Anda di halaman 1dari 11

A.

Latar Belakang

Danau Rawapening adalah danau yang terjadi secara alamiah karena igir Payung Rong telah
membendung Kali Tuntang sehingga menjadi bendungan dengan bentuk agak membulat
karena terkait dengan proses geologi yang membentuknya. Kemudian bendungan ini
disempurnakan oleh pemerintah Belanda dengan melakukan pembangunan dam pada tahun
1912 1916 dengan memanfaatkan Kali Tuntang sebagai satu-satunya pintu keluar. Danau
ini kemudiaan diperluas pada tahun 1936 mencapai + 2.667 Ha pada musim penghujan dan
pada akhir musim kemarau luas Danau Rawapening mencapai + 1.650 Ha.
Danau Rawapening terletak pada Astronomi 704 LS - 7030 LS dan 1100 2446 BT
11004906 BT, dan berada di ketinggian antara 455 465 meter di atas permukaan laut
(dpl) serta dikelilingi oleh tiga gunung: Merbabu, Telomoyo, dan Ungaran. Letak danau ini
strategis karena berada di tepian Jalan Raya Nasional Semarang - Solo dan Semarang
Yogyakarta, serta berada di jalan antar Ambarawa Kota Salatiga. Secara administrasi
Danau Rawapening berada di Kabupaten Semarang, dan daerah tangkapannya sebagian
besar berada di Kabupaten Semarang serta hanya sebagian kecil
berada di Kota Salatiga tepatnya wilayah Kecamatan Sidomukti dan Kecamatan
Argomulyo. Areal Danau Rawapening secara administratif masuk 4
Kecamatan di Kabupaten Semarang yakni :
-

Sebelah Utara

: Kecamatan Bawen

Sebelah Selatan

: Kecamatan Banyubiru

Sebelah Timur

: Kecamatan Tuntang

Sebelah Barat

: Kecamatan Ambarawa

Perairan Indonesia seperti danau yang begitu luas dan berpotensi tinggi telah
mempunyai banyak hasil dari kegiatan industri perikanan. Namun banyaknya kegiatan
yang terjadi telah mengakibatkan rusaknya kondisi perairan yang dapat menurunkan
kualitas perairan tersebut sehingga dapat menurunkan daya guna, hasil guna,
produktivitas, daya dukung dan daya tampung dari sumber daya air yang pada akhirnya
akan menurunkan kekayaan sumber daya alam (natural resources depletion). Penurunan
produktivitas tersebut akan banyak mengalami beberapa ancaman terhadap kualitas air,
diantaranya pengalihan air dalam jumlah berlebih yang dapat menurunkan tinggi
permukaan dan volume air sampai tingkat dimana kualitas air dan kehidupan biota yang
didukungnya menjadi terancam. Selain itu dapat menyebabkan terjadinya eutrofikasi,
yang dapat mendorong pertumbuhan spesies alga/gulma air (blooming). Peristiwa peledakan
populasi (blooming) dari spesies gulma air ini banyak menimbulkan suatu permasalahan dan
kerugian di perairan tersebut diantaranya pendangkalan, serta terhambatnya kegiatan
penangkapan atau kegiatan perikanan lainnya. Banyaknya gulma air dapat menimbulkan
kerugian, salah satu gulma air tersebut adalah eceng gondok (Eichhornia crassipes (Mart)
Solms.). Di negara yang memiliki perairan luas seperti Indonesia, tumbuhan air eceng
gondok memiliki banyak manfaat, diantaranya sebagai biofilter cemaran logam berat, bahan
baku anyaman dan campuran pakan ternak (Marianto, 2002), namun eceng gondok dapat
dikenal sebagai gulma air apabila tumbuhan air ini terdapat di perairan dan menutupi 6070%
permukaan perairan.

B. Dasar Teori

Eichhornia crassipes adalah nama spesies dari tumbuhan air yang mempunyai klasifikasi
sebagai berikut (Pancho dan Soerjani, 1978) :
Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Monocotyledone

Ordo

: Farinosae

Famili

: Pontederiaceae

Genus

: Eichhornia

Spesies

: Eichhornia crassipes (Mart) Solms.

