Anda di halaman 1dari 15

Lingkungan Pengendapan Batuan Karbonat

BATUAN KARBONAT

Pengertian Batuan Karbonat


Batuan dan sedimen karbonat dapat didefinisikan sebagai batuan dan sedimen
yang mengandung lebih dari 50% mineral-mineral karbonat yang tersusun oleh ion
CO32- dan satu atau lebih kation. Mineral karbonat yang paling umum dijumpai
adalah kalsit (CaCO3), yang merupakan komponen pokok batugamping. Pada
pembentukan batuan karbonat, kalsit (CaCO3) dan dolomit (CaMg(CO3)2) adalah
mineral yang paling melimpah, lebih dari 90% karbonat alami berupa batugamping
dan dolomit (Scoffin, 1987).
Dalam proses pembentukkannya, karbonat memiliki keistimewaan yaitu hanya
terbentuk dari larutan dan tidak ada ada detritus dari daratan. Pembentukkannya
melibatkan proses kimiawi dan selalu melibatkan organisme (Koesoemadinata,
1987). Komposisi batuan karbonat tidak selalu memperlihatkan lingkungan
pengendapan ataupun provenance, akan tetapi lebih mengarah ke proses
diagenesa, rekristalisasi dan replacement kalsium karbonat. Ada beberapa jenis
mineral karbonat yang biasanya menjadi penyusun batugamping, yaitu:
1.

Aragonit (CaCO3)

Mineral ini memiliki sistem ortorombik dan merupakan bentuk mineral yang paling
tidak stabil. Aragonit ini menyerupai serabut atau seperti jarum. Jarum-jarum
arragonit biasanya diendapakan secara kimiawi langsung dari presipitasi air laut.
Diagenesa lebih lanjut akan merubah aragonit menjadi kalsit.
2.

Calcite (CaCO3)

Mineral ini lebih stabil dan biasanya merupakan hasil perubahan dari aragonit.
Sering membentuk semen dan berbentuk kristal-kristal yang jelas. Kalsit memiliki
sistem kristal yang berbentuk heksagonal
3.

Dolomit CaMg(CO3)2

Mineral ini merupakan salah satu mineral penting dalam ekplorasi minyak dan gas
bumi karena sering berfungsi sebagai batuan reservoir. Memiliki bentuk kristal yang
sama dengan kalsit namun berbeda index refraksinya. Dolomit ini terbentuk
langsung dari hasil presipitasi air laut dan sebagai hasil dolomitisasi dari mineral
kalsit.

Tabel 2.1. Karakter dari aragonite, kalsit, dan dolomit (Scoffin, 1987 dengan
perubahan)

Tekstur Batuan Karbonat


Dalam membahas sifat reservoir untuk kepentingan ekplorasi minyak dan gas bumi,
tekstur batuan karbonat sangat penting untuk dibahas secara mendetail. Tekstur ini
juga dapat menunjukkan proses-proses yang bekerja pada batuan tersebut seperti
contohnya adalah proses sedimentasi dan diagenesis. Pada umumnya, penyusun
tekstur dari batuan karbonat adalah:
1.

Matriks

Matriks adalah butiran-butiran yang memiliki ukuran < 4 mikrometer pada batuan
karbonat yang mengisi rongga pori dan terbentuk pada proses sedimentasi
berlangsung. Matriks pada batuan karbonat dapat dihasilkan dari pengendapan
langsung aragonit menjadi kalsit, melalui proses kimia ataupun biokimiawi, dan
prosesfisika seperti erosi koral dan alga oleh gelombang sebagai kalsit yang
kemudian membentuk lumpur gampingan (lime mud) yang diendapkan pada
daerah dengan kondisi energi yang relatif tenang. Beberapa mikrit merupakan
presipitasi kimia yang berasosiasi dengan suhu dan salinitas atau perubahan
tekanan parsial CO2 (Fadhilestari, 2011)

2.

Semen kalsit

Semen pada batuan karbonat umumnya terdiri dari butir-butir mineral kalsit yang
jelas atau dikenal juga dengan istilah sparry calcite atau spar (Folk, 1952 dalam
Scoffin, 1987)
3.

Butiran.

