Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Dalam menghadapi era globalisasi tidaklah mengherankan bilamana
penyalahgunaan zat merupakan salah satu masalah yang harus dihadapi walaupun
sudah dikenal sejak lama. Di Indonesia penyalahgunaan zat muncul sejak tahun 1969
ketika para psikiater dari sanatorium Dharmawangsa, melaporkan fenomena tersebut
untuk pertama kali, khususnya yang menimpa remaja dan dewasa muda.
Penyalahgunaan zat merupakan suatu pola penggunaan zat yang bersifat
patologik, paling seedikit satu bulan lamanya, sehingga menimbulkan gangguan
fungsi social dan okupasional. Secara populer, penyalahgunaan zat yang merupakan
terjemahan dari istilah drug abuse, biasanya diartikan sebagai penggunaan zat yang
illegal, atau menggunakan obat tanpa indikasi medis atau penggunaan zat yang legal
secara berlebihan dan merugikan diri. Adapun yang sering disalahgunakan manusia
meliputi berbagai zat yang dapat digolongkan dalam zat-zat alcohol, opioda,
kanabioda, sedativa atau hiptonika, stimulansia, halusinogenika, tembakau, bahan
pelarut yang mudah menguap, zat multiple dan zat psikoaktif lainnya.
Menurut ICD-10, berbagai gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan
zat dikelompokkan dalam berbagai kondisi klinis sebagai berikut: Intoksikasi Akut;
Penggunaan yang merugikan; Sindroma ketergantungan ; Keadaan putus zat; Keadaan
putus zat dengan delirium; Gangguan psikotik; Sindroma amnestik; Gangguan
psikotik residual atau onset lambat; Gangguan mental dan perilaku lainnya.
Dalam

tahun-tahun

terakhir

ini

kalangan

remaja

mulai

banyak

menyalahgunakan Ecstasy, Putau dan merupakan masalah yang cukup serius serta
pula penanggulangan secara multidisipliner, terpadu dan konsisten melibaykan antara
lain berbagai bidang kesehatan, social, hukum, pendidikan, agama dan sebagainya.
Berbeda dengan obat lain, maka ecstasy termasuk obat yang sengaja
direkayasa untuk mendapatkan efek-efek tertentu seperti efek euphoria. Sedangkan

putau adalah heroin yang didapatkan secara semisinitetik dari opioida alamiah dan
antara lain mempunyai khasiat analgesik, hipnotik dan euforik.
Tidak jarang mereka yang menyalahgunakan zat-zat tersebut mengalami
berbagai dampak klinis yang merugikan dirinya (mis: intoksikasi akut) akan
mendatangi instalasi gawat darurat rumah sakit. Oleh karena itu tenaga-tenaga
professional di bidangkesehatan harus bisa mendiagnosis serta memberikan intervensi
yang diperlukan yang bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Khususnya dalam
suatu rumah sakit, diperlukan partisipasi penuh dari berbagai tenaga professional
seperti dokter, perawat, pekerja social, yang dapat bekerjasama dengan pasien serta
keluarganya.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Sejarah Awal Narkoba


Kurang lebih th. 2000 SM di Samaria dikenal sari bunga opion atau kemudian
dikenal opium (candu = papavor somniferitum). Bunga ini tumbuh subur di daerah
dataran tinggi di atas ketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Penyebaran
selanjutnya adalah ke arah India,Cina dan wilayah-wilayah Asia lainnya.
Cina kemudian menjadi tempat yang sangat subur dalam penyebaran candu ini
(dimungkinkan karena iklim dan keadaan negeri). Memasuki abad ke XVII masalah
candu ini bagi Cina telah menjadi masalah nasional; bahkan di abad XIX terjadi
perang candu dimana akhirnya Cina ditaklukan Inggris dengan harus merelakan Hong
Kong.
Tahun 1806 seorang dokter dari Westphalia bernama Friedrich Wilhelim
Sertuner menemukan modifikasi candu yang dicampur amoniak yang kemudian
dikenal sebagai Morphin (diambil dari nama dewa mimpi Yunani yang bernama
Morphius).
Tahun 1856 waktu pecah perang saudara di A.S. Morphin ini sangat populer
dipergunakan untuk penghilang rasa sakit luka-luka perang sebahagian tahanantahanan tersebut "ketagihan" disebut sebagai "penyakit tentara"
Tahun 1874 seorang ahli kimia bernama Alder Wright dari London, merebus
cairan morphin dengan asam anhidrat (cairan asam yang ada pada sejenis jamur)
Campuran ini membawa efek ketika diuji coba kepada anjing yaitu: anjing tersebut
tiarap, ketakutan, mengantuk dan muntah-muntah. Namun tahun 1898 pabrik obat
"Bayer" memproduksi obat tersebut dengan nama Heroin, sebagai obat resmi
penghilang sakit (pain killer).
Tahun 60-an - 70-an pusat penyebaran candu dunia berada pada daerah
"Golden Triangle" yaitu Myanmar, Thailand & Laos. Dengan produksi: 700 ribu ton