Nama Lokal

: bengkok, eceng gondok, eceng padi, gendet (Gopal dan Sharma,


1981)

Nama Lain

: Inggris : water hyacinth,


Malaysia : keladi bunting/bunga jamban
Brazil : agupes (Gopal dan Sharma, 1981)

Tipe tumbuhan : mengapung (floating)

Keterangan : B:helai daun (Leaf blade); F1: bunga (Flower); L: ligula (Ligule);
F:gabus pengapung; I:leher daun (Isthmus); R:akar; S:stolon; rc:ujung akar; rh:akar rambut

Eceng gondok pertama masuk ke Indonesia yaitu pada tahun 1894 di Kebun Raya Bogor
sebagai tanaman hias. Tumbuhan air yang dikenal dengan nama water hyacinth ini

termasuk perennial (Waterhouse, 1987) yang dapat mengapung bebas di air dan dapat
membentuk populasi yang relatif besar hingga membentuk pulau terapung floating island
(SEAMEO-BIOTROP, 1990). Tumbuhan air ini hidup pada iklim tropis dan subtropis (Gopal
dan Sharma, 1981). Menurut Sculthorpe (1971) dalam Widjaja (2004), tumbuhan ini dapat
mengapung karena adanya petiole yang mempunyai gabus pengapung (Bulbous Spongy
Float) yang mengandung sekitar 70 % udara. Tumbuhan ini berbatang dengan buku pendek,
mempunyai garis tengah 1-2,5 cm, panjang 1-30 cm, dan lebar 5-25 cm.
Eceng gondok berakar serabut, tidak bercabang dan tidak berbulu dengan panjang 0,30-0,50
m. Akarnya sangat kuat dan dibungkus oleh semacam zat tanduk, dimana berat akarnya
adalah 20-50 % dari berat tumbuhan eceng gondok (Sculthorpe, 1971 dalam Widjaja, 2004).
Menurut Gopal dan Sharma, 1981, eceng gondok yang tumbuh pada air yang kaya akan unsur
hara akan mempunyai petiole (batang) yang panjang hingga lebih dari 100 cm dan akar yang
pendek kurang dari 20 cm sedangkan eceng gondok yang tumbuh pada air yang miskin hara,
panjang petiole kurang dari 20 cm dan berbentuk bulat namun akarnya
lebih dari 60 cm. Tanaman ini mempunyai stolon dengan garis tengah 0,5-2 cm, panjang
sampai 40 cm atau lebih pendek bila tumbuh rapat. Tangkai daun panjangnya hingga 30 cm
(Soerjani, 1980) berbatasan dengan helai daun yang menyempit dan sifatnya
mendangkalkan dan menimbulkan spon yang menggelembung seperti gondok yang
membuat tumbuhan ini mengapung. Daun eceng gondok berbentuk bulat dan lebar, tulang
daun melengkung rapat dengan panjang 7-25 cm. Daun paling bawah mempunyai helaian
kecil dan pelepah yang berbentuk tabung sedangkan daun yang teratas berbentuk tabung.
Bunga eceng gondok berwarna ungu muda seperti mahkota, yang terbesar berbecak kuning di
tengah (Soerjani, 1980), tersusun melingkar poros pada suatu kelompok (karangan) yang

berbentuk bulir dan bertangkai panjang. Bunga terdapat di ujung batang, berada pada tangkai
dengan 2 daun pelindung dan dalam satu karangan bunga berjumlah 10-35 (Widjaja, 2004).
Benang sari berjumlah 6 dan bengkok, 3 benang sari lebih besar dari yang lain. Besarnya
kepala sari kerap kali berbeda dan dapat berbunga secara serempak sepanjang tahun. Eceng
gondok setiap tahun berbunga dan setelah 20 hari terjadi penyerbukan, kemudian buah
masak, lepas dan pecah sampai akhirnya biji tersebut masuk ke dalam air (biji dapat
mencapai 5-6 ribu per tanaman dengan masa hidupnya 15 tahun).
Eceng gondok berkembang biak dengan cara vegetatif (stolon) dan generatif.
Perkembangbiakan secara vegetatif memegang peranan penting dalam pembentukan
koloni. Perkembangbiakan tersebut yaitu dengan melalui perpanjangan stolon yang pada
ujungnya akan tumbuh tunas baru dan dapat terlepas setelah tumbuhan tersebut menjadi
dewasa. Perkembangbiakan bergantung kepada kadar oksigen yang terlarut dalam air dan
pada konsentrasi 3,5-4,8 ppm perkembangbiakan dapat berlangsung cepat. Tanaman ini
dapat berkembang biak dengan cepat di alam bebas dengan sinar matahari yang kuat
(Marianto, 2002). Proses pertumbuhannya dimulai pada gumpalan tanah humus yang
mengapung. Stolon kemudian tumbuh diatasnya dengan akar baru yang melindungi tanaman
dari tenggelam. Eceng gondok menyebar secara cepat dengan stolon dan tetap mengapung
karena banyaknya ruang udara pada tanaman tersebut dan hidup di tempat tergenang.
Tanaman ini tidak tahan terhadap kondisi salinitas tinggi. Pada air hangat yang kaya akan
nutrien/unsur hara, eceng gondok mampu memperbanyak diri 8-10 individu/hari.
Eceng gondok yang berkembang dan menyebar dengan cepat banyak
menimbulkan beberapa kerugian di perairan umum salah satunya evapotranspirasi.
Tingkat evaporasi dan transpirasi air dari suatu badan air dipengaruhi oleh suhu,

