . . .. .. .. . . . . . . . . . . . .. .

Potret P.embangunan Asia........................................


Tanggungjawab Negara: Landasan Faktual . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Tanggungjawab Negara: Landasan Konstitusional . . . . . . . . .

132
135
138
138

140
142
143
145
146
148
152
154
155
156

'Bab 11 Perlakuan Salah Terhadap Anak (Child Abuse) -159

Permasalahan Anak . . . .. .. .. .. . . . . . . . . . .. . .. .. . . . .. . . . .. . . . . . . . .. .. .. . . .
Hambatan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Model Pertolongan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Program Konseling .. .. .. . .. . . .. . . . . . . . . . . .. .. . .. . .. . .. .. . . . .. . . .. . . .. . ..

System Abuse ............................ ...........................................

160
163
163
166
168

Bab 12 Aliansi Strategis dalam Pemberdayaan Keluarga - 169

XIV

Pemberdayaan Keluarga . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Ali ansi Strategis . . . . . .. . . . . ... .. . . . . . . . . . . . .. . .. . . . ... . . . . . . . . . . .. . . .. . . . .
Tugas Ali ansi . . ... . .. . . .. .. . . ... . . . . . . . . . . . .. . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . .
Prinsip ................. .. . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . .
Proses ........................................... , . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Waspada...................................................................

169
170
171
173
1 74
175

Bab 13 Permasalahan Pekerja Migran - 177

Pekerja Migran ...... ........... ... .. . .... ...... .......... ........ ........
Urbanisasi dan Pekerja Migran Internal ....... ... ... .. .......
Globalisasi dan Pekerja Migran Jnternasional .. ........ .. . .
Penangan an ..................... , . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

177
178
179
1 83

Bab 14 Manajemen Lembaga Pelayanan Sosial - 185

Total Quality Management............................................


Mengkaji Kualitas Pelayanan .. . ... ................... ...... .. .... ... .
Tugas-tugas Manajemen . . . . . . . . . .. .. .. . .. .. .. . . . . . . . . . . . .. . . . . .. . . . . ..

185
186
189

Strategi Pengembangan Pelayanan...................................

190

Bab 15 Pekerjaan Sosial di Dunia lndustri - 193

Definisi Pekerjaan Sosial lnduStri.. .. ... . .. ..... ... . .. ........ ... .. ..


Sejarah .....................................................................
Bentuk-bentuk Program dan Lembaga Naungan . . .. .. . . . . . .. . . . .
Tipologi Pelayanan Pekerjaan Sosial lndustri .. .. . ...... ...... ... .
Model Pelayanan Sosial bagi Pegawai . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Model Pelayanan Sosial bagi Majikan atau
Organisasi Perusahaan............................................
Model Pelayanan Sosial bagi Konsumen . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Model Tanggungjawab Sos1al Perusahaan atau
Model lnvestasi Sosial Perusahaan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Model Kebijakan Publik di bidang Kepegawaian . . . . . . . . . .

193
195
201
203
204
207
209
209
211

Bab 16 Dampak Sosial Komersialisasi Pendidikan - 213

Komersialisas! Pendidikan .............................................


Mengapa Komersialisasi Pendidikan .. . . .. .. . . .. . .. .. .. . .. .. . .. .. . ..
Sisi Posistif . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Dampak Sosial . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Ke Mana Kita Melangkah?.. ... .. .... .... .. . ... ..... .. .. .. .. .. . .. .. .. ..

213
214
21 7
218
219

Bab 17 Konflik Sosial, Masyarakat Multikultural dan Modal


Kedamaian Sosial- 221

Konflik Sosial dan Masyarakat Multikultural................ .. .. ..

222
XV

Penyebab Konflik Sosial . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


Konflik Sosial dan Modal Kedamaian Sosial . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Konsep Modal Kedamaian Sosial . . . . . .. . . . .. . .. .. . . . . .. . . . .. ..
lndikator Modal Kedamaian Sosial .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. ..
Potensi dan Hambatan . .. .. . . . . .. .. . .. . . .. .. . .. . . .. . .. . . . .... . . . . . . .. . ..
Pluralisme Budaya; Sebuah Kerangka Kerja .. .. . .. . . .. .. .. .... . ..
Strategi Kebijakan .Publik ............ ..... .. . . ...... .......... .. . ......

222
224
226
228
230
232
233

Bab 18 Globalisasi, Permasalahan dan Penanganannya- 237

Globalisasi dan Permasalahannya .................. ~................


Kemakmuran versus Kesengsaraan .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. ..
~
Bahaya Globalisasi .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. ..
Peran Pekerjaan Sosial . . .. .. .. . . . . . .. .. . .. .. . . .. . . . . . .. . . . . . . . . . . .. . . . .
Think Globally and Act Globally .. .. .... .. .. .. ........ ........
Tugas Pekerja Sosial . .. . .. .. . .. . .. .. . . .. . . . . . . . . . . . .. . .. .. .. . . .. . ..
Strategi Penanganan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Hambatan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Apa yang Mesti Dilakukan? ...... .... .................... .......
Refleksi .....................................................................

Daftar Pustaka - 255


lndeks- 267

XVI

237
239
241
243
244
246
249
249
250
253

Pembangunan
Kesejahteraan Sosial

Pembangunan masyarakat dan pemberdayaan rakyat tidak mungkin


dipisahkan dari arena dan konteks di mana ia beroperasi. Pemberdayaan
masyarakat merupakan bagian dari strategi dan program pembangunan
kesejahteraan sosial (PKS). Untuk memperjeias proses dan dimensi
pemberdayaan masyarakat, bab permulaan ini mendiskusikan konsepsi
dan beberapa isu mendasar mengenai PKS yang akan dilanjutkan dengan
kajian mengenai pekerjaan sosial pada bab kedua.

Kesejahteraan Sosial
lstilah kesejahteraan sosial bukanlah hal baru, baik dalam wacana global
maupun nasional. Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), misalnya, telah lama
mengatur masalah ini sebagai salah satu bidang kegiatan masyarakat
internasional (Suharto, 1997). PBB memberi batasan kesejahteraan sosial
sebagai kegiatan-kegiatan yang terorganisasi yang bertujuan untuk membantu
individu atau masyarakat guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya
dan meningkatkan kesejahteraan selaras dengan kepentingan keluarga dan
masyarakat. Definisi ini menekankan bahwa kesejahteraan sosial adalah
suatu institusi atau bidang kegiatan yang melibatkan aktivitas terorganisir
yang diselenggarakan baik oleh lembaga-lembaga pemerintah maupun
swasta yang bertujuan untuk mencegah, mengatasi atau memberikan
kontribusi terhadap pemecahan masalah sosial, dan peningkatan kualitas
hidup individu, kelompok dan masyarakat.
Di Indonesia, konsep kesejahteraan sosial juga telah lama dikenal. Ia
telah ada dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Undang-Undang Rl
1

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Nomor 6 tahun 1974 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kesejahteraan


Sosial, misalnya, merumuskan kesejahteraan sosial sebagai:

Suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial, material maupun spiri,tual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan, dan ketentraman
lahir dan batin, yang memungkinkan bagi setiap warga negara untuk
mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah,
rohaniah dan sosial yang sebail<-baiknya bagi diri, keluarga, serta
masyarakat dengan menjunjung tinggi hak-hak atau kewajiban man usia
sesuai dengan Pancasila.
Di dalam UUD 1945, kesejahteraan sosial menjadi judul khusus
Bab XIV yang di dalamnya memuat Pasal 33 tentang sistem perekonomian
dan Pasal 34 tentang kepedulian negara terhadap kelompok lemah (fakir
miskin dan anak telantar) serta sistem jaminan sosial. lni berarti, kesejahteraan
sosial sebenarnya merupakan flatform sistem perekonomian dan sistem
sosial di Indonesia (Suharto, 2002; Swasono, 2004). Sehingga kalau mau
jujur, sejatinya Indonesia adalah negara yang menganut faham "Negara
Kesejahteraan" (welfare state) dengan model "Negara Kesejahteraan
Partisipatif" (participatory welfare state) yang dalam literatur pekerjaan
sosial dikenal dengan istilah Pluralisme Kesejahteraan atau welfare plural-

ism. Model ini menekankan bahwa negara harus tetap ambil bagian dalam
penanganan masalah sosial dan penyelenggaraan jaminan sosial (social
security), meskipun dalam operasionalisasinya tetap melibatkan masyarakat.
Dengan demikian, .kesejahteraan sosial memiliki beberapa makna
yang relatif berbeda, meskipun substansinya tetap sama. Kesejahteraan
sosial pada intinya mencakup tiga konsepsi, yaitu:
1.

Kondisi kehidupan atau keadaan sejahtera, yakni terpenuhinya


kebutuhan-kebutuhan jasmaniah, rohaniah dan sosial.

2.

lnstitusi, arena atau bidang kegiatan yang melibatkan lembaga


kesejahteraan sosial dan berbagai profesi kemanusiaan yang
menyelenggarakan usaha kesejahteraan sosial dan pelayanan sosial.

3.

Aktivitas, yakni suatu kegiatan-kegiatan atau usaha yang terorganisir


untuk mencapai kondisi sejahtera.

BAB

1-

PEMBANGUNAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

Secara umum, istilah kesejahteraan sosial sering diartikan sebagai


kondisi sejahtera (konsepsi pertama), yaitu suatu keadaan terpenuhinya
segala bentuk kebutuhan hidup, khususnya yang bersifat mendasar seperti
makanan, pakaian, peru mahan, pendidikan dan perawatan kesehatan.
Pengertian seperti ini menempatkan kesejahteraan sosial sebagai tuju,;:l
(end) dari suatu kegiatan pembangunan. Misalnya, tujuan pembangunan

adalah untuk meningkatkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat.


Kesejahteraan sosial dapat juga didefinisikan sebagai arena atau domain
utama tempat berkiprah pekerjaan sosial. Sebagai analogi, kesehatan adalah
arena tempat dokter berperan atau pendidikan adalah wilayah di mana
guru melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Pemaknaan kesejahteraan
sosial sebagai arena menempatkan kesejahteraan sosial sebagai sarana
atau wahana atau alat (means) untuk mencapai tujuan pembangunan
(Suharto, 2004).
Pengertian kesejahteraan sosial juga menunjuk pada segenap aktivitas
pengorganisasian dan pendistribusian pelayanan sosial bagi kelompok
masyarakat, terutama kelompok yang kurang beruntung (disadvantaged
groups). Penyelenggaraan berbagai skema perlindungan sosial (social protection) baik yang bersifat formal maupun informal adalah contoh aktivitas

kesejahteraan sosial. Perlindungan sosial yangbersifatformal adalah berbagai


skema jaminan sosial (social security) yang diselenggarakan oleh negara
yang umumnya berbentuk bantuan sosial (social assisstance) dan asuransi
sosial (social insurance), semisal tunjangan bagi orang cacat atau miskin
(social benefits atau doll), tunjangan pengangguran (unemployment benefits), tunjangan keluarga (family assisstance yang di Amerika dikenal dengan

nama TANF atau Temporary Assisstance for Needy Families). Beberapa


skema yang dapat dikategorikan sebagai perlindungan sosial informal antara
lain usaha ekonomi produktif, kredit mikro, arisan, dan berbagai skema
jaring pengaman sosial (social safety nets) yang diselenggarakan oleh
masyarakat setempat, organisasi sosial lokal, atau lembaga swadaya
masyarakat (LSM).

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Pembangunan Kesejahteraan Sosial


Pengertian kesejahteraan sosial sebagai suatu aktivitas biasanya disebut
sebagai usaha kesejahteraan sosial (UKS). Dalam skala dan perspektif
makro, UKS ini pada intinya menunjuk pada apa yang di. Tanah Air
dikenal dengan nama pembangunan kesejahteraan sosial (PKS). Perlu
dijelaskan di sini bahwa konsep mengenai pembangunan kesejahteraan
sosial merupakan istilah khas di Indonesia. Di negara-nega lain, seperti di
AS, Selandia Baru, lnggris atau Australia, konsep mengenai social welfare
development kurang dikenal. Dalam benak publik di negara-negara tersebut,

istilah welfare (kesejahteraan) sudah mencakup makna UKS atau PKS.


Pembangunan kesejahteraan sosial adalah usaha yang terencana dan
melembaga yang meliputi berbagai bentuk intervensi sosial dan pelayanan
sosial untuk memenuhi kebutuhan manusia, mencegah dan mengatasi
masalah sosial, serta memperkuat institusi-institusi sosial (Suharto, 1997).
Tujuan PKS adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia secara
menyeluruh yang rnencakup:
1.

Peningkatan standar hidup, melalui seperangkat pelayanan sosial dan


jaminan sosial segenap lapisan masyarakat, terutama kelompokkelompok masyarakat yang kurang beruntung dan rentan yang sangat
memerlukan perlindungan sosial.

2.

Peningkatan keberdayaan melalui penetapan sistem dan kelembagaan


ekonomi, sosial dan politik yang menjunjung harga diri dan martabat
kemanusiaan.

3.

Penyempurnaan kebebasan melalui perluasan aksesibilitas dan pilihanpilihan kesempatan sesuai dengan aspirasi, kemampuan dan standar
kemanusiaan.
Ciri utama PKS adalah komprehensif dalam arti setiap pelayanan

sosial yang diberikan senantiasa menempatkan penerima pelayanan (beneficiaries) sebagai manusia, baik dalam arti individu maupun kolektivitas,

yang tidak terlepas dari sistem lingkungan sosiokulturalnya. Sasaran


pe~bangunan kesejahteraan sosial adalah seluruh masyarakat dari berbagai

golongan dan kelas sosial. Namun, prioritas utama PKS adalah kelompokkelompok yang kurang beruntung (disadvantage groups), khususnya yang

BAB

1-

PE~BANGUNAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

terkait dengan masalah kemiskinan. Sasaran PKS yang biasanya dikenal


dengan nama Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) atau Pemerlu
Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) antara lain meliputi orang miskin,
penyandang cacat, anak jalanan, anak yang mengaiami perlakuan salah
(child abuse), pasangan yang mengalami perlakuan salah (spouse abuse),

anak yang d i perdagangkan atau d i lacu rkan komu n itas ad at terpenci I (KA
I

serta kelompok-kelompok lain yang mengalami masalah psikososial,


disfungsi sosial atau ketunaan sosial.

Pembangunan Nasional
Apabila fungsi pembangunan nasional disederhanakan, maka ia dapat
dirumuskan ke dalam tiga tugas utama yang mesti dilakukan sebuah negarabangsa (nation-state), yakni pertumbuhan ekonomi (economi growth),
perawatan masyarakat (community care) dan pengembangan manusia (human development). Fungsi pertumbuhan ekonomi mengacu pada bagaimana

melakukan "wirausaha" (misalnya melalui industrialisasi, penarikan pajak)


guna memperoleh pendapatan finansial yang diperlukan untuk membiayai
kegiatan pembangunan. Fungsi perawatan masyarakat menunjuk pada
bagaimana merawat dan melindungi warga negara dari berbagai macam
risiko yang mengancam kehidupannya (misalnya menderita sakit, terjerembab kemiskinan atau tertimpa bencana alam dan sosial). Sedangkan
fungsi pengembangan manusia mengarah pada peningkatan kompetensi
Sumber Daya Manusia yang menjamin tersedianya angkatan kerja berkualitas
yang mendukung mesin pembangunan. Agar pembangunan nasional berjalan
optimal dan mampu bersaing di pasar global, ketiga aspek tersebut harus
dicakup secara seimbang.
Sebagaimana diilustrasikan Gambar 1 .1, pertumbuhan ekonomi
diperlukan untuk menjalankan perawatan masyarakat dan pengembangan
manusia. Namun demikian, fungsi perawatan masyarakat dan pengembangan manusia juga memiliki posisi yang penting dalam konteks pembangunan nasional. Kedua fungsi tersebut diperlukan guna mendukung
pertumbuhan ekonomi sehingga dapat berjalan secara berkelanjutan (sustainable). Apabila pertumbuhan ekonomi diibaratkan kepala dalam tubuh

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Pertumbuhan
Ekonomi
(Keuangan,
lndustri)

Pengembangan
Man usia
(Pendidikan)

Gambar 1.1: Pembangunan Kesejahteraan Sosial dalam Konteks


Pembangunan Nasional

man usia, maka perawatan masyaraka.t (sektor kesehatan dan kesejahteraan


sosial), bersama pengembangan manusia (sektor pendidikan), merupakan
kaki yang menopang kepala itu.
Fungsi perawatan masyarakat dan pengembangan man usia inilah yang
sebenarnya merupakan substansi dari pembangunan sosial yang menopang
pembangunan ekonomi. Berbagai studi memberi pesan yang san gat jelas
bahwa negara yang kuat dan sejahtera adalah negara yang memperhatikan
pertumbuhan ekonomi dan sekaligus memiliki komitmen menjalankan
pembangunan sosial (Suharto, 2004). Laporan tahunan UNDP, Human
Development Report, yang kini menjadi acuan di berbagai negara di dunia,
secara konsisten menunjukkan bahwa pembangunan sosial mendorong
pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi yang tidak memperhatikan pembangunan sosial tidak akan bertahan lama (tidak berkelanjutan).
lni sejalan dengan ternuan pakar ekonomi pemenang Nobel1998, Amartya
Sen. Sen dengan sempurna membuktikan bahwa hubungan antara
pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial tidaklah otomatis. Agar berjalan
positif dan berkelanjutan, pertumbuhan ekonomi harus ditunjang oleh
kebijakan sosial (social policy) pemerintah yang pro pembangunan sosial
(SuhJrto, 2005).

BAB

1-

PEMBANGUNAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

Ketiga fungsi negara-bangsa di atas juga sering dijadikan dasar dalam


menyusun portofolio departemen/kementerian negara dan lembaga
pemerintahan. Di hampir semua negara di dunia, struktur pemerintahan
selalu memiliki lembaga-lembaga yang mencakup sedikitnya ketiga fungsi
negara-bangsa ini. Misalnya, untuk menjalankan fungsi pertumbuhan
ekonomi dibentuk Departemen Keuangan dan Departemen Perindustrian.
Sementara itu, untuk menjalankan fungsi perawatan masyarakat dan
pengembangan manusia, dibentuk Departemen Kesehatan, Departemen
Kesejahteraan Sosial, dan Departemen Pendidikan.
Dalam struktur pemerintahan di Tanah Air, lembaga pemerintah yang
berperan dominan dalam PKS adalah Departemen Sosial, sebagaimana
Departemen Kesehatan lebih dominan dalam pembangunan kesehatan,
Departemen Pendidikan Nasional dalam pembangunan pendidikan, dan
Departemen Agama dalam pembangunan agama. Keempat departemen di
atas berada di bawah payung dan kendali langsung Menteri Koordinasi
Kesejahteraan Rakyat. Dengan demikian, karena arti kesejahteraan rakyat
di sini mengacu pada konsep pembangunan sosial yang mencakup arti
luas dan meliputi aspek kesehatan, pendidikan, dan agama, maka daiam
arti sempit, Departemen Sosial sesungguhnya adalah Departemen
Kesejahteraan Sosial. Bersama departemen-departemen lain, ia terlibat
dalam pembangunan sosial, namun konsentrasinya secara khusus
melaksanakan PKS (Gambar 1.2).
Sebagaimana dijelaskan dalam konsep welfare pluralism di atas, negara
bukanlah satu-satunya aktor dalam PKS. Masyarakat juga terlibat dalam
PKS, baik dalam pelaksanaan berbagai program maupun pendanaannya.
Lembaga non pemerintah yang menyelenggarakan PKS adalah masyarakat,
yang biasanya dilaksanakan melalui organisasi-organisasi sosial (Orsos)
dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang UKS
dalam skala lokal, nasional maupun internasional, seperti lembaga sosial
lokal (Karang Taruna, Pendidikan Kesejahteraan Keluarga/PKK), Yayasan
Kesejahteraan Anak Indonesia, Save the Children VVorld Vision, dan lainlain.

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Pembangunan
Kesejahteraan
Sosial

Gambar 1.2: Pembangunan Kesejahteraan Sosial dalam Konteks


Pembangunan Nasional

Fokus Pembangunan Kesejahteraan Sosial


Banyak arti yang diberikan pada istilah PKS (Suharto, 2005b). Karenanya,
tidak mudah merumuskan fokus PKS secara tegas. PKS seringkali menyentuh,
berkaitan, atau bahkan, selintas, bertumpang-tindih (over/aping) dengan
bidang lain yang umumnya dikategorikan sebagai pembangunan sosial,
semisal kesehatan, pendidikan, dan perumahan. Lebih dari itu, makna
sosial tidak jarang diartikan secara luas sebagai, misalnya, kegiatan
kesukarelawanan, hiburan, rekreasi, sesuatu yang bersifat non-fisik atau
non-ekonomi.
Merujuk pada definisi welfare dari Howard Jones (1990), tujuan utama
PKS yang pertama dan utama, adalah penanggulangan kemiskinan dalam
berbagai manifestasinya. "The achievement of social welfare means, first
and foremost, the alleviation of poverty in its many manifestations" Uones,
1990:281 ). Makna "kemiskinan dalam berbagai manifestasinya" menekankan
bahwa masalah kemiskinan di sini tidak hanya menunjuk pada "kemiskinan
fisik", seperti rendahnya pendapatan (income poverty) atau rumah tidak
layak huni, melainkan pula mencakup berbagai bentuk masalah sosiallain

BAB

1 -

PEMBANGUNAN KESEJAHTERAAN SosiAL

yang terkait dengannya, seperti anak jalanan, pekerja anak, perdagangan


manusia, pelacuran, pengemisan, pekerja migran, termasuk di dalamnya
menyangkut masalah kebodohan, keterbelakangan, serta kapasitas dan
efektivitas lembaga-lembaga pelayanan sosial pemerintah dan swasta (LSM,
Orsos, institusi lokal) yang terlibat dalam penanggulangan kemiskinan.
Penjelasan Spieker (1995 :5) mengenai konsep welfare juga niembantu
mempertegas substansi PKS dengan menyatakan bahwa welfare
(kesejahteraan) dapat diartikan sebagai "well-being" atau "kondisi sejahtera".
Namun, welfare juga berarti 'The provision of social services provided by
the state' dan sebagai 'Certain types of benefits, especially means-tested
social security, aimed at poor people.' Artinya, PKS menunjuk pada
pemberian pelayanan sosial yang dilakukan oleh negara atau jenis-jenis
tunjangan tertentu, khususnya jaminan sosial yang ditujukan bagi orang
miskin. Seperti halnya pengalaman di negara lain, maka PKS memfokuskan
kegiatannya pada tiga bidang, yaitu: pelayanan sosial (social services/
provisions), perlindungan sosial (social protection), dan pemberdayaan
masyarakat (community/social empowerment). Ketiga fokus kegiatan tersebut
dilakukan dengan berdasar pada kebijakan atau strategi yang bermatra
pencegahan, penyembuhan dan pengembangan (Gambar 1.3).

Pelayanan
Sosial
Kebijakan/
Strategi
Pencegahan
Penyembuhan
Pengembangan

11

11

Perlindungan
Sosial

Pemberdayaan
Masyarakat
Gambar 1.3: Fokus Pembangunan Kesejahteraan Sosial

10

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Pendekatan
Mengacu pada buku Charles Zastrow (2000), Introduction to Social Work
and Social Welfare, ada tiga pendekatan dalam PKS, yaitu perspektif re-

sidual, institusional, dan pengembangan. Ketiga perspektif tersebut sangat


berpengaruh dalam membentuk model welfare state (negara kesejahteraan)
yang merupakan basis pembangunan kesejahteraan sosial, khususnya
pemberantasan kemiskinan di negara-negara demokratis. Thoenes
mendefinisikan welfare state sebagai "a form of society characterised by a
system of democratic government-sponsored welfare placed on a new
footing and offering a guarantee of collective social care to its citizens,
concurrently with the maintenance of a capitalist system of production"

(Spieker, 1988:77). Meski dengan model yang berbeda, lnggris, Amerika


Serikat, Australia dan Selandia Baru serta negara-negara di Eropa Barat
termasuk penganut welfare state. Negara-negara di bekas Uni Soviet dan
Blok Timur umumnya tidak menganut welfare state, karena mereka bukan
negara demokratis maupun kapitalis (Spieker, 1978; 1995).

Pendekatan Residual
Pandangan residual menyatakan bahwa pelayanan sosial baru perlu
diberikan hanya apabila kebutuhan individu tidak dapat dipenuhi dengan
baik oleh lembaga-lembaga yang ada di masyarakat, seperti institusi keluarga
dan ekonomi pasar. Bantuan finansial dan sosial sebaiknya diberikan dalam
jangka pendek, pada masa kedaruratan, dan harus dihentikan manakala
individu atau lembaga-lembaga kemasyarakatan tadi dapat berfungsi
kembali. Di Amerika Serikat, program-program Bantu an Publik (public
assistance), seperti Supplemental Security Income (SSI), General Assistance, Medicaid, Food Stamps, Housing Assistance, dan Aid to Families
with Dependent Children (AFDC) -kini menjadi Temporary Assistance
f0r Needy Families (TANF) (Chambers, 2000), adalah beberapa contoh

program residual dalam penanggulangan kemiskinan.


Perspektif residual sangat clipengaruhi ideologi konservatif (berasal dari
kata kerja "to comerve", ''memelihara" atau "mempertahankan") yang

BAs

1-

PEMBANGUNIIN KESEJAHTERAAN SosrAL

11

cenderung menolak perubahan (Parsons et.al., 1994; Zastrow, 2000). Menu rut
ideologi ini tradisi dan kepercayaan yang berubah cepat akan menghasilkan
dampak negatif, ketimbang positif. Dalarn konteks ekonomi, penganut
konservatif melihat bahwa pemerintah tidak perlu melakukan intervensi
terhadap bekerjanya pasar. Daripada mengatur bisnis dan industri, pemerintah
lebih baik mendukungnya melalui pemberian insentif pajak. Ekonomi pasar
bebas adalah cara paling baik untuk menjamin kemakmuran dan pemenuhan
kebutuhan individu. Welfare state yang berwajah rudimentary, selektivitas
dan melibatkan pendekatan means-tested kemudian diyakini oleh para
residualist sebagai model yang tepat dijalankan dalam sistem kesejahteraan

sosial suatu negara (lihat Spieker, 1995; Suharto, 2005c).


Perspektif residual sering disebut sebagai pendekatan yang "menyalahkan
korban" atau blaming the victim approach. Masalah sosial, termasuk
kemiskinan, disebabkan oleh kesalahan-kesalahan individu dan karenanya
menjadi tanggungjawab dirinya, bukan sistem sosial. Metoda pekerjaan
sosial dalam mengatasi masalah sosial melibatkan pendekatan klinis dan
pelayanan langsung yang ditujukan untuk membantu orang menyesuaikan
diri dengan lingkungannya. Program-program pengentasan kemiskinan yang
bergaya jaring Pengaman Sosial (JPS) atau subsidi BBM adalah "anak
kandung" faham residual. Penerima pelayanan sosial dianggap sebagai
klien, pasien, orang yang tidak mampu menyesuaikan diri atau bahkan
penyimpang (deviant) (Parsons et.al., 1994).

Pendekatan lnstitusional
Berbeda dengan perspektif residual yang memandang pelayanan sosial
sebagai charity for unfortunates, pendekatan institusional melihat sistem
dan usaha kesejahteraan sosial sebagai fungsi yang tepat dan sah dalam
masyarakat modern. Pelayanan sosial dipandang sebagai hak warga negara.
Program pengentasan kemiskinan eli AS yang berbentuk Asuransi Sosial
(social insurance), semisal Old Age, Survivors, Disability, and Health
Insurance (OASDHI); Medicare; Unemployment Insurance; clan Workers'
Compensation Insurance aclalah manifestasi clari pembangunan kesejahteraan

sosial yang berbasis penclekatan insitusional.

12

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Perspektif institusional dipengaruhi oleh ideologi liberal yang percaya


bahwa perubahan pada umumnya adalah baik dan senantiasa membawa
kemajuan (Parsons et.al., 1994; Zastrow, 2000). Masyarakat dan ekonomi .
pasar memerlukan pengaturan guna menjamin kompetisi yang adil dan
setara di antara berbagai kepentingan. Karena negara dipandang
merefleksikan kepentingan-kepentingan warganya melalui perwakilanperwakilan kelompok, maka pemerintah dibenarkan untuk mengatur dan
memberikan pelayanan sosial. Perspektif ini sangat mendukung model
welfare state yang bersifat universal. Program-program pemerintah, termasuk

program kesejahteraan sosial dipandang penting untuk memenuhi kebutuhan


dasar kemanusiaan secara luas dan berkelanjutan. Seperti dinyatakan
Zastrow (2000:14), para penganut faham liberal meyakini bahwa " ...
government regulation and intervention are often required to safeguard
human rights, to control the excess of capitalism, and to provide equal
chances for success. They emphasize egalitarianism and the rights of minorities." Menariknya, sikap seperti ini justru berbeda dengan faham para

ekonom pemuja neo-liberalisme yang cenderung niendukung pasar bebas,


globalisasi, dan laissez-faire policy sebagaimana dianut para politisi dari
kalangan konservatis.
Selain dipengaruhi ideologi liberal, perspektif institusional juga dekat
dengan ideologi radikal. Dalam konteks ini, perspektif institusional termasuk
dalam gugus pendekatan "yang menyalahkan sistem" (blaming the system
approach) (Parsons, et.al., 1994). lndividu dan kelompok dipandang sebagai

warga negara yang sehat, aktif dan partisipatif. Kemiskinan bukan disebabkan
oleh kesalahan individu. Melainkan, produk dari sistem sosial yang tidak
adil, menindas, sexist dan rasis yang kemudian membentuk sistem kapitalis.
Metoda pekerjaan sosial yang sering digunakan mencakup program-program pencegahan, pendidikan, pemberdayaan dan penguatan strukturstruktur kesempatan. Tiga bentuk program pemerintah yang umum
ditekankan oleh pendekatan institusional meliputi: penciptaan distribusi
pendapatan; stabilisasi mekanisme pasar swasta; dan penyediaan "barangbarang publik" tertentu (pendidikan, kesehatan, peru mahan sosial, rekreasi),
yang tidak dapat disediakan oleh pasar secara efisien (Parsons et.al., 1994).

BAB

1-

PEMBANGUNAN KESEJAHTERAAN SOS!AL

13

Pendekatan Pengembangan
Selama bertahun-tahun telah terjadi perdebatan seru antara penganut ideologi
liberal/institusional dengan penganut ideologi konservatif/residual. Kaum
institusional mengkritik pendekatan residual sebagai perspektif kesejahteraan
sosial yang tidak sejalan dengan prinsip kewajiban negara (state obligation). Negara wajib menyediakan bantuan jangka panjang dan terstruktur

kepada konstituen mereka, terutama kelompok lemah, miskin dan kurang


beruntung (disadvantegd groups) yang tidak mampumemenuhi kebutuhan
dasarnya secara mandiri dan adekuat. Skema bantuan sosial residual yang
mensyaratkan test penghasilan (means-tested approach) dikritik sebagai
sistem kesejahteraan sosial yang melahirkan stigma dan poverty trap kepada
para penerimanya.
Skema pelayanan sosial means-tested umumnya hanya diberikan kepada
orang miskin yang memiliki pendapatan tertentu atau di bawah garis
kemiskinan yang telah ditetapkan. Misalkan garis kemiskinan yang ditetapkan
adalah Rp.1 00.000 per bulan. Maka hanya orang yang berpendapatan di
bawah garis kemiskinan itulah yang berhak menerima pelayanan sosial.
Akibatnya, skema ini menimbulkan stigma, karena penerima pelayanan
sosial selalu diidentikan dengan orang miskin dan tidak mampu. Apabila
orang tersebut suatu ketika mendapat pekerjaan dengan upah, katakanlah
Rp.11 0.000 per bulan, secara otomatis dia harus melepaskan bantuan
sosial yang diterimanya. Kondisi ini sering memaksa para penerima
pelayanan untuk tetap tidak bekerja, terutama jika upahnya hanya lebih
sedikit dari standar kemiskinan. Situasi seperti inilah yang kemudian disebut
sebagai "jebakan kemiskinan", karena orang miskin terpaksa atau dipaksa
untuk terus hidup di bawah garis kemiskinan.
Sebaliknya, kelompok residual juga tidak henti-hentinya mengkritik
pendekatan institusional. Pendekatan ini dipandangtelah melahirkan model
welfare state yang boros, tidak ekonomis dan menciptakan ketergantungan

kepada pemerintah yang berkuasa. Para penerima pelayanan sosial menjadi


malas, manja dan tidak mau bekerja agar dapat memberi kontribusi bagi
kesejahteraan masyarakat.
Konsepsi pembangunan sosial yang diajukan Midgley (1995) dalam

14

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

buku Social Development: The Developmental Perspective in Social Wel-

fare (1995) menawarkan pendekatan alternatif, yakni perspektif


pengembangan (developmental perspective) yang memadukan aspek-aspek,
positif dari pendekatan residual maupun institusional (Zastrow, 2000).
Perspektif pengernbangan ini sering disebut juga sebagai pendekatan
pembangunan sosial yang oleh Midgley (1995:25) didefinisikan sebagai "a

process of planned social change designed to promote the well-being of


population as a whole in conjunction with a dynamic process of economic development."
Perspektif pengembangan sejalan dengan ideologi liberal dan pendekatan
institusional. Ia mendukung pengembangan program-program kesejahteraan
sosial, peran aktif pemerintah, serta peiibatan tenaga-tenaga profesional dalam
perencanaan sosial. Menurut Midgley (2005: 205):
Selain memfasilitasi dan mengarahkan pembangunan sosial, pemerintah
juga seharusnya memberikan kontribusi langsung pada pembangunan
sosiallewat bermacam kebijakan dan program sektor publik. Perspektif
institusional membutuhkan bentuk organisasi formal yang bertanggungjawab untuk mengatur usaha pembangunan sosial dan mengharmoniskan implementasi dari berbagai pendekatan strategis yang
berbeda. Organisasi seperti ini berada pada tingkat yang berbeda
tetapi tetap harus dikoordinasikan pada tingkat nasion aI. Mereka juga
mempekerjakan tenaga spesialis yangtelah terlatih dan terampil untuk
mendukung tercapainya tujuan pembangunan sosial.

Pendekatan pengembangan juga tidak menentang ideologi konservatif


dan pendekatan residual, karena menyatakan bahwa pengembangan program-program kesejahteraan sosial tertentu akan memiliki dampak positif
terhadap ekonomi (di AS, politisi aliran konservatif umumnya menolak
program-program kesejahteraan sosial karena dipandang akan membawa
dampak negatifterhadap pembangunan ekonomi) (Zastrow, 2000:15). lni
sejalan dengan ide Tittmus (1974), "Mbahnya" kebijakan sosial dan pekerjaan
sosial lnggris, yang berpendapat bahwa kesejahteraan sosial adalah "the

handmaiden of the process of production." Agar terus hidup dan berjaya,


masyarakat harus memiliki beberapa piranti untuk memelihara keteraturan,

BAB

1 -

PEMBANGUNAN KESEJAHTERAAN 50SIAL

15

mempertahankan perubahan, menciptakan angkata:1 kerja yang kuat dan


terampil, serta mereproduksi dirinya sendiri untuk masa depan. Sistem
kesejahteraan sosial memiliki fungsi untuk mempromosikan investasi sosial
semacam ini (Spieker, 1988; 1995). Menurut Costa Esping-Andersen,
kebijakan sosial di Swedia telah mampu mendukung pertumbuhan ekonomi
dan tenaga kerja dan tidak hanya sekadar merespon kebutuhan sosial
(Midgley, 1995).
Dalam buku sebelumnya, The Social Dimensions of Development:

Social Policy and Planning in the Third World, Hardiman dan Midgley
(1982) berpendapat bahwa penanganan masalah sosial di Dunia Ketiga
seharusnya lebih difokuskan kepada kemiskinan, karena merupakan masalah
dominan dan. mempengaruhi permasalahan sosial lainnya. Namun,
mengingat kemiskinan di negara berkembang memiliki karakteristik yang
berbeda dengan negara~negara industri maju, maka strategi yang digunakan
di negara maju tidak dapat begitu saja diadopsi negara berkembang. Oleh
karena itu, selain menyatukan dua perspektif dan ideologi kesejahteraan
sosial yang tadinya berlawanan, perspektif pengembangan juga muncul
sebagai reaksi terhadap tiga strategi peningkatan kesejahteraan sosial, yakni
filantropi sosial, pekerjaan sosial dan administrasi sosial, yang dianggap
Midgley terlalu didominasi oleh pendekatan residual dan program-program sosial yang bersifat remedial dan kuratif.
Metoda pekerjaan sosial yang bermatra klinis, yang seringkali digunakan
para pekerja sosial di negara-negara maju, dipandang Midgley kurang
tepat jika digunakan dalam menangani kemiskinan. Sebagai ilustrasi,
kemiskinan di AS banyak disebabkan oleh faktor-faktor yang bersifat individual, seperti kesehatan yang buruk, kecacatan fisik, kecacatan mental,
masalah emosional, alkoholisme, penyalahgunaan narkoba (Zastrow, 2000)
dan karenanya cocok jika ditangani dengan metode casework atau terapi
individu dan konseling. Sedangkan kemiskinan di Indonesia lebih disebabkan
oleh faktor-faktor struktural, semisal KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme)
atau sistem pendidikan, kesehatan dan jaminan sosial yang kurang
memadai. Midgley mengusulkan bahwa selain memerlukan program-program penguatan sosial dan ekonomi dalam skala masyarakat,

16

MEMBANGUN MASYARAKAT

ME~1BERDAYAKAN RAKYAT

penanggulangan kemiskinan perlu pula didukung o!eh kebijakan ekonomi


dan sosial pada skala nasional (Hardiman dan Midgley, 1982; Midgley,
1995; lihat Suharto, 2005b).

Isu-isu Pembangunan Kesejahteraan Sosiai


Di negara-negara yang kapitalis dan bahkan atheis sekalipun, selalu ada
perlindungan sosial dari pemerintah untuk mencegah kaum lemah
terpinggirkan oleh derap modernisasi dan industrialisasi. Di Indonesia,
selain PKS diamanatkan secara tegas oleh konstitusi, jumlah PMKS masih
san gat besar. Mereka umumriya merupakan "kelompok termiskin dari yang
miskin" (the poorest of the poor). Pada tahun 2002, prosentase penduduk
miskin dan fakir miskin terhadap total penduduk Indonesia adalah sekitar
17,6 persen dan 7,7 persen. lni berarti bahwa secara rata-rata jika ada
100 orang Indonesia berkumpul, 18 orang di antaranya adalah orang
miskin. Dan jika kelompok fakir miskin ini kita kategorikan sebagai PMKS,
maka dari 18 orang miskin tersebut, 8 orang di antaranya adalah PMKS
(BPS dan Depsos, 2002:9).

Lemahnya Visi
Meskipun demikian, terdapat kesan kuat bahwa para politisi dan pembuat
keputusan di Indonesia masih belum memiliki visi PKS yang tegas. Sebagai
contoh, anggaran pemerintah untuk PKS masih sangat kecil jika
dibandingkan dengan anggaran untuk pembangunan sosial lainnya.
Pertanyaannya, mengapa para politisi dan pembuat kebijakan di Indonesia
tidak memiliki visi yang jelas mengenai PKS? Jika dipetakan, sedikitnya
ada tiga isu yang menjelaskan kondisi ini.
Pertama, pandangan mengenai pentingnya PKS seringkali terjegal oleh
mainstream pemikiran ekonomi yang kapitalistik. lndikator-indikatorekonomi

makro seperti pertumbuhan GNP, investasi, dan perluasan kesempatan


kerja dijadikan parameter utama dan citra keberhasilan pembangunan.
Kondisi sejahtera kemudian direduksi menjadi sekadar kemakmuran
ekonomi. Kesejahteraan dianggap akan tercipta dengan sendirinya jika

BAB

1-

PEMBANGUNAN KESEJAHTERAAN SosiAL

17

pertumbuhan ekonomi dipacu setinggi .mungkin. Mekanisme pasar bebas


dan "trickle down effects" diyakini sebagai "tangan-tangan tidak kelihatan"
yang akan mengatur beroperasinya pembangunan nasional secara optimal, meskipun kenyataannya tidak terbukti. Pada saat pemerintahan SBY
baru terbentuk, para ekonom dan pemlkir kapitalisme "buru-buru"
mengangkat isu bahwa pemerintah harus ramah pasar. Padahal yang tepat,
pasarlah yang harus ramah pemerintah. Terlebih, pasar harus ramah rakyat.

