Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut International Labour Organitation (ILO) setiap tahun
sebanyak dua juta pekerja meninggal dunia karena kecelakaan kerja yang
disebabkan oleh faktor kelelahan. Dalam penelitian tersebut dijelaskan dari
58.115 sampel, 18.828 diantaranya (32,8%) mengalami kelelahan. Sedangkan
jika pekerja mengalami kecelakaan kerja yang disebabkan oleh faktor
kelelahan, maka akan berdampak langsung pada tingkat produktivitas
kerjanya. Jadi faktor manusia sangatlah berpengaruh terhadap tingkat
produktivitas kerja, seperti masalah tidur, kebutuhan biologis, dan juga
kelelahan kerja, bahkan diutarakan bahwa penurunan produktivitas tenaga
kerja di lapangan sebagian besar disebabkan oleh kelelahan kerja
(Sedarmayanti, 2009:38).
Kelelahan merupakan masalah yang harus mendapat perhatian.
Semua jenis pekerjaan baik formal dan informal menimbulkan kelelahan
kerja. Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah kesalahan
kerja. Menurunnya kinerja sama artinya dengan menurunnya produktivitas
kerja. Apabila tingkat produktivitas seorang tenaga kerja terganggu yang
disebabkan oleh factor kelelahan fisik maupun psikis maka akibat yang
ditimbulkannya

akan

dirasakan

oleh

perusahaan

berupa

penurunan

produktivitas perusahaan (Ambar Silastuti, 2006:6)


Pada dasarnya produktivitas dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu
beban kerja, kapasitas kerja, dan beban tambahan akibat lingkungan kerja.
Beban kerja biasanya berhubungan dengan beban fisik, mental maupun sosial
yang mempengaruhi tenaga kerja. Sedangkan kapasitas kerja berkaitan
dengan kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan pada waktu tertentu. Dan
beban tambahan akibat lingkungan kerja meliputi faktor fisik, kimia, dan
faktor pada tenaga kerja sendiri yang meliputi faktor biologi, fisiologis, dan
psikologis (Depkes RI, 1990:173).

Selain itu, produktivitas tenaga kerja juga dipengaruhi oleh


beberapa faktor. Salah satunya yaitu faktor kelelahan akibat tidak
ergonomisnya kondisi sarana, prasarana dan lingkungan kerja yang
merupakan faktor dominan bagi penurunan atau rendahnya produktivitas
kerja pada tenaga kerja (A.M. Sugeng Budiono, 2003:86).
Reaction Timer adalah alat yang digunakan untuk mengukur jangka
waktu dari pemberian suatu rangsang sampai kepada suatu saat kesadaran.
Dalam pengukuran ini dapat digunakan jenis rangsang berupa nyala lampu,
denting suara, sentuhan kulit atau goyangan badan. Terjadinya pemanjangan
waktu reaksi merupakan petunjuk adanya perlambatan pada proses faal syaraf
dan otot (Tarwaka, 2004).
Pengukuran menggunakan Reaction Timer bertujuan untuk
mengetahui tingkat kelelahan responden, dalam pengukuran ini terdapat
beberapa kategori tingkat kelelahan. Berdasarkan uraian tersebut maka perlu
dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengukuran terhadap waktu reaksi
melalui praktikum ergonomi untuk mengetahui fungsi tingkat kelelahan
seseorang.
1.2 Tujuan
a) Mengenal pengukuran terhadap waktu reaksi pada responden dengan
menggunakan metode Ruler Test dan lempar bola
b) Melakukan pengukuran terhadap waktu reaksi pada responden dengan
menggunakan metode Ruler Test dan lempar bola
c) Menganalisis hasil pengukuran terhadap waktu reaksi pada responden
dengan menggunakan metode Ruler Test dan lempar bola
1.3 Manfaat
a) Mengetahui cara atau langkah kerja pengukuran terhadap waktu reaksi
pada responden dengan menggunakan metode Ruler Test dan lempar bola
b) Mengetahui hasil dan mampu menganalisa hasil pengukuran terhadap
waktu reaksi pada responden dengan menggunakan metode Ruler Test
dan lempar bola

