Anda di halaman 1dari 10

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Profil Puskesmas


Kabupaten Kepulauan Meranti adalah salah satu kabupaten di provinsi Riau,
Indonesia. Kabupaten Meranti merupakan kabupaten pemekaran dari kabupaten
Bengkalis dibentuk pada tanggal 19 Desember 2008, Dasar hukum berdirinya
kabupaten Kepulauan Meranti adalah Undang-undang nomor 12 tahun 2009,
tanggal 16 Januari 2009.
Ibukota kabupaten kepulauan meranti adalah Selatpanjang. Secara
administratif pada tahun 2010, daerah ini terbagi menjadi tujuh kecamatan dan 78
desa. Pada tahun 2010, jumlah penduduk berdasarkan hasil sensus penduduk (SP)
Badan Pusat Statistik (BPS) Bengkalis jumlah penduduk meningkat sekitar 176,4
ribu jiwa,yang terdiri dari 90.577 laki-laki,dan 85.794 perempuan dengan Luas
kabupaten Kepulauan Meranti 3707,84 km
Pusat Kesehatan Masyaratakat (Puskesmas) merupakan pusat informasi,
pengembangan, pembinaan dan pelayanan kesehatan masyarakat yang sekaligus
merupakan pos terdepan dalam Pembangunan Kesehatan Masyarakat, untuk
dimaksud tersebut Puskesmas mempunyai fungsi tugas selain tekhnis juga
administrasi. 6 Upaya Program Pokok Pembangunan Kesehatan yang meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Promosi Kesehatan
KIA-KB.
Perbaikan Gizi
Kesehatan Lingkungan
Pemberantasan Penyakit Menular
Pengobatan
Kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum perlu diwujudkan

sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UUD


1945 melalui Pembangunan Nasional yang berkesinambungan berdasarkan
Pancasila

dan

UUD

1945.

Pembangunan

Kesehatan

bertujuan

untuk

meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang
25

26
agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal, hal ini tertuang dalam
visi Indonesia Sehat 2010 yang merupakan cerminan masyarakat, bangsa dan
Negara Indonesia dengan ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku
sehat

dan

dalam

lingkungan

sehat,

untuk

mencapai

tujuan

tersebut

diselenggarakan pembangunan kesehatan yang berkesinambungan baik oleh


pemerintah maupun masyarakat.
Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini mempunyai peran
ganda (double burden). Penyakit menular masih merupakan masalah, sementara
penyakit degeneratif juga muncul sebagai masalah. Penyakit menular tidak
mengenal batas wilayah administrasi, sehingga menyulitkan pemberantasannya.
Dengan tersedianya vaksin yang dapat mencegah penyakit menular tertentu, maka
tindakan pencegahan untuk mencegah berpindahnya penyakit dari satu daerah ke
daerah lain atau satu Negara ke Negara lain dapat dilakukan dalam waktu relatif
singkat dan dengan hasil yang efektif.
Salah satu strategi pembangunan kesehatan nasional untuk mewujudkan
Indonesia Sehat adalah menerapkan pembangunan Nasional berwawasan
kesehatan, yang berarti setiap upaya program pembangunan harus mempunyai
kontribusi positif terbentuknya lingkungan yang sehat dan berperilaku sehat.
Sebagai acuan Pembangunan Kesehatan mengacu pada konsep Paradigma Sehat
yaitu pembangunan kesehatan yang memberikan prioritas utama pada upaya
pelayanan peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif)
dibandingkan upaya pelayanan penyembulan/pengobatan (kuratif) dan pemulihan
(rehabilitatif) secara menyeluruh dan terpadu dan berkesinambungan..
Menurut data sasaran UPTD Kesehatan Puskesmas Wilayah kerja
Selatpanjang Kecamatan Tebing Tinggi pada tahun 2011 jumlah penduduk
sebanyak 33.599 jiwa. Puskesmas Selatpanjang membawahi wilayah kerja
sebanyak 8 desa yaitu: Selat Panjang, Tanjung Sari, Selat Panjang Timur
Tanjung Gadai, Sungai Tohor, Teluk Buntal, Nipah Sendanu, dan Kepau Baru.