Kedua, komitmen terhadap pembangunan seringkali masih bersifat


jangka pendek berdasarkan .kalkulasi ekonomi sederhana. Kegiatan
pembangunan hanya dilihat dari seberapa besar kontribusinya terhadap
APBN. Artinya, jika pemerintah mengeluarkan anggaran untuk pembangunan
sebesar satu miliar, maka pemerintah harus memperoleh return yang lebih
besar dari satu miliar. Karena PKS tidak dapat menghasilkan keuntungan
ekonomi bagi negara dalam waktu singkat, maka tidak mengherankan
kalau sebagian besar penguasa ogah-ogahan mengurusi masalah ini.
Sayangnya, pandangan seperti ini telah merasuk pula ke para politisi dan
pembuat keputusan di daerah. Dengan otonomi daerah, kini semakin
banyak Pemda yang mampu meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah).
Namun, kurang bersemangat mengatasi "PAD" (Permasalahan Asli Daerah).
Dana Pemda untuk PKS sebagian besar banyak yang mengandalkan kucuran
anggaran dari pemerintah pusat melalui dana dekonsentrasi. Pengelolaan
ekonomi "rabun jauh" (miopia) seperti ini mirip dengan ekonomi "kakilima"
yang sederhana. Pagi hari pergi ke pasar membawa dagangan senilai
Rp.1 00.000, sore hari pulang ke rumah dengan membawa uang
Rp.150.000. Padahal mengelola negara lebih kompleks, memerlukan
wawasan yang lebih luas dan berpandangan ke depan. lnvestasi tidak
mesti dalam bentuk ekonomi jangka pendek, melainkan pula investasi
sosial jangka panjang.

Ketiga, PMKS yang menjadi sasaran utama PKS adalah kelompok


masyarakat yang memiliki bargaining position yang rendah. Mereka tidak
memiliki sumber dan akses yang dapat menyuarakan aspirasi politiknya.
Walhasil, meskipun kitab suci, ajaran moral dan LJU menekankan
pentingnya pembelaan terhadap mereka, para penguasa lebih tertarik pada

18

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

kelompok-kelompok kuat yang memililiki uang dan jaringan. Terlebih di


negeri yang penuh dengan KKN, para penguasa lebih berminat berhubungan
dengan orang yang memiliki uang melimpah guna menjalin deal-deal,
yang saling menguntungkan. Secara guyon, lagu heroik yang tadinya
berbunyi "maju tak gentar, membe/a yang benar" bisa diplesetkan menjadi
"maju tak gentar, membela yang besar".

Program Strategis
lsu lain yang hangat dibicarakan adalah menyangkut akuntabilitas
(accountabiity) program PKS (Suharto, 2005a). Sejalan dengan rnenguatnya

semangat kompetisi dan efisiensi, perencanaan program PKS baik pada


tingkat nasional maupun daerah semakin dituntut untuk lebih akuntabel
(accountable). Artinya, dampak PKS harus terukur secara jelas. Dalam

bahasa politik, wacana ini seringkali diungkapkan dengan pernyataan bahwa


"program PKS harus bersifat strategis". Sebagai suatu bidang atau sektor
pembangunan yang melibatkan program dan pelayanan sosial yang "tidak
kelihatan" (intangible services), PKS memerlukan parameter yang jelas
dalam menentukan apakah program PKS bersifat strategis, kurang strategis
atau tidak strategis. Secara konseptual, parameter untuk menentukan kestrategis-an PKS dapat diringkas dalam akronim "FIT-V" yang merupakan
kepanjangan dari Factor, Impact, Trend, dan Value (Gambar 1 .4):
1.

Factor (faktor): Apakah program PKS causally accountable? Artinya,


apakah program PKS merupakan faktor penentu yang mampu mengatasi
masalah publik yang menyangkut orang banyak (key factor to problem solving)?

2.

Impact (dampak): Apakah program PKS socially and economically


profitable? Apakah program PKS bermanfaat atau berdampak pada
peningkatan kesejahteraan publik?

3.

Trend (kecenderu ngan): Apakah program PKS globally and nationally


visible? Apakah program PKS sejalan dengan kecenderungan global
dan nasional?

4.

Value (nilai): Apakah program PKS culturally acceptable? Apakah


program PKS sesuai dengan nilai-nilai dan harapan-harapan kultural
yang berkembang pada masyarakat?

BAs

1-

PEMBANGUNAN KESEJAHTERAAN SosiAL

19

Gambar 1.4: Parameter Program Strategis

Pemahaman mengenai program strategis ini selain akan membantu


memudahkan penentuan prioritas program PKS, juga dapat meningkatkan
daya saing program PKS dibandingkan dengan program pembangunan
lainnya. Para politisi dan pembuat keputusan lebih tertarik kepada program PKS yang strategis.

Visi dan Misi Pembangunan Kesejahteraan Sosial


Pertanyaannya, apa saja yang perlu dilakukan agar PKS memenuhi kriteria
strategis di atas? Sedikitnya ada tiga agenda besar yang perlu dilakukan
(lihat Kotak 1 .1 tentang visi dan misi pembangunan kesejahteraan sosial
yang diusulkan penulis masuk ke dalam Rencana Strategis Depsos ke
depan):
Pertama, tugas PKS perlu direkonstruksi atau diluruskan kembali (rebounding) agar lebih jelas dan terukur. Sebagai langkah awal, reformulasi

visi PKS merupakan keharusan. Kita bisa berkaca pada visi lembaga bisnis
seperti Nokia yang dengan jelas menyatakan "connecting people" atau
maskapai penerbangan Lion Air yang dengan gagah berkata "we make
people fly". Sejalan dengan tiga fokus PKS, yakni pelayanan sosial,

perlindungan sosial, dan pemberdayaan masyarakat, visi PKS dapat mengacu

20

M EM BAN GUN MASYARAKAT M EMBERDAYAKAN RAKYAT

pada tiga kegiatan pokok tersebut, katakanlah, menjadi "melayani,


melindungi, dan memberdayakan masyarakat". Dengan visi ini, PKS dapat
merumuskan core business-nya secara terukur sehingga memiliki "merek.
dagang" (trade-mark) yang mudah dikenal oleh masyarakat luas.
Kedua, mengarusutamakan disiplin dan profesi pekerjaan sosial ke

dalam kebijakan dan program PKS. Seperti halnya profesi keguruan yang
menjadi "tuan rurnah" di bidang pendidikan atau profesi kedokteran di
bidang kesehatan, maka PKS perlu pula menetapkan pekerjaan sosial sebagai
"tuan rumah" dan basis profesionalisme yang menerangi setiap konsep
dan strateginya. Sebagian besar kebijakan dan program PKS belum didasari
oleh konsep-konsep pekerjaan sosial. Melainkan hanya begitu saja dicomot
dari ilmu-ilmu sosiallain yang seringkali kurang relevan. Sejalan dengan
ini, PKS perlu mengedepankan pekerja sosial profesional sebagai profesi
utama di bidang kesejahteraan sosial. Seperti guru dan dokter, para pekerja
sosial profesional ini adalah lulusan perguruan tinggi jurusan kesejahteraan
sosial atau pekerjaan sosial yang dihasilkan Sekolah Tinggi Kesejahteraan
Sosial, Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, serta perguruan
tinggi negeri dan swasta lain yang tersebar di Indonesia. Tanpa ada kejelasan
profesionalisme seperti ini, PKS akan terus-menerus dipandang sebagai
lembaga "biasa-biasa saja" yang kegiatannya dapat dilakukan oleh siapa
saja, di mana saja dan kapan saja.
Ketiga, agar tidak sekadar dipandang sebagai sektor pembangunan

yang hanya menangani "sampah sosial" atau "piring kotor", PKS tidak
hanya terpusat pada kegiatan rowing (mendayung) dalam "perahu"
pembangunan nasional, melainkan harus pula terlibat dalam aktivitas "steering" (menyetir) "perahu" pembangunan nasional, dalam bentuk perumusan

kebijakan sosial di tingkat makro. PKS perlu menggeser sasaran tembaknya


dari sekadar menangani problema sosial di tingkat hilir menjadi menangani
problema sosial di tingkat hulu. Misalnya, lembaga-lembaga yang bergerak
di bidang PKS seperti ~epsos dapat memulainya dengan menjadi lembaga
audit sosial yang bertugas memberi peringatan dini kepada lembaga lain
yang memproduksi kebijakan dan program yang merugikan kesejahteraan
masyarakat. Kalau Kementerian Lingkungan Hidup dapat memberi alarm

BAs

1-

PEMBt.NGUNAN KESEJAHTERAAN SosrAL

21

soal polusi dan kerusakan lingkungan, maka Depsos juga harus mampu
merancang parameter yang mampu memberi peringatan dini soal"polusi
sosial" dan "kerusakan sosial" akibat kegiatan industri atau pembangunan
yang dilakukan oleh pihak lain.

-;-'

i IikLk~rri~mpuc:m
..
.
dasa:rnya ~esuai
'

22

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

masya~akat.ya~g beruntung(ad6~At1~~dg~oups)_dan dunia u~~h~~}

dalam pembangunan kesejahtera~n;~osial ;. . {. . <


4.

5.

\/c x<~:lt~aw

Mengembangkan sistem danrn8B~I ja;.hi~an ~osia( b~ik '9~Wg~;,.


dilakukansecara formal oleh pehlerintali, maupun dilakukan sec~r~:.:
informal oleh pranata-pranata sosial: <<. . .
..
. .... ...
Mend uku ng tersgle~lgg~[ariya dk{.eni~'lisa~{.pembao'go~i~~t~!~
kese jahteraan so sip I dengan. tetap !Tl~h1perhatikan p rins ip' keadi hiri.:

:~:~k~~;::~h:1!a~!~~t~~~~~~!Qa~;::~a,~r:d;(', .
' ,- ....... ,

:::.--_,-.:.; ,' -~:~.:: :;=-> :-

'

-~-~:/_-~~--

_ : - : , '

:-

-.

~)'

. StrategiL?~!:~. . ,... . . . . :;,; ;:~.~;'.. ~,:~:.:c,;;,;i..:\,\;W~~:}~,1~l$~l:~~F~.:.:;,;,. .,:.


1.

2.

3.

40

50

6.

lnvestasi sosfai:Pembarl.laYr'l<61111men"'r\~gara'da:lammel'aksa ... n;1;


kewajiban sosial (social ob/igatiori),t~rhadap warga n~egarayang:,
menempatkan pembangunan'kesejahteraan sosial sebagai pil"adti~i

~:::;:~:o:~::a~~~;:~:~:;n~~;;n~:~:;jJ,,o;i~l ~roi~~~fe':
yakni yang memiliki lata:r belal<ahf(pendidikan dan keahlian'1\
pekerjaan sosial, dalam penyelenggaraan pembangunan kesejah:7.::~
teraan sosial.
' ,.
Partisipasi sosial: Penguatan kepedulian:, i~isiatlf dan pe;~n,(ikiig!:
masyarakat dalam merencanakan, melaksanakah dan mengawasif
segenap proses pembangLinan kesejahteraan sosial beserta hasH-.
hasil yang dicapainya.
Kemitraan sosial: Penurnbuhkembangan kerjasama antara
pemerintah, masyarakat madani dan dunia usia dalam p~m-:
qangunan kesejahteraan sosial secara setara dan dinamis. ; ,
Advokasi sosial: Pembel~an dan pendahlpingah terhadap;hak-h~~r
sosial (social rights) masyarakat yang mengalami eksploitasi dan
peminggiran struktural oleh individu, kelornpok, maupun institusi.:,
lain yang menindas.

::;
Pemberdayaan sosial: Penguatan kapasitas (capacity building) para
penerima pelayanan sosial sehingga memiliki kemampuan dan
kepercayaan diri dalam memenuhi kebutuhan dasarnya, menjangkau pelayanan sosial, serta berpartisipasi dalam kehidupan :
masyarakat secara mand iri
0

Pekerjaan Sosial

Pada bab terdahulu dikemukakan bahwa pekerjaan sosial sejatinya harus


merupakan profesi utama dalam pembangunan kesejahteraan sosial (PKS).
Agar sistem dan mekanisme PKS dapat memberikan kontribusi bagi
pembangunan nasional secara maksimal, PKS perlu dilaksanakan secara
profesional oleh para pekerja sosial

(social worker) yang memiliki kompetensi

profesional atau keahlian khusus di bidangnya. Bab ini menjelaskan karakteristik


pekerjaan sosial sebagai sebuah profesi kemanusiaan yang berkiprah dalam
arena atau bidang kesejahteraan sosial, termasuk pemberdayaan masyarakat.
Di dalamnya dibahas pula mengenai konsep keberfungsian sosial yang
merupakan fokus perhatian intervensi pekerjaan sosial serta Perspektif Kekuatan

(Strengths Perspective) sebagai salah satu model pertolongan pekerjaan sosial.


Bab ini ditutup oleh sebuah pendekatan pekerjaan sosial dalam memobilisasi
lingkungan atau sumber yang berada di seputar klien, yaitu Anal isis Jaringan
Sumber (AJS).

Pekerjaan Sosial
Pekerjaan sosial adalah profesi kemanusiaan yang telah lahir cukup lama.
Sejak kelahirannya sekitar tahun 1800-an (Zastrow, 1999; Zastrow, 2000;
Shulman, 2000), pekerjaan sosial terus mengalami perkembangan sejalan
dengan tuntutan perubahan dan aspirasi masyarakat. Namun demikian,
seperti halnya profesi lain (misalnya kedokteran, keguruan), fondasi dan
prinsip dasar pekerjaan sosial tidak mengalami perubahan. Tan dan Er.vall

"while social work explores changes and adapts to


various demands ... the basic ingredients of social work must remain in the

(2000:4) berujar,

23

24

MEMBANGUN MASYARAKAT MEM6ERDAYAKAN RAKYAT

changing tide."

Pekerja sosial berbeda dengan profesi lain, semisal psikolog, dokter


atau psikiater. Sebagai ilustrasi, pada saat mengobati pasien seorang dokter
hanya memfokuskan perhatian pada penyakit pasien saja. Saat menghadapi
klien, seorang pekerja sosial tidak hanya melihat klien sebagai target
perubahan, melainkan pula mempertimbangkan lingkungan atau sistuasi
sosial di mana klien berada, termasuk di dalamnya "orang-orang penting
lain" (significant others) (Suharto, 2005a; 2005b) yang mempengaruhi
klien. Mandat utama pekerja sosial adalah memberikan pelayanan sosial
baik kepada individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat yang
membutuhkannya sesuai dengan nilai-nilai, pengetahuan dan keterampilan
profesional pekerjaan sosial. Mengacu pada profesi di bidang jurnalistik
(yakni wartawan) dan bidang kesehatan-psikis (yakni psikiater), pekerja
sosial juga bisa diberi nama lain, yaitu sosiawan atau sosiater. Pemberian
nama yang pendek ini terutama untuk menghilangkan anggapan umum
yang seringkali melihat pekerja sosial sebagai orang yang bekerja di bidang
amal atau kegiatan sosial.
Pekerjaan sosial adalah aktivitas profesional untuk menolong individu,
kelompok dan masyarakat dalam meningkatkan atau memperbaiki kapasitas
mereka agar berfungsi sosial dan menciptakan kondisi~kondisi masyarakat
yang kondusif untuk mencapai tujuan tersebut (Zastrow, 1999). Sebagai
suatu aktivitas profesional, pekerjaan sosial didasari oleh tiga komponen
dasar yang secara integratif membentuk profil dan pendekatan pekerjaan
sosial: kerangka pengetahuan (body of knowledge), kerangka keahlian
(body of skills) dan kerangka nilai (body of values). Ketiga komponen

tersebut dibentuk dan dikembangkan secara ekletik dari beberapa ilmu


sosial seperti sosiologi, psikologi, antropologi, filsafat, politik dan ekonomi.
Nilai-nilai, pengetahuan dan keterampilan pekerjaan sosial dapat dilihat
dari definisi pekerjaan sosial terbaru. Dalam Konferensi Dunia di Montreal
Kanada, Juli tahun 2000, International Federation of Social Workers (IFSW)
(Tan dan Envall, 2000:5) mendefinisikan pekerjaan sosial sebagai berikut:
The social work profession promotes problem solving in human relationships, social change, empowerment and liberation of people, and

BAs

2 -

PEKERJAAN SosiAL

25

the enhancement of society. Utilizing theories of human behavior


and social systems, social work intervenes at the points where people
interact with their environments. Principles of human rights and social justice are fundamental to social work.

(Profesi pekerjaan sosial mendorong pemecahan masalah dalam kaitannya


dengan relasi kemanusiaan, perubahan sosial, pemberdayaan dan
pembebasan man usia, serta perbaikan masyarakat. Menggunakan teoriteori perilaku manusia dan sistem-sistem sosial, pekerjaan sosial
melakukan intervensi pada titik (atau situasi) di niana orang berinteraksi
dengan lingkungannya. Prinsip-prinsip hak azasi man usia dan keadilan
sosial sangat penting bagi pekerjaan sosial.)

Secara garis besar ilmu dan metoda penyembuhan sosial (social treatment) pekerjaan sosial terdiri atas pendekatan mikro dan makro. Pendekatan

mikro merujuk pada berbagai keahlian pekerja sosial untuk mengatasi


masalah yang dihadapi oleh individu, keluarga dan kelompok. Masalah
sosial yang ditangani umumnya berkenaan dengan problema psikologis,
seperti stress dan depresi, hambatan relasi, penyesuaian diri, kurang percaya
diri, alienasi atau kesepian dan keterasingan, apatisme hingga gangguan
mental. Dua metoda utama yang biasa diterapkan oleh pekerja sosial
dalam setting mikro ini adalah terapi perseorangan (casework) dan terapi
kelompok (groupwork) yang di dalamnya melibatkan berbagai teknik
penyembuhan atau terapi psikososial seperti Terapi Berpusat pada Klien
(client-centered therapy), terapi perilaku (behavior therapy), terapi keluarga
(family therapy), terapi kelompok (group therapy). Pendekatan makro adalah

penerapan metoda dan teknik pekerjaan sosial dalam mengatasi masalah


yang dihadapi masyarakat dan lingkungannya (sistem sosial), seperti
kemiskinan, ketelantaran, ketidakadilan sosial, dan eksploitasi sosial. Tiga
metoda utama dalam pendekatan makro adalah terapi masyarakat
(communitywork -populer dengan nama "pengembangan masyarakat"

atau community development), manajemen pelayanan kemanusiaan (human service management -bisa pula disebut terapi kelembagaan atau
institutional therapy) dan analisis kebijakan sosial (social policy analysis).

Perbedaan mendasar antara communitywork, human service management

26

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

dan social policy analysis adalah jika dua metoda yang disebut pertama
merupakan pendekatan pekerjaan sosial dalam praktik langsung (direct
practice) dengan kliennya, maka anal isis kebijakan sosial merupakan metoda

pekerjaan sosial dalam praktik tidak langsung (indirect practice) dengan


kliennya.
Pusat perhatian pengembangan masyarakat adalah orang-orang dan
sumber-sumber kemasyarakatan yang biasanya bermatra lokal. Programprogram peningkatan pendapatan masyarakat seperti usaha ekonomis
produktif, kelompok usaha bersama (KUBE), kredit mikro adalah contoh
konkrit penerapan metode pengembangan masyarakat. Sementara itu,
sasaran perubahan analisis kebijakan sosial lebih luas lagi, yaitu pada
keberfungsian sistem yang mempengaruhi masyarakat yang akan dibantunya.
Perumusan kebijakan dan peraturan yang berkaitan dengan perlindungan
sosial, jaminan sosial, pemerataan pendapatan adalah contoh kongkrit
pendekatan analisis kebijakan sosial.

Keberfungsian Sosial
PKS seringkali bersifat multidimensi. Program dan kegiatan yang berkaitan
dengan pelayanan sosial, perlindungan sosial dan pemberdayaan masyarakat
bisa terentang mulai dari kegiatan-kegiatan peningkatan pendapatan (aspek
ekonomi) hingga peningkatan kapasitas intelektual atau keterampilan sosial
(aspek pendidikan) dan kapasitas fisikal (aspek kesehatan). Oleh karena
itu, meskipun dominan, pekerja sosial atau sosiater bukanlah satu-satunya
profesi yang terlibat di dalam arena PKS. Dalam menangani korban bencana
tsunami di Aceh, umpamanya, program dan kegiatan PKS melibatkan
banyak sekali profesi pertolongan yang melaksanakan tugas sesuai dengan
fungsinya, seperti ekonom, dokter, guru, dan psikolog. Diantara profesiprofesi tersebut, peran pekerja sosial lebih dominan dalam peningkatan
keberfungsian sosial klien. Sedangkan profesi lainnya, peranan dominannya
adalah dalam menjalankan fungsi khasnya. Tujuan seorang dokt:er menangani
pasien adalah untuk menyembuhkan penyakit yang diderita pasien sehingga
ia sehat. Seorang guru mendidik siswa tujuannya adalah agar siswa tersebut

BAs

2 -

PEKERJAAN SosiAL

27

terlepas dari kebodohan dan menjadi pintaratau terdidik. Secara sederhana,


hubungan dan fokus berbagai profesi dalam arena PKS dapat dilihat pada
Gambar 2.1.

AREA
PEMBANGUNAN
KESEJAHTERAAN
SOSIAL

Gambar 2.1: Fokus Berbagai Profesi dalam Arena Pembangunan


Kesejahteraan Sosial

Dalam proses pertolongannya, peranan pekerja sosial sangat beragam


tergantung pada konteksnya. Secara umum pekerja sosial dapat berperan
sebagai mediator, fasilitator atau pendamping, pembimbing, perencana,
dan pemecah masalah. Kinerja pekerja sosial dalam melaksanakan
meningkatkan keberfungsian sosial dapat dilihat dari beberapa strategi
pekerjaan sosial sebagai berikut:
1.

Meningkatkan kemampuan orang dalam menghadapi masalah yang


dialaminya.

2.

Menghubungkan orang dengan sistem dan jaringan sosial yang


memungkinkan mereka menjangkau atau memperoler berbagai sumber,
pelayanan dan kesempatan.

3.

Meningkatkan kinerja lembaga-lembaga sosial sehingga mampu


memberikan pelayanan sosial secara efektif, berkualitas dan

28

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAI<:YAT

berperikemanusiaan.

4.

Merumuskan dan mengembangkan perangkat hukum dan peraturan


yang mampu menciptakan situasi yang kondusif bagi tercapainya
'
kemerataan ekonomi dan keadilan sosial.

Fokus utama pekerjaan sosial adalah meningkatkan keberfungsian sosial


(social functioning) melalui intervensi yang bertujuari atau bermakna.

Keberfungsian sosial merupakan konsepsi penting bagi pekerjaan sosial. Ia


merupakan pembeda antara pekerjaan sosial dan profesi lainnya. "Social
functioning to be a central purpose of social work and intervention was seen
as the enhancement of social functioning", begitu kata Skidmore, Thackeray

dan Farley (1991 :19). Keberfungsian sosial merupakan resultan dari interaksi
individu dengan berbagai sistem sosial di masyarakat, seperti sistem
pendidikan, sistem keagamaan, sistem keluarga, sistem politik, sistem
pelayanan sosial, dst. Berdasarkan penelitian di 17 propinsi yang kemudian
menjadi dua buku "Kemiskinan dan Keberfungsian Sosial: Studi Kasus Rumah
Tangga Miskin di Indonesia (2003)" dan "Menerapkan Pemandu: Perlindungan
Masyarakat Miskin Terpadu (2004)", Suharto dkk mendefinisikan

keberfungsian sosial sebagai kemampuan orang (individu, keluarga, kelompok


atau masyarakat) dan sistem sosial (lembaga dan jaringan sosial) dalam
memenuhi!merespon kebutuhan dasar, menjalankan peranan sosial,.serta
menghadapi goncangan dan tekanan (shocks and stresses) (Gambar 2.2).

Gambar 2.2: Konsepsi tentang Keberfungsian Sosial

BAs

2 -

PEKERJAAN SosiAL

29

Sebagai contoh, kemampuan melaksanakan peranan sosial adalah


kapasitas seseorang dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya sesuai
dengan status sosialnya. Misalnya, status seorang ayah memiliki peranan
sebagai pencari nafkah, pelindung dan pembimbing segenap anggota
keluarga. Maka seorang ayah dikatakan berfungsi sosial apabila ia mampu
menjalankan peranan tersebut. Sebaliknya bila seorang ayah, yang karena
sesuatu sebab (umpamanya karena sakit, cacat, atau dipenjara) tidak mampu
menjalankan peranannya, ia dikatakan tidak berfungsi sosial atau mengalami
disfungsi sosial. Keluarga, organisasi sosial, dan masyarakat juga dapat
dikatakan berfungsi sosial, bila mereka mampu menjalankan perananperanannya sesuai dengan status sosial, tugas-tugas dan tuntutan norma
lingkungan sosialnya.

Model Pertolongan
Selain melalui praktik, ilmu dan teknologi pekerjaan sosial berkembang
melalui pelatihan dan pendidikan formal. Di Indonesia pendidikan pekerjaan
sosial baru sampai program 52. Di universitas-universitas kelas dunia,
seperti di Amerika, lnggris, Perancis, Australia, New Zealand, Philippina,
Singapura, India, dan Malaysia, pekerjaan sosial diajarkan sampai tingkat
doktoral. Dibandingkan dengan profesi lain, harus diakui bahwa profesi
pekerjaan sosial di Indonesia masih tertinggal perkembangannya. Para
pekerja sosial menghadapi berbagai tantangan yang hingga kini masih
harus terus ditelisik solusinya. Tantangan tersebut terutama berkenaan dengan
kerangka kerja (framework) praktik pekerjaan sosial berdasarkan konsepsi
pekerjaan sosial yang genuine, asli dan khas.

Kerangka Kerja
Banyak yang berpendapat bahwa ketertinggaian pekerjaan sosial disebabkan
oleh kurangnya praktik dibandingkan dengan teori. Ketika di kelas atau
dalam seminarditerangkan mengenai konsep-konsep pekerjaan sosial, tidak
sedikit yang bersifat apriori sambil mengutip iklan shampo "ah ... teori".
Selain sikap ini merupakan kekeliruan dalam memandang dan "memper-

3Q

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

lakukan" teori, penulis berargumen bahwa ketertinggalan pekerjaan sosial


bukan karena kekurangan aplikasi, melainkan kekurangan konsepsi dan
model teori. Secara paradigmatik, model pertolongan pekerjaan sosial
sangat tergantung atau dipengaruhi oleh beroperasinya SC, yaitu Concept,
Commitment, Capability, Connection, dan Communicationdalam proses
dan praktik pekerjaan sosial (Gambar 2.3):
1.

Concept(konsep): menunjuk pada perumusan konsep-konsep pekerjaan


sosial yang akan dijadikan focus of inquiry secara ringkas, menarik
("seksi"), dan jelas.

2.

Commitment (komitmen): penerimaan secara konsisten terhadap konsep


yang telah didefinisikan dan akan digunakan sebagai pisau analisis.

3.

Capability (kapabilitas atau kemampuan): kemampuan atau keahlian


dalam mengaplikasikan konsep.

4.

Connection (koneksi atau jaringan): koneksi atau jaringan dengan mana


praktik pekerjaan sosial beroperasi, baik dengan teman sejawat dalam
bingkai asosiasi profesi atau dengan profesi lain secara teamwork.

5.

Communication (komunikasi): mengkomunikasikan setiap hasil praktik


dalam bentuk jurnal, buku. Bagi masyarakat modern, publikasi tertulis
merupakan dinamika sentral (zeitgeists) dan pendefinisi kemajuan
peradaban.

Kerangka kerja praktik pekerjaan sosial yang berserakan di literatur


Barat belum dikembangkan secara sungguh-sungguh menjadi konsepsi
praktik pekerjaan sosial gaya Indonesia. Bukankah pekerjaan sosial telah
sering dipraktikkan oleh ribuan mahasisiwa kesejahteraan/pekerjaan sosial
dan para pekerja sosial di panti-panti, lembaga sosial dan masyarakat?
Namun, karena kegiatan praktik tersebut tidak "dikonsepsikan" dan "dilndonesiakan", kita menyaksikan betapa domain pekerjaan sosial masih
saja pabaliut (campur aduk) dengan domain profesi lain. Akibatnya, tidak
sedikityang memandang pekerjaan sosial sebagai profesi "coca-cola" yang
bisa dilakukan oleh siapa saja, di mana saja dan kapan saja.

BAs

2 -

PEKERJAAN SosiAL

31

Gambar 2.3: Kerangka Kerja Praktik Pekerjaan Sosial

Model yang Berbasis Kekuatan Klien


Sebagai sebuah profesi, pekerjaan sosial, sesungguhnya memiliki model
dan pendekatan yang khas dalam menghadapi permasalahan sosial yang
ditanganinya. Bersandar pada kerangka pengetahuan (body of knowledge),
keterampilan (body of skills) dan nilai (body of value), ciri utama pendekatan
pekerjaan sosial adalah senantiasa menempatkan klien atau kelompok sasaran
(target group) dalam konteks situasi atau lingkungan yang mengitarinya.

Pendekatan person-in-situation atau person-in-environment ini kemudian


menjadi "cetak biru" (blue-print) pekerjaan sosial yang tidak melihat klien
sebagai orang atau sekelompok orang yang bermasalah. Melainkan, orang
yang memiliki kekuatan (strengths) yang sesungguhnya bisa dijadikan
"sumber" (resources) dalam proses pemecahan masa!ah atau pemenuhan
kebutuhan hidupnya. MenurutTan dan Envall (2000:5):
'The skillful social work professional is able to analyze complex
situations and to facilitate individual, organizational, social and cultural changes. Social workers are the skilled deliverers of community
resources to those who need them most."

(Seorang pekerja sosial profesional yang terlatih mampu menganalisis


situasi-situasi komplek dan memfasilitasi perubahan-perubahan secara
individual, organisasional, sosial, dan kultural. Pekerja sosial adalah
para pengelola!pemberi sumber-sumber kemasyarakatan yang terlatih
terhadap mereka yang san gat membutuhkan .)

32

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Banyak sekali model praktik pekerjaan sosial yang bisa diterapkan


baik untuk setting individu, keluarga, kelompok maupun masyarakat.
Berdasarkan prosesnya saja, Sheafor, Horejsi dan Horejsi (2000), misalny\},
mencatat lebih dari 100 model. Oleh karena itu, untuk keperluan buku
ini, hanya akan dikemukakan satu model praktik yang disebut Model
Kekuatan (the Strengths Perspective/Mode/) (Zastrow, 1999:61-62; Sheafor,
Horejsi dan Horejsi, 2000:93-95).
Tujuan utama Model Kekuatan (Strengths Model) ini adalah untuk
menjamin bahwa pekerja sosial sangat memperhatikan kekuatan-kekuatan
klien selama proses assessment dan intervensi. Dengan demikian, fokus
model ini lebih ditekankan pada bagaimana menggali dan memobilisasi
sumber-sumber yang terkait dengan klien, baik sumber internal yang ada
pad a diri klien sendiri, maupun sumber eksternal yang berada di lingkungan
sekitar klien. Sebagaimana dinyatakan Malucio, banyak pekerja sosial yang
terlalu menekankan pada kelemahan klien ketimbang kekuatan yang
dimilikinya (Zastrow, 1999). Karenanya, Malucio menyarankan agarfokus
pendidikan dan praktik pekerjaan sosial diubah dari pendekatan masalah
atau patologi ke pendekatan yang berbasis kekuatan klien yang memperhatikan sumber, potensi kemanusiaan, dan lingkungan klien. "There is a

need to shift the focus on social work education and practice from problems or pat.ho/ogy to strengths, resources, and potentialities in human
beings and their environments." (Zastrow, 1999:61 ).
Model ini dapat diaplikasikan dalam praktik pekerjaan sosial dengan
klien perseorangan, kelompok maupun masyarakat dalam setiap tahap
proses pertolongan, mulai dari assessment sampai evaluation. Dalam
bekerja dengan klien, pekerja sosial memfokuskan pada kemampuan
dan sumber-sumber klien untuk membantu memecahkan masalah yang
dihadapinya. Pendekatannya lebih diutamakan pada pengubahan
lingkungan klien terlebih dahulu ketimbang klien itu sendiri. Artinya,
jika model-model lain (misalnya the task-centered model, client-cen-

tered theraphy, crisis intervention model) lebih menekankan pada


bagaimana membantu klien menyesuaikan dengan lingkungan, Model
Kekuatan memfokuskan pada bagaimana memobilisasi lingkungan dan

BAB

2 -

PEK=RJAAN SOSIAL

33

sumber terlebih dahulu sehingga sesuai dengan kebutuhan klien.


Model yang berbasis pada kekuataf1 klien sangat berkaitan dengan
konsep pemberdayaan (empowerment). pemberdayaan dapat didefinisikan
sebagai proses membantu individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
dalam meningkatkan kekuatan personal, interpersonal, sosio-ekonomi dan
jXJiitik, serta mengembangkan pengaruh terhadap perbaikan lingkungan mereka
(Barker dalam Zastrow, 1999). Model ini berupaya untuk mengidentifikasi,
menggunakan, membangun, dan memperkuat kekuatan dan sumber-sumber
yangdimiliki atau berada di seputar klien. Pendekatan ini menekankan pada
kemampuan, nilai-nilai, perhatian, keyakinan, sumber-sumber, pencapaianpencapaian, dan aspirasi-aspirasi orang yang menjadi klien pekerja sosial.
Menurut Sallebey (Zastrow, 1999:61-'62; Sheafor, Horejsi dan Horejsi,
oo0:93-94) terdapat lima asumsi yang mendasari model ini:
2
. Setiap individu, kelompok, keluarga, dan masyarakat memiliki kekuatan1
kekuatan.

2. Trauma, perlakuan. salah, penyakit, dan penderitaan bisa saja menjadi


luka, namun dapat pula menjadi sumber tantangan dan kesempatan.

3. Tidak seorang pun yang mengetahui batas maksimal kemampuan


klien untuk tumbuh dan berubah.

4.

Klien akan sangat terbantu jika dilayani melalui kerjasama dengannya


dan melalui penghargaan terhadap aspirasi dan harapannya secara
serius.

s.

Lingkungan di mana klien berada dan berfungsi sesungguhnya memiliki


sumber-sumber yang lengkap.

Anal isis Jaringan Sumber


Salah satu teknik yang berporos pada Model Kekuatan adalah Analisis
jaringan Sumber (AJS) atau Resources Network Analysis (RNA) adalah
pernetaan dan pengukuran hubungan dan interaksi beragam sumber dalam
sebuah kesatuan atau entitas sosial (lingkungan keluarga, lembaga atau
masyarakat) yang melibatkan orang, kelompok masyarakat, informasi dan
beragam pelayanan sosial di dalamnya. Misalnya, lembaga-lembaga

34

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

pelayanan sosial formal, seperti sekolah, rumah sakit, dan bank dapat
digambarkan dengan lingkaran-lingkaran, sedangkan garis-garis yang
menghubungkan lingkaran tersebut menunjukkan keterkaitan anta:a
lembaga-lembaga yang bersangkutan. Segenap jalinan interaksi beserta
dinamika dan keberfungsian di antara elemen-elemen tersebut dinamakan
jaringan (network). Pendekatan untuk menggambarkan dan mengidentifikasi
kualitas dari jaringan tersebut dapat menggunakan metode Asesmen Cepat
dan Partisipatif (ACP) atau Participatory Rapid Assessment (PARA). Tiga
teknik inti dalam ACP antara lain Diskusi Kelompok Terfokus (Focus Croup
Oiscussion!FGD), Pendiagraman Lembaga atau Ven (Institutional or Venn
Diagramming), dan Perbandingan Pasangan (Pairwise Comparison) (Cham-

bers, 1997; Suharto, 1997). Hasil AJS dapat divisualisasikan ke dalam


Peta AJS (Gambar 2.4) dan ditransformasikan ke dalam Matrik AJS (Tabel

2.1 ).
,~

,,''

.............................. .

(
\

Legenda:

Hubungan searah
-~

Hubungan timbal balik

- - - - Kualitas hubungan kuat Sedang -------- Lemah ............ .

Gambar 2.4: Peta Analisis jaringan Sumber

BAB

2 -

PEKERJAAN SOSIAL

35

label 2.1: Matrik Anal isis Jaringan Sumber


)enis dan kualitas
sumber

Aksesibilitas sumber

lnteraksi sumber

Orang tua
Anggota keluarga lain
Teman dekat
Sekolah
Tetangga
Mesjid/Gereja
Lembaga sosial

AJS pada hakekatnya dirancang untuk memetakan dinamika interaksi


antar sumber internal dan eksternal yang terkait dengan klien sehingga
dapat dibuat sebuah rencana intervensi guna meningkatkan keberfungsian
sosial klien tersebut. Beberapa tema yang dapat digali dalam AJS meliputi:
1)

Jenis dan kualitas sumber yang ada dan terlibat dalam kehidupan
klien. Misalnya, sumber-sumber apa saja yang dimiliki klien? Manfaat
apa yang dapat diperoleh dari sumber tersebut dalam kaitannya dengan
peningkatan standar hidup mereka?

2)

Aksesibilitas klien terhadap sumber-sumber. Dalam kaitannya dengan


sumber eksternal, umpamanya, lembaga sosial lokal mana yang paling sering atau mudah diakses oleh klien? Kontribusi dan keterlibatan
apa yang dapat diberikan klien terhadap lembaga-lembaga tersebut?
Hambatan apa yang dialami klien dalam mengakses lembaga-lembaga
tersebut?

3)

lnteraksi antar sumber. Bagaimana hubungan diantara sumber-sumber


yang ada (kuat, sedang, lemah)? Dalam konteks makro kemasyarakatan,
misalnya, bagaimana hubungan antara lembaga sosial lokal dengan
lembaga pemerintah, LSM, dan lembaga donor? Dengan lembaga
mana lembaga sosiallokal memiliki hubungan kuat? Lembaga mana
yang dipandang klien dan warga setempat sebagai lembaga yang
memiliki derajat/tingkat interaksi kuat? Bentuk interaksi seperti apa
yangterjadi di antara mereka (kerjasama, persaingan)?

36

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Pengembangan
Masyarakat
If you have come to help me
you can go home again.
But if you see my struggle as part of your own survival
then perhaps we can work together

(Seorang Wanita Aborigin Australia)

Pengembangan Masyarakat (PM) adalah salah satu metode pekerjaan sosial


yang tujuan utamanya untuk memperbaiki kualitas hid up masyarakat melalui
pendayagunaan sumber-sumber yang ada pada mereka serta menekankan
pada prinsip partisipasi sosial. Sebagai sebuah metode pekerjaan sosial,
PM menunjuk pada interaksi aktif antara pekerja sosial dan masyarakat
dengan mana mereka terlibat dalam proses perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan dan evaluasi suatu program pembangunan kesejahteraan sosial
(PKS) atau usaha kesejahteraan sosial (UKS). PM meliputi berbagai pelayanan
sosial yang berbasis masyarakat mulai dari pelayanan preventif untuk
mencegah anak-anak terlantar atau diperlakukan salah (abused} sampai
pelayanan kuratif dan pengembangan untuk keluarga yang berpendapatan
rendah agar mereka mampu memenuhi kebutuhan dasarnya (Suharto,
2002). Beberapa topik yang dibahas pada bagian ini meliputi konsep
pengembangan masyarakat, perspektif teoritis, model-model PM, serta
beberapa pengetahuan dan keterampilan dalam PM.