BAB II
METODE PRAKTIKUM
2.1 Waktu
Praktikum pengukuran terhadap waktu reaksi dilaksanakan pada hari Rabu
tanggal 17 Juni 2015 pukul 14.10-16.40 WIB.
2.2 Tempat
Praktikum pengukuran terhadap waktu reaksi dilaksanakan di Gedung D
Lantai 3 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang
2.3 Alat dan Bahan
a)

Mistar besi 30 cm

b)

Bola tenis

c)

Meteran

d)

Stopwatch

e)

Lembar data

2.4 Sampling
Responden pada praktikum pengukuran terhadap waktu reaksi adalah
beberapa mahasiswa dari peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang.
2.5 Metode
A. Waktu Reaksi dengan Metode Ruler Test
1. Atur dan garis tinggi dijatuhkannya penggaris, yaitu 150 cm dari
permukaan lantai
2. Responden memegang penggaris pada angka nol
3. Responden menjatuhkan penggaris, bersamaan dengan ditekannya
stopwatch

4. Responden

segera

menangkap

penggaris

dengan

menjepit

menggunakan ibu jari dan jari telunjuk, bersamaan dengan


dihentikannya stopwatch
5. Catat jarak tangkapan (dari jarak 150 cm ke letak ibu jari dan jari
telunjuk responden)
6. Catat waktu yang tercatat di stopwatch
7. Bandingkan dengan standar
8. Analisis respon waktu reaksi seseorang
B. Waktu Reaksi dengan metode Lempar Bola
1. Pengukuran dilakukan oleh empat orang. Orang pertama menjadi
pemeriksa, orang kedua menjadi responden, orang ketiga bertugas
memegang stopwatch, sedangkan orang keempat bertugas mencatat
hasil pengukuran.
2. Pemeriksa memegang bola kasti
3. Pemeriksa melempar bola kasti secara tiba-tiba pada responden
4. Tekan stopwatch tepat pada saat pemeriksa melempar bola kasti
5. Responden menangkap bola
6. Hentikan stopwatch tepat pada saat responden menangkap bola
7. Catat keberhasilan menangkap bola dengan penilaian kualitatif sigap
atau tidak sigap
2.6 Pengolahan Data
Data yang diperoleh saat melakukan pengukuran waktu reaksi
dengan menggunakan metode Ruler Test yaitu data jarak dari lantai ke
dinding saat responden menangkap mistar dan data kecepatan waktu yang
diukur dengan stopwatch.
Data yang diperoleh saat melakukan prngukuran waktu reaksi
dengan menggunakan metode bola lempar yaitu data jarak responden yang
melempar bola hingga responden yang menerima bola dan data kecepatan
waktu yang diukur dengan stopwatch saat responden melempar bola hingga
responden lain menangkap bola. Dari kedua data tersebut kemudian dihitung
kecepatannya (v) dengan rumus jarak (s) dibagi waktu (t).

Rumus:

Keterangan:
V

= Kecepatan (m/s)

= Jarak (m)

= Waktu (s)

2.7 Analisis Data


Analisis data yang dilakukan yaitu dengan menginterpretasikan hasil
dari pengukuran, baik menggunakan metode Ruler Test maupun metode bola
lempar. Interpretasi hasil dengan menggunakan metode Ruler Test yaitu
dengan membandingkan jarak dan waktu yang telah diperoleh saat
melakukan pengukuran dengan jarak dan waktu standar yang telah
ditentukan.
Sedangkan interpretasi hasil yang menggunakan metode bola lempar
yaitu dengan membandingkan hasil kecepatan (v) yang telah diperoleh
melalui perhitungan dengan rumus jarak (s) dibagi waktu (t) dengan standar
yang telah ditentukan atau dengan penilaian kualitatif.
Tabel 2.1 Standar Waktu Reaksi dengan Metode Ruler Test

Distance
(cm)

Time
(seconds)

Distance
(cm)

Time
(seconds)