Pada umumnya, butiran ini ada 2 macam, yaitu butiran cangkang dan butiran noncangkang. Butiran cangkang merupakan butiran yang berasal langsung dari
organisme mikrofossil ataupun sebagai pecahan-pecahan makrofossil. Sedangkan
Butiran non cangkang merupakan butiran yang dihasilkan dari proses erosi material
cangkang yang telah terbentuk sebelumnya. Butiran ini memiliki variasi baik asal
maupun bentukannya. Folk (1959) membagi butiran non cangkang menjadi 4
macam, yaitu: klastika, butiran agregat, peloids dan coated grains.

Porositas Batuan Karbonat


Dalam batuan karbonat, terdapat dua jenis porositas, yaitu porositas primer dan
porositas sekunder. Porositas primer merupakan jenis porositas yang terbentuk
pada saat sedimentasi berlangsung di suatu lingkungan pengendapan. Sdangkan
porositas sekunder adalah lubang-lubang pori yang terbentuk ketika proses
sedimentasi selesai, contohnya adalah akibat proses pelarutan, retakan-retakan
yang dibentuk akibat aktivitas organisme, dan juga struktur geologi akibat proses
tektonisme.

Lingkungan Pengendapan Karbonat


Menurut Koesoemadinata (1987), terdapat beberapa ciri yang memungkinkan
sebagai tempat lingkungan pengedapan karbonat, berikut adalah ciri-ciri tersebut:
1.
Bebas dari material sedimen darat (terrigeneous) atau klastik detritus. Secara
tektonik berarti daerah ini dalam keadaan yang stabil dan tidak mengalami
pengangkatan. Di daerah Indonesia sendiri, biasa terjadi pada zama OligosenMiosen. Selain itu, lingkungan pengendapan karbonat merupakan daerah laut yang
airnya cenderung jernih dan terkena sinar matahari yang cukup intensif.
2.

Daerah Paparan Laut Dangkal

Pengendapan karbonat memerlukan kondisi yang jenuh dari suatu konsentrasi


akibat proses penguapan yang terjadi terus-menerus. Laut dangkal merupakan
daerah yang cocok dengan kondisi tersebut. Laut yang terlalu dalam akan
menyebabkan suatu proses partial pressure CO2 yang terlalu tinggi.
3.

Iklim tropis atau semitropis

Iklim ini sangat membantu dalam proses penguapan. Kondisi yang cukup hangat
dapat merangsang pertumbuhan dari material karbonat.

Pembagian Lingkungan Karbonat menurut Scholle, Bebout, Moore (1983)


Batuan karbonat memiliki beberapa lingkungan pengendapan yang bisa berasal dari
lingkungan darat hingga laut. Scholle et all (1983) membagi lingkungan
pengendapan karbonat menjadi 12 lingkungan yang memiliki karakteristik khusus
pada setiap lingkungan pengendapannya. Berikut ini adalah macam-macam
lingkungan pengendapan yang disusun dari daerah non-marine hingga ke laut
dalam:
1.

Subaerial Expossure

2.

Danau

3.

Eolian

4.

Tidal Flat

5.

Pantai

6.

Shelf

7.

Middle Shelf

8.

Terumbu

9.

Bank Margin

10. Fore Reef Slope


11. Batas Cekungan
12. Pelagic
Subaerial Expossure
Daerah ini merupakna daerah yang bisa berada di darat maupun di laut. Prosesproses yang berlangsung seperti proses non-deposisi, erosi, dan jeda sekuen.
Proses alterasi yang membentuk zonasi merupakan salah satu proses yang
berlangsung di bawah subaerial surface, proses ini juga melibatkan proses
pelapukan. Faktor penting lainnya adalah iklim, intensitas, dan durasi. Kenampakan
akibat proses ini akan sangat membantu dalam mengidentifikasi genentik dari
batuan yang terbentuk.
Produk dari lingkungan pengendapan ini tersusun atas 2 anggota fasies karbonat
yang mengalami diagenesis, yaitu: fasies karst dan fasies soil. Kedua fasies tersebut
terbentuk akibat proses ekpos ke daratan. Salah satu proses penting lainnya pada
fasies soil ialah proses litifikasi.
Sebagai geologist yang mempelajari batuan, maka ada beberapa alasan penting
yang harus dipahami dari lingkungan ini:
1.
Subaerial Expossure memberikan informasi penting mengenai suatu peristiwa
yang harus diuraikan pada kurun waktu geologi suatu daerah
2.