Konsep dan Cakupan


Pengembangan masyarakat (PM) memiliki sejarah panjang dalam literatur
dan praktik pekerjaan sosial (Payne, 1995; Suharto, 1997). Menurutjohnson
(1984), PM merupakan spesialisasi atau setting prakte'< pekerjaan sosial
37

38

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

yang bersifat makro (macro practice). Meskipun PM memiliki peran penting


dalam pekerjaan sosial, PM tidak hanya dilakukan oleh para pekerja sosial.
PM juga menjadi bagian dari kegiatan profesi lain, seperti perencana kota,.
pengembang peru mahan, dan bahkan kini sangat populer diterapkan oleh
para industriawan di perusahaan-perusahaan besar, seperti Caltex, Rio
Tinto, Freeport, Pertamina melalui pendekatan yang dikenal dengan nama
corporate social responsibility maupun corporate social investment (dibahas

secara khusus pada Bab 15). PM juga sering dilakukan oleh para sukarelawan
dan aktivis pembangunan yang tidak dibayar.
Telah terjadi perdebatan panjang mengenai apakah PM dapat dan
harus didefinisikan sebagai kegiatan profesional dan ciri khas pekerjaan
sosial. Yang jelas, PM memi!iki tempat khusus dalam khazanah pendekatan
pekerjaan sosial, meskipun belum dapat dikategorikan secara tegas sebagai
satu-satunya metode milik pekerjaan sosial (Mayo, 1998). Dalam diskursus
akademis pekerjaan sosial, PM lebih dikenal sebagai community organization atau community development (CO/CD) (Gilbert dan Specht, 1981)

atau Bimbingan Sosial Masyarakat (Soetarso, 1991 ). Di Australia, lnggris


dan beberapa negara Eropa, PM disebut sebagai pekerjaan kemasyarakatan
(community work), penyembuhan sosial (social treatment), perawatan sosial
(social care) atau perawatan masyarakat (community care) (Twelvetrees,

1993; Payne, 1986).


PM dapat didefinisikan sebagai metode yang memungkinkan orang
dapat meningkatkan kualitas hidupnya serta mampu memperbesar
pengaruhnya terhadap proses-proses yang mempengaruhi kehidupannya
(AMA, 1993). Menurut Twelvetrees (1991 :1) PM adalah "the process of
assisting ordinary people to improve their own communities by undertaking collective actions." Secara khusus PM berkenaan dengan upaya

pemenuhan kebutuhan orang-orang yang tidak beruntung atau tertindas,


baik yang disebabkan oleh kemiskinan maupun oleh diskriminasi
berdasarkan kelas sosial, suku, gender, jenis kelamin, usia, dan kecacatan.
PM memiliki fokus terhadap upaya menolong anggota masyarakat
yang memiliki kesamaan minat untuk bekerja sama, mengidentifikasi
kebutuhan bersama dan kemudian melakukan kegiatan bersama untuk

BAB

3-

PEMGEMBANGAN MASYARAKAT

39

memenuhi kebutuhan tersebut. PM seringkali diimplementasikan dalam


bentuk (a) proyek-proyek PKS yang memungkinkan anggota masyarakat
memperoleh dukungan dalam memenuhi kebutuhannya atau melalui (b)
kampanye dan aksi sosial yang memungkinkan kebutuhan-kebutuhan
tersebutdapatdipenuhi oleh pihak-pihak lain yang bertanggungjawab (Payne,
1995:165).

Sebagaimana asal katanya, yakni pengembangan masyarakat, PM terdiri


dari dua konsep, yaitu "pengembangan" dan "masyarakat". Secara singkat,
pengembangan atau pembangunan merupakan usaha bersama dan
terencana untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Bidang-bidang
pembangunan biasanya meliputi beberapa sektor, yaitu ekonomi,
pendidikan, kesehatan dan sosial-budaya. Sementara itu, masyarakat dapat
diartikan dalam dua konsep, yaitu (Mayo, 1998:162):
1.

Masyarakat sebagai sebuah "tempat bersama", yakni sebuah wi Iayah


geografi yang sama. Sebagai contoh, sebuah rukun tetangga, peru mahan
di daerah perkotaan atau sebuah kampung di wilayah pedesaan.

2.

Masyarakat sebagai "kepentingan bersama", yakni kesamaan


kepentingan berdasarkan kebudayaan dan identitas. Sebagai contoh,
kepentingan bersama pada masyarakatetnis minoritas atau kepentingan
bersama berdasarkan identifikasi kebutuhan te1tentu seperti halnya
pada kasus para orang tua yang memiliki anak dengan kebutuhan
khusus (anak cacat fisik) atau bekas para pengguna pelayanan kesehatan
mental.

lstilah masyarakat dalam PM biasanya diterapkan terhadap pelayananpelayanan sosial kemasyarakatan yang membedakannya dengan pelayananpelayanan sosial kelembagaan. Pelayanan perawatan manula yangdiberikan
di rumah mereka dan/atau di pusat-pusat pelayanan yang terletak di suatu
masyarakat merupakan contoh pelayanan sosial kemasyarakatan. Sedangkan
perawatan manula di sebuah rumah sakit khusus manula adalah contoh
pelayanan sosial kelembagaan. lstilah masyarakatjuga sering dikontraskan
dengan "negara". Misalnya, "sektor masyarakat" sering diasosiasikan dengan
bentuk-bentuk pemberian pelayanan sosial yang kecil, informal dan bersifat
bottom-up. Sedangkan lawannya, yakni "sektor publik", kerap diartikan

40

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAi<YAT

sebagai bentuk-bentuk pelayanan sosial yang relatif lebih besar dan lebih
birokratis. PM seringkali diartikan dengan pelayanan sosial gratis dan swadaya
yang biasanya muncul sebagai respon terhadap melebarnya kesenjangar-~
antara menurunnya jumlah pemberi pelayanan dengan meningkatnya jumlah
orang yang membutuhkan pelayanan. PM juga umumnya diartikan sebagai
pelayanan yang menggunakan pendekatan-pendekatan yang lebih bernuansa
pemberdayaan

(empowerment) yang memperhatikan keragaman pengguna

dan pemberi pelayanan.

Perspektif Teoritis
Secara teoritis, PM dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan pekerjaan
sosial yang dikembangkan dari dua perspektif yang berlawanan, yakni
aliran kiri (sosialis-Marxis) dan kanan (kapitalis-demokratis) dalam spektrum
politik. Dewasa ini, terutama dalam konteks menguatnya sistem ekonomi
pasar bebas dan swastanisasi kesejahteraan sosial, PM semakin menekankan
pentingnya swadaya dan keterlibatan informal dalam mendukung strategi
penanganan kemiskinan dan penindasan, maupun dalam memfasilitasi
partisipasi dan pemberdayaan masyarakat.
Twelvetrees (1991) membagi perspektif teoritis PM ke dalam dua
bingkai, yakni pendekatan profesional dan pendekatan radikal. Pendekatan
profesional menunjuk pada upaya untuk meningkatkan kemandirian dan
memperbaiki sistern pemberian pelayanan dalam kerangka relasi-relasi
sosial. Sementara itu, berpijak pada teori struktural neo-Marxis, feminisme
dan analisis anti-rasis, pendekatan radikal lebih terfokus pada upaya
mengubah ketidakseimbangan relasi-relasi sosial yang ada melalui
pemberdayaan kelompok-kelompok lemah, mencari sebab-sebab kelemahan
mereka, serta menganalisis sumber-sumber ketertindasannya. Sebagaimana

"This is the type of approach which


supports minority ethnic communities, for example, in drawing attention
to inequalities in service provision and in power which lie behind severe
deprivation." Pendekatan profesional dapat diberi label sebagai pendekatan
diungkapkan oleh Payne (1995:166),

yang bermatra tradisional, netral dan teknikal. Sedangkan pendekatan radikal

BAB

3-

PEMGEMBANGAN MASYARAKAT

41

dapat diberi label sebagai pendekatan yang bermatra transformasional


label 3.1 : Dua Perspektif Pengembangan Masyarakat
Pendekatan

Perspektif

Profesional
(Tradisional,
Netral, Teknikal)

Perawatan
masyarakat
Pengorganisasian
masyarakat
Pembangunan
masvarakat
Aksi masyarakal
berdasarkan
kelas
Aksi masyarakat
berdasarkan
jender
Aksi masyarakat
berdasarkan ras

Radikal
(Transformasionai)

Tujuan/Asumsi
Meningkatkan inisialif dan kemandirian
masyarakat.
Memperbaiki pemberian pelayanan sosial
dalam kerangka relasi sosial yang ada.
Meningkatkan kesadaran dan inisiatif
masyarakat.
Memberdayakan masyarakat guna mencari
akar penyebab ketertindasan dan diskriminasi.
Mengembangkan strategi dan membangun
kerjasama dalam melakukan perubahan sosial
sebagai bagian dari upaya mengubah relasi
sosial yang menindas, diskriminatif, dan
eksploitatif.

Sumber: dikembangkan dari Mayo (1998:166)

Seperti digambarkan oleh Tabel 3.1, dua pendekatan tersebut dapat


dipecah lagi ke dalam beberapa perspektif sesuai dengan beragam jenis
dan tingkat praktek PM (Dominelli, 1990; Mayo, 1998) yang meliputi:
perawatan masyarakat, pengorganisasian masyarakat dan pembangunan
masyarakat pada gugus profesional; dan aksi masyarakat berdasarkan kelas
sosial, aksi masyarakat berdasarkan gender dan aksi masyarakat berdasarkan
ras (warna kulit) pada gugus radikal.
1.

Perawatan masyarakat merupakan kegiatan volunter yang biasanya


dilakukan oleh warga kelas menengah yang tidak dibayar. Tujuan
utamanya adalah untuk mengurangi kesenjangan legalitas pemberian
pelayanan.

2.

Pengorganisasian masyarakat memiliki fokus pada perbaikan koordinasi


antara berbagai lembaga kesejahteraan sosial.

3.

Pembangunan masyarakat memiliki perhatian pada peningkatan


keterampilan dan kemandirian masyarakat dalam memecahkan
permasalahan yang dihadapinya.

4.

Aksi masyarakat berdasarkan kelas bertujuan untuk membangkitkan

42

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

kelompok-kelompok lemah untuk secara bersama-sama meningkatkan


kemampuan melalui strategi konflik, tindakan langsungdan konfrontasi.
5.

Aksi masyarakat berdasarkan gender bertujuan untuk mengubah relasi.relasi sosial kapitalis-patriakal antara laki-laki dan perempuan,
perempuan dan negara, serta orang dewasa dan anak-anak.

6.

Aksi masyarakat berdasarkan ras (warna kulit) merupakan usaha untuk


memperjuangkan kesamaan kesempatari dan menghilangkan
diskriminasi rasial.

Model-model Pengembangan Masyarakat


jack Rothman dalam karya klasiknya yang terkenal, Three Models of Community Organization Practice (1968), mengembangkan tiga model yang

berguna dalam memahami konsepsi tentang PM: (1) Pengembangan


masyarakat lokal (locality development); (2) Perencanaan sosial (social planning); dan (3) Aksi sosial (social action) (lihat Suharto, 1997). Paradigma ini

merupakan format ideal yang dikembangkan terutama untuk tujuan anal isis
dan konseptualisasi. Dalam praktiknya, ketiga model tersebut saling
bersentuhan satu sama lain. Setiap komponennya dapat digunakan secara
kombinasi dan simultan sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang ada.
Mengacu pada dua perspektif yang dikemukakan Mayo di atas, model pertama
dan kedua lebih sejalan dengan perspektif profesional, sedangkan model
ketiga lebih dekat dengan perspektif radikal. Dengan penyesuaian di sana
sini, ketiga model tersebut akan dijelaskan secara singkat di bawah ini dan
di tampilkan dalam Tabel3.2.

Pengembangan Masyarakat Lokal


Pengembangan masyarakat lokal adalah proses yang ditujukan untuk
menciptakan kemajuan sosial dan ekonomi bagi masyarakat melalui
partisipasi aktif serta inisiatif anggota masyarakat itu sendiri. Anggota
masyarakat dipandang bukan sebagai sistem klien yang bermasalah
melainkan sebagai masyarakat yang unik dan memiliki potensi, hanya saja
potensi tersebut belum sepenuhnya dikembangkan.

8AB

3-

PEMGI:MBANGAN MASYARAKAT

43

Tabel3.2: Tiga Model Pengembangan Masyarakat


PARAMETER

PENGEMBANGAN
MASYARAKAT LOKAL
Kemandirian, integrasi clan
kemampuan masyarakat
(tujuan proses)

Pemecahan masalah sosial


yang ada di masyarakat
(tujuan tugas/hasil)

Keseimbangan, kurang
kemampuan dalam relasi
dan pemecahan masalah

Masalah sosial nyata:


kemiskinan, pengangguran, kenakalan remaja

Kepentingan umum atau


perbedaan-perbedaan yang
dapat diselaraskan

Kepentingan yang dapat


diselaraskan atau konflik
keoentingan

Perubahan struktur
kekuasaan, lembaga dan
sumber (tujuan proses &
tugas)
Ketidakadilan,
kesengsaraan,
keticlakmerataan,
ketidaksetaraan
Konflik kepentingan yang
tidak dapat diselaraskan:
ketiadaan sumber

Rationalist-unitary

Idealist-unitary

Realist-individualist

Orientasi
terhadap struktur
kekuasaan

Struktur kekuasaan sebagai


kolaborator, perwakilan

Struktur kekuasaan
sebagai pekerja dan
sponsor

Sistem klien atau


sistem perubahan

Masyarakat secara
keseluruhan.

Seluruh atau sekelompok


masyarakat, termasuk
masyarakat fungsional

Konsepsi
mengenai klien
atau penerima
pelayanan
Peranan
masyarakat
Peranan Pekerja
Sosial
Media perubahan

Warga masyarakat atau

Konsumen

Struktur kekuasaan sebagai


sasaran aksi, dominasi etit
kekuasaan harus
dihilangkan
Sebagian atau sekelompok
anggota masyarakat
tertentu
Karban

Partisipan dalam proses


pemecahan masalah
Pemungkin, koordinator,
pembimbing
Mobilisasi kelompokkelompok kecil
Pel ibatan masyarakat
dalam pemecahan masalah

Konsumen atau penerima

Pelaku, elemen, anggota

Konsensus dan diskusi


kelompok, partisipasi,
brain storming, role
playing, bimbingan dan
penyuluhan

Advokasi, andragogy,
perumusan kebijakan,
perencanaan program

Orientasi tujuan

Asumsi mengenai

struktur
masyarakat dan
kondisi masalah
Asumsi mengenai

kepentingan
masyarakat
Konsepsi

PERENCANAAN SOSIAL

AKSI SOSIAL

mengenai

kepentingan
umum

Strategi
perubahan

Teknik perubahan

negara

pelayanan
Peneliti, analis, fasilitator,
pelaksanan program
Mobilisasi organisasi
formal
Penentuan masa:ah dan
keputusan melalui
tindakan rasional para ahli

Aktivis advokasi: agitator,


broker, negotiator
'V\obilisasi organisasi masa

dan oolitik
Katalisasi dan
pengorganisasi-an
masyarakat untuk
mengubah struktur
kekuasaan
Konflik atau unjuk rasa,
konfrontasi atau tindakan
langsung, mobilisasi
massa, analisis kekuasaan,
mediasi, agitasi,

negosiasi, oembelaan

Sumber: Suharto (1997)

Pengembangan masyarakat lokal pada dasarnya merupakan proses


interaksi antara anggota masyarakat setempat yang difasilitasi oleh pekerja
sosial. Pekerja sosial membantu meningkatkan kesadaran dan mengembangkan kemampuan mereka dalam mencapai tujuan-tujuan yang
diharapkan. Pengembangan masyarakat lokallebih berorientasi pada "tujuan
proses" (process goal) daripada tujuan tugas atau tujuan hasil (task or

44

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

product goa/). Setiap anggota masyarakat bertanggung jawab untuk

menentukan tujuan dan memilih strategi yang tepat untuk mencapai tujuan
tersebut. Pengembangan kepemimpinan lokal, peningkatan strategi
kemandirian, peningkatan informasi, komunikasi, relasi dan keterlibatan
anggota masyarakat merupakan inti dari proses pengembangan masyarakat
lokal yang bernuansa bottom-up ini.

Perencanaan Sosial
Perencanaan sosial di sini menunjuk pada proses pragmatis untuk
menentukan keputusan dan menetapkan tindakan dalam memecahkan
masalah sosial tertentu seperti kemiskinan, pengangguran, kenakalan remaja,
kebodohan (buta huruf), kesehatan masyarakat yang buruk (rendahnya
usia harapan hidup, tingginya tingkat kematian bayi, kekurangan gizi) dll.
Berbeda dengan pengembangan masyarakat lokal, perencanaan sosiallebih
berorientasi pada "tujuan tugas" (task goa/). Sistem klien perencanaan
sosial umumnya adalah kelompok-kelompok yang kurang beruntung (disadvantaged groups) atau kelompok rawan sosial-ekonomi, seperti para

lanjut usia, orang cacat, janda, yatim piatu, wanita tuna sosial. Pekerja
sosial berperan sebagai perencana sosial yang memandang mereka sebagai
"konsumen" atau "penerima pelayanan" (beneficiaries). Keterlibatan para
penerima pelayanan da!am proses pembuatan kebijakan, penentuan tujuan,
dan pemecahan masalah bukan merupakan prioritas, karena pengambilan
keputusan dilakukan oleh para pekerja sosial di lembaga-lembaga formal,
semisal lembaga kesejahteraan sosial pemerintah (Depsos) atau swasta
(LSM). Para perencana sosial dipandang sebagai ahli (expert) dalam
melakukan penelitian, menganalisis masalah dan kebutuhan masyarakat,
serta dalam mengidentifikasi, melaksanakan dan mengevaluasi programprogram pelayanan kemanusiaan.

AksiSosial
Tujuan dan sasaran utama aksi sosial adalah perubahan-perubahan fundamental dalam kelembagaan dan struktur masyarakat melalui proses pendis-

BAB

3-

PEMGEMBANGAN MASYARAKAT

45

tribusian kekuasaan (distribution of power), sumber (distribution of resources) dan pengambilan keputusan (distribution of decision making).

Pendekatan aksi sosial didasari suatu pandangan bahwa masyarakat adalah


sistem klien yang seringkali menjadi 'korban' ketidakadilan struktur. Mereka
miskin karena dimiskinkan, mereka lemah karena dilemahkan, dan tidak
berdaya karena tidak diberdayakan, oleh kelompok elit masyarakat yang
menguasai sumber-sumber ekonomi, politik, dan kemasyarakatan. Aksi
sosial berorientasi baik pada tujuan proses dan tujuan hasil. Masyarakat
diorganisir melalui proses penyadaran, pemberdayaan dan tindakan-tindakan
aktual untuk mengubah struktur kekuasaan agar lebih memenuhi prinsip
demokrasi, kemerataan (equality) dan keadilan (equity).

Pengetahuan dan Keterampilan


PM sangat memperhatikan keterpaduan antara sistem klien dengan
lingkungannya. Sistem klien dapat bervariasi, mulai dari individu, keluarga,
kelompok kecil, organisasi, sampai masyarakat. Sementara itu sistem
lingkungan dapat berupa keluarga, rukun tetangga, tempat kerja, rumah
sakit dll. Dalam PM, pekerja sosial menempatkan masyarakat sebagai
sistem klien dan sistem lingkungan sekaligus. Karenanya, pengetahuan
dan keterampilan yang harus dikuasai oleh pekerja sosial yang terlibat
dalam PM meliputi pengetahuan tentang masyarakat, organisasi sosial,
perkembangan dan prilaku manusia, dinamika kelompok, program sosial,
dan pemasaran sosial (social marketing). Keterampilan yang perlu dikuasai
meliputi keterampilan interview, relasi sosial, studi sosial, pengumpulan
dan pengorganisasian dana, pengembangan dan evaluasi program, serta
identifikasi kebutuhan (needs assessment) Uohnson, 1984; Suharto, 1997).
Model-model PM perlu dibangun berdasarkan perspektif alternatif
(baik profesional maupun radikal) yang secara kritis mampu memberikan
landasan teoritis dan pragmatis bagi praktek pekerjaan sosial. Apapun
perspektif dan model yang digunakan, pekerja sosial perlu memiliki
perangkat pengetahuan dan keterampilan profesionalnya yang saling
melengkapi.

46

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

II

Engagement (cara melakukan kontak, kontrak dan pendekatan awal


dengan beragam individu, kelompok, dan organisasi).

II

Assessment (cara memahami dan menganalisis masalah dan kebutuhan


klien, termasuk assessment kebutuhan dan profil wilayah).

II

Penelitian (cara mengumpulkan dan mengidentifikasi data sehingga


menjadi informasi yang dapat dijadikan dasar dalam merencanakan
pemecahan masalah atau mengembangkan kualitas program).

II

Croupwork (bekerja dengan kelompok-kelompok yang dapat dijadikan


sarana pemecahan masalah maupun dengan kelompok-kelompok
kepentingan yang bisa menghambat atau mendukung pencapaian
tujuan program pemecahan masalah).

Negosiasi (bernegosiasi secara konstruktif dalam situasi-situasi konflik) .


Komunikasi (dengan berbagai pihak dan lembaga) .

Konseling (melakukan bimbingan dan penyuluhan terhadap masyarakat


dengan beragam latar kebudayaan).

Manajemen sumber (memobilisasi sumber-sumber yang ada di


masyarakat, termasuk manajemen waktu dan aplikasi-aplikasi untuk
memperoleh bantuan).

li

Pencatatan dan pelaporan terutama dalam kaitannya dengan


pelaksanaan monitoring dan evaluasi program.

Pekerja sosial juga memerlukan pengetahuan mengenai kebijakan sosial,


sistem negara kesejahteraan (welfare state), dan hak-hak sosial masyarakat,
termasuk pengetahuan-pengetahuan khusus dalam bidang-bidang di mana
praktek pekerjaan sosial beroperasi, seperti: kebijakan kesejahteraan sosial
dan kesehatan, praktek perawatan masyarakat, peraturan dan perundangundangan perlindungan anak, serta perencanaan sosial termasuk perencanaan wilayah (perkotaan dan pedesaan) dan perumahan. Sebagai
tambahan, seperti diungkapkan oleh Mayo (1994:74), pekerja sosial perlu
memiliki pengetahuan mengenai:

The socio-economic and political backgrounds of the areas in which


they are to work, including knowledge and understanding of political
structures, and of relevant organisations and resources in the statutory, voluntary and community sectors. And they need to have know/-

BAB

3-

PEMGEMBANGAN MASYARAKAT

47

edge and understanding of equal opportunities policies and practice,


so that they can apply these effectively in every aspect of their work.

Mempelajari Masyarakat
Pekerja sosial perlu memiliki keahlian dalam memahami masyarakat. Tujuan
mempelajari masyarakat adalah agar dapat melakukan asesmen atau
penelitian mengenai masyarakat sehingga mampu. memahami konteks
dimana kegiatan PM akan dilaksanakan, mengevaluasi sistem pelayanan
kemanusiaan yang ada, dan mengerti struktur pengambilan keputusan
yang ada di wilayah tersebut. Masyarakat adalah sekelompok orang yang
memiliki perasaan sama atau menyatu satu-sama lain karena mereka saling
berbagi identitas, kepentingan-kepentingan yang sama, perasaan memiliki,
dan biasanya satu tempat yang sama. Ada beberapa fungsi masyarakat:
penyedia dan pendistribusi barang-barang dan ja5a, lokasi kegiatan bisnis
dan pekerjaan, keamanan publik, sosialisasi, wadah dukungan bersama
atau gotong royong, kontrol sosial, organisasi dan partisipasi politik. Beberapa
aspek di bawah ini penting diketahui dalam rnempelajari masyarakat:

Nama dan batas wilayah serta jarak dari kota atau masyarakat lain.

Demografis: jumlah penduduk, distribusi usia, kelompok minoritas,


jumlah anggota keluarga, status keluarga.

Sejarah wilayah: kapan, mengapa dan oleh siapa daerah tersebut


dikembangkan, kejadian-kejadian penting yang mempengaruhi
perkembangan wilayah, perubahan karakteristik penduduk, alasan?.lasan mengapa pendatang baru datang ke wilayah tersebut dan
mengapa orang-orang pergi meninggalkan wi!ayah tersebut.

Geografi dan pengaruh-pengaruh lingkungan terhadap masyarakat:


pengaruh cuaca, gunung, sungai, danau, pola-pola transportasi lokal,
pembangunan ekonomi, pengaruh jalan to!, interaksi sosial, suplai
air, listrik, jarak dari pasar.

Kepercayaan dan sikap-sikap: nilai-nilai dominan, agama, sikap-sikap


penduduk, jenis-jenis lembaga pelayanan kemanusiaan, rasa memiliki
penduduk terhadap wilayahnya.

Po!itik lokal: bentuk pemerintahan lokal, kekuasaan dan pengaruh

48

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

partai politik, tingkat partisipasi dalam pemilu, debat, isu dan


kontroversi pada saat ini.

"

Ekonomi dan bisnis lokal: industri utama, bisnis, produksi wilayah,


jenis pekerjaan yang ada, keterampilan kerja yang diperlukan oleh'
perusahaan-perusahaan besar, persentasi pekerja dan penganggur,
ramalan pertumbuhan ekonomi di masa depan.

Distribusi pendapatan: pendapatan rata-rata bagi pria dari wanita,


kelompok minoritas, jumlah orang dan keluarga yang hidup di bawah
garis kemiskinan, jumlah orang dan keluarga yang menerima bantuan
sosial (program kemiskinan).

Peru mahan: tipe peru mahan umum, biaya dan ketersediaan peru mahan, persentasi peru mahan yang disewa atau kosong, persentasi rumah
yang padat atau kumuh.

Fasilitas dan program-program pendidikan: lokasi dan jenis sekolah,


ketersediaan sekolah bagi anak-anak khusus, tingkat drop-out,
ketersediaan pendidikan tinggi, pendidikan orang dewasa, programprogram kejuruan dan pelatihan kerja.

Sistem kesehatan dan kesejahteraan: nama dan lokasi pemberi


pelayanan kesehatan, pemberi pelayanan kemanusiaan, kelengkapan
dan keterjangkauan pelayanan, jaringan-jaringan informal.

Keamanan publik dan sistem peradilan: kelengkapan polisi dan


pemadam kebakaran, sikap penduduk terhadap polisi lokal, pengadilan
dan pogram-program koreksional, jumlah orang dewasa dan remaja
yang dipenjara.

Sumber informasi dan opini publik: Stasiun TV, radio dan surat kabar
yang paling berpengaruh, pemimpin kunci dan pembicara-pembicara
utama dari berbagai kelompok masyarakat.

Masalah utama dan perhatian-perhatian masyarakat: jenis dan


penyebaran masalah (perumahan kumuh, transportasi yang tidak
memadai, keterbatasan kesempatan kerja), usaha-usaha yang tengah
dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut, kesenjangan yang ada
pada berbagai pelayanan pendidikan, kesehatan dan sosial.

BAB

3-

PEMGEMBANGAN MASYARAKAT

49

Pendidikan dan Pelatihan


Salah satu program yang seringkali dilakukan oleh pekerja sosial dalam
PM adalah peningkatan kapasitas klien

(capacity building). Pendidikan dan

pelatihan merupakan keahlian yang sangat penting dimiliki oleh pekerja


sosial. Tujuan program ini adalah untuk membimbing dan membantu
klien dalam memperoleh informasi, pengetahuan atau keterampilan yang
berguna bagi kehidupannya. Pekerja sosial umumnya memberikan pelajaran
mengenai keterampilan-keterampilan yang berkaitan dengan pengasuhan
anak, komunikasi interpersonal, manajemen stress, pencarian kerja, hidup
mandiri. Pengajaran mereka diberikan kepada kl_ien, tenaga sukarela, ternan
sejawat atau peserta biasa. Pengajaran dilakukan dalam konteks relasi
personal, lokakarya atau kelas formal. Beberapa pedoman di bawah ini
dapat membantu pekerja sosial menjadi pelatih yang baik:

Mengajar dan belajar berbeda. Kegiatan mengajar direncanakan dan


dikontrol oleh guru, tetapi belajaitidak. Belajartergantung pada individu
yang bersangkutan, khususnya motivasi, kemampuan, dan kesiapannya.

Apa yang kita ajarkan dan pelajari menyangkut tiga kategori besar:
pengetahuan, keyakinan dan nilai-nilai, serta keterampilan.

Orang yang benar-benarterpelajar adalah orang yang belajar bagaimana


belajar.

ldentifikasi dan ajarkan terminologi dan konsep-konsep yang paling


penting.

Bantulah orang belajar dengan mengembangkan keterampilanketerampilan dan teknik-teknik yang dapat menjembatani proses belajar.
Keterampilan dan teknik tersebut meliputi: membaca, menulis,
komunikasi verbal, mendengarkan, manajemen waktu, pemecahan
masalah, perumusan tujuan, pembuatan keputusan dan lain-lain.

Ketika merencanakan suatu pelajaran atau pelatihan di kelas, mulailah


dengan menganalisis karakteristik peserta (tahap perkembangan,
pendidikan formal, pengalaman kerja, pengalaman hidup dan lainlain) dan mengidentifikasi pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilanketerampilan yang diharapkan atau ingin dipelajari. Kemudian pi!ih
atau rancang metode yang paling tepat atau disukai.

Review dan kenali kurikulum dan bahan-bahan ajar yang sudah ada,

50

MEMBANGUN FvJASYARAKAT MEMeERDAYAKAN RAI(YAT

namun yakini bahwa materi tersebut perlu dimodifikasi. Materi dan


metoda yang mungkin tepat bagi kelompok tertentu mungkin tidak
sesuai untuk kelompok lainnya.

Sampai tingkat tertentu, gunakanlah pendekatan pengajaran yang


dinamakan "learning by doing" atau belajar sambil berbuat. Teknik
ini secara aktif melibatkan pikiran dan tubuh peserta didik (permainan
peran, latihan simulasi, debat, dan diskusi). Kurangi seminimal mungkin
presentasi yang bersifat formal.

Ketika mengajarkan suatu keterampilan, gunakan model yang dikenal


dengan istilah "lihatlah satu, lakukan satu, ajarkan satu".

"'

Beri penekanan untuk membantu peserta didik menggunakan segera


informasi, pengetahuan atau keterampilan yang baru diajarkan.

..

Evaluasi secara kritis pengajaran yang dilakukan oleh kita. Bisa secara
sederhana bertanya kepada peserta didik, apakah mereka menyukainya.
Kita bisa menilai apakah peserta didik belajar sesuatu yang baru atau
apakah mereka menggunakan pengetahuan dan keterampilan setelah
kelas usai. Kita juga bisa menilai apakah pengetahuan dan keterampilan
yang baru berdampak positif bagi kehidupan dan pekerjaannya.

Mempelajari lembaga Pelayanan Kemanusiaan


Kegiatan PM seringkali melibatkan lembaga pelayanan kemanusiaan dalam
pelaksanaan kegiatannya. Tujuan rnempelajari lembaga ini adalah untuk
mengetahui tujuan, struktur dan prosedur-prosedur lembaga pelayanan
kemanusiaan sehingga lembaga tersebutdapat memberikan pelayanan dan
program-program sosial secara efektif. Pekerja sosial perlu mengetahui
visi, misi, struktur, pendanaan, kebijakan dan prosedur-prosedur lembaga.
Beberapa hal di bawah ini dapat membantu pekerja sosial memahami
lembaga pelayanan kemanusiaan:

Pelajari bagan lembaga dan tentukan bagaimana bagian-bagian atau


seksi-seksi lembaga selaras dengan struktur organisasi.

Pelajari perundang-undangan dan peraturan-peraturan setempat yang


mempengaruhi kebijakan dan pelaksanaan program lembaga.

Pelajari kebijakan dan pedoman kerja lembaga. Beri perhatian khusus


pada petunjuk-petunjuk etis atau pedoman perilaku pegawai.

BAB

3-

PEMGEMBAr\GAN MASYARAKAT

51

Bacalah dokumen yang menjelaskan sejarah, visi, dan misi lembaga.

Pelajari kebijakan kepegawaian lembaga.

Pelajari sistem pendanaan lembaga: sumber dana, alokasi dana,


laporan-laporan pengeluaran lembaga.

Pelajari laporan tahunan lembaga dan ketahui program-program


lembaga mana yang paling sering atau paling jarang dimanfaatkan
oleh klien.

Pelajari prosedur yang digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan


lembaga dan kualitas pelayanan yang diberikan.

ldentifikasi organisasi-organisasi lain dengan mana lembaga sering


berhubungan.

Pelajari peran, tugas, dan kegiatan khusus yang diberikan kepada


para pekerja sosial.

Berbicaralah kepada tokoh-tokoh masyarakat dan kaum profesional


lain mengenai lembaga tersebut untuk mengetahui bagaimana program-program lembaga tersebut dilihat oleh pihak lain.

Pemasaran Pelayanan Kemanusiaan


Sebagian besar pekerja sosial tidak terbiasa untuk berpikir bahwa program
PM adalah sebuah produk yang harus dipasarkan, ditampilkan dan dijual.
Prinsip pemasaran dapat membantu pekerja sosial untuk memahami secara
lebih baik tindakan-tindakan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan
pendanaan, menarik klien yang memerlukan pelayanan, tenaga sukarela
dan para profesional. Agar dapat menarik minat publik berpartisipasi atau
mendukung pelaksanaan kegiatan PM, ada 5 P yang perlu diperhatikan dalam
melakukan strategi pemasaran sosial.

Product (produk): produk harus baik dan sesuai dengan kebutuhan


masyarakat setempat di mana program akan di !aksanakan.

Potential Buyer or consumer (pembeli atau pelanggan potensial):


kenalilah siapa pembeli atau pelanggan potensial yang paling mungkin
membeli atau menggunakan produk kita.

"'

Place (tempat): pilihlah lokasi yang paling mudah dijangkau oleh para
pengguna pelayanan.

52

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Price (harga): harga produk PM tidak selalu diukur dalam rupiah,

melainkan juga dari atensi, partisipasi atau kepuasan klien.

Promotion (promosi): gunakanlah selalu berbagai bentuk atau mediq.

promosi yang sesuai untuk memasarkan produk. Media bisa berupa


TV; surat kabar, radio atau "words of mouth" atau pemasaran "dari
mulut ke mulut".

Pengumpulan Dana Bagi Lembaga Pelayanan Kemanusiaan

Lembaga pelayanan sosial adalah lembaga nirlaba yang tidak mencari


keuntungan. Lembaga pelayanan sosial sangattergantung pada pihak ketiga,
seperti lembaga donor, lembaga pemerintah atau publik. Untuk menjaga
agar tetap hidup (survive), lembaga tersebut perlu memiliki program-program yang didukung oleh dana yang memadai dan berkelanjutan. Keahlian
pekerja sosial dalam melakukan fund raising (pengumpulan dana) atau
fund development (pengembangan dana) dapat membantu meningkatkan
keberhasilan PM. Tujuannya adalah agar lembaga yang terlibat dalam PM
memperoleh dana dari masyarakat dan lembaga lain yang dapat mendukung
proyek tertentu atau program PM yang sedang berlangsung. Terdapat
beberapa petunjuk dan prinsip yang dapat membantu para pekerja sosial
dalarn melakukan pengumpulan dana:

Sadari bahwa meskipun dalam kondisi yang paling baik sekalipun,


mengumpulkan uang bagi kegiatan PM bukanlah hal yang mudah.

Pengumpulan dana bagi kegiatan yang sedang berjalan harus


menerapkan metode-metode yang dapatdiulangi setiap tahun.

Prasyarat utama keberhasilan pengumpulan dana adalah program


pemasaran yang baik yang membuat publik tetap memiliki informasi
mengena! lembaga atau kegiatan PM.

Hal terpenting dalam pengumpulan dana adalah membuat


perencanaan. Sediakan waktu yang cukup (sekitar 12 sampai 18 bulan)
dan ingatlah bahwa waktu yang tersulit untuk memperoleh dana
adalah manakala kita memerlukan sekali dana pada saat itu.

"

Lihatlah sumber keuangan pada tingkat lokal terlebih dahulu. Orangorang di wilayah lokal adalah mereka yang paling mungkin memiliki
kepentingan tertentu dengan keberhasilan program yang diusulkan.

BAs

3 -

PEMGEMBANGAN MASYARAKAT

53

Pengumpulan dana adalah kegiatan yang sangat bersifat personal.


Dalam kenyataannya, orang memberi uang kepada orang lain yang ia
kenai atau sukai dan bukan terhadap lembaganya. Bangunlah jaringan
dan ketahuiJah orang-orang kunci pada lembaga-lembaga yang dapat
memberikan akses dalam memperoleh dana.

Adalah memerlukan uang untuk memperoleh uang. Pastikan bahwa


kegiatan pengumpulan dana memiliki anggaran tersendiri.

Libatkan tenaga sukarela dan dewan direksi lembaga. Mereka memiliki


kredibilitas dalam masyarakat dan keterlibatan mereka meningkatkan
rasa memiliki terhadap program.

Adalah penting untuk melakukan penelitian mengenai prioritas sumbersumber dana yang potensial dan sesuaikan prioritas tersebut dengan
rencana kita.

Pengumpulan dana melibatkan permintaan kepada orang untuk


memberikan atau menyumbangkan uangnya. Jika tidak memintanya,
maka kita tidak akan memperoleh uang.

Hubungi ahli jika kita belum mengetahui secara pasti bagaimana


melakukan kampanye pengumpulan dana. Kita akan merusak usahausaha di masa depan jika melakukan pengumpulan dana dengan
perencanaan yang buruk.

Terdapat beberapa langkah dalam merancang kegiatan pengumpulan


dana:

Merumuskan tujuan pengumpulan dana.

Melakukan konsultasi dengan ahli di bidang yang terkait dengan


pengumpulan dana. Misalnya, jika pengumpulan dana akan melibatkan
penyelenggaraan hiburan musik, maka pekerja sosial perlu melakukan
konsultasi dengan orang yang memiliki keahlian di bidang hiburan
ini.

Membuat rencana kegiatan.

Memilih seorang ketua pelaksana.

Membentuk struktur organisasi.

Melakukan seleksi dan latihlah para petugas, khususnya dalam


melakukan kampanye dan pengelolaan pengumpulan dana.

54

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Melakukan persiapkan materi informasi yang terkait dengan program


yang akan dilaksanakan.

Membuat dan menyebarkan laporan-laporan kepada para donatwr


apabila kegiatan telah selesai dilaksanakan. Selain sebagai bentuk
pertanggungjawaban moral kepada orang yang telah mendukung program, kegiatan ini juga dapat membuat donatur tertarik untuk terus
menyumbangkan dananya.

Membuat Proposal untuk Memperoleh Dana


dari Lembaga Eksternal
Selain dana yang berasal dari anggaran internal, kegiatan PM dapatdidanai
oleh lembaga-lembaga eksternal. Kita dapat mengajukan proposal kepada
lembaga-lembaga eksternal untuk mendanai proyek sosial yang akan maupun
sedang dilakukan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperoleh dana
dari lembaga pemerintah, yayasan-yayasan swasta alau lembaga donor
internasional. Sebelum pekerja sosial atau tim memutuskan untuk
mengajukan permohonan dana ke pihak luar ada tiga prasyarat yang harus
d i perti mbangkan:

Gagasan atau inovasi program yang akan diajukan harus dirumuskan


secara cermat dan jelas.