Distance
(cm)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

0,045
0,064
0,078
0,090
0,101
0,111
0,120
0,128
0,136
0,143
0,150
0,156
0,163

14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26

0,169
0,175
0,181
0,186
0,192
0,197
0,202
0,207
0,212
0,217
0,221
0,226
0,230

27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39

Time
(seconds
)
0,235
0,239
0,243
0,247
0,252
0,256
0,260
0,263
0,267
0,271
0,275
0,278
0,282

Distance
(cm)

Time
(seconds)

Distance
(cm)

Time
(seconds)

Distance
(cm)

40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52

0,286
0,289
0,293
0,296
0,300
0,303
0,306
0,310
0,313
0,316
0,319
0,323
0,326

53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65

0,329
0,332
0,335
0,338
0,341
0,344
0,347
0,350
0,353
0,356
0,359
0,361
0,364

66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78

Distance
(cm)
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89

Time
(seconds)
0,402
0,404
0,407
0,409
0,412
0,414
0,416
0,419
0,421
0,424
0,426

Distance
(cm)
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100

Time
(seconds
)
0,367
0,370
0,373
0,375
0,378
0,381
0,383
0,386
0,389
0,391
0,394
0,396
0,399

Time
(seconds)
0,429
0,431
0,433
0,436
0,438
0,440
0,443
0,445
0,447
0,449
0,452

Tabel 2.2 Penilaian Kualitatif Waktu Reaksi dengan Metode Lempar Bola

Speed (milli seconds)


40
60
80
100
120
140
160
180
200

Rating
Pretty good
A little below average
Slow
Very slow
Have another go
I would not get into a car with you
What drugs are you on?
Hello?
Wake up!
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1

Hasil
3.1.1

Hasil Pengukuran Ruler Test


Tabel 3.1 Hasil Pengukuran Ruler Test

Nama Probandus
Dhandy
April
Lena
Minati
Nimatun
Fidda
Intan
Hamas
Farah
Ilham
3.1.2

Jarak (cm)
10
15,5
18,5
22
30
43
31
15
23
19

Waktu (s)
0,51
0,54
0,44
0,38
0,38
0,23
0,35
0,41
0,16
0,40

Kategori
Tidak baik
Tidak baik
Tidak baik
Tidak baik
Tidak baik
Baik
Tidak baik
Tidak baik
Baik
Tidak baik

Hasil Pengukuran Lempar Bola


Tabel 3.2 Hasil Pengukuran Lempar Bola

Nama Probandus

Jarak (m)

Hamas
Dhandy
Lena
Farah
April
Nimatun
Minati
Intan
Ilham
Fidda

3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2
3,2

3.2

Waktu
(s)
0,043
0,028
0,035
0,049
0,039
0,046
0,043
0,050
0,041
0,043

Kecepatan
(m/s)
74,4
114,2
91,4
65,3
82,1
69,5
74,4
64
78,1
74,4

Kategori
Slow
Have another go
Very slow
A little below average
Slow
A little below average
Slow
A little below average
Slow
Slow

Pembahasan
3.2.1

Pembahasan Praktikum Ruler Test


a. Dhandy
Berdasarkan hasil pengukuran Reaction Timer menggunakan
metode Ruler Test didapatkan responden 1 menempuh jarak 10 cm
untuk menangkap mistar dengan waktu 0,51 detik, sehingga
responden 1 termasuk dalam kategori tidak baik. Dimana
menandakan bahwa responden 1 memiliki response time dan
kecepatan yang kurang. Hal ini bisa diakibatkan oleh adanya
kelelahan karena beberapa faktor salah satunya adalah aktivitas fisik

yang dilakukan sebelum melakukan pengukuran. Semakin lelah


subjek, maka semakin lambat kecepatan responnya (Welford, 1968).
Maka dapat disimpulkan responden 1 mengalami kelelahan.
b.