4.1.1 Data Geografis

26

27
Puskesmas Selatpanjang Terletak di Kelurahan Selatpanjang Kota, yang
Berbatasan Dengan :
Utara :

Kecamatan Rangsang Barat

Selatan:

Pulau Sumatra

Barat :

Kecamatan Tebing Tinggi Barat

Timur :

Kecamatan Rangsang

Secara geografis kabupaten Kepulauan Meranti berada pada koordinat


antara sekitar 0 42' 30" - 1 28' 0" LU, dan 102 12' 0" - 103 10' 0" BT, dan
terletak pada bagian pesisir timur pulau Sumatera, dengan pesisir pantai yang
berbatasan dengan sejumlah negara tetangga dan masuk dalam daerah Segitiga
Pertumbuhan Ekonomi (Growth Triagle) Indonesia - Malaysia - Singapore (IMSGT ) dan secara tidak langsung sudah menjadi daerah Hinterland Kawasan Free
Trade Zone (FTZ) Batam - Tj. Balai Karimun.
4.1.2 Data Demografis
1. Kependudukan
Kependudukan Kabupaten Meranti diantaranya:
a. Distribusi penduduk menurut golongan umur dan jenis kelamin.
Penduduk diwilayah kerja Puskesmas Selat panjang pada tahun 2011
berjumlah 33.599 jiwa terdiri dari Laki-laki 15.665 dan Perempuan 17.934 jiwa.
b. Angka Kelahiran Kasar
Angka kelahiran kasar wilayah Puskesmas Selat panjang adalah 873
kelahiran, angka kelahiran ini diperoleh dan laporan Bidan Desa, Puskesmas
Pembantu dan sebagian dan dukun terlatih setiap bulannya..
c. Kepadatan penduduk
Luas wilayah Puskesmas Selat panjang adalah 543 km persegi dengan
jumlah penduduk 33.599 jiwa, jumlah KK 7.427 jiwa dengan jumlah kepadatan
penduduk 620 jiwa / km2, kepadatan penduduk pada masing-masing desa tidak
merata.
2. Sosial Ekonomi
27

28
Tingkat sosial di wilayah Puskesmas Selat panjang umumnya homogen dan
pendapatannya sebagian besar pedagang, Pegawai Negeri, sopir becak, buruh
industri pohon sagu dan perikanan. mengenai pendapatan perkapita pertahun
belum didata.
Tingkat Pendidikan untuk wilayah pedesaan umumnya tamat SD dan
SLTPdan masih sedikit sekali yang tamat perguruan tinggi dan untuk wilayah
perkotaan umumnya tamatan SLTA hingga perguruan tinggi, sedangkan yang
melek huruf sebanyak 2389 orang atau 9,03% dari jumlah penduduk.
Dengan melihat tingkat pendidikan tersebut diatas keinginan masyarakat
untuk menyerap informasi Kesehatan sebenarnya sudah cukup memadai untuk
wilayah perkotaan, namun faktor ekonomi dan pengetahuan yang menyebabkan
kurangnya kemampuan masyarakat untuk menyerap informasi tentang kesehatan,
untuk mengatasinya perlu dilakukan usaha dan pembinaan yang sangat optimal.
3. Lingkungan Fisik dan Biologi
Dari pendataan kesehatan lingkungan tahun 2010 diperoleh jumlah rumah
diwilayah Puskesmas kota Selat panjang terdiri 62,7% permanent, 22,8% semi
permanent dan sisanya 14,5% tidak permanent. Hal ini sangat berhubungan
dengan tingkat ekonomi masyarakat sehingga jelas kemampuan untuk
membangun rumah yang memenuhi syarat kesehatan masih kurang, rata-rata
rumah yang ada dihuni oleh 4-5 orang, sehingga tingkat kepadataannya dapat
dikatakan cukup baik.
Sebagai sumber air bersih sebagian besar menggunakan sumber air bor serta
air hujan. Tempat pembungan air besar umumnya sudah menggunakan jamban
keluarga dan sedikit saja yang masih disungai dan selokan, untuk SPAL sudah
banyak menggunakannya tetapi masih banyak yang hanya saluran air hujan.
4. Derajat Kesehatan Masyarakat
Secara umum bergizi baik namun masih ditemui balita bergizi kurang, pada
tahun 2011 persentase balita bergizi baik 65,12 % atau 2931 jiwa dari jumlah
balita yang ditimbang sebesar 4501 jiwa dan persentase balita bergizi kurang
sebesar 34,88 % atau 1570 jiwa dari jumlah balita yang ditimbang 4501 jiwa,
28