Dapat digunakan sebagai marker untuk melakukan korelasi

3.
Kepentingan ekonomis, yaitu tempat terakumulasinya sumberdaya alam
termasuk minyak, gas, water traps sebagai batuan penutup di atas batuan reservoir

Secara umum, ada beberapa fasies lingkungan pengendapan dari daerah transisi
hingga ke pantai, yaitu:
- Submarine exposure surface
- Coastal exposure surface
- Subaerial exposure
Pertimbangan ekonomis pada daerah ini sangat berkaitan dengan ekplorasi minyak
dan gas bumi. Pada tahun 1972, berkembang teori yang menjelaskan bahwa sistem
minyak dan gas bumi berasosiasi dengan ketidakselarasan. Ketidakselarasan
tersebut berhubungan dengan proses-proses diagenesis dan juga efek dari proses
subaerial exposure.

Lakustrin
Batuan yang terbentuk dari sistem lingkungan pengendapan lakustrin sudah banyak
dikenal di dunia dan menjadi target dan derah yang berpotensi untuk ekplorasi
hidrokarbon. Pada umumnya, batuan karbonat lakustrin mengandung sistem air
tawar dan memiliki sifat basa atau dalam kondisi garam. Fasies lakustrin ini
memiliki sifat kimia dan fisika yang berbeda-beda karena pengaruh dari hidrologi
cekungan yang berkembang di tempat tersebut.
Kenampakan struktur sedimen dan penyebaran fossil yang ada akan mencerminkan
karakteristiknya, karena keunikan dari sistem lakustrin ini.
Ada empat komponen penting yang perlu diperhatikan:
1)

Material detrital

2)

Silica biogenik

3)

Material organic

4)

Mineral-mineral karbonat

Dari keempat faktor tersebut ketika suatu komponen melimpah maka tiga lainnya
akan berkurang. Akibat dari peristiwa tersebut, ketika kandungan material orgaik
berkurang, lalu diikuti oleh pengurangan klastika, dan juga silika biogenic, maka
kandungan mineral karbonat akan bertambah, dalam hal ini CaCO3 yang dapat
dikandunga bisa mencapai lebih dari 50%. Sumber utamanya dalam batuan
sedimen adalah endapan karbonat anorganik, peningkatan fotosintesis, karbonat
biogenic yang mengandung debris dari suatu tumbuhan calcareous, dan material
allochtonous.

Pertimbangan ekonomis dari daerah ini adalah kegunaanya dalam memahami


karakteristik batuan sumber dari suatu sistem minyak dan gas bumi. Karena fasies
daerah lakustrin ini ditemukan pada unit stratigrafi yang mengandung minyak dan
gas cukup berlimpah.

Eolian
Secara umum, banyak material eolian karbonat yang terendapakan pada daerah
gumuk pantai hingga ke arah pantai dengan energi yang cukup tinggi dan memiliki
iklim hangat. Hal tersebut dapat menjadi tempat akumulasi material sedimen
karbonatan. Tekstur yang bisa dijumpai di daerah ini akan memiliki sortasi yang
baik, cross-stratified clastic limestone yang berkomposisikan butiran-butiran
karbonat berukuran pasir.
Gumuk karbonat dan batugamping eolian akan sangat mungkin memiliki pola
penyebaran yang luas. Namun hal tersebut terbatas pada daerah yang memiliki
iklim hangat dan berada di dekat pantai. Gumuk karbonat ini jarang dijumpai pada
daerah gurun, namun dapat berkembang secara setempat seperti pada kipas
alluvial yang sumbernya merupakan sedimen kaya akan karbonat.

