Anda di halaman 1dari 11

BUDAYA ORGANISASI DAN

KINERJA ORGANISASI
PT. Pertamina EP (Exploration and Production)

Disusun oleh :
Elsa Siffana H.
Novia Karunia N. A.

5215100014
5215100050

Kevin Widarta Wong

5215100054

Gamal Akbar A.

5215100146

Pertamina EP
(Exploration and Production)
A. Profil Perusahaan
PT Pertamina EP adalah perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan usaha di
sektor hulu bidang minyak dan gas bumi, meliputi eksplorasi dan eksploitasi. Di
samping itu, Pertamina EP juga melaksanakan kegiatan usaha penunjang lain yang
secara langsung maupun tidak langsung mendukung bidang kegiatan usaha utama.
Saat ini tingkat produksi Pertamina EP adalah sekitar 117.000 barrel oil per day
(BOPD) untuk minyak dan sekitar 1.044 million standard cubic feet per day
(MMSCFD) untuk gas.
Wilayah Kerja (WK) Pertamina EP seluas 113,613.90 kilometer persegi
merupakan limpahan dari sebagian besar Wilayah Kuasa Pertambangan Migas PT
PERTAMINA (PERSERO). Pola pengelolaan usaha WK seluas itu dilakukan dengan
cara dioperasikan sendiri (own operation) dan kerja sama dalam bentuk kemitraan,
yakni 4 proyek pengembangan migas, 7 area unitisasi dan 39 area kontrak kerjasama
kemitraan terdiri dari 24 kontrak Technical Assistant Contract (TAC), 15 kontrak Kerja
Sama Operasi (KSO). Jika dilihat dari rentang geografinya, Pertamina EP beroperasi
hampir di seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

B. Budaya Organisasi
Budaya organisasi merupakan sistem penyebaran kepercayaan dan nilai-nilai
yang berkembang dalam suatu organisasi dan mengarahkan perilaku anggotanya.

Budaya organisasi PT Pertamina EP (PEP)


Sejak berdiri sebagai entitas bisnis sendiri pada tanggal 17 September
2005, PEP telah mengupayakan program transformasi

melalui Quality First

Transformation Program. Melalui program transformasi ini, PEP berupaya


membangun budaya baru menuju perusahaan berkelas dunia. Dalam pelaksanaan
program transformasinya, PEP menggunakan paradigma Orbex (Organizing for
Business Excellence) yang dalam salah satu pendekatannya membagi organisasi ke
dalam sisi teknis dan sisi manusia. EKB adalah salah satu wujud dari sisi manusia
yang terkait dengan pembentukan budaya. Sejalan dengan program tersebut,
dirasakan sudah saatnya untuk memiliki standar mengenai perilaku apa yang harus
diikuti dan diharapkan dari seluruh pekerja PEP. Standar perilaku inilah yang
disebut sebagai Etika Kerja & Bisnis (EKB). EKB ini merupakan landasan
berpikir dan bertindak seluruh pekerja PEP. Dalam menjalankan Standarnya PEP
memiliki 3 nilai landasan, yaitu:
1. Sincere
PEP dalam menjalankan usahanya selalu bertindak jujur dan bersih dari konflik
kepentingan.
2. Strong
PEP melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara mandiri, kukuh dan
kompeten.
3. Sensible
PEP senantiasa berwawasan luas dan peduli pada lingkungan dalam
menjalankan operasinya.

KINERJA PERUSAHAAN PT. PERTAMINA EP


(EXPLORE AND PRODUCTION)
Budaya organisasi dari PT Pertamina EP ditinjau dari:

1. Finansial
Saat ini produksi rata rata PT Pertamina EP mencapai 121.000 BOPD,
memang diakui produksi ini masih belum mencapai target yang ditetapkan
sebleumnya sebesar 132.000 BOPD, namun demikian di beberapa struktur
Pertamina EP terjadi peningkatan signifikan dari awal tahun 2013 sampai dengan
akhis semester 1, seperti misalnya di struktur semanggi di field cepu yang membuka
awal tahun 2013 dengan produksi sebesar 95 BOPD meningkat menjadi 444 BOPD
di akhir bulan Juli. Sama halnya dengan struktur lainnya di beberapa lapangan
seperti Tiung Biru, North Kutai Lama pun turut menunjukkan peningkatan.
Sementara untuk kinerja keuangan PT Pertamina EP, Laba setelah pajak
sampai dengan Agustus 2013 sebesar USD 1,42 Milyard atau setara dengan Rp.
14,07 Triliun dengan nilai kurs terhadap dollar Rp 9878,40. Pencapaian ini lebih
tinggi dibandingkan periode yang sama di Tahun 2012 yang mencapai USD 1,41
Milyard atau setara dengan Rp 13,1 Triliun dengan kurs rupiah terhadap dollar Rp
9271.
Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Sewindu sudah Pertamina EP
berjalan dengan agresivitasnya mencari sumber-sumber minyak dan gas bumi yang
ada di dalam perut bangsa Indonesia, hanya demi tersedianya energy untuk negeri
tercinta Negara Kesatuan Republik Indonesia pungkas Agus.

