Anda di halaman 1dari 49

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt, yang telah memberi
kita kenikmatan dan kemampuan akal sehingga kita masih bisa menimba ilmu di
Universitas yang kita cintai ini. Dan tak lupa pula shalawat serta salam, kami
sampaikan ke pangkuan Nabi Besar Muhammad saw, yang telah membawa kita
dari alam jahiliyah ke alam penuh kasih sayang.

Terima kasih kami ucapkan kepada dosen pembimbing kami, yang


telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menyusun makalah ini. Serta tak
lupa pula kepada teman-teman Program Studi Kedokteran Gigi Unsyiah Angkatan
2009, semoga kita semua dapat menempuh pendidikan ini dengan baik. Amin.

Laporan ini kami susun sebagai tugas kelompok dari Blok 3 pemicu 1
yang berjudul ”Sel dan Jaringan serta Dasar Terjadinya Kelainan dan Prinsip
Terapinya”. Tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan laporan kami ini.
Kami sadar masih ada kekurangan dalam laporan ini, baik isi maupun
penyusunannya. Saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan untuk
kemajuan di kemudian hari.

Banda Aceh, 3 Maret 2010

Kelompok 4

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................1

DAFTAR ISI...............................................................................................2

BAB I........................................................................................................4

PENDAHULUAN........................................................................................4

A. Latar Belakang....................................................................................4

B. Tujuan.................................................................................................4

BAB II.......................................................................................................5

PEMBAHASAN..........................................................................................5

A. SEL...................................................................................................... 5

1. DEFINISI SEL........................................................................................5

2. JENIS SEL DAN KOMPONEN SEL...........................................................5

3. STRUKTUR SEL....................................................................................8

4. FUNGSI SEL.......................................................................................15

5. REPRODUKSI SEL...............................................................................19

6. RESPON SEL......................................................................................20

7. CONTOH KELAINAN SEL.....................................................................21

B. JARINGAN..........................................................................................25

1. DEFINISI.............................................................................................25

2. JENIS DAN FUNGSI.............................................................................26

C. NEOPLASMA......................................................................................28

1. DEFINISI.............................................................................................28

2. KLASIFIKASI.......................................................................................28

3. KARAKTERISTIK..................................................................................29

4. ETIOLOGI NEOPLASMA.......................................................................30

5. PATOGENESIS NEOPLASMA...............................................................32

2
6. DIAGNOSIS........................................................................................36

D. FARMAKOTERAPI...............................................................................38

1. DEFINISI.............................................................................................38

2. PENGGOLONGAN FARMAKOLOGI.......................................................38

3. PRINSIP FARMAKOTERAPI .................................................................44

4. FUNGSI..............................................................................................44

5. EFEK SAMPING...................................................................................44

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................49

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sel adalah unit struktural dari semua organisme hidup. Telah diakui sejak
lama bahwa adanya 2 jenis sel yang berbeda secara fundamental, sekurang-
kurangnya dari sudut pandang structural dan fungsional. Terdapat begitu banyak
persamaan biokimia antara kedua jenis itu sehingga banyak penelitian mengatakan
bahwa kelompok satu berasal dari kelompok yang lain.

Sel normal merupakan mikrokosmo yang berdenyut tanpa berhenti, secara


tetap mengubah struktur dan fungsinya untuk memberi reaksi terhadap tantangan
dan tekanan dari luar tubuh yang selalu berubah. Kecuali jika tekanan ini terlalu
berat, struktur dan fungsi sel cenderung bertahan dalam jangkauan yang relatif
sempit, dinyatakan sebagai “normal”, justru karena individu harus menyesuaikan
diri terhadap tantangan dan tekanan kehidupan yang selalu berubah-ubah,
demikian juga sel. Dalam keterbatasannya,penyesuaian sel mencapai perubahan
yang menetap, mempertahankan kesehatan sel meskipun tekanan berlanjut. Tetapi,
bila batas kemampuan adaptasi itu telah dilampaui, akan terjadi jejas atau bahkan
kematian sel.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

• Menjelaskan definisi sel, jenis, struktur penyusunnya, fungsi sel, reproduksi


sel, respon sel, contoh kelainan sel, dan tranduksi sinyal.

• Menjelaskan definisi jaringan, jenis, dan fungsi jaringan.

• Menjelaskan definisi neoplasma, klasifikasi, karakteristik, etiologi,


patogenesis, diagnosis.

• Menjelaskan definisi farmakoterapi, penggolongan, prinsip, fungsi, dan


efek samping.

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. SEL

1. DEFINISI SEL
Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan
dalam arti biologis. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel.
Karena itulah, sel dapat berfungsi secara autonom asalkan seluruh kebutuhan
hidupnya terpenuhi.

Makhluk hidup (organisme) tersusun dari satu sel tunggal (uniselular,


misalnya bakteri, Archaea, serta sejumlah fungi dan Protozoa) atau dari banyak sel
(multiselular). Pada organisme multiselular terjadi pembagian tugas terhadap sel-
sel penyusunnya, yang menjadi dasar bagi hirarki hidup.

2. JENIS SEL DAN KOMPONEN SEL


Berdasarkan ada tidaknya selaput inti kita mengenal 2 penggolongan sel
yaitu:

Sel Prokariotik

Berasal dari bahasa Yunani pro, sebelum + karyon, nucleus. Hanya


ditemukan di dalam bakteri. Sel-sel ini berukuran kecil (panjang 1-5 µm), dengan
dinding sel di luar plasmalema, dan tidak dilengkapi selaput inti yang memisahkan
materi genetik (DNA) dari unsur sel lainnya. Selain itu prokariot tidak mempunyai
histon (protein basa spesifik) yang terikat pada DNA yang umumnya tidak
memiliki organel bermembran.

5
Sel Eukariotik

Berasal dari bahasa Yunani eu, baik + karyon), berukuran lebih besar
dengan inti yang jelas yang diliputi selaput inti. Histon berhubungan dengan materi
genetik, dan terdapat banyak organel berlapis membran di dalam sitoplasma.

Sel eukariotik terdiri dari 3 bagian:

o Membran sel
o Sitoplasma
o Inti sel
Struktur sel dan fungsi-fungsinya secara menakjubkan hampir serupa untuk
semua organisme, namun jalur evolusi yang ditempuh oleh masing-masing
golongan besar organisme (Regnum) juga memiliki kekhususan sendiri-sendiri.
Sel-sel prokariota beradaptasi dengan kehidupan uniselular sedangkan sel-sel
eukariota beradaptasi untuk hidup saling bekerja sama dalam organisasi yang
sangat rapi.

6
Sel tubuh hidup, tumbuh, dan melakukan funsi-fungsi khusus selama
tersedianya konsentrasi oksigen, glukosa, dan berbagai ion asam amino, dan asam
lemak yang disesuaika dengan lingkungan.

• Cairan Ekstrasel, yaitu cairan yang terdapat di antara sel dalam jaringan
yang relative tidak mempunyai vastikularisasi, seperti jaringan ikat,
jaringan rawan, dan jaringan tulang. Zat yang terdapat di dalamnya muncul
ke secret-sekret kelenjar dan pada hakekatnya berbentuk cair.
• Cairan intrasel, yaitu cairan yang terdapat di dalam sel.

7
3. STRUKTUR SEL

a. Selaput Plasma (Plasmalemma)

Membran plasma memiliki struktur seperti lembaran tipis. Membran


plasma tersusun dari molekul-molekul lipid (lemak), protein, dan sedikit
karbohidrat yang membentuk suatu lapisan dengan sifat dinamis dan asimetri.
Bersifat dinamis karena mempunyai struktur seperti fluida (zat cair) sehingga
molekul lipid dan protein dapat bergerak. Bersifat asimetrik karena komposisi
protein dan lipid sisi luar dan dalam membran sel tidak sama. Molekul-molekul
tersebut menyusun matriks lapisan fosfolipid rangkap (fosfolipid bilayer) yang di
sisipi oleh protein membran. Terhadap dua macam protein membran, yaitu protein
yang terbenam (integral) dan menempel (periferal) di lapisan fosfolipid. 1 unit
fosfolipid terdiri dari bagian kepala dan ekor (asam lemak).

Sisi kepala merupakan sisi hidrofilik yang menghadap keluar membran sel.
Sisi ekor merupakan sisi hidrofobik (tidak suka air) yang bersembunyi didalam
membran sel. Pada bagian membran plasma yang menghadap keluar sel, terdapat
karbohidrat yang melekat pada protein membran atau fosfolitik. Fungsi biologis
membran plasma tergantung pada molekul-molekul penyusunnya, yaitu lipid,
protein dan karbohidrat.

8
Fungsi membran plasma :

• Reseptor untuk menerima pesan kimia dari sel lain


• Pemberi tanda atau antigen yang menjadi identitas jenis sel
• Komunikasi sel
• Sutau barier permiabel yang selektif untuk mengatur arliran zat ke dalam
dan ke luar sel

b. Sitoplasma

Bagian yang cair dalam sel dinamakan Sitoplasma khusus untuk cairan
yang berada dalam inti sel dinamakan Nukleoplasma), sedang bagian yang padat
dan memiliki fungsi tertentu digunakan Organel Sel.

Penyusun utama dari sitoplasma adalah air (90%), berfungsi sebagai pelarut zat-zat
kimia serta sebagai media terjadinya reaksi kirnia sel.