Tidal Flat
Lingkungan pengendapan tidal flat ini merupakan suatu sistem yang terintegrasi.
Semua sistem tidal flat, kecuali pada daerah yang didominasi oleh pengaruh angin,
akan memiliki tiga dasar lingkungan penegendapan, yaitu: supratidal, intertidal,
dan subtidal. Di dalam lingkungan tersebut, akan terbagi lagi menjadi beberapa sub
lingkungan pengendapan.
Daerah Supratidal
Berada pada kondisi kontak langsung dengan udara atau dalam kondisi subaerial.
Umumnya hanya terdapat pada beberapa musim tertentu. Lingkungan ini memiliki
struktur sedimen seperti laminasi, mudcrack, struktur ganggang, struktur mata
burung, stuktur fenestral, Intraklas, dan klastika tanah.
Daerah Intertidal
Berada di atas pasang surut normal dan pasang surut rendah. Daerah ini dapat
terekspos sekali hingga dua kali dalam sehari tergantung pada rezim pasang
surutnya dan kondisi angin local.
Daerah Subtidal
Lingkungan ini jarang sekali ditemui. Jika ada pun pasti terekpos terhadap udara.

Porositas dan permeabilitas pada sistem tidal flat ini memiliki perbedaan yang
cukup signifikan antara fasies yang satu dengan yang lainnya. Porositas dan
permeabilitas akan berkembang dengan baik pada daerah subtidal hingga ke
intertidal.

Pantai
Kebanyakan suatu strata batuan karbonat terendapakan pada suatu keadaan yang
hangat, laut dangkal, paparan laut, dan pada periode regressif dibandingkan
dengan sedimentasi pada saat trasgresi. Daerah panatai merupakan daerah yang
didominasi oleh gelombang yang tersusun oleh sedimen lepas, yang karakter
bagian dalamnya akan dipengaruhi oleh aktivitas pasang surutnya air laut atau
longshore current.lingkungan pengendapan pantai akan memiliki energy yang tinggi
dan memiliki kenampakan yang khusus. Struktur sedimen yang dapat ditemui
seperti perlapisan akresi planar yang terekam pada saat pola progradasi.
Endapan karbonat pantai akan terdiagenesis ketika proses pegendapannya telah
berakhir. Hasil proses diagenesis pada lingkungan pantai ini akan memiliki suatu
kenampakan khusus yang nantinya akan menjadi penciri lingkungan pantai. Proses
diagenesa tersebut adalah sementasi penecontemporaneus yang berasosiasi
dengan lingkungan foreshore.

Shelf
Lingkungan pengendapan shelf memiliki beberapa ciri seperti energy yang rendah,
dan berada pada laut dangkal, Kenampakan burrow akan banyak dijumpai.
Porositas batuan yang akan terbentuk pada lingkungan ini akan memiliki kualitas
yang rendah. Hal tersebut dikarenakan kandungan lumpur karbonat yang bisa
mencapai 65-75% (Enos dan Sawatsky, 1981 dalam Scholle et al, 1984).

Middle Shelf
Secara tektonik, daerah ini berkembang pada blok-blok kratonik dan cekungan
intrakratonik. Ada beberapa kriteria yang dimiliki oleh lingkungan pengendapan ini,
yaitu:
1.

Terdapat biota laut

2.
Tekstur batuan karbonat yang ada sangat kaya akan lumpur (mud), umumnya
adalah wackestone hingga packstone

3.
Struktur sedimen berlapis akan sangat sering dijumpai dengan lensa-lensa.
Lapisan shale tipis akan bisa terdapat sebagai sisipan
4.
Struktur sedimen lainnya yang dapat terbentuk seperti bioturbasi, burrow,
perlapisan nodular, dan flasher.
Terumbu
Terumbu berkembang pada seafloor yang memiliki sistem sedimentasinya sendiri.
Terumbu ini terbentuk dari kumpulan organisme, dan juga fossil. Tidak seperti
endapan material sedimen, daerah terumbu tidak sepenuhnya merupakan produk
dari hasil mekanisme secara mekanik. Terumbu ini tersusun oleh beberapa
komponen seperti inti terumbu (reef core), flank, dan interreef. Salah satu contoh
fosil terumbu yang ada adalah stromatolit yang terbentuk pada zaman Precambrian
hingga awal Paleozoik yang dulunya merupakan metazoan herbivore. Pada kurun
waktu sekarang, tidak ada stromatolit yang ada pada daerah samudra modern.

