Anda di halaman 1dari 18

Oleh: KH Husin Naparin

BANYAK di antara umat Islam yang meremehkan masalah menutup aurat, khususnya kaum
perempuan; mereka berpakaian semaunya mengikuti arus berbagai mode sehingga aurat terbuka
dan bertentangan dengan ajaran agamanya (Islam).
Aurat menurut bahasa berarti aib, cacat, cela, atau segala sesuatu yang dirasa malu kalau tampak.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, aurat adalah bagian badan yang tidak boleh
kelihatan (menurut hukum Islam).
Menurut syariat aurat berarti bagian tubuh yang wajib ditutup dan haram melihatnya; aurat lakilaki antara pusar dan lutut, sedang aurat perempuan seluruh tubuhnya kecuali muka dan dua
telapak tangan.
Menutup aurat wajib di dalam dan di luar salat. Islam tidak menentukan mode tertentu pakaian
penutup aurat, malah Islam mengakui adanya pengaruh geografi, pemikiran, perasaan, corak
kehidupan, ekonomi, budaya, adat istiadat dan pengaruh eksternal dalam menentukan corak
pakaian; namun disyaratkan tidak tipis memperlihatkan warna kulit dan tidak ketat
memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh.
Ada beberapa macam katagori aurat :
Pertama, aurat laki-laki di hadapan sesama laki-laki antara pusar dan lutut; pusar dan lutut
sendiri bukanlah aurat, tetapi keduanya wajib pula ditutup karena jika tidak, aurat akan terbuka.
Paha termasuk aurat menurut Syafiiyah, menurut Malikiyah tidak.
Kedua, aurat perempuan di hadapan sesama perempuan sama dengan aurat laki-laki antara pusar
dan lutut, tetapi jika sekiranya akan timbul fitnah maka juga tidak boleh memandangnya
walaupun selain antara pusar dan lutut.
Ketiga, aurat perempuan di hadapan laki-laki yang halal nikah dengannya (ajnabiy) adalah
seluruh tubuh kecuali muka dan dua telapak tangan; jika laki-laki itu haram nikah dengannya
(mahram), maka muka bagian atas (kepala, rambut, leher, telinga), pergelangan tangan, telapak
tangan dan muka, dan bagian tubuh bawah lutut boleh kelihatan; tetapi jika menimbulkan fitnah
dan birahi, juga diharamkan.
Bagian badan lainnya seperti perut, punggung dan paha, mahramnya haram memandangnya.
Dibolehkan melihat aurat wanita dalam perobatan; dan dibolehkan memandang muka dan kedua
telapak tangan pada saat meminang, muamalat jual beli, proses pengajaran dan pengadilan yang
kesemuanya disyaratkan aman (terjauh) dari fitnah.

Adapun suami, maka suami boleh memandang seluruh tubuh istrinya tanpa kecuali, tetapi
makruh memandang kemaluan (farj) nya.
Keempat, aurat laki-laki di hadapan perempuan adalah antara pusar dan lutut baik perempuan itu
halal nikah dengannya (ajnabiyyah) ataupun yang haram nikah dengannya (mahram). Adapun
istri boleh memandang seluruh tubuh suaminya, namun makruh memandang kemaluan (zakar)
nya.
Dalam kesendirian terlarang bugil, kecuali pada saat mandi di tempat tertutup, namun makruh
memandang kemaluan sendiri. Nabi bersabda : Hindarilah berbugil diri karena ada selalu yang
menyertai Anda (maksudnya malaikat), ia tidak menjauhi Anda kecuali saat buang air besar atau
ketika menggauli istrinya. Karenanya, malulah Anda kepada mereka dan hormatilah mereka.
(HR. Tirmizi).
Anak-anak muslim-muslimah yang studinya di SLTP dan SLTA dibenarkan memakai seragam
sekolah khas yang sesuai syariat islami; tertuang dalam keputusan Direktur Jenderal Pendidikan
Dasar dan Sekolah Menengah, No. 100/C/Kep/D/1991 tanggal 16 Februari 1991 tentang pakaian
seragam sekolah. PNS muslimah di lingkungan Pemprov Kalsel, wajib berjilbab sesuai Surat
Edaran Gubernur Kalsel.

