Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR ILMU TANAH

PENGAMBILAN SAMPEL TANAH PENETAPAN KADAR AIR SECARA


GRAVIMETRIK DANPENETAPAN BOBOT ISI SERTA RUANG PORI
I.

Tujuan
1. Mahasiswa mampu melakukan dan memahami cara dan fungsi pengambilan
sampel tanah.
2. Mahasiswa dapat mengetahui bobot suatu isi tanah serta dapat menentukan kadar
air tanahnya saat basah maupun kering.
3. Mahasiswa dapat mengetahui bobot isi dan ruang pori tanah yang dinyatakan
dalam satuan g/ml.

II.

Dasar Teori
Tanah adalah bahan mineral yang tidak padat (uncosolidated) terletak di
permukaan bumi, yang telah akan tetap mengalami perlakuan dan dipengaruhi oleh
faktor faktor genetik dan lingkungan yang meliputi bahan induk, iklim (termasuk
kelembapan dan suhu), organism (makro dan mikro) dan topografi pada suatu periode
waktu tertentu (Hanafiah, 2004).
Tanah mempunyai sifat sangat kompleks, terdiri atas komponen padatan yang
berinteraksi dengan cairan, dan udara. Komponen pembentuk tanah yang berupa
padatan, cair, dan udara jarang berada dalam kondisi kesetimbangan, selalu berubah
mengikuti perubahan yang terjadi di atas permukaan tanah yang dipengaruhi oleh suhu
udara, angin, dan sinar matahari. Untuk bidang pertanian, tanah merupakan media
tumbuh tanaman. Media yang baik bagi pertumbuhan tanaman harus mampu
menyediakan kebutuhan tanaman seperti air, udara, unsur hara, dan terbebas dari
bahan-bahan beracun dengan konsentrasi yang berlebihan. Dengan demikian sifat-sifat
fisik tanah sangat penting untuk dipelajari agar dapat memberikan media tumbuh yang
ideal bagi tanaman (Poerwowidodo, 1991).
Menurut Agus Cahyono (2009), sampel tanah ada 3 macam, yaitu:
1. Sampel Tanah Utuh
Tanah utuh merupakan sampel tanah yang diambil dari lapisan tanah tertentu
dalam keadaan tidak terganggu, sehingga kondisinya menyamai kondisi di
lapangan.

2. Sampel Tanah Agregat


Sampel tanah agregat utuh adalah sampel tanah berupa bongkahan alami yang
kokoh dan tidak mudah pecah.
3. Sampel Tanah Komposit (Tidak Utuh/Terganggu)
Sampel tanah terganggu lebih dikenal sebagai contoh tanah biasa (disturbed
soil sample), merupakan sampel tanah yang diambil dengan menggunakan
cangkul, sekop, atau secara manual dengan tangan.
Contoh tanah adalah suatu volume massa tanah yang diambil dari suatu bagian
tubuh tanah (horizon/lapisan/solum) dengan cara-cara tertentu dengan sifat-sifat yang
dimiliki (Hardjowigeno, 1987).
Pengambilan contoh tanah berupa contoh tanah terganggu dan agregat utuh.
Contoh tanah terganggu digunakan untuk analisis sebaran partikel tanah (tekstur
tanah) dan kandungan bahan organik tanah, sedangkan agregat utuh digunakan untuk
analisis kemantapan agregat tanah (Foth, 1986).
Pengambilan contoh tanah merupakan tahap awal dan terpenting dalam
program uji tanah di laboratorium. Analisis contoh tanah bertujuan untuk (1)
menentukan sifat fisik dan kimia tanah (status unsur hara tanah), (2) mengetahui lebih
dini adanya unsur-unsur beracun di dalam tanah, (3) sebagai dasar penetapan dosis
pupuk, dan kapur sehingga lebih efektif, efisien, dan rasional (4) Memperoleh data
base untuk program perencanaan dan pengelolaan tanah-tanaman. Contoh tanah utuh
untuk penetapan-penetapan kerapatan limbak, susunan pori tanah, pH dan
permeabilitas. Contoh tanah dengan agregat utuh untuk penetapan kemantapan agregat
dan nilai Cole (Khamandayu, 2009).
Bobot isi menunjukkan perbandingan antara berat tanah kering dengan volume
tanah termasuk volume pori-pori tanah. Bobot isi merupakan petunjuk kepadatan
tanah. Semakin padat suatu tanah maka semakin tinggi bobot isinya yang berarti tanah
semakin sulit meneruskan air atau ditembus akar tanaman (Hardjowigeno, 2002).
Lapisan-lapisan tanah terdapat sejumlah ruangpori, dimana keberadaan
ruangpori tersebut penting karena masing-masing ruang terisi oleh udara dan air.
Jumlahair yang bergerak di dalam pori-pori tanah berkaitan erat dengan ukuran dan
jumlah pori yang ada dalam tanah tersebut. Besar ruang pori tanah nervariasi, dari
satuhorizon ke horizon lainnya, sama halnya dengan sifat tanah yang lainnya
dankeduanya dipengaruhi oleh tekstur dan stuktur tanah (Hakim, dkk, 1996).