Organel sel adalah benda-benda solid yang terdapat di dalam sitoplasma


dan bersifat hidup(menjalankan fungsi-fungsi kehidupan).

Organel Sel tersebut antara lain :

• Retikulum Endoplasma (RE.)


(1) Struktur :
(a) RE Yaitu struktur berbentuk benang-benang yang bermuara di
inti sel.
(b) Dikenal dua jenis RE yaitu :
 RE. Granuler (Rough E.R)
 RE. Agranuler (Smooth E.R)
(2) Fungsi:

9
(a) Tempat utama sintesis produk sel dan juga
berperan dalam transport dan penyimpanannya.
(b) RE kasar menonjol dalam sel yang khusus
untuk sekresi protein seperti enzim pencernaan.
(c) Pada sel otot , RE halus disebut reticulum
sarkoplsma dan turut berperan dalam proses kontraksi.

• Ribosom (Ergastoplasma)
(1) Struktur :
(a) Ribosom adalah grnula kecil berwarna hitam ( berdiameter
22nm), yang tersususun dari RNA ribosomal dan hamper 80
jenis protein.
(b) Ribososm ditemukan sebagai granula individual atau dalam
kelompok disebut “ Poliribosom.”
(c) Ribososm bias bebas dalam sitoplasma atau melekat pada
membrane reticulum endoplasma.
(2) Fungsi :
(a) Tempat sintesis protein
(b) Ribosom bebas terlibat dalam sintesis protein untuk dipakai sel
itu sendiri : misalnya , dalam pembaharuan enzim dan
membrane. Ribosom, yang berikat merupakan tempat
berlangsungnya sintesis protein yang merupakan produk
sekretori yang akan dikeluarkan sel.

• Miitokondria (The Power House)


(1) Struktur :
(a) Mitokondri tampak seperti batang atau filament yang bergerak
dengan konstan dalam sebuah sel hidup.
(b) Setiap mitokondria terdiri dari membrane terluar halus dan
membrane terdalam yang membentuk lipatan yang disebut

10
“Krista.” Krista menonjol menyerupai rak ke dalam mitokondria
dan menambah bidang permukaan membrane bagian dalam.
(c) Ruang antara Krista dipenuhi matriks yang berisi protein, DNA,
RNA, dan ribosom.
(2) Fungsi :
(a) Mitokondria sering disebut sebagai pembangkit tenaga sel
karena fungsi terpentingnya adalah memproduksi energi dalam
bentuk ATP.
(b) Energi tersebut dihasilkan dari penguraian nutrient seperti
glukosa, asam amino, dan asam lemak.
(c) Enzim yang dibutuhkan untuk melepas energi secara kimia,
terlokalisasi dalam matriks mitokondria dan partikel kecil pada
Krista.

• Lisosom
(1) Struktur :
(a) Lisosom adalah vesikel kecil yang terikat
membrane, mengandung hamper 50 jenis enzim hidrolitik yang
mampu menguraikan hamper semua jenis makromolekul.
(b) Lisosom primer yang mengandung enzim;
Lisosom sekunder yang mengandung enzim dan materi
terdegradasi.
(3) Fungsi :
(a) Pencernaan intraseluler
(b) Lisososm juga berperan dalam pertumbuhan
dan perbaiakan selular normal dengan cara memindahkan
komponen selular yang sudah rusak atau berlebihan.

• Badan Golgi (Apparatus Golgi = Diktiosom)

11
(1) Struktur :
(a) Apparatus golgi mengandung 6-7 kantong
datar yang trikat membrane, atau sisterna, masing-masing
membentuk agak melekuk. Kantong tersebut tersususn seperti
mangkuk terbalik.
(b) Permukaan konveks sususnan menghadap ke
RE dan nucleus: permukaan konkaf menghadap ke permukaan
eksternal sel.
(2) Fungsi :
(a) Organel ini dihubungkan dengan fungsi ekskresi sel, dan
struktur ini dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop
cahaya biasa.
(b) Organel ini banyak dijumpai pada organ tubuh yang
melaksanakan fungsi ekskresi, misalnya ginjal.

• Sentrosom (Sentriol)
(1) Struktur:
(a) Pada sel yang tidak memebelah dua sentriol
berada di dekat nucleus dan apparatus golgi di sebuah bidang
khusus yang disebut sentrosom.
(b) Dua anggota pasangan sentriol, yang satu
sama lain tersususn perpendicular, disebut “ Diplosom.”
(c) Dinding setiap sentriol menahndung sembilan
sususnan mikrotubulus, yang masing-masing terdiri dari tiga
subunit yang disebut “ triplet.”
(2) Fungsi :
(a) Sentriol berfungsi dalam pembelahan sel (Mitosis maupun
Meiosis). Sentrosom bertindak sebagai benda kutub dalam
mitosis dan meiosis.

12
• Mikrotubulus
(1) Struktur :
(a) Mikrotubulus merupakan pipa berongga, panjang 20-25 nm,
tersebar dalam sitoplasma dan semua sel.
(b) Mikrotubulus tersusun dari molekul tubulin protein.
(2) Fungsi :
(a) Mempertahankan bentuk sel dan sebagai "rangka sel".
Contoh organel ini antara lain benang-benang gelembung
pembelahan Selain itu mikrotubulus berguna dalam
pembentakan Sentriol, Flagela dan Silia.

• Mikrofilamen
(1) Struktur :
• Seperti Mikrotubulus, tetapi lebih lembut. Terbentuk dari
komponen utamanya yaitu protein aktin dan miosin (seperti pada
otot).
(2)Fungsi :

• Mikrofilamen berperan dalam pergerakan sel.

• Peroksisom (Badan Mikro)


(1) Struktur :

13
- Ukurannya sama seperti Lisosom. Organel ini senantiasa berasosiasi
dengan organel lain, dan banyak mengandung enzim oksidase dan
katalase (banyak disimpan dalam sel-sel hati).
(2) Fungsi :

(a) Periskom berfungsi untuk melindungi sel dari pengaruh hydrogen


peroksida yang merusak
(b) Berfungsi juga dalam metabolisme lipid

3. Inti Sel (Nukleus)

Inti sel (nukleus) mengandung sketsa untuk semua struktur dan aktivitas
sel, yang dikode di DNA kromosom. Inti sel juga mengandung perangkap
molekular untuk mereplikasi DNAnya dan untuk mengsintesis dan memproses 3
jenis RNA, yaitu ribosom (rRNA), messenger, dan transfer.

Nukleus tampak seperti struktur bulat atau memanjang, biasanya dibagian


pusat sel. Komponen utamanya adalah selaput inti, kromatin, nukleolus dan
matriks inti.

• Selaput Inti
Dengan mikroskop elektron, terlihat bahwa inti sel dikelilingi oleh 2 unit
membran paralel, yang dipisahkan oleh celah sempit (40-70 nm) yang disebut
sisterna perinuklear. Bersama-sama, pasangan membran serta celah diantaranya
membentuk selaput inti. Dekat dengan membran dalam selaput inti, terdapat suatu
struktur protein yang disebut lamina fibrosa. Ditempat penggabungan membran
luar dan dalam terdapat celah-celah yaitu pori-pori inti yang membentuk jalur
terkendali diantara sitoplasma dan inti.

• Kromatin

14
Berdasarkan derajat kondensasi kromosom ada 2 jenis kromatin, yaitu
heterokromatin dan eukromatin. Kromatin terdiri atas pilinan untai DNA yang
terikat pada protein basa (histon) susunan kromatin disebut sebagai untaian manik-
manik.

• Nukleolus
Nukleolus adalah struktur bulat, berdiameter sampai 1 mm, yang kaya akan
rRNA dan protein. Nukleolus terdiri atas 3 unsur berbeda, yaitu (1) DNA pengatur
nukleolus, (2) parsfribosa, (3) parsgranulosa.

• Matriks Inti
Matriks inti adalah komponen yang mengisi ruang diantara kromatin dan
nukleoli didalam inti. Matriks ini terutama terdiri atas protein (beberapa
diantaranya memiliki aktivitas enzim), metabolik dan ion. Bila asam nukleat dan
komponen terlarutnya diangkat, struktur fibrilarnya masih tetap ada, yang
membentuk kerangka inti. Lamina fibrosa selaput inti adalah bagian dari matriks
inti. Kerangka ini agaknya membantu pembentukan basa protein, tempat untai
DNA terikat.

Fungsi Nukleus :

• Nukleus sangat penting untuk keseluruhan aktivitas selular.


• Nukleus emngandung material genetic sel (DNA) yang mengkodeinformasi
untuk mengontrol sintesis protein dan reproduksi sel.

4. FUNGSI SEL

15
a. Diferensiasi
Setelah beberapa kali pembiakan sel, timbul diferensiasi, yaitu perbedaan bentuk
dan fungsi. Sel-sel tertentu mempunyai bentuk dan fungsi tertentu pula yang
berbeda dari sel lainnya.

b. Reparasi sel
Tubuh manusia dewasa terdiri dari 50-70 triliun sel-sel eukariotik yang rata-rata
besarnya 10. Setiap saat sel tersebut ada yang rusak dan harus diperbaiki, agar
fungsi-fungsi tubuh tetap berjalan normal.

c. Pertahanan
Fungsi pertahanan tubuh dilakukan oleh beberapa sistem, untuk memberikan
kekebalan, yaitu:

1. Pertahanan mekanik
Pertahanan mekanik merupakan barrier alamiah untuk menangkal masuknya
mikroorganisme dan penyebaran sel-sel kanker.