setiap tahun. Juga pada daerah "Golden Crescent" yaitu Pakistan, Iran dan Afganistan
dari Golden Crescent menuju Afrika dan Amerika.
Selain morphin & heroin ada lagi jenis lain yaitu kokain (ery throxylor coca)
berasal dari tumbuhan coca yang tumbuh di Peru dan Bolavia. Biasanya digunakan
untuk penyembuhan Asma dan TBC.
Di akhir tahun 70-an ketika tingkat tekanan hidup manusia semakin meningkat
serta tekhnologi mendukung maka diberilah campuran-campuran khusus agar candu
tersebut dapat juga dalam bentuk obat-obatan.

2.2. Definisi Narkoba


Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain
"narkoba", istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan
Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari Narkotika,
Psikotropika dan Zat Adiktif. Semua istilah ini, baik "narkoba" atau napza, mengacu
pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai resiko kecanduan bagi
penggunanya.
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman,
baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan
(Undang-Undang No. 35 tahun 2009). Narkotika digolongkan menjadi tiga golongan
sebagaimana tertuang dalam lampiran 1 undang-undang tersebut. Yang termasuk jenis
narkotika adalah:

Tanaman papaver, opium mentah, opium masak (candu, jicing, jicingko), opium
obat, morfina, kokaina, ekgonina, tanaman ganja, dan damar ganja.

Garam-garam dan turunan-turunan dari morfina dan kokaina, serta campurancampuran dan sediaan-sediaan yang mengandung bahan tersebut di atas.

Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan
narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf
pusat yang menyebabkan perubahan pada aktivitas mental dan perilaku (UndangUndang No. 5/1997). Terdapat empat golongan psikotropika menurut undang-undang
tersebut, namun setelah diundangkannya UU No. 35 tahun 2009 tentang narkotika,
maka psikotropika golongan I dan II dimasukkan ke dalam golongan narkotika.
Dengan demikian saat ini apabila bicara masalah psikotropika hanya menyangkut
psikotropika golongan III dan IV sesuai Undang-Undang No. 5/1997. Zat yang
termasuk psikotropika antara lain:

Sedatin (Pil BK), Rohypnol, Magadon, Valium, Mandrax, Amfetamine,


Fensiklidin, Metakualon, Metifenidat, Fenobarbital, Flunitrazepam, Ekstasi,
Shabu-shabu, LSD (Lycergic Syntetic Diethylamide) dan sebagainya.
Bahan Adiktif berbahaya lainnya adalah bahan-bahan alamiah, semi sintetis

maupun sintetis yang dapat dipakai sebagai pengganti morfina atau kokaina yang
dapat mengganggu sistem syaraf pusat, seperti:

Alkohol yang mengandung ethyl etanol, inhalen/sniffing (bahan pelarut) berupa


zat organik (karbon) yang menghasilkan efek yang sama dengan yang dihasilkan
oleh minuman yang beralkohol atau obat anaestetik jika aromanya dihisap.
Contoh: lem/perekat, aceton, ether dan sebagainya.
Menurut WHO (1982), narkoba adalah semua zat padat, cair maupun gas yang

dimasukkan ke dalam tubuh yang dapat merubah fungsi dan struktur tubuh secara
fisik maupun psikis tidak termasuk makanan, air dan oksigen dimana dibutuhkan
untuk mempertahankan fungsi tubuh normal.
2.3. Efek Narkoba

Halusinogen, efek dari narkoba bisa mengakibatkan bila dikonsumsi dalam


sekian dosis tertentu dapat mengakibatkan seseorang menjadi ber-halusinasi
dengan melihat suatu hal/benda yang sebenarnya tidak ada / tidak nyata
contohnya kokain & LSD

Stimulan , efek dari narkoba yang bisa mengakibatkan kerja organ tubuh seperti
jantung dan otak bekerja lebih cepat dari kerja biasanya sehingga mengakibatkan
seseorang lebih bertenaga untuk sementara waktu , dan cenderung membuat
seorang pengguna lebih senang dan gembira untuk sementara waktu

Depresan, efek dari narkoba yang bisa menekan sistem syaraf pusat dan
mengurangi aktivitas fungsional tubuh, sehingga pemakai merasa tenang bahkan
bisa membuat pemakai tidur dan tidak sadarkan diri. Contohnya putaw.