2. Konsumen
PT PERTAMINA EP dalam kegiatan usahanya di bidang gas bumi memiliki
beberapa konsumen yang keseluruhannya merupakan konsumen industri/perusahaan
(bukan perseorangan) yang terbagi dalam dua segmen yaitu segmen distributor dan
segmen end user. Perjanjian Jual Beli Gas antara PT PERTAMINA EP dengan
konsumennya dilakukan melalui kontrak jangka panjang dengan mencantumkan
syarat dan kondisi tertentu dalam pelaksanaannya, yaitu antara lain mengenai
spesifikasi produk/gas, kontinuitas pasokan dan kondisi pendukung lainnya,
sehingga dalam pelaksanaannya kesesuaian antara apa yang diharapkan dengan apa
yang diterima oleh pelanggan akan memunculkan respon kepuasan. Apabila PT

PERTAMINA EP tidak mampu memenuhi ketentuan yang telah disepakati di dalam


kontrak tentunya akan mengakibatkan ketidakpuasan dan bahkan dapat berpotensi
timbulnya gugatan/proses hukum yang dapat merugikan perusahaan. Hasil Survey
Kepuasan Pelanggan yang dilakukan PT PERTAMINA EP pada tahun 2008
menunjukkan masih adanya respon ketidakpuasan pelanggan yang berkaitan dengan
kontinuitas pasokan kepada pelanggan dalam kurun waktu sesuai kesepakatan) dan
ketepatan jumlah yang disalurkan. Bagi beberapa pelanggan gas seperti PLN dan
industri pupuk, kontinuitas pasokan menjadi hal yang sangat penting karena industri
tersebut berkaitan langsung dengan kepentingan banyak pihak.
Hasil Survei Kepuasan Pelanggan Gas
PT Pertamina EP Tahun 2008
No.

Keterangan

1.
2.
3.
4.
5.

Puas
Jumlah
23
20
15
19

%
71.9
62.5
46.9
59.4

Tidak Puas
Jumlah
%
9
28.1
12
37.5
17
53.1
13
40.6

Kontinuitas pasokan
Komposisi gas
Kandungan CO2 dan H2S
Tekanan
Kandungan air dan nilai
17
53.1
15
46.9
Kalori
Sumber : Survei PT PERTAMINA EP Tentang Kepuasan Pelanggan Tahun 2008

3. Proses Bisnis Internal


1. Mekanisme Pelaporan Jika Terjadi Pelanggaran
Semua pekerja memiliki hak dan kewajiban untuk melapor apabila ada
dugaan pelanggaran terhadap EKB, baik yang dilakukan oleh sesama pekerja atau
pihak-pihak yang terkait, secara sengaja atau tidak sengaja, yang dapat
mempengaruhi reputasi perusahaan.
Hak pelaporan ini harus dipergunakan secara bertanggung jawab dan
dilakukan hanya apabila diyakini terjadi pelanggaran, bukan pelaporan yang
bertujuan untuk menjatuhkan seseorang.
Pelaporan terhadap pelanggaran EKB dapat dilakukan melalui surat atau
email kepada atasan langsung, Pengawas Etika dan/atau Komite Etika & GCG.
Setiap pelaporan yang masuk akan diperhatikan secara serius dan akan