2. Pertahanan kekebalan
Organ yang termasuk dalam pertahanan immunitas ialah sumsum tulang, kelenjar
limfe, kelenjar thymus, dsb.

d. Reproduksi
Fungsi reproduksi hanya dikerjakan oleh organ genetalia. Pada laki-laki testis
dengan duktus epidedimis, prostate dan urethra. Pada wanita ovarium dengan tuba,
uretus dan vagina.

e. Supplier (pasokan)

16
Fungsi ini dikerjakan oleh:

1. Sistem organ pencernaan: untuk pasokan nutrisi, air, mineral, dan


vitamin
2. Sistem Organ Pernapasan: untuk pasokan oksigen dan pengeluaran
karbondioksida

f. Transportasi dan distribusi


Fungsi transportasi dan distribusi bahan-bahan untuk keperluan hidup sel di
jaringan atau organ dan transportasi sampah dari sel atau organ ke organ sekresi
yang dikerjakan oleh system sirkulasi, yaitu jantung, pembuluh darah atau limfe.
Organ sekresi yang penting adalah ginjal, hati, paru-paru, dan kulit.

g. Metabolisme
Fungsi metabolisme di semua sel dikerjakan oleh enzim, baik secara aerobik atau
anaerobik.

h. Pembersihan
Fungsi pembersihan dikerjakan oleh banyak organ dan melibatkan banyak system.
Misalnya, pembuangan sampah dikerjakan oleh usus, hati, ginjal, dsb.

i. Mobilitas
Fungsi mobilitas ada macam-macam:

1. Mobilitas tubuh luar


2. Mobilitas organ

j. Orientasi

17
Fungsi orientasi dikerjakan oleh system reseptor dan motor melalui system saraf
dan pancaindera yang terpusat di dalam otak.

k. Pengawasan
Banyak keadaan yang perlu diatur supaya fungsi organ dapat berjalan dengan baik,
misalnya: temperature, pernapasan, homeostasis, pertumbuhan, ekskresi, dsb.

FUNGSI SEL SECARA STRUKTUR

Membran sel : Membantu menjaga keseimbangan kimia zat di dalam dan luar sel.

Sitoplasma : Sebagai pelarut zat-zat kimia serta sebagai media terjadinya reaksi
kimia sel.

Ribosom : Sebagai tempat pembuatan protein.

Mitokondria : Mitokondria sering disebut sebagai pembangkit tenaga sel karena


fungsi terpentingnya adalah memproduksi energi dalam bentuk
ATP.

Retikulum Endoplasma (RE) : Sebagai tempat proses pembuatan/sintesis protein


yang akan disempurnakan lebih lanjut di dalam
badan golgi.

Lisosom : Mencerna zat-zat sisa.

Badan golgi : Mengangkut zat-zat yang telah dihasilkan oleh sel.

Nukleus : Nukleus sangat penting untuk keseluruhan aktivitas seluler


nucleus mengandung DNA yang mengkodeinformasi untuk
mengontrol sintesis protein dan reproduksi sel.

18
5. REPRODUKSI SEL
a. Amitosis

Amitosis adalah reproduksi sel yaitu sel membelah diri secara langsung
tanpa melalui tahap-tahap pembelahan sel. Pembelahan sel ini pada sel-sel yang
bersifat prokatiotik, misalnya : bakteri, gagang biru.

b. Mitosis

Mitosis adalah cara reproduksi sel, sel membelah secara bertahap-tahap


yang teratur. Profase-Metafase-Anafase-Telofase. Antara tahap telofase ke tahap
profase terdapat fase atau masa istirahat sel yaitu interfase. Pada saat interfase inti
sel melakukan sintesis bahan-bahan inti.

Secara garis besar ciri dan tahap pembelahannya pada mitosis dibagi 4 yaitu :

 Profase
Pada tahap terpenting adalah benang-benang kromatin menjadi
menebal bergumpal menjadi kromosom, kromosom tersebut mulai
berduplikasi menjadi kromotid.

 Metafase

19
Pada tahap ini kromosom atau kromatin berjejer teratur pada
pembelahan sehingga tahap ini kromosom/kromotid mudah diamati atau
dipelajari.

 Anafase
Pada fase ini kromotid akan ditarik oleh benang menuju ke kutub-
kutub pembelahan sel.

 Telofase
Pada tahap ini terjadi peristiwa pembagian inti menjadi 2 bagian dan
pembagian sitoplasma menjadi 2 bagian.

c. Miosis

Miosis atau pembelahan sel adalah reproduksi sel melalui tahap-tahap


pembelahan sel seperti mitosis. Proses ini terjadi pengurangan jumlah kromosom.

Miosis terbagi 2 bagian yaitu Miosis I dan Miosis II menjadi tahap-tahap


seperti pada mitosis.

6. RESPON SEL
Sel adalah bagian terkecil makhluk hidup yang berdiri sendiri artinya harus
mampu menangkap sinyal yang ada diluar tubuhnya (sel) dan meneruskan kedalam
tubuhnya serta memberikan respon terhadapnya. Berbagai jenis sinyal terdapat
diluar sel, seperti sinyal kimia, cahaya, panas, dsb.

20
Walaupun demikian, mekanisme pengenalan dan penerusan sinyal
(transduksi sinyal) adalah serupa dengan respon sel.

7. CONTOH KELAINAN SEL

1. Atrofi

Terjadi pada suatu alat tubuh menyebabkan alat tubuh tersebut


mengecil. Mengecilnya alt tubuh tesebut terjadi karena sel-sel
spesifik,yaitu sel-sel parenchyma yang menjalankan funfsi alat tubuh
tersebut mengecil. Kadang-kadang dapat terjadi atrofi akibat jumlah sel
parenchym berkurang,yaitu atrofi numerik.Meskipun atrofi biasanya
merupakan proses patologik juga dikenal atrofi fisiologik. Beberapa alat
tubuh dapat mengecil atau menghilang sama sekali selama masa
perkembangan/kehidupan dan jika alat tubuh tersebut sesudah masa
usia tertentu tidak menghilang,malah dianggap patologik.

Contoh: Kelenjar thymus,ductus omphalomesentericus,ductus


thyroglossus.

Atrofi senilis

21
Alat tubuh pada orang yang sudah berumur lanjut umumnya mengecil.
SEbab-sebab proses atrofi pada masa tua bermacam-macam,
diantaranya:

Pengaruh endokrin,involus akibat menghilangnya rangsang-rangsang


tubuh(growth stimuli),mengurangnya perbekalan darah (vascular
supply).

Dapat dilihat misalnya payudara.Yang mengecil pada wanita dalam


menopause,Juga ovarium dan uterus. Kulit menjadi tipis dan
keriput.Tulang-tulang baik tulang panjang maupun tulang tengkorak
menipis dan ringan akibat resorpsi,sehingga tulang ini menjadi
berlubang-lubang,enteng dan mudah patah oleh trauma yang ringan.

2. Agenesis dan Aplasia

Dalam perjalanan perkembangan,organ embrional rudimenter dapat


tidak terbentuk,misalnya : Beberapa individu dapat dilahirkan hanya
dengan 1 ginjal suatu keadaan lain yang berkaitan dengan keadaan di
atas adalah aplasia yaitu gagal berkembangnya organ rudiment
embrional yang sudah terbentuk.

3. Hipoplasia

Kadang-kadang rudiment embrional terbentuk tetapi tidak pernah


mencapai ukuran definitive atau ukuran dewasa,akibatnya organ
tersebut menjadi kerdil. Fenomenaini disebut hipoplasia. Seperti

22
agenesis dan apaplasia,hipoplasia dapat juga mengenai semua bagian
tubuh,dapat mengenai salah satu dari sepasang organ atau bahkan dapat
mengenai kedua organ yang berpasangan.Hipoplasia ringan yang terjadi
pada beberapa organ dapat ditoleransi untuk waktu yang lama.
Pengaruhnya berupa gangguan terhadap tingkat cadangan organ
tersebut.

4. Hipertrofi

Pembesaran jaringan atau organ karena pembesaran setiap sel.


Hipertrofi dapat terlihat pada berbagai jaringan tetapi khususnya terlihat
mencolok pada berbagai jenis otot.Peningkatan bebabn pekerjaan pada
otot merupakan rangsang yang sangat kuat bagi otot untuk mengalami
hipertrofi.

Contoh : Penonjolan otot pada atlet angka besi merupakan contoh


hipertrofi otot yang nyata. Hal yang sama terjadi akibat respons
adaptasi yang penting pada miokardium. Jika seseorang mempunyai
katup jantung abnormal yang menyebabkan beban mekanik pada
ventrikel kiri,atau jika ventrikel memompa dan melawan tekanan darah
sistemik yang meninggi,akibatnya hipertrofi miokardium disertai
penebalan dinding ventrikel.

Pada masing-masing,pembesaran sel yang hipertrofi sebenarnya disertai


penambahan unsure kontraktil jaringan ,sehingga merupkan respons
sifat adaptasi. Hipertrofi terjadi akibat rangsangan,sehingga cenderung
mengalami regresi.Paling sedikit sampai taraf tertentu hingga beban
kerja yang abnormal hilang.