Selain orang-orang atau panitia yang mengembangkan program,


administrasi lembaga dan badan pelaksana harus memiliki komitmen
terhadap program yang akan diusulkan.

Harus dilakukan asesmen terhadap kompetensi dan kapasitas individu


dan lembaga yang menunjukkan bahwa proyek dapat dilaksanakan
secara baik dan terukur.

Terdapat enam petunjuk dalam mengembangkan sebuah proposal


pengajuan dana:

Lakukan pekerjaan rumah untuk meneliti sumber potensial pemberi


dana sebelum proposal dibuat. Pelajari prioritas-prioritas pendanaan
yang diberikan oleh lembaga yang akan dilamar, sejarah pemberian
dana terdahulu, kriteria kelayakan, batasan geografis, jenis dan jumlah
dana yang tersedia, proses seleksi. Simpan nama, alamat dan nomor

BAB

3 -

PcMGEMBANGAN MASYARAKAT

55

telepon orang yang dapat dihubungi (contact person).

Carilah informasi dan kontak secara informal dengan lembaga maupun


contact person yang akan ditawari proposal.

Buatlah proposal. Dalam membuat proposal, jawablah pertanyaan


berikut: Apa yang ingin kita lakukan, berapa biaya dan waktu yang
diperlukan? Apakah proyek yang diusulkan sesuai dengan bidang dan
prioritas lembaga pemberi dana? Apakah ada proyek lain yang mirip
dengan proyek yang kita usulkan, bagaimana persamaan dan
perbedaannya? Bagaimana kita akan melaksanakan proyek tersebut,
apakah pelaksana proyek memiliki pelatihan dan pengalaman yang
memadai, mengapa mesti kita atau lembaga kita yang melakukan
proyek tersebut dan bukannya pihak lain? Siapa yang akan diuntungkan
oleh proyek tersebut, apa dampak yang akan ditimbulkan terhadap
lembaga, klien, bidang ilmu, masyarakat, negara atau bangsa?
Bagaimana kita akan mengukur, mengevaluasi dan melaporkan dampak
tersebut? Apakah proyek dapat berlanjut setelah dana yang diberikan
berakhir?

Jadilah salesman yang baik terhadap proyek kita. Proposal yang ditulis
harus dapat dipresentasikan dengan menarik yang merefleksikan
pengetahuan, antusiasme, dan komitmen.

Terukur. Persiapkan untuk melaksanakan proyek sesuai dengan rencana


tertulis dan dana yang diajukan.

lsi proposal sebaiknya mencakup:

Jilid (halaman muka) yang memuat judul proyek, peneliti utama,


nama lembaga, tanggal pelaksanaan, total dana yang diperlukan, dan
tanda tangan pengurus lembaga yang berwenang.

Abstraksi yang memuat pernyataan ringkas mengenai tujuan dan


prosedur proyek, metode evaluasi, dan rencana penyajian hasil.

Pernyataan masalah dan tujuan proyek yang menunjukkan rationale


(alasan-alasan utama) perlunya proyek dan buatlah tujuan dalam bahasa
yang terukur.

"'

Metodologi, prosedur dan kegiatan yang akan dilakukan.

"

Metode evaluasi yang menjelaskan bagaimana hasil-hasil proyek yang


akan dicapai dapat diukur.

56

MEMBANGUN fvJASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Tenaga pelaksana dan fasilitas yang akan dilibatkan dalam pelaksanaan


proyek.

Anggaran. Gambaran secara detail mengenai biaya-biaya yang mungkil'l


akan dikeluarkan dalam melaksanakan proyek.

Penyajian atau penyebarluasan hasil yang menjelaskan bagaimana


hasil proyek akan dilaporkan dan disebarluaskan sehingga pihak lain
dapat memperoleh manfaat dari proyek tersebut.

Pemberdayaan
Masyarakat

Pekerjaan sosial adalah aktivitas kemanusiaan yang sejak kelahirannya


sekian abad lalu telah memiliki perhatian yang mendalam pada
pemberdayaan masyarakat, khususnya masyarakat yang lemah dan kurang
beruntung (disadvantaged groups), seperti orang miskin, orang dengan
kecacatan (ODK), komunitas adatterpencil (KAT). Prinsip-prinsip pekerjaan
sosial, seperti 'menolong orang agar mampu menolong dirinya sendiri' (to

help people to help themselves), 'penentuan nasib sendiri' (self determination), 'bekerja dengan masyarakat' (working with people) dan bukan 'bekerja
untuk masyarakat' (working for people), menunjukkan betapa pekerjaan
sosial memiliki komitmen yang kuat terhadap pemberdayaan masyarakat.
Pekerjaan sosial adalah profesi yang populis dan tidak elitis. Bab ini
membahas beberapa terna yang mencakup konsep pemberdayaan, kelompok
lemah dan ketidakberdayaan, indikator keberdayaan, strategi pemberdayaan,
serta tugas-tugas yang dapat dilakukan pekerja sosial dalam pemberdayaan
masyarakat.

Pemberdayaan
Secara konseptual, pemberdayaan atau pemberkuasaan (empowerment),
berasal dari kata 'power' (kekuasaan atau keberdayaan). Karenanya, ide
utama pemberdayaan bersentuhan dengan konsep mengenai kekuasaan.
Kekuasaan seringkali dikaitkan dengan kemampuan kita untuk membuat
orang lain melakukan apa yang kita inginkan, terlepas dari keinginan dan
minat mereka. llmu sosial tradisional menekankan bahwa kekuasaan
57

58

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

berkaitan dengan pengaruh dan kontrol. Pengertian ini mengasumsikan


bahwa kekuasaan sebagai sesuatu yang tidak berubah atau tidak dapat
dirubah. Kekuasaan sesungguhnya tidak terbatas pada pengertian di atas,
Kekuasaan tidak vakum dan terisolasi. Kekuasaan senantiasa hadir dalam
konteks relasi sosial antar manusia. Kekuasaan tercipta dalam relasi sosial.
Karena itu, kekuasaan dan hubungan kekuasaan dapat berubah. Dengan
pemahaman kekuasaan seperti ini, pemberdayaan sebagai sebuah proses
perubahan kemudian memiliki konsep yang bermakna. Dengan kata lain,
kemungkinan terjadinya proses pemberdayaan sangattergantung pada dua
hal:
1.

Bahwa kekuasaan dapat berubah. jika kekuasaan tidak dapat berubah,


pemberdayaan tidak mungkin terjadi dengan cara apapun.

2.

Bahwa kekuasaan dapat diperluas. Konsep ini menekankan pada


pengertian kekuasaan yang tidak statis, melainkan dinamis.

Pemberdayaan menunjuk pada kemampuan orang, khususnya


kelompok rentan dan lemah sehingga mereka memiliki kekuatan atau
kemampuan dalam (a) memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga mereka
memiliki kebebasan (freedom), dalam arti bukan saja bebas mengemukakan
pendapat, melainkan bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan, bebas
dari kesakitan; (b) menjangkau sumber-sumber produktif yang
memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan
memperoleh barang-barang dan jasa-jasa yang mereka perlukan; dan (c)
berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang
mempengaruhi mereka. Beberapa ahli di bawah ini mengemukakan definisi
pemberdayaan dilihat dari tujuan, proses, dan cara-cara pemberdayaan
(Suharto, 1997:21 0-224):
"

Pemberdayaan bertujuan untuk meningkatkan kekuasaan orang-orang


yang lemah atau tidak beruntung (lfe, 1995).

Pemberdayaan adalah sebuah proses dengan mana orang menjadi cukup


kuat untuk berpartisipasi dalam, berbagi pengontrolan atas, dan
mempengaruhi terhadap, kejadian-kejadian serta lembaga-lembaga yang
mempengaruhi kehidupannya. Pemberdayaan menekankan bahwa

BAB

4-

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

59

orang memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang


cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain
yang menjadi perhatiannya (Parsons, eta/., 1994).

Pemberdayaan menunjuk pada usaha pengalokasian kembali kekuasaan


melalui pengubahan struktur sosial (Swift dan Levin, 1987).

Pemberdayaan adalah suatu cara dengan mana rakyat, organisasi,


dan komunitas diarahkan agar mampu menguasai (atau berkuasa atas)
kehidupannya (Rappaport, 1984).

Menurut lfe (1995:61-64), pemberdayaan memuat dua pengertian


kunci, yakni kekuasaan dan kelompok lemah. Kekuasaan di sini diartikan
bukan hanya menyangkut kekuasaan politik dalam arti sempit, melainkan
kekuasaan atau penguasaan klien atas:

Pilihan-pilihan personal dan kesempatan-kesempatan hidup: kemampuan dalam membuat keputusan-keputusan mengenai gaya hidup,
tempat tinggal, pekerjaan.

Pendefinisian kebutuhan: kemampuan menentukan kebutuhan selaras


dengan aspirasi dan keinginannya.

Ide atau gagasan: kemampuan mengekspresikan dan menyumbangkan gagasan dalam suatu forum atau diskusi secara bebas dan tanpa
tekanan.

Lembaga-lembaga: kemampuan menjangkau, menggunakan dan


mempengaruhi pranata-pranata masyarakat, seperti lembaga kesejahteraan sosial, pendidikan, kesehatan.

Sumber-sumber: kemampuan memobilisasi sumber-sumber formal,


informal dan kemasyarakatan.

Aktivitas ekonomi: kemampuan memanfaatkan dan mengelola


mekanisme produksi, distribusi, dan pertukaran barang serta jasa.

Reproduksi: kemampuan dalam kaitannya dengan proses kelahiran,


perawatan anak, pendidikan dan sosialisasi.

Dengan demikian, pemberdayaan adalah sebuah proses dan tujuan.


Sebagai proses, pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk
memperkuat kekuasaan atau keberdayaan keiornpok lemah dalam

60

MEMBANGUN MASYARAKAT

~~EM~ERDAYAKAN

RAKYAT

masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami masalah


kemiskinan. Sebagai tujuan, maka pemberdayaan menunjuk pada keadaan
atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial; yaitu masyaraka~
yang berdaya, memiliki kekuasaan atau mempunyai pengetahuan dan
kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat
fisik, ekonomi, maupun sosial seperti memiliki kepercayaan diri, mampu
menyampaikan aspirasi, mempunyai mata pencaharian, berpartisipasi dalam
kegiatan sosial, dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya.
Pengertian pemberdayaan sebagai tujuan seringkali digunakan sebagai
indikator keberhasilan pemberdayaan sebagai sebuah proses.

Kelompok Lemah dan Ketidakberdayaan


Tujuan utama pemberdayaan adalah memperkuat kekuasaan masyarakat,
khususnya kelompok lemah yang memiliki ketidakberdayaan, baik karena
kondisi internal (misalnya persepsi mereka sendiri), maupun karena kondisi
eksternal (misalnya ditindas oleh struktur sosial yang tidak adil). Guna
melengkapi pemahaman mengenai pemberdayaan perlu diketahui konsep
mengenai kelompok lemah dan ketidakberdayaan yang dialaminya.
Beberapa kelompok yang dapat dikategorikan sebagai kelompok lemah
atau tidak berdaya meliputi:
1.

Kelompok lemah secara struktural, baik lemah secara kelas, gender,


maupun etnis.

2.

Kelompok lemah khusus, seperti manula, anak-anak dan rernaja,


penyandang cacat, gay dan lesbian, masyarakat terasing.

3.

Kelompok lemah secara personal, yakni mereka yang mengalami


masalah pribadi dan/atau keluarga.
Kelompok-kelompok tertentu yang mengalami diskriminasi dalam suatu

masyarakat, seperti masyarakat kelas sosial ekonomi rendah, kelompok


minoritas etnis, wan ita, populasi lanjut usia, serta para penyandang cacat,
adalah orang-orang yang mengalami ketidakberdayaan. Keadaan dan peri laku
mereka yang berbeda dari 'keumuman' kerapkali dipandang sebagai 'de-

viant' (penyimpang). Mereka seringkali kurang dihargai dan bahkan dicap

BAB

4-

PEMBERDIYAAN MASYARAKAT

61

sebagai orang yang malas, lemah, yang disebabkan oleh dirinya sendiri.
Padahal ketidakberdayaan mereka seringkali merupakan akibat dari adanya
kekurangadilan dan diskriminasi dalam aspek-aspek kehidupan tertentu.
Menurut Berger dan Nenhaus dan Nisbet (Suharto, 1997), 'strukturstruktur penghubung' (mediating structures) yang memungkinkan kelompokkelompok lemah mengekspresikan aspirasi dan menunjukkan kemampuannya terhadap lingkungan sosial yang lebih luas, kini cenderung
melemah. Munculnya industrialisasi yang melahirkan spesialisasi kerja
dan pekerjaan mobile telah melemahkan iembaga-lembaga yang dapat
berperan sebagai struktur penghubung antara kelompok masyarakat lemah
dengan masyarakat luas. Organisasi-organisasi sosial, lembaga-lembaga
keagamaan (mesjid, gereja), dan lembaga keiuarga yang secara tradisional
merupakan lembaga alamiah yang dapat memberi dukungan dan bantuan
informal, pemecahan masalah dan pemenuhan kebutuhan para anggotanya,
cenderung semakin melemah peranannya. Oleh karena itu, seringkali sistem
ekonomi yang diwujudkan dalam berbagai bentuk pembangunan proyekproyek fisik, selain di satu pihak mampu meningkatkan kualitas hidup
sekelompok orang, juga tidak jarang malah semakin meminggirkan
kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat.
Sennet dan Cabb (1972) dan Conway (1979) menyatakan bahwa
ketidakberdayaan ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti: ketiadaan
jaminan ekonomi, ketiadaan pengalaman dalam arena politik, ketiadaan
akses terhadap informasi, ketiadaan dukungan finansial, ketiadaan pelatihanpelatihan, dan adanya ketegangan fisik maupun emosional (Suharto, 1997).
Para teoritisi, seperti Seeman (1985), Seligman (1972), dan Learner (1986)
meyakini bahwa ketidakberdayaan yang dialami oleh sekelompok masyarakat
merupakan akibat dari proses internalisasi yang dihasilkan dari interaksi
mereka dengan masyarakat. Mereka menganggap diri mereka sebagai lemah,
dan tidak berdaya, karena masyarakat memang menganggapnya demikian.
Seeman menyebut keadaan in i dengan isti lah 'al ienasi'. Sementara Sei igman
menyebutnya sebagai 'ketidakberdayaan yang dipelajari' (learned helplessness), dan Learner menamakannya dengan istilah 'ketidakberdayaan sur-

plus' (surplus powerlessness) (Suharto, 1997:212-213).

62

MEMBANGUN MASYARAKAT Mt:MBERDAYAKAN RAKYAT

Learner lebih jauh menjelaskan konsep 'pentidakberdayaan' ini sebagai


proses dengan mana orang merasa tidak berdaya melalui pembentukan
seperangkat pikiran emosional, intelektual dan spiritual yang mencegahny.a
dari pengaktualisasian kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya ada.
Sebagai contoh, para penerima Bantuan Sosial Keluarga (AFDC/Aid for
Families with Dependent Children) merasa tidak berdaya untuk merubah
program dan bentuk-bentuk pelayanan AFDC. Mereka memiliki persepsi
bahwa dirinya tidak mampu, tidak berdaya, .atau bahkan tidak berhak
untuk merubah program-program tersebut. Menurut Kieffer (1984:9),
ketidakberdayaan yang dipersepsi ini merupakan hasil dari pembentukan
interaksi terus-menerus antara individu dan lingkungannya yang meliputi
kombinasi antara sikap penyalahan-diri sendiri, perasaan tidak dipercaya,
keterasingan dari sumber-sumber sosial dengan perasaan tidak mampu
dalam perjuangan politik. Solomon (1979) melihat bahwa ketidakberdayaan
dapat bersumber dari faktor internal maupun eksternal. Menurutnya, ketidakberdayaan dapat berasal dari penilaian diri yang negatif; interaksi negatif
dengan lingkungan, atau berasal dari blokade dan hambatan yang berasal
dari lingkungan yang lebih besar (Suharto, 1997:213-214):

Penilaian diri yang negatif. Ketidakberdayaan dapat berasal dari adanya


sikap penilaian negatif yang ada pada diri seseorang yang terbentuk
akibat adanya penilaian negatif dari orang lain. Misalnya wanita atau
kelompok minoritas merasa tidak berdaya karena mereka telah
disosialisasikan untuk melihat diri mereka sendiri sebagai orang yang
tidak memiliki kekuasaan setara dalam masyarakat.

lnteraksi negatif dengan orang lain. Ketidakberdayaan dapat bersumber


dari pengalaman negatif dalam interaksi antara korban yang tertindas
dengan sistem di luar mereka yang menindasnya. Sebagai contoh,
wanita atau kelompok minoritas seringkali mengalami pengalaman
negatif dengan masyarakat di sekitarnya. Pengalaman pahit ini
kemudian menimbulkan perasaan tidak berdaya, misalnya rendah
diri, merasa tidak mampu, merasa tidak patut bergabung dengan
organisasi sosial di mana mereka berada.

"

Lingkungan yang lebih luas. Lingkungan luas dapat menghambat peran


dan tindakan kelompok tertentu. Situasi ini dapat mengakibatkan tidak
berdayanya kelompok yang tertindas tersebut dalam mengekpresikan

BAB

4 -

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

63

atau menjangkau kesempatan-kesempatan yang ada di masyarakat.


Misalnya kebijakan yang diskriminatif terhadap kelompok gay atau
lesbian dalam memperoleh pekerjaan dan pendidikan.

Indikator Keberdayaan
Menu rut Kieffer (1981 ), pemberdayaan mencakup tiga dimensi yang meliputi
kompetensi kerakyatan, kemampuan sosiopolitik, dan kompetensi partisipatif
(Suharto, 1997:215). Parsons et.a/. (1994:1 06) juga mengajukan tiga dimensi
pemberdayaan yang merujuk pada:

Sebuah proses pembangunan yang bermula dari pertumbuhan individual yang kemudian berkembang menjadi sebuah perubahan sosial
yang lebih besar.

Sebuah keadaan psikologis yang ditandai oleh rasa percaya diri, berguna
dan mampu mengendalikan diri dan orang lain.

Pembebasan yang dihasilkan dari sebuah gerakan sosial, yang dimulai


dari pendidikan dan politisasi orang-orang lemah dan kemudian
melibatkan upaya-upaya kolektif dari orang-orang lemah tersebut untuk
memperoleh kekuasaan dan mengubah struktur-struktur yang masih
menekan (Parsons et.a/., 1994:1 06).

Untuk mengetahui fokus dan tujuan pemberdayaan secara operasional,


maka perlu diketahui berbagai indikator keberdayaan yang dapat
menunjukkan seseorang itu berdaya atau tidak. Sehingga ketika sebuah
program pemberdayaan sosia! diberikan, segenap upaya dapat dikonsentrasikan pada aspek-aspek apa saja dari sasaran perubahan (misalnya
keluarga miskin) yang perlu dioptimalkan. Schuler, Hashemi dan Riley
mengembangkan delapan indikator pemberdayaan, yang mereka sebut
sebagai empowerment index atau indeks pemberdayaan (Suharto, 2004).
Keberhasilan pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari keberdayaan
mereka yang menyangkut kemampuan ekonomi, kemampuan mengakses
manfaat kesejahteraan, dan kemampuan kultural dan politis. Ketiga aspek
tersebut dikaitkan dengan empat dimensi kekuasaan, yaitu: 'kekuasaan di
dalam' (power within), 'kekuasaan untuk' (power to), 'kekuasaan atas'

64

MEMBANGUN fvlASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

(power over), dan 'kekuasaan dengan' (power with). Tabel4.1 merangkum

indikator pemberdayaan.
1.

Kebebasan mobilitas: kemampuan individu untuk pergi ke luar rump.h


atau wilayah tempat tinggalnya, seperti ke pasar, fasilitas medis,
bioskop, rumah ibadah, ke rumah tetangga. Tingkat mobilitas ini
dianggap tinggi jika individu mampu pergi sendirian.

2.

Kemampuan membeli komoditas kecil: kemampuan individu untuk


membeli barang-barang kebutuhan keluarga sehari-hari (beras, minyak
tanah, minyak goreng, bumbu); kebutuhan dirinya (minyak rambut,
sabun mandi, rokok, bedak, sampo). lndividu dianggap mampu
melakukan kegiatan ini terutama jika ia dapat membuat keputusan
sendiri tanpa meminta ijin pasangannya; terlebih jika ia dapat membeli
barang-barang tersebut dengan menggunakan uangnya sendiri.

3.

Kemampuan membeli komoditas besar: kemampuan individu untuk


membeli barang-barang sekunder atau tersier, seperti lemari pakaian,
TV, radio, koran, majalah, pakaian keluarga. Seperti halnya indikator
di atas, poin tinggi diberikan terhadap individu yang dapat membuat
keputusan sendiri tanpa meminta ijin pasangannya; terlebih jika ia
dapat membeli barang-barang tersebut dengan menggunakan uangnya
sendiri.

4.

Terlibat dalam pembuatan keputusan-keputuan rumah tangga: mampu


membuat keputusan secara sendiri maupun bersama suami/istri
mengenai keputusan-keputusan keluarga, misalnya mengenai renovasi
rumah, pembelian kambing untuk diternak, memperoleh kredit usaha.

5.

Kebebasan relatif dari dominasi keluarga: responden ditanya mengenai


apakah dalam satu tahun terakhir ada seseorang (suami, istri, anakanak, mertua) yang mengambil uang, tanah, perhiasan dari dia tanpa
ijinnya; yang melarang mempunyai anak; atau melarang bekerja di
luar rumah.

6.

Kesadaran hukum dan politik: mengetahui nama salah seorang pegawai


pemerintah desa/kelurahan; seorang anggota DPRD setempat; nama
presiden; mengetahui pentingnya memiliki surat nikah dan hukumhukum waris.

7.

Keterlibatan dalam kampanye dan protes-protes: seseorang dianggap


'berdaya' jika ia pernah terlibat dalam kampanye atau bersama orang
lain melakukan prates, misalnya, terhadap suami yang memukul istri;

BAB

4-

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

65

Tabel 4.1: lndikator Keberdayaan


Jenis Hubungan
Kekuasaan
Kekuasaan di
dalam:

Meningkatkan
kesadaran dan
keinginan untuk
berubah

Kekuasaan
untuk:

Meningkatkan
kemampuan
individu untuk
berubah;
Meningkatkan
kesempatan
untuk
memperoleh
akses

Kekuasaan atas:

Perubahan pada
hambatanhambatan
sumber dan
kekuasaan pada
tingkat
rumahtangga,
masyarakat dan
makro;
Kekuasaan atau
tindakan
individu untuk
menghadapi
hambatanhambatan
terse but
Kekuasaan
dengan:

Meningkatnya
solidaritas atau
tindakan
bersama dengan
orang lain untuk
menghadapi
hambatanhambatan
sumber dan
kekuasaan pada
tingkat
rumahtangga,
masyarakat d1n
makro

Kemampuan Ekonomi

.
.

Evaluasi positif terhadap


kontribusi ekonomi
dirinya
Keinginan memiliki
kesempatan ekonomi
yang setara
Keinginan memiliki
kesamaan hak terhadap
sumber yang ada pada
rumahtangga dan
masyarakat

.
.
.

..
.
.
.
.
.
.
.

Akses terhadap
pelayanan keuangan
mikro
Akses terhadap
pendapatan
Akses terhadap aset-aset
produktif dan
kepemilikan rumahtangga
Akses terhadap pasar
Penurunan beban dalam
pekerjaan domestik,
termasuk perawatan anak
Kontrol atas penggunaan
pinjaman dan tabungan
serta keuntungan yang
dihasilkannya.
Kontrol atas pendapatan
aktivitas produktif
keluarga yang lainnya.
Kontrol atas aset
produktif dan
kepemilikan keluarga.
Kontrol atas alokasi
tenaga kerja keluarga
Tindakan individu
menghadapi diskriminasi
atas akses terhadap
sumber dan pasar

Bertindak sebagai model


peranan bagi orang lain
terutama dalam
pekerjaan publik dan
modern.
Mampu memberi gaji
terhadap orang lain
Tindakan bersama
menghadapi diskriminasi
pada akses terhadap
sumber (termasuk hak
atas tanah), pasar dan
diskriminasi gender pada
konteks ekonomi makro.

Kemampuan Mengakses
Manfaat Keseiahteraan

.
.
.
.

.
.
.

.
.

.
.

Kepercayaan diri dan


kebahagiaan
Keinginan memiliki
kesejahteraan yang

.
.

setara

Keinginan membuat
keputusan mengenai
diri dan orang lain
Keinginan untuk
mengontrol jumlah
anak

Keterampilan, termasuk
kemelekan hurup
Status kesehatan dan
gizi
Kesadaran mengenai
dan akses terhadap
pelayanan kesehatan
reproduksi
Ketersediaan pelayanan
kesejahteraan publik

Kontrol atas ukuran


konsumsi keluarga dan
aspek bernilai lainnya
dari pembuatan
keputusan keluarga
iermasuk. keputusan
keluarga berencana.
Aksi individu untuk
mempertahankan diri
dari kekerasan keluarga
dan masyarakat

Penghargaan tinggi
lerhadap dan
peningkatan
pengeluaran untuk
anggota keluarga.
Tindakan bersama
untuk menmgkatkan
kesejahleraan publik.

.
.
.
.
.
.

.
.

Kemampuan
Kultural dan Politis

Assertiveness dan
otonomi

Keinginan untuk
menghadapi
subordinasi. gender
termasuk tradisi
budaya, diskriminasi
hukum dan pengucilan
politik
Keinginan terlibat
dalam proses-proses
budaya, hukum dan
politik
Mobilitas dan akses
terhadap dunia di luar
rumah
Pengetahuan mengenai
proses hukum, politik
dan kebudayaan
Kemampuan
menghilangkan
hambatan formal yang
merintangi akses
terhadap proses
hukum, politik dan
kebudayaan
Aksi individu dalam
menghadapi dan
mengubah persepsi
budaya kapasitas dan
hak wanita pada
tingkat keluarga dan
masyarakat
Keterlibatan individu
dan pengambilan peran
dalam proses budaya,
hukum dan politik.

Peningkatan jaringan
untuk memperoleh
dukungan pada saal
krisis.
Ti ndakan bersa rna
untuk membela orang
lain menghadapi
perlakuan salah dalam
keluarga dan
masyarakat.
Partisipasi dalam
gerakan-gerakan
menghadapi subordinasi gender yang
bersifat kultural, politis,
hukum pada tingkat
masyarakat dan makro.

66

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

istri yang mengabaikan suami dan keluarganya; gaji yang tidak adil;
penyalahgunaan bantuan sosial; atau penyalahgunaan kekuasaan polisi
dan pegawai pemerintah.
8.

Jaminan ekonomi dan kontribusi terhadap keluarga: memiliki rumah,


tanah, asset produktif, tabungan. Seseorang dianggap memiliki poin
tinggi jika ia memiliki aspek-aspek tersebut secara sendiri atau terpisah
dari pasangannya.

Strategi Pemberdayaan
Parsons et.a/. (1994:112-113) menyatakan bahwa proses pemberdayaan
umumnya dilakukan secara kolektif. Menurutnya, tidak ada literatur yang
menyatakan bahwa proses pemberdayaan terjadi dalam relasi satu-lawansatu antara pekerja sosial dan klien dalam setting pertolongan perseorangan.
Meskipun pemberdayaan seperti ini dapat meningkatkan rasa percaya diri
dan kemampuan diri klien, hal ini bukanlah strategi utama pemberdayaan.
Namun demikian, tidak semua intervensi pekerjaan sosial dapat dilakukan
melalui kolektivitas. Dalam beberapa situasi, strategi pemberdayaan dapat
saja dilakukan secara individual; meskipun pada gilirannya strategi ini pun
tetap berkaitan dengan kolektivitas, dalam arti mengkaitkan klien dengan
sumber atau sistem lain di luar dirinya. Dalam konteks pekerjaan sosial,
pemberdayaan dapat di lakukan melalui tiga aras atau matra pemberdayaan
(empowerment setting): mikro, mezzo, dan makro.
1.

Aras Mikro. Pemberdayaan dilakukan terhadap klien secara individu


melalui bimbingan, konseling, stress management, crisis intervention. Tujuan utamanya adalah rnembimbing atau melatih klien dalam
rnenjalankan tugas-tugas kehidupannya. Model ini sering disebut
sebagai Pendekatan yang Berpusat pada Tugas (task centered approach).

2.

Aras Mezzo. Pemberdayaan dilakukan terhadap sekelompok klien.


Pemberdayaan dilakukan dengan menggunakan kelompok sebagai
media intervensi. Pendid1kan dan pelatihan, dinamika kelompok,
biasanya digunakan sebagai strategi dalam meningkatkan kesadaran,
pengetafiuan, keterarnpilan dan sikap-sikap klien agar memiliki
kemampuan memecahkan permasalahan yang dihadapinya.

BAB

3.

4 -

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

67

Aras Makro. Pendekatan ini disebutjuga sebagai Strategi Sistem Besar


(large-system strategy), karena sasaran perubahan diarahkan pada sistem
lingkungan yang lebih luas. Perumusan kebijakan, perencanaan sosial,
kampanye, aksi sosial, lobbying, pengorganisasian masyarakat,
manajemen konflik, adalah beberapa strategi dalam pendekatan ini.
Strategi Sistem Besar memandang klien sebagai orang yang memiliki
kompetensi untuk memahami situasi-situasi mereka sendiri, dan untuk
memilih serta menentukan strategi yang tepat untuk bertindak .

Pendekatan
Pelaksanaan proses dan pencapaian tujuan pemberdayaan di atas dicapai
melalui penerapan pendekatan pemberdayaan yang dapat disingkat menjadi
SP, yaitu: Pemungkinan, Penguatan, Perlindungan, Penyokongan dan
Pemeliharaan (Suharto, 1997:218-219):
1.

Pemungkinan: menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan


potensi masyarakat berkembang secara optimal. Pemberdayaan harus
mampu membebaskan masyarakat dari sekat-sekat kultural dan
struktural yang menghambat.

2.

Penguatan: memperkuatpengetahuan dan kemampuan yangdimiliki


masyarakat dalam memecahkan rnasalah dan memenuhi keoutuhankebutuhannya. Pemberdayaan harus mampu menumbuh-kembangkan
segenap kemampuan dan kepercayaan diri masyarakat yang menunjang
kemandirian mereka.

3.

Perlindungan: melindungi masyarakatterutama kelompok-kelompok


lemah agar tidak tertindas oleh kelompok kuat, menghindari terjadinya
persaingan yang tidak seimbang (apalagi tidak sehat) antara yang kuat
dan lemah, dan mencegah terjadinya eksploitasi kelompok kuatterhadap
kelompok lemah. Pemberdayaan harus diarahkan pada penghapusan
segala jenis diskriminasi dan dominasi yang tidak menguntungkan
rakyat keci I.

4.

Penyokongan: memberikan bimbingan dan dukungan agar masyarakat


mampu menjalankan peranan dan tugas-tugas kehidupannya.
Pemberdayaan harus mampu menyokong masyarakat agar tidak terjatuh
ke dalam keadaan dan posisi yang semakin lemah dan terpinggirkan.

5.

Pemeliharaan: memelihara kondisi yang kondusif agar tetap terjadi

68

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

keseimbangan distribusi kekuasaan antara berbagai kelompok dalam


masyarakat. Pemberdayaan harus mampu menjamin keselarasan dan
keseimbangan yang memungkinkan setiap orang memperoleh
kesempatan berusaha.

Dubois dan Miley (1992:211) memberi beberapa cara atau teknik


yang lebih spesifik yang dapat di lakukan dalam pemberdayaan masyarakat:

1.

Membangun relasi pertolongan yang: (a) merefleksikan respon empati;


(b) menghargai pilihan dan hak klien menentukan nasibnya sendiri
(self-determination); (c) menghargai perbedaan dan keunikan individu;
(d) menekankan kerjasama klien (client partnerships).

2.

Membangun komunikasi yang: (a) menghormati martabatdan harga


diri klien; (b) mempertimbangkan keragaman individu; (c) berfokus
pada klien; (d) menjaga kerahasiaan klien.

3.

Terlibat dalam pemecahan masalah yang: (a) memperkuat partisipasi


klien dalam semua aspek proses pemecahan masalah; (b) menghargai
hak-hak klien; (c) merangkai tantangan-tantangan sebagai kesempatan
belajar; (d) melibatkan klien dalam pembuatan keputusan dan evaluasi.

4.

Merefleksikan sikap dan nilai profesi pekerjaan sosial melalui: (a)


ketaatan terhadap kode etik profesi; (b) keterlibatan dalam pengembangan profesional, riset, dan perumusan kebijakan; (c) penerjemahan
kesulitan-kesulitan pribadi ke dalam isu-isu publik; (d) penghapusan
segala bentuk diskriminasi dan ketidaksetaraan kesempatan.

Prinsip
Pelaksanaan pendekatan di atas berpijak pada pedoman dan pnns1p
pekerjaan sosial. Menurut beberapa penulis, seperti Solomon (1976),
Rappaport (1981, 1984), Pinderhughes (1983), Swift (1984), Swift dan
Levin (1987), Weick, Rapp, Sui ivan dan Kisthardt (1989), terdapat beberapa
prinsip pemberdayaan menurut perspektif pekerjaan sosial (Suharto,
1997:216-217).
"'

Pemberdayaan adalah proses kolaboratif. Karenanya pekerja sosial


dan masyarakat harus bekerjasama sebagai partner.

BAB

4-

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

69

Proses pemberdayaan menempatkan masyarakat sebagai aktor atau


subjek yang kompeten dan mampu menjangkau sumber-sumberdan
kesempatan-kesempatan.

Masyarakat harus melihat diri mereka sendiri sebagai agen penting


yang dapat mempengaruhi perubahan.

Kompetensi diperoleh atau dipertajam melalui pengalaman hidup,


khususnya pengalaman yang memberikan perasaan mampu pada
masyarakat.

Solusi-solusi, yang berasal dari situasi khusus, harus beragam dan


menghargai keberagaman yang berasal dari faktor-faktor yang berada
pada situasi masalah tersebut.

jaringan-jaringan sosial informal merupakan sumber dukungan yang


penting bagi penurunan ketegangan dan meningkatkan kompetensi
serta kemampuan mengendalikan seseorang.

Masyarakat harus berpartisipasi dalam pemberdayaan mereka sendiri:


tujuan, cara dan hasil harus dirumuskan oleh mereka sendiri.

Tingkat kesadaran merupakan kunci dalam pemberdayaan, karena


pengetahuan dapat memobilisasi tindakan bagi perubahan.

Pemberdayaan melibatkan akses terhadap sumber-sumber dan


kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber tersebut secara
efektif.

Proses pemberdayaan besifat dinamis, sinergis, berubah terus, evolutif;


permasalahan selalu memiliki beragam solusi.

Pemberdayaan dicapai melalui struktur-struktur personal dan


pembangunan ekonomi secara paralel.

Tugas Pekerja Sosial


Schwartz (1961:157-158), mengemukakan 5 (lima) tugas yang dapat
dilaksanakan oleh pekerja sosial:
1.

Mencari persamaan mendasar antara persepsi masyarakat mengenai


kebutuhan mereka sendiri dan aspek-aspek tuntutan sosial yang
dihadapi mereka.

2.

Mendeteksi dan menghadapi kesulitan-kesulitan yang menghambat

70

MEMBANGUN MptSYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKY'AT

banyak orang dan membuat frustrasi usaha-usaha orang untuk


mengidentifikasi kepentingan mereka dan kepentingan orang-orang
yang berpengaruh (significant others) terhadap mereka.
3.

Memberi kontribusi data mengenai ide-ide, fakta, nilai, konsep yang


tidak dimiliki masyarakat, tetapi bermanfaat bagi mereka dalam
menghadapi realitas sosial dan masalah yang dihadapi mereka.

4.

Membagi visi kepada masyarakat; harapan dan aspirasi pekerja sosial


merupakan investasi bagi interaksi antara orang dan masyarakat dan
bagi kesejahteraan individu dan sosial.

5.

Mendefinisikan syarat-syaratdan batasan-batasan situasi dengan mana


sistem relasi antara pekerja sosial dan masyarakat dibentuk. Aturanaturan tersebut membentuk konteks bagi 'kontrak kerja' yangmehgikat
masyarakat dan lembaga. Batasan-batasan tersebut juga mampu
menciptakan kondisi yang dapat membuat masyarakat dan pekerja
sosial menjalankan fungsinya masing-masing.

Perencanaan Program

Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat seringkali melibatkan


perencanaan, pengkoordinasian dan pengembangan berbagai aktivitas
pembuatan program atau proyek kemasyarakatan yang bertujuan untuk
meningkatkan taraf hidup atau kesejahteraan sosial (social well-being)
masyarakat. Sebagai suatu kegiatan kolektif, pemberdayaan masyarakat
melibatkan beberapa aktor, seperti pekerja sosial, masyarakat setempat,
lembaga donor serta instansi terkait, yang saling bekerjasama mulai dari
perancangan, pelaksanaan, sampai evaluasi terhadap program atau proyek
tersebut. Membangun masyarakat dan memberdayakan rakyat dapat
dilakukan melalui penetapan sebuah program atau proyek pembangunan
yang perumusannya dilakukan melalui perencanaan program. Hakekat
perencanaan sosial, model perencanaan, dan proses perencanaan program adalah tiga tema yang dibahas dalam bab ini.

Hakekat Perencanaan
Ketika menjadi Analis Kebijakan lnternasional di Central European University, Hongaria dari tahun 2003 sampai dengan 2004, penulis bertemu
dengan Nicholas White, direktur Crisis Croup International, sebuah NGO
yang berpusat di Belgia. Dalam sebuah pertemuan ilmiah di jantung
Budapest, dia menyatakan: 'if we fail to plan, we plan to fail.' Nicholas
benar. jika kita gagal merencanakan, kita merencanakan gagal. Perencanaan
adalah sebuah proses yang penting dan menentukan keberhasilan suatu
tindakan. Perencanaan pada hakekatnya merupakan usaha secara sadar,
71

. '\1

72

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

terorganisir dan terus menerus dilakukan guna memilih alternatif yang


terbaik darisejumlah alternatif yang ada untuk mencapai tujuan tertentu.
Perencanaan juga dapatdiartikan sebagai kegiatan ilmiah yang melibatkan
pengolahan fakta dan situasi sebagaimana adanya yang ditujukan untuk
mencari jalan keluar dan memecahkan masalah. Perencanaan sosial mula
pertama digunakan di negara-negara maju seperti di Eropa Barat dan Amerika
Utara. Menu rut pengertian yang diberikan oleh PBB, pengertian perencanaan
sosial meliputi (Suharto, 1997):
1.

Perencanaan sosial sebagai perencanaan pada sektor-sektor sosial,


seperti sektor kesejahteraan sosial, pendidikan, kesehatan, perumahan,
kependudukan dan keluarga berencana.

2.

Perencanaan sosial sebagai perencanaan lintas sektoral. Pengertian


ini sifatnya lebih menyeluruh dalam arti perencanaan yang lebih dari
sekedar perencanaan ekonomi saja.

3.

Perencanaan sosial sebagai perencanaan pada aspek-aspek sosial dari


perencanaan ekonomi. Dalam pengertian ini, perencanaan sosial
memiliki dua dimensi. Pertama, perencanaan sosial dipandang sebagai
perencanaan input sosial bagi perencanaan ekonomi. Kedua,
perencanaan sosial dipandang sebagai perencanaan yang ditujukkan
untuk menghindari atau mencegah berbagai akibat sosial yang tidak
diharapkan dari adanya pembangunan ekonomi, seperti keretakan
keluarga, kenakalan remaja, polusi, pelacuran dan sebagainya.