April
Berdasarkan hasil pengukuran Reaction Timer menggunakan

metode Ruler Test didapatkan responden 2 menempuh jarak 15,5 cm


untuk menangkap mistar dengan waktu 0,54 detik, sehingga
responden 2 termasuk dalam kategori tidak baik. Dimana
menandakan bahwa responden 2 memiliki response time dan
kecepatan yang kurang. Hal ini bisa diakibatkan oleh adanya
kelelahan karena beberapa faktor salah satunya adalah aktivitas fisik
yang dilakukan sebelum melakukan pengukuran. Semakin lelah
subjek, maka semakin lambat kecepatan responnya (Welford, 1968).
Maka dapat disimpulkan responden 2 mengalami kelelahan.
c.

Lena
Berdasarkan hasil pengukuran Reaction Timer menggunakan

metode Ruler Test didapatkan responden 3 menempuh jarak 18,5 cm


untuk menangkap mistar dengan waktu 0,44 detik, sehingga
responden 3 termasuk dalam kategori tidak baik. Dimana
menandakan bahwa responden 3 memiliki response time dan
kecepatan yang kurang. Hal ini bisa diakibatkan oleh adanya
kelelahan karena beberapa faktor salah satunya adalah aktivitas fisik
yang dilakukan sebelum melakukan pengukuran. Semakin lelah
subjek, maka semakin lambat kecepatan responnya (Welford, 1968).
Maka dapat disimpulkan responden 3 mengalami kelelahan.

d.

Minati
Berdasarkan hasil pengukuran Reaction Timer menggunakan

metode Ruler Test didapatkan responden 4 menempuh jarak 22 cm


untuk menangkap mistar dengan waktu 0,38 detik, sehingga

responden 4 termasuk dalam kategori tidak baik. Dimana


menandakan bahwa responden 4 memiliki response time dan
kecepatan yang kurang. Hal ini bisa diakibatkan oleh adanya
kelelahan karena beberapa faktor salah satunya adalah aktivitas fisik
yang dilakukan sebelum melakukan pengukuran. Semakin lelah
subjek, maka semakin lambat kecepatan responnya (Welford, 1968).
Maka dapat disimpulkan responden 4 mengalami kelelahan.
e.

Nimatun
Berdasarkan hasil pengukuran Reaction Timer menggunakan

metode Ruler Test didapatkan responden 5 menempuh jarak 30 cm


untuk menangkap mistar dengan waktu 0,38 detik, sehingga
responden 5 termasuk dalam kategori tidak baik. Dimana
menandakan bahwa responden 5 memiliki response time dan
kecepatan yang kurang. Hal ini bisa diakibatkan oleh adanya
kelelahan karena beberapa faktor salah satunya adalah aktivitas fisik
yang dilakukan sebelum melakukan pengukuran. Semakin lelah
subjek, maka semakin lambat kecepatan responnya (Welford, 1968).
Maka dapat disimpulkan responden 5 mengalami kelelahan.
f.

Fidda
Berdasarkan hasil pengukuran Reaction Timer menggunakan

metode Ruler Test didapatkan responden 6 menempuh jarak 43 cm


untuk menangkap mistar dengan waktu 0,23 detik, sehingga
responden 6 termasuk dalam kategori baik. Dimana menandakan
bahwa responden 6 memiliki response time dan kecepatan yang
bagus. Response time dapat memendek dengan latihan dan dapat
memanjang dalam kondisi kelelahan atau adanya gangguan. Dapat
disimpulkan bahwa responden 6 tidak sedang mengalami kelelahan.
g.

Intan
Berdasarkan hasil pengukuran Reaction Timer menggunakan

metode Ruler Test didapatkan responden 7 menempuh jarak 31 cm


untuk menangkap mistar dengan waktu 0,35 detik, sehingga

responden 7 termasuk dalam kategori tidak baik. Dimana


menandakan bahwa responden 7 memiliki response time dan
kecepatan yang kurang. Hal ini bisa diakibatkan oleh adanya
kelelahan karena beberapa faktor salah satunya adalah aktivitas fisik
yang dilakukan sebelum melakukan pengukuran. Semakin lelah
subjek, maka semakin lambat kecepatan responnya (Welford, 1968).
Maka dapat disimpulkan responden 7 mengalami kelelahan.
h.