5. Hiperplasia

23
Kenaikan jumlah sel yang nyata dalam jaringan yang mengakibatkan
pembesaran jaringan atau organ tersebut.Hiperplasia hanya dapat terjadi
pada jaringan yang mampu melakukan pembelahan sel.Dalam jaringan
semacam ini hyperplasia dapat juga disertai hipertrofi.

Contoh : Rangsangan hormone pada kehamilan dan laktasi


menimbulkan proliferasinya luas pad aunsur-unsur epitel kelenjar
mamae disertai pembesaran jaringan kelenjar mamae yang disebabkan
oleh hyperplasia.

8. TRANDUKSI SINYAL

Tiga tahap pensinyalan sel

• Penerimaan (receptor) sinyal, yaitu pendeteksian sinyal dibuang


dari luar sel oleh sel target. Sinyal kimiawi terdeteksi apabila telah
berikatan dengan protein selular, biasanya pada permukaan sel
yang bersangkutan.

• Pengikatan molekul sinyal mengubah protein reseptor, dengan


demikian mengawali (menganalisasi) proses transduksi. Tahap ini
mengubah sinyal menjadi suatu bentuk yang dapat menimbulkan
respon seluler spesifik transduksi ini kadang-kadang terdiri dalam
satu langkah, api lebih sering butuh suatu urutan perubahan dalam
sederet molekul yang berbeda-beda jalur tranduksi sinyal.molekul
di sepanjang jalur itu sering disebut molekul relasi.

• Pada tahap ketiga pensinyalan sel, sinyal yang ditransduksi


akhirnya memicu respon seluler spesifik. Respon ini dapat berupa
hamper seluruh aktifitas seluler,seperti katalis oleh suatu enzim

24
(seperti glikogen fosforilase,penyusunan ulang sitoskeleton,atau
pengaktifan gen di dalam nucleus)

Mekanisme Transduksi Sinyal

Sinyal tersebut dikenali oleh molekul protein yang ada di permukaan sel 
Protein ini dari jenis reseptor, protein pigmen, kanal, ion dsb.  Sinyal senyawa
kimia berikatan dengan protein reseptor sinyal cahaya dalam bentuk foton 
menubruk pigmen dalam protein seperti rhodopsin,ion kalsium,dan
natriummembuka protein kanal dsbmenimbulkan perubahan pada
strukturlokal protein-protein tersebut pada bagian yang terdapat dalam sel
Setelah sinyal ditangkap dan informasinya masuk ke dalam selSinyal
dihantarkannya ke pusat pemrosesan (CPU-nya) sel yaitu inti seloleh berbagai
jenis protein yang bekerja secara bertahapGen menerjemahkan rangsangan.

B. JARINGAN

1. DEFINISI
Jaringan adalah kelompok sel yang serupa secara srtuktural (begitu pula
denganproduk yang dihasilkan) yang mengalami spesialisasi untuk menjalankan
suatu fungsi tertentu. Ada empat jenis jaringan dasar yang ditemukan pada tubuh
manusia : Epitelium, jaringan ikat, jaringan otot dan jaringan saraf.

25
2. JENIS DAN FUNGSI
1. Jaringan otot terdiri dari sel-sel yang khusus berkontraksi dan menghasilkan
gaya.Terdapat tiga jenis jaringan otot:otot rangka,yang menentukan gerak tulang
belakang;otot jantung,yang bertanggung jawab memompa darah keluar dari
jantung,dan otot polos,yang meliputi dan mengontrol gerakan isi berbagai organ
dan saluran berongga,misalnya gerakan makanan melintasi saluran pencernaan.

2. Jaringan saraf terdiri dari sel-sel yang berfungsi khusus yang menghasilkan dan
menyakurkan impuls listrik,kadang-kadang melintasi jarak yang jauh.Impuls listrik
ini berfungsi sebagai sinyal untuk menyampaikan informasi dari satu bagian tubuh
ke bagian lain.Jaringan saraf ditemukam (a)otak,(b)korda spinalis,(c)saraf yang
menyampaikan informasi mengenai lingkungan eksternal dan mengenai status
berbagai factor internal di tubuh yang dapat diatur,misalnya tekanan darah,(d)saraf
yang mempengaruhi kontraksi otot atau sekresi kelenjar.

3. Jaringan epitel terdiri dari sel-sel yang berfungsi khusus mempertukarkan zat-zat
antara sel dam lingkungan.Jaringan ini tersusun dua tipe struktur umum lapisan
epitel dan kelenjar sekretorik.Sel-sel epitel berikatan er at satu sama lainuntuk
membentuk lembaran-lembaran jaringan yang menutupi dan melapisi berbagai
bagian tubuh.Sebagai contoh,lapisan luar kulit adalah jaringan epitel,seperti juga
lapisan saluran pencernaan.Secara umum,lapisan epitel ini berfungsi sebagai batas
yang memisahkan tubuh dari lingkungan eksternal dan dari isi rongga yang
berhubungan dengan lingkungan luar,mosalnya lumen saluran pencernaan.(Lumen
adalah rongga di bagian dalam tabung dan rongga berongga).Hanya zat tertentu
yang dapat dipindahkan antara bagian-bagian yang dipisahkan oleh sawar
epitel.jenis dan luasnya pertukaran yang terkontrol tersebut bervariasi,tergantung
pada lokasi dan fungsi jaringan epitel.Sebagai contoh,hanya sedikit zat yang dapat
dipertukarkan antara tubuh dan lingkungan eksternal menembus kulit,sedangkan
sel epitel yang melapisi saluran pencernaan memiliki fungsi khusus absorpsi zat-
zat gizi.

Kelenjar adalah turunan jaringan epitel yang berfungsi khusus untuk melakukan
sekresi.Sekresi adalah pengeluaran produk-produk spesifik (yang sebagian besar

26
disintesis oleh sel yang bersangkutan)dari sebuah sel,sebagai respon terhadap
stimulasi yang sesuai.Kelenjar terbentuk selama masa perkenbangan mudigah
melalui pembentukan kantung-kantung jaringan epitel yang masuk ke bagian
dalam dan permukaan.Terdapat dua kategori kelenjar yaitu eksokrin dan
endokrin.Jika selama pembentukan sel-sel penghubung antara permukaan epitel
dan sel sekretorik kelenjar di bagian terdalam invaginasi tetap utuh sebagai suatu
duktus antara kelenjar dan permukaan,yang terbentuk adalah kelenjar
eksokrin.Kelemjar eksokrin (exo berarti “eksternal”.crine berarti “sekresi”)
mengeluarkan produknya melalui duktus ke bagian luar tubuh (atau ke dalam suatu
rongga yang berhubungan dengan dunia luar).Contoh-contohnya adalah kelenjar
keringat dan berbagai kelenjar yang mengeluarkan getah pencernaan.Di pihak lain,
apabila sel-sel penghubung menghilang selama pembemtukan kelenjar dan sel-sel
sekretorik kelenjar terisolasi dari permukaan,yabg terbentuk adalah kelenjar
endokrin.kelenjar endokrin (endo berarti “internal”)tidak memiliki duktus dan
mengeluarkan produk-produk mereka,yang dikenal sebagai hormon,ke dalam
darah.Sebagai contoh,kelenjar paratiroid mengeluarkan hormon paratiroid ke
dalam darah,yang menyangkut hormon ini ke tempat kerjanya di tulang dan ginjal.

4. Jaringan ikat dibedakan karena memiliki sel dalam jumlah sedikit yang
terbenam di dalam banyak bahan ekstrasel.Seperti yang disyaratkan oleh
namanya,jaringan ikat berfungsi untuk menghubungkan,menunjang,dan
melekatkan berbagai bagiab tubuh.Jaringan ini mencakup bermacam-macam
struktur misalnya jaringan ikat longgar (loose connective tissue) yang melekatkan
jaringan epitel ke struktur di bawahnya.tendon yang melekatkan otot rangka ke
tulang,tulang yang menentukan bentuk,menyokong dan melindungi tubuh ,dan
darah,yang menyangkut bahan-bahan dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh
lainnya.Kecuali darah,sel-sel di dalam jaringan ikat menghasilkan molekul-
molekul spesifik yang mereka keluarkan ke ruang ekstrasel diantara sel-sel
tersebut.Satu dari molekul tersebut adalah serat protein mirip pita karet yang
disebut elastin,yang keberadaannya memungkinkan peregangan dan penyusunan
kembali struktur-stuktur seperti paru,yang selama proses bernafas mengembang
dan mengempis.

27
C. NEOPLASMA

1. DEFINISI
Neoplasma secara harfiah berarti “pertumbuhan baru”. Jadi,suatu neoplasma itu
adalah massa abnormal jaringan yang pertumbuhannya berlebihan dan tidak
terkoordinasikan dengan pertumbuhan jaringan normal serta terus demikian
walaupun rangsangan yang memicu perubahan tersebut telah berhenti. Hal
mendasar tentang asal neoplasma adalah hilangnya responsivitas terhadap faktor
pengendali pertumbuhan yang norma. Sel neoplastik disebut mengalami
transformasi karena terus membelah diri, dan tampaknya tidak peduli terhadap
pengaruh regulatorik yang mngendalikan pertumbuhan sel normal. Selain itu,
neoplasma berperilaku seperti parasit dan bersaing dengan el normal untuk
memenuhi kebutuhan metaboliknya.

