Anda di halaman 1dari 5

1.

Morbus Hansen
Penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae
terutama menyerang kulit, mukosa nasal dan syaraf perifer.
Leprosy menunjukan spektrum klinis yang khas yang berhubungan dengan
perubahan histopatologi dan status imunologi penderita, yang dapat
dikategorikan dalam:
a. Tuberculoid leprosy( TT)
Mikroskopik : dalam dermis tampak dijumpai adanya granuloma
epiteloid, yang terdiri dari sel epitelioid, giant cell langhans serta
limfosit dibagian perifer. Granuloma ini mengikuti adneksa kulit dan
syaraf dermal. Granuloma dapat mengerosi tepi bawah lapisan
epidermis . Basil lepra tidak dijumpai pada lesi yang telah tenang.
b. Lepromatous leprosy (LL)
Mikroskopik : Dalam dermis dijumpai granuloma yang terdiri dari
foamy makrofag. Sel foamy makrofag ini disebut sel Lepra/ Sel Virchow.
Granuloma mengikuti syaraf dan adneksa kulit. Lapisan epidermis
dipisahkan dari granuloma oleh Grenz zone. BTA banyak dijumpai di
dalam makrofag, kelenjar keringat, syaraf, sel Schwann dan endotel
pempuluh darah. Patogenesis : Penderita dengan jenis LL mempunyai
defect pada respon cellular- mediated immunity
c. Borderline lepromatous leprosy (BL)
Dijumpai granuloma terdiri dari sel makrofag dan sedikit sel epitelioid.
Sitoplasma sel makrofag lebih granular. Grenz zone juga dijumpai pada
lepra tipe BL
d. Borderline Tuberculoid leprosy (BT)
Granuloma epitelioid lebih sedikit dibanding dengan tipe TT, dan
granuloma tidak mengerosi bagian bawah lapisan epidermis. Masih
dapat dijumpai giant cell langhans
e. Borderline leprosy (BB)
Bisa dijumpai granuloma epitelioid, tidak dijumpai giant cell langhans,
sel limfosit tersebar dalam granuloma
2.

Tuberkulosis kulit
Jarang terjadi secara primer pada kulit. Dapat terjadi pada anak maupun
dewasa yang didapat akibat trauma minor atau kontak dengan bahan yang
terinfeksi oleh basil TBC.
Mikroskopik :
Epidermis bereaksi lichenoid, sebagian dengan pola pertumbuhan verukosa,
hiperkeratosis. Superfisial dermis bersebuk padat sel radang limfosit dan sel
plasma, diantaranya dijumpai bentukan granuloma-granuloma terdiri dari sel
datia Langhans, sel-sel epiteloid, nekrosis pengijuan. Dalam deep dermis
tampak kelenjar sudorifera .

3.

Moluscum contagiosum
Merupakan kelainan kulit dan mukos diakibatkan oleh infeksi virus subgenus
Molluscipoxvirus yang ditularkan secara kontak langsung melalui abrasi
minor atau secara tidak langsung via fomited. Sering menyerang anak-anak,
tapi dapat dijumpai pada semua usia.

Makroskopik :
Terdiri dari sejumlah kecil papul ,waxy ,berbentuk kubah, berwarna seperti
kulit, diskret, Ukuran 2 sampai 4 mm. Kadang papul disertai tanda
peradangan dan lesi dapat involusi secara spontan. Dapat timbul pada folikel
rambut.

Mikroskopik :
Epidermis akantosis, beberapa sel keratinosit berisi intracytoplasmic
inclusion body yang disebut Moluscum bodies tepat diatas lapisan basal
dan akan membesar secara progresif . Pada level stratum granulosum
molluscum bodies menjadi bertambah besar dan menempati seluruh sel.
4.