Pori tanah jika dalam keadaan basah seluruhnya akan terisi oleh air, baik
porimikro, pori meso ataupun pori makro. Sebaliknya pada keadaan kering, pori
makrodan sebagian pori meso terisi udara. Tanah yang strukturnya gembur atau
remahdengan tindakan pengolahan tanah yang intensif dan bertekstur lempung,
umumnya mempunyai porositas yang besar. Porositas perlu diketahui karena
merupakan gambaran aerasi dan drainase tanah (Foth, 1994).
Pori tanah adalah ruang antara butiran padat tanah yang pada umumnya
porikasar ditempati udara dan pori kecil ditempati air, kecuali bila tanah kurang.
Porositas tanah adalah persentase volume tanah yang ditempati butiran padat
(Pairunan, dkk, 1985).
Tanah pertanaman

cenderung mempunyai

ruang pori

yang

rendah,

jikadibandingkan dengan tanah asli. Pengurangan ini biasanya dihubungkan


denganmenurunnya bahan organik yang menyebabkan kurangnya butiran-butiran
tanah.Jumlah

pori

dalam

sub

soil

tanah

pertanaman

menjadi

berkurang

meskupunberkurangnya agak lambat. Penanaman secara terus-menerus terutama pada


tanah yang mula-mula tinggi bahan organiknya kerap kali mengakibatkan pori-pori
makro (Buckman dan Brandy, 1992).
Porositas adalah proporsi ruang pori tanah (ruang kosong) yang terdapat dalam
suatu volume tanah yang dapat ditempati oleh air dan udara, sehingga merupakan
indicator kondisi drainase dan aerasi tanah. Tanah yang poreus berartitanh yang cukup
mempunyai ruang pori untuk pergerakan air dan udara masuk dan keluar tanah yang
secara leluasa, sebaliknya jika tanh tidal poreus (Hakim ,1996).
Tekstur tanah sangat berperan dalan porositas hal ini dapat dilihat apabila maki
kecil ukuran separate berarti makin banyak jumlah dan makin luas permukaanper
satuan bobot tanah, yang menunjukkan makin padatnya partikel partikel per satuan
volume tanah. Hal ini berati makin banyaka ukuran pori mikro yang terbentuk,
sebaliknya jika ukuran separate makin besar. Tanah yang didominasi pasir akan
banyak mempunyai pori pori meso, Hal ini berbanding terbalik dengan
luaspermukaan yang terbentuk, luas permukaan mencerminkanluas situs yang dapat
bersentuhan dengan air, energy atau bahan lain, sehingga makin dominan fraksipasir
akan makin kecil daya menahan terhadao ketiga material ini, dansebaliknya
(Hanafiah ,2005).
III.

Alat dan Bahan

1. Pengambilan Sampel Tanah Utuh


Alat:
a. Ring
b. Sekop
c. Cangkul
d. Pisau atau silet
e. Plastik bening
Bahan:
a. Tanah
2. Pengambilan Sampel Tanah Komposit
Alat:
a. Sekop
b. Botol
c. Saringan
d. Koran
Bahan:
a. Tanah
3. Penetapan KA, BI, dan RPT
Alat:
a. Botol
b. Neraca analitik
c. Esikator
d. Oven
Bahan:
a. Tanah
IV.