2. KLASIFIKASI
Semua tumor jinak dan ganas, memilki dua komponen dasar:

• Parenkim, yang terdiri atas sel yang telah mengalami transformasi atau
neoplastik.

• Stroma, penunjang non neoplastik ynag berasal dari pejamu dan terdiri atas
jaringan ikat dan pembuluh darah.
Parenkim neoplasma menentukan perilaku biologisnya, dan komponen ini yang
menentukan nama tumor bersangkutan, Stroma mengandung pembuluh darah dan
memberikan dukungan bagi pertumbuhan neoplasma.
1) Tumor jinak
Secara umum, tumor jinak diberi nama dengan akhiran –oma ke jenis sel asal
tumor tersebut. Suatu tumor jinak yang berasal dari jaringan fibrosa adalh fibroma,
tumor tulang rawan ynag jinak disebut kondroma. Tata nama untuk tumor epitel
jinak lebih rumit. Tumor ini kadang-kadang diklasifikaikan berdasarkan
mikroskopik dan kadang-kadang makroskopik. Yang lain diklasifikasikan
berdasarkan asal sel.
2) Tumor ganas
Tata nama tumor ganas pada dasarnya mengikuti tata nama tumor jinak, dengan
penambahan dan pengecualian tertentu. Neoplasma ganas yang berasal dari
jaringan mesenkim atau turunannya disebut Sarkoma. Kanker yang berasal dari
jaringan fibrosa disebut fibrosarkoma, dan neoplasma ganas yang terdiri atas
kondrosit disebut kondrosarkoma. Sarkoma diberi nama ganas berdasarkan
histogenesisnya (yaitu jenis sel yang membetuknya). Neoplasma yang berasal dari
sel epitel disebut Karsinoma.

28
3. KARAKTERISTIK
• Metabolisme sel tumor
1) Sel-sel neoplama mendapat energi terutama dari glikolisis anaerob,
karena kemampuan sel untuk oksidasi berkurang, meskipun mempunyai
enzim yang lengkap untuk oksidasi.
2) Susunan enzim sel uniform, sehingga lebih mengutamakan berkembang
biak yang membutuhkan energi untuk anabolisme daripada untuk
berfungsi yang menghasilkan energi dengan jalan katabolisme.
3) Jaringan yang tumbuh memerlukan bahan-bahan untuk membentuk
protoplasma dan energi, antara lain asam amino. Sel-sel neoplasma dapat
mengalahkan sel-sel normal dalam mendapatkan bahan-bahan tersebut
sehingga pada tumor ganas stadium akhir akan terjadi koheksia.

• Inti sel tumor


1) Tampak lebih besar karena jumlah sitoplasma berkurang.
2) Hiperkromatik, karena pada pemulasan, jumlah nucleoprotein yang
mengikat hematoksilin jumlahnya meningkat.
3) Nukleulus (anak inti) lebih besar dari normal.
4) Banyak gambaran mitosis, pada keadaan ganas dijumpai mitosis yang
abnormal.

• Perbedaan tumor ganas dan tumor jinak

 Tumor ganas
1) Kecepatan tumbuh
Tumbuh cepat, sehingga secara klinis cepat membesar, secara mikroskopis
banyak ditemukan gambaran mitosis baik normal maupun abnormal.

2) Diferensiasi
Berdiferensiasi buruk, karena sel-sel tumor sudah banyak berbeda dari sel-
sel asal/normal. Bersifat anaplasia yang berarti hilangnya diferensiasi,
makin anaplastik suatu tumor, main ganas tumor itu.
3) Mortalitas

29
Jika tidak diobati, meskipun letaknya pada organ tak vital dapat
menyebabkan kematian.

 Tumor jinak
1) Kecepatan tumbuh
Tumbuh lambat, secara klinis tidak cepat membesar dan secara mikroskopis
tidak ditemukan gambaran mitosis abnormal.
2) Diferensiasi
Berdiferensiasi baik, yang berarti sel-sel tumor masih menyerupai sel-sel
jaringan asal/normal.
3) Mortalitas
Biasanya tidak menyebabkan kematian bila letaknya pada alat tubuh yang
vital.

4. ETIOLOGI NEOPLASMA
Bahan-bahan yang dapat menyebabkan terbentuknya neoplasma atau
kanker disebut karsinogen. Menurut jenisnya karsinogen dapat berupa :

1. bahan kimia
2. virus
3. karsinogen fisik
4. hormon
Melihat asalnya maka karsinogen ini dapat berasal dari luar tubuh atau
eksogen, seperti karsinogen kimia, virus dan fisik. Dapat pula berasal dari dalam
tubuh atau endogen, seperti hormon.

1. Bahan kimia
Bahan kimia sangat berbahaya karena dapat memicu sel-sel kanker,contoh :

 Asap rokok; sering menimbulkan kanker paru-paru. Hidrokarbon


terisap dalam asap rokok mempengaruhi terbentuknya karsinoma
bronchogenik. Hal ini telah banyak dibuktikan secara statistic,

30
klinik dan percobaan binatang. Perubahan-perubahan sel selaput
lender bronchus berupa hiperplasi atipik, metaplasi skwamosa,
displasi dan bahkan karsinoma insitu. Makin banyak merokok
makin banyak perubahan yang terjadi.
 Golongan plastic yang mengandung bahan kimia berbahaya dapat
mengganggu hubungan antar sel jaringan yang berkontak
dengannya.
2. Virus
Walaupun pada manusia belum pasti tetapi pada binatang-binatang
percobaan virus merupakan penyebab kanker, misalnya cirus sarkoma yang
ditemukan pada burung.

Cara bekerjanya virus hingga menyebabkan kanker belum jelas; apakah virus
berada dalam sel-sel yang baru tumbuh untuk meneruskan pertumbuhan yang terus
menerus ataukah menyebabkan perubahan genetic yang menetap.

McCulloch mengemukakan 3 kemungkinan :

 virus penyebab berada dalam sitoplasma sel tumor dan tetap berada
disitu untuk terbentuknya sifat-sifat sel tumor.
 virus menyebabkan mutasi somatik, menimbulkan perubahan yang
menetap pada sel, sehingga terbentuk neoplasma. Sekali terbntuk
neoplasma maka peranan virus berakhir.
 virus berada dalam sel, tetapi tidak dapat dilihat.
Boyd berpendapat bahwa virus, seperti enzim merupakan nukleoprotein
yang dapat menimbulkan tumor dengan jalan mengganggu mekanisme susunan
enzim.

3. Karsinogen Fisik
Kebanyakan bentuk energi fisik mempunyai daya karsinogenetik. Misalnya
sinar radioaktif yang ditimbulkan oleh sinar-X, radium dan bom atom yang dapat

31
menyebabkan timbulnya kanker kulit, leukemia, kadang-kadang sarkoma tulang,
karsinoma payudaradan thyroid. Sinar tersebut mungkin menyebabkan perubahan
nukleoprotein daripada kromosom sel, sehingga terjadi kanker.

4. Hormon
Bila kadar hormone tertentu menigkat selama waktu lama dapat
mencetuskan karsinoma payudara, endometrium, kanker ovarium, prostat
atau tiroid.

Menurut Boyd golongan kokarsinogen adalah :

 Diit
 Umur
 Keturunan
 Rangsang menahun
 Trauma

5. PATOGENESIS NEOPLASMA
Hingga kini persoalan karsinogenesis masih merupakan bahan spekulasi dan
penelitian. Akan diuraikan 2 masalah yaitu tentang etiologi dan patogenesis.
Etiologi adalah faktor yang menyebabkan penyebab tumor ganas dan patogenesis
adalah mekanisme faktor-faktor penyebab itu yang mengubah sel-sel normal
menjadi sel-sel tumor.

Jaringan labil seperti kulit dan sumsum tulang mempunyai kemampuan


bermitosis untuk menghasilkan berjuta-juta sel baru setiap harinya. Sedangkan
jaringan lainnya seperti otot jantung dan saraf mempunyai sedikit kemampuan
untuk bermitosis untuk beregenerasi untuk memperbaiki kerusakan. Kemampuan
berproliferasi ini diatur oleh atau rangkaian DNA gen pada setiap sel jaringan.
Pada masing-masing sel di samping mempunyai gen yang mengatur proliferasi
seperti Ki-67 gene, juga memiliki gen yang menghentikan proliferasi sel pada

32
suatu waktu yang disebut repressor gen seperti p53, krev-1/rap1 A atau Gas-1.
Gen ini berfungsi sebagai kontrol. Pada keadaan tertentu apabila repressor gen
tersebut terganggu atau mengalami kerusakan, maka sel akan berproliferasi tidak
terkontrol.

Pada jaringan permanen seperti otot dan saraf, repressor gen terikat dengan
kuat, sehingga sangat sulit dipisahkan dalam waktu sel berdiferensiasi. Sifat ini
sudah ditentukan sejak masa embrio. Pada sumsum tulang serta sel-sel labil
lainnya, repressor gen sangat mudah dipengaruhi oleh stimuli dari lingkungan
seperti hormon, bahan-bahan kimia, virus, radiasi ionisasi dan panas.

