Anda di halaman 1dari 7

Perjanjian Pemborongan Kontrak Konstruksi

A. Latar Belakang
Perjanjian pemborongan disebut dengan istilah Pemborongan
Pekerjaan. Perjanjian Pemborongan Pekerjaan adalah perjanjian timbal
balik antara hak dan kewajiban, yang mana terdapat persetujuan antara
pihak yang satu, si pemborong, mengikatkan diri untuk
menyelenggarakan pekerjaan, sedang pihak yang lain yang
memborongkan, mengikatkan diri untuk membayar suatu harga yang
ditentukan.1 Perjanjian ini bersifat konsensuil, yang artinya
perjanjian/kontrak itu lahir atau ada sejak adanya kata sepakat antara
kedua belah pihak. Dengan adanya kata sepakat tersebut, perjanjian
pemborongan mengikat kedua belah pihak artinya para pihak tidak dapat
membatalkan perjanjian pemborongan tanpa persetujuan pihak lainnya.
Jika perjanjian pemborongan dibatalkan atau diputuskan secara sepihak,
maka pihak lainnya dapat menggugatnya. Perjanjian Pemborongan
pekerjaan bentuknya bebas (vormvrij) artinya perjanjian pemborongan
pekerjaan dapat dibuat secara lisan maupun tertulis. Perjanjian lisan atau
dengan kesepakatan diatur dalam Pasal 1320 KUH Perdata, sedangkan
perjanjian tertulis diatur dalam pasal 1628 KUH Perdata.
Suatu perjanjian pemborongan pekerjaan yang menyangkut harga
borongan kecil biasanya perjanjian pemborongan dibuat secara lisan,
sedangkan apabila perjanjian pemborongan menyangkut harga besar,
biasanya perjanjian dibuat secara tertulis baik dengan akta dibawah
tangan maupun otentik.
Perjanjian pemborongan pekerjaan pada proyek-proyek pemerintah
biasanya dibuat secara tertulis dan dalam bentuk model- model formulir
tertentu yang isinya ditentukan secara sepihak oleh pihak yang
memborongkan berdasarkan pada peraturan standar baku yaitu Objek
dari Perjanjian Pemborongan Pekerjaan adalah pembuatan suatu karya
(het maken van merk) misalnya pembuatan perabot dapur, pembuatan

satu set kursi, gedung ,perkantoran, jembatan tol, dermaga, dan yang lain
sebagainya.
Perjanjian Pemborongan Pekerjaan untuk membangun berbagai
macam gedung bertingkat,jalan, jembatan, dermaga, bandara dan
sebagainya yang berhubungan dengan penyusunan konstrusi rancang
bangun, bisa disebut juga dengan istilah Kontrak Konstruksi atau
Perjanjian Konstruksi yang di Negara Barat dikenal dengan Construction
Contract atau Construction Agreement.
Dalam merancang suatu perjanjian (Contract Drafting),
pertama-tama diperlukan pengetahuan dasar tentang kontrak/perjanjian
itu sendiri. Dalam merancang suatu kontrak/perjanjian jangan sampai
terdapat cacat atau defect, karena suatu paksaan atau dwang, kekhilafan
atau dwaling, ataupun penipuan atau bedrog, yang nantinya kalau ada
salah satu unsur tersebut bisa mengakibatkan suatu perjanjian (contract)
dapat dibatalkan (voidable/vernietigbaar) atau batal demi hukum (nietig/
void), ataupun perjanjian tidak dapat dilaksanakan ( unenforceable).
Menurut Blacks Law Dictionary,Contract is:
An agreement between two or more persons which creates an
obligation to do or not to do a peculiar things.
Yang mana perjanjian/contract dapat diartikan sebagai suatu perjanjian
antara dua orang atau lebih yang menciptakan kewajiban untuk berbuat
atau tidak berbuat sesuatu hal yang khusus. Dalam membuat suatu
kontrak/ perjanjian haru tetap memperhatikan tehnik pembuatan kontrak
yang terdapat pada hokum kontrak. Menurut Lawrence M. Friedman,
Hukum Kontrak adalah perangkat hukum yang hanya mengatur aspek
tertentu dari pasar dan mengatur jenis perjanjian tertentu. Pengaturan
hukum kontrak terdapat di dalam Buku III KUH Perdata, yang terdiri
atas 18 bab dan 631 pasal. Dimulai dari pasal 1233 KUH Perdata. Sistem
pengaturan hukum perjanjian sendiri menggunakan system terbuka (open
system) yang berarti bahwa setiap orang bebas untuk mengadakan
perjanjian, baik yang sudah diatur maupun yang belum diatur didalam

