Anda di halaman 1dari 5

BAB 9 : MATERIALITAS DAN RISIKO

MATERIALITAS
Materialitas adalah pertimbangan utama dalam menentukan ketepatan laporan audit yang
harus dikeluarkan. Materialitas didefinisikan sebagai besarnya penghapusan atau salah saji
informasi keuangan yang memperhitungkan situasinya, menyebabkan pertimbangan
seseorang yang bijaksana yang mengendalkan informasi tersebut mungkin akan berubah atau
terpengaruh oeh penghapusan atau salah saji tersebut.
Karena bertanggung jawab menentukan apakah laporan keuangan salah saji secara material
dan auditormenemukan salah saji yang material, auditor harus menyampaikannya kepada
klien, sehingga bisa dilakukan tindakan koreksi. Jika klien menolak untuk melakukan
koreksi, auditor harus mengeluarkan pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat
tidak wajar, tergantung pada seberapa material salah saji tersebut. Agar dapat melakukan
penentuan semacam itu, auditor bergantung padapengetahuan yang mendalam mengenai
penerapan konsep materialitas. Langkah-langkah dalam menerapkan materialitasadalah
sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
5)

Menetapkan pertimbangan,pendahuluan tentang materialitas


Mengalokasikan pertimbangan pendahuluan tentang materialitas ke segmen-segmen
Mengestimasi total salah saji dalam segmen
Memperkirakan salah saji gabungan
Membandingkan salah saji gabngan dengan pertimbangan pendahuluan atau yang
direvisi tentang materialitas

(Langkah 1 dan 2 adalah merencanakan luas pengujian, Langkah 3,4 dan 5 adalah mengevaluasi hasil-hasil)

Menetapkan Pertimbangan Pendahuluan Tentang Materialitas


SAS 107 (AU 312) mengharuskan auditor memutuskan jumlah salah saji gabungan dalam
laporan keuangan, yang akan mereka anggap material pada awal audit ketika sedang
mengembangkan strategi audit secara keseluruhan.
Auditor menetapkan pertimbangan pendahuluan tentang materialitas untuk membantu
merencanakan pengumpulan ukti ang tepat. Semakin rendah nilai uang pertimbangan
pendahuluan ini, semakin banyak bukti audit yag dibutuhkan.
Selama pelaksanaan audit, auditor seringkali mengubah pertimbangan pendahuluan tentang
materialitas. Hal ini disebut sebagai pertimbangan tentang materialitas yang direvisi(revised
judgement about materiality). Auditor mungkina akn melakukan revisi karena adanya
perubahan dalam salah sat faktor yang digunakan untuk menentukan pertimbangan
pendahuluan, karena auditor memutuskan bahwa pertimbangan pendahuluan terlalu besar

Atau terlalu kecil. Dibawah ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pertimbangan
pendahuluan auditor tentang materialitas untuk seperangkat laporan keuangan tertentu:

Materialitas adalah konsep yang bersifat relatif ketimbang absolut: Salah saji dalam
jumlah tertentu mungkin saja material bagi perusahaan kecil, tetapi dapat saja tidak
material bagi perusahaan besar.
Dasar yang diperlukan untuk mengevaluasi materialitas: Materialitas bersifat relatif,
diperlukan dasar untuk menentukan apakah salah saji itu material. Laba bersih
sebelum pajak seringkali menjadi dasar utama untuk menentukan berapa jumlah yang
material bagi yang berorientasi laba. Beberapa perusahan menggunakan dasar utama
yang berbeda karena laba bersih sering kali berfluktuasi cukup besar dari satu tahun
ketahun lainnya,sehingga tidak memberikan dasar yang stabil, atau bila entitas itu
adalah organisasi nirlaba. Dasar utaa lainnya meliputi penjualan bersih,laba kotor,
serta total aktiva atau aktiva bersih.Setelah menetapkan dasar utama, auditor juga
harus memutuskan apakah salah saji it dapat mempengaruhi secara material kelayakan
dasar-dasar lainnyaseperti aktiva lancar,total aktiva,kewajiban lancar, dan ekuitas
pemilik.
Faktor-faktor kualitatif yang juga mempengaruhi materialitas: Jenis salah saji
tertentumungkin lebih penting bag para pemakai dibandingkan salah saji
lainnya,sekalipun nilai dolarnya sama.

