Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.
Potensi sumberdaya batubara di Indonesia sangat melimpah, terutama di Pulau
Kalimantan dan Pulau Sumatera, sedangkan di daerah lainnya dapat dijumpai batubara
walaupun dalam jumlah kecil dan belum dapat ditentukan keekonomisannya, seperti di
Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua, dan Sulawesi.
Di Indonesia, batubara merupakan bahan bakar utama selain solar (diesel fuel)
yang telah umum digunakan pada banyak industri, dari segi ekonomis batubara jauh
lebih hemat dibandingkan solar, dengan perbandingan sebagai berikut: Solar Rp
0,74/kilokalori sedangkan batubara hanya Rp 0,09/kilokalori, (berdasarkan harga solar
industri Rp. 6.200/liter).
Dari segi kuantitas batubara termasuk cadangan energi fosil terpenting bagi
Indonesia. Jumlahnya sangat berlimpah, mencapai puluhan milyar ton. Jumlah ini
sebenarnya cukup untuk memasok kebutuhan energi listrik hingga ratusan tahun ke
depan. Sayangnya, Indonesia tidak mungkin membakar habis batubara dan
mengubahnya menjadi energis listrik melalui PLTU. Selain mengotori lingkungan
melalui polutan CO2, SO2, NOx dan CxHy cara ini dinilai kurang efisien dan kurang
memberi nilai tambah tinggi.
Dari paparan diatas dapat dilihat bahwa pemanfaatan batubara haruslah
mempertimbangkan komponen komponen yang ada dalam batubara,hal ini akan
sangat berkaitan dengan sisa atau residu dari pemanfaatan batu bara tersebut,apakah
mengandung polutan yang berbahaya atau tidak. Sehingga sangat diperlukan adanya
analisis komponen batubara. Oleh sebab itu kami membuat makalah ini untuk
mengetahui lebih jauh mengenai komponen apa saja yang terdapat dalam batubara,agar
nantinya batubara dapat diolah dan dimanfaatkan dengan cara dan teknis yang
semestinya.

1.2 Rumusan Masalah.


a. Komponen komponen apa saja yang terdapat didalam batubara?
b. Bagaimana metode analisis komponen yang terdapat dalam batubara?
c. Bagaimana cara pelaporan hasil analisis batubara?
1.3 Tujuan.
a. Mengetahui komponen komponen yang terdapat didalam batubara
b. Mengetahui dan memahami metode analisis komponen batubara
c. Mengetahui cara pembuatan pelaporan hasil analisis batubara

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Komponen komponen penyusun batubara
Batubara tersusun atas komponen komponen berikut ini :
2.1.1 Lengas / kadar air (moisture).
Lengas atau kadar air dapat dibedakan menjadi 2 macam,yaitu lengas permukaan
(free/surface moisture),dan lengas tertambat (inherent moisture).
Lengas permukaan adalah lengas yang berada pada permukaan partikel batubara akibat
pengaruh dari luar,seperti cuaca/iklim (hujan),penyemprotan di stockpile pada saat
penambangan atau transportasi,serta keadaan udara saat penyimpanan dan dapat hilang

dengan penguapan,misalnya air drying. Kandungan lengas dipengaruhi ukuran partikel