29
sedangkan jumlah bergizi buruk 0%, gizi lebih 0%. Masih ditemukannya balita
bergizi kurang disebabkan krisis ekonomi yang berkepanjangan sehingga tingkat
kemampuan penduduk untuk memperoleh gizi yang baik kurang, masalah
kekurangan gizi pada anak balita ini dapat diatasi dengan menggunakan dana
JPKMM dan dana Penanggulangan Kasus Gizi kurang dari Dinas Kesehatan
Kabupaten Kepulauan Meranti dengan diberikannya makanan tambahan berbagai
bentuk.
4.1.3 Sumber Daya Kesehatan yang Ada
Upaya Kesehatan yang telah dilakukan di Puskesmas Selatpanjang selama
tahun 2011 mencakup 6 program pokok Puskesmas, tetapi ada sebagian kegiatan
tidak bisa sepenuhnya dilaksanakan karena keterbatasan sarana dan tenaga,
sebagai gambaran dapat kami sajikan sebagai berikut:
Jumlah kunjungan rawat jalan di Puskesmas Selatpanjang pada tahun 2011
adalah Umum 29008 orang, cakupan kunjungan pelayanan rawat jalan Puskesmas
Selatpanjang 86,6%.
Cakupan kunjungan Bayi (minimal 4 kali) jumlahnya 736 bayi atau 83,4%.
Presentase terbesar di Puskesmas Selatpanjang Kota dengan 92,9%, terendah di
Puakesmas Sungai Tohor dengan 56,6 %.
Cakupan Imunisasi di wilayah Puskesmas Selatpanjang adalah 100%
(cakupan Campak) dan drop out rate sebesar 0%. Cakupan ibu hamil dan
menyusui diambil dari cakupan kunjungan KIA dan posyandu serta kunjuungan
KIA Puskesmas Selatpanjang juga dan Puskesmas Pembantu dan Bidan Desa
Cakupan kunjungan ibu hamil di Puskesmas Selatpanjang Kota adalah
sebesar 98,4% (K1) dan 98,1 % (K4) terbesar di Puskesmas Kepau baru dengan
156.4% (K1) 135.9%(K4), terendah di Tanjung Gadai 88.7% (K1) dan 86.8%
(K4). Cakupan Persalinan oleh tenaga Kesehatan adalah sebesar 100% Cakupan
Keluarga Berencana sebesar KB baru 8,3 % dan KB aktif 72.7%.
Peran Serta Masyarakat. Sejauh ini untuk mengukur peran serta masyarakat
dalam bidang kesehatan hanyalah dari beberapa indikator out put program, dan
untuk selanjutnya dapat kami sajikan beberapa data yang berkaitan dengan peran
serta masyarakat :
29

30
1. Jumlah Desa siaga : 8 buah.
2. Jumlah Posyandu : 30 buah.
Setiap Desa telah mempunyai Posyandu masing masing Desa 1 buah
Posyandu, dengan jumlah kader tidak sama setiap Posyandu sedangkan masing
masing Poskesdes dihuni oleh 1 orang tenaga Bidan Desa.
4.1.4 Sarana Pelayanan Kesehatan yang Ada
Untuk mendekatkan dan memberikan pelayanan kesehatan secara
menyeluruh kepada masyarakat diperlukan sarana kesehatan yang mencukupi,
adapun macam-macam sarana kesehatan tersebut antara lain Puskesmas induk,
Puskesmas Pembantu, Polindes, Posyandu dan Puskesmas Keliling.