ditindaklanjuti. Kerahasiaan pelapor akan dilindungi. Jika terbukti terjadi


pelanggaran terhadap EKB, sanksi akan diberikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Atasan langsung harus menanggapi laporan pelanggaran yang masuk
secara serius dan melaksanakan tindak lanjut serta melaporkannya kepada
Pengawas Etika dan/atau Komite Etika & GCG.
Jika atasan langsung terlibat dalam dugaan pelanggaran atau tidak menanggapi
pelaporan yang diberikan, pekerja dapat melaporkan kepada Pengawas Etika
dan/atau Komite Etika & GCG. Perusahaan tidak memberi toleransi terhadap
segala macam bentuk intimidasi yang terkait dengan pelaporan yang benar.
Pertanyaan, isu, masukan, saran dan pelaporan dapat dilakukan melalui email
dengan alamat etika@pertamina-ep.com
2. Strategi Bisnis
"People, Process, Technology & Environment Approach" Merupakan
strategi utama perusahaan yang diterapkan di bidang korporat maupun pengelolaan
aset. Ada 4 (empat) aspek utama yang menjadi perhatian dalam penerapan strategi
ini.
1. Building Human Capital Excellence.
2. Establishing Living Database & Asset Management System.
3. Enhancing Subsurface and Surface Facility Method, System & Technology.
4. Strengthening HSSE Excellence & Society Trust.
3. Penjualan Migas
Komersialitas Minyak dan Gas adalah kegiatan lifting minyak mentah dan
gas bumi dari hasil kerja sendiri (Own Operation), UBEP, Mitra TAC ataupun
KSO. Produksi minyak mentah akan disalurkan untuk diolah ke kilang domestik
PT Pertamina (Persero). Sedangkan untuk gas bumi, hasil produksi akan
disalurkan kepada konsumen.

Mengedepankan kepentingan konsumen, maka perusahaan memiliki


mekanisme pengaduan konsumen sebagai berikut:
1. Komplain dari Konsumen dalam hal ini PT Pertamina (Persero) disampaikan
melalui surat kepada Perusahaan dan ditembuskan kepada SKKMIGAS atau
dapat langsung ke SKKMIGAS. Komplain biasanya meliputi jumlah volume
dan atau spesifikasi minyak.
2. Komplain tersebut ditindaklanjuti melalui verifikasi (jumlah volume yang
berbeda) atau analisa di laboratorium independen (spesifikasi minyak).
3. Setelah hasil verifikasi atau analisa sudah didapatkan, selanjutnya Perusahaan
menindaklanjuti untuk menyelesaikan komplain tersebut.
Selain pengaduan melalui surat seperti disebutkan diatas, Perusahaan
mengadakan koordinasi penyaluran minyak, shipper coordination, dan workshop
optimalisasi lifting secara berkala sebagai tindak lanjut dari keluhan konsumen dan
sebagai kontrol optimalisasi lifting kedepannya.
4. Wilayah Kerja
PT Pertamina EP mendapatkan kepercayaan dari pemerintah dan
pemegang saham untuk mengelola wilayah kerja seluas 113,613.90 km2
berdasarkan kontrak minyak dan gas bumi Pertamina dengan BPMIGAS (kini
SKKMIGAS) pada tanggal 17 September 2005. Untuk pengelolaan wilayah
kerja, Pertamina EP menerapkan suatu pola pengoperasian sendiri (own
operation) dan beberapa kerja sama kemitraan yakni 4 proyek pengembangan
migas, 7 area unitisasi dan 52 area kontrak kerjasama kemitraan terdiri dari 27
kontrak Technical Assistant Contract (TAC), 25 kontrak Kerja Sama Operasi
(KSO). Jika dilihat dari rentang geografinya, Pertamina EP beroperasi hampir
di seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.
Wilayah kerja Perusahaan terbagi ke dalam beberapa Asset

Asset 1 : Rantau, Pangkalan Susu, Lirik, Jambi, Ramba

Asset 2 : Adera, Limau, Pendopo, Prabumulih

Asset 3 : Tambun, Subang, Jatibarang

Asset 4 : Cepu

Asset 5 : Bunyu, Tarakan, Sangatta, Sangasanga, Tanjung, Papua

Selain itu Perusahaan juga mengelola proyek-proyek seperti

Proyek Pakugajah di Sumatera Selatan,

Proyek Pengembangan Gas Jawa,

Proyek Pengembangan Gas Matindok (Sulawesi Tengah), dan

Proyek Pengembangan Gas Pondok Makmur.

4. LEARN AND GROWTH


1. Learn
A. Eksplorasi
Aktivitas eksplorasi memainkan peran penting untuk menjaga tingkat
cadangan minyak dan gas serta mencegah penurunan produksi. Tujuan dari
kegiatan eksplorasi di Pertamina EP adalah untuk memperoleh cadangan
migas baru di dalam maupun di luar negeri. Aktivitas ini sejalan dengan
strategi perusahan untuk memperluas basis sumber daya.
Kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi yang dilakukan Perusahaan
meliputi kegiatan studi Geologi dan Geofisika, pematangan lead dan prospek,
kegiatan survei Geologi dan Geofisika, serta pemboran eksplorasi.

