Anda di halaman 1dari 5

INOVASI Vol.

2/XVI/November 2004

KESEHATAN

EPILEPSI, BAGAIMANA JALAN KELUARNYA?


Muhamad Thohar Arifin, MD
Dosen Anatomi dan Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang
Sedang menempuh pendidikan Doktoral dan fellow di Bagian Bedah Saraf Universitas
Hiroshima.
Penyakit ayan atau epilepsi sudah sering
kita dengar, kita tahu gejalanya, tapi ada
informasi yang perlu kita kaji lebih
lanjut..Tulisan
berikut
akan
mencoba
menelaah epilepsi dari mekanisme, tanda dan
gejala, persepsi yang salah tentang epilepsi
dan pengobatannya.
Andaikata otak kita anggap sebagai pusat
komputer
yang
secara
elektronik
mengendalikan seluruh aktivitas badan kita,
serangan kejang pada epilepsi adalah wujud
lepasnya muatan listrik secara bersamaan
dan tidak terprogram dari sekumpulan sel-sel
otak atau dari seluruh otak. Akibat lepasnya
muatan listrik secara tidak terkontrol ini
adalah kejang-kejang yang bisa dimulai dari
lengan atau tungkai kemudian menyebar ke
seluruh tubuh.
Bila kejang juga mengenai otot -otot
pengunyah di sekitar mulut, kelenjar liur pun
seperti diperah sehingga isinya keluar berupa
buih/busa di mulut, yang kadang-kadang
disertai darah akibat lidah yang tergigit.
Anggapan bahwa epilepsi atau ayan dapat
ditularkan melalui buih atau busa di mulut
tersebut jauh dari kebenaran.
Setelah seluruh sel otak melepaskan
muatan listriknya, untuk sesaat sel-sel
tersebut akan kehabisan energi dan
mengalami kelelahan, yang wujudnya adalah
penderita yang tak sadar, lelah, atau loyo
untuk sementara. Secara medis, keadaan itu
disebut paralise todd.
Seseorang baru boleh dinyatakan sebagai
pengidap
epilepsi
dengan
segala
konsekuensinya bila telah dibuktikan bahwa
pada tubuh atau otak orang itu tidak ada
penyebab
kejang
lain
yang
bisa
dihilangkan/disembuhkan, misalnya tumor
atau malformasi dari pembuluh darah, atau
sisa darah di permukaan otak yang
mengiritasi otak.
Bentuk serangan epilepsi tidak selalu
berupa gejala kejang-kejang. Pada anak-anak

misalnya, lebih banyak berupa terdiam atau


bengong sesaat, kemudian sadar lagi. Mulut
yang tiba-tiba komat-kamit di luar kehendak,
atau tangan/kaki yang bergerak-gerak sendiri
pada pasien yang tetap sadar, atau
seseorang yang tiba-tiba terjatuh dan tak
sadar sesaat, juga merupakan bentuk
serangan epilepsi.
Ada kejang yang hanya melibatkan satu
daerah saja di otak dan ada kejang yang
melibatkan seluruh otak. Kejang parsial
melibatkan sebagian kecil daerah di otak,
yang bisa menyebar ke seluruh otak.
Sedangkan kejang general melibatkan
seluruh otak sejak di mulai aktifnya otak.
Beberapa penderita merasakan adanya
peringatan sebelum datangnya kejang (perut
mual, sesuatu yang menjalar dari dalam
tubuh, perasaan tidak enak dan lain-lain),
peringatan itu di sebut dengan aura.
Mengapa ada sekelompok sel-sel otak
yang secara spontan, di luar kehendak,
tiba-tiba melepaskan muatan listriknya?
Keadaan ini disebabkan ada perubahan baik
anatomis
(struktur/bentuk)
maupun
biokimiawi pada sel-sel itu atau pada
lingkungan di sekitarnya. Perubahan terjadi
akibat trauma fisik/benturan/memar pada otak,
berkurangnya aliran darah/zat asam akibat
penyempitan
pembuluh
darah,
pendesakan/rangsangan oleh tumor, dan
yang terpenting (dan baru akhir-akhir ini
diketahui) adalah proses sklerosis, yaitu
jaringan otak yang mengalami "pengerasan''
akibat dari digantikannya sel-sel saraf/neuron
oleh sel-sel penyokong/sel-sel glia/jaringan
parut.
Penderita dengan epilepsi takut bahwa
sepanjang hidupnya akan menderita epilepsi.
Mereka takut untuk mengemudi, takut untuk
berenang, dan yang paling memalukan
adalah mendapat serangan kejang di depan
umum. Juga telah menjadi keyakinan bahwa
kemungkinan mati mendadak pada penderita
epilepsi cukup tinggi. Obat untuk mengontrol
epilepsi memiliki efek penenang
dan