Cara Kerja
1. Pengambilan Sampel Tanah Utuh
Pengambilan sampel tanah utuh dilakukan dengan meratakan dan
membersihkan lapisan tanah yang akan diambil terlebih dahulu, selanjutnya m ring
diletakkan pada lapisan tanah tersebut setelah itu mengali tanah disekeliling ring
dengan sekop atau cangkul, mengiris tanah dengan pisau hampir mendekati ring
kemudian ring ditekan sampai bagiannya masuk kedalam tanah lalu ring yang lain
diletakkan tepat diatas ring pertama kemudian ditekan lagi sampai bagian bawah dari
ring kedua masuk kedalam tanah kira-kira sedalam 1 cm, kemudian ring beserta tanah
didalamnya digali dengan cangkul lalu dipisahkan antara tabung keduanya dengan
hati-hati dan diratakan baik pada bagian bawah maupun bagian atas ring menggunakan
pisau, terakhir menutup tabung dengan tutup plastik hingga rapat.
2. Pengambilan Sampel Tanah Komposit
Untuk pengambilan contoh tanah komposit, pertama-tama harus diambil 20
contoh tanah dengan bor tangan dari petak atau wilayah homogen (satu jenis tanah,
satu perlakuan) dan pengambilan dilakukan secara acak. Selanjutnya contoh tanah

tersebut dicampur lalu dikeringkan. Setelah kering tanah diayak dan disaring, dan
terakhir contoh tanah komposit disimpan dalam botol yang diberi label.
3. Penetapan Kadar Air(KA), Bobot Isi(BI) dan Ruang Pori Total(RPT)
Penetapan kadar air dilakukan secara gravimetrik yang diambil dari sampel
tanah utuh maupun komposit sebesar 5 gr,langkah pertama yang dilakukan adalah
menimbang berat botol yang kosong dengan neraca analitik yang menghasilkan berat
botol timbang(A) selanjutnya mengambil 5 gr tanah lalu dimasukkan dalam botol
tersebut dan ditimbang lagi yang menghasilkan berat botol timbang+tanah(B),
kemudian setelah mendapatkan hasilnya langsung dimasukkan kedalam oven dengan
suhu 1050C dalam waktu 24 jam dan dengan kondisi tutup botol dibuka setelah itu
dimasukkan kedalam eksikator 15 menit sampai dingin dengan botol tertutup,
setelah dingin ditimbang kembali dan menghasilkan berat botol timbang+tanah
oven(C). Setelah selesai kadar air dapat dicari dengan memasukan hasil yang didapat
tersebut kedalam rumus. Untuk mencari bobot isi langkah pertama yang harus
dilakukan adalah dengan menghitung berat ring kosong, berat ring+tanah, bobot tanah
dan volume ring tersebut. Selanjutnya hasil perhitungan langsung dapat digunakan
untuk mencari bobot isi dengan memasukkannnya dalam rumus. Dari hasil bobot isi
yang telah didapat selanjutnnya dipergunakan untuk mencari ruang pori tanah.
V.

Hasil Pengamatan dan Perhitungan


A. Kadar Air:
a. Berat botol timbang (A)
b. Berat botol timbang + tanah (B)
c. Berat botol timbang + tanah oven (C)
KA

BC
C A 100%

36,5435,80
= 35,8031,55 100%
0,74
100
= 4,25
=0,1741100%
= 17,41% (a)
B. Bobot Isi:
a. Berat ring kosong (y)
b. Berat ring+tanah (x)
c. Bobot tanah (x-y)
d. Diameter ring (d)
e. Tinggi ring (t)
Volume ring:

: 99,59 gram
: 207, 93 gram
: 108,34 gram
: 5,7 cm
: 4,4 cm

: 31,55 gram
: 36,54 gram
: 35,80 gram

= .r2.t
= 3,14 (2,85)2 4,84
= 112,22 cm3 (c)

Bobot kering mutlak:


( x y ) 100
BKM =
KA+ 100
=

108,34 100
17,41+100

10,834
= 117,41
= 92,27 gram (b)
BI

b
c

92,27
= 112,22
= 0,822 gr/ml
C. Ruang Pori Tanah:
RPT

= 1-

BI
100
BJP

= 1-

0,822
100
2,65

= 1- 0,310 100%
= 0,69 100 %
= 69 %
RPA

= KABI
= 17,41 0,822
= 14,31

RPU

= RPT-RPA
= 69 - 14,31
= 54,69

VI.