kecepatan air dan struktur karakteristik pada spesies tanaman sehingga dengan adanya
eceng gondok memungkinkan mempengaruhi kehilangan air dari suatu perairan.
Penguapan air permukaan yang ditutupi oleh eceng gondok mencapai 2,5 kali lebih besar
dibandingkan permukaan yang terbuka. Selain itu apabila akar telah menempel di
substrat/dasar maka eceng gondok akan tumbuh secara menetap dengan demikian proses
pendangkalan akan berlangsung lebih cepat (SEAMEO-BIOTROP, 1990).
Kesuburan perairan juga dipengaruhi oleh plankton. Pertumbuhan fitoplankton
sangat bergantung pada cahaya matahari dan keberadaan nutrien. Eceng gondok sebagai
tumbuhan air memerlukan nutrien dan cahaya matahari dalam pertumbuhannya, sehingga
dapat menimbulkan terjadinya kompetisi makanan antara fitoplankton dan eceng gondok
di perairan, dan akan mengakibatkan populasi fitoplankton berkurang dan produktifitas
perairan menurun. Kurangnya oksigen terlarut akibat penutupan eceng gondok disebabkan
ikan koan memakan eceng gondok. Ketika eceng gondok membusuk, kandungan oksigen
dalam air menurun dengan cepat karena oksigen diperlukan oleh mikroorganisme dalam
proses dekomposisi sehingga mengakibatkan eceng gondok mati dan akan tenggelam ke
dasar perairan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi densitas eceng gondok maka akan
semakin rendah kandungan oksigen terlarutnya.

C. Permasalahan
1. Pertumbuhan enceng gondok yang sangat cepat, sehingga menyebabkan sedimentasi
2.
3.

D. solusi
a. Pengendalian secara mekanis
Pengendalian ini berupa pengangkatan gulma air secara massal ke tepi perairan.
Pada perairan luas seperti danau, pengendalian secara mekanis tidak memberikan
pengaruh residu, bahkan dapat merangsang kecepatan tumbuh kembali, oleh karena itu
harus secara terus menerus dilakukan, karena dengan pengurangan kepadatan dengan
pengendalian ini secara tidak langsung memberikan kesempatan gulma untuk tumbuh
kembali secara cepat. Dan pengendalian ini pada umumnya bersifat tidak efektif, selain
biaya yang diperlukan cukup mahal akan tetapi hasilnya hanya bersifat sementara.
Namun untuk perairan kecil seperti kolam dan selokan, pengendalian secara mekanis
akan lebih efektif.
b. Pengendalian secara kimiawi
Pengendalian dengan cara ini dapat menimbulkan pengaruh sampingan yang
merugikan, yaitu pencemaran lingkungan. Pencemaran terjadi akibat adanya bahan
beracun dan berbahaya dalam limbah lepas yang masuk ke lingkungan perairan sehingga
terjadi perubahan kualitas lingkungan perairan. Bahan pencemar yang masuk ke dalam
lingkungan akan bereaksi dengan satu atau lebih komponen lingkungan. Apabila bahan
pencemar berakumulasi secara terus menerus dalam lingkungan dan lingkungan tersebut
tidak mempunyai kemampuan alami untuk menetralisir, maka akan mengakibatkan
perubahan kualitas air. Selain dapat mematikan gulma, bahan kimia tersebut juga dapat
mematikan atau mengurangi jasad-jasad renik makanan ikan dalam perairan, serta dapat
membahayakan tanaman budidaya serta masyarakat dan hewan peliharaan maupun satwa
liar yang menggunakan air bagi keperluan hidupnya.