undang undang. Hal ini dapat disimpulkan dari ketentuan yang tercantum
dalam pasal 1338 ayat 1 KUH Perdata. Yang berbunyi :
semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undangundang bagi mereka yang membuatnya.
Pengertian Kontrak Konstruksi adalah perjanjian tertulis antara
pengguna jasa (yang memborongkan) dengan penyedia jasa (pemborong)
mengenai pelaksanaan suatu pekerjaan konstruksi.6 Sedang pengertian
konstruksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah cara
membuat, menyusun bangunan seperti jembatan, dermaga, bandara, jalan
raya dan sebagainya. Sebelum kontrak konstruksi dibuat, terlebih dahulu
pengguna jasa/bouwheer mengadakan lelang/tender, yang diatur dalam
pasal 17 Undang-Undang No.18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi.
Tender/lelang adalah serangkaian kegiatan untuk menyediakan
kebutuhan barang dan atau jasa yang seimbang dan memenuhi syarat,
berdasarkan peraturan tertentu yang ditetapkan oleh pihak terkait.
pelelangan/tender ini dapat diikuti oleh semua penyedia jasa pelaksana
konstruksi (pemborong/annemer) yang memenuhi persyaratan pelelangan
umum dengan pasca kualifikasi atau yang telah lulus prakualifikasi.
Gambaran umum kontrak konstruksi di Indonesia sampai saat ini.pada
umumnya masih memposisikan Penyedia Jasa selalu lebih lemah
daripada posisi Pengguna Jasa. Dengan kata lain posisi Pengguna Jasa
lebih dominan daripada posisi Penyedia Jasa.
Hal ini terjadi akibat adanya ketidakseimbangan antara
terbatasnya pekerjaan konstruksi/proyek dengan banyaknya penyedia
jasa/pemborong. Dengan banyaknya jumlah penyedia jasa maka
pengguna jasa/pihak yang memborongkan leluasa melakukan pilihan
terhadap penyedia jasa untuk memberikan tender/proyek. Faktor KKN
(Kolusi Korupsi dan Nepotisme) seperti tender diatur,nilai tender
dinaikkan (markup), pekerjaan fiktif antara pengguna jasa dengan
penyedia jasa, menjadikan wajah kontrak konstruksi di Indonesia
semakin tidak wajar/buruk. Penyedia jasa berani mengambil resiko
tersebut karena khawatir pihaknya dimasukkan dalam daftar hitam dan

tidak mendapatkan pekerjaan yang ditenderkan pengguna jasa/pemilik


proyek. Bahkan sewaktu proses tender biasanya penyedia jasa enggan
bertanya hal-hal yang sensitif namun penting seperti ketersediaan dana,
isi kontrak, dan kelancaran pembayaran. Setelah lelang/ tender dilakukan,
dan terpilih siapa yang menjadi pemenangnya, maka diterbitkan surat
penunjukan penyedia jasa oleh pengguna jasa, kemudian dibuatlah
kesepakatan antara kedua belah pihak dalam bentuk surat perjanjian
pemborongan pekerjaan (kontrak konstruksi). Di dalam pembuatan
maupun pelaksanaan surat perjanjian pemborongan/ kontrak tidak
mungkin akan selamanya bisa sesuai dengan peraturan perundangundangan yang ada. Terkadang kontrak yang dibuat, bentuk dan isinya
tak sesuai dengan standar pembuatan kontrak, dan dalam
pelaksanaannyapun tak terlepas adanya kemungkinan cidera janji
(wanprestasi).
Menurut pasal 1601 b KUH Perdata yang mengatur
mengenai Pemborongan Pekerjaan menyebutkan bahwa :
Pemborongan Pekerjaan adalah perjanjian, dengan mana
pihak yang satu, si pemborong, mengikatkan diri untuk
menyelenggarakan suatu pekerjaan bagi pihak yang lain, pihak
yang memborongkan, dengan menerima suatu harga yang
ditentukan.
Legalisasi penggunaan jasa dengan dikeluarkannya UU No. 13 Tahun
2003 tentang Ketenagakerjaan.
Pasal 64 UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyebutkan
bahwa:
Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan
kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan
atau penyediaan jasa pekerja/buruh yang dibuat secara tertulis.
dengan Perjanjian Pemborongan Pekerjaan dapat dikategorikan
menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu :
1. Penyerahan suatu pekerjaan oleh suatu perusahaan kepada perusahaan
lain untuk dikerjakan di tempat di perusahaan lain tersebut;

2. Penyediaan jasa pekerja oleh perusahaan penyedia jasa pekerja, yang


dipekerjakan pada perusahaan lain yang membutuhkan.