dimana dengan makin besarnya luas permukaan luar maka kadar lengas meningkat.
Lengas tertambat atau terikat,yaitu lengas yang terikat secara kimiawi dan fisika di dalam
batubara pada saat pembentukan batubara.
Lengas total adalah banyaknya air yang terkandung dalam batubara sesuai dengan kondisi
diterima, baik yang terikat secara kimiawi maupun pengaruh kondisi luar (Unsworth
dkk,1991).
2.1.2 Abu (Ash)
Abu di dalam batubara atau bisa juga disebut mineral matter, terjadinya di dalam batubara
dapat sebagai inherent mineral matter atau extraneous mineral matter.
Inherent mineral matter adalah berhubungan dengan tumbuhan asal pembentukan
batubara,mineral matter ini tidak dapat dihilangkan atau dicuci dari batubara. Extraneous
mineral matter berasal dari tanah penutup atau lapisan lapisan yang terdapat diantara
lapisan batubara,biasanya terdiri dari slate,shale,sandstone,clay atau limestone. Mineral
matter ini dapat dikurangi pada saat pencucian batubara.
Mineral matter atau abu dalam batubara terutama terdiri dari senyawa Si, Al, Fe dan
sedikit Ti, Mn, Mg, Na, K dalam bentuk silikat,oksida,sulfida,sulfat dan posfat,sedangkan
unsur seperti As, Cu, Pb, Ni, Zn dan Uranium terdapat sangat sedikit sekali yang disebut
trace element.
2.1.3 Zat Terbang (Volatile Matter).
Zat terbang terdiri dari gas gas yang mudah terbakar seperti H2,CO,metan dan uap uap
yang mengembun seperti tar,juga gas CO2 dan H2O. Zat terbang sangat erat hubungannya
dengan peringkat batubara. Makin kecil kadar zat terbang, maka makin tinggi peringkat
batubara.
2.1.4 Karbon Padat / Tertambat ( Fixed Carbon ).
Karbon padat / tertambat adalah karbon yang terdapat pada batubara yang berupa zat
padat. Makin tinggi kadar karbon padat makin tinggi peringkat batubara.
2.1.5 Unsur Unsur yang Terdapat dalam Batubara.
Unsur unsur yang ada dalam batubara terdiri dari karbon (C),hidrogen (H),oksigen
(O),belerang (S), dan nitrogen (N).
2.2 Analisis Kimia dan Pengujian Sifat Fisik Batubara
3

2.2.1 Analisis Proksimat


Analisis proksimat adalah analisis parameter yang ditunjukan pada saat
memberikan perlakuan panas terhadap batubara.

Air Moisture
Kandungan air ditentukan dengan menetapkan kehilangan berat air dari contoh bila

dipanaskan di bawah kondisi terkendali dari temperatur,waktu dan atmosfir,berat contoh


dan peralatan.
Contoh dengan berat kira kira 5 gram dibiarkan mengering didalam atmosfir
oven yang dipanaskan pada 105 110 0C didalam atmosfer yang inert sampai beratnya
konstant.

Abu (ash)
Abu ditentukan dengan menimbang sisa pembakaran contoh batubara dibawah

kondisi terkendali dari berat contoh,temperatur,waktu dan atmosfer. Temperatur


pembakaran agak berbeda beda menurut standar seperti 700 750 C dan ASTM, B.S
815 C,dll.

Zat Terbang ( Volatile Matter )


Zat terbang ditentukan dengan cara kehilangan berat hasil dari pemanasan batubara

dibawah kondisi terkendali. Kehilangan berat dikoreksi terhadap air. Ada dua faktor yang
mempengaruhi hasil yaitu temperatur akhir dan laju pemanasan.
Contoh dengan berat 1 gram yang ditempatkan dalam crussible platinum dimasukkan ke
dalam furnace yang dapat dipanaskan sampai 950 0C kurang lebih 200 0C. Nyala api yang
terlihat menunjukan terjadinya pembakaran zat terbang. Nyala api akan menghilang pada
waktu kira kira 7 menit,saat analisis dianggap selesai. Contoh dikeluarkan,dibiarkan
dingin dan ditimbang.

Fixed Carbon
Fixed carbon adalah sisa karbon yang ada setelah analisis zat terbang. Dia tidak

terbentuk seperti itu di dalam batubara,tetapi berupa hasil dekomposisi panas.


FC = 100 (% Air + % Abu + % Zat terbang)
2.2.2 Analisis Ultimat
4

Analisis ultimat adalah analisis yang dilakukan untuk mengetahui komposisi


unsure kimia yang menyusun batubara.

Penentuan kadar karbon dan hydrogen


Sample dioksidasi dengan oksigen murni dalam alat Micro Combustion

Furnace,sehingga seluruh hydrogen berubah menjadi air dan karbon menjadi karbon
dioksida. Gas hasil oksidasi ini dialirkan melalui penyerap air dan karbondioksida. Gas
hasil oksidasi ini dialirkan melalui penyerap gas gas tersebut.