Verruca vulgaris (Warts)


adalah : infeksi yang disebabkan oleh infeksi HPV-2 tapi kemungkinan
diinduksi oleh HPV-1, -4, -7 dan -49, sering dijumpai pada anak dan remaja ,
tetapi juga bisa dijumpai pada semua usia. Transmisi melalui kontak langsung
dan autoinoculation. Penyakit ini dapat sembuh sendiri dan regresi spontan
pada usia 6-12 tahun. Predileksi : bagian dorsal jari tangan dan tangan.
Mikroskopik : Epidermis mengalami acanthosis , hyperkeratosis,
parakeratosis, hypergranulosis dan papilomatosis (verrucous), rete rigde
memanjang, inward kearah sentral.Tampak sel koilosit pada stratum
granulosum dan lapisan diatasnya. Dermis terdiri dari jaringan ikat
fibrokolagen, tampak folikel rambut, glandula sudorifera.

5.

Psoriasis vulgaris
adalah radang kronik pada kulit ditandai adanya papul dan plaque yang
merah kecoklatan. Lesi berbatas tegas, kering, biasanya ditutupi sisik
bewarna keperakan (silvery/white scales). Predileksi : regio kepala, sacrum,
permukaan extensor extremitas, pada penderita tertentu dapat mengenai
area flexural dan intertrigineus.
Mikroskopik :
Sediaan terdiri dari epidermis mengalami hiperplasia psoriasiformis, , rete
ridges memanjang,
akantosis, parakeratosis, hiperkeratosis. Pada stratum corneum, pada
gundukan parakeratosis tampak mikroabses berisi sel radang neutrofil
(abses Munro) . Pada lapisan di bawah stratum corneum yang mengalami
parakeratotis tampak spongiosis intradermal bersebuk sel radang neutrofil
(Kogoj
spongioform
pustule).
Tampak
fokus-fokus
penipisan
suprapapillary plate. Papila dermis memanjang
, dengan pembuluhpembuluh darah dilatasi dan berkelok, infiltrasi sel radang limfosit dan
neutrofil di superfisial dermis.

6.

Chromoblastomycosis
adalah : penyakit infeksi jamur pada kulit yang disebabkan fungi yang
berpigmen (dermatiaceous).
Mikroskopik :
Sediaan biopsi kulit menunjukkan gambaran granuloma supuratif, yaitu
granuloma-granuloma yang terdiri dari sel-sel epiteloid, sel datia langhans,
sel radang neutrofil. Dijumpai juga spora bentuk bulat-spheris dengan

membran tebal warna kecoklatan dalam kelompok maupun terlepas satu-satu


pada granuloma maupun dalam giant cell. Epidermis yang melapisi
menunjukkan pola pseudoepitheliomatous hyperplasia.
7.

Keloid
Adalah pertumbuhan jaringan ikat yang tumbuh berlebihan pada kulit bekas
luka
Mikroskopik :
Sediaan dari regio pipi kanan berupa massa tumor bentuk nodular terdiri dari
epidermis berlapis epitel squamous kompleks parakeratosis, dengan rete
ridges sebagian besar memendek dan rata (atrofik), dermis terdiri dari
jaringan ikat fibrokolagen yang hyperplastik bersebuk fokal ringan sel radang
limfosit, PMN dan sel plasma serta tidak dijumpai adneksa kulit.

8.

Keratosis seboreik (seborrheic keratosis)


Keratosis seborheik adalah tumor epidermal yang berpigmen ini paling sering
terjadi pada usia pertengahan atau individu yang lebih tua. Tumbuh spontan
dalam jumlah banyak di daerah badan, ekstremitas, kepala dan leher.
Makroskopis:
Plak berbentuk bulat menyerupai koin, eksofitik dengan diameter yang
bervariasi dari beberapa mm sampai beberapa cm.
Mikroskopis:
Epidermis mengalami hiperkeratosis. Sel tumor tersusun membentuk pola
lembaran-lembaran , sel-sel berukuran kecil menyerupai sel basal dari
epidermis normal. Adanya pigmen melanin dalam jumlah bervariasi diantara
sel basaloid. Kadang dijumpai kista kecil berisi keratin (horn cyst) atau
pertumbuhan keratin ke arah bawah dan masuk ke dalam bagian massa
tumor (pseudohorn cyst)

9.