Inovasi baru dan strategi yang cerdas dibutuhkan untuk meningkatkan


keberhasilan eksplorasi. Strategi kami untuk keberhasilan eksplorasi adalah:

Membuka peluang dan menciptakan lingkungan yang kreatif.

Mengaplikasikan konsep-konsep baru.

Mengaplikasikan teknologi maju.

Berani mengambil risiko atas keputusan manajemen.


Kami optimis, rangkaian strategi ini akan membantu kami mendapatkan

lebih banyak lagi cadangan minyak dan gas baik di Indonesia maupun di luar
negeri.
B. Eksploitasi
Produksi minyak dan gas Perusahaan diperoleh melalui kegiatan operasi
produksi sendiri (own operation) di 5 Asset dan kerja sama dalam bentuk
kemitraan, yakni 4 proyek pengembangan migas, 7 area unitisasi dan 52 area
kontrak kerjasama kemitraan terdiri dari 27 kontrak Technical Assistant
Contract (TAC), 25 kontrak Kerja Sama Operasi (KSO).
Dari sisi pengelolaan aset, Perusahaan menerapkan dua pola
pengelolaan yakni pengelolaan operasi sendiri dan pola kemitraan. Hal ini
dimaksudkan agar perusahaan dapat melaksanakan kegiatan operasi secara
lebih fokus dan terarah.
Dalam hal kemitraan, kerjasama antara Perusahaan dengan para mitra
dalam mengelola lapangan eksplorasi dan produksi merupakan salah satu upaya
dalam mengoptimalkan wilayah kerja. Pertamina memberikan kesempatan
kepada para mitra kerja untuk bekerjasama dalam pengelolaan wilayah KSO
dimaksud dengan mengutamakan aspek keuangan, engineering, serta tidak

mengabaikan unsur keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja serta


kepedulian terhadap lingkungan.
2. Growth
PT Pertamina EP adalah perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan
usaha di sektor hulu bidang minyak dan gas bumi, meliputi eksplorasi dan
eksploitasi. Di samping itu, Pertamina EP juga melaksanakan kegiatan usaha
penunjang lain yang secara langsung maupun tidak langsung mendukung bidang
kegiatan usaha utama.
Atas dasar itulah PT Pertamina EP didirikan pada 13 September 2005.
Sejalan dengan pembentukan PT Pertamina EP maka pada tanggal 17 September
2005, PT Pertamina (Persero) telah melaksanakan penandatanganan Kontrak Kerja
Sama (KKS) dengan BPMIGAS yang berlaku surut sejak 17 September 2003
atas seluruh Wilayah Kuasa Pertambangan Migas yang dilimpahkan melalui
perundangan yang berlaku. Sebagian besar wilayah PT Pertamina (Persero)
tersebut dipisahkan menjadi Wilayah Kerja (WK) PT Pertamina EP. Pada saat
bersamaan, PT Pertamina EP juga melaksanakan penandatanganan KKS dengan
BPMIGAS yang berlaku sejak 17 September 2005.
Dengan demikian WK PT Pertamina EP adalah WK yang dahulu dikelola
oleh PT Pertamina (Persero) sendiri dan WK yang dikelola PT Pertamina (Persero)
melalui TAC (Technical Assistance Contract) dan JOB EOR (Joint Operating Body
Enhanced Oil Recovery).
Dengan tingkat pertumbuhan produksi rata-rata 6-7 persen per tahun, PT
Pertamina EP memiliki modal optimisme kuat untuk tetap menjadi penyumbang
laba terbesar PT Pertamina (Persero). Keyakinan itu juga sekaligus untuk
menjawab tantangan pemeritah dan masyarakat yang menginginkan peningkatan
produksi migas nasional.
Saat ini tingkat produksi Pertamina EP adalah sekitar 120 ribu barrel oil
per day (BOPD) untuk minyak dan sekitar 1.003 million standard cubic feet per
day (MMSCFD) untuk gas.

Wilayah Kerja (WK) Pertamina EP seluas 140 ribu kilometer persegi


merupakan limpahan dari sebagian besar Wilayah Kuasa Pertambangan Migas PT
PERTAMINA (PERSERO). Pola pengelolaan usaha WK seluas itu dilakukan
dengan cara dioperasikan sendiri (own operation) dan kerja sama dalam bentuk
kemitraan, yakni Joint Operating Body Enhanced Oil Recovery (JOB-EOR)
sebanyak tiga kontrak dan Technical Assistant Contract (TAC).