Lingkungan Pengendapan Batuan Karbonat


BATUAN KARBONAT

Pengertian Batuan Karbonat


Batuan dan sedimen karbonat dapat didefinisikan sebagai batuan dan sedimen
yang mengandung lebih dari 50% mineral-mineral karbonat yang tersusun oleh ion
CO32- dan satu atau lebih kation. Mineral karbonat yang paling umum dijumpai
adalah kalsit (CaCO3), yang merupakan komponen pokok batugamping. Pada
pembentukan batuan karbonat, kalsit (CaCO3) dan dolomit (CaMg(CO3)2) adalah
mineral yang paling melimpah, lebih dari 90% karbonat alami berupa batugamping
dan dolomit (Scoffin, 1987).
Dalam proses pembentukkannya, karbonat memiliki keistimewaan yaitu hanya
terbentuk dari larutan dan tidak ada ada detritus dari daratan. Pembentukkannya
melibatkan proses kimiawi dan selalu melibatkan organisme (Koesoemadinata,
1987). Komposisi batuan karbonat tidak selalu memperlihatkan lingkungan
pengendapan ataupun provenance, akan tetapi lebih mengarah ke proses
diagenesa, rekristalisasi dan replacement kalsium karbonat. Ada beberapa jenis
mineral karbonat yang biasanya menjadi penyusun batugamping, yaitu:
1.

Aragonit (CaCO3)

Mineral ini memiliki sistem ortorombik dan merupakan bentuk mineral yang paling
tidak stabil. Aragonit ini menyerupai serabut atau seperti jarum. Jarum-jarum

arragonit biasanya diendapakan secara kimiawi langsung dari presipitasi air laut.
Diagenesa lebih lanjut akan merubah aragonit menjadi kalsit.
2.

Calcite (CaCO3)

Mineral ini lebih stabil dan biasanya merupakan hasil perubahan dari aragonit.
Sering membentuk semen dan berbentuk kristal-kristal yang jelas. Kalsit memiliki
sistem kristal yang berbentuk heksagonal
3.

Dolomit CaMg(CO3)2

Mineral ini merupakan salah satu mineral penting dalam ekplorasi minyak dan gas
bumi karena sering berfungsi sebagai batuan reservoir. Memiliki bentuk kristal yang
sama dengan kalsit namun berbeda index refraksinya. Dolomit ini terbentuk
langsung dari hasil presipitasi air laut dan sebagai hasil dolomitisasi dari mineral
kalsit.

Tabel 2.1. Karakter dari aragonite, kalsit, dan dolomit (Scoffin, 1987 dengan
perubahan)

Tekstur Batuan Karbonat


Dalam membahas sifat reservoir untuk kepentingan ekplorasi minyak dan gas bumi,
tekstur batuan karbonat sangat penting untuk dibahas secara mendetail. Tekstur ini
juga dapat menunjukkan proses-proses yang bekerja pada batuan tersebut seperti
contohnya adalah proses sedimentasi dan diagenesis. Pada umumnya, penyusun
tekstur dari batuan karbonat adalah:
1.

Matriks

Matriks adalah butiran-butiran yang memiliki ukuran < 4 mikrometer pada batuan
karbonat yang mengisi rongga pori dan terbentuk pada proses sedimentasi
berlangsung. Matriks pada batuan karbonat dapat dihasilkan dari pengendapan
langsung aragonit menjadi kalsit, melalui proses kimia ataupun biokimiawi, dan
prosesfisika seperti erosi koral dan alga oleh gelombang sebagai kalsit yang
kemudian membentuk lumpur gampingan (lime mud) yang diendapkan pada
daerah dengan kondisi energi yang relatif tenang. Beberapa mikrit merupakan
presipitasi kimia yang berasosiasi dengan suhu dan salinitas atau perubahan
tekanan parsial CO2 (Fadhilestari, 2011)

2.

Semen kalsit

Semen pada batuan karbonat umumnya terdiri dari butir-butir mineral kalsit yang
jelas atau dikenal juga dengan istilah sparry calcite atau spar (Folk, 1952 dalam
Scoffin, 1987)
3.

Butiran.