Perencanaan sosial memiliki kaitan yang erat dengan perencanaan


pelayanan kesejahteraan sosial. Dengan demikian, meskipun perencanaan
sosial masih sering diartikan secara luas (menyangkut pendidikan, kesehatan,
perumahan), perencanaan sosial pada hakekatnya menunjuk pada
perencanaan mengenai program pelayanan kesejahteraan sosial (Conyers,
1992). Mengacu pada pengertian yang dirumuskan PBB pada tahun 1970,
maka bidang kesejahteraan sosial dalam konteks ini merujuk pada suatu
rangkaian kegiatan yang terorganisasi yang ditujukkan untuk memungkinkan
individu, kelompok serta masyarakat dapat memperbaiki keadaan mereka
sendiri, menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada, serta dapat berpartisipasi dalam tugas-tugas pembangunan.

BAB

5-

PERENCANAAN PROGRAM

73

Dengan demikian, perencanaan program pelayanan sosial pada


dasarnya menunjuk pada kegiatan-kegiatan pelayanan kesejahteraan sosial
yang umumnya mencakup: bimbingan keluarga, pendidikan orang tua,
perawatan sehari-hari, kesejahteraan anak, perawatan manusia lanjut usia,
rehabilitasi penyandang cacat dan narapidana, pelayanan bagi pengungsi,
kegiatan kelompok remaja, pelayanan kesehatan, kegiatan persekolahan,
dan perumahan (Marjuki dan Suharto, 1996).

Model Perencanaan
Prinsip-prinsip dalam perencanaan program san gat tergantung pada asumsi
dan tujuan dari perencanaan sosial itu sendiri. Asumsi dan tujuan
perencanaan sosial tidak ada yang seragam, melainkan tergantung pada
model perencanaan yang dipilih. Oleh karena itu untuk memahami prinsipprinsip dalam perencanaan sosial dapat dilakukan melalui penelaahan
terhadap model-model perencanaan sosial. Sedikitnya ada empat model
perencanaan sosial yang memuat prinsip-prinsip perencanaan secara
tersendiri (lihat Gilbert dan Specht, 1977).

Model Rasional Komprehensif


Model perencanaan ini merupakan model yang paling terkenal dan luas
diterima oleh para pembuat keputusan. Prinsip utama dalam model ini
adalah bahwa perencanaan merupakan suatu proses yang teratur dan logis
sejak dari diagnosis masalah sampai pada pelaksanaan kegiatan atau
penerapan program. Model ini sangat menekankan pada aspek teknis
metodologis yang didasarkan atas fakta-fakta, teori-teori dan nilai-nilai
tertentu yang relevan. Dalam model ini, masalah yang ditemukan harus
didiagnosis, ditentukan pemecahannya melalui perancangan program yang
komprehensif, kemudian diuji efektivitasnya sehingga diperoleh cara
pemecahan masalah dan pencapaian tujuan yang paling baik.
Namun demikian, beberapa ahli menunjukkan beberapa kelemahan
yang melekat pada model ini (lihat Winarno, 2002):

74

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

1.

Karena masalah dan alternatif yang diusulkan oleh model ini bersifat
kompehensif, luas dan mencakup berbagai sektor pembangunan, program yang diusulkan oleh para pembuat keputusan seringkali tidak
mampu merespon masalah yang spesifik dan kongkrit.

2.

Teori rasional komprehensif seringkali tidak realistis karena informasi


mengenai masalah-masalah yang dikaji dan alternatif-alternatif yang
diajukan seringkali menghadapi hambatan, misalnya dalam hal waktu
dan biaya.

3.

Para pembuat keputusan biasanya berhadapan dengan situasi konflik


antar berbagai kelompok kepentingan.

Modellnkremental
Kekurangan yang ada pada model rasional komprehensif melahirkan model
inkremental atau model penambahan (incremental). Prinsip utama model
ini mensyaratkan bahwa perubahan-perubahan yang diharapkan dari
perencanaan tidak bersifat radikal, melainkan hanya perubahan-perubahan
kecil saja atau penambahan-penambahan pada aspek-aspek program yang
sudah ada. Prinsip ini berbeda dengan model pertama yang menekankan
perubahan-perubahan fundamental. Model ini menyarankan bahwa
perencanaan tidak perlu menentukan tujuan-tujuan dan kemudian
menetapkan kebijakan-kebijakan untuk mencapainya. Yang diperlukan
adalah menentukan pili han terhadap kebijakan yang berbeda secara marginal saja. Misalnya ada dua kebijakan A dan B yang sama-sama akan
menghasilkan a, b, dan c dalam ukuran yang sama. Namund demikian, A
dapat menghasilkan d yang lebih besar atau lebih banyak daripada B.
Sedangkan B menghasilkan e yang lebih besar daripada A. Maka untuk
memilih kebijakan A atau B caranya adalah dengan membandingkan
perbedaan antara d dan e saja, serta menentukan yang mana yang harus
dikorbankan.

Model Pengamatan Terpadu


Model pengamatan terpadu atau penyelidikan campuran (mixedscanning
model) dikembangkan oleh Arnitai Etzioni melalui karyanya Mixed Scan-

BAB

5-

PERENCANAAN PROGRAM

75

ning: A Thord Approach to Decision Making yang dimuat dalam jurnal


Administration Review, XXVII pada Desember 1967. Model ini merupakan
jalan tengah dari model pertama dan kedua yang memadukan unsur-unsur
yang terdapat pada kedua pendekatan di atas, yakni mengenai keputusan
fundamental dan inkremental. Keputusan yang fundamental dilakukan
dengan menjajagi alternatif-alternatif utama dihubungkan dengan tujuan.
Tetapi tidak seperti pendekatan rasional, hal-hal yang det;::dl dan spesifikasi
diabaikan sehingga pandangan yang menyeluruh dapat.diperoleh. Sementara
itu, keputusan-keputusan yang bersifat tambahan atau inkremental dibuat
di dalam konteks yang ditentukan oleh keputusan-keputusan fundamental.
Dengan demikian, masing-masing unsur dapat mengurangi kekurangankekurangan yang terdapat pada unsur lainnya.

Model Transaksi
Prinsip utama model ini menekankan bahwa perencanaan melibatkan proses
interaksi dan komunikasi antara perencana dan para penerima pelayanan.
Oleh karena itu, model ini menyarankan bahwa perencanaan harus dapat
menutup jurang komunikasi antara perencana dan penerima pelayanan
yang membutuhkan rencana program. Caranya dapat dilakukan dengan
mengadakan transaksi yang bersifat pribadi, baik lisan maupun tulisan
secara terus menerus di antara mereka yang terlibat.

Proses Perencanaan Program


Setiap perencanaan sosial dibuat dengan mengikuti tahapan atau siklus
tertentu. Tahapan tersebut biasanya berbeda-beda tergantung pada jenis
perencanaan, tujuan perencanaan dan konteks perencanaan. Namun
demikian, dalam garis besar perencanaan sosial dapat dirumuskan menjadi
lima tahapan sebagai berikut (lihat Carey, 1980; Marjuki dan Suharto,
1996; Suharto, 1997): (a) ldentifikasi masalah; (b) Penentuan tujuan; (c)
Penyusunan dan pengembangan rencana program; (d) Pelaksanaan program; dan (e) Evaluasi program.

76

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

ldentifikasi Masalah
Mengidentifikasi masalah-masalah sosial yang akan direspon oleh suatu
program. ldentifikasi masalah perlu dilakukan secara komprehensif dengan
menggunakan teknik-teknik dan indikatoryang tepat. Misalnya, jika masalah
kemiskinan dirumuskan sebagai orang-orang yang memiliki pendapatan di
bawah garis kemiskinan, maka alternatif-altenatif yang dapat dirancang
menjadi sempit. Pemecahan masalah kemiskinan menjadi hanya sekadar
meningkatkan pendapatan orang-orang miskin. Namun demikian, mungkin
saja masalah kemiskinan yang sebenarnya berhubungan dengan
keterpencilan suatu wilayah atau tidak tersedianya sarana ekonomi
masyarakat. Karenanya, pemecahannya dapat melalui kegiatan lain, seperti
peningkatan aksesibilitas masyarakat terhadap fasilitas perkreditan dan
pemasaran, selain meningkatkan pendapatan orang-orang miskin saja.
ldentifikasi masalah san gat erat kaitannya dengan asesmen kebutuhan
(need assessment). Kebutuhan dapat didefinisikan sebagai kekurangan yang

mendorong masyarakat untuk mengatasinya. Asesmen kebutuhan dapat


diartikan sebagai penentuan besarnya atau luasnya suatu kondisi dalam
suatu populasi yang ingin diperbaiki atau penentuan kekurangan dalam
kondisi yang ingin direalisasikan.
Dalam kaitan ini ada lima jenis kebutuhan, yaitu kebutuh,an absolut,
kebutuhan normatif, kebutuhan yang dirasakan, kebutuhan yang dinyatakan,
dan kebutuhan komparatif.
1.

Kebutuhan absolut (absolute need) adalah kebutuhan minimal atau


kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh manusia agar dapat
mempertahankan kehidupannya (survive). Misalnya, manusia Indonesia membutuhan makanan sekitar tiga kali sehari yang biasanya
ditentukan oleh nilai kecukupan kalori. Nilai kalori ini oleh para ahli
kemudian disetarakan dengan nilai uang agar mudah dijadikan standar
pengukurannya. Garis kemiskinan (poverty line) yang dirumuskan
oleh Badan Pusat Statistik (BPS) adalah contoh garis kemiskinan yang
bepijak pada konsep kebutuhan absolut.

2.

Kebutuhan normatif (normative need) adalah kebutuhan yang


didefinisikan oleh ahli atau tenaga profesional. Kebutuhan ini biasanya
didasarkan standar tertentu. Misalnya: Penentuan kebutuhan gizi

BAB

5-

PERENCANAAN PROGRAM

77

masyarakat tidak bisa di lakukan sembarangan oleh masyarakat awam.


Untuk menentukan kebutuhan masyarakat akan gizi, maka para ahli
menentukan jumlah dan asupan makanan yang seharusnya dikonsumsi
oleh manusia sesuai dengan golongan usia.
3.

Kebutuhan yang dirasakan (felt need) adalah sesuatu yang dianggap


atau dirasakan orang sebagai kebutuhannya. Kebutuhan ini merupakan
petunjuk tentang kebutuhan yang nyata (real need). Akan tetapi,
kebutuhan ini berbeda dari satu orang ke orang lainnya, karena sangat
tergantung pada persepsi orang yang bersangkutan mengenai sesuatu
yang dinginkannya pada suatu waktu tertentu.

4.

Kebutuhan yang dinyatakan (stated need) adalah kebutuhan yang


dirasakan yang diubah menjadi kebutuhan berdasarkan banyaknya
permintaan. Besarnya kebutuhan ini tergantung pada seberapa orang
yang memerlukan pelayanan sosial.

5.

Kebutuhan komparatif (comparative need) adalah kesenjangan (gap)


antara tingkat pelayanan yang ada di wilayah-wilayah yang berbeda
untuk kelompok orang yang memiliki karakteristik sama.

Penentuan Tujuan
Tujuan dapatdidefiniskan sebagai kondisi di masa depan yang ingin dicapai.
Maksud utama penentuan tujuan adalah untuk membimbing program ke
arah pemecahan masalah. Tujuan dapat menjadi target yang menjadi dasar
bagi pencapaian keberhasilan program. Ada dua jenis atau tingkat tujuan,
yaitu tujuan umum (goa/) dan tujuan khusus (objective). Tujuan umum
drrumuskan secara luas sehingga pencapaiannya tidak dapat diukur.
Sedangkan tujuan khusus merupakan pernyataan yang spesifik dan terukur
mengenai jumlah yang menun_iukkan kemajuan ke arah pencapaian tujuan
umum. Rumusan tujuan khusus yang baik memiliki beberapa ciri:
1.

Berorientasi pada keluaran (output) bukan pada proses atau masukan


(input).

2.

Dinyatakan dalam istilah yang terukur.

3.

Tidak hanya menunjukkan arah perubahan (misalnya meningkatkan),


tetapi juga tingkat perubahan yang diharapkan (misalnya 10 persen).

4.

Menunjukkan jumlah populasi secara terbatas.

78

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYIIKAN RAKYAT

5.

Menunjukkan pembatasan waktu.

6.

Realistis dalam arti dapat dicapai dan menunjukkan usaha untuk


mencapainya.

7.

Relevan dengan kebutuhan dan tujuan umum.

Ciri-ciri tersebut dapat dirumuskan dalarn akronim SMART (dalam


Bahasa lnggris 'smart' dapat diartikan cerdas) yang merupakan singkatan
dari Specific (spesifik atau khusus), Measurable (dapat diukur), Achievable
(dapat dicapai), Realistic (realistik atau masuk aka I), dan Time-Bound (terikat
waktu).

Penyusunan dan Pengembangan Rencana Program


Dalam proses perencanaan sosial, para perencana dan pihak-pihak terkait
atau para pemangku kepentingan (stakeholders) selayaknya bersama-sama
menyusun pola rencana intervensi yang komprehensif. Pola tersebut
menyangkut tujuan-tujuan khusus, strategi-strategi, tugas-tugas dan prosedurprosedur yang ditujukkan untuk membantu pemenuhan kebutuhankebutuhan dan pemecahan masalah. Suatu rencana biasanya dikembangkan
dalam suatu pola yang sistematis dan pragmatis di mana bentuk-bentuk
kegiatan dijadwalkan dengan jelas. Program dapat dirumuskan sebagai
suatu perangkat kegiatan yang saling tergantung dan diarahkan pada
pencapaian satu atau beberapa tujuan khusus (objectives). Penyusunan
program dalam proses perencanaan sosial mencakup keputusan tentang
apa yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Ada beberapa
hal yang perlu dipertimbangkan dalam proses perumusan program:
1.

ldentifikasi program alternatif. Penyusunan program merupakan tahap


yang membutuhkan kreativitas. Karenanya sebelum satu program dipilih
ada baiknya jika diidentifikasi beberapa program alternatif.

2.

Penentuan hasil program. Bagian dari identifikasi program alternatif


adalah penentuan hasil apa yang akan diperoleh dari setiap program
alternatif. Hasil tersebut menunjuk pada keluaran atau outputs yang
terukur. Hasil ini dapat dinyatakan dalam tiga tingkatan, yaitu:
pelaksanaan tugas, unit pelayanan dan jumlah konsumen.

BAB

5-

PEP.ENCANAAN PROGRAM

79

3.

Penentuan biaya. lnformasi tentang biaya mencakup keseluruhan biaya


program maupun biaya per hasil. Ada beberapa macam biaya, antara
lain: biaya tetap (fixed cost), biaya variabel, biaya marginal, biaya
rata-rata dan sunk cost. Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan
hanya satu kali saja dalam satu program, tetapi bisa berulang kali jika
program berikutnya dilanjutkan atau dikembangkan. Misalnya, biaya
untuk pembangunan jalan di desa tertinggal. Biaya variabel adalah
biaya yang dikeluarkan setiap kurun waktu tertentu (misalnya setiap
bulan) sehingga jumlahnya dapat berbeda-beda sesuai dengan tingkat
kebutuhan atau produksi pada tahapan program. Biaya marginal adalah
biaya yang dikeluarkan untuk tambahan pelayanan. Biaya rata-rata
adalah biaya yang dikeluarkan untuk jumlah seluruh unit pelayanan.
Sunk cost adalah biaya yang sudah dikeluarkan sebelumnya.

4.

Kriteria pemilihan program. Setelah program-program alternatif


diidentifikasi, maka harusdilakukan pilihan di antara mereka. Pemilihan
dapat dilakukan atas dasar rasional, yakni bersandar pada kriteria
tertentu. Kriteria yang tergolong rasional adalah menyangkut
pentingnya, efisiensi, efektivitas, fisibilitas (feasibility), keadilan dan
hasil-hasil tertentu. Misalnya, mana yang lebin penting antara
penurunan jumlah orang miskin atau jumlah pengangguran?

Pelaksanaan Program
Tahap implementasi program intinya menunjuk pada perubahan proses
perencanaan pada tingkat abstraksi yang lebih rendah. Penerapan kebijakan
atau pemberian pelayanan merupakan tujuan, sedangkan operasi atau kegiatankegiatan untuk mencapainya adalah alat pencapaian tujuan. Ada dua prosedur
dalam melaksanakan program, yaitu:
a.

Merinci prosedur operasional untuk melaksanakan program.

b.

Merinci prosedur agar kegiatan-kegiatan sesuai dengan rencana.

Evaluasi Program
Dalam tahap evaluasi program, anal isis kembali kepada permulaan proses
perencanaan untuk menentukan apakah tujuan yang telah ditetapkan dapat
dicapai. Evaluasi menjadikan perencanaan sebagai suatu proses yang

80

MEMBANGUN MASYARAKAT MEM'BERDAYAKAN RAKYAT

berkesinambungan. Evaluasi baru dapatdilaksanakan kalau rencana sudah


dilaksanakan. Namun demikian, perencanaan yang baik harus sudah dapat
menggambarkan proses evaluasi yang akan dilaksanakan. Ada beberapa,
pertanyaan pokok yang biasanya diajukan pada tahap evaluasi:
a)

Apakah rencana sudah dilaksanakan?

b)

Apakah tujuan sudah tercapai?

c)

Apakah kebijakan atau program sudah berjalan secara efektif?

d)

Apakah kebijakan atau program sudah berjalan secara efisien?

Secara lebih mendalam, pokok bahasan mengenai evaluasi dapat


dilihat pada Bab 9 mengenai Monitoring dan Evaluasi Program.

Pemetaan Sosial
Successful problem solving requires
finding the right solution to the right problem.
We fail more often because we solve the wrong problem
than because we get the wrong solution to the right problem.
Russell L. Ackoff (1974)

Pernyataan Ackoff (1974) memberi pesan jelas bahwa keberhasilan


pemecahan masalah memerlukan solusi yang tepat atas masalah yang
tepat pula. Namun demikian, kegagalan pemecahan masalah seringkali
disebabkan oleh kesalahan dalam merumuskan masalah daripada karena
perumusan solusi yang sa!ah. lni menunjukkan bahwa menggali dan
menganalisis masalah merupakan aspek penting, jika bukan yang terpenting,
dalam proses pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Betapapun
baiknya suatu metode dan strategi penanganan masalah, apabila tidak
sesuai dengan kondisi faktual masyarakat, maka metode tersebut tidak
akan mampu memecahkan masalah tersebut secara efektif. Ada empat
topik yang disajikan pada bab ini, yaitu masalah sosial, memahami
masyarakat, dan pendekatan pemetaan sosial.

Apa Itu Pemetaan Sosial?


Pemetaan sosial dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan dalam
penanganan masalah sosial. Pemetaan sosial (social mapping) adalah proses
penggambaran masyarakat yang sistematik serta melibatkan pengumpulan
data dan informasi mengenai masyarakat termasuk di dalamnya profile
dan masalah sosial yang ada pada masyarakat tersebut. Merujuk pada
81

82

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Netting, Kettner dan McMurtry (1993), pemetaan sosial dapat disebutjuga


sebagai social profiling atau pembuatan profil suatu masyarakat.
Sebagai sebuah pendekatan, pemetaan sosial sangat dipengaruhi oleh.
ilmu penelitian sosial dan geography. Salah satu bentuk atau hasil akhir
pemetaan sosial biasanya berupa suatu peta wilayah yang sudah diformat
sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu image mengenai pemusatan
karakteristik masyarakat atau masalah sosiat misalnya jumlah orang miskin,
rumah kumuh, anak terlantar, yang ditandai dengim warna tertentu sesuai
dengan tingkatan pemusatannya. Dengan demikian, fungsi utama pemetaan
sosial adalah memasok data dan informasi bagi pelaksanaan program PM.
Perlu dicatat bahwa tidak ada aturan dan bahkan metoda tunggal yang
secara sistematik dianggap paling unggul dalam melakukan pemetaan sosial.
Prinsip utama bagi para praktisi pekerjaan sosial dalam melakukan pemetaan
sosial adalah bahwa ia dapat mengumpulkan informasi sebanyak mungkin
dalam suatu wilayah tertentu secara spesifik yang dapat digunakan sebagai
bahan membuat suatu keputusan terbaik dalam proses pertolongannya.
Mengacu pada Netting, Kettner dan McMurtry (1993:68) ada tiga alasan
utama mengapa para praktisi pekerjaan sosial memerlukan sebuah
pendekatan sistematik dalam melakukan pemetaan sosial:
1.

Pandangan mengenai "manusia dalam lingkungannya" (the personin-environment) merupakan faktor penting dalam praktik pekerjaan
sosial, khususnya dalam praktek tingkat makro atau praktek pengembangan masyarakat. Masyarakat di mana seseorang tinggal sangat
penting dalam menggambarkan siapa gerangan dia, masalah apa yang
dihadapinya, serta sumber-sumber apa yang tersedia untuk menangani
masalah tersebut. Pengembangan masyarakat tidak akan berjalan baik
tanpa pemahaman mengenai pengaruh-pengaruh masyarakat tersebut.

2.

Pengembangan masyarakat rnemerlukan pemahaman mengenai sejarah


dan perkembangan suatu masyarakat serta analisis mengenai status
masyarakat saat ini. Tanpa pengetahuan ini, para praktisi akan
mengalami hambatan dalam menerapkan nilai-nilai, sikap-sikap dan
tradisi-tradisi pekerjaan sosial maupun dalam memelihara kemapanan
dan mengupayakan perubahan.

3.

Masyarakat secara konstan berubah. lndividu-individu dan kelompokkelompok bergerak ke dalam perubahan kekuasaan, struktur ekonomi,

BAs

6 -

PEMETAAN SosrAL

83

sumber pendanaan dan peranan penducluk. Pemetaan sosial dapat


membantu dalam memahami clan menginterpretasikan perubahanperubahan tersebut.

Masalah Sosial
Pernahkah kita menemukan suatu masyarakat yang ticlak pe~nah berhadapan
clengan masalah sosial? Masyarakat cJi mana seluruh anggotanya mampu
memenuhi kebutuhan-kebutuhan hiclupnya. Masyarakat eli mana seluruh
incliviclu eli clalamnya berfungsi sosial secara adekuat. Masyarakat eli mana
seluruh kelompok-kelompok sosial di dalamnya memi liki akses clan
kesempatan yang sama untuk menjangkau sumber-sumber ekonomi,
pencliclikan, kesehatan dan pelayanan sosial secara adil dan merata.
Jawabannya: tentu tidak ada masyarakat yang sedemikian itu. Tidak ada
masyarakat manusia yang sempurna. Masalah sosial datang silih berganti.
Beragam kebutuhan manusia senantiasa hadir setiap saat. Masalah sosial
membutuhkan pemecahan. Kebutuhan sosiai memerlukan pemenuhan.
Meskipun masalah dan kebutuhan memiliki pengertian yang berbeda,
namun dalam konteks pengembangan clan pemberdayaan masyarakat kedua
istilah tersebut seringkali dipertukarkan. Masalah pada hakekatnya merupakan
kebutuhan, karena masalah mencerminkan adanya kebutuhan dan
sebaliknya kebutuhan apabila tidak dipenuhi akan menimbulkan masalah.
Masalah pada dasarnya merupakan pernyataan suatu kondisi secara 'negatif'
sedangkan kebutuhan menyatakan secara 'positif'. 'Masyarakat mengalami
kelaparan' adalah suatu pernyataan masalah, tetapi 'masyarakat memerlukan
bantuan makanan' adalah pernyataan kebutuhan.
Secara luas masalah dapat didefinisikan sebagai perbedaan antara
harapan dan kenyataan atau sebagai kesenjangan antara situasi yang ada
dengan situasi yang seharusnya (Jenssen, 1992:42). Dalam diskusi ini,
pengertian masalah akan lebih difokuskan pada masalah sosial. Menurut
Horton dan Leslie (1982) masalah sosial adalah suatu kondisi yang dirasakan
banyak orang tidak menyenangkan serta menuntut pemecahan melalui
aksi sosial secara kolektif. Dari definisi ini dapatdisimpulkan bahwa masalah
sosial memiliki karakteristik sebagai berikut:

84

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

1.

Kondisi yang dirasakan banyak orang. Suatu masalah baru dapat


dikatakan sebagai masalah sog;jal apabila kondisinya dirasakan oleh
banyak orang. Namun demikian, tidak ada batasan mengenai berapa
jumlah orang yang harus merasakan masalah tersebut. Jika suat'u
masalah mendapat perhatian dan menjadi pembicaraan lebih dari
satu orang, masalah tersebut adalah masalah sosial. Peran media
massa sangat menentukan apakah masalah tertentu menjadi
pembicaraan khalayak umum. Jika sejumlah artikel atau berita yang
membahas suatu masalah muncul di media massa, masalah tersebut
akan segera menarik perhatian orang. Kasus kriminalitas akhir-akhir
ini sangat rarnai diberitakan di koran maupun televisi. Kriminalitas
adalah masalah sosial.

2.

Kondisi yang dinilai tidak menyenangkan. Menurutfaham hedonisme,


orang cenderung mengulang sesuatu yang menyenangkan dan
menghindari sesuatu yang tidak mengenakan. Orang senantiasa
menghindari masalah, karena masalah selalu tidak menyenangkan.
Penilaian masyarakat sangat penting dalam menentukan suatu kondisi
sebagai masalah sosial. Suatu kondisi dapat dianggap sebagai masalah
sosial oleh masyarakat tertentu tetapi tidak oleh masyarakat lainnya.
Ukuran 'baik' atau 'buruk' sangat bergantung pada nilai atau norma
yang dianut masyarakat. Penggunaan narkotika, minuman keras,
homoseksual, bahkan bunuh diri adalah masalah sosial, apabila nilai
atau norma masyarakat menganggapnya sebagai sesuatu yang buruk
atau bertentangan dengan aturan-aturan umum. Tetapi pada masyarakat
yang memandang penggunaan minuman keras, misalnya, sebagai
sesuatu yang 'wajar' dan 'biasa', penggunaan whisky, johny walker
atau sampagne bukanlah masalah sosial, meskipun dilakukan banyak
orang.

3.

Kondisi yang menuntut pemecahan. Suatu kondisi yang tidak menyenangkan senantiasa menuntut pemecahan. Bila seseorang merasa lapar,
akan segera dicarinya rumah makan. Bila sakit kepala, ia akan segera
pergi ke dokter atau membeli Paramex atau Bod rex. Umumnya, suatu
kondisi dianggap perlu dipecahkan jika masyarakat merasa bahwa
kondisitersebut memang dapat dipecahkan. Pada waktu lalu, masalah
kemiskinan tidak dikategorikan sebagai masalah sosial, karena waktu
itu masyarakat menganggap kemiskinan sebagai sesuatu yang alamiah
dan masyarakatbelum memiliki kemampuan untuk memecahkannya.
Sekarang, setelah masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan

BAS

6 -

PEMETAAN SOSIAL

85

untuk menanggulangi kemiskinan, kemiskinan ramai diperbincangkan


dan diseminarkan, karena dianggap sebagai masalah sosial.
4.

Pemecahan tersebut harus dilakukan melalui aksi sosial secara kolektif.


Masalah sosial berbeda dengan masalah individual. Masalah individual
dapat diatasi secara individual, tetapi masalah sosial hanya dapat diatasi
melalui rekayasa sosial seperti aksi sosial, kebijakan sosial atau
perencanaan sosial, karena penyebab dan akibatnya bersifat multidimensional dan menyangkut banyak orang.

Setiap masyarakat di mana pun berada senantiasa memiliki masalah


dan kebutuhan. Agar mencapai tujuan yang diharapkan, penanganan
masalah harus dimulai dari perumusan masalah sosial. Penanganan masalah
sosial harus mampu merespon masalah dan kebutuhan manusia dalam
masyarakat yang senantiasa berubah, meningkatkan keadilan dan hak azasi
man usia, serta mengubah struktur masyarakat yang menghambat pencapaian
usaha dan tujuan kesejahteraan sosial. Oleh karena itulah dalam prakteknya,
penanganan masalah sosial kerap diimplementasikan ke dalam programprogram kegiatan dari, bagi dan bersama individu, keluarga, kelompok
sosial, organisasi sosial dalam mencapai tujuan sosial dan menciptakan
kondisi yang kondusif untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

Memahami Masyarakat
Pemetaan sosial memerlukan pemahaman mengenai kerangka konseptualisasi masyarakat yang dapat membantu dalam membandingkan elemenelemen masyarakat antara wilayah satu dengan wilayah lainnya. Misalnya,
beberapa masyarakat memiliki wilayah (luas-sempit), komposisi etnik
(heterogen-homogen) dan status sosial-ekonomi (kaya-miskin atau majutertinggal) yang berbeda satu sama lain. Kerangka untuk memahami
masyarakat akan berpijak pada karya klasik Warren (1978), The Commu-

nity in America, yang dikembangkan kemudian oleh Netting, Kettner dan


McMurtry (1993:68-92). Sebagaimana digambarkan Tabel5.1, kerangka
pemahaman masyarakat dan masalah sosial terdiri dari 4 fokus atau variabel
dan 9 tugas.

86

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Tabel 5.1 : Kerangka Pemahaman Masyarakat dan Masalah Sosial

Fokus

A. Pengidentifikasian Populasi Sasaran

Tugas

1. Memahami karakteristik anggota

populasi sasaran.

B. Penentuan Karakteristik Masyarakat

2. Mengidentifi kasi batas-batas

masyarakat.
3. Menggambarkan masalah-masalah
social.
4. Memahami nilai-nilai dominan.

c.

Pengakuan Perbedaan-perbedaan

D. Pengidentifi kasian Stru ktu r

5. Mengidentifikasi mekanismemekanisme penindasan yang


tampak dan formal.
6. Mengidentifikasi bukti-bukti
diskriminasi.

7. Memahami lokasi-lokasi
kekuasaan.
8. Menentukan ketersediaan sumber.
9. Mengidentifikasi pola-pola
pengawasan sumber dan
pemberian pelayanan.

Sumber: Netting, Kettner dan McMurtry (1993 :69)

Fokus A: Pengidentifikasian Populasi Sasaran

Tugas 1: Memahami karakteristik anggota populasi sasaran.

Apa yang diketahui mengenai sejarah populasi sasaran pada masyarakat


ini?

"

Berapa orang jumlah populasi sasaran dan bagaimana karakteristik


mereka?

Bagaimana orang-orang clalam populasi sasaran memanclang


kebutu han-kebutu han nya?

.,

Bagaimana orang-orang dalam populasi sasaran memandang

BAB

6 -

PEMETAAN 50SIAL

87

masyarakat dan kepekaannya dalam merespon kebutuhan-kebutuhan


mereka?

Fokus B: Penentuan Karakteristik Masyarakat


Tugas 2: Mengidentifikasi batas-batas masyarakat.

Apa batas wilayah geografis di mana intervensi terhadap populasi


sasaran akan dilaksanakan?

Di mana anggota-anggota populasi sasaran berlokasi dalam batas


wilayah geografis?

Apa hambatan fisik yang ada dalam populasi sasaran?

Bagaimana kesesuaian batas-batas kewenangan program-program


kesehatan dan pelayanan kemanusiaan yang melayani populasi sasaran?

Tugas 3: Menggambarkan masalah-masalah sosial.

Apa permasalahan sosial utama yang mempengaruhi populasi sasaran


pada masyarakat ini?

Adakah sub-sub kelompok dari populasi sasaran yang mengalami


permasalahan sosial utama?

Data apa yang tersedia rnengenai permasalahan sosial yang


teridentifikasi dan bagaimana data tersebut digunakan di dalam
masyarakat?

Siapa yang mengumpulkan data, dan apakah ini merupakan proses


yang berkelanjutan?

Tugas 4: Memahami nilai-nilai dominan.

Apa nilai-nilai budaya, tradisi, atau keyakinan-keyakinan yang penting


bagi popu lasi sasaran?

Apa nilai-nilai dominan yang mempenga1uhi populasi sasaran dalam


masyarakat?

Kelompok-kelompok dan individu-individu manakah yang menganut


nilai-n i lai tersebut dan siapa yang menentangnya?

Apa konflik-konflik nilai yang terjadi pada populasi sasaran?

88

MEMBANGUN MASYARAKAT t'IEMBERDAYAKAN RAKYAT

Fokus C: Pengakuan Perbedaan-perbedaan

Tugas 5: Mengidentifikasi mekanisme-mekanisme penindasan yang tampak


dan formal.

Apa perbedaan-perbedaan yang terlihat di antara anggota-anggota


populasi sasaran?

Apa perbedaan-perbedaan yang terlihat antara anggota populasi sasaran


dengan kelompok-kelompok lain dalam masyarakat?

Bagaimana perbedaan-perbedaan populasi sasaran dipandang oleh


masyarakat yang lebih besar?

Dalam cara apa populasi sasaran tertindas berkenaan dengan


perbedaan-perbedaan tersebut?

Apa kekuatan-kekuatan populasi sasaran yang dapat diidentifikasi dan


bagaimana agar kekuatan-kekuatan tersebut mendukung pemberdayaan?

Tugas 6: Mengidentifikasi bukti-bukti diskriminasi.

Adakah hambatan-hambatan yang merintangi populasi sasaran dalam


berintegrasi dengan masyarakat secara penuh?

Apa bentuk-bentuk diskriminasi yang dialami oleh populasi sasaran


dalam masyarakat?

Fokus 0: Pengidentifikasian Struktur

Tugas 7: Memahami lokasi-lokasi kekuasaan.

Apa sumber-sumber utama pendanaan (baik lokal maupun dari luar


masyarakat) bagi pelayanan kesehatan dan kemanusiaan yang dirancang
bagi populasi sasaran dalam masyarakat?

Adakah pemimpin-pemimpin kuatdalam segmen pelayanan kesehatan


dan kemanusiaan yang melayani populasi sasaran?

Apa tipe struktur kekuasaan yang mempengaruhi jaringan pemberian


pelayanan yang dirancang bagi populasi sasaran?

BAB

6 -

P~METAAN SOS!AL

89

Tugas 8: Menentukan ketersediaan sumber.

Apa lembaga-lembaga dan kelompok-kelompok masyarakat yang ada


pada saat ini yang dipandang sebagai pemberi pelayanan bagi populasi
sasaran?

Apa sumber utama pendanaan pelayanan-pelayanan bagi populasi


sasaran?

Apa sumber-sumber non-finansial yang diperlukan dantersedia?

Tugas 9: Mengidentifikasi pola-pola pengawasan sumber dan pemberian


pelayanan.

Apa kelompok-kelompok dan asosiasi-asosiasi yang mendukung dan


memberikan bantuan terhadap populasi sasaran?

Bagaimana distribusi sumber bagi populasi sasaran dipengaruhi oleh


interaksi di dalam masyarakat?

Bagaimana distribusi sumber bagi populasi sasaran dipengaruhi oleh


kekuatan-kekuatan masyarakat ekstra?

Pendekatan Pemetaan Sosial


Metode dan teknik pemetaan sosial yang akan dibahas pada makalah ini
meliputi survey formal, pemantauan cepat (rapid appraisal) dan metode
partisipatoris (participatory method) (LCC, 1977; Suharto, 1997; World
Bank, 2002). Dalam wacana penelitian sosial, metode survey formal
termasuk dalam pendekatan penelitian makro-kuantitatif, sedangkan metode
pemantauan cepat dan partisipatoris termasuk dalam penelitian mikrokualitatif (Suharto, 1997).

Survey Formal
Survey formal dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi standar
dari sam pel orang atau rumahtangga yang diseleksi secara hati-hati. Survey biasanya mengumpulkan informasi yang dapat dibandingkan mengenai
sejumlah orang yang relatif ban yak pad a kelompok sasaran tertentu.

90

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMB~RDAYAKAN RAK\'AT

Beberapa metode survey formal antara lain:


1.

Survey Rumahtangga Beragam-Topik (Multi-Topic Household Survey). Metode ini sering disebut sebagai Survey Pengukuran Standar,
Hidup atau Living Standards Measurement Survey (LSMS). Survey ini
merupakan suatu cara pengumpul~m data mengenai berbagai aspek
standar hidup secara terintegrasi, seperti pengeluaran, komposisi rumah
tangga, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, fertilitas, gizi, tabungan,
kegiatan pertanian dan sumber-sumber pendapatan lainnya.

2.

Kuesioner lndikator Kesejahteraan Inti (Core Welfare Indicators Questionnaire atau CWIQ). Metode ini merupakan sebuah survey rumah
tangga yang meneliti perubahan-perubahan indikator sosial, seperti
akses, penggunaan, dan kepuasan terhadap pelayanan sosial dan
ekonomi. Metode ini merupakan alat yang cepat dan efektif untuk
mengetahui rancangan kegiatan pelayanan bagi orang-orang miskin.
Jika alat ini diulang setiap tahun, maka ia dapat digunakan untuk
memonitor keberhasilan suatu kegiatan. Sebuah hasil awal dari survey ini umumnya dapat diperoleh dalam waktu 30 hari.

3.

Survey Kepuasan Klien (Client Satisfaction Survey). Survey ini digunakan


untuk meneliti efektivitas atau keberhasilan pelayanan pemerintah
berdasarkan pengalaman atau aspirasi klien (penerima pelayanan).
Metode yang sering disebut sebagai service delivery survey ini mencakup
penelitian mengenai hambatan-hambatan yang dihadapi penerima
pelayanan dalam memperoleh pelayanan publik, pandangan mereka
mengenai kualitas pelayanan, serta kepekaan petugas-petugas
pemeri ntah.

4.

Kartu Laporan Penduduk (Citizen Report Cards). Teknik ini sering


digunakan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Mirip dengan
Survey Kepuasan Klien, penelitian difokuskan pada tingkat korupsi
yang ditemukan oleh penduduk biasa. Penemuan ini kemudian
dipublikasikan secara luas dan dipetakan sesuai dengan tingkat dan
wilayah geografis.

5.

Laporan Statistik. Pekerja. sosial dapat pula melakukan pemetaan sosial


berdasarkan laporan statistik yang sudah ada. Laporan statistik
mengenai permasalahan sosial seperti jumlah orang miskin, desa
tertinggal, status gizi, tingkat buta huruf, dan lain-lain. biasanya
dilakukan dan dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS)
berdasarkan data sensus.

BAB

6 -

PEMETAAN SOSIAL

91

Pemantauan Cepat (Rapid Appraisal Methods)


Metode ini merupakan cara yang cepat dan murah untuk mengumpulkan
informasi mengenai pandangan dan masukan dari populasi sasaran dan
stakeholders lainnya mengenai kondisi geografis dan sosial-ekonomi.

Metode Pemantauan Cepat meliputi:


1.

Wawancara lnforman Kunci (Key Informant Interview). Wawancara


ini terdiri serangkaian pertanyaan terbuka yang dilakukan terhadap
individu-individu tertentu yang sudah diseleksi karena dianggap
memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai topik atau keadaan
di wilayahnya. Wawancara bersifat kualitatif, mendalam dan semiterstruktur.

2.

Diskusi Kelompok Fokus (Focus Croup Discussion). Diskusi kelompok


dapat melibatkan 8-12 anggota yang telah dipilih berdasarkan kesamaan
latarbelakang. Peserta diskusi bisa para penerima pelayanan,
penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), atau para ketua
Rukun Tetangga. Fasilitator menggunakan petunjuk diskusi, mencatat
proses diskusi dan kemudian memberikan komentar mengenai hasil
pengamatannya.

3.

Wawancara Kelompok Masyarakat (Community Croup Interview).


Wawancara difasilitasi oleh serangkaian pertanyaan yang diajukan
kepada semua anggota masyarakat dalam suatu pertemuan terbuka.
Pewawancara melakukan wawancara secara hati-hati berdasarkan
pedoman wawancara yang sudah disiapkan sebelumnya.

4.