Adiktif , Seseorang yang sudah mengkonsumsi narkoba biasanya akan ingin dan
ingin lagi karena zat tertentu dalam narkoba mengakibatkan seseorang cenderung
bersifat pasif , karena secara tidak langsung narkoba memutuskan syaraf-syaraf
dalam otak,contohnya ganja , heroin , putaw.

Jika terlalu lama dan sudah ketergantungan narkoba maka lambat laun organ
dalam tubuh akan rusak dan jika sudah melebihi takaran maka pengguna itu akan
overdosis dan akhirnya kematian.

2.4. Tanda-Tanda Kemungkinan Penyalahgunaan Narkotika dan Zat Adiktif

Fisik
- berat badan turun drastic
- mata terlihat cekung dan merah, muka pucat, dan bibir kehitam-hitaman
- tangan penuh dengan bintik-bintik merah, seperti bekas gigitan nyamuk dan
ada tanda bekas luka sayatan. Goresan dan perubahan warna kulit di tempat
bekas suntikan
- buang air besar dan kecil kurang lancer
- sembelit atau sakit perut tanpa alasan yang jelas

Emosi
- sangat sensitif dan cepat bosan
- bila ditegur atau dimarahi, dia malah menunjukkan sikap membangkang
- emosinya naik turun dan tidak ragu untuk memukul orang atau berbicara kasar
terhadap anggota keluarga atau orang di sekitarnya
- nafsu makan tidak menentu

Perilaku
- malas dan sering melupakan tanggung jawab dan tugas-tugas rutinnya
- menunjukkan sikap tidak peduli dan jauh dari keluarga
- sering bertemu dengan orang yang tidak dikenal keluarga, pergi tanpa pamit
dan pulang lewat tengah malam

suka mencuri uang di rumah, sekolah ataupun tempat pekerjaan dan


menggadaikan barang-barang berharga di rumah. Begitupun dengan barangbarang berharga miliknya, banyak yang hilang
selalu kehabisan uang
waktunya di rumah kerapkali dihabiskan di kamar tidur, kloset, gudang, ruang
yang gelap, kamar mandi, atau tempat-tempat sepi lainnya
takut akan air. Jika terkena akan terasa sakit karena itu mereka jadi malas
mandi
sering batuk-batuk dan pilek berkepanjangan, biasanya terjadi pada saat gejala
putus zat
sikapnya cenderung jadi manipulatif dan tiba-tiba tampak manis bila ada
maunya, seperti saat membutuhkan uang untuk beli obat
sering berbohong dan ingkar janji dengan berbagai macam alasan
mengalami jantung berdebar-debar
sering menguap
mengeluarkan air mata berlebihan
mengeluarkan keringat berlebihan
sering mengalami mimpi buruk
mengalami nyeri kepala
mengalami nyeri/ngilu sendi-sendi

2.5. Klasifikasi Narkoba


Pengelompokkan Narkoba menurut UU RI No 22 tahun 1997 tentang Narkotika
adalah:

Golongan Opioda seperti opium : Morphine, heroin, putau, dll.


Golongan Koka seperti daun koka : Kokain
Golongan Kanabis: daun ganja, hashish

2.6. Definisi Heroin ( Putau)


Heroin atau Putau adalah adalah sejenis opioid alkaloid. Putau adalah bubuk
kristal putih yang sering diperjual-belikan dalam bungkusan kertas kecil. Di kalangan
medis dikenal sebagai heroin yang tergolong opioda yang semi sintetik dan berasal
dari turunan morfin. Heroin berasal dari bunga Papaver somniferum, sejenis bunga di
iklim panas dan kering. Papaver somniferum, yang bila dikeringkan akan menjadi
seperti karet yang kecoklat-coklatan, ditumbuk menjadi serbuk opium. Opium
mengandung bermacam-macam alkaloid di antaranya adalah morfin, kodein, dan
7

tebain. Heroin adalah zat depresan. Obat-obatan depresan tidak langsung membuat
Anda merasa tertekan. Zat-zat tersebut memperlambat pesan dari otak ke tubuh dan
sebaliknya. Beberapa nama lain dari zat tersebut adalah bedak, putih.