Pada umumnya, butiran ini ada 2 macam, yaitu butiran cangkang dan butiran noncangkang. Butiran cangkang merupakan butiran yang berasal langsung dari
organisme mikrofossil ataupun sebagai pecahan-pecahan makrofossil. Sedangkan
Butiran non cangkang merupakan butiran yang dihasilkan dari proses erosi material
cangkang yang telah terbentuk sebelumnya. Butiran ini memiliki variasi baik asal
maupun bentukannya. Folk (1959) membagi butiran non cangkang menjadi 4
macam, yaitu: klastika, butiran agregat, peloids dan coated grains.
Porositas Batuan Karbonat
Dalam batuan karbonat, terdapat dua jenis porositas, yaitu porositas primer dan
porositas sekunder. Porositas primer merupakan jenis porositas yang terbentuk
pada saat sedimentasi berlangsung di suatu lingkungan pengendapan. Sdangkan
porositas sekunder adalah lubang-lubang pori yang terbentuk ketika proses
sedimentasi selesai, contohnya adalah akibat proses pelarutan, retakan-retakan
yang dibentuk akibat aktivitas organisme, dan juga struktur geologi akibat proses
tektonisme.

Lingkungan Pengendapan Karbonat


Menurut Koesoemadinata (1987), terdapat beberapa ciri yang memungkinkan
sebagai tempat lingkungan pengedapan karbonat, berikut adalah ciri-ciri tersebut:
1.
Bebas dari material sedimen darat (terrigeneous) atau klastik detritus. Secara
tektonik berarti daerah ini dalam keadaan yang stabil dan tidak mengalami
pengangkatan. Di daerah Indonesia sendiri, biasa terjadi pada zama OligosenMiosen. Selain itu, lingkungan pengendapan karbonat merupakan daerah laut yang
airnya cenderung jernih dan terkena sinar matahari yang cukup intensif.
2.

Daerah Paparan Laut Dangkal

Pengendapan karbonat memerlukan kondisi yang jenuh dari suatu konsentrasi


akibat proses penguapan yang terjadi terus-menerus. Laut dangkal merupakan

daerah yang cocok dengan kondisi tersebut. Laut yang terlalu dalam akan
menyebabkan suatu proses partial pressure CO2 yang terlalu tinggi.
3.

Iklim tropis atau semitropis

Iklim ini sangat membantu dalam proses penguapan. Kondisi yang cukup hangat
dapat merangsang pertumbuhan dari material karbonat.

Pembagian Lingkungan Karbonat menurut Scholle, Bebout, Moore (1983)


Batuan karbonat memiliki beberapa lingkungan pengendapan yang bisa berasal dari
lingkungan darat hingga laut. Scholle et all (1983) membagi lingkungan
pengendapan karbonat menjadi 12 lingkungan yang memiliki karakteristik khusus
pada setiap lingkungan pengendapannya. Berikut ini adalah macam-macam
lingkungan pengendapan yang disusun dari daerah non-marine hingga ke laut
dalam:
1.

Subaerial Expossure

2.

Danau

3.

Eolian

4.

Tidal Flat

5.

Pantai

6.

Shelf

7.

Middle Shelf

8.

Terumbu

9.

Bank Margin

10. Fore Reef Slope


11. Batas Cekungan
12. Pelagic
Subaerial Expossure
Daerah ini merupakna daerah yang bisa berada di darat maupun di laut. Prosesproses yang berlangsung seperti proses non-deposisi, erosi, dan jeda sekuen.
Proses alterasi yang membentuk zonasi merupakan salah satu proses yang
berlangsung di bawah subaerial surface, proses ini juga melibatkan proses

pelapukan. Faktor penting lainnya adalah iklim, intensitas, dan durasi. Kenampakan
akibat proses ini akan sangat membantu dalam mengidentifikasi genentik dari
batuan yang terbentuk.
Produk dari lingkungan pengendapan ini tersusun atas 2 anggota fasies karbonat
yang mengalami diagenesis, yaitu: fasies karst dan fasies soil. Kedua fasies tersebut
terbentuk akibat proses ekpos ke daratan. Salah satu proses penting lainnya pada
fasies soil ialah proses litifikasi.
Sebagai geologist yang mempelajari batuan, maka ada beberapa alasan penting
yang harus dipahami dari lingkungan ini:
1.
Subaerial Expossure memberikan informasi penting mengenai suatu peristiwa
yang harus diuraikan pada kurun waktu geologi suatu daerah
2.