Pengertian Aurat :
Dari segi bahasa, aurat ialah sesuatu yang mengaibkan..Dari segi istilah, aurat ialah bahagian
tubuh badan seseorang yang WAJIB ditutup dan dilindungi daripada pandangan bukan mahram
atau ajnabi..
Hukum menutup aurat adalah WAJIB bagi lelaki dan perempuan Islam..
Batas-batas aurat
Aurat Lelaki :
1. Dengan perempuan mahram, auratnya di antara pusat dengan lutut..
2. Dengan perempuan bukan mahram, auratnya di antara pusat dengan lutut..
3. Dengan perempuan bukan Islam, auratnya di antara pusat dengan lutut..
Aurat Wanita :
1. Dengan mahram lelaki, auratnya di antara pusat dengan lutut..
2. Dengan lelaki bukan mahram, auratnya seluruh tubuh, kecuali muka dan dua pergelangan
tangan..
3. Dengan lelaki bukan Islam, auratnya seluruh tubuh, kecuali muka dan dua pergelangan
tangan..
Sebab-sebab Islam meWAJIBkan lelaki dan perempuan Islam menutup aurat
1. Untuk menjaga dan memelihara kehormatan, kesopanan, dan maruah diri seseorang..
2. Menghindarkan diri daripada terjerumus ke arah perbuatan Zina..
3. Untuk membezakan antara keperibadian orang Islam dengan orang bukan Islam..
4. Menggambarkan bahawa orang Islam sangat patuh dan taat kepada perintah Allah..
Hikmah / Fadhilat / Kebaikan disebalik kewajipan menutup aurat ke atas orang Islam
1. Memuliakan manusia sebagai makhluk yang istimewa..
2. Membentuk diri manusia supaya menjadi insan yang beradab..
3. Dapat mengelak diri daripada sebarang fitnah..
4. Melahirkan masyarakat yang berakhlak mulia dan patuh kepada perintah Allah..
Islam menggalakkan umatnya berpakaian baik, bersih, cantik, dan menutup aurat kerana amalan
tersebut mendatangkan kebaikan kepada manusia..

BATASAN AURAT WANITA DAN PRIA


Aurat secara bahasa bermakna an naqsu yang berarti kurang atau aib adapun secara istilah
sesuatu yang tidak diboleh dilihat atau dipertontonkan. Menutup aurat wajib hukumnya dan ini
telah menjadi kesepakatan para ulama baik klasik maupun kontemporer.
Hal ini berdasarkan hadist Nabi ; Aisyah meriwayatkan, bahwa saudaranya yaitu Asma binti
Abubakar pernah masu
k di rumah Nabi dengan berpakaian jarang sehingga tampak kulitnya. Kemudian beliau berpaling
dan mengatakan: Hai Asma! Sesungguhnya seorang perempuan apabila sudah datang waktu
haidh, tidak patut diperlihatkan tubuhnya, melainkan ini dan ini sambil ia menunjuk muka dan
dua tapak tangannya. (Riwayat Abu Daud dalam Fiqh Islam Wa Adillatuh oleh Dr Wahbah
Zuhaili Juz :1 Hal :738).
=> Batasan aurat Menurut mazhab Hanafi, aurat laki-laki mulai dari bawah pusar sampai bawah
lutut, hal ini berdasarkan masur (perkataan sahabat); Aurat laki-laki apa yang ada diantara
pusar dan lututnya atau apa yang ada dibawah pusar sampai lutut. Sedangkan aurat perempuan
seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.
Firman Allah: Janganlah orang-orang perempuan menampakkan perhiasannya, melainkan apa
yang biasa tampak dari padanya (QS : An Nur :31). Menurut Ibnu Abbas dan Ibnu Umar
maksud perhiasan yang biasa nampak dalam ayat ini adalah wajah dan telapak tangan (Dalam
Roddul Muhtar Juz :1 Hal : 375-378).
Mazhab Maliki, membagi aurat lelaki dan wanita ketika shalat dan diluar shalat kepada dua
bagian. Pertama, aurat berat (mughallazah) dan aurat ringan (mukhaffafah).
=> Aurat berat pada lelaki adalah kemaluan dan dubur, sedangkan aurat ringan selain dari
kemaluan dan dubur (dalam Bidayatul Mujtahid Juz :1 Hal :111) adalah Fahd (paha) menurut
mazhab ini bukanlah aurat, mereka berdalil dengan hadist nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah;
Pada perang Khaibar tersingkaplah pakaian Nabi dan nampaklah pahanya. (HR Bukhori dan
Ahmad).
Namun pendapat ini di rodd oleh para ulama lain karena banyak dalil lain yang lebih kuat dan
tsiqoh. (Dalam Nailul Authar Juz :2 Hal :178). Aurat berat wanita seluruh badan kecuali ujungujung badan dan dada. Yang dimaksud ujung badan adalah anggota ujung badan seperti tangan,
kepala dan kaki. Semua ujung badan itu tidak dianggap aurat berat ketika sembayang. Mazhab
Maliki membataskan apa yang dianggap aurat ringan pada wanita termasuk dada, lengan, leher,
kepala dan kaki. Sedangkan muka dan dua tapak tangan tidak dianggap aurat langsung pada
mazhab ini, pendapat mazhab ini banyak diikuti negara-negara Arab di Afrika Utara dan negaranegara Afrika.
Mengumbar aurat didepan umum selain kepada mahramnya dan yang diperbolehkan oleh
syariah, dikategorikan sebagai tindakan pornografi baik karena alasan seni, kebebasan ekspresi