Heroin Tidak Murni


Heroin atau putau yang beredar di pasar gelap tidaklah murni heroin. Bila dari
pabrik gelapnya bisa 80% kadarnya, namun setelah sampai ke pengedarnya (lewat
5 - 10 jalur), kadar heroinnya turun sampai 1 - 15%. Hal ini wajar karena mereka
yang terlibat memalsu atau mencampur heroin kadar tinggi dengan bahan
tambahan seperti kakao, gula merah, gula, tepung, susu, kuinin, manitol
(pencahar), kafein, laktosa, bahan berbahaya seperti bedak talek dan deterjen.
Kadang-kadang beberapa obat-obatan seperti amfetamin dan obat tidur
dicampurkan juga. Zat-zat aditif ini dapat mematikan, dan karena pengguna tidak
berhati-hati apakah ia menggunakan heroin murni dengan kadar 5% atau 50%
akan mudah bagi orang itu untuk mengalami overdosis dadakan dan bahkan mati.

Heroin dan Obat-obatan Lain


Heroin dapat menjadi berbahaya ketika dikombinasikan dengan berbagai obat-

obatan lainnya, khususnya obat-obatan depresan seperti alkohol atau obat-obat


penenang lainnya. Depresan memperlambat sirkulasi tubuh dan kombinasi obatobatan tersebut dapat meningkatkan efeknya. Jika sirkulasi tubuh terlalu banyak yang
melambat, resikonya bisa berupa keadaan koma atau bahkan kematian.
2.7. Cara Pemakaian Putau
Heroin atau putau biasanya diedarkan dalam bungkus-bungkus kecil. Rute
penggunaan yang salah sering berakibat fatal. Dosis 3 mg setara dengan kekuatan 10
mg morfin. Penggunaan serbuk ini dilakukan dengan melarutkan serbuk dalam wadah
atau sendok dicampur air yang tidak steril, disaring dengan kapas, dan disuntikkan ke
intravena (lewat pembuluh darah) atau subkutan (lewat bawah kulit). Kadang-kadang
juga diisap seperti rokok, atau disedot. Cara lain dengan chasing, yaitu serbuk
diletakkan di atas aluminium foil dan dipanaskan bagian bawahnya. Uapnya dialirkan
lewat sebuah lubang dari kertas rol atau pipa, dihirup lewat hidung untuk diteruskan
8

ke paru-paru. Pada kasus kelebihan dosis dapat terjadi abses paru-paru. Chasing
dilakukan oleh pemakai karena serbuk yang dibeli tidak murni heroin. Pada
penggunaan parenteral (intravena, subkutan maupun dengan melukai) akan terjadi
abses, tertular beberapa penyakit seperti HIV/AIDS, hepatitis, rematik jantung,
emboli, tetanus, selulitis/tromboflebitis.
2.8. Farmakologi dan farmakokinetik heroin/putau

Mekanisme kerja :
Opioid agonis menimbulkan analgesia akibat berikatan dengan reseptor spesifik

yang berlokasi di otak dan medula spinalis, sehingga mempengaruhi transmisi dan
modulasi nyeri. Terdapat 3 jenis reseptor yang spesifik. Di dalam otak terdapat tiga
jenis

endogeneus peptide yang aktivitasnya seperti opiat, yitu enkephalin yang

berikatan dengan reseptor alfa dan beta, endorfin dengan reseptor dan dynorpin
dengan resptor . Reseptor merupakan reseptor untuk morfin (heroin). Ketiga jenis
reseptor ini berhubungan dengan protein G dan berpasangan dengan adenilsiklase
menyebabkan penurunan formasi siklik AMP sehingga aktivitas

pelepasan

neurotransmitter terhambat. Efek inhibisi opiat dalam pelepasan neurotransmitter


Pelepasan noradrenalin.
Opiat menghambat pelepasan noradrenalin dengan mengaktivasi reseptor yang
berlokasi didaerah noradrenalin. Efek morfin tidak terbatas dikorteks,tetapi juga di
hipokampus,amigdala, serebelum, daerah peraquadiktal dan locus cereleus.

Pelepasan asetikolin :
Inhibisi pelepasan asetikolin terjadi didaerah striatum oleh reseptor deltha,

didaerah amigdala dan hipokampus oleh reseptor .