Mengalokasikan Pertimbangan Pendahuluan Tentang Materialitas ke Segman-Segmen (Salah


Saji yang Dapat di Toleransi)
Alokasi pertimbangan pendahulua tentang materialitas ke segmen-segmen perlu dilakukan
karena auditor mengumpulkan bukti per segmen dan bukan untuk laporan keuangan secara
keseluruhan.
Sebagian besar praktisi mengalokasikan materialitas ke akun-akun neraca dan bukan ke akunakun laporan laba rugi, karena kebanyakan saah saji dalam laporan laba rugi memiliki
pengaruh yang sama terhadap neraca akibat diguakannya sistem pembukuan double-entry.
Jadi pertimbangan pendahuluan tidak boleh dialokasikan baik ke akun laporan laba rugi
maupun neraca karena akan menghasilkan perhitungan ganda,yang selanjutnya akan
menyebaban salah saji yang dapat ditoleransi menjadi lebih kecil dari yang diinginkan.
Ketika auditor mengalokasikan pertimbanganpendahulaun tentang materialitas ke saldo akun,
materialitas yang dialokasikan ke sado akun tertentu itu disebut dalam SAS 107 (AU 312)
sebagai salah saji yang dapat ditoleransi (tolerable misstatement).
Aufitor menghadapi tiga kesulitan utama dalam mengalokasikan materialitas pada akun-akun
neraca:
1. Auditor memperkirakan akun-akun tertentu mengandung lebih banyak salah saji
dibandingkan akun-akun lainnya
2. Baik lebih saji atu kurang saji harus dipertimbangkan

3. Biaya audit relatif mempengaruhi pengalokasian ini


Tujuan mengalokasikan pertimbngan pendahuluan tentang materialitas ke akun-akunneraca
adalah membantu auditor memutuskan bukti yang tepat yang harus dikumpulkan bagi setiap
akun dalam neraca maupun laporan laba rugi. Salah satu sasaran pengalokasian ini adalah
meminimalkan biaya audit tanpa mengorbankan mutu audit. Tanpa menghiraukan bagaimana
alokais itu dilakukan, apabila audit itu telah selesai, auditor harus yakin bahwa salah saji
gabungan dalam semua akun lebih kecil dari atau sema dengan pertimbangan pendahuluan
(atau yang direvisi) tentang meterialitas.

Mengestimasi Salah Saji dan Membandingkan dengan Pertimbangan Pendahuluan


Ketika melaksanakan prosedur audit untuk setiap segmen audit, auditor membuat kertas kerja
untuk mencatat semua salah saji yang ditemukan.Slah saji yang ditemukan ada dua jenis,
yaitu:
Salah saji yang diketahui (known misstatement) adalah salah saji dalam akun yang
jumlahnya dapt ditentukan oleh auditor
Salah saji yang mungkin (likely misstatement) yang terbagi lagi menjadi dua jenis ,yang
pertama adalah salah saji yang berasal dari perbedaan antara pertimbangan manajemen dan
auditor tentang estimasi saldo akun. Jenis yang kedua adalah proyeksi salah saji berdasarkan
pengujian auditor atas sampel dari suatu populasi.

RISIKO
Audito mengaku ketidakpastian yang melekat tentang ketetapan bukti, ketidakpastian tentang
keefektifan pengendalian internal klien, serta ketidakpastian tentang apakah laporan
keuangan telah disajikan secara wajar ketika audit selesai dilakukan. Auditor yang efektif
akan mengakui bahwa memang ada risiko dan akan menangani risiko tersebut dengan cara
yang tepat. Sebagian besar risiko telah dihadapi auditor sulit diukur serta membutuhkan
pertimbangan yang cermat sebelum auditor dapat merespon dengan tepat. Merespon risikorisiko ini dengan baik sangat menentukan dalam mencapai audit yang bermutu tinggi.

Jenis-Jenis Risiko

Risiko deteksi yang direncanakan (planned detection risk) adalah risiko bahwa bukti
audit untuk suatu segmen akan gagal mendeteksi salah saji yag melebihi salah saji
yang dapat ditoleransi. Resiko deteksi yang direncanakan menentukan jumlah bukti
substantif yang direncanakan akan dikumpulkan auditor, yang besarnya berlawanan
dengan risiko deteksi yang direncakan. Jika risiko deteksi yang direncanakan