Dapat digunakan sebagai marker untuk melakukan korelasi

3.
Kepentingan ekonomis, yaitu tempat terakumulasinya sumberdaya alam
termasuk minyak, gas, water traps sebagai batuan penutup di atas batuan reservoir
Secara umum, ada beberapa fasies lingkungan pengendapan dari daerah transisi
hingga ke pantai, yaitu:
- Submarine exposure surface
- Coastal exposure surface
- Subaerial exposure
Pertimbangan ekonomis pada daerah ini sangat berkaitan dengan ekplorasi minyak
dan gas bumi. Pada tahun 1972, berkembang teori yang menjelaskan bahwa sistem
minyak dan gas bumi berasosiasi dengan ketidakselarasan. Ketidakselarasan
tersebut berhubungan dengan proses-proses diagenesis dan juga efek dari proses
subaerial exposure.

Lakustrin
Batuan yang terbentuk dari sistem lingkungan pengendapan lakustrin sudah banyak
dikenal di dunia dan menjadi target dan derah yang berpotensi untuk ekplorasi
hidrokarbon. Pada umumnya, batuan karbonat lakustrin mengandung sistem air
tawar dan memiliki sifat basa atau dalam kondisi garam. Fasies lakustrin ini
memiliki sifat kimia dan fisika yang berbeda-beda karena pengaruh dari hidrologi
cekungan yang berkembang di tempat tersebut.
Kenampakan struktur sedimen dan penyebaran fossil yang ada akan mencerminkan
karakteristiknya, karena keunikan dari sistem lakustrin ini.

Ada empat komponen penting yang perlu diperhatikan:


1)

Material detrital

2)

Silica biogenik

3)

Material organic

4)

Mineral-mineral karbonat

Dari keempat faktor tersebut ketika suatu komponen melimpah maka tiga lainnya
akan berkurang. Akibat dari peristiwa tersebut, ketika kandungan material orgaik
berkurang, lalu diikuti oleh pengurangan klastika, dan juga silika biogenic, maka
kandungan mineral karbonat akan bertambah, dalam hal ini CaCO3 yang dapat
dikandunga bisa mencapai lebih dari 50%. Sumber utamanya dalam batuan
sedimen adalah endapan karbonat anorganik, peningkatan fotosintesis, karbonat
biogenic yang mengandung debris dari suatu tumbuhan calcareous, dan material
allochtonous.
Pertimbangan ekonomis dari daerah ini adalah kegunaanya dalam memahami
karakteristik batuan sumber dari suatu sistem minyak dan gas bumi. Karena fasies
daerah lakustrin ini ditemukan pada unit stratigrafi yang mengandung minyak dan
gas cukup berlimpah.

Eolian
Secara umum, banyak material eolian karbonat yang terendapakan pada daerah
gumuk pantai hingga ke arah pantai dengan energi yang cukup tinggi dan memiliki
iklim hangat. Hal tersebut dapat menjadi tempat akumulasi material sedimen
karbonatan. Tekstur yang bisa dijumpai di daerah ini akan memiliki sortasi yang
baik, cross-stratified clastic limestone yang berkomposisikan butiran-butiran
karbonat berukuran pasir.
Gumuk karbonat dan batugamping eolian akan sangat mungkin memiliki pola
penyebaran yang luas. Namun hal tersebut terbatas pada daerah yang memiliki
iklim hangat dan berada di dekat pantai. Gumuk karbonat ini jarang dijumpai pada
daerah gurun, namun dapat berkembang secara setempat seperti pada kipas
alluvial yang sumbernya merupakan sedimen kaya akan karbonat.