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

59

INOVASI Vol.2/XVI/November 2004


memiliki efek lain berupa melambatnya
proses berfikir. Dan ibu hamil dengan terapi
epilepsi
memiliki
kemungkinan
untuk
terjadinya kecatatan pada janinnya cukup
tinggi.
Tujuan utama pengobatan epilepsi adalah
membuat penderita terbebas dari serangan,
khususnya serangan kejang, sedini/seawal
mungkin. Penderita dengan epilepsi pilihan
terapi pertamanya adalah dengan obat anti
epilepsi (OAE), dan beberapa penderita dapat
terkontrol kejangnya dengan obat. Namun,
ada beberapa penderita yang tidak terkontrol
dengan obat. Sebagian orang beranggapan
bahwa epilepsi tidak harus menjadi penyakit
sepanjang hidup. Ya, ternyata ada terapi
untuk epilepsi selain dengan obat, yaitu
dengan bedah epilepsi.
Faktanya bahwa bedah epilepsi satu
satunya pilihan untuk terapi epilepsi. Yang
orang masih belum sadari, bahwa bedah
epilepsi bisa mengobati epilepsi. Dan
faktanya (meski di negara seperti Amerika)
masih sangat sedikit penderita yang dikirim ke
dokter bedah saraf dengan keahlian bedah
epilepsi. Dari data yang saya peroleh dari
kolega di Amerika, kira kira ada 100.000
penderita yang bisa di terapi dengan
pembedahan, tapi kenyataanya hanya 1.500
pembedahan yang dilakukan pertahunnya.
Kenapa? Karena kurangnya pengetahuan
tentang bedah epilepsi dan seberapa
efektifnya bedah epilepsi, dan takut terhadap
risiko pembedahan.
1. Mitos dan fakta tentang bedah epilepsi
Mitos pertama, bedah epilepsi tidak bisa
mengontrol Epilepsi
Faktanya bahwa efektif tidaknya bedah
epilepsi tergantung dari penyebab epilepsi
dan seleksi yang ketat terhadap calon yang
akan menjalani pembedahan. Dari penelitian
yang di publikasikan di New England Journal
of Medicine meyakinkan bahwa pembedahan
pada epilepsi yang pusatnya di lobus
temporalis lebih efektif daripada terapi terus
menerus dengan obat. Demikian pula dari
hasil operasi yang telah kami lakukan di
Rumah Sakit Dokter Karyadi Semarang.
Dengan seleksi yang sangat hati hati dan
dengan pemeriksaan yang teliti, 70-80%
penderita dengan epilepsi yang pusatnya di
lobus temporalis akan bebas kejang setelah

operasi. Jika ternyata penyebab terjadinya


kejang adalah pertumbuhan lapisan otak
yang tidak pada tempatnya atau pembuluh
darah yang abnormal, kemungkinan bebas
kejangnya sampai 95%.
Epilepsi karena
proses perkembangan otak yang tidak normal,
biasanya didapatkan pada anak anak, dan
40-60% dapat disembuhkan bedasarkan
temuan daerah yang tidak normal dengan
MRI. Meskipun tidak bebas kejang secara
menyeluruh
setelah
operasi,
tapi
pembedahan tetap lebih baik dilakukan
karena bisa mengurangi kejang ataupun
mengurangi ketergantungan pada obat yang
telalu banyak dan mahal.
Kenapa bisa muncul mitos seperti di atas?
Bedah epilepsi adalah sub spesialis di bedah
saraf, dan tidak semua ahli bedah saraf
dididik untuk mengerjakan operasi ini.
Namun faktanya bahwa ada juga ahli bedah
saraf dengan keahlian bedah epilepsi ini. Dan
dalam
memutuskan
untuk
melakukan
pembedahan atau tidak, harus berdasarkan
pemeriksaan yang kompleks, dan melibatkan
banyak ahli lain untuk menginterprestasikan
hasil pemeriksaan. Pemeriksaan pada bedah
epilepsi
membutuhkan
pemeriksaan
Video-EEG monitoring, Wada test, MRI dan
neuropsycological test dan Single Photon
Emission CT.
Di Indonesia hanya Video-EEG monitoring
yang belum tersedia. Video-EEG monitoring
ini pada prinsipnya adalah merekam kinerja
otak dalam waktu yang lama dan terus
menerus dan dalam waktu yang sama di
rekam dengan video apa yang terjadi pada
pendeita. Tes ini untuk memastikan dari
daerah mana kejang mulai terjangkitkan.
Memang
dengan
pemeriksaan
EEG
konvensional selama 30 menit, bisa juga di
deteksi dari daerah mana asal kejang. Namun
dari penelitian yang kami lakukan terhadap
hasil EEG pada penderita dengan epilepsi
lobus temporalis, ditemukan bahwa EEG
konvensional tidak cukup sensitif karena
hasilnya berbeda dengan lokasi yang tidak
normal pada hasil pemeriksaan dengan MRI.
Meskipun Video-EEG ini penting dan
belum tersedia di Indonesa, namun pada
penderita yang sudah di konfirmasi dengan
MRI dan di dapatkan daerah abnormal pada
lobus temporalis, maka pembedahan tetap di
anjurkan.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