dikurangi, auditor harus mengumpulkan lebih banyak bukti untik mencapai


pengurangan risiko itu.
Risiko inheren mengukur penilaian auditor atas kemungkinan adanya salah saji
(kekeliruan atau kecurangan) yang materialdalam segmen, sebelum memperhitungkan
keefektifan pengendalian internal. Jika auditor meyimpulkan bahwa kemungkinan
besar akan ada salah saji, dengan mengabaikan pengendalian internal, auditor akan
menyimpulkan bahwa risiko inheren adalah tinggi. Pengendalian internal diabaikan
dalam penetapan risiko inheren karena pengendalian internal ini diperhitungkan
secara terpisah dalam model risiko audit sebagai risiko pengendalian. Risiko inheren
berbanding terbalik dengan risiko deteksi yang direncanakan dan bersifat langsung
dengan bukti.
Risiko pengendalian (control risk) mengukur penilaian auditor mengenai apakah salah
saji yang melebihi jumlah yang dapat ditoleransi dalam suatu segmen akan dicegah
atau terdeteksi secara tepat waktu oleh pengendalian internal klien. Asumsikan
auditor menyimpulkan bahwa pengendalian internal sama sekali tidak efektif untuk
mencegah atau mendeteksi salah saji.
Risiko audit yang dapat diterima (acceptable audit risk) adalah ukuran kesediaan
auditor untuk menerima bahwa laporan keuangan mungkin mengandung salah saji
yang material setelah audit selesai, dan pendapat wajar tanpa pengecuaian telah
dikeluarkan. Apabila auditor memutuskan risiko audit yang dapat diteima yang lebih
rendah, auditor ingin lebih yakin bahwa laporan keuangan tidak disalahsajikan secara
material. Risiko nol berarti yakin sekali, dan risiko seratus persen berarti sama sekali
tidak yakin. Keyakinan penuh (risiko nol) mengenai keakuratan laporan keuangan
secara ekonomi tidak praktis. Sering kali aditor assurance (yang disebut assurance
keseluruhan atau tingkat assurance)dan bukan risiko audit yang dapat diterima.
Audit assurance atau istilah-istilah lain yang sejenis merupakan pelengkap risiko audit
yang dapat diterima, yaitu satu dikurangi risiko audit yang dapat diterima. Dengan
kata lain, risiko audit yang diterima sebesar 2 persen sama dengan audit assurance
sebesar 98 persen.

Menilai Risiko Audit yang Dapet Diterima


Auditor sebaiknya harus memutuskan risiko audit yang dapat diterima yang tepat bagi suatu
audit selama perencanaan audit. Pertama auditor memutuskan risiko penugasan dan
kemudian menggunakan risiko penugasan ini untuk memodifikasi risiko audit yang dapat
diterima.
Risiko penugasan (engagement risk) adalah risiko bahwa auditor atau kantor akuntanpublik
akan menderita kerugian setelah audit selesai, walaupun laporan audit sudah benar. Hasil riset
menunjukkan beberapa faktor yang mempengaruhi risiko penugasan dan mempengaruhi juga
risiko audit yang dapat diterima. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:

Derajat ketergantungan pemakai eksternal pada laporan keuangan

Kemungkinan bahwa klien akan mengalami kesulitan keuangan setelah laporan audit
dikeluarkan
Evaluasi auditor atas integritas manajemen

Untuk menilai risiko audit yang dapat diterima, pertama auditor harus menilai setiap faktor
yang mempengaruhi risiko audit yang dapat diterima. Mengilustrasikan metode yang
digunakan para auditor untuk menilai masing-masing dari ketiga faktor yang telah dibahas,
setelah itu akan mudah untuk mengamati bahwa penilaian atas setiap faktor bersifat sangat
subjektif, yang berarti penilaian risiko audit yang dapat diterima secara keseluruhan juga
sangat subjektif. Evaluasi yang lazim atas risiko audit yang dapat diterima adalah tinggi,
sedang, atau rendah dimana penilaian resiko audit yang dapat diterima yang rendah berarti
klien tersebut riskan dan mebutuhkan bukti yang lebih ekstensif, penugasan personil yang
lebih berpengalaman,dan/atau review yang lebih ekstensif atas dokumentasi audit. Selama
penugasan berlangsung, auditor memperoleh informasi tambahan tentang klien, sehingga
risiko audit yang dapat diterima dapat dimodifikasi.

Menilai Risiko Inheren


Aditor harus menilai faktor-faktor yang menyebabkan risiko inheren dan memodifikasi bukti
audit untuk memperhitungkan faktor-faktor tersebut. Auditor harus mempertimbangkan
beberapa faktor utama ketika menilai risiko inheren:

Sifat bisnis klien


Hasil audit sebelumnya
Penugasan awal versus penugasan berulang
Pihak-pihak yang terkait
Transaksi nonrutin
Pertimbangan yang diperlukan untuk mencatat saldo akun dan transaksi dengan tepat
Unsur-unsur populasi
Faktor-faktor yang berkaitan dengan pelaporan keuangan yang curang
Faktor-faktor yang berkaitan dengan misapropriasi aktiva

Sifat Bisnis Klien risiko inheren untuk akun-akun tertentu dipengaruhi oleh sifat bisnis klien.