Hamas
Berdasarkan hasil pengukuran Reaction Timer menggunakan

metode Ruler Test didapatkan responden 8 menempuh jarak 15 cm


untuk menangkap mistar dengan waktu 0,41 detik, sehingga
responden 8 termasuk dalam kategori tidak baik. Dimana
menandakan bahwa responden 8 memiliki response time dan
kecepatan yang kurang. Hal ini bisa diakibatkan oleh adanya
kelelahan karena beberapa faktor salah satunya adalah aktivitas fisik
yang dilakukan sebelum melakukan pengukuran. Semakin lelah
subjek, maka semakin lambat kecepatan responnya (Welford, 1968).
Maka dapat disimpulkan responden 8 mengalami kelelahan.
i.

Farah
Berdasarkan hasil pengukuran Reaction Timer menggunakan

metode Ruler Test didapatkan responden 9 menempuh jarak 23 cm


untuk menangkap mistar dengan waktu 0,16 detik, sehingga
responden 9 termasuk dalam kategori baik. Dimana menandakan
bahwa responden 9 memiliki response time dan kecepatan yang
bagus. Response time dapat memendek dengan latihan dan dapat
memanjang dalam kondisi kelelahan atau adanya gangguan. Dapat
disimpulkan bahwa responden 9 tidak sedang mengalami kelelahan.
j.

Ilham
Berdasarkan hasil pengukuran Reaction Timer menggunakan

metode Ruler Test didapatkan responden 10 menempuh jarak 19 cm


untuk menangkap mistar dengan waktu 0,40 detik, sehingga

10

responden 10 termasuk dalam kategori tidak baik. Dimana


menandakan bahwa responden 10 memiliki response time dan
kecepatan yang kurang. Hal ini bisa diakibatkan oleh adanya
kelelahan karena beberapa faktor salah satunya adalah aktivitas fisik
yang dilakukan sebelum melakukan pengukuran. Semakin lelah
subjek, maka semakin lambat kecepatan responnya (Welford, 1968).
Maka dapat disimpulkan responden 10 mengalami kelelahan.
3.2.2

Pembahasan Praktikum Lempar Bola


a. Hamas
Pada tabel hasil pengukuran didapat responden memiliki
kecepatan menangkap 74,4 m/s, dimana termasuk dalam kategori
Slow. Hal ini menandakan bahwa respon dan kecepatan menangkap
bola serta ketangkasan lambat. Beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi
konsentrasi

adalah

akibat

responden

mengalami

tidak

kelelahan

fokus

dan

sebelum

kurang
aktivitas

pengukuran. Semakin lambat gerakan seseorang akan menunjukkan


semakin lelah kondisi otot seseorang, sehingga dapat disimpulkan
bahwa responden mengalami kelelahan sedang. Namun kesalahan
pengukuran juga bisa terjadi karena adanya perbedaan kecepatan
pelemparan bola oleh sumber pelempar.
b. Dhandy
Pada tabel hasil pengukuran didapat responden memiliki
kecepatan menangkap 114,2 m/s, dimana termasuk dalam kategori
Have another go. Hal ini menandakan bahwa respon dan kecepatan
menangkap bola serta ketangkasan jauh dibawah rata-rata normal.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut bisa terjadi
karena responden tidak fokus dan tidak konsentrasi akibat
mengalami

kelelahan

atau

adanya

gangguan

otot.

Dapat

disimpulkan bahwa responden mengalami kelelahan.


c. Lena

11

Pada tabel hasil pengukuran didapat responden memiliki


kecepatan menangkap 91,4 m/s, dimana termasuk dalam kategori
Very slow. Hal ini menandakan bahwa respon dan kecepatan
menangkap bola serta ketangkasan sangat lambat. Beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi hal tersebut bisa terjadi karena responden
tidak fokus dan kurang konsentrasi akibat mengalami kelelahan atau
adanya gangguan otot. Dapat disimpulkan bahwa responden
mengalami kelelahan.
d. Farah
Pada tabel hasil pengukuran didapat responden memiliki
kecepatan menangkap 65,3 m/s, dimana termasuk dalam kategori A
little below average. Hal ini menandakan bahwa respon dan
kecepatan menangkap bola serta ketangkasan sedikit dibawah ratarata normal. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut
bisa terjadi karena responden tidak fokus dan kurang konsentrasi
akibat mengalami kelelahan atau adanya gangguan otot. Dapat
disimpulkan bahwa responden mengalami kelelahan.
e. April
Pada tabel hasil pengukuran didapat responden memiliki
kecepatan menangkap 82,1 m/s, dimana termasuk dalam kategori
Slow. Hal ini menandakan bahwa respon dan kecepatan menangkap
bola serta ketangkasan lambat. Beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi
konsentrasi