Pengamatan Langsung (Direct Observation). Melakukan kunjungan


lapangan atau pengamatan langsung terhadap masyarakat setempat.
Data yang dikumpulkan dapat berupa informasi mengenai kondisi
geografis, sosial-ekonomi, sumber-sumber yang tersedia, kegiatan
program yang sedang berlangsung, interaksi sosial, dan lain-lain.

5.

Survey Kecil (Mini-Survey). Penerapan kuesioner terstruktur (daftar


pertanyaan tertutup) terhadap sejumlah kecil sample (antara 50-75
orang). Pemilihan responden dapat menggunakan teknik acak (random sampling) ataupun sampel bertujuan (purposive sampling).
Wawancara dilakukan pada lokasi-lokasi survey yang terbatas seperti
sekitar klinik, sekolah, balai desa.

92

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAI<YAT

Metode Partisipatoris
Metode partisipatoris merupakan proses pengumpulan data yang melibatkan
kerjasama aktif antara pengumpul data dan responden. Pertanyaan~
pertanyaan umumnya tidak dirancang secara baku, melainkan hanya garisgaris besarnya saja. Topik-topik pertanyaan bahkan dapat muncul dan
berkembang berdasarkan proses tanya-jawab dengan responden. Terdapat
banyak teknik pengumpulan data partisipatoris. Empat di bawah ini cukup
penting diketahui:
1.

Penelitian dan Aksi Partisipatoris (Participatory Research and Action).


Metode yang terkenal dengan istilah PRA (dulu disebut Participatory
Rural Appraisal) ini merupakan alat pengumpulan data yang sangat
berkembang dewasa ini. PRA terfokus pada proses pertukaran informasi
dan pembelajaran antara pengumpul data dan responden. Metode ini
biasanya menggunakan teknik-teknik visual (penggunaan tanaman,
biji-bijian, tongkat) sebagai alat penunjuk pendataan sehingga
memudahkan masyarakat biasa (bahkan yang buta hurut) berpartisipasi.
PRA memiliki banyak sekali teknik, antara lain Lintas Kawasan, jenjang
Pili han dan Penilaian, jenjang Matrik Langsung, Diagram Venn, jenjang
Perbandingan Pasangan (Suharto, 1997; 2002; Hikmat, 2001 ).

2.

Stakeholder Analysis. Analisis terhadap para peserta atau pengurus


dan anggota suatu program, proyek pembangunan atau organisasi
sosial tertentu mengenai isu-isu yang terjadi di lingkungannya, seperti
relasi kekuasaan, pengaruh, dan kepentingan-kepentingan berbagai
pihak yang terlibat dalam suatu kegiatan. Metode ini digunakan
terutama untuk menentukan apa masalah dan kebutuhan suatu
organisasi, kelompok, atau masyarakat setempat.

3.

Beneficiary Assessment. Pengidentifikasian masalah sosial yang melibatkan konsultasi secara sistematis dengan para penerima pelayanan
sosial. Tujuan utama pendekatan ini adalah untuk mengidentifikasi
hambatan-hambatan partisipasi, merancang inisiatif-inisiatif
pembangunan, dan menerima masukan-masukan guna memperbaharui
sistem dan kualitas pelayanan dan kegiatan pembangunan.

4.

Monitoring dan Evaluasi Partisipatoris (Participatory Monitoring and


Evaluation). Metode ini melibatkan anggota masyarakat dari berbagai
tingkatan yang bekerjasama mengumpulkan informasi, mengidentifikasi
dan menganalisis masalah, serta melahirkan rekomendasi-rekomendasi.

Pendampingan Sosial

Pendampingan sosial merupakan satu strategi yang sangat menentukan


keberhasilan program pemberdayaan masyarakat. Sesuai dengan prinsip
pekerjaan sosial, yakni "membantu orang agar mampu membantu dirinya
sendiri", pemberdayaan masyarakat sangat memperhatikan pentingnya
partisipasi publik yang kuat. Dalam konteks ini, peranan seorang pekerja
sosial seringkali diwujudkan dalam kapasitasnya sebagai pendamping, bukan
sebagai penyembuh atau pemecah masalah (problem solver) secara langsung.
Setelah membahas secara singkat mengenai konsep pendampingan sosial,
secara bertutut-turut bab ini mendiskusikan bidang tugas atau fungsi-fungsi
pendampingan sosial, peran pekerja sosial dalam pendampingan sosial,
strategi pendampingan sosial dan kerangka kerja melakukan pendampingan
sosial.

Pendampingan Sosial
Membangun dan memberdayakan masyarakat melibatkan proses dan
tindakan sosial di mana penduduk sebuah komunitas mengorganisasikan
diri dalam rnembuat perencanaan dan tindakan kolektif untuk memecahkan
masalah sosial atau memenuhi kebutuhan sosial sesuai dengan kemampuan
dan sumberdaya yang dimilikinya. Proses tersebut tidak muncul secara
otomatis, melainkan tumbuh dan berkembang berdasarkan interaksi
masyarakat setempat dengan pihak luar atau para pekerja sosial baik yang
bekerja berdasarkan dorongan karitatif maupun perspektif profesional. Dalam
93

94

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBcRDAYAKAN RP.KYAT

program penanganan masalah kemiskinan, misalnya, masyarakat miskin


yang dibantu seringkali merupakan kelompok yang tidak berdaya baik
karena hambatan internal dari dalam dirinya maupun tekanan eksternal
dari lingkungannya. Pendamping sosial kemudian hadir sebagai agen
peru bah yang turut terlibat membantu memecahkan persoalan yang dihadapi
mereka. Dengan demikian, pendampingan sosial dapat diartikan sebagai
interaksi dinamis antara kelompok miskin dan pekerja sosial untuk secara
bersama-sama menghadapi beragam tantangan sepetti:

Merancang program perbaikan kehidupan sosial ekonomi.

Memobilisasi sumber daya setempat.

Memecahkan masalah sosial.

Menciptakan atau membuka akses bagi pemenuhan kebutuhan.

Menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang relevan dengan konteks


pemberdayaan masyarakat.

Merujuk pada Payne (1986), prinsip utama pendampingan sosial adalah

"making the best of the client's resources". Sejalan dengan perspektif


kekuatan (strengths perspective) sebagaimana dijelaskan pada Bab 2, pekerja
sosial tidak memandang klien dan lingkungannya sebagai sistem yang
pasif dan tidak memiliki potensi apa-apa. Melainkan mereka dipandang
sebagai sistem sosial yang memiliki kekuatan positif dan bermanfaat bagi
proses pemecahan masalah. Bagian dari pendekatan pekerjaan sosial adalah
menemukan sesuatu yang baik dan membantu klien memanfaatkan hal
itu. Sebagaimana dinyatakan oleh Payne (1986:26):

Whenever a social worker tries to help someone, he or she is starting


from a position in which there are some useful, positive things in the
client's life and surroundings which will help them move forward, as
well as the problems or blocks which they are trying to overcome.
Part of social work is finding the good things, and helping the client
to take advantage of them.

BIIB

7 -

PENDAMPINGAN SOSIAL

95

Bidang Tugas
Pendampingan sosial berpusat pada empat bidang tugas atau fungsi yang
dapat disingkat dalam akronim 4P, yakni: pemungkinan (enabling) atau
fasilitasi, penguatan (empowering), perlindungan (protecting), dan
pendukungan (supporting):

Pemungkinan atau Fasilitasi


Merupakan fungsi yang berkaitan dengan pemberian motivasi dan
kesempatan bagi masyarakat. Beberapa tugas pekerja sosial yangberkaitan
dengan fungsi ini antara lain menjadi model (contoh), melakukan mediasi
dan negosiasi, membangun konsensus bersama, serta melakukan
manajemen sumber. Program penanganan masalah sosial pada umumnya
diberikan kepada anggota masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap
sumber-sumber, baik karena sumber tersebut tidak ada di sekitar
lingkungannya, maupun karena sumber-sumber tersebut sulit dijangkau
karena alasan ekonomi maupun birokrasi. Pekerja sosial terpanggil untuk
mampu memobilisasi dan mengkoordinasi sumber-sumber tersebut agar
dapat dijangkau oleh klien.
Sumber adalah segala sesuatu yang dapat digunakan klien dan pekerja
sosial dalam proses pemecahan masalah. Sumber dapat berupa sumber
personal (pengetahuan, motivasi, pengalaman hidup, motivasi), sumber
interpersonal (sistem pendukung yang lahir baik dari jaringan pertolongan
alamiah maupun interaksi formal dengan orang lain), dan sumber sosial
(respon kelembagaan yang mendukung kesejahteraan klien maupun
masyarakat pada umumnya). Pengertian manajemen di sini mencakup
pengkoordinasian, pensistematisasian, dan pengintegrasian -bukan
pengawasan (controlling) dan penunjukkan (directing). Pengertian
manajemen juga meliputi pembimbingan, kepemimpinan, dan kolaborasi
dengan pengguna atau penerima program PM. Dengan demikian, tugas
utama pekerja sosial dalam manajemen sumber adalah menghubungkan
klien dengan sumber-sumber sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan
kepercayaan diri klien maupun kapasitas pemecahan masalahnya.

96

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKMJ RAKYAT

Penguatan
Fungsi ini berkaitan dengan pendidikan dan pelatihan guna memperkuat
kapasitas masyarakat (capacity building). Pendamping berperan aktif sebagai
agen yang memberi masukan positif dan direktif berdasarkan pengetahuan
dan pengalamannya serta bertukar gagasan dengan pengetahuan dan
pengalaman masyarakat yang didampinginya. Membangkitkan kesadaran
masyarakat, menyampaikan informasi, melakukan konfrontasi, menyelenggarakan pelatihan bagi masyarakat adalah beberapa tugas yang berkaitan
dengan fungsi penguatan. Semua pertukaran informasi pada dasarnya
merupakan bentuk pendidikan. Sebagai fungsi dalam pendampingan sosial,
pendidikan lebih menunjuk pada sebuah proses kegiatan, ketimbang sebagai
sebuah hasil dari suatu kegiatan. Pendidikan sangatterkait dengan pencegahan berbagai kondisi yang dapat menghambat kepercayaan diri individu
serta kapasitas individu dan masyarakat. Dalam pendampingan sosial,
pendidikan beranjak dari kapasitas orang yang belajar (peserta didik).
Pendidikan adalah bentuk kerjasama antara pekerja sosial (sebagai guru
dan pendamping) dengan klien (sebagai murid dan peserta didik).
Pengalaman adalah inti "pelajaran pemberdayaan". Peserta didik adalah

partner yang memiliki potensi dan sumber yang dapat digunakan dalam
proses belajar mengajar. Pembelajaran merupakan proses saling
ketergantungan dan saling membutuhkan satu sama lain. Pekerja sosial
dan klien pada hakikatnya dapat menjadi pendidik dan peserta didik
sekaligus.

Perlindungan
Fungsi ini berkaitan dengan interaksi antara pendamping dengan lembagalembaga eksternal atas nama dan demi kepentingan masyarakat
dampingannya. Pekerja sosial dapat bertugas mencari sumber-sumber,
melakukan pembel2.an, menggunakan media, meningkatkan hubungan
masyarakat, dan membangun jaringan kerja. Fungsi perlindungan juga
menyangkut tugas pekerja sosial sebagai konsultan, orang yang bisa diajak
berkonsultasi dalam proses pemecahan masalah. Konsultasi pemecahan

BAB

7-

PENDAMPINGAN .SOSIAL

97

masalah tidak hanya berupa pernberian dan penerimaan saran-saran,


melainkan merupakan proses yang ditujukan untuk memp~roleh pemahaman
yang lebih baik mengenai pilihan-pilihan dan mengide~tifikasi prosedurprosedur bagi tindakan-tindakan yang diperlukan.
Konsultasi dilakukan sebagai bagian dari kerjasama yang saling
melengkapi antara sistem klien dan pekerja sosial dalam proses pemecahan
masalah. Pekerja sosial membagi secara formal pengetahuan dan
keterampilan yang dimilikinya, sedangkan klien membagi pengalaman personal, organisasi atau kemasyarakatan yang pernah diperoleh semasa
hidupnya. Dalam proses pemecahan masalah, pendampingan sosial dapat
dilakukan melalui serangkaian tahapan yang biasa dilakukan dalam praktek
pekerjaan sosial pada umumnya, yaitu: pemahaman kebutuhan,
perencanaan dan penyeleksian program, penerapan program, evaluasi dan
pengakh iran.

Pendukungan
Mengacu pada aplikasi keterampilan yang bersifat praktis yang dapat
mendukung terjadinya perubahan positif pada masyarakat. Pendamping
dituntuttidak hanya mampu menjadi manajer perubahan yang mengorganisasi
kelompok, melainkan pula mampu melaksanakan tugas-tugas teknis sesuai
dengan berbagai keterampilan dasar, seperti melakukan analisis sosial,
mengelola dinamika kelompok, menjalin relasi, bernegosiasi, berkomunikasi,
dan mencari serta mengatur surnber dana.

Peran Pekerja Sosial


Mengacu pada Parsons, jorgensen dan Hernandez (1994), ada beberapa
peran pekerjaan sosial dalam pembimbingan sosial. Lima peran di bawah
ini sangat relevan diketahui oleh para pekerja sosial yang akan melakukan
pendampingan sosial.

98

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Fasilitator
Dalam literatur pekerjaan sosial, peranan "fasilitator" sering disebut sebagai
"pemungkin" (enabler). Keduanya bahkan sering dipertukarkan satu-sama.
lain. Seperti dinyatakan Parsons, jorgensen dan Hernandez (1994:188),
"The traditional role of enabler in social work implies education, facilitation, and promotion of interaction and action." Selanjutnya Barker (1987)
memberi definisi pemungkin atau fasilitator sebagai tanggungjawab untuk
membantu klien menjadi mampu menangani tekanan situasional atau
transisional. Strategi-strategi khusus untuk mencapai tujuan tersebut meliputi:
pemberian harapan, pengurangan penolakan dan ambivalensi, pengakuan
dan pengaturan perasaan-perasaan, pengidentifikasian dan pendorongan
kekuatan-kekuatan personal dan asset-asset sosial, pemilahan masalah
menjadi beberapa bagian sehingga lebih mudah dipecahkan, dan
pemeliharaan sebuah fokus pada tujuan dan cara-cara pencapaiannya
(Barker, 1987:49). Pengertian ini didasari oleh visi pekerjaan sosial bahwa
"setiap perubahan terjadi pada dasarnya dikarenakan oleh adanya usahausaha klien sendiri, dan peranan pekerja sosial adalah memfasilitasi atau
memungkinkan klien mampu melakukan perubahan yang telah ditetapkan
dan disepakati bersama (Parsons, jorgensen dan Hernandez, 1994). Parsons, jorgensen dan Hernandez (1994:190-203) memberikan kerangka
acuan mengenai tugas-tugas yang dapat dilakukan oleh pekerja sosial:

Mendefinisikan keanggotaan atau siapa yang akan dilibatkan dalam


pelaksanaan kegiatan.

Mendefinisikan tujuan keterlibatan.

Mendorong komunikasi dan relasi, serta menghargai pengalaman dan


perbedaan-perbedaan.

"'

Memfasilitasi keterikatan dan kualitas sinergi sebuah sistem:


menemukan kesamaan dan perbedaan.

Memfasilitasi pendidikan: membangun pengetahuan dan keterampilan.

Memberikan model atau contoh dan memfasilitasi pemecahan masalah


bersama: mendorong kegiatan kolektif.

Mengidentifikasi masalah-masalah yang akan dipecahkan.

..

Memfasilitasi penetapan tujuan.

BAB

Merancang solusi-solusi alternatif.

Mendorong pelaksanaan tugas.

Memelihara relasi sistem.

Memecahkan konflik.

7-

PENDAMPINGAN SOSIAL

99

Broker
Dalam pengertian umum, seorang broker membeli dan menjual saham
dan surat berharga lainnya di pasar modal. Seorang beroker berusaha
untuk memaksimalkan keuntungan dari transaksi tersebut sehingga klien
dapat memperoleh keuntungan sebesar mungkin. Pada saat klien menyewa
seorang broker, klien meyakini bahwa brokertersebut memiliki pengetahuan
mengenai pasar modal, pengetahuan yang diperoleh terutama berdasarkan
pengalamannya sehari-hari.
Dalam konteks pendampingan sosial, peran pekerja sosial sebagai
broker tidak jauh berbeda dengan peran broker di pasar modal. Seperti
halnya di pasar modal, terdapat klien atau konsumen. Namun demikian,
pekerja sosial melakukan transaksi dalam pasar lain, yakni jaringan pelayanan
sosial. Pemahaman pekerja sosial. yang menjadi broker mengenai kualitas
pelayanan sosial di sekitar lingkungannya menjadi sangat penting dalam
memenuhi keinginan kliennya memperoleh "keuntungan" maksimal.
Dalam proses pendampingan sosial, ada tiga prinsip utama dalam
melakukan peranan sebagai broker:

Mampu mengidentifikasi dan melokalisir sumber-sumber kemasyarakatan yang tepat.

Mampu menghubungkan konsumen atau klien dengan sumber secara


konsisten.

Mampu mengevaluasi efektivitas sumber dalam kaitannya dengan


kebutuhan-kebutuhan klien.
Prinsip-prinsip tersebut sesuai dengan makna broker seperti telah

dijelaskan di muka. Peranan sebagai broker mencakup "menghubungkan


klien dengan barang-barang dan pelayanan dan mengontrol kualitas barang

100

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

dan pelayanan tersebut. Dengan demikian ada tiga kata kunci dalam
pelaksanaan peran sebagai broker, yaitu: menghubungkan (/inking), barangbarang dan pelayanan (goods and services) dan pengontrolan kualita~
(quality control). Parsons, Jorgensen dan Hernandez (1994:226-227)

rnenerangkan ketiga konsep di atas satu per satu:

Linking adalah proses rnenghubungkan orang dengan lernbaga-lembaga


atau pihak-pihak lainnya yang rnerniliki surnber-surnber yang
diperlukan. Linking juga tidak sebatas hanya rnernberi petunjuk kepada
orang rnengenai surnber-sumber yang ada. Lebih dari itu, ia juga
rneliputi rnernperkenalkan klien dan surnber referal, tindak lanjut,
pendistribusian surnber, dan rnenjarnin bahwa barang-barang dan
jasa dapat diterirna oleh klien.

Goods adalah barang-barang yang nyata, seperti rnakanan, uang,


pakaian, perurnahan, obat-obatan. Sedangkan services rnencakup

keluaran pelayanan lernbaga yang dirancang untuk rnernenuhi


kebutuhan hidup klien, semisal perawatan kesehatan, pendidikan,
pelatihan, konseling, pengasuhan anak.

Quality Control adalah proses pengawasan yang dapat menjamin

bahwa produk-produk yang dihasilkan lembaga memenuhi standar


kualitas yang telah ditetapkan. Proses ini memerlukan monitoring
yang terus menerus terhadap lembaga dan semua jaringan pelayanan
untuk menjamin bahwa pelayanan memiliki mutu yang dapat
dipertanggungjawabkan setiap saat.

Dalam melaksanakan peran sebagai broker, ada dua pengetahuan


dan keterampilan yang harus dimiliki pekerja sosial:

Pengetahuan dan keterampilan melakukan asesmen kebutuhan


masyarakat (community needs assessment), yang meliputi: (a) jenis
dan tipe kebutuhan, (b) distribusi kebutuhan, (c) kebutuhan akan
pelayanan, (d) pola-pola penggunaan pelayanan, dan (e) hambatanhambatan dalam menjangkau pelayanan.

Pengetahuan dan keterarnpilan membangun konsorsium dan jaringan


antar organisasi. Kegiatan ini bertujuan untuk: (a) memperjelas
kebijakan-kebijakan setiap lembaga, (b) rnendefinisikan peranan
lembaga-lernbaga, (c) rnendefinisikan potensi dan hambatan setiap

BAB

PENDAMPINGAN SoSIAL

101

lembaga, (d) memilih metode guna menentukan partisipasi setiap


lembaga dalam memecahkan masalah sosial masyarakat, (e)
mengembangkan prosedur guna menghindari duplikasi pelayanan,
dan (f) mengembangkan prosedur guna mengidentifikasi dan memenuhi
kekurangan pelayanan sosial.

Mediator
Pekerja sosial sering melakukan peran mediator dalam berbagai kegiatan
pertolongannya. Peran ini sangat penting dalam paradigma generalis. Peran
mediator diperlukan terutama pada saatterdapat perbedaan yang mencolok
dan mengarah pada konflik antara berbagai pihak. Lee dan Swenson (1986)
memberikan contoh bahwa pekerja sosial dapat memerankan sebagai "fungsi
kekuatan ketiga" untuk menjembatani antara anggota kelompok dan sistem
lingkungan yang menghambatnya.
Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam melakukan peran mediator meliputi kontrak perilaku, negosiasi, pendamai pihak ketiga, serta
berbagai macam resolusi konflik. Dalam mediasi, upaya-upaya yang
dilakukan pada hakekatnya diarahkan untuk mencapai "solusi menangmenang" (win-win solution). Hal ini berbeda dengan peran sebagai pembela
di mana bantuan pekerja sosial diarahkan untuk memenangkan kasus
klien atau membantu klien memenangkan dirinya sendiri.
Compton dan Calaway (1989:511) memberikan beberapa teknik dan
keterampilan yang dapat digunakan dalam melakukan peran mediator:

Mencari persamaan nilai dari pihak-pihak yang terlibat konflik.

Membantu setiap pihak agar mengakui legitimasi kepentingan pihak


lain.

Membantu pihak-pihak yang bertikai dalam mengidentifikasi


kepentingan bersama.

Hindari situasi yang mengarah pada munculnya kondisi menang dan


kalah.

Berupaya untuk melokalisir konflik ke dalam isu, waktu dan tempat


yang spesifik.

10 2

MEMBANGUN MASYARAKAT M EMBERDAYAKAN RAKYAT

Membagi konflik kedalam beberapa isu .

Memfasilitasi komunikasi dengan cara mendukung mereka agar mau


berbicara satu sama lain.

II

Membantu pihak-pihak yang bertikai untuk mengakui bahwa mereka


lebih memiliki manfaatjika melanjutkan sebuah hubungan ketimbang.
terlibat terus dalam konflik.

Gunakan prosedur-prosedur persuasi.

Pembela
Seringkali pekerja sosial harus berhadapan sistem politik dalam rangka
menjamin kebutuhan dan sumber yang diperlukan oleh klien atau dalam
melaksanakan tujuan-tujuan pendampingan sosial. Manakala pelayanan
dan sumber-sumber sulit dijangkau oleh klien, pekerja sosial haru
memainkan peranan sebagai pembela (advokat). Peran pembelaan atau
advokasi merupakan salah satu praktek pekerjaan sosial yang bersentuhan
dengan kegiatan politik. Peran pembelaan dapat dibagi dua: advokasi
kasus (case advocacy) dan advokasi kausal (cause advocacy) (DuBois dan
Miley, 1992; Parsons, Jorgensen dan Hernandez, 1994). Apabila pekerja
sosial melakukan pembelaan atas nama seorang klien secara individual,
maka ia berperan sebagai pembela kasus. Pembelaan kausal terjadi manakala
klien yang dibela pekerja sosial bukanlah individu melainkan sekelompok
anggota masyarakat.
Roth blatt (1978) memberikan beberapa model yang dapat dijadikan
acuan dalam melakukan peran pembela dalam pendampingan sosial:

Keterbukaan: membiarkan berbagai pandangan untuk didengar.

Perwakilan luas: mewakili semua pelaku yang memiliki kepentingan


dalam pembuatan keputusan.

"

Keadilan: memperjuangkan sebuah sistem kesetaraan atau kesamaan


sehingga posisi-posisi yang berbeda dapat diketahui sebagai bahan
perbandingan.

Pengurangan permusuhan: mengembangkan sebuah keputusan yang


mampu mengurangi permusuhan dan keterasingan.

BAs

7-

PENDAMPnJGA"l SosiAL

103

lnformasi: menyajikan masing-masing pandangan secara bersarna


dengan dukungan dokumen dan analisis.

Pendukungan: mendukung partisipasi secara luas.

Kepekaan: mendorong para pembuat keputusan untuk benar-benar


mendengar, mempe1timbangkan dan peka terhadap minat-minat dan
posisi-posisi orang lain.

Pelindung
Tanggungjawab pekerja sosial terhadap masyarakat didukung oleh hukum.
Hukum tersebut memberikan legitimasi kepada pekerja sosial untuk menjadi
pelindung (protector) terhadap orang-orang yang lemah dan rentan. Dalam
melakukan peran sebagai pelindung (guardian role), pekerja sosial bertindak
berdasarkan kepentingan korban, calon korban, dan populasi yang berisiko
lainnya. Peranan sebagai pelindung mencakup penerapan berbagai
kemampuan yang menyangkut: (a) kekuasaan, (b) pengaruh, (c) otoritas,
dan (d) pengawasan sosial. Tugas-tugas peran pelindung meliputi:

Menentukan siapa klien pekerja sosial yang paling utama.

Menjamin bahwa tindakan dilakukan sesuai dengan proses


perlindungan.

Berkomunikasi dengan semua pihak yang terpengaruh oleh tindakan


sesuai dengan tanggungjawab etis, legal dan rasional praktek pekerjaan
sosial.

Strategi
Berdasarkan pengalaman di lapangan, kegiatan pendampingan sosial
seringkali dilakukan atau melibatkan dua strategi utama, yakni pelatihan
dan advokasi atau pembelaan masyarakat. Pelatihan dilakukan terutama
untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan masyarakat
mengenai hak dan kewajibannya serta meningkatkan keterampilan keluarga
dalam mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan
advokasi adalah bentuk keberpihakan pekerja sosial terhadap kehidupan
masyarakat yang diekspresikan melalui serangkaian tindakan politis yang

104

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

dilakukan secara terorganisir untuk mentransformasikan hubungan-hubungan


kekuasaan. Tujuan advokasi adalah untuk mencapai perubahan kebijakan
tertentu yang bermanfaat bagi penduduk yang terlibat dalam proses tersebut.
Advokasi yang efektif dilakukan sesuai dengan rencana stategis dan dalam
kerangka waktu yang masuk akal. Terdapat lima aspek penting yang dapat
dilakukan dalam melakukan pendampingan sosial, khususnya melalui
pelatihan dan advokasi terhadap masyarakat.
1.

Motivasi. Masyarakat didorong agar dapat memahami nilai


kebersamaan, interaksi sosial dan kekuasaan melalui pemahaman
akan haknya sebagai warga negara dan anggota masyarakat. Misalnya,
keluarga-keluarga miskin didorong untuk membentuk kelompok yang
merupakan mekanisme kelembagaan penting untuk mengorganisir dan
melaksanakan kegiatan pengembangan masyarakat di desa atau
kelurahannya. Kelompok ini kemudian dimotivasi untuk terlibat dalam
kegiatan peningkatan pendapatan dengan menggunakan sumber-sumber
dan kemampuan-kemampuan mereka sendiri.

2.

Peningkatan kesadaran dan pelatihan kemampuan. Peningkatan


kesadaran masyarakat, misalnya, dicapai melalui pendidikan dasar,
pemasyarakatan imunisasi dan sanitasi. Sedangkan keterampilanketerampilan vokasional dikembangkan melalui. cara-cara partisipatif.
Pengetahuan lokal yang biasanya diperoleh melalui pengalaman dapat
dikombinasikan dengan pengetahuan dari luar. Pelatihan semacam
ini dapat membantu masyarakat untuk menciptakan mata pencaharian
sendiri atau membantu meningkatkan keahlian mereka untuk mencari
pekerjaan di luar wilayahnya.

3.

Manajemen diri. Kelompok harus mampu memilih pemimpin mereka


sendiri dan mengatur kegiatan mereka sendiri, seperti melaksanakan
pertemuan-pertemuan, melakukan pencatatan dan pelaporan,
mengoperasikan tabungan dan kredit, resolusi konflik dan manajemen
kepemilikan masyaiakat. Pada tahap awal, pendamping dari luar dapat
membantu mereka dalam mengembangkan sebuah sistem. Kelompok
kemudian dapat diberi wewenang penuh untuk rnelaksanakan dan
mengatur sistem tersebut.

4.

Mobilisasi sumber. Merupakan sebuah metode untuk menghimpun


sumber-sumber individual melalui tabungan reguler dan sumbangan
sukarela dengan tujuan menciptakan modal sosial. Ide ini didasari

BAB

7-

PENDAMPINGAN 50SIAL

105

pandangan bahwa setiap orang memiliki sumbernya sendiri yang,


jika dihimpun, dapat meningkatkan kehidupan sosial ekonomi secara
substansial. Pengembangan sistem penghimpunan, pengalokasian dan
penggunaan sumber perlu dilakukan secara cermat sehingga semua
anggota memiliki kesempatan yang sama. Hal ini dapat menjamin
kepemilikan dan pengelolaan secara berkelanjutan.
5.

Pembangunan dan pengembangan jaringan. Pengorganisasian


kelompok-kelompok swadaya masyarakat perlu disertai dengan
peningkatan kemampuan para anggotanya membangun dan
mempertahankan jaringan dengan berbagai sistem sosial di sekitarnya.
Jaringan ini san gat penting dalam menyediakan dan mengembangkan
berbagai akses terhadap sumber dan kesempatan bagi peningkatan
keberdayaan masyarakat miskin.

Kerangka Kerja
Salah satu kerangka kerja pemberdayaan masyarakat yang dapat diterapkan
dalam proses pendampingan sosial adalah Teknik PPM (Programme Planning Model) yang juga dikenal dengan sebutan Proses Kelompok Nominal
(PKN) (Delbecq dan Van de Ven, 1977: 333-348). PPM bukanlah teknik
ekonomi-rasionalistik dalam sistem perencanaan sosia!. Melainkan sebuah
model sosial logis yang menyarankan urutan perencanaan berdasarkan
proses penstrukturan pembuatan keputusan dalam berbagai phase
perencanaan. Dalam mengembangkan model ini, perencanaan sangat
memperhatikan proses dan situasi di mana berbagai kelompok yang terbagi
berdasarkan keahlian, kepentingan, konsep-konsep retoris dan ideologis
dilibatkan bersama dalam merancang sebuah program atau perubahan
sosial. Secara ringkas, proses PPM meliputi:

Phase 1: Eksplorasi Masalah

Pelibatan kelompok-kelompok klien atau konsumen.

Pelibatan pendamping sebagai supervisor garis depan.

Phase 2: Eksplorasi Pengetahuan

Pelibatan ilmuwan luar (bukan dari masyarakat setempat).

106

MEMBANGUN MASYARAI<AT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Pelibatan ahli organisasi dalam dan luar.

Pelibatan pendamping sebagai penghubung antara pihak luar dan


masyarakat setempat.

Phase 3: Pengembangan Prioritas

Pelibatan para pengawas sumber.

Pelibatan administrator-administrator kunci.

Pelibatan pendamping sebagai pemberi masukan terhadap keputusan.

Phase 4: Pengembangan Program

Pelibatan administrator-administrator lini.

Pelibatan ahii teknis.

Pelibatan pendamping sebagai pemberi masukan.

Phase 5: Evaluasi Program

Pelibatan kelompok-kelompok klien atau konsumen.

Pelibatan staf dan petugas administrasi.

Pelibatan pendamping sebagai pemberi masukan.

Anal isis
Kebijakan Sosial

Analisis Kebijakan Sosial (AKS) adalah salah satu keahlian yang penting
dimiliki oleh para pekerja sosial, terutama yang akan bekerja pada setting
makro, seperti dalam pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.
lntervensi makro bukan hanya melibatkan seperangkat keahlian dalam
melakukan pemberdayaan masyarakat dalam arti sempit, seperti pemberian
modal usaha, pelatihan usaha ekonomis produktif dan program bantuanbantuan sosiallangsung lainnya. Pendekatan makro mencakup pula intervensi tidak langsung (indirect intervention) dalam bentuk AKS. AKS
mencakup keahlian merumuskan kebijakan sosial dan menganalisis
implikasi-implikasi yang ditimbulkannya dalam konteks sistem sosial yang
lebih luas secara holistik (lihat Suharto, 2005a). Lima topik yang dibahas
pada bab ini meliputi batasan kebijakan sosial, tujuan kebijakan sosial,
AKS, Model-model AKS, dan kerangka kerja melakukan AKS.

Batasan Kebijakan Sosial


Kebijakan sosial adalah seperangkat tindakan (course of action), kerangka
kerja (framework), petunjuk (guideline), rencana (plan), peta (map) atau strategi
yang dirancang untuk menterjemahkan visi politis pemerintah atau lembaga
pemerintah ke dalam program dan tindakan untuk mencapai tujuan tertentu di
bidang kesejahteraan sosial (social welfare). Karena urusan kesejahteraan sosial
senantiasa menyangkut orang banyak, maka kebijakan sosial seringkali
diidentikan dengan kebijakan publik (Suharto, 2005a).
107

108

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Di negara-negara Barat, kebijakan sosial sebagian besar menjadi


tanggungjawab pemerintah. lni dikarenakan sebagian besar dana untuk
kebijakan sosial dihimpun dari masyarakat (publik) melalui pajak. Di negaranegara Skandinavia seperti Denmark, Swedia, dan Norwegia serta negara~
negara Eropa Barat seperti Belanda, Jerman, lnggris, dan Prancis, pelayananpelayanan sosial menjadi bagian integral dari sistem 'negara kesejahteraan'
(welfare stale) yang berfungsi dalam memenuhi kebutuhan dasar di bidang
sosial dan medis untuk segala kelompok usia (anak-anak, remaja, lanjut
usia) dan status sosial ekonomi (orang kaya maupun miskin).
Namun demikian, seperti ditunjukkan oleh Tabel 8.1, terjadinya
pergeseran paradigma dalam ketatanegaraan dan kebijakan publik dari
government (pemerintah) ke governance (tatakelola pemerintahan), kebijakan
sosial dipandang bukan lagi sebagai dominasi pemerintah. Makna publik
juga bergeser dari 'penguasa orang banyak' yang diidentikkan dengan
pemerintah, ke 'bagi kepentingan orang banyak' yang identik dengan istilah
stakeholder atau pemangku kepentingan. Para analis kebijakan dan
kelompok pemikir yang independent kemudian muncul sebagai profesi
baru yang banyak berperan mengkritisi beroperasinya kebijakan sosial dan
kemudian mengajukan saran-saran perbaikannya demi terwujudnya good
governance sejalan dengan menguatnya semangat demokratisasi, civil society dan transparansi.
Tabel8.1: Pergesearan Paradigma dalam Kebijakan Publik
ASPEK
PROSES
PERUMUSAN
KEBIJAKAN

GOVERNMENT
Pemerintah

Stakeholder

Ana/is Kebijakan

PENETAPAN
KEBIJAKAN
ANALISIS
KEBIJAKAN

GOVERNANCE
Pemerintah

Independent
ThinkThank

Pemerintah

Pemerintah

Stakeholder
Analis kebijakan
Independent

Pemerintah
Public Contractor

Government
ThinkThank

Sumber: Suharto (2005a:13)

ThinkThank

BAs

8 -

ANALisrs KE!liJAKAN SosrAL

109

Karen a memuat kata 'sosial', kebijakan sosial mencakup bidang-bidang


kemasyarakatan yang umumnya dikategorikan sebagai 'bidang sosial' yang
luas yang mencakup kesehatan, pendidikan, perumahan, atau bahkan
makanan. Namun demikian, kebijakan sosial memiliki makna dan bidang
garapannya sendiri yang relatif berbeda dengan bidang kemasyarakatan
pada umumnya. Spieker (1995 :5) membantu mempertegas substansi
kebijakan sosial dengan menyajikan tiga karakteristik atau aras pendefinisi
kebijakan sosial.
1.

Social policy is about policy. Kebijakan sosial adalah tentang


'kebijakan'. Artinya, meskipun kebijakan sosial bersentuhan dengan
bidang makanan, pendidikan, dan kesehatan, ia memiliki fokus dan
urusannya sendiri, yakni menyangkut urusan 'kebijakan'. Elemen utama
'kebijakan' adalah tujuan, proses implementasi dan pencapaian hasil
suatu inisiatif atau keputusan kolektif yang dibuat oleh, misalnya,
departemen-departemen pemerintah (pada tingkat makro) atau lembagalmbaga pelayanan sosial (pada skala mikro). Karenanya, meskipun
kebijakan sosial tidak jarang berhubungan dengan 'makanan', ia tidak
mempelajari atau mengurusi soal makanan itu sendiri; melainkan
dengan regulasi dan distribusi makanan tersebut. Kebijakan sosial
tidak secara langsung berhubungan dengan perkembangan anak (child
development), tetapi dengan pendidikan dan pelayanan sosial untuk
membantu mengatasi kesulitan anak-anak tumbuh dan berkembang.
Kebijakan sosial juga tidak mengurusi persoalan kesehatan fisik karena merupakan domain kedokteran, tetapi ia sangat berkaitan dengan
kebijakan-kebijakan untuk mempromosikan kesehatan dan pemberian
perawatan kesehatan, khususnya yang menyangkut jaminan sosial
kesehatan (di AS disebut Medicare dan Medicaid).

2.

Social policy is concerned with issues that are social. Kebijakan sosial
berurusan dengan isu-isu yang bersifat sosial. Namun, seperti
dijelaskan di muka, arti sosial di sini tidak bersifat luas. Melainkan
merujuk pada beragam respon kolektif yang dibuat guna mengatasi
masalah sosial yang dirasakan oleh publik. lsti!ah sosial menunjuk
pada " ... some kind of collective social response made to perceived
problems," demikian kata Spieker.

3.

Social policy is about welfare. Secara luas, welfare dapat diartikan


sebagai 'well-being' atau 'kondisi sejahtera". Namun, welfare juga

110

M EMBANGUN MA.SYARAKAT

MEM~ERDAYAKAN RAKYAT

berarti "The provision of social services provided by the state" dan


sebagai "Certain types of benefit, especially means-tested social security, aimed at poor people".

Tujuan Kebijakan Sosial


Dalam konteks pembangunan sosial, kebijakan sosial merupakan suatu
perangkat, mekanisme, dan sistem yang dapat mengarahkan dan
menterjemahkan tujuan-tujuan pembangunan. Kebijakan sosial senantiasa
berorientasi kepada pencapaian tujuan sosial. Tujuan sosial ini mengandung
dua pengertian yang sa ling terkait, yakni: memecahkan masalah sosial dan
memenuhi kebutuhan sosial (Gambar 8.1 ).

Memecahkan ,
Masalah
Sosial

Memenuhi
Kebutuhan
Sosial
Gambar 8.1: Tujuan Kebijakan Sosial

Tujuan pemecahan masalah sosial mengandung arti mengusahakan


atau mengadakan perbaikan karena ada sesuatu keadaan yang tidak
diharapkan (misalnya kemiskinan) atau kejadian yang bersifat destruktif
atau patologis yang mengganggu dan merusak tatanan masyarakat (misalnya
kenakalan remaja). Tujuan pemenuhan kebutuhan mengandung arti
menyediakan pelayanan-pelayanan sosial yang diperlukan, baik dikarenakan
adanya masalah maupun tidak ada masalah, dalam arti bersifat pencegahan
(mencegah terjadinya masalah, mencegah tidak terulang atau timbullagi

BAB

8 -

ANALISis KEBIJAKAN SosiAL

111

masalah, atau mencegah meluasnya masalah) atau pengembangan


(meningkatkan kualitas suatu kondisi agar lebih baik dari keadaan
sebelumnya). Secara lebih luas, tujuan-tujuan kebijakan sosial adalah:
1.

Mengantisipasi, mengurangi, atau mengatasi masalah-masalah sosial


yang terjadi di masyarakat.

2.

Memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu, keluarga, kelompok atau


masyarakat yang tidak dapat mereka penuhi secara sendiri-sendiri
melainkan harus melalui tindakan kolektif.