ataupun yang lainnya


Menurut Mazhab Syafii, aurat pada laki-laki terletak di antara pusat dan lutut, baik dalam shalat,
thawaf, antara sesama jenis atau kepada wanita yang bukan mahramnya, hal ini berdasarkan
hadist yang diriwayatkan oleh Abi Sa'id Al Khudri; Aurat seorang mukmin adalah antara pusar
dan lututnya". (HR Baihaqi). Dalam hadist lain dikatakan; "Tutuplah pahamu karena paha
termasuk aurat. (HR Imam Malik). (dalam Mugni Al Muhtaj Hal:1 Juz:185).
=> Batas aurat wanita termasuk seluruh badan kecuali muka dan dua tapak tangan di bagian atas
dan bagian bawahnya. Dalil mazhab ini adalah firman Allah; Janganlah orang-orang perempuan
menampakkan perhiasannya, melainkan apa yang biasa tampak dari padanya (QS: An Nur :31).
Hadist Nabi mengatakan; "Rasulullah melarang wanita yang sedang ihrom memakai qofas
(sarung tangan) dan niqob (tutup muka)". (HR Bukhari).
Menurut Mazhab Hambali, aurat pada laki-laki terletak di antara pusat dan lutut dalil mazhab ini
sama dengan yang digunakan oleh mazhab hanafi dan mazhab syafi'i. Adapun aurat perempuan
adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan, hal ini berdasarkan firman Allah dan
hadist-hadist diatas. (dalam Goyatul Muntaha Juz:1 Hal: 97-98)

Aurat dari segi bahasa; ialah keaiban.


Manakala dari segi istilah Syarak; ialah bahagian-bahagian tertentu pada tubuh manusia yang
wajib ditutup.
Jadi, aurat bermaksud bahagia-bahagian tertentu yang wajib dilindungi daripada pandangan
orang ajnabi (orang yang boleh berkahwin dengannya) kerana perbuatan tersebut dianggap suatu
yang mengaibkan di sisi agama Islam.
AURAT KETIKA BERSENDIRIAN
1. Ulama Mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat: Sebagaimana dilarang seorang mukallaf
(orang yang dituntut beramal dengan suruhan dan meninggalkan larangan) mendedahkan aurat
ketika berhadapan dengan orang yang dilarang melihat auratnya, maka demikian juga dilarang
mendedahkan auratnya ketika ia bersendirian kecuali ketika dharurat atau terpaksa dibuka seperti
ketika qadha hajat atau ketika mandi. Ketika dharurat diharuskan membukanya.
2. Sementara Ulama Mazhab Maliki dan Syafiie berpendapat: Ketika seseorang itu
bersendirian, tidak diharamkan mendedahkan auratnya hanya makruh kecuali ketika dharurat
kerana ketika dharurat diharuskan membukanya.
BATAS-BATAS AURAT LELAKI
Rasulullah SAW bersabda:




:





:























))







[(( ]



















Maksudnya: Seorang lelaki tidak boleh melihat aurat lelaki lain, demikian juga wanita tidak
boleh melihat aurat wanita yang lain. Tidak boleh dua orang lelaki berada (tidur) dalam satu
selimut demikian juga dengan wanita dilarang berbuat demikian. [HR Muslim].
Ulama mempunyai pelbagai pendapat dalam hal had atau batas aurat lelaki ini;

1. Mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat: Lelaki diwajibkan

menutup auratnya di antara pusat hingga lutut daripada dilihat oleh lelaki atau perempuan yang
bukan mahramnya kecuali kepada isterinya. Selain dari isterinya diharamkan melihat aurat di
antara pusat hingga lututnya.
Isteri boleh (harus) melihat aurat suami kecuali pada kemaluan kerana melihat kemaluan masingmaisng adalah MAKRUH.
2. Imam Malik dan Imam Syafiie berpendapat: Aurat lelaki ada dua keadaan:
(1) Auratnya dengan sesama lelaki dan perempuan yang mahram dengannya. Auratnya ialah di
antara pusat hingga lutut sahaja.
(2) Auratnya dengan perempuan yang bukan
mahramnya.
Auratnya adalah seluruh tubuh badannya.
[Rujuk Kitab al-Fiqh Ala al-Mazahib Al-Arbaah, jilid
1 dalam bab Mabhas Sitr Al-Aurah].

BATAS AURAT WANITA DENGAN LELAKI


Para Ulama bersepakat berpendapat bawah aurat perempuan
kepada lelaki yang bukan MAHRAMNYA ialah seluruh tubuh
kecuali muka dan kedua tapak tangannya. Ini berdasarkan
kepada firman Allah SWT adalam surah An-Nur ayat 31, Al-Ahzab ayat 53 dan ayat 59 serta
riwayat beberapa buah hadith.
Firman Allah SWT:
{


















}



Maksudnya: {Dan janganlah mereka (wanita) menampakkan perhiasannya kecuali apa yang
biasa nampak daripadanya dan hendaklah mereka menutup kain tudung mereka hingga ke
bawah dada}. [An-Nur: 31].

Firman Allah SWT







(59) {








Maksudnya: {Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isteri dan anak-anak perempuan kamu
serta kepada para isteri orang mukmin sekalian, hendaklah menghulurkan JILBAB mereka ke
seluruh tubuh badan mereka kerana dengan itu mereka akan mudah dikenali (sebagai wanita
mukminah) dan mereka selamat daripada gangguan. Dan sesungguhnya Allah itu Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang}. [Al-Ahzab: 59].

Firman Allah lagi:








{















}

(53)

Yang bermaksud: {Apabila kamu bertanya atau meminta sesuatu keperluan kepada mereka
(isteri-isteri Nabi SAW), maka hendaklah di sebalik tabir. Cara demikian adalah lebih
mensucikan hati kamu dan hati mereka } [Al-Ahzab: 53]
Sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebut riwayat dari Ibn Syihab dari
Urwah dan dari Aishah, R.anha berkata:
Semoga Allah mencucuri rahmat kepada wanita-wanita Muhajirin yang mulia iaitu tatkala Allah
menurunkan ayat 31 surah An-Nur, mereka teus mengoyak kain selendang lalu menutup diri
mereka dengannya. [Tafsir Ibn Kathir juz 3 halaman 284]
HR Abu Daud daripada Saidatina Aisyah Radhiyallahu anha bahawa suatu hari kakaknya iaitu
Asma binti Abu Bakar datang mengadap Rasulullah SAW sedangkan ia berpakaian nipis
(jarang). Melihatkan keadaan itu, Rasulullah SAW terus berpaling muka dan bersabda
maksudnya: Wahai Asma, apabila seorang wanita telah sampai masa haid (baligh), maka
lelaki ajnabi tidak boleh melihatnya, kecuali kadar had ini (Rasulullah SAW mengisyaratkan
pada muka dan kedua tapak tangannya).
BATAS AURAT WANITA MENURUT ULAMA MAZHAB:

Antara batas aurat wanita yang telah ditetapkan oleh syariat menurut pendapat dan fatwa mazhab
ialah;
1. Di hadapan lelaki bukan mahramnya ialah seluruh tubuh. Maksudnya semua termasuk
rambutnya, mukanya, kedua tapak tangannya zahir dan batinnya juga kedua tapak kakinya.
Hukum ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW yang bermaksud: Sesungguhnya wanita
itu adalah aurat. (HR Al-Bazar dan At-Tirmizi).
2. Semasa seorang diri atau di hadapan lelaki mahramnya atau di hadapan wanita Islam yang
baik akhlaknya, batas auaratnya adalah antara pusat hingga lutut. Walau bagaimanapun, bagi
menjaga adab serta memperhalusi akhklak ketika berhadapan dengan lelaki yang mahramnya,
eloklah wanita itu menjaga dan menutup auratnya yang selain dari pusat hingga lutut agar tidak
menimbulkan ghairah kepada lelaki walaupun darjatnya mahrahm dengannya. Lebih-lebih lagi
ditakuti akan timbul fitnah, kes sumbang mahram dan lain-lain.
3. Di hadapan wanita kafir dan wanita yang rendah akhlaknya, aurat wanita itu adalah seluruh
tubuh kecuali anggota yang zahir ketika bekerja iaitu kepala, muka, leher, dari dua tapak tangan
hingga ke siku sahaja dan dua tapak kakinya. Selain itu adalah diharamkan membukanya.
4. Aurat wanita sahaya (hamba) kepada lelaki yang mahram dengannya dan sesama perempuan
auratnya adalah dari pusat hingga lutut. Dengan lelaki bukan mahram dengannya (ajnabi)
auratnya adalah seluruh tubuh badan.
Penjelasan-penjelasan ulama tentang batas-batas aurat wanita di hadapan lelaki ajnabi
(bukan mahram).
Perbezaan pendapat;
1. MAZHAB SYAFIIE: ada 2 qaul;
a) Qaul pertama: Aurat wanita merdeka di hadapan lelaki ajnabi ialah seluruh tubuh badan
tanpa kecuali. Qaul ini adalah qaul yang paling soheh dalam Mazhab Syafie.
b) Qaul kedua: Aurat wanita di hadapan lelaki ajnabi ialah seluruh tubuh badan kecuali muka
dan dua tapak tangan. Walau bagaimanapun, jika mendedah muka dan dua tapak tangan boleh
menimbulkan fitnah kepada wanita itu, maka ketika itu wajiblah menutup seluruh tubuh badan
tanpa kecuali. Fitnah iaitu ( apa yang lahir pada dirinya yang mana dengan melihatnya boleh
mendatangkan nafsu syahwat).
2. MAZHAB HAMBALI: ada 2 qaul;
a) Qaul pertama: Semua anggota wanita adalah aurat tanpa kecuali kepada lelaki ajnabi.
b) Qaul kedua: Semua anggota tubuh wanita bagi lelaki ajnabi (bukan mahram) adalah aurat

kecuali muka dan dua tapak tangan. Tapi jika mendedahkan boleh mendatangkan fitnah, maka
wajiblah juga menutupnya.
3. MAZHAB HANAFI: ada 2 qaul;
a) Qaul pertama: Aurat wanita merdeka di hadapan lelaki adalah seluruh tubuh kecuali muka
dan dua tapak tangan. Walau bagaimanapun, jika mendedahkan boleh mendatangkan fitnah,
maka wajiblah juga menutupnya.
b) Qaul kedua: Semua anggota tubuh wanita bagi lelaki ajnabi (bukan mahram) adalah aurat
kecuali muka dan dua tapak tangan hingga ke pergelangan tangan dan dua tapak kaki.
4. MAZHAB MALIKI: Aurat wanita merdeka di hadapan lelaki adalah seluruh tubuh kecuali
muka dan dua tapak tangan. Walau bagaimanapun, jika mendedahkan boleh mendatangkan
fitnah, maka wajiblah juga menutupnya.
SIAPAKAH YANG DIKATAKAN GOLONGAN MAHRAM BAGI WANITA.
1. Bapa sendiri ( bapa kandung).
2. Bapa suami (bapa mertua).
3. Anak lelaki.

4. Anak lelaki suaminya (anak tirinya atau anak isteri lain bagi suaminya sama ada isteri itu
masih hidup atau telah bercerai atau meninggal) tetapi bukan anak dari bekas isteri suaminya
dengan suami yang lain yang dikahwininya setelah bercerai dengan suaminya.
5. Saudara lelaki (adik atau abang seibu sebapa atau seibu sahaja atau sebapa sahaja).
6. Anak lelaki kepada saudara lelaki (anak saudara).
7. Anak lelaki kepada saudara perempuan (anak saudara).
8. Kanak-kanak lelaki yang bukan mahram yang belum mengerti tentang aurat wanita (belum
mumayyiz).
9. Anak lelaki susuan.
10. Bapa susuan.
11. Saudara susuan.
12. Bapa saudara sususan, datuk saudara susuan hingga ke atas, dan anak saudara susuan hingga
ke bawah.
13. Menantu lelaki.