adalah

akibat

responden

mengalami

tidak

kelelahan

fokus

dan

sebelum

kurang
aktivitas

pengukuran. Semakin lambat gerakan seseorang akan menunjukkan


semakin lelah kondisi otot seseorang, sehingga dapat disimpulkan
bahwa responden mengalami kelelahan sedang. Namun kesalahan
pengukuran juga bisa terjadi karena adanya perbedaan kecepatan
pelemparan bola oleh sumber pelempar.
f. Nimatun
Pada tabel hasil pengukuran didapat responden memiliki
kecepatan menangkap 69,5 m/s, dimana termasuk dalam kategori A

12

little below average. Hal ini menandakan bahwa respon dan


kecepatan menangkap bola serta ketangkasan sedikit dibawah ratarata normal. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut
bisa terjadi karena responden tidak fokus dan kurang konsentrasi
akibat mengalami kelelahan atau adanya gangguan otot. Dapat
disimpulkan bahwa responden mengalami kelelahan.
g. Minati
Pada tabel hasil pengukuran didapat responden memiliki
kecepatan menangkap 74,4 m/s, dimana termasuk dalam kategori
Slow. Hal ini menandakan bahwa respon dan kecepatan menangkap
bola serta ketangkasan lambat. Beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi
konsentrasi

adalah

akibat

responden

mengalami

tidak

kelelahan

fokus

dan

sebelum

kurang
aktivitas

pengukuran. Semakin lambat gerakan seseorang akan menunjukkan


semakin lelah kondisi otot seseorang, sehingga dapat disimpulkan
bahwa responden mengalami kelelahan sedang. Namun kesalahan
pengukuran juga bisa terjadi karena adanya perbedaan kecepatan
pelemparan bola oleh sumber pelempar.
h. Intan
Pada tabel hasil pengukuran didapat responden memiliki
kecepatan menangkap 64 m/s, dimana termasuk dalam kategori A
little below average. Hal ini menandakan bahwa respon dan
kecepatan menangkap bola serta ketangkasan sedikit dibawah ratarata normal. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut
bisa terjadi karena responden tidak fokus dan kurang konsentrasi
akibat mengalami kelelahan atau adanya gangguan otot. Dapat
disimpulkan bahwa responden mengalami kelelahan.

i. Ilham
Pada tabel hasil pengukuran didapat responden memiliki
kecepatan menangkap 78,1 m/s, dimana termasuk dalam kategori

13

Slow. Hal ini menandakan bahwa respon dan kecepatan menangkap


bola serta ketangkasan lambat. Beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi
konsentrasi

adalah

akibat

responden

mengalami

tidak

kelelahan

fokus

dan

sebelum

kurang
aktivitas

pengukuran. Semakin lambat gerakan seseorang akan menunjukkan


semakin lelah kondisi otot seseorang, sehingga dapat disimpulkan
bahwa responden mengalami kelelahan sedang. Namun kesalahan
pengukuran juga bisa terjadi karena adanya perbedaan kecepatan
pelemparan bola oleh sumber pelempar.
j. Fidda
Pada tabel hasil pengukuran didapat responden memiliki
kecepatan menangkap 74,4 m/s, dimana termasuk dalam kategori
Slow. Hal ini menandakan bahwa respon dan kecepatan menangkap
bola serta ketangkasan lambat. Beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi
konsentrasi

adalah

akibat

responden

mengalami

tidak

kelelahan

fokus

dan

sebelum

kurang
aktivitas

pengukuran. Semakin lambat gerakan seseorang akan menunjukkan


semakin lelah kondisi otot seseorang, sehingga dapat disimpulkan
bahwa responden mengalami kelelahan sedang. Namun kesalahan
pengukuran juga bisa terjadi karena adanya perbedaan kecepatan
pelemparan bola oleh sumber pelempar.