Pembahasan
Pengambilan contoh tanah merupakan tahap awal dan terpenting dalam
program uji tanah. Pada praktikum ini digunakan dua cara pengambilan contoh tanah,
yaitu contoh tanah utuh dan contoh tanah komposit. Pada pengambilan sampel tanah
harus teliti dan perlu untuk memperhatikan dalam pengambilan dan penyimpanannya.
Contoh tanah biasa atau contoh tanah komposit untuk penetapan-penetapan kadar air,
tekstur dan konsistensi. Pengangkutan contoh tanah terutama untuk penetapan
kerapatan limbak, pH dan permeabilitas harus hati-hati, karna guncangan-guncangan
yang dapat merusak struktur tanah. Pada tempat dan waktu penyimpanan juga harus
diperhatikan. Menurut Khamandayu (2009) contoh tanah yang terlalu lama dalam
ruang yang panas akan mengalami perubahan karena terjadi pengerutan dan aktivitas
jasad mikro, sebaliknya contoh tanah disimpan dalam ruangan yang kelembabannya
relatif kurang lebih 90 % dan suhu kurang lebih 18 % dengan variasi cukup kecil.
Pada praktikum ini juga dapat mengetahui kadar air, bobot isi dan ruang pori
total pada tanah. Air juga merupakan komponen yang sangat penting untuk tanah,
karna dapat berperan sebagai agen pemicu pelapukan bahan induk, perkembangan
tanah, dan differensi horison. Tekstur tanah yang berbeda mempunyai kemampuan
menahan air yang berbeda pula, hal tersebut didukung oleh pendapat Hardjowigeno
(1992) yang menyatakan bahwa air terdapat dalam tanah karena ditahan (diserap) oleh
massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air, atau karena keadaan drainase yang
kurang baik. Air dapat meresap atau ditahan oleh tanah karena adanya gaya-gaya
adhesi, kohesi, dan gravitasi.
Kapasitas kandungan air tanah maksimum merupakan jumlah air maksimal
yang dapat ditampung oleh tanah setelah hujan turun dengan sangat lebat atau besar.
Semua pori-pori tanah baik makro maupun mikro, dalam keadaan terisi oleh angin
sehingga tanah menjadi jenuh dengan air. Jika terjadi penambahan air lebih lanjut,
maka akan terjadi penurunan air gravitasi yang bergerak lurus terus kebawah. Pada
keadaan ini air tanah ditahan oleh tanah dengan kandunga atau kekuatan Pf=0 atau 0
atm (Tejowiyono;1999).
Bobot isi merupakan petunjuk kepadatan tanah, juga dapat membatasi
kemampuan akar untuk menembus (penetrasi) tanah dan untuk pertambahan akar
tersebut. Hal ini disesuaikan dengan pendapat Hardjowigeno (2002) yaitu semakin
padat suatu tanah maka semakin tinggi bobot isinya yang berarti tanah semakin sulit
meneruskan air atau ditembus akar tanaman. Fase padat tanah berupa butiran-butiran,
fase cair berupa air tanah yang mengisi pori-pori dan fase gas adalah udara yang
mengisi pori-pori tanah tetapi tidak ditempati oleh air tanah. Semakin kecil ukuran

tanah maka bobot isi semakin besar dan semakin besar ukuran tanah maka bobot isi
semakin kecil.
Menurut Hakim (1996) porositas adalah proporsi ruang pori tanah (ruang
kosong) yang terdapat dalam suatu volume tanah yang dapat ditempati oleh air dan
udara, sehingga merupakan indicator kondisi drainase dan aerasi tanah. Dan tanah
yang strukturnya gembur atau remahdengan tindakan pengolahan tanah yang intensif
dan bertekstur lempung, umumnya mempunyai porositas yang besar (Foth, 1994).
VII.

Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum tersebut adalah:
1. Pengambilan contoh tanah diantaranya dapat dilakukan dengan cara mengambil
contoh tanah utuh dan contoh tanah komposit.
2. Fase padat tanah berupa butiran-butiran, fase cair berupa air tanah yang mengisi
pori-pori dan fase gas adalah udara yang mengisi pori-pori tanah tetapi tidak
ditempati oleh air tanah.
3. Bobot isi menunjukkan perbandingan antara berat tanah kering dengan volume
tanah termasuk volume pori-pori tanah.

VIII.

Daftar Pustaka
Anonim. 2009. Porositas. Online
(https://www.scribd.com/doc/57926069/POROSITAS) diakses pada tanggal 21
September 2015
Agus, Cahyono . 2009 . Petunjuk Praktikum Ilmu Tanah Hutan . Fakultas Kehutanan
UGM.Yogyakarta.
Buckman.H. dan N.C. Brandy, 1982. Ilmu Tanah. Brata Karya Aksara, Jakarta.
Foth, H.D., 1984. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Edisi VI. Erlangga, Jakarta.
Hanafiah, Kemas. 2004. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Penerbit Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
Hakim, N.M.Y. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung, Lampung.
Hardjowigeno. Sarwono. 1987. Ilmu Tanah. Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta.
Pairunan ,A.K. 1997. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi
Negeri Indonesia Timur, Ujung Pandang.
Poerwowidodo. 1991. Ganesha Tanah. Penerbit Rajawali Pers. Jakarta.