60

INOVASI Vol.2/XVI/November 2004


Pemeriksaan yang lainnya sudah bisa di
lakuan di Indonesia. Untuk interprestasi data
hasil pemeriksaan itu di butuhkan tim epilepsi
yang
sudah
biasa
dengan
kasus
pembedahan, dan dilakukan di Epilepsi
center (yang segera akan kami dirikan di
Semarang).
Mitos kedua, bedah epilepsi terlalu riskan
Faktanya, bedah epilepsi adalah salah satu
pembedahan yang aman daripada metoda
bedah otak lainnya. Benar bahwa, semua
bedah otak mempunyai risiko dan tidak boleh
dikerjakan jika tidak di ketahui semua
resikonya. Seperti pembedahan yang lainnya,
kemungkinan
untuk
terjadinya
infeksi,
perdarahan, memang ada, tetapi cukup kecil
kemungkinannya, kira-kira kurang dari 1%.
Biasanya komplikasi itu bisa diatasi tanpa
menyebabkan gangguan yang berarti. Dan
kemungkinan untuk terjadi kelumpuhan pada
tangan dan kaki cukup kecil. Dan semua itu
tergantung dari temuan saat pemeriksaan
dan pembedahan. Jika ternyata pusat
kejangnya di dekat pusat bicara, ada
kemungkinan gangguan bicara setelah
operasi. Namun demikian, dokter ahli bedah
epilepsi
dapat
melakukan
tes
untuk
menghindari kemungkinan tersebut dan atas
persetujuan penderita terhadap risiko yang
akan terjadi, pembedahan pada daerah dekat
pusat bicara pun bisa dengan aman dilakukan.
Disamping itu ada teknik operasi lain untuk
menghindari terjadinya gangguan pada pusat
bicara tersebut dengan tindakan mapping
daerah bicara dan prosedur selektif.
Kenapa
bisa
muncul
Mitos
tersebut? Keahlian dan ketrampilan dokter
bedah saraf telah berkembang sangat pesat
dalam 50 tahun terakhir. Dokter bedah saraf
sekarang melakukan pembedahan dengan
mikroskop untuk melihat detail anatomi lebih
akurat. Dan penggunaan alat-alat untuk
operasi yang disebut dengan bedah mikro
juga telah mengurangi trauma pada otak
normal yang tidak ikut diambil saat operasi.
Mitos ketiga, menunggu ada obat baru
untuk terapi epilepsi.
Jika penderita epilepsi sudah dua tahun
mendapatkan terapi yang berbeda dan masih
terjadi kejang, itu menunjukan bahwa obat
tidak bekerja baik pada penderita tersebut. Ini
termasuk epilepsi yang tidak responsif