4.2 Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan di KIA Puskesmas Selat Panjang Kabupaten


Meranti Provinsi Riau pada ibu yang berumur lebih dari 26 tahun dan paritas lebih
dari dua. Jumlah sampel yang didapatkan sebanyak 34 orang.
4.2.1

Karakteristik responden
Distribusi karakteristik responden berdasarkan umur ibu, paritas, jumlah

anak hidup, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan perkapita dapat dilihat pada
Tabel di bawah ini: paritas, jumlah anak hidup, pendidikan, dan pekerjaan
Tabel 4.1 Distribusi karakteristik responden berdasarkan umur
Presentase

Jumlah

56,3
43,8

16
18

Variabel
Umur ibu
>26 - 35 tahun
>35 tahun

Berikut ini merupakan diagram karakteristik responden menurut kelompok umur


yang ditunjukkan pada gambar 4.1 berikut:

30

31
Umur Responden

>26-35 Tahun

>35 Tahun

Tabel 4.2 Distribusi karakteristik responden berdasarkan paritas


Presentase

Jumlah

71,9
28,1
100

Variabel
Paritas
3-4
5
Total

26
8

Berikut ini merupakan diagram karakteristik responden menurut kelompok paritas


yang ditunjukkan pada gambar 4.2 berikut:
Paritas

3--5

Tabel 4.3 Distribusi karakteristik responden berdasarkan jumlah anak


Presentase

Jumlah

38,2
61.7
100

13
21

31

Variabel
Jumlah anak hidup
<3
3

32
Jumlah anak hidup

<3

\
Tabel 4.4 Distribusi karakteristik responden berdasarkan pendidikan
Presentase

Jumlah

38,2
61.7
100

13
21

Variabel
Pendidikan
Tidak sekolah
SD dan SMP sederajat
SMA sederajat

Tabel 4.4 Distribusi karakteristik responden berdasarkan pendidikan


Pendidikan

Tidak sekolah

SD dan SM P sederajat

SM A sederajat

Tabel 4.5 Distribusi karakteristik responden berdasarkan pekerjaan


Presentase
26,4
73,5

Jumlah

Variabel
Pekerjaan
Bekerja
Tidak bekerja

9
25
32

33
100

Pekerjaan

Bekerja

Tidak bekerja

Berdasarkan Tabel 4.1 4.5 dapat dilihat bahwa responden terbanyak pada
kelompok umur 27-35 tahun sebanyak 18 orang (43,8%). Paritas responden dalam
penelitian ini dikelompokkan menjadi dua yaitu paritas 3-4 kali dan paritas 5.
Responden terbanyak dengan paritas 3-4 sebanyak 26 orang (71,9%). Frekuensi
terbesar responden berdasarkan jumlah anak hidup adalah responden dengan
jumlah anak hidup 3 yang berjumlah 21 orang (61,7%). Responden terbanyak
berdasarkan tingkat pendidikan adalah SD dan SMP sederajat yaitu sebanyak 25
orang (73.5%). Frekuensi terbesar responden berdasarkan pekerjaan adalah
responden yang tidak bekerja sebanyak 25 orang responden (73,5%).
Distribusi karakteristik responden berdasarkan pengetahuan, sikap dan
pemakaian kontrasepsi mantap wanita dapat dilihat pada Tabel 4.2 di bawah ini:

Tabel 4.6 Distribusi karakteristik responden berdasarkan pengetahuan, sikap dan


pemakaian kontrasepsi mantap wanita
Karakteristik responden
Pengetahuan
Baik
Cukup
Kurang

15
9
11

60,9
23,4
15,6

Sikap
33

34
Positif
Netral
Negatif

15
19
0

44,1
55,8
0

Pemakaian kontrasepsi
mantap wanita
Memakai
Tidak memakai

16
18

47,0
52,9

Berdasarkan Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa frekuensi terbesar responden


menurut tingkat pengetahuan adalah responden dengan pengetahuan baik
sebanyak 60.9% (15 orang) sedangkan 19 responden (55.8,3%) bersikap netral
terhadap kontrasepsi mantap wanita. Distribusi responden terbanyak berdasarkan
pemakaian kontrasepsi mantap wanita adalah responden yang tidak memakai
kontrasepsi mantap wanita yaitu sebesar 52,9%.

34