3.

Meningkatkan hubungan intrasosial manusia dengan mengurangi


kedisfungsian sosial individu atau kelompok yang disebabkan oleh
faktor-faktor internal-personal maupun eksternal-struktural.

4.

Meningkatkan situasi dan lingkungan sosial-ekonomi yang kondusif


bagi upaya pelaksanaan peranan-peranan sosial dan pencapaian
kebutuhan masyarakat sesuai dengan hak, harkat dan martabat
kemanusiaan.

5.

Menggali, mengalokasikan dan mengembangkan sumber-sumber


kemasyarakatan demi tercapainya kesejahteraan sosial dan keadilan
sosial.

Menurut David Gil (1973), untuk mencapai tujuan-tujuan kebijakan


sosial, terdapat perangkat dan mekanisme kemasyarakatan yang perlu diubah,
yaitu yang menyangkut pengembangan sumber-sumber, pengalokasian status
dan pendistribusian hak. Ketiga aspek tersebut merupakan kerangka acuan
dalam menentukan tujuan kebijakan sosial. Di samping itu, kebijakan
sosial harus memperhatikan distribusi barang dan pelayanan, kesempatan,
dan kekuasaan yang lebih luas, adil dan merata bagi segenap warga
masyarakat.
1.

Pengembangan sumber-sumber. Meliputi pembuatan keputusankeputusan masyarakat dan penentuan pilihan-pilihan tindakan
berkenaan dengan jenis, kualitas, dan kuantitas semua barang-barang
dan pelayananpelayanan yang ada dalam masyarakat.

2.

Pengalokasian status. Menyangkut peningkatan dan perluasan akses


serta keterbukaan kriteria dalam menentukan akses tersebut bagi seluruh anggota masyarakat. Kebijakan sosial harus memiliki efek pada

112

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

penghilangan segala bentuk diskriminasi. Kebijakan sosial harus


mendorong bahwa semua anggota masyarakat memiliki kesempatan
yang sama untuk memperoleh pendidikan, pekerjaan yang layak,
berserikat dan berkumpul dalam organisasi sosial, tanpa mempertimbangkan usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, ras, suku
bangsa dan agama.
3.

Pendistribusian hak. Menun_iuk pada perluasan kesempatan individu


dan kelompok dalam mengontrol sumber-sumber material dan non
material. Apakah semua anggota masyarakat memiliki kesempatan
yang sama dalam berpartisipasi dan mempengaruhi kebijakan-kebijakan
yang menyangkut kehidupan mereka? Sejauhmana individu dan
kelompok dapat mengontrol distribusi dan kesempatan dalam
pengambilan keputusan-keputusan penting dalam kehidupannya?
Dengan kata lain, pendistribusian hak berkaitan dengan pendistribusian
kekuasaan atau penguasaan sumber-sumber yang lebih adil. Selain
itu, pendistribusian hak juga menunjuk pada usaha-usaha pemerataan
sumber-sumber dari golongan kaya ke golongan miskin.

Analisis Kebijakan Sosial


Mengacu pada definisi kebijakan publik dari Dunn (1991 ), AKS adalah
ilmu sosial terapan yang menggunakan berbagai metode penelitian dan
argumentasi untuk menghasilkan informasi yang relevan dalam menganalisis
masalah-masalah sosial yang mungkin timbul akibat diterapkannnya suatu
kebijakan. Ruang lingkup dan metoda analisis kebijakan umumnya bersifat
deskriptif dan faktual mengenai sebab-sebab dan akibat-akibat suatu
kebijakan. AKS, merujuk Quade (1995), adalah suatu jenis penelaahan
yang menghasilkan informasi sedemikian rupa yang dapat dijadikan dasardasar pertimbangan para pembuat kebijakan dalam memberikan penilaianpenilaian terhadap penerapan kebijakan sehingga diperoleh alternatifalternatif perbaikannya. Kegiatan penganalisisan kebijakan dapat bersifat
formal dan hati-hati yang melibatkan penelitian mendalam terhadap isuisu atau masalah-masalah yang berkaitan dengan evaluasi suatu program
yang akan maupun telah dilaksanakan. Namun demikian, beberapa kegiatan
analisis kebijakan dapat pula bersifat informal yang melibatkan tidak lebih

BAB

8 -

ANALISIS KEBIJAKAN SOSIAL

113

dari sekadar kegiatan berfikir secara cermat dan hati-hati mengenai dampakdampak kebijakan terhadap kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, AKS dapat diartikan sebagai usaha yang terencana
dan sistematis dalam membuat analisis atau asesmen akurat mengenai
konsekuensi-konsekuensi kebijakan sosial, baik sebelum maupun sesudah
kebijakan tersebutdiimplementasikan (Suharto, 2004a; lihatSheafor, Horejsi
dan Horejsi, 2000).

Model Analisis Kebijakan


Menurut Dunn (1991: 51-54), ada tiga bentuk atau model analisis kebijakan,
yaitu model prospektif, model retrospektif dan model integratif. Gambar
4.2 memvisualkan model analisis kebijakan.
Gambar 4.2: Model Analisis Kebijakan

KONSEKUENSI-KONSEKUENSI KEBIJAKAN

Model
Prospektif

Model
lntegratif

Model
Retrospekt

Sumber: Suharto (2005a:86)

1.

Model prospektif adalah bentuk analisis kebijakan yang mer:tgarahkan


kajiannya pada konsekuensi-konsekuensi kebijakan 'sebelum' suatu
kebijakan diterapkan. Model ini dapatdisebutsebagai model prediktif,
karena seringkali melibatkan teknik-teknik peramalan (forecasting) untuk
memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan tirnbul dari suatu
kebijakan yang akan diusulkan.

114

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

2.

Model retrospektif adalah anal isis kebijakan yang dilakukan terhadap


akibat-akibat kebijakan 'setelah' suatu kebijakan diimplementasikan.
Model ini biasanya disebut sebagai model evaluatif, karena banyak
melibatkan pendekatan evaluasi terhadap dampak-dampak kebijakan
yang sedang atau telah diterapkan.

3.

Model integratif adalah model perpaduan antara kedua model di atas.


Model ini kerap disebut sebagai model komprehensif atau model
holistik, karena analisis dilakukan terhadap konsekuansi-konsekuensi
kebijakan yang mungkin timbul, baik 'sebelum' maupun 'sesudah'
suatu kebijakan dioperasikan. Model analisis kebijakan ini biasanya
melibatkan teknik-teknik peramalan dan evaluasi secara terintegrasi.

Kerangka Analisis
Penelaahan terhadap kebijakan sosial, baik menggunakan model prospektif,
retrospektif, maupun integratif, didasari oleh oleh prinsip-prinsip atau
patokan-patokan umum yang membentuk kerangka analisis. Kerangka
anal isis tersebut secara umum berpijak pada dua pedoman, yaitu 'fokus'
dan 'parameter' analisis. Analisis kebijakan dapat difokuskan ke dalam
berbagai aras. Namun, tiga fokus utama yang umumnya dipilih dalam
anal isis kebijakan sosial meliputi:
1.

Definisi masalah sosial. Perumusan atau penyataan masalah sosial


yang akan direspon atau ingin ditanggulangi oleh kebijakan.

2.

lmplementasi kebijakan sosial. Pernyataan mengenai cara atau metoda


dengan mana kebijakan sosial tersebut diimplementasikan atau
diterapkan. lmplementasi kebijakan juga mencakup pengoperasian
alternatif kebijakan yang dipilih melalui beberapa program atau
kegiatan.

3.

Akibat-akibat kebijakan sosial. Berbagai pertimbangan mengenai


konsekuensi-konsekuensi kebijakan atau akibat-akibat yang mungkin
timbul sebagai dampak diterapkannya suatu kebijakan sosial.
Konsekuensi atau dampak yang ditimbulkan oleh kebijakan bisa bersifat
positif (manfaat), maupun negatif (biaya). Akibat kebijakan bisa
diprediksi sebelt.;m kebijakan diimplementasikan (model prospektif),
sesudah diimplementasikan (model retrospektif), ataupun sebelum dan
sesudah diimplementasikan (model integratif).

BAB

8 -

ANALISIS KEBIJAKAN SOSIAL

115

Dalam menganalisis ketiga fokus tersebut, diperlukan pendekatan atau


parameter anal isis yang dapat dijadikan basis bagi pengambilan keputusan
atas pilihan-pilihan kebijakan.
1.

Penelitian dan rasionalisasi yangdilakukan untuk menjamin keilmiahan


dari anal isis yang dilakukan. Penelitian dan rasionalisasi merupakan
dua aspek yang berbeda, namun saling terkait. Penelitian menunjuk
pada pengetahuan yang diperoleh melalui observasi dan eksperimen
yang dapat membantu membuat pilihan-pi!ihan kebijakan. Rasionalisasi
menunjuk pada logika dan konsistensi internal. Misalnya, apakah
berbagai bagian kebijakan b~rkaitan secara rasional? Apakah kebijakan
sudah bersifat konsisten secara logis dan internal?

2.

Orientasi nilai yang dijadikan patokan atau kriteria untuk menilai


kebijakan sosial tersebut berdasarkan nilai baik dan buruk. Nilai-nilai
merupakan keyakinan dan opini masyarakat mengenai baik dan buruk.
Nilai juga merupakan sesuatu yang diharapkan atau kriteria untuk
membuat keputusan mengenai sesuatu yang diharapkan.

3.

Pertimbangan politik yang umumnya dijadikan landasan untuk


menjamin keamanan dan stabilitas. Politik berkenaan dengan suatu
cara bagaimana kebijakan-kebijakan dirumuskan, dikembangkan dan
diubah dalam konteks demokrasi. Lebih khusus lagi, politik menunjuk
pada individu-individu dan kelompok-kelompok kepentingan yang
berpartisipasi atau berusaha mempengaruhi proses perumusan dan
pengembangan kebijakan.

Kerangka analisis dari Quade (1 995:172-173) yang disajikan Tabel


8.2 memberikan pedoman dalam menelisik pendefinisian masalah sosial,
implementasi kebijakan sosial dan akibat-akibat kebijakan dilihat dari tiga
parameter: penelitian, nilai dan politik.

116

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

label 8.2: Kerangka Analisis Kebijakan Sosial


Parameter
Fokus
DEFINISI
KEBI)AKAN SOSIAL
Apa masalah
sosialnyal
Faktor apa yang
mempengaruhi
masalah tersebut
Siapa yang
terpengaruh
secara langsung
oleh masalah
tersebutl

IMPLEMENT AS!
KEBI)AKAN SOSIAL
Apa tujuan
kebijakan sosial?
Program dan
pelayanan sosial
apa yang
diberikan?

.
.
.

.
.
.

Bagaimana

slruklur
organisasinyal
Bagaimana
kebijakan tersebut
didanail

.
.

Penelitian &
Rasionalisasi
Apakah definisi
masalah sudah
rasional dan
konsisten dengan
penelitian yang ada I
Apakah definisi
kelompok sasaran
pada tingkal
generalisasi tertentu
sudah sesuai dengan
penelitianl
Apakah kriteria yang
digunakan untuk
menyeleksi kelompok
sasaran didukung
oleh rasionalisasi dan
penelitianl
Apakah penelitian
yang ada mendukung
penyebab masalah?
Apakah tujuan
kebijakan konsislen
dengan penelitian
dan pendefinisian
masalahl
Apa bentuk
pelayanan sosial yang
diberikan? Apakah
pene!itian
mendukung
pelayanan sosial yang
dipilihl.
Apakah struktur
organisasi sudah
sesuai dengan
kebijakannya?
Apakah pendanaan
memadai,

teramalkan, dan
lersedia sesuai
dengan penelilian
dan rasionalisasil

KONSEKUENSI
KEBI)AKAN SOSIAL
Apa keuntungan
dan kerugian
kebijakanl
Apa konsekuensi
kebijakan bagi
klien, sistem
sosial, dan sistem
pelayanan sosial?

.
.

Apakah keuntungan
dan kerugian sejalan
dengan penelitian
dan rasionalisasil
Apa konsekuensi
yang diharapkan dan
tidak diharapkan dari
kebijakan dalam
kaitannya dengan
penelilian dan

.
.
.

.
.

Nilai-Nilai
Apakah ini
merupakan masalah
sosial yang pentingl
Nilai-nilai apa yang
penting dalam
melakukan seleksi
kelompok sasaranl
Apakah nilai-nilai
tersebut sudah
sesuailtepatl
Nilai-nilai apa yang
penting dalam
menentukan
penyebab masalahl
Apakah nilai-nilai
tersebut sudah tepatl

Nilai-nilai apa yang


mempengaruhi
tujuan kebijakanl
Apakah nilai-nilai
lersebul sudah lepat?
Apakah kebijakan
memperlakukan klien
secara tepal sesuai
dengan kesamaan,

.
.

penentuan

.
.

kesetaraan,

.
.

kelayakan dan
penentuan nasib
sendiri klienl
Apakah struktur
organisasi
mendukung efektifitas
dan efisiensi
pemberian
pelayananl
Apakah pendanaan
memadai,

teramalkan, dan
tersedia sejalan
dengan nilail

.
.

Apakah keuntungan
dan kerugian sejalan
dengan nilai-nilail.
Apa konsekuensi
yang diharapkan dan
tidak diharapkan dari
kebijakan dalam
kaitannya dengan
niiJi?

rasionalisasi?

Sumber: dikembangkan dari Quade (1995: 172-173)

Politik
Apakah definisi
masalah secara
politik dapal
diterimal
lndividu alau
kelompok mana
yang mendukung
dan menentang
pendefinisian
kelompok sasaranl
Apa akibatnya
lerhadap
pendefinisian
masalah sosial?
Apa akibal

penyebab masalah
lersebut terhadap
individu atau
kelompok sasaran?
Seberapa besar
tingkal kekuasaan
yang menentang
kebijakanl
Bagaimana hal ini
mempengaruhi
kebijakanl
Adakah dukungan
yang memadai
yang dapal
memungkinkan
kebijakan
dilerapkan?
lndividu dan
kelompok mana
yang akan
diuntungkan oleh
kebijakan inil Apa
dampaknya bagi
implementasi
kebijakanl
Apakah pendanaan
memadai,

.
.

teramalkan, dan
tersedia sejalan
den~an polilikl
Apakah
keuntungan dan
kerugian sejalan
dengan politikl
Bagaimana
dukungan dan
penentangan
terhadap kebijakan
pada lingkal
masyarakat
mempengaruhi
pemberian
pelayanan?

Monitoring
dan Evaluasi Program

Monitoring dan evaluasi (monev) adalah kegiatan yang sangat penting


dalam proses pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Dengan
adanya monev, maka akan diketahui sejauh mana efektivitas dan efisiensi
program sosial yang diberikan. Apa itu monev, prinsip-prinsip monev,
proses monev, desain monev, dan indikator monev adalah beberapa tema
yang disajikan bab ini.

Apa Itu MONEV?


Monev dalam konteks pembangunan kesejahteraan sosial (PKS) mencakup
pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: Apakah program sosial sudah
mencapai tujuan yang diharapkan? Apakah cakupan program sosial sudah
mampu menjangkau sasaran pelayanan (target groups) secara maksimal?
Apakah metode atau cara-cara pemberian pelayanan sosial dapat diterapkan
sesuai dengan pendekatan yang dipi lih? Apakah surnber-sumber pelayanan
sosial, termasuk tenaga pelaksana, dapat diperoleh dan dipergunakan sesuai
dengan sasaran pelayanan? Apakah indikator-indikator keberhasilan
pelayanan sosial dapat disusun dan diterapkan dalam proses monev? Apa
saja kekuatan dan kelemahan pelayanan sosial yang diberikan dan apa
saja rekomendasi yangdapatdiusulkan bagi perbaikan-perbaikan pelayanan
sosial di masa yang akan datang?
Monev merupakan dua istilah yang senantiasa dipadukan dan bahkan
pengertian keduanya sering dipertukarkan. Bank Dunia (2002) dan Owen
dan Rogers (1999) misalnya, menyamakan pengertian monitoring dan
117

118

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMilERDAYAKAN RAKYAT

evaluasi. Sekurang-kurangnya ban yak ahli yang tidak melihat monev sebagai
dua kegiatan yang terpisah satu sama lain. Namun demikian, kita dapat
membedakan pengertian monitoring dan evaluasi.

Monitoring
Monitoring adalah pemantauan secara terus menerus proses perencanaan
dan pelaksanaan kegiatan. Monitoring dapat dilakukan dengan cara
mengikuti langsung kegiatan atau membaca hasillaporan dari pelaksanaan
kegiatan (Marjuki dan Suharto, 1996). Evaluasi adalah mengukur berhasil
tidaknya program yang dilaksanakan, apa sebabnya berhasil dan apa
sebabnya gaga!, serta bagaimana tindak lanjutnya. Kegiatan evaluasi
senantiasa didasarkan atas hasil dari monitoring (Marjuki dan Suharto,
1996). Monitoring adalah proses pengumpulan informasi mengenai apa
yang sebenarnya terjadi selama proses implementasi atau penerapan program. Tujuan monitoring adalah untuk:
1.

Mengetahui bagaimana masukan (inputs) sumber-sumber dalam


rencana digunakan.

2.

Bagaimana kegiatan-kegiatan dalam implementasi dilaksanakan.

3.

Apakah rentang waktu implementasi terpenuhi secara tepat atau tidak.

4.

Apakah setiap aspek dalam perencanaan dan implementasi berjalan


sesuai dengan yang diharapkan.

Monitoring sering dipandang sebagai pengukuran kuantitas yang


berkaitan dengan bagaimana pencapaian keselarasan antara sumber-sumber
yang digunakan dan waktu yang ditetapkan. Monitoring merupakan aktivitas
yang berkelanjutan yang terutama dimaksudkan untuk
memberikan
informasi
.
.
terhadap per~ncana dalam mengidentifikasi perubahan-perubahan ~ang
terjadi dalam tahap implementasi. Monitoring merupakan m~kanisme yang
. digunakan untuk mengoreksi penyimpangan-penyimpangan (deviations)yang
'

....

-1

~ungkin tinibul dalam suatu kegiatan dengan m~mbandingkan antara apa


yang diharapkan dan apa yang dilakukan.

BAB

9 -

MONITORING DAN EVALUASI PROGRAM

119

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa monitoring pada dasarnya


merupakan pemantauan suatu kegiatan proyek atau program sosial yang
dilaksanakan pada saat kegiatan tersebut sedang berlangsung. Sedangkan
evaluasi adalah pemantauan suatu kegiatan proyek atau program sosial
yang dilakukan pada saat kegiatan tersebut telah berakhir atau dilakukan
sekurang-kurangnya setelah program tersebut telah berjalan beberapa saat
(misalnya tiga bulan, satu semester atau enam bulan, satu tahun).

Evaluasi
Evaluasi adalah pengidentifikasian keberhasilan dan/atau kegagalan suatu
rencana kegiatan atau program. Secara umum dikenal dua tipe evaluasi,
yaitu: on-going evaluation atau evaluasi terus-menerus dan ex-post evaluation atau evaluasi akhir. Tipe evaluasi yang pertama dilaksanakan pada

interval periode waktu tertentu, misalnya per tri wulan atau per semester
selama proses implementasi (biasanya pada akhir phase atau tahap suatu
rencana). Tipe evaluasi yang kedua dilakukan setelah implementasi suatu
program atau rencana. Berbeda dengan monitoring, evaluasi biasanya
lebih difokuskan pada pengidentifikasian kualitas prcgram. Evaluasi berusaha
mengidentifikasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada pelaksanaan
atau penerapan program. Evaluasi bertujuan untuk:
1. Mengidentifikasi tingkat pencapaian tujuan.
2.

Mengukur dampak langsung yang terjadi pada kelompok sasaran.

3.

Mengetahui dan menganalisis konsekuensi-konsekuensi lain yang


mungkin terjadi di luar rencana (externalities).

Prinsip-prinsip MONEV
Hal yang paling mendasar dalam melakukan monev adalah mengetahui
terlebih dahulu kegiatan dan objek apa saja yang dapat dijadikan bahan
atau sasaran monev. Menurut Owen dan Rogers (1999) ada 5 objek atau
sasaran yang dapat dijadikan bahan monev:

120

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

1.

Program. Program adalah seperangkat aktivitas atau kegiatan yang


ditujukan untuk mencapai suatu perubahan tertentu terhadap kelompok
sasaran tertentu.

2.

Kebijakan. Kebijakan adalah ketetapan yang memuat prinsip-prinsip


untuk mengarahkan cara-cara bertindak yang dibuat secara terencana
dan konsisten dalam mencapai tujuan tertentu (Suharto, 1997:1 08).

3.

Organisasi. Organisasi adalah sekumpulan dua orang atau lebih yang


bersepakat untuk melakukan kegiatan tertentu demi mencapai tujuantujuan yang telah ditetapkan. Perusahaan, departemen pemerintahan
atau lembaga swadaya masyarakat adalah beberapa contoh organisasi.

4.

Produk atau hasil. Produk adalah keluaran atau output yang dihasilkan
dari suatu proses kegiatan tertentu. Misalnya, buku atau pedoman
pelatihan, barang-barang, makanan, sapi atau kambing yang diberikan
kepada klien dalam suatu pelayanan sosial.

5.

lndividu. lndividu yang dimaksud dalam hal ini adalah orang atau
man usia yang ada dalam suatu organisasi atau masyarakat. Umumnya,
monev terhadap individu difokuskan kepada kemampuan atau r)erforma
yang dimiliki oleh orang yang bersangkutan dalam melaksanakan
tugas-tugas tertentu dalam organisasi atau masyarakat.

Monev yang berkaitan dengan program sosial pada hakekatnya


menekankan bahwa prinsip utama monev adalah untuk meningkatkan
kualitas pembuatan keputusan. Misalnya, keputusan yang menyangkut
jenis pelayanan sosial yang akan diberikan, sasaran yang akan menerima
pelayanan sosial, serta metode pendistribusian pelayanan sosial tersebut.
Oleh karena itu, kegunaan utama dari data monev adalah sebagai input
atau masukan bagi proses pembuatan keputusan. Dalam konteks ini maka
monev dapat diartikan sebagai proses penilaian terhadap pentingnya suatu
pelayanan sosial. Penilaian ini dibuatdengan cara membandingkan berbagai
bukti (evidence) yang berkaitan dengan apakah program telah sesuai dengan
kriteria (criteria) yang ditetapkan dan bagaimana seharusnya program tersebut
harus dibuat dan diimplementasikan (Boyle, 1981 ). Berdasarkan konsepsi
ini, maka monev pada prinsipnya menunjuk pada sebuah proses pembuatan
keputusan yang melibatkan kriteria, bukti dan penilaian. Secara sederhana,

BAB

9 -

MONITORING DM EVALUASI PROGRAM

121

prinsip-prinsip di atas dapat diilustrasikan ke dalam Gambar 9.1 di bawah


ini (lihat Boyle, 1981 :226-228).

I Kriteria ,;1

r-1
:--:-11:M'i-e'-,-fr1,_b.-,-a.h-d-in
. -:-.9-.k--,-an--,.

r--s-u-,-kt,----i__,~,1

. .

'' ' .
em1 a1a[l

Gambar 9.1: Prinsi-prinsip MONEY

1.

Penetapan kriteria (criteria), yakni standar-standar tertentu yang akan


dijadikan patokan dalam melakukan penilaian. Orang yang akan
melakukan monev harus memiliki gambaran yang jelas mengenai apa
yang "seharusnya" (what should be). Mereka harus mengetahui standarstandar, norma-norma atau pernyataan-pernyataan deskriptif yang
dinamakan kriteria. Kriteria harus diseleksi sesuai dengan jenis
keputusan-keputusan yang harus dibuat oleh pelaku monev. Kriteria
adalah ukuran-ukuran untuk menilai sesuatu. Kriteria dapat berbentuk
aturan-aturan, standar-standar, norma-norma, objek-objek, atau
kondisi-kondisi perilaku yang dianggap "baik" atau "ideal". Kriteria
memberikan keterangan atau gambaran mengenai seperti apakah sebuah
program itu dianggap baik, karenanya menunjukan sebuah nilai
terhadap sebuah fenomena yang berkaitan dengan program (Boyle,
1981 :226).

2.

Pengurnpulan bukti (evidence). Bukti adalah indikasi atau tanda


penunjuk. Dalam konteks monev, bukti terdiri dari: (a) tindakantindakan, kata-kata, angka-angka atau benda-benda yang memberikan
petunjuk atau indikasi; (b) sesuatu yang dapat dijadikan "saksi"
mengenai tingkat kualitas program; dan (c) sesuatu yang dapat dibuat
sebuah pola atau model yang kemudian dapat memberikan gambaran
atau patokan untuk menilai tingkatan kriteria yang akan dicapai.

3.

Penilaian (judgement) mengenai perbandingan (comparison) antara


bukti dan kriteria. Penilaian adalah bagian dari proses monev dengan
mana kesimpulan-kesimpulan alternatif dapat diajukan, keputusan
dapat dibuat, dan nilai dapat ditunjukkan sesuai dengan kriteria yang
telah ditetapkan. Penilaian program pada hakekatnya menyangkut

122

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

keputusan-keputusan mengenai seberapa jauh atau seberapa baik


sebuah program telah memenuhi kriteria dan karenanya dapat diketahui
. seberapa tinggi nilai dari program tersebut. Penilaian dibuat oleh
orang dan karenanya sangat bergantung pada orang-orang yang '
melakukannya. Penilaian juga dipengaruhi oleh pengalaman~
pengalaman masa lalu serta keyakinan-keyakinan individu yang
melakukannya. Penilaian dapat bersifat terperc:aya (reliable), sahih
(valid) dan objektif, namun dapat pula bersifat sangat bias atau
subjektif. Penilaian sangat tergantung pada. seberapa jauh individuindividu yang melakukd.nnya dapat mengontrol kegiatan penilaian
dan menyaring faktor-faktor yang dapat menimbulkan bias atau
subjektivitas. Sebuah peni laian program yang akurat san gat tergantung
kepada kriteria yang jelas dan bukti yang terpercaya. Namun demikian,
selalu ada saja kemungkinan di mana beberapa alternatif kesimpulan
dapat dibuat. Seorang penilai yang melakukan monev harus
mempertimbangkan alternatif-alternatif tersebut sebelum mencapai
sebuah keputusan atau kesimpulan akhir.

Proses MONEV
Mengapa pengetahuan mengenai proses monev sangat penting? Proses
monev yang baik dapat memberikan kerangka kerja (blueprint) yang jelas
bagi tim monev dalam menjalankan tugasnya. Pengalaman menunjukkan
bahwa proses monev sangat menentukan kualitas, relevansi dan kegunaan
hasil monev(World Bank, 2002). Monevdapatdilakukan melalui beberapa
langkah kegiatan. Langkah-langkah kegiatan ini tidak bersifat kaku, namun
dapat disesuikan dengan keadaan dan kebutuhan. Sebagai acuan, ada 10
langkah pelaksanaan monev (lihat USAID, 1996).
1.

Menentukan jenis-jenis dan skope atau ruang lingkup kegiatan yang


akan dinilai. Pada tahap ini harus ditentukan apakah kegiatan yang
akan dievaluasi bersifat tunggal atau terdiri dari berbagai kegiatan
yang saling terkait satu sama lain. Jelaskan nama, judul atau yang
berwenang dalam kegiatan yang akan dievaluasi. ldentifikasi pula
jumlah, tingkat dan sumber dana, tanggal awal dan akhir kegiatan
dan penjelasan ringkas mengenai aspek-aspek apa saja dari kegiatan
tersebut yang akan dievaluasi.

BAB

9-

MONITORING DAN EVALUASI PROGRAM

123

2.

Menjelaskan secara ringkas latar belakang dan sejarah kegiatan atau


program yang akan dievaluasi. Dalam latar belakang ini dapat pula
dijelaskan nama-nama lembaga pelaksana dan organisasi-organisasi
yang terlibat serta informasi lain yang dapat membantu tim monev
memahami konteks kegiatan yang akan dinilai. Beberapa hal yang
perlu diperhatikan menyangkut pertanyaan berikut ini: Siapa yang
menginginkan informasi dari hasil monev ini? Apa yang mereka ingin
ketahui? Untuk apa informasi monev ini akan digunakan? Kapan
informasi tersebut diperlukan? Seberapa akurat informasi tersebut harus
dibuat?

3.

Mengidentifikasi sumber-sumber informasi mengenai kinerja kegiatan


yang telah berlangsung. Data sekunder ini dimaksudkan untuk
mengetahui sistem-sistem monev atau laporan-laporan monev
terdahulu. Sebuah ringkasan mengenai jenis-jenis data yang sudah
tersedia, kerangka waktu, dan indikasi mengenai kualitas suatu kegiatan
dapat membantu tim monev dalam mengidentifikasi informasi apa
saja yang telah ada dan apa yang telah terjadi pada kegiatan yang
akan dievaluasi.

4.

Menentukan tujuan Monev. Sebuah monev dapat dilakukan dengan


baik jika memiliki tujuan yang je!as mengenai apa yang ingin dicapai
oleh kegiatan monev tersebut. Secara garis besar tujuan monev dalam
kaitannya dengan kegiatan pelayanan sosial menyangkut beberapa
aspek sebagai berikut: (a) penentuan hasil-hasil yang telah dicapai
oleh suatu program sesuai dengan kriteria; (b) pengujian validitas
asumsi-asumsi dan hipotesisi-hipotesis yang rnendasari kerangka kerja
monev; (c) penentuan seberapa jauh kepuasan klien telah terpenuhi;
(d) pengidentifikasian dampak-dampak tidak langsung yang ditimbulkan
oleh suatu kegiatan; (e) pengujian keberlangsungan program dan hasilhasilnya; (f) pengujian efektivitas strategi-strategi lembaga dalam
mengimplementasikan program-program kegiatannya.

5.

Merumuskan pertanyaan-pertaoyaan monev. Pertanyaan harus jelas


dan terfokus. Pertanyaan yang mengambang dapat menimbulkan
jawaban yang mengambang pula. Batasi jumlah pertanyaan sesuai
dengan parameter atau variabel yang perlu diukur. Terlalu banyak
pertanyaan dapat menimbulkan tidal~ terf<2kusnya informasi yang
dikumpu lkan. Hindari pula pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya
sudah dan mudah d.iketahui secara umum.

r':!l,

124

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

6.

Menentukan metode atau teknik-teknik monev. Beberapa hal yang


perlu diketahui adalah: (a) desain strategi secara umum yang akan
diterapkan dan bagaimana strategi tersebut sejalan dengan pertanyaan-.
pertanyaan monev yang telah disusun (pada point 5); (b) Dari siapa
data akan dikumpulkan; (c) Bagaimana data tersebut diperoleh; dan
(d) Bagaimana data tersebut akan dianalisis.

7.

Menentukan komposisi dan partisipasi tim pelaksana. ldentifikasi jumlah


tim, kualifikasi dan keterampilan para anggota tim, termasuk partisipasi
yang diharapkan dari mereka. Monev yang baik biasanya sangat
tergantung dari komposisi tim. Tim monev yang berasal dari berbagai
latar-belakang pendidikan dan pengalaman sangatdianjurkan, termasuk
seorang spesilias teknis dan sekurang-kurangnya seorang spesialis
monev.

8.

Menentukan prosedur, jadwal dan logistik. Kaji berbagai prasyarat


prosedural sebuah monev, termasuk jadwal dan logistik yang
diperlukan. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan meliputi: (a) jadwal
umum pelaksanaan monev seperti lamanya pelaksanaan monev dan
waktu penyerahan laporan monev; (b) jam kerja, hari-hari libur; (c)
dokumen-dokumen perjalanan yang diper!ukan, seperti tiket bus, KA
atau pesawat udara, booking dan tiket penginapan; (d) kondisi-kondisi
cuaca, perjalanan, sosial-budaya yang mungkin mempengaruhi
pengumpulan data; (e) ketersediaan petugas pembantu atau
pendamping, seperti penunjuk jalan, penterjemah, asisten pengumpul
data, pengolah data, supir dan lain-lain; (f) ketersediaan fasilitas dan
alat-alat penunjang, seperti mobil, handphone, komputer laptop, tape
recorder, kalkulator dan sarana yang diperlukan lainnya; (g) prosedurprosedur untuk merancang pertemuan, wawancara, seminar.

9.

Anggaran. Dalam rencana anggaran dapat dirancang dari mana sumber


pendanaan akan diperoleh dan untuk apa saja dana tersebut akan
digunakan. Perkirakan biaya yang diperlukan untuk kegiatan monev,
termasuk biaya-biaya untuk konsultan, pembuatan laporan, biaya
perjalanan, hotel dan sebagainya.

10. Melakukan pengumpulan data dan menyiapkan sistem pelaporannya.


Setelah semua persiapan dianggap matang maka monev dapat
dilakukan. Hal ini terutama menyangkut lpelaksanaan pengumpulan
data di lapangan sesuai dengan metode dan teknik-teknik monev
yang dipilih. Selanjutnya, semua kegiatan monev tersebut harus

BAs

9-

MoNITORING OAN EvALUASI PROGRAM

125

dihimpun dan disusun ke dalam sebuah laporan yang memaparkan


hasil-hasil temuan, kesimpulan dan rekomendasi. Hal-hal yang perlu
.diperhatikan adalah: (a) kapan dan berapa lama proses pengumpulan
data akan dilakukan; (b) kapan laporan awal harus sudah disusun,
berapa buah laporan harus disiapkan, dan kapan seminar hasil
pelaporan tersebut akan dilakukan.

Desain MONEV
Format monev dapat diklasifikasikan ke dalam tiga aspek penting yang
harus dicakup dalam monev, yaitu; (a) tujuan dan orientasi monev; (b)
isu-isu penting yang sejalan dengan masing-masing tujuan; dan (c)
pen~ekatan-pendekatan umum dalam melaksanakan monev. Format monev
dal~m materi ini akan difokuskan pada pengevaluasian dampak yang oleh

Owen dan Rogers (1999) dinamakan Impact Evaluation.


1.

Tujuan atau orientasi monev. Monev dilakukan untuk menaksir dampak


dari suatu pelayanan sosial. Misalnya, untuk mengetahui dampak
yang dihasilkan dari program pendidikan orang dewasa dalam hal
kemampuan membaca dan menu lis. Tujuan dari monev difokuskan
pada tingkat kernampuan membaca dan menulis peserta program;
berapa banyak peserta yang kini meningkat kemampuan membaca
dan menulis, termasuk pengaruh-pengaruh tidak langsung dari program yang diberikan (kepercayaan diri peserta program, peningkatan
kemampuan berelasi sosial dengan tetangga dan lain-lain).

2.

lsu-isu penting yang perlu diperhatikan dalam kegiatan monev ini,


meliputi: (a) apakah program telah diimplementasikan sesuai dengan
rencana?,(b) apakah tujuan program telah dicapai? (c) apakah kebutuhankebutuhan klien yang ingin dipenuhi oleh program ini telah tercapai?
(d) apa saja pengaruh-pengaruh tidak langsung dari program ini? (e)
.apakah startegi yang diterapkan telah mengarah pada hasil-hasil yang
ingin dicapai? (f) bagaimanakah perbedaan-perbedaan dalam
implementasi telah berpengaruh terhadap hasil-hasil program? (g)
apakah program teleh memenuhi kriteria efektivitas biaya (cost effective)?

3.

Pendekatan-pendekatan yang sesuai dengan format ini, meliputi: (a)


Evaluasi Berbasis Tujuan (objective-based evaluation), yaitu penilaian

126

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

program berdasarkan tujuan yang dinyatakan; (b) Studi Proses-Hasil


(process-outcomes studies), mengevaluasi bukan hanya hasil-hasil
program, melainkan pula proses atau tingkat penerapan dari program
tersebut; (c) Evaluasi Berbasis Kebutuhan (need-based evaluation) adalah
penilaian program berdasarkan tingkat pemenuhan kebutuhan klien
yang mampu dicapai oleh suatu program; (d) Evaluasi Tujuan Bebas
(goal-free evaluation) adalah pengevaluasian dampak tidak langsung
dari suatu program; di mana evaluasi diarahkan bukan pada tujuantujuan program yang dinyatakan, melainkan pada hasil-hasil program; (e) Audit Kinerja (performance audit)

Indikator
Dalam realitasnya, pengukuran keefektifan suatu program sosial sangat
ditentukan oleh kualitas masukan data. Karenanya monev terhadap program sosial tidak dapat dilepaskan dari metode statistik dan prosedur
penelitian sosial, seperti teknik pengumpulan data, analisis, presentasi
data serta metodologi survey sosial. Satu hal yang sangat penting dalam
kaitannya dengan pelaksanaan monev ini adalah penentuan indikator dan
variabel sosial yang akan dijadikan tolok ukur terutama dalam menganalisis
dampak implementasi suatu program sosial.
Secara umum, indikator dapat didefinisikan sebagai suatu alat ukur
untuk menunjukkan atau menggambarkan suatu keadaan dari suatu hal
yang menjadi pokok perhatian. lndikator dapat menyangkut suatu fenomena
sosial, ekonomi, penelitian, proses suatu usaha peningkatann kualitas .
. lndikator dapat berbentuk ukuran, angka, atribut atau pendapat yang dapat
menunjukkan suatu keadaan. lndikator seringkali dirumuskan dalam bentuk
variabel yang dapat digunakan untuk mengevaluasi keadaan atau status
dan memungkinkan dilakukannya pengukuran terhadap perubahanperubahan yang terjadi dari waktu ke waktu (Depkes, 2001 :1 0). Misalnya:
'kecantikan' dapat diukur oleh tiga variabel, yakni 38; Brain (kecerdasan),
Behavior (perilaku) dan Beauty (penampilan fisik) (Suharto, 2005d).

lndikator digunakan apabila aspek yang akan dinilai perubahannya


tidak dapat secara langsung dilihat seperti halnya tinggi badan, berat badan

BAB

MoNITORING DAN EvA~UASr PROGRAM

127

atau harga suatu barang yang secara kuantitatif mudah diukur (Surbakti,
1996 dalam Suharto, 1997).
lndikator sosial pada dasarnya menunjuk pada definisi operasional
atau bagian dari definisi operasional dari suatu konsep utama yang
memberikan gambaran sistem informasi tentang suatu sistem sosial. Konsepkonsep pokok yang menggambarkan kedudukan indikator dalam suatu
sistem sosial dapat digolongkan sebagai berikut (Suharto, 1997):
1.

Komponen sistem yang terdiri atas subsistem yang saling berkaitan


dan membentuk struktur sistem. Untuk sub-sub sistem tersebut
diharapkan dapatdioperasionalkan dengan menggunakan istilah terukur
dalam bentuk indikator-indikator.

2.

Tujuan sistem, yaitu suatu keadaan yang dikehendaki oleh anggotaanggota sistem dengan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan sistem.

3.

Bidang-bidang masalah yang dioperasionalkan dalam bentuk data


pada suatu waktu tertentu dan segera memerlukan penanganan.

4.

Tujuan kebijakan, yakni kondisi sosial yang dikehendaki oleh pembuat


kebijakan.

Sesuai dengan penggolongan tersebut, maka indikator sosial dalam


monev dapat digunakan menu rut fungsinya, yaitu:
1.

lndikator informatif. lndikator yang digunakan untuk memberikan


gambaran tentang kondisi kesejahteraan masyarakat, sejauh mana
kesejahteraan masyarakat telah tercapai, dan kebutuhan apalagi yang
masih belum terpenuhi yang mungkin dapat dikembangkan melalui
program sosial yang diperlukan.

3.

lndikator prediktif. lndikator yang digunakan untuk merancang program apa saja yang dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan tertentu.

4.

lndikator yang berorientasi masalah. lndikator yang digunakan untuk


menggambarkan seberapa besar masalah yang masih dihadapi dalam
suatu masyarakat.