Tidal Flat
Lingkungan pengendapan tidal flat ini merupakan suatu sistem yang terintegrasi.
Semua sistem tidal flat, kecuali pada daerah yang didominasi oleh pengaruh angin,
akan memiliki tiga dasar lingkungan penegendapan, yaitu: supratidal, intertidal,

dan subtidal. Di dalam lingkungan tersebut, akan terbagi lagi menjadi beberapa sub
lingkungan pengendapan.
Daerah Supratidal
Berada pada kondisi kontak langsung dengan udara atau dalam kondisi subaerial.
Umumnya hanya terdapat pada beberapa musim tertentu. Lingkungan ini memiliki
struktur sedimen seperti laminasi, mudcrack, struktur ganggang, struktur mata
burung, stuktur fenestral, Intraklas, dan klastika tanah.
Daerah Intertidal
Berada di atas pasang surut normal dan pasang surut rendah. Daerah ini dapat
terekspos sekali hingga dua kali dalam sehari tergantung pada rezim pasang
surutnya dan kondisi angin local.
Daerah Subtidal
Lingkungan ini jarang sekali ditemui. Jika ada pun pasti terekpos terhadap udara.
Porositas dan permeabilitas pada sistem tidal flat ini memiliki perbedaan yang
cukup signifikan antara fasies yang satu dengan yang lainnya. Porositas dan
permeabilitas akan berkembang dengan baik pada daerah subtidal hingga ke
intertidal.

Pantai
Kebanyakan suatu strata batuan karbonat terendapakan pada suatu keadaan yang
hangat, laut dangkal, paparan laut, dan pada periode regressif dibandingkan
dengan sedimentasi pada saat trasgresi. Daerah panatai merupakan daerah yang
didominasi oleh gelombang yang tersusun oleh sedimen lepas, yang karakter
bagian dalamnya akan dipengaruhi oleh aktivitas pasang surutnya air laut atau
longshore current.lingkungan pengendapan pantai akan memiliki energy yang tinggi
dan memiliki kenampakan yang khusus. Struktur sedimen yang dapat ditemui
seperti perlapisan akresi planar yang terekam pada saat pola progradasi.
Endapan karbonat pantai akan terdiagenesis ketika proses pegendapannya telah
berakhir. Hasil proses diagenesis pada lingkungan pantai ini akan memiliki suatu
kenampakan khusus yang nantinya akan menjadi penciri lingkungan pantai. Proses
diagenesa tersebut adalah sementasi penecontemporaneus yang berasosiasi
dengan lingkungan foreshore.

Shelf

Lingkungan pengendapan shelf memiliki beberapa ciri seperti energy yang rendah,
dan berada pada laut dangkal, Kenampakan burrow akan banyak dijumpai.
Porositas batuan yang akan terbentuk pada lingkungan ini akan memiliki kualitas
yang rendah. Hal tersebut dikarenakan kandungan lumpur karbonat yang bisa
mencapai 65-75% (Enos dan Sawatsky, 1981 dalam Scholle et al, 1984).

Middle Shelf
Secara tektonik, daerah ini berkembang pada blok-blok kratonik dan cekungan
intrakratonik. Ada beberapa kriteria yang dimiliki oleh lingkungan pengendapan ini,
yaitu:
1.

Terdapat biota laut

2.
Tekstur batuan karbonat yang ada sangat kaya akan lumpur (mud), umumnya
adalah wackestone hingga packstone
3.
Struktur sedimen berlapis akan sangat sering dijumpai dengan lensa-lensa.
Lapisan shale tipis akan bisa terdapat sebagai sisipan
4.
Struktur sedimen lainnya yang dapat terbentuk seperti bioturbasi, burrow,
perlapisan nodular, dan flasher.
Terumbu
Terumbu berkembang pada seafloor yang memiliki sistem sedimentasinya sendiri.
Terumbu ini terbentuk dari kumpulan organisme, dan juga fossil. Tidak seperti
endapan material sedimen, daerah terumbu tidak sepenuhnya merupakan produk
dari hasil mekanisme secara mekanik. Terumbu ini tersusun oleh beberapa
komponen seperti inti terumbu (reef core), flank, dan interreef. Salah satu contoh
fosil terumbu yang ada adalah stromatolit yang terbentuk pada zaman Precambrian
hingga awal Paleozoik yang dulunya merupakan metazoan herbivore. Pada kurun
waktu sekarang, tidak ada stromatolit yang ada pada daerah samudra modern.