BAB IV
KESIMPULAN

14

Praktikum Pengukuran Waktu Reaksi (Reaction Timer) menggunakan 2


metode yaitu Ruler Test dan Lempar bola.
Pada pengukuran waktu reaksi dengan menggunakan ruler test didapatkan,
dari 10 responden ada 2 responden yang termasuk dalam kategori baik dan 8
responden lainnya termasuk ke dalam kategori tidak baik. Artinya, sebagian besar
responden, yaitu 20 % responden, memiliki respon tanggap atau kecepatan yang
baik. Namun, 80% responden memiliki respon tanggap atau kecepatan yang tidak
baik untuk pengukuran waktu reaksi dengan ruler test. Dapat diartikan juga bahwa
80% responden mengalami kelelahan.
Pada pengukuran waktu reaksi dengan menggunakan metode lempar bola
didapatkan, dari 10 responden ada 3 responden yang termasuk dalam kategori A
little below average, 5 responden termasuk dalam kategori Slow, 1 responden
dengan kategory Very slow, dan 1 responden dengan kategori Have another go.
Artinya 30 % responden memiliki respon menangkap sedikit dibawah rata-rata, 50
% responden memiliki respon menangkap yang lambat, 10% sangat lambat, dan
10% harus sering berlatih. Semakin lambat gerakan seseorang akan menunjukkan
semakin lelah kondisi otot seseorang.
Ketelitian pemeriksa juga dapat memengaruhi hasil pengukuran reaksi
waktu ini. Selain menggambarkan tingkat kecepatan atau respon tanggap
responden, hasil pengukuran waktu reaksi ini juga dapat menggambarkan
kelelahan yang dialami oleh responden. Jika memiliki tingkat kecepatan atau
respon tanggap yang buruk, dapat dikatakan seseorang mengalami kelelahan.
Sebaliknya, jika memiliki tingkat kecepatan atau respon tanggap yang baik, dapat
dikatakan seseorang tida mengalami kelelahan.

DAFTAR PUSTAKA

15

A.M. Sugeng Budiono, dkk., 2000, Bunga Rampai Hiperkes dan KK, Semarang:
BP Universitas Diponegoro.
Ambar Silastuti, 2006, Hubungan Antara Kelelahan dengan Produktivitas Tenaga
Kerja di bagian Penjahitan PT Bengawan Solo Garment Indonesia.
Skripsi: Universitas Negeri Semarang
Andriyani, 2010, Pengukuran Kelelahan dengan Alat Reaction Timer dan
Pengaruh Kelelahan Terhadap Produktivitas pada Tenaga Kerja Bagian
Penjahitan.

Skripsi: Fakultas

Teknik. Universitas

Muhammadiyah

Surakarta.
Balai Hiperkes, 2004, Panduan Praktikum Laboratorium Keselamatan dan
Hiperkes, Semarang
Depkes RI Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat, 1990,
UpayaKesehatan Kerja Sektor Informal di Indonesia, Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Sedarmayanti, 2009, Sumber Daya Manusia dan Produktivitas, Bandung: CV
Mandar Maju.
Sumamur P.K., 1996, Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja, Jakarta: Gunung
Agung.
Tarwaka, dkk, 2004. Ergonomi Untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan
Produktifitas. Penerbit Uniba Press, Surakarta
Welford, A.T. (1968) Fundamentals of skill. London: Methuen
Yusdarli Hasibuan, 2010, Hubungan Kelelahan Kerja dan Kepuasan Kerja dengan
Produktivitas Kerja Perawat di Ruang Rawat Inap RSU Dr. Tengku
Mansyur Tanjungbalai. Skripsi: Universitas Sumatera Utara.

16

LAMPIRAN

17

Anda mungkin juga menyukai