Penentuan kadar nitrogen


Kadar nitrogen ditentukan dengan metode Kjedahl,yaitu sebagai berikut :

Sampel batubara didestruksi dengan asam sulfat pekat sehingga terbentuk garam
ammonium sulfat (NH4)2SO4. Melalui penambahan kalium hidroksida pada proses
distilasi,maka NH3 akan dibebaskan dan ditampung dengan asam borat. Kadar nitrogen
dapat dihitung dengan cara titrasi.

Penentuan kadar oksigen total


Kadar oksigen total ditentukan dengan cara perhitungan,menggunakan persamaan

berikut :
Kadar oksigen total = 100% - (abu + H + C + N + S ) %
Kadar oksigen terkoreksi = 100% - (abu + air + H terkoreksi + C + N + S )
Dimana :
Oksigen terkoreksi adalah kadar oksigen tidak termasuk oksigen dari air
Hidrogen terkoreksi adalah kadar hidrogen dari air
H terkoreksi = H total (0,1119 x kadar lengas )

Penentuan kadar sulfur total


Penentuan kadar sulfur dapat dilakukan dengan cara cara sebagai berikut :

a. Dengan metode Eschka

Sampel batubara dicampur dengan pereaksi Eschka ( MgO + Na2CO3) dan


dipanaskan dalam furnace sampai suhu 825 0C,kemudian dilarutkan dalam air
panas. Sulfat yang terbentuk kemudian diendapkan dengan BaCl2 membentuk
endapan BaSO4 dan selanjutnya ditetapkan dengan cara gravimetri.
b. penentuan kadar sulfur melalui pembakaran pada suhu tinggi
sampel batubara dibakar dalam tube furnace pada suhu 1350 0C dengan aliran
oksigen. Gas belerang oksida dan khlor yang terbentuk diserap oleh larutan
hidrogen peroksida,kemudian kadar belerang ditentukan dengan cara titrasi.
Koreksi dikerjakan untuk menghitung jumlah khlor yang terbentuk.
c. penentuan kadar sulfur secara deteksi infra red
Prinsip pengerjaan sama dengan cara pembakaran pada suhu tinggi akan tetapi gas
SO2 yang terbentuk dideteksi menggunakan sinar infra red.

Analisis komposisi abu batubara


Komposisi abu batubara terdiri dari senyawa senyawa Si, Ca, Fe, Al dan sedikit

Ka, Na, Mg, Mn dalam bentuk silikat,oksida,sulfat dan phosfat. Analisis komposisi abu
dapat dikerjakan dengan cara melebur atau melarutkan contoh abu tersebut sehingga
membentuk larutan,selanjutnya oksida logam yang terkandung dapat ditentukan
menggunakan alat sbb:
Atomic Absorption Spectrophotometer
Ultra Violet Spectrophotometer
2.2.3 Pengujian Sifat Fisik Batubara
Penentuan nilai kalor
nilai kalor batubara adalah panas yang dihasilkan oleh pembakaran setiap satuan
berat batubara pad kondisi standar. Nilai kalor batubara dapat dihitung dari
kenaikan suhu setelah pembakaran dengan mengadakan beberapa koreksi .
faktor koreksinya adalah :
- Panas akibat pembakaran kawat
- Panas pembentukan asam sulfat dan asam nitrat
Penentuan nilai ketergerusan hardgrove
6