Karsinoma sel basal


Karsinoma sel basal adalah tumor ganas epitelial yang berasal dari sel basal,
tumor tumbuh lambat dan jarang bermetastasis. Cenderung pada tempattempat yang terpajan sinar matahari. Kelainan ini berhubungan dengan jalur
Hedgehog akibat kecacatan pada gen PTCH (suatu tumor supressor gen) atau
mutasi gen TP53.
Makroskopis:
Biasanya berupa papula yang sering disertai dengan dilatasi pembuluh darah
(telangiektasis) yang mencolok. Sebagian tumor mengandung pigmen
melanin sehingga menyerupai suatu nevus melanositik atau melanoma.
Mikroskopis:
Dua pola pertumbuhan yang sering adalah pertumbuhan multifokal yang
berasal dari epidermis (pola superfisial) dan lesi nodular yang merupakan
pertumbuhan ke arah bawah ke dalam dermis sebagai pulau-pulau dari sel
basal yang bervariasi dengan inti yang hiperkromatik, diantara stroma yang
fibrotik atau musinosa. Inti sel tumor di daerah perifer berderet sepanjang
lapisan terluar membentuk pola seperti pagar (palisading), yang sering
terpisah dari stroma membentuk gambaran khas celah/parit (silt like
retraction)

10.
Karsinoma Sel Skuamosa
Karsinoma sel skuamosa adalah tumor ganas epitelial yang berasal dari sel
skuamosa, lazimnya tumor ini tumbuh di daerah yang terpajan sinar
matahari. Laki-laki lebih sering dari perempuan. Faktor predisposisi
karsinogen dari industri (tar dan minyak), ulkus kronik, luka bakar lama,
paparan arsenik dan radiasi pengion.
Makroskopis:
Biasanya berupa plak berbatas tegas, merah dan bersisik. Pada kasus yang
berat dapat berupa nodul ulseratif maupun verukosa.
Mikroskopis:
Sel-sel skuamosa dengan atipia inti derajat tinggi, mengalami gangguan
polaritas dan kohesifitas, dan sel tumor telah invasi ke dalam stroma
menembus membrana basalis. Pada karsinoma yang mengalami keratinisasi
dapat dijumpai mutiara tanduk atau individual diskeratosis.
11.
Melanoma
Melanoma adalah keganasan yang lebih jarang terjadi dibanding karsinoma
sel basal atau karsinoma sel skuamosa tetapi lebih mematikan. Ada dua fase
pertumbuhan :
1. Fase pertumbuhan radial: tumor cenderung untuk tumbuh horizontal di
dalam epidermis (in situ) memerlukan waktu yang berlangsung lama,
tidak memiliki kemampuan metastasi dan angiogenesis.
2. Fase pertumbuhan vertikal: tumor tumbuh ke arah bawah masuk ke
lapisan
dermis , sel tidak mengalami maturasi, memiliki potensi
metastasis.
Makroskopis:
Tumor dengan permukaan tidak rata, dengan variasi
pigmentasi yang
mencolok (kehitaman, coklat, merah, biru tua dan abu-abu), tepi tumor tidak
rata, sering bertakik ( cekungan tajam seperti gergaji/notched).
Mikroskopis:
Sel ganas tumbuh membentuk sarang-sarang atau pulau-pulau yang tidak
beraturan, sebagian tersebar satu-satu dari lapisan epidermis yang meluas
sampai ke lapisan dermis, sering tampak infiltrasi sel radang limfoisit pada
stroma. Sel tumor berukuran besar, inti besar , ireguler, kromatin vesikuler
berkumpul ditepi, anak inti eosinofilik ,mencolok. merah (cerry red), mitosis
abnormal mudah dijumpai.