Sel pada jaringan normal yang terkena stimulasi akan tumbuh dalam keadaan
terkontrol yang disebut hiperplasia. Apabila stimuli disingkirkan, maka sel akan
kembali ke keadaan normal. Pada kasus neoplasia, kontrol proliferasi sel terganggu
dan sel tumbuh secara tidak terkontrol. Apabila pertumbuhannya terlokalisir dan
ekspansif maka terjadi neoplasia jinak, tetapi apabila pertumbuhan sel infiltratif ke
dalam jaringan sekitarnya, maka yang akan terjadi adalah neoplasia ganas.

Ada 5 teori mengenai patogenesis tumor neoplastik, yaitu sebagai berikut.

1. Perubahan genetik

Teori ini menyatakan bahwa pada suatu saat terjadi perubahan genetik
yang ireversibel pada sel, sehingga terjadi sintesis protein yang lebih aktif
dan ini digunakan lebih banyak untuk reproduksi daripada untuk bekerja.
Sekali sel berproliferasi aktif, maka terjadi perubahan-perubahan mutasi
lebih lanjut. Mutasi sekunder ini kebanyakan letal, tetapi beberapa
diantaranya berkembang ke arah pertumbuhan yang lebih cepat dan lebih
autonom. Perubahan pertama adalah mutasi genetik; tetapi ada
kemungkinan bahwa mula-mula terjadi perubahan epigenetik, yaitu terjadi
perubahan metabolisme sel dan ini akan menyebabkan gen yang
mengendalikan pembelahan menjadi tidak aktif lagi.

33
Pada kebanyakan sel kanker perubahan genetik ini morfologik tampak
nyata. Perubahan ini terlihat pada adanya kromosom yang abnormal seperti
aneuploidi, hipoploidi ekstrim dan hiperploidi nyata. Kelainan kromosom
pada sel kanker dapat diketahui dengan cara analisis kromosom setelah
penghancuran sel.

Mitosis abnormal sering terdapat pada tumor ganas, menunjukkan


adanya kerusakan mekanisme mitosis. Walaupun demikian jangan
langsung menarik kesimpulan bahwa adanya kelainan kromosom
menunjukan bahwa proses itu adalah kanker.

Dapat disimpulkan bahwa mungkin bahan-bahan karsinogen


mempengaruhi gen dengan menimbulkan perubahan kariotip: tetapi
agaknya pada permulaan kanker, kerusakan ini tidak terlihat. Kemudian
perubahan yang tidak terlihat ini langsung atau melalui bahan-bahan
karsinogen lain menjadi perubahan yang terlihat dan dalam klinik tampak
sebagai kanker.

2. Feedback deletion

Semua sel mempunyai potensi genetik untuk berubah menjadi kanker,


tetapi yang dalam keadaan normal terhambat. Pada sel tumor susunan
pengatur menghilang, sehingga kemampuan untuk membelah dihambat.
Potter menyokong pendapat ini dan berpendapat bahwa terdapat suatu
susunan pembentukan enzim khusus yang menyebabkan hilangnya
feedback control untuk pembelahan sel.

Seperti diketahui aktivitas dan struktur gen berada di bawah


pengawasan gen pengatur atau repressor. Kehilangan gen pengatur atau
rusaknya enzim feedback menyebabkan rusaknya mekanisme yang stabil.
Konsep kehilangan kontrol ini disebut feedback deletion.

34
3. Teori multifaktor

Dari beberapa percobaan pada binatang diketahui bahwa satu tumor dapat
timbul oleh beberapa penyebab yang sinergistik atau aditif. Sudah tentu
hanya kombinasi sempurna yang dapat menimbulkan tumor pada tuan
rumah (hospes) yang rentan. Teori ini disebut teori multifaktor (Lamerton).

4. Teori stadium berganda (multistage theory)

Evolusi tumor ganas membutuhkan waktu. Mungkin perubahan mula-


mula pada sel menyebabkan terjadinya apa yang disebut neoplasia
incipiens, yang terjadi pada kehidupan dini, atau herediter. Perubahan ini
dapat tenang selama hidup atau menjadi aktif karena pengaruh tambahan
sesuai dengan teori multifaktor.

Pengaruh yang menyebabkan terjadinya tumor ini terjadi pada dua


stadium yang berbeda yaitu mula-mula (inisiasi) dan kemudian (promosi).

Apabila sel tumor dirangsang dengan promotor terlebih dahulu baru


kemudian initiator, tumor tidak akan terbentuk. Walaupun demikan, untuk
terbentuknya tumor diperlukan promotor. Bahan-bahan yang bertindak
sebagai promotor oleg Boyd disebut cocarcigenesis.

Disangka bahwa initiator menimbulkan mutasi genetik dalam sel.


Menurut hipotesis feedback deletion, mutasi ini mengenai gen yang
mengatur sistesi enzim feedback control. Akibatnya tidak segera terlihat
karena masih ada RNA dan enzimnya. Tetapi setiap usaha regenerasi sel
akan dirusak oleh promotor, sehingga menimbulkan kerusakan enzim
pengatur dan mengakibatkan hilangnya mekanisme penghambat
pertumbuhan. Proliferasi terjadi secara terus menerus dan mengakibatkan
mutasi lebih lanjut dan dengan seleksi alamiah meninggalkan sel-sel yang
autonom dan agresif.

35
Agaknya pada perubahan pertama terjadi hiperplasia dan baru
kemudian terjadi mutasi spontan dengan terbentuknya kanker.

Dari percobaan-percobaan dengan karsinogen kimia terlihat bahwa


pada kejadian mula-mula (initiation) terjadi perubahan genetik yang
ireversibel.

5. Multicellular origin of cancer-field theory

Teori ini mengatakan bahwa neoplasma terbentuk dari beberapa sel


yang berdekatan secara serentak dan bukan berasal dari satu sel. Neoplasma
akan mulai pada tempat yang dipengaruhi karsinogen secara maksimal,
tetapi respon neoplastik kemudian akan tumbuh pada jaringan sekitarnya,
yang juga dikenai pengaruh karsinogen yang sama.

6. DIAGNOSIS
1. Pemeriksaan makroskopik

Yaitu dengan penglihatan mata biasa diperhatikan jaringan tumor itu.Misalnya


pada carcinoma mammae, secara makroskopik terlihat adanya bercak-bercak
berwarna kuning kemerahan, yang menunjukan adanya jaringan nekrotik dan
pendarahan.

2. Pemeriksaan histologik

Pemeriksaan histologik hingga kini masih merupakan cara yang sangat penting
untuk menegakkan diagnosis neoplasma,pada tumor-tumor kecil jaringan diperoleh
dengan cara eksisi, jika tumor besar dapat dilakukan eksisi percobaan atau biopsy
sebagian.

36
3. Biopsi jarum-biopsi aspirasi

Cara ini meskipun tidak digunakan secara luas tetapi telah dapat dibuktikan
manfaatkan oleh orang-orang berpengalaman sepert smetana. Cara ini biasanya
dilakukan pada pengambilan jaringan hati, pleura, ginjal, kadang-kadang
limpa,kadang-kandang juga pada tumor payudara.

4. Pemeriksaan darah tepi

Teknik pemeriksaan hematologic banyak dikembangkan dalam diagnosis kanker.


Salah satu cara adalah isolasi dan menentukan sel-sel tumor pada peredaran darah.
Sel-sel tumor ini terlepas dan masuk kedalam peredaran darah.

5. Pemeriksaan hormon dan enzim

Pemeriksaan hormone dan enzim dapat membantu diagnosis kanker. Terbentuknya


fosfatase asam karena adanya anaksembar karsinoma prosfat dalam tulang
membantu diagnosis neoplasma.

6. Pemeriksaan sitologik

Disebut pula sitologi eksfoliatif, suatu cara diagnostic yang penting untuk
menemukan kanker,dasar pemeriksaan ini adalah:

• perubahan patologik yang disebut anaplasi yang merupakan sifat sel tumor
ganas dan yang merupakan perubahan dari sel normal

• sel-sel tumor ganas kohesinnya kurang dari pada sel normal, sehingga
mudah terlepas.

37
D. FARMAKOTERAPI

1. DEFINISI
Kemoterapi adalah pemberian obat anti kanker yang bertujuan membunuh
sel-sel kanker. Obat diberikan secara bersamaan dalam waktu yang terjadwal.

2. PENGGOLONGAN FARMAKOLOGI
a. Farmakokinetik

Keseluruhan proses yang dialami molekul obat, mulai masuknya obat


kedalam badan sampai hilangnya obat ini dari badan disebut proses
farmakokinetik. Proses ini mencakup absorpsi, distribusi, biotrans-formasi, dan
eksresi obat. Seluruh proses ini terjadi simultan dan bukan beruurut.

Proses absorpesi terjadi di berbagai tempat pemberian obat, umpamanya


melalui alat cerna, otot rangka, paru paru, kulit dan sebagainya. Setelah melalui
berbagai sawar (barrier) molekul obat masuk kedalam cairan intravaskuler dan
disebar keseluruh badan. Dalam darah sebagian molekul obat akan diikat oleh
protein plasma dan reaksi ini bersifat reversible. Hanya molekul obat bebas yang
dapat menembus membrane sel untuk masuk sel hati tempat biotransformasi
terjadi. Molekul obat bebas lainnya memasuki jaringan berbagai organ,
mempengaruhi fungsi faal atau fungsi biokimia dengan akibat terjadinya efek obat.
Sebagian lagi memasuki memasuki ginjal dan kadang kadang langsung diekskresi,
tetapi umumnya obat baru diekskresi setelah mengalami biotransformasi.