nilai ketergerusan atau hardgrove adalah angka yang menunjukan kemudahan


batubara untuk digerus . nilai HGI yang tinggi menyebabkan batubara tersebut
mudah digerus dan sebaliknya.
Contoh :
50 gram contoh berukuran kurang lebih 1,2 mm 0,6 mm digerus selama 60
putaran. Contoh yang sudah digerus diayak dengan ayakan 75 m.
Grindability index dihitung berdasarkan rumus :
HGI = 13 + 6,93 W
Dimana W = berat material yang lolos ayakan 75 m
Penentuan nilai muai bebas
Nilai muai bebas adalah angka yang menunujukan pemuaian batubara yang
dipanaskan pada kondisi standar,dengan cara membandingkan profil dari kokas
yang terbentuk terhadap gambar profil standar .
Caranya yaitu dengan memanaskan 1 gram sampel batubara dalam cawan khusus
nuntuk nilai muai bebas dalam keadaan tertutup,pada suhu 820 5 0C selam 2,5
menit di dalam furnace khusus . kokas yang terbentuk diamati profilnya dengan
membandingkan pada gambar profil standar yang mempunyai nilai dari angka 1- 9.
Penentuan nilai pengkokasan batubara menurut gray king
Gray king adalah car pengujian sifat pengkokasan atau coking batubara
berdasarkan tipe kokas yang terbentuk.
Pengujian ini dilakukan dengan mengkarbonasi sampel batubara dalam tabung
silika pada suhu rendah 600 0C,kemudian kokas yang terbentuk dibandingkan
dengan gambar profil standar yang diklasifikan sebagai berikut :
a. bubuk (pulverulent)
b. pecah menjadi serbuk apabila dipegang ( break into powder on handling )
c. kompak tetapi rapuh apabila digores ( coherent,but friabble on rubbing ),
d. mengkerut agak keras (shrunken,moderately hard )
e. mengkerut,keras (shrunken,hard),
f. sedikit mengkerut dan keras(slightly shrunken,hard )

g. keras mempunyai volume sama dengan volume asal ( hard,occupies same


volume as original coal standard coke )
h. sedikit mengembang dan keras ( slightly swollen,hard )
i. mengembang lebih besar dan keras ( moderately swollen,hard)
j. sangat mengembang dan keras (highly swollen,hard,fills tube)
k. paling mengembang (very highly swollen)
parameter dari kokas ini diperlukan untuk penggolongan batubar berdasarkan
klasifikasi internasional.

Pengujian dilatometri sampel batubara menurut Audibert arnu


Dilatometri adalah nilai yang menunjukan terjadinya dilatasi ( pengembangan )
dan kontraksi ( pengerutan ) selama sampel batubara dipanaskan pada kondisi
standar.
Prinsip kerjanya adalah sebagai berikut :
Sampel batubara dicetak berbentuk pensil,dimasukkan kedalam tabung dilatometri
kemudian dipanaskan dalam furnace khusu untuk dilatometri. Selam proses
pemanasan

batubara

akan

mengalami

penguapan,pelunakan,dilatasi,kontraksi

beberapa

kemudian

fase,antara

pemadatan

lain

kembali

sifat

kontraksi dan dilatasi dari batubara tersebut dapat diamati dari grafik yang
terbentuk.
Penentuan sifat coking batubara menurut roga (roga index)
Nilai roga adalah angka yang menunjukan kemampuan batubara untuk
menggumpal (coking) bila dipanaskan pada kondisi standar.
Prinsip kerjanya adalah sbb :
Campuran sampel batubara dan standar antrasit dipanaskan tanpa oksidasi secara
cepat pada kondisi standar. Hasil kokas yang terbentuk diputar dalam drum
uji,kemudian disaring dengan saringan 1 mm. Nilai Roga dapat dihitung dari
jumlah kokas yang tidak lolos ayakan.
Penentuan titik leleh abu batubara
8

Titik lelh abu batubara adalah suhu yang menunjukan terjadinya perubahan
karakteristik dari abu batubara apabila dipanaskan pada kondisi standar .
Prinsip kerjanya adalah sebagai berikut :
Abu

batubara

dicetak

menjadi

bentuk

piramida

atau

bentuk

kubus,kemudian dipanaskan pada suasana reduksi atau oksidasi dan diamati secara
kontinyu.