c. Pengendalian secara biologi


Pengendalian ini adalah pengendalian dengan menggunakan mahluk hidup,
diantaranya serangga, bakteri, jamur, virus dan ikan sebagai sarana pengendalian.
Pengendalian secara biologi merupakan penghambatan atau pengurangan populasi
terhadap suatu organisme oleh organisme lain. Pada prinsipnya pengendalian
pertumbuhan menjadi tujuan pengendalian, yaitu dikendalikannya pertumbuhan blooming
alga/gulma air.
Kelebihan cara pengendalian gulma secara biologi, khususnya dengan
menggunakan ikan dibandingkan cara-cara lainnya yaitu: (1) tidak menurunkan
produktivitas perairan; (2) meningkatkan produksi ikan di perairan tersebut; (3) dan bila
keseimbangan alami tercapai, memungkinkan pengendaliannya dapat bersifat permanen
sehingga tidak perlu diulangi kembali, serta dapat menjadi perubahan yang sangat
potensial bagi peningkatan protein ikan (Sutton dan Vernon, 1986).
Beberapa syarat bagi pengendalian gulma secara biologi adalah: (1) dapat
memakan beberapa jenis tumbuhan, (2) daya pengendaliannya tinggi, (3) tidak menjadi
kompetisi bagi organisme lain di perairan, (4) mudah dikendalikan, (5) tidak menjadi
hama, dan (6) secara ekonomis dapat menambah produktivitas perairan.
d. Pengendalian secara bersamaan
Pengendalian secara bersamaan ini adalah pengendalian dengan secara mekanis,
kimiawi dan biologi. Pengendalian ini dilakukan untuk mendapatkan hasil yang dapat
memberikan pengaruh residu karena dari ketiga cara pengendalian yaitu mekanis,
kimiawi dan biologi tidak dapat dipastikan keunggulannya dalam pengendalian gulma
air.

Cara yang baik dalam pengendalian blooming alga/gulma air adalah cara
pengendalian menurut keperluannya. Untuk menekan agar populasi senantiasa berada
dibawah ambang ekonomi, maka upaya yang dilakukan adalah upaya yang dilakukan
agar hasilnya berada dibawah batas kerugian yang nyata secara ekonomis sehingga
kelestarian perairan dapat dijaga.

Penanganan yang akan kita pilih adalah penanaganan secara biologi , nah mahkluk yang akan
kita gunakan disini adalah ikan koan
Ikan koan (Ctenopharyngodon idella Val.) merupakan salah satu jenis ikan karper
China yang kini sudah tersebar di banyak negara, baik di daerah beriklim dingin maupun
di daerah tropis. Daerah asal jenis ikan ini terbentang mulai dari sungai Amur ke daerah
Tiongkok Selatan dan Siam yang terletak pada 200 dan 500 lintang utara dan antara 1000 dan
1400 bujur timur (Fishcher dan Lyakhnovich, 1973 dalam SEAMEO-BIOTROP,
1977). Ikan ini berasal dari sungai-sungai besar di China, Siberia, Manchuria dan
berhasil diintroduksi ke beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand dan
juga ke negara lain seperti Taiwan, Jepang, Amerika Serikat, Eropa Timur, Belanda dan
Jerman (Cross, 1968). Ikan ini masuk ke Indonesia (Sumatra) pada tahun 1915 dan pada
tahun 1949 didatangkan ke Jawa untuk tujuan dibudidayakan (www.bbpbat.net).
Nama lain dari ikan ini adalah grass carp atau white amur, dilihat dari
warnanya yang agak keputihan dan berasal dari sungai Amur, China. Ciri-ciri fisik ikan
ini adalah Ikan koan ini dapat tumbuh dengan besar dan cepat tetapi tidak dapat memijah
secara alami di perairan Indonesia (SEAMEO-BIOTROP, 1977).
Ikan ini mempunyai bentuk tubuh yang agak memanjang dan ramping dengan
perut yang besar, mulut berbentuk subterminal mengarah ke bentuk terminal, kepala lebar

