Anda di halaman 1dari 3

1.

Ayam Berformalin
1.1. Masalah
Ribuan ayam potong mengandung formalin beredar di Tangerang.
Pengungkapan tersebut didapat setelah Subdit Sumber Daya Alam dan
Lingkungan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya bersama
BBPOM Banten melakukan inspeksi mendadak di tujuh rumah pemotongan
ayam (RPA) Tangerang pasa 10 September 2015. "Kami melakukan pengecekan
beberapa lokasi potong ayam di Tanah Tinggi, Jalan Budi Asih, Tangerang. Dari
hasil di sana ada 7 lokasi yang diduga menggunakan bahan berbaya jenis
formalin yang diberikan pada ayam potong," kata Wakil Direktur Reserse
Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Iwan Kurniawan,
Tangerang, Senin (14/9/2015). (Cahya, 2015)
Dari keterangan pemilik, mereka menggunakan barang berbahaya jenis
formalin pada ayam potong agar ayam tersebut tahan lama. Sebab mereka
melayani penjualan dalam jumlah cukup besar per harinya dan proses dalam
pendistribusian penjualan ayam potong ini cukup lama.

"Supaya tidak

membusuk dan segar di mata pembeli, makanya mereka menggunakan formalin,"


kata Iwan. Modus dari para pemilik RPA yakni mencampurkan bahan berbahaya
jenis formalin cair ke air rendaman ayam sebelum dipasarkan sehingga ayamayam tersebut tidak dapat membusuk. Dari tujuh RPA tersebut disita ribuan
potongan ayam atau seberat 1,5 ton. Selain itu disita lima jeriken formalin dari
tujuh tempat tersebut. Saat ini, baru tiga orang yang dijadikan tersangka, yakni
AH (46), MI (43), dan NR (22). (Cahya, 2015)
Bagian ayam yang diberikan formalin tidak hanya dagingnya saja, tapi juga
usus ayam. Petugas Polda Metro Jaya pada Selasa (19/5) menggerebek pabrik
rumahan mengolah usus ayam dengan formalin. Tempat itu berlokasi di seberang
Pasar Induk Tanah Tinggi, Budi Asih, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang.
Pabrik sudah lama beroperasi itu memang dikabarkan melakukan usaha
menyimpang. Sebab, warga sekitar kerap mencium aroma formalin saban pabrik
itu beroperasi. Dalam penggerebekan itu, polisi berhasil menyita usus
berformalin dari gudang seberat lima kuintal. Rencananya, usus itu sudah siap

diedarkan ke sejumlah pasar tradisional ada di Kota Tangerang. Kepala Unit I


Subdit III Narkoba Polda Metro Jaya, Kompol Alamsyah Pelupessy mengatakan,
dari hasil penggerebekan di gudang itu terdapat beberapa alat kurang higienis dan
terbilang kotor. "Seperti drum dan kolam yang airnya sudah kotor dan tak jernih,"
kata Alamsyah. Menurut Alamsyah, aksi curang pedagang jeroan ayam ini sudah
berlangsung selama tiga tahun, dan baru tercium petugas Polda Metro Jaya. "Bau
formalinnya sangat menyengat," ujar Alamsyah. (Ramadhan, 2015)
1.2. Penyebab
Salah satu penyebab dari maraknya penggunaan formalin pada daging ayam
adalah karena harga daging ayam yang semakin naik. Hal ini dapat mengurangi
daya beli konsumen, sehingga pedagang lebih memilih berlaku curang. "Ayam itu
hanya bisa bertahan satu hari satu malam kalau didiamkan di udara luar. Nah,
untuk mengakali (turunnya daya beli), pedagang bisa saja pakai formalin supaya
produknya bisa dijual beberapa hari ke depan," kata Wakil Ketua Umum Kadin
DKI Jakarta bidang Koperasi, UKM, dan Agribisnis Akhmad Syarbini.
Faktor lainnya adalah lemahnya pengawasan pada rumah pemotongan ayam
(RPH). Hal itu diungkapkan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
(YLKI) Tulus Abdi "Kasus ayam berformalin itu membuktikan pengawasan
terhadap RPH sangat lemah. Seharusnya pengawasan dilakukan dengan ketat,"
kata Tulus. Tulus menilai, mencampur makanan dengan zat berbahaya termasuk
pelanggaran berat. Oleh karena itu, dia berharap, kasus tersebut diusut sampai
tuntas. Pantauan Kompas di salah satu RPH yang sudah disegel, aktivitas pekerja
masih berjalan. Meski sudah disegel, ayam potong masih dipasok. Masih terlihat
mobil bak terbuka membawa ayam. Para pekerja menurunkan ayam-ayam
tersebut dan diletakkan di dalam RPH. Saat dimintai pendapat, para pekerja
menolak berkomentar.
1.3. Solusi
Solusi yang diberikan untuk mencegah mengenai masalah penyebaran ayam
berformalin ini adalah
a. Pengawasan pada rumah pemotongan ayam lebih diperketat
Pemerintah Kota Tangerang dan Polda Metro Jaya telah memperketat
pengawasan terhadap 33 rumah potong hewan. Hal itu dilakukan setelah

menyegel tujuh rumah potong hewan yang telah beroperasi selama 20 tahun
dan terindikasi memproduksi ayam berformalin. Pihak Kota Tangerang juga
akan membentuk tim pengawasan terpadu untuk memantau dan mengawasi
keberadaan rumah potong. Tim itu terdiri dari asisten daerah I, dinas
kesehatan, dinas ketahanan pangan dan pertanian, satpol PP, serta Bagian
Hukum Kota Tangerang. Tim ini akan mengawasi dan menindak jika
ditemukan

kembali

pelanggaran,

terutama

yang

berdampak

pada

perlindungan konsumen
b. Konsumen sebaiknya lebih cermat dalam memilih daging yang bukan
berformalin
Konsumen dapat mencoba untuk lebih teliti dalam memilih daging ayam
segar, berikut merupakan ciri-ciri daging ayam berformalin
Jika dicium dagingnya akan berbau obat.
Warna kulitnya lebih pucat dibanding daging ayam segar.
tidak rusak selama dua hari pada suhu kamar 25 derajat celsius,
Pada bagian paha sampai kaki terlihat kaku.
tidak dikerumuni lalat.
teksturnya sangat kencang
c. Adanya kontrol harga di pasaran

DAFTAR PUSTAKA
Cahya,
K.D.
2015.
Available
at
:
http://megapolitan.kompas.com/read/2015/09/14/15363301/Ribuan.Ayam.B
erformalin.Beredar.di.Tangerang (Diakses pada 29 September 2015)
Rahmadani, M . 2015. Available at : http://www.merdeka.com/peristiwa/polisigerebek-pabrik-usus-ayam-berformalin-di-tangerang.html (diakses pada 29
September 2015)