2.3 Cara Melaporkan Hasil Analisis Batubara


Dalam pelaporan hasil analisis suatu batubara,diperlukan adanya basis atau dasar
yang digunakan sebagai acuan untuk melaporkan hasil analisis yang dilakukan. Basis
basis pelaporan batubara tersebut dibagi menjadi beberapa bagian,yaitu:
1.Air dried basis (adb) atau as analysed basis
Hasil ini diperoleh dari analisis batubara setelah pengeringan. Kebanyakan analisis
mula mula dilaporkan atas dasar ini, dan dapat diubah dengan perhitungan pada dasar
lain.
2. As sampled basis (asb) atau As Received (ar).
Pada basis ini berarti semua hasil analisis dihitung mundur dengan
memasukkakn kadar lengas total dari sampel. Hal ini mungkin dilakukan jika batubara
berada dalam keadaan sangat basah.
3. Dry basis (db)
Analisis didasarlan atas dasar persen bebas air untuk menghindari variasi pada
analisis proksimat yang disebabkan oleh perbedaan kandungan air (air dry).
4. Dry ash free basis (daf)
Dasar yang dipakai untuk menunjukan kondisi hipotesis dimana batubara
tersebut bebas dari air dan abu
5, Dry,mineral matter free basis (dmmf)
Dasar ini juga untuk menunjukan kondisi hipotesisi dimana batubara bebas dari
semua air dan mineral matter. Dasar ini biasa dipakai pada analisis ultimat,zat
terbang dan nilai kalori.
Berikut ini diberikan contoh pengaruh dasar pelaporan (basis) ynag berbeda pada
9

suatu hasil analisis batubara .


Contoh 1
Berat contoh basah
= x (ar)
Berat contoh udara kering
= y (ad)
% - moisture =

X Y
x100% D
X

Inherent moisture = Ma
Ma(100 D)
Total moisture = D
100
Contoh 2
Analisis proksimat ( air dried ) suatu batubara adalah sebagai berikut :
Inherent moisture = 2,6 %
Abu
= 8,1 %
Volatile meter
= 35,9%
Fixed Carbon
= 53,4%
---------100 %
% moisture (D) = 11,1 %
Maka anlisis proksimat (as received) adalah sebagai berikut :
2,6(100 11,1)
13,4%
Total moisture = 11,1
100
(100 13,4)
7, 2%
(100 2,6)
(100 13,4)
31,9%
Volatile meter = 35,9 x
(100 2,6)

Abu

= 8,1x

Fixed Carbon = 53,4 x

(100 13,4)
47,5%
(100 2,6)

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Komponen komponen yang terdapat dalam batubara terdiri dari lengas atau
moisture,abu,zat terbang,fixed carbon dan unsur unsur yang terdapat dalam
batubara,yaitu ( C,H,N,O dan S). Analisis batubara dibagi menjadi 2 jenis yaitu analisis
proksimat dan ultimat. Dasar dasar pelaporan hasil analisis batubara dibagi menjadi 5
yaitu .Air dried basis (adb) atau as analysed basis, As sampled basis (asb) atau As
10

Received (ar), Dry basis (db), Dry ash free basis (daf), Dry,mineral matter free basis
(dmmf).
3.2 Saran
Analisis batubara hendaknya disertai dengan penyajian data sesungguhnya dari
suatu praktikum mengenai analisis komponen suatu batubara,sehingga pemaparan hasil
analisis serta komponen komponen yang akan dijelaskan menjadi lebih mudah untuk
dipahami. Serta penambahan referensi referensi yang dapat mendukung isi dari sebuah
makalah dan dapat lebih menguatkan argument atau pendapat yang disampaikan penyaji.

DAFTAR PUSTAKA
Effendy, Sahrul, dkk. 2011. Pemanfaatan Batubara. Palembang : Politeknik Negeri
Sriwijaya.
Sanwani, Edi, dkk. 1998 . Pencucian Batubara. Bandung : Ciloto
http://idhamds.wordpress.com/2008/09/17/inorganik-matter-and-organikmatter-batubara/
http://id.wikipedia.org/wiki/Batu_bara
http://pengembanganintelektual.wordpress.com/2011/02/13/batubara-sebagaibatuan-induk-hidrokarbon/

11