Pelepasan dopamin :
Pelepasan dopamin diinhibisi oleh aktifitas reseptor kappa Tempat Kerja Ada dua

tempat kerja obat opiat yang utama, yaitu susunan saraf pusat dan visceral. Di dalam
susunan saraf pusat opiat berefek di beberapa daerah termasuk korteks, hipokampus,
thalamus, hipothalamus, nigrostriatal, sistem
periakuaduktal, medula oblongata dan

mesolimbik, locus coreleus, daerah

medula spinalis. Di dalam sistem saraf


9

visceral, opiat bekerja pada pleksus

myenterikus dan pleksus submukous yang

menyebabkan efek konstipasi.

Absorpsi :
Heroin diabsorpi dengan baik disubkutaneus, intramuskular dan permukaan

mukosa hidung atau mulut.

Distribusi :
Heroin dengan cepat masuk kedalam darah dan menuju ke dalam jaringan.

Konsentrasi heroin tinggi di paru paru, hepar, ginjal dan limpa, sedangkan di dalam
otot skelet konsentrasinya rendah. Konsentrasi di dalam otak relatif rendah
dibandingkan organ lainnya akibat sawar darah otak. Heroin menembus sawar darah
otak lebih mudah dan cepat dibandingkan dengan

morfin atau golongan opioid

lainnya

Metabolisme :
Heroin didalam otak cepat mengalami hidrolisa menjadi monoasetilmorfin dan

akhirnya menjadi morfin, kemudian mengalami konjugasi dengan asam glukuronik


menajdi morfin 6-glukoronid yang berefek analgesik lebih kuat dibandingkan morfin
sendiri. Akumulasi obat terjadi pada pasien gagal ginjal.

Ekskresi :
Heroin terutama diekstresi melalui urine (ginjal). 90% diekskresikan dalam 24

jam pertama, meskipun masih dapat ditemukan dalam urine 48 jam heroin didalam
tubuh diubah menjadi morfin dan diekskresikan sebagai morfin.

Putau di dalam tubuh


Narkoba yang diserap tubuh masuk ke dalam pembuluh darah melalui saluran

hidung atau paru-paru. Jika disuntikkan, zat itu langsung masuk ke dalam aliran darah
dan darah membawa zat tersebut ke otak.
10

Semua jenis narkoba mengubah perasaan dan cara berpikir seseorang. Itulah
sebabnya narkoba disebut juga zat psikoaktif. Perasaan enak dan nyaman inilah yang
mula-mula dicari pemakainya.
Bagian otak yang bertanggung jawab atas perasaan tersebut adalah sistem limbus.
Hipotalamus, yaitu pusat kenikmatan pada otak pada sistem limbus, yang disebut
neuro-transmitter.
Neuro-transmitter adalah senyawa organik yang membawa sinyal diantara neuron.
Neuro-transmitter terbungkus oleh vesikel sinaps, sebelum dilepaskan bertepatan
dengan datangnya potensial aksi.
Hormon dopamine yang dikeluarkan kelenjar hipotalamus menyebabkan perasaan
tenang dan nyaman. Hormon yang dihasilkan oleh otak tengah ini dapat berfungsi
sebagai sarat transmisi yang paling penting. Syaraf dan neuron yang diproduksi oleh
dopamine ini dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap keadaan sekitar.
Hormon ini bersifat adiktif, hal ini yang menyebabkan pengguna narkoba merasa
kecanduan. Sehingga pemakainya ingin terus memakai dengan dosis yang lebih
banyak.
2.9. Efek Kecanduan Putau
Putau tergolong jenis narkotik yang paling cepat menimbulkan efek kecanduan
(bahkan lebih cepat dari heroin) baik kecanduan secara fisik (sakaw) maupun secara
psikologis (sugesti untuk memakainya lagi). Kecanduan fisik yang ditimbulkan dari
putau juga sangat menderita dan berbahaya (bisa menyebabkan komplikasi dan
kematian). Sedangkan kecanduan psikologisnya juga sangat kuat dan tahan lama
meskipun seseorang telah berhenti memakainya selama puluhan tahun.
Ciri-ciri sakaw antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tulang-tulang dan sendi-sendi terasa sangat ngilu dan meriang


Sakit kepala, demam, dan kadang diare atau muntah-muntah
Mata dan hidung terus berair.
Mudah kedinginan (menggigil) dan banyak berkeringat dingin
Depresi dan sangat mudah marah
Insomnia