terhadap obat, seperti epilepsi lobus


temporalis atau epilepsi yang berhubungan
dengan gangguan pertumbuhan anak. Dan
faktanya, bila telah dilakukan pengecekan
kadar obat dalam darah ternyata telah
mencapai ambang maksimum toleransi tubuh
terhadap obat, maka biasanya penderita
tersebut tidak mempan terhadap obat
baru. Kita berharap terhadap kemajuan dalam
terapi obat ini, namun faktanya bahwa
obat-obat yang ada saat ini masih sama
dengan obat obat yang digunakan sejak 50
tahun yang lalu.
Alasan kenapa muncul mitos seperti itu,
anggapan bahwa pada umumnya kemajuan
teknologi akan memberi kontribusi terhadap
terapi epilepsi. Benar anggapan tersebut, tapi
terapi yang tidak memfokuskan pada
eliminasi sumber penyakit, efektifitasnya akan
jauh
berbeda
dengan
terapi
yang
menghilangkan sumber penyakit. Banyak
kasus epilepsi yang disebabkan karena
abnormalitas area yang memprovokasi
kejang. Sedangkan terapi obat pada epilepsi
tidak memfokuskan pada daerah yang
abnormal tersebut, melainkan menurunkan
ambang fungsi neurologis di semua daerah di
otak. Prinsipnya sama dengan kemoterapi
pada terapi kanker, dimana efek obatnya
menyerang
seluruh
tubuh
meskipun
tujuannya hanya untuk mengeliminasi kanker.
Di sisi lain bedah epilepsi bertujuan untuk
mengeliminasi daerah abnormal tersebut.
Sehingga menjadi keyakinan bahwa operasi
ini merupakan salah satu terapi epilepsi yang
efektif adalah pembedahan
Mitos ke empat, ada sebagian penderita
epilepsi yang epilepsinya akan hilang
setelah dewasa
Ada sebagian epilepsi yang tidak akan
hilang dengan pengobatan dan tetap saja
dalam kondisi yang sama meski telah di
evaluasi selama dua tahun, sehingga bisa
dikatakan ini gagal terapi obat. Namun ada
ahli yang beranggapan bahwa dengan kejang
sekali setahun itu pun masih dikatakan gagal
terapi obat.
Memang ada tipe epilepsi yang akan hilang
setelah periode tertentu. Jika penderita sudah
pernah dilakukan MRI dan ternyata tidak
ditemukan adanya abnormalitas di otaknya
maka kemungkinan hilangnya epilepsi lebih

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

61

INOVASI Vol.2/XVI/November 2004


besar dibandingkan dengan yang mengalami
abnormalitas di otaknya.
Demikian pula pada penderita dengan tipe
epilepsi kejang umum kemungkinan epilepsi
hilang lebih besar dibandingkan dengan yang
kejangnya tipe parsial. Epilepsi tipe parsial
artinya bahwa dokter Anda bisa mendiagnosa
lokasi dari sumber kejang tersebut di salah
satu bagian otak. Dan itu bukan berita buruk
bagi penderita epilepsi tipe parsial, karena
epilepsi ini mempunya respon yang baik
terhadap pembedahan. Dari penelitian yang
telah dilakukan, bahwa hanya 8% penderita
epilepsi lobus temporal (salah satu tipe
epilepsi parsial) yang bebas obat setelah
beberapa tahun diterapi dengan obat
dibandingkan dengan 64% penderita lain
dengan diagnosa yang sama tetapi menjalani
pembedahan.
Alasan kenapa timbul mitos tersebut,
adanya pikiran yang kurang benar bahwa
semua epilepsi akan hilang, karena ada
kasus penderita epilepsi yang bebas epilepsi
meski tanpa terapi yang memadai. Dokter
Anda yang ahli epilepsi akan mengetahui,
mana epilepsi yang akan terus berkembang
dan memburuk serta epilepsi yang stabil
tanpa
proses
perkembangan.
Untuk
membedakannya dibutuhkan pemeriksaan
video-EEG monitoring, baik EEG di kulit
kepala atau EEG yang di pasang di
permukaan otak.
Mitos ke lima, menunggu sampai beberapa
tahun sebelum pembedahan, toh epilepsi
tidak terlalu berbahaya bagi jiwa. Sambil
berharap-harap bisa sembuh dengan cara
pengobatan
Faktanya
bahwa
semakin
cepat
pembedahan dilakukan maka hasil akan
semakin baik. Dan ada hubungan yang erat
antara efek negatif terhadap otak dan epilepsi
yang kronik. Kejang akan menyebabkan
sinyal elektrik yang tidak normal akan
melintasi otak dan berefek terhadap sel saraf,
sambungan antar sel dan zat-zat kimia otak.
Prinsipnya semakin cepat dilakukan tindakan
hasil akan semakin baik, kondisi ini dicapai
jika pembedahan dilakukan pada anak anak.
Sedang pada dewasa bukannya tidak bisa
menyembuhkan
epilepsi,
tapi
setelah
menderita epilepsi selama 20-30 tahun ada
gangguan-gangguan
yang
tidak
bisa
membaik. Epilepsinya sendiri dengan di