5.

lndikator evaluasi kebijakan. lndikator yang digunakan untuk


mengevaluasi suatu kebijakan tertentu, sejauhmana tujuan tercapai ,
sejauhmana suatu kebijakan itu efektif, dan sejauh mana kebijakan
di laksanakan secara efisien.

128

MEMBANGUN MASYARAI<AT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Selain itu, indikator juga bisa dikelompokkan ke dalam dua kategori,


yaitu indikator kinerja dan indikator hasil atau keluaran (Suharto, 2005d):
1.

lndikator Kinerja: mengindikasikan keadaan masukan dan proses


pelayanan sosial yang dilakukan oleh lembaga dan aktor-aktor yang
terkait.

2.

lndikator Keluaran: menunjukkan hasillangsung (output) maupun tidak


langsung atau dampak (outcome) dari suatu kegiatan pelayanan

Kriteria lndikator
Karena fenomena sosial bersifat multidimensional, kita tidak selalu mudah
untuk membuat indikator secara tepat dan objektif. lni dikarenakan yang
kita hadapi tidak hanya cara mengukur masing-masing dimensi, tetapi
juga bagaimana keseluruhan dimensi dapat direpresentasikan dalam satu
ukuran. Banyak kriteria tentang pemilihan indikator yang dikemukakan
oleh para ahli, namun demikian beberapa kriteria dasar yang digunakan
umumnya tidak berbeda. Seperti namanya, indikator (artinya: 'penunjuk')
harus dapat menunjukkan seluruh aspek atau sisi dari hal yang akan dilihat,
digambarkan, dipanta.u atau dievaluasi secara jelas.
Dalam menguraikan masalah kesejahteraan Anak, Hananto dan Sigit
(1985 dalam Suharto, 1997) menyatakan bahwa indikator harus dapat
menu n ju kkan permasalahan-permasa lahan yang d i hadapi, su mber-su mber
yang dimiliki, kendala yang dihadapi dalam melaksanakan program, serta
tingkat keberhasilan yang telah dicapai. Budi Utomo (1985 dalam Suharto,
1997) menyatakan bahwa indikator harus memiliki relevansi dengan
perubahan permasalahan yang akan dinilai dan memiliki kelayakan data
yang akan dikumpulkan. lni berarti bahwa indikator memiliki kelayakan
dilihat dari segi cara memperoleh informasi, teknis pengumpulan, biaya
dan manajerial. Selain itu, indikator harus senantiasa mempertimbangkan
kemudahan niemperoleh, mengolah dan menginterpretasikan data yang
dikumpulkan (Surbakti, 1996 dalam Suharto, 1997).
Agar indikator dapat mewakili fenomena yang akan digambarkan,
secara lebih rinci terdapat 4 persyaratan yang harus dipenuhi yang sebagian

BAB

9-

MONITORING DAN EVALUASI PROGRAM

129

telah dijelaskan di atas (Suharto, 2005d):


1. Valid: menggambarkan secara tepat kondisi yang akan diukur.
2.

Reliable: bersifat konsisten atau ajeg. Nilai indikator selalu menunjukkan hasil yang relatif sama meskipun diukur oleh orang yang berbeda
dalam waktu dan tempat yang berbeda.

3.

Sedikit dan Sensitif: indikator tidak terlalu banyak dan sebaiknya hanya
indikator kunci yang dianggap paling mampu menggambarkan kondisi
yang akan diukur.

4.

Kuantitatif dan Komparatif: dapat diukur dengan angka dan dapat


diperbandingkan.

130

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Kemiskinan
While humanity shares one planet,
it is a planet on which there are two worlds,
the world of the rich and the world of the poor.
Raanan Weitz

Kemiskinan merupakan masalah sosial yang senantiasa hadir di tengahtengah masyarakat, khususnya di negara-negara berkembang. Kemiskinan
senantiasa menarik perhatian berbagai kalangan, baik para akademisi
maupun para praktisi. Berbagai teori, konsep dan pendekatan pun terus
menerus dikembangkan untuk menyibak tirai dan "misteri" kemiskinan
ini. Di Indonesia, masalah kemiskinan merupakan masalah sosial yang
senantiasa relevan untuk dikaji terus menerus. lni bukan saja karena masalah
kemiskinan telah ada sejak lama dan masih hadir di tengah-tengah kita
saat ini, melainkan pula karena kini gejalanya semakin meningkat sejalan
dengan krisis multidimensional yang masih dihadapi oleh Bangsa Indonesia. Bab ini mendiskusikan pendekatan pekerjaan sosial dalam menangani
kemiskinan sebagai salah satu bentuk masalah sosial yang serius dan
krusial dalam konteks pemberdayaan masyarakat di Indonesia. Di dalamnya
disajikan beberapa topik mengenai definisi dan dimensi kemiskinan, potret
kemiskinan di Indonesia, paradigma kemiskinan, dan perlunya perubahan
paradigma dalam mempelajari dan menangani kemiskinan. Setelah
membahas topik mengenai bagaimana pekerjaan sosial memandang dan
menangani kemiskinan, bab ini ditutup oleh tema mengenai perlindungan
sosial sebagai salah satu pendekatan penanggulangan kemiskinan menurut
perspektif pekerjaan sosial.
131

132

~IJEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Definisi dan Dimensi Kemiskinan


Kemiskinan merupakan konsep dan fenomena yang berwayuh wajah,
bermatra multidimensional. SMERU, misalnya, menunjukkan bahwa.
kemiskinan memiliki beberapa ciri (Suharto et.a/., 2004:7-8):
1.

Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (pangan,


sandang dan papan).

2.

Ketiadaan akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan,


pendidikan, sanitasi, air bersih dan transportasi).

3.

Ketiadaan jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk


pendidikan dan keluarga).

4.

Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun


mas sal.

5.

Rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan keterbatasan sumber


alam.

6.

Ketidakterlibatan dalam.kegiatan sosial masyarakat.

7.

Ketiadaan akses terhadap lapangan kerja dan mata pencaharian yang


berkesinambungan.

8.

Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.

9.

Ketidakmampuan dan ketidakberuntungan sosial (anaktelantar, wanita


korban tindak kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok
marjinal dan terpencil).

Dengan menggunakan perspektif yang lebih luas lagi, David Cox


(2004: 1-6) membagi kemiskinan ke dalam beberapa dimensi:
1.

Kemiskinan yang diakibatkan globalisasi. Globalisasi menghasilkan


pemenang dan yang kalah. Pemenang umumnya adalah negara-negara
maju. Sedangkan negara-negara berkembang seringkali semakin
terpinggirkan oleh persaingan dan pasar bebas yang merupakan
prasyarat globalisasi.

2.

Kemiskinan yang berkaitan dengan pembangunan. Kemiskinan


subsisten (kerniskinan akibat rendahnya pembangunan), kemiskinan
pedesaan (kemiskinan akibat peminggiran pedesaan dalam proses
pembangunan), kemiskinan perkotaan (kemiskinan yang sebabkan oleh

BAB

10 -

KEMISKINAN

133

hakekat dan kecepatan pertumbuhan perkotaan).

:r.

3.

Kemiskinan sosial. Kemiskinan yang dialami oleh perempuan, anakanak, dan kelompok minoritas.

4.

Kemiskinan konsekuensial. Kemiskinan yang terjadi akibat kejadiankejadian lain atau faktor-faktor eksternal di luar si miskin, seperti
konflik, bencana alam, kerusakan lingkungan, dan tingginya jumlah
penduduk.

Konsepsi kemiskinan yang bersifat multidimensional ini kiranya lebih


tepat jika digunakan sebagai pisau anal isis dalam mendefinisikan kemiskinan
dan merumuskan kebijakan penanganan kemiskinan di Indonesia.
Sebagaimana akan dikemukakan pada pembahasan berikutnya, konsepsi
kemiskinan ini juga sangat dekat dengan perspektif pekerjaan sosial yang
memfokuskan pada konsep keberfungsian sosial dan senantiasa melihat
manusia dalam konteks lingkungan dan situasi sosialnya.
Ellis (1984:242-245) menyatakan bahwa dimensi kemiskinan
menyangkut aspek ekonomi, politik dan sosial-psikologis. Secara ekonomi,
kemiskinan dapat didefinisikan sebagai kekurangan sumberdaya yang dapat
digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejahteraan sekelompok orang. Sumberdaya dalam konteks ini menyangkut
tidak hanya aspek finansial, melainkan pula semua jenis kekayaan (wealth)
yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam arti luas.
Berdasarkan konsepsi ini, maka kemiskinan dapat diukur secara langsung
dengan menetapkan persediaan sumberdaya yang dimiliki melalui
penggunaan standar baku yang dikenal dengan garis kemiskinan (poverty

line). Cara seperti ini sering disebut dengan metode pengukuran kemiskinan
absolut. Garis kemiskinan yang digunakan BPS sebesar 2,1 00 kalori per
orang per hari yang disetarakan dengan pendapatan tertentu atau pendekatan
Bank Dunia yang menggunakan 1 dolar AS per orang per hari adalah
contoh pengukuran kemiskinan absolut.

Kemiskinan merupakan sebuah kondisi yang berada di bawah garis


nilai standar kebutuhan minimum, baik untulc makanan dan non
makanan, yang disebut garis kemiskinan (poverty line) atau batas

134

MEMBANGUN MASYARAKAT f'v1EMBERDAYAKAN RAKYAT

kemiskinan (poverty threshold). Caris kemiskinan adalah sejumlah


rupiah yang diperlukan oleh setiap individu untuk dapat membayar
kebutuhan makanan setara 2100 kilo kalori per orang per hari dan
kebutuhan non-makanan yang terdiri dari perumahan, pakaian:
kesehatan, pendidikan, transportasi, serta aneka barang dan jasa lainnya.
(BPS dan Depsos, 2002:4)

Kemiskinan pada umumnya didefinisikan dari segi ekonomi, khususnya


pendapatan dalam bentuk uang ditambah dengan keuntungan-keuntunan
non-material yang diterima oleh seseorang. Namun demikian, secara luas
kemiskinan juga kerap didefinisikan sebagai kondisi yang ditandai oleh serba
kekurangan: kekurangan pendidikan, keadaan kesehatan yang buruk, dan
kekurangan transportasi yang dibutuhkan oleh masyarakat (SMERU dalam
Suharto et.al., 2004). Definisi kemiskinan dengan menggunakan pendekatan
kebutuhan dasar seperti ini diterapkan oleh Depsos, terutama dalam
mendefinisikan fakir miskin. Kemiskinan adalah ketidakmampuan individu
dalam memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup layak (BPS dan
Depsos, 2002:3). Fakir miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai
kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan
atau orang yang mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak memenuhi
kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan (Depsos, 2001 ). Yang
dimaksud dengan kebutuhan pokok dalam definisi ini meliputi kebutuhan
akan makanan, pakaian, perumahan, perawatan kesehatan, dan pendidikan.
Secara politik, kemiskinan dapat dilihat dari tingkat akses terhadap
kekuasaan

(power). Kekuasaan dalam pengertian ini mencakup tatanan

sistem politik yang dapat menentukan kemampuan sekelompok orang dalam


menjangkau dan menggunakan sumberdaya. Ada tiga pertanyaan mendasar
yang bekaitan dengan akses terhadap kekuasaan ini, yaitu (a) bagaimana
orang dapat memanfaatkan sumberdaya yang ada dalam masyarakat, (b)
bagaimana orang dapat turut ambil bagian dalam pembuatan keputusan
penggunaan symberdaya yang tersedia, dan (c) bagaimana kemampuan
untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Dalam konteks
politik ini Fri~dman mendefinisikan kemiskinan daiam kaitannya dengan
ketidaksamaan kesempatan dalam mengakumulasikan basis kekuasaan sosial

BAB

10 -

KEMISKINAN

13'5

yang meliputi: (a) modal produktif atau asset (tanah, perumahan, alat
produksi, kesehatan), (b) sumber keuangan (pekerjaan, kredit), (c) organisasi
sosial dan politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama
(koperasi, partai politik, organisasi sosial), (d) jaringan sosial untuk
memperoleh pekerjaan, barang, dan jasa, (e) pengetahuan dan keterampilan,
dan (f) informasi yang berguna untuk kemajuan hidup (Friedman dalam
Suharto eta/., 2004).
Kemiskinan secara sosial-psikologis menunjuk pada kekurangan
jaringan dan struktur sosial yang mendukung dalam mendapatkan
kesempatan-kesempatan peningkatan produktivitas. Dimensi kemiskinan

ini juga dapat diartikan sebagai kemiskinan yang disebabkan oleh adanya
faktor-faktor penghambat yang mencegah atau merintangi seseorang dalam
memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang ada di masyarakat. Faktorfaktor penghambat tersebut secara umum meliputi faktor internal dan
eksternal. Faktor internal datang dari dalam diri si miskin itu sendiri,
seperti rendahnya pendidikan atau adanya hambatan budaya. Teori
"kemiskinan budaya" (cultural poverty) yang dikemukakan Oscar Lewis,
misalnya, menyatakan bahwa kemiskinan dapat muncul sebagai akibat
adanya nilai-nilai atau kebudayaan yang dianut oleh orang-orang miskin,
seperti malas, mudah menyerah pada nasib, kurang memiliki etas kerja
dan sebagainya. Faktor eksternal datang dari luar kemampuan orang yang
bersangkutan, seperti birokrasi atau peraturan-peraturan resmi yang dapat
menghambat seseorang dalam memanfaatkan sumberdaya. Kemiskinan
model ini seringkali diistilahkan dengan kerniskinan struktural. Menurut
pandangan ini, kemiskinan terjadi bukan dikarenakan "ketidakmauan" si
misikin untuk bekerja (malas), melainkan karena "ketidakmampuan" sistem
dan struktur sosial dalam menyediakan kesempatan-kesempatan yang
memungkinkan si miskin dapat bekerja.

Potret Kemiskinan di Indonesia


Masalah kemiskinan merupakan isu sentral di Tanah Air, terutama setelah
Indonesia dilanda krisis multidimensional yang memuncak pada periode

136

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

1997-1999. Setelah dalam kurun waktu 1976-1996 tingkat kemiskinan


menurun secara spektakuler dari 40,1 persen menjadi 11 ,3 persen, jumlah
orang miskin meningkat kembali dengan tajam, terutama selama krisis
ekonomi. Studi yang dilakukan BPS, UNDP dan UNSFIR menunjukkan
bahwa jumlah penduduk miskin pada periode 1996-1998, meningkat
dengan tajam dari 22,5 juta jiwa (11 ,3%) menjadi 49,5 juta jiwa (24,2%)
atau bertambah sebanyak 27,0 juta jiwa (BPS, 1999). Sementara itu, International Labour Organisation (ILO) memperkirakan jumlah orang miskin
di Indonesia pada akhir tahun 1999 mencapai 129,6 juta atau sekitar 66,3
persen dari seluruh jumlah penduduk (BPS; 1999).
Data dari BPS (1999) juga memperlihatkan bahwa selama periode
1996-1998, telah terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin secara hampir
sama di wilayah pedesaan dan perkotaan, yaitu menjadi sebesar 62,72%
untuk wilayah pedesaan dan 61,1% untuk wilayah perkotaan. Secara
agregat, presentasi peningkatan penduduk miskin terhadap total populasi
memang lebih besar di wilayah pedesaan (7,78%) dibandingkan dengan
di perkotaan (4,72%). Akan tetapi, selama dua tahun terakhir ini secara
absolut jumlah orang miskin meningkat sekitar 140% atau 10,4 juta jiwa
di wilayah perkotaan, sedangkan di pedesaan sekitar 105% atau 16,6 juta
jiwa (lihat Remi dan Tjiptoherijanto, 2002).
Berdasarkan definisi kemiskinan dan fakir miskin dari BPS dan Depsos
(2002), jumlah penduduk miskin pada tahun 2002 mencapai 35,7 juta
jiwa dan 15,6 juta jiwa (43%) di antaranya masuk kategori fakir miskin.
Secara keseluruhan, prosentase penduduk miskin dan fakir miskin terhadap
total penduduk Indonesia adalah sekira 17,6 persen dan 7,7 persen. lni
berart(bahwa secara rata-rata jika ada 100 orang Indonesia berkumpul,
sebanyak 18 orang diantaranya adalah orang miskin, yang terdiri dari 10
orang bukan fakir miskin dan 8 orang fakir miskin (Suharto, 2004:3).
Selain kelompok di atas, terdapatjuga kecenderungan di mana krisis
ekonomi telah meningkatkan jumlah orang yang bekerja di sektor informal. Merosotnya pertumbuhan ekonomi, dilikuidasinya sejumlah kantor
swasta dan pemerintah, dan dirampingkannya struktur industri formal telah
mendorong orang untuk memasuki sektor informal yang lebih fleksibel.

BAB

10 -

KEMISKINAN

137

1::.:

('.

Studi ILO (1998) memperkirakan bahwa selama periode krisis antara tahun
1997 dan 1998, pemutusan hubungan kerja terhadap 5,4 juta pekerja
pada sektor industri modern telah menurunkan jumlah pekerja formal dari
35 persen menjadi 30 persen. Menurut Tambunan (2000), sedikitnya
setengah dari para penganggur baru tersebut diserap oleh sektor informal
dan industri kecil dan rumah-tangga lainnya. Pada sektor informal perkotaan,
khususnya yang menyangkut kasus pedagang kaki lima, peningkatannya
bahkan lebih drarnatis lagi. Di Jakarta dan Bandung, misalnya, pada periode
akhir 1996-1999 pertumbuhan pedagang kaki lima mencapai 300 persen

(Kompas, 23 November 1998; Pikiran Rakyat, 11 Oktober 1999). Dilihat


dari jumlah dan potensinya, pekerja sektor informal ini saligat besar.
Namun demikian, seperti halnya dua kelompok masyarakat di atas, kondisi
sosial ekonomi pekerja sektor informal masih berada dalam kondisi miskin
dan rentan.
Data di atas mengindikasikan bahwa krisis telah membuat penderitaan
penduduk perkotaan lebih parah ketimbang penduduk pedesan. Menurut
Thorbecke (1999) setidaknya ada dua penjelasan atas hal ini:
1.

Krisis cenderung memberi pengaruh lebih buruk pada beberapa sektor


ekonomi utama di perkotaan, seperti perdagangan, perbankan dan
konstruksi. Sektor-sektor ini membawa dampak negatif dan
memperparah pengangguran di perkotaan.

2.

Pertambahan harga bahan makanan kurang berpengaruh terhadap


penduduk pedesaan, karena mereka masih dapat memenuhi kebutuhan
dasarnya melalui sistem produksi subsisten yang dihasilkan dan
dikonsumsi sendiri. Hal ini tidak terjadi pada masyarakat perkotaan
di mana sistem produksi subsisten, khususnya yang terkait dengan
pemenuhan kebutuhan makanan, tidak terlalu dominan pada masyarakat
perkotaan.

Angka kemiskinan ini akan lebih besar lagi jika dalam kategori
kemiskinan dimasukan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS)
yang kini jumlahnya mencapai lebih dari 21 juta orang. PMKS meliputi
gelandangan, pengemis, anak jalanan, yatim piatu, jompo terlantar, dan
penyandang cacat yang tidak memiliki pekerjaan atau memiliki pekerjaan

138

MEMBANGUN MASYARAKAT rvlEMBERDAYAKAN RAKYAT

namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara umum


kondisi PMKS lebih memprihatinkan ketimbang orang miskin. Selain
rnemiliki kekurangan pangan, sandang dan papan, kelompok rentan (vulnerable group) ini mengalami pula ketelantaran psikologis, sosial dan politik.

Paradigma Kemiskinan
Kemiskinan pada hakekatnya merupakan persoali:m klasik yang telah ada
sejak umat man usia ada. Hingga saat ini belum ditemukan suatu rumusan
maupun formula penanganan kemiskinan yang dianggap paling jitu dan
sempurna. Tidak ada konsep tunggal tentang kemiskinan. Strategi penanganan
kemiskinan masih harus terus menerus dikembangkan. Terdapat banyak
sekali teori dalam memahami kemiskinan. Bila dipetakan, literatur mengenai
kebijakan sosial dan pekerjaan sosial menunjukkan dua paradigma atau
teori besar (grand theory) mengenai kemiskinan: yakni paradigma neoliberal dan demokrasi-sosial (social-democracy). Dua paradigma atau
pandangan ini kemudian menjadi cetak biru (blueprint) dalam menganalisis
kemiskinan maupun merumuskan kebijakan dan program-program anti
kemiskinan (lihat Tabel1 0.1).

Teori Neo-liberal
Teori neo-liberal berakar pada karya politik klasik yang ditulis oleh Thomas Hobbes, john Lock dan John Stuart Mill. lntinya menyerukan bahwa
komponen penting dari sebuah rnasyarakat adalah kebebasan individu.
Dalam bidang ekonomi, karya monumental Adam Smith, The Wealth of
Nation (1776), dan Frederick Hayek, The Road to Serfdom (1944),

dipandang sebagai rujukan kaum neo-liberal yang mengedepankan azas


laissez faire, yang oleh Cheyne, O'Brien dan Belgrave (1998:72) disebut

sebagai ide yang mengunggulkan "mekanisme pasar bebas" dan


mengusulkan "the almost complete absence of state's intervention in the
economy".

BAB

10-

KEM!SKINAN

139

label 10.1: Teori Neo-liberal dan Demokrasi-Sosial tentang Kemiskinan

Neo-Liberal

PARADIGMA
Landasan Teoretis
Konsepsi dan
lndikator Kemiskinan
Penyebab Kemiskinan

Strategi
Penanggulangan
Kemiskinan

Demokrasi-sosial

Individual
Kemiskinan Absolut

Struktural
Kemiskinan Relatif

Kelemahan dan pilihanpilihan individu; lemahnya


pengaturan pendapatan;
lemahnya kepribadian (malas,
pasrah, bodoh).
Penyaluran pendapatan
terhadap orang miskin
secara selektif.
Memberi pelatihan
keterampilan pengelolaan
keuangan melalui inisiatif
masyarilkat dan LSM.

Ketimpangan struktur ekonomi


dan politik; ketidakadilan sosial

.
.

.
.

Penyaluran pendapatan dasar


secara universal
Perubahan fundamental
dalam pola-pola
pendistribusian pendapatan
melalui intervensi negara
dan kebiiakan sosial

Sumber: dikembangkan dari Cheyne, O'Brien dan Belgrave (1998:176).

Para pendukung neo-liberal berargumen bahwa kemiskinan merupakan


persoalan individual yang disebabkan oleh kelemahan-kelemahan dan/
atau pilihan-pilihan individu yang bersangkutan. Kemiskinan akan hi lang
dengan sendirinya jika kekuatan-kekuatan pasar diperluas sebesar-besarnya
dan pertumbuhan ekonomi dipacu setinggi-tingginya. Secara langsung,
strategi penanggulangan kemiskinan harus bersifat "residual", sementara,
dan hanya melibatkan keluarga, kelompok-kelompok swadaya atau lembagalembaga keagamaan. Peran negara hanyalah sebagai "penjaga malam"
yang baru boleh ikut campur manakala lembaga-lembaga di atas tidak
mampu lagi menjalankan tugasnya (Shannon, 1991; Spieker, 1995; Cheyne,
O'Brien dan Belgrave, 1998). Penerapan program-program

structural ad-

justment, seperti program jaringan pengaman sosial (JPS) di negara-negara


berkembang, termasuk Indonesia, sesungguhnya merupakan contoh kongkrit
dari pengaruh neo-liberal dalam bidang penanggulangan kemiskinan ini.

.,~

140

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Teori DemokrasiMsosial
Keyakinan yang berlebihan tehadap keunggulan mekanisme pasar dan
pertumbuhan ekonomi yang secara alamiah dianggap akan mampu
mengatasi kemiskinan dan ketidakdilan sosial mendapat kritik dari kaum
demokrasi-sosial. Berpijak pada analisis Karl Marx dan Frederick Engels,
pendukung demokrasi-sosial menyatakan bahwa "a free market did not
lead to greater social wealth, but to greater poverty and exploitation ... a
society is just when people's needs are met, arid when inequality and
exploitation in economic and social relations are eliminated" (Cheyne,
O'Brien dan Belgrave, 1998: 91 dan 97).
Teori demokrasi-sosial memandang bahwa kemiskinan bukanlah
persoalan individual, melainkan struktural. Kemiskinan disebabkan oleh
adanya ketidakadilan dan ketimpangan dalam masyarakat akibat
tersumbatnya akses-akses kelompok tertentu terhadap berbagai sumbersumber kemasyarakatan. Teori ini berporos pada prinsip-prinsip ekonomi
campuran (mixed economy) dan "ekonomi manajemen-permintaan" (demand-management economics) gaya Keynesian yang muncul sebagai
jawaban terhadap depresi ekonomi yang terjadi pada tahun 1920-an dan
awal1930-an.
Sistem negara kesejahteraan (welfare state) yang menekankan pentingnya
manajemen dan pendanaan negara dalam pemberian pelayanan sosial dasar
(pendidikan, kesehatan, perumahan dan jaminan sosial) bagi seluruh warga
negara dipengaruhi oleh pendekatan ekonomi Keynesian. Meskipun kaum
demokrasi-sosial mengkritik sistem pasar bebas, mereka tidak memandang
sistem ekonomi kapitalis sebagai evil yang harus dimusuhi dan dibuang
jauh. Sistem kapitalis masih dipandang sebagai bentuk pengorganisasian
ekonomi yang paling efektif. Hanya saja, kapitalisme perlu dilengkapi dengan
sistem negara kesejc.hteraan agar lebih berwajah manusiawi. "The welfare
state acts as the human face of capitalism," demikian menurut Cheyne,
O'Brien dan Belgrave, (1998:79).
Pendukung demokrasi-sosial berpendapat bahwa kesetaraan merupakan
prasyarat penting dalam memperoleh kemandirian dan kebebasan.

BAB

10 -

KEMISKINAN

141

Pencapaian kebebasan hanya dimungkinkan jika setiap orang memiliki


atau mampu menjangkau sumber-sumber, seperti pendidikian, kesehatan
yang baik dan pendapatan yang cukup. Kebebasan lebih dari sekadar
bebas dari pengaruh luar; melainkan pula bebas dalam menentukan pilihanpilihan (choices). Dengan kata lain kebebasan berarti memiliki kemampuan
(capabilities) untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Misalnya,

kemampuan memenuhi kebutuhan dasarnya, kemampuan menghindari

kematian dini, kemampuan menghindari kekurangan gizi, kemampuan


membaca, menulis dan berkomunikasi. Negara karenanya memiliki peranan
dalam menjamin bahwa setiap orang dapat berpartisipasi dalam transaksitransaksi kemasyarakatan yang memungkinkan mereka menentukan pilihanpilihannya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Menyerahkan
sepenuhnya penanganan kemiskinan kepada masyarakat dan LSM bukan
saja tidak akan efektif, melainkan pula mengingkari kewajiban negara
dalam melindungi warganya.
Menurut pandangan demokrasi-sosial, strategi kemiskinan haruslah
bersifat institusional (melembaga). Program-program jaminan sosial dan
bantuan sosial yang dianut di AS, Eropa Barat, dan Jepang, merupakan
contoh strategi anti kemiskinan yang diwarnai oleh teori demokrasi-sosial.
jaminan sosial yang berbentuk pemberian tunjangan pendapatan atau dana
pensiun, misalnya, dapat meningkatkan kebebasan karena dapat
menyediakan penghasilan dasar dengan mana orang akan memiliki
kemampuan (capabilities) untuk memenuhi kebutuhan dan menentukan
pilihan-pilihannya (choices). Sebaliknya, ketiadaan pelayanan dasartersebut
dapat menyebabkan ketergantungan (dependency) karen a dapat membuat
orang tidak memiliki kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dan
menentukan pilihan-pilihannya.
Dirumuskan secara tajam, maka dapat dikatakan bahwa kaum neoliberal memandang strategi penanganan kemiskinan yang melembaga
merupakan tindakan yang tidak ekonomis dan menyebabkan ketergantungan.
Sebaliknya, pendukung demokrasi-sosial meyakini bahwa penangananan
kemiskinan yang bersifat residual, beorientasi proyek jangka pendek, justru
merupakan strategi yang hanya menghabiskan dana saja karena efeknya

142

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

juga singkat, terbatas dan tidak berwawasan pemberdayaan dan


keberlanjutan. Apabila kaum neo-liberal melihat bahwa jaminan sosial
dapat menghambat "kebebasan", kaum demokrasi-sosial justru meyakini .
bahwa ketiadaan sumber-sumber finansial yang mapan itulah yang justru
dapat menghilangkan "kebebasan", karena membatasi dan bahkan
menghilangkan kemampuan individu dalam menentukan pilihan-pilihannya
(choices).

Perubahan Paradigma
Sadar bahwa isu kemiskinan merupakan masalah yang senantiasa aktual,
pengkajian konsep kemiskinan merupakan upaya positif guna menghasilkan
pendekatan dan strategi yang tepat dalam menanggulangi masalah krusial
yang dihadapi Bangsa Indonesia dewasa ini. Meskipun pembahasan
kemiskinan pernah mengalami tahap kejenuhan pada pertengahan 1980an, upaya peogentasan kemiskinan kini semakin mendesak kembali untuk
dikaji ulang. Beberapa alasan yang mendasari pendapat ini antara lain
adalab:
1.

Konsep kemiskinan masih didominasi oleh perspektif tunggal, yakni


"kemiskinan pendapatan" atau "income-poverty" (Chambers, 1997).
Pendekatan ini banyak dikritik oleh para pakar ilmu sosial sebagai
pendekatan yang kurang bisa menggambarkan potret kemiskinan secara
lengkap. Kemiskinan seakan-akan hanyalah masalah ekonomi yang
ditunjukkan oleh rendahnya pendapatan seseorang atau keluarga untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya.

2.

Jumlah orang miskin di Indonesia senantiasa menunjukkan angka


yang tinggi, baik secara absolut maupun relatif, di pedesaan maupun
perkotaan. Meskipun Indonesia pernah dicatatsebagai salah satu negara
berkembang yang sukses dalam mengentaskan kemiskinan, ternyata
masalah kemiskinan kembali menjadi isu sentral di Tanah Air karena
bukan saja jumlahnya yang kembali meningkat, melainkan dimensinya
pun semakin kompleks seiring dengan menurunnya kualitas hidup
masyarakat akibat terpaan krisis ekonomi sejak tahun 1997.

3.

Kemiskinan mempunyai dampak negatif yang bersifat menyebar (multiplier effects) terhadap tatanan kemasyarakatan secara menyeluruh.

BAB

10 -

KEMISKINAN

143

Berbagai peristiwa konflik di Tanah Air yang terjadi sepanjang krisis


ekonomi, misalnya, menunjukkan bahwa ternyata persoalan kemiskinan
bukanlah semata-mata mempengaruhi ketahanan ekonomi yang
ditampilkan oleh rendahnya daya beli masyarakat, melainkan pula
mempengaruhi ketahanan sosial masyarakat dan ketahanan nasional.
Banyak studi menunjukkan bahwa kemiskinan juga merupakan muara
dari maslah sosial lainnya. Masalah anak jalanan, perlakuakn salah
terhadap anak (child abuse), kekerasan dalam rurriah tangga, rumah
kumuh, kejahatan, alkoholisme, kebodohan, danpengangguran terkait
dengan masalah kemisikinan.

Menurut Hardiman dan Midgley (1982) dan Jones (1990), pekerjaan


sosial di Dunia Ketiga seharusnya lebih memfokuskan pada penanganan
masalah sosial yang bersifat makro, seperti kemiskinan. Karena merupakan
masalah dominan yang dihadapi oleh negara-negara berkembang.
Sayangnya, dalam perancangan kebijakan dan program anti kemiskinan
para pekerja sosial di Indonesia masih belum mampu memberikan
kontribusi. Khususnya dalam merumuskan konsep dan indikator kemiskinan
yang genuine dan sesuai dengan paradigma pekerjaan sosial. Penyebabnya
adalah karena para teoritisi dan praktisi pekerjaan sosial di Tanah Air
belum mampu memformulasikan kemiskinan sejalan dengan konsep
keberfungsian sosial (social functioning), fokus pertolongan profesi ini.
Hingga sekarang konsep ini masih belum dikembangkan lebih jauh untuk
menganalisis masalah kemiskinan. Ketika mengukur kemiskinan, para
pekerja sosiallebih confident jika memakai konsep-konsep "milik" profesi
lain. Padahal konsep keberfungsian sosial merupakan "harta terpendam"
yang dapat digali untuk mendekati dan mengukur kemiskinan.

Paradigma Lama
Hampir semua pendekatan dalam mengkaji kemiskinan masih berporos
pada paradigma neo-liberal yang dimotori oleh Bank Dunia dan didasari
oleh teori-teori modernisasi yang sangat mengagungkan pertumbuhan
ekonomi dan produksi (the production-centred model) (SLiharto, 2002).
Sejak pendapatan nasional (GNP) mulai dijadikan indikator pembangunan

144

MEMBANGUN MASYARAKAT MEMBERDAYAKAN RAKYAT

tahun 1950-an, para ilmu sosial selalu merujuk pada pendekatan tersebut
manakala berbicara masalah kemiskinan satu negara. Pengukuran kemiskinan
kemudian sangat dipengaruhi oleh perspektif income poverty yang
menggunakan pendapatan sebagai satu-satunya indikator "garis kemiskinan".
Meskipun GNP dapat dijadikan ukuran untuk menelaah performa
pembangunan suatu negara, banyak ahli menunjukkan kelemahan
pendekatan ini. Haq (1995), misalnya, menyatakan bahwa GNP
merefleksikan harga-harga pasar dalam bentuk nilai uang. Harga-harga
tersebut mampu mencatat kekuatan ekonomi dan daya beli dalam sistem
tersebut. Namun demikian, harga-harga dan nilai uang tidak dapat mencatat
distribusi, karakter atau kualitas pertumbuhan ekonomi. GNP juga
mengesampingkan segala aktivitas yang tidak dapat dinilai dengan uang,
seperti pekerjaan rumah tangga, pertanian subsisten, atau pelayananpelayanan yang tidak dibayar. Dan yang lebih serius lagi, GNP memiliki
dimensi-tunggal dan karenanya ia gagal menangkap aspek budaya, sosial,
politik dan pilihan-pilihan yang dilakukan manusia. Haq (1995:46)
menyatakan:

GNP reflects market prices in monetary terms. Those prices quietly

register the prevailing economic and purchasing power in the systembut they are silent about the distribution, character or quality of economic growth. GNP also leaves out all activities that are not monetisedhousehold work, subsistence agriculture, unpaid services. And what is
more serious, GNP is one-dimensional: it fails to capture the cultural,
social, political and many other choices that people make.
Seperti halnya GNP, pendekatan income poverty juga memiliki beberapa
kekurangan. Menurut Satterthwaite (1997) sedikitnya ada tiga kelemahan
pendekatan income poverty:
1.

Kurang memberi perhatian pada dimensi sosial dan bentuk-bentuk


esengsaraan orang miskin.

2.

Tidak mempertimbangkan keterlibatan orang miskin dalam menghadapi


kemiskinannya.

3.

Tidak menerangkan faktor-faktor yang menyebabkan kemiskinan.

BAB

10 -

KEMJSKINAN

145

Karena pendekatan GNP dan income poverty memiliki kelemahan


dalam memotret kemiskinan, sejak tahun 1970-an telah dikembangkan
berbagai pendekatan alternatif. Di antaranya adalah kombinasi garis
kemiskinan dan distribusi pendapatan yang dikembangkan Sen (1973);
Social Accounting Matrix (SAM) oleh Pyatt dan Round (1977), dan Physical Quality of Life Index (PQLI) oleh Morris (1977). Di bawah kepemimpinan

ekonom asal Pakistan, Mahbub Ul Haq, pada tahun 1990an UNDP


memperkenalkan pendekatan Human Development yang diformulasikan
dalam bentuk lndeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) dan lndeks Kemiskinan Manusia (Human Poverty Index). Pendekatan

ini relatif lebih komprehensif dan mencakup faktor ekonomi, sosial dan
budaya si miskin. Berporos pada ide-ide heterodox dari paradigma popular development, pendekatan ini memadukan model kebutuhan dasar (basic needs model) yang digagas Paul Streeten dan konsep kapabilitas (capability) yang dikembangkan Pemenang Nobel Ekonomi 1998, Amartya Sen.

Paradigma Baru
Bila dicermati, semua paradigma kemiskinan terdahulu masih tetap
menyimpan kelemahan. Konsepsinya masih melihat kemiskinan sebagai
kemiskinan individu dan kurang memperhatikan kemiskinan struktural.
Akibatnya, aspek aktor atau pelaku kemiskinan serta sebab-sebab yang
mempengaruhinya belum tersentuh secara memadai. Sistem pengukuran
dan indikator yang digunakannya terfokus pada "kondisi" atau "keadaan"
kemiskinan berdasarkan faktor-faktor ekonomi yang dominan. Orang miskin
hanya dipandang sebagai "orang yang serba tidak memiliki'': tidak memiliki
pendapatan tinggi, tidak terdidik, tidak sehat, dan sebagainya. Metodanya
masih berpijak pada outcome indicators sehingga belum menjangkau
variabel-variabel yang menunjukkan dinamika kemiskinan. Si miskin dilihat
hanya sebagai "korban pasif" dan objek penelitian. Bukan sebagai "manusia"
(human being) yang memiliki "sesuatu" yang dapat digunakannya baik

dalam mengidentifikasi kondisi kehidupannya maupun usaha-usaha


perbaikan yang dilakukan mereka sendiri.

146

MEMBANGUN MASYARAKAT MfMBERDAYAKAN RAKYAT

Kelemahan paradigma lama di atas menuntut perubahan pada fokus


pengkajian kemiskinan, khususnya menyangkut kerangka konseptual dan
metodologi pengukuran kemiskinan. Paradigma demokrasi-sosial dapat.
dijadikan dasar dalam rnerumuskan kembali konsep keberfungsian sosial
sebagai paradigma baru yang lebih sejalan dengan misi dan prinsip
pekerjaan sosial.

Keberfungsian Sosial
Keberfungsian sosial mengacu pada cara yang dilakukan individu-individu
atau kelompok dalam melaksanakan tugas kehidupan dan memenuhi
kebutuhannya. Konsep ini pada intinya menunjuk pada "kapabilitas" (capa-

bilities) individu, keluarga atau masyarakatdalam menjalankan peran-peran


sosial di lingkungannya. Baker, Dubois dan Miley (1992) menyatakan bahwa
keberfungsian sosial berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam
memenuhi kebutuhan dasar diri dan keluarganya, serta dalam memberikan
kontribusi positifbagi masyarakat. Konsepsi ini mengedepankan nilai bahwa
manusia adalah subjek dari segenap proses dan aktivitas kehidupannya.
Bahwa manusia memi!iki kernampuan dan potensi yangdapatdikembangkan
dalam proses pertolongan. Bahwa manusia memiliki dan/atau dapat
menjangkau, memanfaatkan, dan memobilisasi asset dan sumber-sumber
yang ada di sekitar dirinya.
Pendekatan keberfungsian sosial dapat menggambarkan karakteristik
dan dinamika kemiskinan yang lebih realistis dan komprehensif. Ia dapat
menjelaskan bagaimana keluarga miskin merespon dan mengatasi
permasalahan sosial-ekonomi yang tekait dengan situasi kemiskinannya.
Selaras dengan adagium pekerjaan sosial, yakni 'to help people to help

themselves', pendekatan ini memandang orang miskin bukan sebagai objek


pasif yang hanya dicirikan oleh kondisi dan karakteristik kemiskinan.
Melainkan orang yang memiliki seperangkat pengetahuan dan keterampilan
yang sering digunakannya dalam mengatasi berbagai permasalahan seputar
kemiskinannya. Ada empat poin yang diajukan pendekatan keberfungsian
sosial dalam studi kemiskinan: