Anda di halaman 1dari 4

Pedoman Perayaan Hari Raya Galungan dan

Kuningan
1. ACUAN
1. Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu disyahkan
PHDI Pusat.
2. Kidung Panji Amalat Rasmi
3. Lontar Purana Bali Dwipa
4. Lontar Sri Jayakasunu
5. Lontar Sundarigama
2. TUJUAN
Perayaan Galungan dan Kuningan bertujuan mengingatkan umat Hindu agar senantiasa
memenangkan dharma dalam kehidupan sehari-hari.
Dharma adalah kecenderungan Trikaya parisuda yang disebut sebagai Dewa Sampad, sedangkan
kebalikannya, yaitu Adharma adalah kecenderungan sifat dan prilaku keraksasaan atau Asura
Sampad.
Sanghyang Tiga Wisesa berwujud sebagai Bhuta Dungulan, Bhuta Galungan dan Bhuta
Amangkurat adalah symbol Asura Sampad yang ada dalam diri setiap manusia, yaitu
kecenderungan ingin lebih unggul (Dungul), kecenderungan ingin menang dalam pertikaian
(Galung), dan kecenderungan ingin berkuasa (Amangkurat).
3. RANGKAIAN UPACARA
1. Tumpek Wariga. Memuja Sanghyang Sangkara, memohon agar semua tumbuh-tumbuhan
subur dan berbuah lebat. Upacara dipusatkan di kebun, sawah dan Sanggah Pamerajan.
2. Coma Paing Warigadean. Memuja Bhatara Brahma, memohon keselamatan diri. Upacara
dipusatkan di Sanggah Pamerajan.
3. Wraspati Wage Sungsang (Sugihan Jawa). Mensucikan Bhuwana Agung. Upacara
dipusatkan di Sanggah Pamerajan.
4. Sukra Kliwon Sungsang (Sugihan Bali). Mensucikan Bhuwana Alit. Upacara dipusatkan
di Sanggah Pamerajan, dan melaksanakan tirtha yatra.

5. Redite Paing Dungulan (Penyekeban). Anyekung jnana sudha nirmala, menggelar


samadhi menguatkan tekad memenangkan dharma. Upacara dipusatkan di Sanggah
Pamerajan.
6. Coma Pon Dungulan (Penyajaan). Menguatkan samadhi melawan pengaruh-pengaruh
Asura Sampad. Upacara dipusatkan di Sanggah Pamerajan.
7. Anggara Wage Dungulan (Penampahan). Jaya prakoseng prang, memenangkan Dewa
Sampad. Upacara mabeakala bagi seluruh keluarga dan memasang penjor diluar
pekarangan rumah.
8. Buda Kliwon Dungulan (Galungan). Memuja Ida Sanghyang Widhi atas asung wara
nugraha-Nya memberi kehidupan dan perlindungan bagi umat manusia. Upacara
dipusatkan di Pura, Sanggah Pamerjan dan tempat-tempat suci lainnya.
9. Wraspati Umanis Dungulan (Manis Galungan). Melakukan dharma santi, saling
mengunjungi keluarga dan sahabat serta saling maaf memaafkan. Di malam hari terus
menerus sampai dengan Sukra Wage Kuningan selama 9 (sembilan) malam melakukan
samadhi Nawa Ratri, berturut-turut memuja Bhatara Iswara, Mahesora, Brahma, Rudra,
Mahadewa, Sangkara, Wisnu, Sambu, dan Tri Purusha (Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa).
10. Saniscara Pon Dungulan (Pemaridan Guru). Ngelungsur
membersihkan Sanggah Pamerajan dan metirtha yatra.

upakara

Galungan,

11. Redite Wage Kuningan (Ulihan). Memuja Bhatara dan Leluhur menstanakan di pelinggih
masing-masing. Upacara dipusatkan di Sanggah Pamerajan.
12. Coma Kliwon Kuningan (Pemacekan Agung). Nyomia Sanghyang Tiga Wisesa. Upacara
di halaman rumah dengan mecaru alit.
13. Budha Paing Kuningan. Pujawali Bhatara Wisnu. Upacara di Sanggah Kemulan.
14. Saniscara Kliwon Kuningan (Kuningan). Memuja Ida Sanghyang Widhi dan Roh Leluhur
mohon senantiasa berada di jalan dharma. Upacara di Sanggah pamerajan sebelum jam
12 siang agar getaran kesucian dan kekuatan Dewa Sampad merasuk kedalam diri kita.
15. Buda Kliwon Paang (Pegatuakan). Memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam
manifestasi-Nya sebagai Sanghyang Suksma Licin. Upacara dipusatkan di Sanggah
Pamerajan. Mencabut penjor.
4. PENJOR
1. Penjor adalah upakara yang wajib disertakan pada setiap hari raya Galungan, mulai
ditancapkan pada Anggara Wage Dungulan dan dicabut pada Buda Kliwon Paang.

2. Makna penjor: Ucapan terima kasih kepada Bhatara Maha Meru yang telah memberikan
pengetahuan dan kemakmuran kepada umat manusia.
3. Kelengkapan dan arti symbol-symbol:
o Sebatang bambu sebagai symbol keteguhan hati untuk berbhakti kepada Ida
Sanghyang Widhi.
o Hiasan berbentuk bakang-bakang sebagai symbol Atarva Veda
o Hiasan berbentuk tamyang sebagai symbol Sama Veda
o Hiasan berbentuk sampyan sebagai symbol Yayur Veda
o Hiasan berbentuk lamak sebagai symbol Rg Veda
o Pala gantung, pala bungkah dan kain putih-kuning sebagai symbol kemakmuran
dan kecukupan sandang-pangan-perumahan
o Ubag-abig sebagai symbol kekuatan dharma
o Sanggah cucuk untuk menempatkan sesaji berupa tegteg daksina peras ajuman
4. Cara
memasang
penjor:
Sebelum penjor ditanam, lobang galian agar disucikan dengan banyuawang kemudian
didasar lobang diletakkan kwangen dengan uang logam11 kepeng. Juntaian ujung penjor
mengarah ke teben, yaitu Barat (Pascima) atau Kelod (untuk di Buleleng, arah ke
Utara/ Uttara) sehingga sanggah cucuk yang diikatkan di penjor menghadap ke hulu,
yaitu Timur (Purwa) atau Kaja (untuk di Bulleng, arah ke Selatan/Daksina). Penjor
ditancapkan disebelah kiri pemedal rumah/Sanggah Pamerajan/ Pura. Setiap hari penjor
di haturi canang burat wangi.
5. Cara
mencabut
penjor:
Semua hiasan penjor dibakar, dan abunya dimasukkan kedalam lobang bekas penjor,
kemudian diletakkan sebuah takir berisi bubur susuru (tepung beras, madu, susu dan tiga
helai padang lepas digodok menjadi bubur). Setelah itu lobang ditimbun tanah. Bambu
bekas penjor dapat digunakan untuk keperluan lain.
5. GALUNGAN NADI
Adalah Galungan yang bertepatan dengan Purnama. Rangkaian upacaranya sama dengan
Galungan biasa, tetapi jenis upakaranya setingkat lebih tinggi. Galungan Nadi lebih
diistimewakan karena diberkahi oleh Sanghyang Ketu, sebagaimana halnya perayan Galungan
pertama pada tahun 804 Saka yang bertepatan dengan Purnama sasih Kapat.
6. GALUNGAN NARA MANGSA

Adalah Galungan yang bertepatan dengan Tilem sasih Kapitu atau Tilem sasih Kesanga. Disebut
sebagai hari Dewa mauneb bhuta turun. Pada hari Galungan Nara Mangsa upakara yang
disebut tumpeng Galungan ditiadakan, diganti dengan caru nasi cacahan dicampur keladi. Tidak
memasang penjor, tetapi upacara lainnya tetap dilaksanakan.