Disisni terlihat bahwa jutaan molekul obat yang telah diabsorpasi secara
simultan mengalami, berbagai macam proses. Molekul obat harus melewati sawer
yang terdiri dari unit membrane atau plasama membrane yang terbentuk dari
lapisan biomolekuler fosfolipid. Karena membrane ini terutama terdiri dari lemak
maka umumnya molekul obat yang besifatnonpoler lebih mudah melintasi
membrane dari pada molekul obat yang poler.

• Absorpsi

38
Proses absorpsi sangat penting dan menentukan efek obat. Pada umumnya
obat yang tidak di absorpsi tidak menimbulkan efek, kecuali antacid dan obat yang
bekerja local. Absorpsi dipengaruhi oleh bermacam faktor seperti, sifat fisik dan
kimia bahan obat, bentuk obat yang diberikan (tablet, kapsul, cairan), formulasi,
cara pemberian, konsentrasi obat, luas permukaan kontak obat (absorbing surface)
dan sirkulasi pada tempat absorpsi obat.

Absorsi melalui saluran cerna. Pemberian obat per oral merupakan cara
yang paling lazim karena paling mudah, aman dan ekonomis. Kerugian cara ini
ialah : obat dapat merangsang mukosa lambung dan dapat menimbulkan emesis
(mual). Minofilin sering menimbulkan emesis karena merangsang mukosa
lambung. Obat dapat mmbentuk kompleks dengan makanan sehingga lebih sukar
diabsorpsi. Obat yang lewat sistem portal dapat mengalami biotransformasi
sebelum memasuki sirkulasi ke berbagai organ. Pemberian oral membutuhkan
koperasi pasien dan efeknya baru timbul setelah bebrapa waktu tergantung dari
jenis obatnya.

Kecepatan absorpsi obat yang berbentuk tablet tergantung dari kecepatan


desintegrasi dan melarutnya bahan obat. Umumnya obat dalam bentuk non poler
yang larut dalam lemak cepat diabsorpsi sedang obat yang bersifat poler tidak larut
dalam lemak seperti zat ammonium kuatener, lambat di absorpsi.

Pemberian obat secara sublingual dapat diberikan untuk menghindari


pengrusakan oleh enzim lambung dan usus dan menghindari biotransformasi di
hepar sebelum obat didistribusi. Cara ini hanya dapat dipakai untuk obat yang
tidak merangsang mukosa dan tidak menimbulkan rasa pahit yang mengganggu.

Pemberian obat secara rectal dapat dilakukan untuk pasien yang muntah-
muntah, tidak sadar dan untuk menghindari pengrusakan dari enzim pencernaan
dan biotransformasi di hepar. Didaerah tropik, pemberian rectal kurang popular
karena suposutoria sering menjadi lembek. Banyak obat tidak dapat diberikan
dengan cara ini karena menimbulkan iritasi mukosa rectum..

• Distribusi

39
Obat setelah di absorpsi akan tersebar melaui sirkulasi darah keseluruh
badan. Molekul obat yang mudah melintasi membrane sel akan mencapai semua
cairan tubuh baik intrasel maupun ekstrasel ; sedang obat yang sulit menembus
membrane sel penyebarannya umumnya terbatas pada cairan ekstrasel. Kadang-
kadang beberapa obat mengalami kumulasi selektif pada beberapa organ dan
jaringan (tissue depot) tertentu karena proses transport aktif, pengikatan dengan zat
tertentu atau daya larut yang lebih besar dalam lemak. Kumulasi demikian
berfungsi sebagai gudang dan dan dapat mengakibatkan obat berefek lebih lama,
Bagian badan yang dapat berfungsi sebagai gudang obat (stoage depot) ialah
protein plasma, umumnya albumin , jaringan ikat, dan jaringan lemak. Selalin itu
ada tempat lain umpamanya tulang, organ tertentu, dan cairan trans-sel yang dapat
berfungsi sebagai gudang untuk beberapa obat tertentu.

Distribusi obat kesusunan saraf pusat dan janin harus menerobos sawar
khusus yang dikenal sebagai sawar darah-otak (blood brain barrier) dan sawar uri.
Obat yang mudah larut dalam lemak pada umumnya mudah melewati sawar ini.

• Biotransformasi
Pada umumnya biotransformasi obat terjadi oleh enzim mikrosom di
reticulum ndoplasma sel hepar. Pada proses biotransformasi molekul obat dapat
berubah sifatnya antara lain menjadi lebih poler. Metabolit yang lebih poler ini
tidak larut dalam lemak dan dengan dengan demikian lebih mudah dieksresi oleh
ginjal .

Reaksi biokimia yang terjadi pada proses biotransformasi dapat dibagi


dalam reaksi sintetik dan reaksi non sintetik. Pada reaksi sintetik terjadi konjugasi
molekul obat dengan subtract endogen seperti gugus glukuronid, - asteril, atau –
sulfat. Reaksi ini membutuhkan energi yang biasanya berasal dari ATP ; dan
metabolit menjadi inaktif. Reaksi nonsintetik tidak membutuhkan energi; berupa
reaksi reduks, oksidasi atau hidrolisis. Metabolitnta dapat lebih aktif dari obat asal,
berkurang aktifitasnya atau sama sekali tidak aktif.

40
Biotransformasi memegang peranan penting dalam mengakhiri efek obat.
Karena proses ini dikatalisis oleh enzim maka proses ini dapat dihambat atau
dirangsang dengan akibat pengaruh terhadap efek obat.

• Eksresi
Obat dapat dikeluarkan dari badan dalam bentuk metabolit hasil
biotransformasi atau dalam bantuk asalnya. Ekskresi umumnya terjadi melalui
ginjal, tetapi juga terjadi bersama tinja, empedu melalui paru-paru, bersama air
susu dan keringat. Eksresi melaui paru-paru terutama pada anastesia umum dengan
anastesik terbang. Eksresi air susu ibu penting untuk diperhatikan karena dapat
menimbulkan efek farmakologik atau efek toksik pada bayi.

b. Farmakodinamik

Seperti telah diuraikan terdahulu farmakodinamik mempelajari cara kerja


obat dan efeknya terhadap berbagai funsi oragan dan reaksi biokimia.

• Mekanisme Kerja Obat


Cara kerjanya pada taraf molekuler hingga kini belum diketahui dengan
jelas. Mengapa suhu demam menurun? Mengapa ambang rasa nyeri meningkat?
Ini pertanyaan-pertanyaan yang masih diselidiki dan sampai sekarang belum
terjawab. Penelitian mengenai mekanisme kerja obat dewasa ini merupakan bagian
yang sangat penting dalam farmakologi.

Dalam bagan terlihat bahwa yang dimaksud dengan mekanisme kerja obat
adalah akibat langsung penggabungan molekul obat (O) dengan suatu reseptor (R)
atau zat reseptif (Recptive substance). Bila reseptpr itu suatu enzim maka hasilnya
dapat berupa penghambatan ataupun perangsangan enzim tersebut.

41
Setelah kompleks obat-reseptor (OR) terbentuk, kemungkinan bersar akan
terjadi reaksi rantai lebih lanjut ; tetapi yang terlihat atau terdapat diobservasi ialah
timbulnya perubahan fungsi organ tertentu. Perubahan yang dapat dilihat kita sebut
efek obat.

Reseptor Obat ialah makromolekul yang bergabung dengan obat ; dan


penggabungan ini merupakan reaksi permulaan dalam suatu rangkaian reaksi yang
pada akhirnya menimbulkan efek. Dengan menggambarkan bahwa semua obat
harus bergabung dalam reseptor dulu, berbagai dan efek seperti hubungan antara
dosis dan efek, hubungan waktu dan efek lebih mudah dimengerti. Rseptor obat
pada umumnya merupakan molekul enzim, atau komponen fungsional dari sel.
Rseptor obat dapat terletak pada membrane sel, didalam sel atau ekstrasel.

• Efek Obat
Efek obat pada umumnya terlihat sebagai perubahan intensitas faal organ
tertentu atau reaksi biokimianya. Karena efek obat adalah hal yang dapat
diiobbserfasi maka obat digolongkan sesuai dengan efeknya.

Obat golongan farmakoldinamik bekerja dengan mempengaruhi faal organ


dan dalam hal ini pengaruhnya bersifat kuantiatif dan bukan kualitatif. Artinya
fungsi organ diubah oleh obat dengan merangsangnya menjadi lebih aktif atau
menjadikan kurang aktif.

Untuk menetapkan dosis yang tepat perlu diketahui faktor-faktor yang


mempengaruhinya.

- Berat Badan Pasien; makin berat seseorang makin besar juga dosis obat
yang dibutuhkan untuk mendapat efek terapi. Luas permukaan badan
merupakan indeks yang lebih tepat dari indeks lain untuk menentukan dosis
obat.