dengan moncong bulat pendek dan gigi paringeal dalam deretan ganda dengan bentuk
seperti sisir. Sirip dorsal dan anal pendek serta tidak memiliki duri dengan tipe sisik
sikloid, tanpa tulang belakang. Usus berdiferensiasi menjadi esofagus pendek, katup
pylorik dan rektum. Hati terletak di permukaan dorsal usus dan lobusnya selalu
memanjang pada rongga tubuh. Hati dan pankreas dihubungkan oleh beberapa saluran
kecil dengan saluran empedu yang memasuki bagian posterior usus hingga ke katup
pylorik. Kantung empedu terletak diantara hati dengan usus dan kelenjar adrenal terletak
pada ginjal pronephros. Pada ikan yang panjang totalnya mencapai 58 mm (berumur 5060 hari) gonadnya berdiferensiasi dan terletak di rongga peritoneum (Berry dan Low,
1970 dalam Shireman dan Smith, 1983).
Aktivitas makan ikan koan dimulai pada umur 3-4 hari setelah menetas, pada
umur ini larva ikan koan memakan protozoa dan rotifera. Setelah 2 minggu menetas
ukuran larva mencapai 12-17 mm dan mulai memakan makanan yang lebih besar
diantaranya larva insekta dan pada umur 3 minggu ikan koan mulai memakan tumbuhan,
diantaranya alga dan makrofita, dan secara nyata terjadi pada 1-1,5 bulan setelah
penetasan. Menurut Hickling (1960) dan Nikolsky, 1963 dalam SEAMEO BIOTROP,
1977 ikan yang termasuk herbivora ini mempunyai usus yang pendek yaitu 2-3 kali
panjang badannya, sehingga 50 % dari bahan makanan yang dicerna akan keluar dalam
keadaan tidak tercerna secara sempurna. Bahan kasar sisa pencernaan tersebut merupakan
pupuk organik yang dapat merangsang pertumbuhan fitoplankton, sehingga dapat
menyebabkan blooming.

Sistematika ikan koan memakan enceng gondok

Ikan koan sangat menyukai ganggang (Pheang, 1975) dan mampu menghambat
pertumbuhan eceng gondok dengan memakan akar dan daunnya (Muchsin, 1976 dalam
SEAMEO-BIOTROP, 1977), sehingga keseimbangan gulma di permukaan air hilang.
Eceng gondok yang dimakan ikan koan adalah terutama bagian akar (Gambar 6). Setelah
akar dimakan, keseimbangan gulma akan hilang dan menyebabkan daunnya menyentuh
permukaan air kemudian daunnya akan dimakan ikan. Eceng gondok yang sudah mati
adalah eceng gondok yang sudah berwarna kuning tua dan merah tua.
Ikan koan biasanya memakan gulma air pada bagian permukaan dan dasar
perairan. Kemampuan ikan koan di dalam memakan dan memanfaatkan tumbuhan air
bergantung pada kedua ukuran yaitu ukuran tumbuhan air dan ikan koan itu sendiri
(Sutton dan Vernon, 1986). Pada ikan koan kecil dengan panjang 6-15 cm yang dibiakkan
pada suhu 21-260 C memakan tumbuhan air 6-10 % dari berat badannya per
hari (Woynavorich, 1968 dalam Shireman dan Smith, 1983), ikan koan dengan berat 1 kg
dapat memakan 0.8-1.5 kg tumbuhan air per harinya dan ikan koan dengan berat 1 kg
atau lebih dapat memakan seluruh bagian eceng gondok sedangkan ikan dengan ukuran
yang lebih kecil hanya dapat memakan bagian akar eceng gondoknya (Blackburn dan
Sutton, 1971 dalam Shireman dan Smith, 1983). Disamping kemampuannya untuk
mengendalikan gulma air, ikan ini juga mempunyai nilai penting dalam aspek budidaya
ikan baik langsung maupun tidak langsung. Adanya ikan ini dalam suatu perairan juga
dapat meningkatkan produksi ikan secara total, karena kotoran ini dapat menjadi pupuk.

Anda mungkin juga menyukai