Bahwa pada penyediaan jasa pekerja/orang perorangan yang


jasanya dibutuhkan. Dalam pelaksanaannya berhubungan erat dengan
ketenagakerjaan.
B.Syarat-Syarat
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh perusahaan penyedia jasa
adalah:
1. Dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama;
2. Dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi
pekerjaan;
3. Merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan;
4. Tidak menghambat proses produksi secara langsung;
5. Perusahaan Pemborong harus berbentuk badan hukum;
6. Perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja pada perusahaan tersebut
harus sekurang-kurangnya sama dengan perlindungan kerja dan
syarat-syarat kerja pada perusahaan pemberi pekerjaan, atau sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Di dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
(Permenakertrans) RI No. : KEP-101/MEN/VI/2004 tentang Tata Cara
Perizinan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja/Buruh mengatur mengenai :
1. Perusahaan penyedia jasa adalah perusahaan berbadan hukum.
2. Memiliki izin operasional dari instansi yang bertanggung jawab di
bidang ketenagakerjaan di kabupaten/kota sesuai dengan domisili
perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh.

3. Harus dibuat Perjanjian Tertulis antara perusahaan penyedia jasa


dengan perusahaan pemberi pekerjaan.
4. Perjanjian tersebut didaftarkan pada instansi yang bertanggung jawab
di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota.
Di dalam Keputusan menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI
No. : KEP. 220/MEN/X/2004 tentang Syarat-syarat penyerahan sebagian
pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lain mengatur mengenai :
1. Penyerahan pekerjaan harus dibuat dan ditandatangani kedua belah
pihak secara tertulis melalui perjanjian pemborongan pekerjaan.
2. Penerima pekerjaan harus perusahaan yang berbadan hukum dan
mempunyai izin usaha dari ketenagakerjaan.
3. Adanya jaminan atas pemenuhan seluruh hak-hak pekerja.
4. Penyerahan pekerjaan dari perusahaan pemberi pekerjaan hanya dapat
dengan proses dilakukan terhadap pekerjaan-pekerjaan yang bukan
merupakan kegiatan utama perusahaan, melainkan hanya berupa
kegiatan penunjang yang tidak berhubungan langsung produksi.
Realisasi hubungan kerja antara perusahaan penyedia jasa
dengan pekerjanya dibuat secara tertulis. Perjanjian Kerja tersebut dapat
didasarkan pada Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu atau Perjanjian
Kerja Waktu tertentu apabila memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh
undang-undang.
Bahwa hubungan kerja melalui ini bukan merupakan hubungan
kerja yang biasa. Dalam hubungan kerja yang biasa, pekerja mempunyai
hubungan langsung dengan pengusaha yang mempekerjakannya, di mana
pengusaha akan membayarkan segala hak pekerja secara langsung dan
pekerja memberikan tenaganya secara langsung kepada perusahaan yang
merekrutnya, di mana pembayaran dilakukan melalui pengusaha ke
pengusaha dan pengusaha ke pekerja. Bagi perusahaan di mana tenaga
itu dipekerjakan tidak lagi mengurusi masalah perekrutan, pelatihan

tenaga kerja, masalah pesangon, THR, PHK, dan masalah-masalah


ketenagakerjaan lainnya, karena hal ini telah diambil alih oleh
perusahaan. Bahwa perusahaan harus menjamin hak-hak pekerja/buruh.
Apabila ternyata perusahaan tidak memberikan jaminan terhadap hak-hak
pekerja/buruh maka perusahaan dapat dimintai pertanggungjawaban
untuk memenuhi hak-hak pekerja.
Dalam pelaksanaan kerjasama dimungkinkan timbulnya
perselisihan yang dipicu oleh beberapa factor diantaranya yaitu adanya
perbedaan kepentingan diantara para pihak karena disini ada tiga pihak
yang berhubungan langsung yang masing-masing mempunyai
kepentingan yang berbeda. Apabila terjadi perselisihan dalam kerjasama
tersebut maka untuk penyelesaiannya dapat dilakukan melalui dua
lapangan hukum yaitu Hukum Ketenagakerjaan dan Hukum Perdata.
Hukum Ketenagakerjaan digunakan untuk menyelesaikan perselisihan
hubungan industrial antara pengusaha dan pekerja sedangkan Hukum
Perdata untuk menyelesaikan perselisihan antara perusahaan pemberi
pekerjaan dan penerima pekerjaan dalam memenuhi isi perjanjian.
Perselisihan antara pengusaha dan pekerja disebut dengan
Perselisihan Hubungan Industrial yang diatur dalam UU No. 13 Tahun
2003 tentang Ketenagakerjaan dan UU No. 2 Tahun 2004 tentang
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial.
Proses penyelesaian perselisihan tersebut terdiri dari :
1. Penyelesaian secara Bipartite
2. Penyelesaian melalui Mediasi, Konsiliasi dan Arbitrase
3. Pengadilan Hubungan Industrial