11

Oleh karena efek sakaw yang begitu menderita maka seorang pencandu yang
sedang sakaw besar kemungkinan akan berbuat kriminal untuk memenuhi kebutuhan
putaunya.
Efek pemakaian jangka pendek putau antara lain:
1. Euforia
2. Mulut kering
3. Kulit panas serta memerah
4. Otot menjadi lemah
5. Menghilangkan rasa sakit (analgesik)
6. Mual dan muntah-muntah.
7. miosis
8. mengantuk
9. berkeringat
10. depresi pernapasan
11. hipotermia
12. tekanan darah turun
13. konstipasi
14. kejang
15. sukar buang air kecil.
16. Dalam dosis yang tinggi, akan memperlambat sistem saraf pusat hingga
menyebabkan koma dan kematian.
Pemakai yang sudah menjadi pemadat cenderung untuk menggunakan obat
dengan dosis berlebihan. Hal ini disebabkan oleh terjadinya batas toleransi tubuh yang
makin meninggi. Jika sudah toleransi, semakin mudah depresi dan marah sedangkan
efek euforia semakin ringan atau singkat. Di samping itu pemakai sering
menggunakan obat lain seperti alkohol, kokain, dll. dan tidak tahu dosis pasti,
sehingga sering terjadi kasus kelebihan dosis. Heroin dengan dosis 3 mg bila
diberikan secara parenteral, terutama intravena, bisa menyebabkan gangguan
kompulsif. Kekuatannya tiga kali morfin. Karena sifatnya lebih lipofil daripada
morfin, maka heroin lebih cepat menembus saraf otak dibandingkan dengan morfin.
Dengan demikian kerja heroin lebih cepat daripada morfin. Heroin sendiri akan
diubah menjadi morfin di dalam tubuh.
Efek pemakaian jangka panjang putau antara lain:
1. Kecanduan
2. Daya tahan tubuh melemah
3. Ketergantungan
4. Pneumonia
5. Infeksi lapisan dan katup jantung
6. Pecahnya pembuluh darah
7. Fungsi hati berkurang
8. Bengkak
12

9. Tetanus.
10. Menstruasi yang tidak teratur dan ketidaksuburan (pada wanita).
11. Impotensi (pada pria).
12. Sembelit kronis
Pemakaian jangka panjang akan menyebabkan penyumbatan oleh kristal-kristal
berwarna biru di dalam pembuluh darah di sekitar tangan, kaki, leher, dan kepala
sehingga menjadi benjolan keras seperti bisul di dalam tubuh, jika penyumbatan ini
munculnya di daerah otak maka besar kemungkinan ia akan mati. Selain itu
pemakaian jangka panjang putau juga akan mengakibatkan kebutaan, kerusakan pada
organ-organ tubuh seperti liver, ginjal, organ-organ pencernaan dan paru-paru.

13

BAB III
PENUTUP
.1

Kesimpulan
Narkoba adalah zat kimia yang dapat mengubah keadaan psikologi seperti
perasaan, pikiran dan suasana hati serta perilaku jika masuk ke dalam tubuh manusia
baik dengan cara dimakan, diminum, dihirup, suntik, intra vena dan sebagainya.
Narkoba adalah obat obatan terlarang yang jika dikonsumsi mengakibatkan
kecanduan dan jika terlalu lama dan sudah ketergantungan narkoba maka lambat
laun organ dalam tubuh akan rusak dan jika sudah melebihi takaran maka pengguna
itu akan overdosis dan akhirnya kematian. Narkoba pun ada berbagai jenis seperti:
heroin, ganja, putaw, kokain, sabu-sabu,dan alkoholpun termasuk dalam golongan
narkoba.

3.2 Saran
Dalam penyelesaian makalah ini kami juga memberikan saran bagi para pembaca
dan mahasiswa yang akan melakukan pembuatan makalah berikutnya :
1. Kombinasikan metode pembuatan makalah berikutnya.
2. Pembahasan yang lebih mendalam disertai gambar-gambar yang lebih jelas.
3. Pembahasan secara langsung dengan mancari pasien untuk dilakukan suatu
penelitian.
Beberapa poin diatas merupakan saran yang kami berikan apabila ada pihak-pihak
yang ingin melanjutkan penelitian terhadap makalah ini, dan demikian makalah ini
disusun serta besar harapan nantinya makalah ini dapat berguna bagi pembaca.

14

DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Narkoba
https://dokmud.wordpress.com/2010/06/03/penyalahgunaan-ectasy-dan-putau/
http://biologigonz.blogspot.co.id/2010/05/putau-heroin.html
http://ayoperanginarkoba.blogspot.co.id/2014/06/bahaya-heroin-putaw.html
http://info-narkotika.blogspot.co.id/2010/11/heroin-putau-apa-itu-putau.html

15