hilangkannya focus abnormal-nya diharapkan


akan berhenti. Gangguan fungsi luhur/kognisi
mungkin tidak bisa membaik setelah operasi
dilakukan pada epilepsi orang dewasa. Hal
lain yang perlu dipertimbangkan untuk segera
mendapatkan pembedahan bahwa terapi obat
untuk
epilepsi
cenderung
mengurangi
kemampuan untuk berpikir dan bekerja
secara efektif.
Kenapa gangguan kognisi ini tidak menjadi
perhatian? Seperti diketahui bahwa epilepsi
adalah penyakit yang menahun, sehingga
penurunan kualitas hidup dan fungsi kognitif
yang turun pelan-pelan tidak menjadi
perhatian orang di sekelilingnnya.
Epilepsi biasanya muncul pada usia
sekolah, sehingga obat yang mempunyai efek
penenang akan mengganggu performa di
sekolah dan penyesuaian diri untuk taraf
umurnya. Oleh karena itu, jika ditemui kasus
epilepsi
yang
responsif
terhadap
pembedahan, semakin cepat dilakukan terapi
semakin besar hasil yang didapat.
Begitupun yang perlu juga dipahami,
operasi ini tidak serta merta menggantikan
OAE, sebab pada pasien-pasien refrakter
(tidak berespon baik terhadap terapi) yang
menjalani operasi, tetap memerlukan paling
tidak satu jenis OAE untuk waktu yang cukup
lama. Dan masih ada sebagian kecil
penderita epilepsi yang sampai saat ini ilmu
kedokteran belum dapat menemukan jalan
keluar yang bisa mengatasinya.
Rumah Sakit di Indonesia sudah banyak
yang memiliki alat MRI cukup baik dengan
kemampuan deteksi kelainan otak setara
dengan alat MRI yang ada di Singapura dan
Australia. Di Semarang, kerja sama yang baik
antara para dokter spesialis saraf, spesialis
bedah saraf, spesialis radiologi, dan berbagai
rumah sakit, dan dengan bantuan penuh para
pakar epilepsi Jepang, khususnya dari
Universitas Hiroshima, hingga saat ini telah
berhasil melakukan tindakan operasi pada 60
penyandang epilepsi yang bandel/sulit diobati
dengan hasil baik.
Mengingat jumlah penyandang epilepsi
yang cukup banyak, dan sebagian belum
terkelola secara baik, diperlukan kerja sama
berlanjut antara para dokter umum di
daerah/pedesaan yang berhadapan langsung
dengan para penyandang epilepsi dan/atau

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

62

INOVASI Vol.2/XVI/November 2004


keluarganya dengan rumah sakit yang
mengembangkan Pusat Layanan Epilepsi
guna
memberikan
pelayanan
paripurna/komprehensif
bagi
para
penyandang epilepsi, mulai dari diagnosis
(apakah benar suatu epilepsi, jenis epilepsi,
hal-hal yang memicu kekambuhan, adakah
faktor-faktor penyebab yang bisa dihilangkan
dan sebagainya) pengelolaan dengan OAE
(termasuk penilaian kadar OAE dalam darah,
dan
evaluasi
neuropsikologi
terhadap
perkembangan
kepribadian
penyandang
epilepsi), dan tindakan operatif bila diperlukan
untuk mengatasi epilepsi yang intraktabel
atau bandel.
Mengingat
mahalnya
biaya
untuk
pengadaan berbagai sarana tersebut di atas,
pusat pelayanan seperti ini tidak harus
terkonsentrasi pada satu tempat atau satu

rumah sakit, tetapi bisa berupa kerjasama


yang saling menopang dari beberapa rumah
sakit di satu wilayah. Selain itu, perlu sekali
upaya pendidikan bagi masyarakat agar
memahami epilepsi secara benar, dan tidak
boleh lagi ada pandangan atau perlakuan
yang salah terhadap penyandang epilepsi.
Yang
terpenting,
pencegahan
epilepsi ini harus dimulai secara dini, mulai
dari perawatan ibu hamil muda, proses
persalinan yang lancar dan aman, hingga
memelihara kesehatan anak, terutama balita
dari berbagai kelemahan/kerentanan yang
bisa memudahkan terjadinya infeksi dan/atau
cedera para otak. Peran serta masyarakat ini
antara lain bisa dimulai melalui pembentukan
perhimpunan orang tua penyandang epilepsi
di berbagai daerah, yang di Yogyakarta sudah
ada aktivitasnya.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia

63