42
- Umur; Bayi premature bersifat hiperaktif terhadap obat karena ensim
untuk biotransfomasi dan fungsi ginjal belum sempurna. Orang lanjut usia
juga dapat bersifat hiper-reaktif karena fungsi biotransformasi dan eksresi
sudah menurun.
- Kelamin; Wanita dilkatakan bersifat hiper-reaktif terhadap obat tertentu.
Salah satu alasan yang di kemukakan adalah berat badan wanita umumnya
kurang dari laki-laki. Perbedaan intensitas efek obat juga dapat terjadi
karena perbedaan hormonal.
- Cara Pemberian; Pada berbagai cara pemberian perbedaan dosis obat
yang diberikan berdasarkan perbedaan absorpsi. Umumnya dosis untuk
pemberian intravena lebih kecil dari untuk pemberian subkutan atau
pemberian oral.
- Saat Pemberian Obat; Obat yang diberikan sesudah makan, absorpsinya
lebih lambat dan tidak sempurna dan hingga efek terapi mungki tidak
tercapai. Pemberian obat pada lambung yang kosong mempercepat absorpsi
obat sehingga efek terapi cepat tercapai.
- Kecepatan biotransformasi dan Ekresi obat; gangguan fungsi hepar dan
ginjal memperlambat eliminasi obat tertentu sehingga dosis obat harus
dikurangi untuk mencegah terjadinya keracunan.
- Faktor Genetik; Ada kalanya dapat mempengaruhi efek obat. Cabang
farmakologi yang mempelajari faktor genetic terhadap efek obat di sebut
ilmu farmakogenetik.
- Interaksi Obat; Efek suatu obat dapat dipengaruhi oleh terdapatnya obat
lain. Pengaruh dapat menguntungkan dan merugikan penderita. Terjadinya
interaksi obat selalu harus dipertimbangkan bila menggunakan 2 obat atau
lebih.
- Variasi Biololgik; Setiap indivisu mempunyai sifat khas yang mungkin
menyebabkan perbedaan reaksi terhadap obat. Seseorang dengan dosis
kecil sudah mendapatkan efek yang diinginkan dikatakan bersifat hiper-
reaktif terhadap obat, sedang yang membutuhkan dosos besar untuk
mendapatkan efek yang diinginkan disebut hiperoaktif.

43
3. PRINSIP FARMAKOTERAPI
1. Mulai dari dosis kecil dinaikkan perlahan-lahan.

2. Evaluasi efektivitas dan efek samping.

3. Gunakan monoterapi.

4. Gunakan obat lini pertama terlebih dahulu.

5. Tidak ada patokan kapan harus menghentikan obat, bila akan


menghentikan obat hentikan perlahan-lahan.

4. FUNGSI
Manfaat kemoterapi kanker

1. Pengobatan

Beberapa jenis kanker dapat di sembuhkan secara tuntas engan satu jenis
kemoterapi saja atau beberapa jenis kemotrapi.

2. Kontrol

Kemoterapi ada juga yang bertujuan untuk menghanbat perkembangan kanker agar
tidak bertambah besar atau menyebar ke jaringan lain.

3. Mengurangi gejala

Bila kemoterapi tidak dapat menghilangkan kanker ,maka kemotrapi yang


diberikan bertujuan untukmengurangi gejala yang timbul pada pasien, seperti
meringankan rasa sakit dan memberi perasaan lebih baik serta memperkecil ukuran
kanker pada daerah yang diserang.

5. EFEK SAMPING
Efek samping adalah gejala yang timbul dan tidak diharapkan sebagaim
akibat dari penggunaan obat, yang dapat menimbulkan kerugian, kesakitan atupun
kematian. Efek samping penggunaan obat dapat muncul ketika sedang dilakukan

44
pengobatan atau beberapa waktu setelah pengobatan. Efek samping yang bisa timbul
adalah :

1. Lemas

Lemas adalah efek samping yang umum timbul. Timbulnya dapat


mendadak atau perlahan. Tidak langsung menghilang dengan istirahat, kadang
berlangsung hingga akhir pengobatan.

2. Mual dan muntah

Ada beberapa obat kemotrapi yang lebih membuat mual dan muntah.
Selain itu ada beberapa orang yang sangat rentan terhadap mual dan muntah. Hal ini
dapat dicegah dengan obat anti mual yang diberikan sebelum, selama,dan sesudah
pengobatan kemotrapi. Mualmuntah dapat berlangsung singkat ataupun lama.

3. Gangguan pencernaan

Beberapa jenis kemotrapi berefek diare. Bahkan ada yang menjadi diare
disertirai dehidrasi berat yang harus dirawat. Sembelit kadang bisa terjadi.

4. Sariawan

Beberapa obat kemotrapi menimbulkan penyakit mulut seperti terasa tebal


atau infeksi. Kondisimulut yang sehat sangat penting dalam kemotrapi.

5. Rambut rontok

Kerontokan rambut bersifat sementara, biasanya terjadi 2 atau 3 minggu setelah


kemotrapi di mulai. Dapat juga menyebabkan rambut patah di dekat kulit kepala.
Rambut dapat tumbuhlagi setelah kemotrapi selesai.

6. Otot dan saraf

Beberapa obat kemotrapi dapat menyebabkan kesemutan dan mati rasa pada jari
tangan atau kaki, serta kelemahan pad otot kaki. Sebagian bisa terjadi sakit pada otot.

7. Efek pada darah

45
Beberapa jenis obat kemotrapi dapat mempengaruhi kerja sumsum tulang yang
merupakan pabrik pembuat sel darah, sehingga jumlah sel darah menurun. Yang
paling sering adalah penurunan sel darah putih (leukosit). Penurunan sel darah terjadi
pada setipkemotrapi dan tes darah akan dilaksanakan sebelum kemotrapi selanjutnya
untuk memastikan jumlah sel darah telah kembali normal. Penurunan jumlah sel
darah dapat mengakibatkan :

• Mudah terkena infeksi

Hal ini disebabkan oleh karena jumlah leukosit turun,karena leukosit adalah
sel darah yang berfungsi untuk perlindungan terhadap infeksi. Ada
beberapa obat yang bisa meningkatkan jumlah leukosit.

• Perdarahan

Kepin darah (trombosit) berperan pada proses pembekuan darah. Penuuna


jumlah trombosit mengakibatkan perdarahan sulit berhenti, lebamdan
bercak merah di kulit.

• Anemia

Anemia adalah penurunan jumlah sel darah merah yang ditandai oleh
penurunan Hb (hemoglobin), karena Hb letaknya di dalam sel darah merah.
Akibat anemia adalah seseorang dapat merasa lemah, mudah letih dan
pucat.

8. Kulit dapat menjadi kering dan berubah warna

• Lebih sensitif terhadap matahari.

• Kuku tumbuh lebih lambat dan terdapat garis putih melintang.

46
47
BAB III

PENUTUP

• KESIMPULAN

Sel adalah unit structural terkecil dari semua organisme hidup. Struktur sel
dan fungsi-fungsinya secara menakjubkan hampir serupa untuk semua organisme,
namun jalur evolusi yang ditempuh oleh masing-masing golongan besar organisme
juga memiliki kekhususan sendiri-sendiri. Sel-sel prokariotik beradaptasi dengan
kehidupan uniselular (contohnya: bakteri dan ganggang) sedangkan sel-sel
eukariotaik(pada hewan dan tumbuhan) beradaptasi untuk hidup saling bekerja
sama dalam suatu organisasi hidup.

Manusia memiliki sekitar 200 jenis sel yang berbeda. Spesialisasi sel dalam
berbagai organ sangatlah besar, dan tidak ada sel yang dapat disebut ”khas
(tipikal)” dari semua sel dalam tubuh, semua terbentuk dari zigot, yaitu sel tunggal
yang terbentuk dari pembuahan sebuah oosit dan sebuah spermatozoa. Pembelahan
pertama dari zigot menghasilkan sel-sel yang disebut blastomer, yang sanggup
membentuk semua jenis sel orang dewasa. Melalui proses ini, yang disebut
diferensiasi sel, sel-sel mensintesis protein spesifik, mengubah bentuknya dan
menjadikannya sangat efisien dalam fungsi yang spesifik.

Namun, kerja sel yang autonom ini kadang juga mengalami berbagai
kelainan yang dapat mengganggu beberapa bagian kerja tubuh. Salah satu
contohnya adalah neoplasma atau tumor yang sangat membahayakan bagi
manusia. Untuk itu, perkembangan dunia kesehatan telah memanfaatkan segala
sumber ilmu pengetahuan untuk dapat mengembangkan dunia farmakologi demi
penangaanan tepat terhadap gangguan-gangguan kerja tubuh tersebut.

48
DAFTAR PUSTAKA

• Sudiono, Janti.drg, dkk. 2003. Ilmu Patologi, Jakarta: EGC.


• A. Price, Sylvia dan M Wilson, Lorraine. 2002.
Patofisiologi.edisi 6. Jakarta: EGC.

• Juwono, dr dan Zulfa, Achmad, dr. 1998. Biologi sel. Jakarta:


EGC.

• Syafriadi, Mei. 2008. PATOLOGI MULUT. Tumor Neoplastik dan


Non Neoplastik Rongga Mulut. Jogjakarta: ANDI.

• Himawah, Sutisna, dr. PATOLOGI. FKUI.

• Wibowo, Samekto dan Gofir, Abdul.2001.Farmakoterapi dalam


Neurologi. Jakarta: Penerbit Salemba Medica.

• Sherwood, Laurice. 2001. Fisiologi Manusia. Jakarta: EGC.

• http://farmasi.dikti.net/farmakologi-secara-umum/#more-31

49