DIBOLEHKAN LELAKI BUKAN MAHRAM MELIHAT AURAT WANITA DALAM


BEBERAPA KEADAAN.
1. Ketika hendak meminang. Kadar sempadan aurat yang hendak dilihat ialah muka dan kedua
tapak tangan sahaja.
2. Ketika berjual beli.
3. Doktor atau tabib bertujuan mengubat.
4. Ketika hendak menjadi saksi.
5. Ketika mengajar.
Beberapa kesalahan yang biasa dilakukan oleh ramai Muslimah samada mereka sedar
atau tidak:

1) Berpakaian ketat dan menampakkan beberapa bahagian anggota tubuh.


2) Menyerupai pakaian lelaki seperti berseluar panjang dan berkemeja.
3) Menyerupai pakaian wanita-wanita kafir seperti fesyen-fesyen terkini yang jelas bercanggah
dengan cara berpakaian Muslimah.
4) Tidak menutup sebahagian anggota tubuh. Ada yang nampak telinganya, nampak lehernya,
nampak rambutnya, nampak lengannya, nampak kakinya dan sebagainya.
5) Pakaian tersebut penuh dengan perhiasan.
6) Kainnya nipis sehingga boleh dilihat walaupun kain tersebut menutup auratnya.
7) Pakaian yang dipakai mempunyai ciri-ciri kemahsyuran, keglamouran dan nilai-nilai
kesombongan orang yang memakainya.

Mudah-mudahan dengan tersenarainya beberapa hal di atas, kita mendoakan agar saudarasaudara Muslimah kita semua dapat berubah dan mengambil tindakan untuk
memperbetulkannya. Bukan mereka semua sengaja mahu langgar, tapi kadang-kadang akibat
salah faham dan pengaruh sekeliling, maka mereka keliru dan jauh dari petunjuk agama.

Pakaian Muslimah yang betul dan tepat dengan kehendak syariat Islam ialah:
1) Menutup semua bahagian tubuh melainkan muka dan tapak tangan.
2) Pakaian tersebut tidak mempunyai ciri-ciri perhiasan yang boleh menarik perhatian.

3) Mestilah kainnya tebal. Mestilah tidak tembus cahaya dan tidak boleh nampak anggota tubuh.
4) Mestilah longgar (tidak ketat), supaya tidak menampakkan bentuk tubuh.
5) Tidak berwangi-wangian.
6) Tidak menyerupai pakaian lelaki.
7) Tidak menyerupai pakaian wanita kafir.
8) Pakaian tersebut mestilah tidak melambangkan kemasyhuran atau kesombongan.
Lihat Perbincangan tentang Aurat Wanita di:
MEMELIHARA AURAT ~ LAMBANG PERIBADI MUSLIMAH
(http://www.abuanasmadani.com/?p=1902)
Akhukum,

andangan Islam tentang aurat dan busana ialah menutup aurat dan sopan, tanpa menetapkan
secara mutlak suatu model tertentu. Karena itu, model pakaian yang bernuansa Timur Tengah
misalnya, berupa jubah untuk laki-laki dan cadar untuk perempuan merupakan salah satu model
yang sesuai dengan syariat Islam, tetapi bukan satu-satunya model. Karena itu, model-model
lainnya yang sesuai dengan budaya masing-masing negeri muslim di luar Arab, sepanjang
menutup aurat dan sopan, juga dipandang sebagai memenuhi ketentuan syariat.
Kewajiban menutup aurat wanita terkait dengan situasi mana yang bersangkutan itu berada.
Secara umum, situasi itu dapat dibedakan dalam tiga hal, yakni (1) ketika ia berhadapan dengan
Tuhan dalam bershalat; (2) ketika ia berada di tengah-engah mahramnya; (3) ketika berada di
tengah orang-orang yang bukan mahramnya.
Jumhur ulama sepakat bahwa aurat wanita yang wajib ditutup ketika bershalat adalah segenap
bahagian tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangannya. Muka dan dua telapak tangan itu,
adalah bagian tubuh yang dibolehkan tanpak sesuai dengan bunyi kalimat illa ma zahara minha
dalam QS. al-Nur (24): 31.
Batas aurat wanita di luar shalat, harus dibedakan antara keadaan, yakni ketika berhadapan
dengan mahramnya sendiri, dan ketika berhadapan dengan orang yang bukan mahramnya.
Ulama berbeda pendapat mengenai batas aurat wanita di depan mahramnya. Segolongan ulama
berpendapat bahwa aurat wanita ketika berhadapan dengan mahramnya adalah antara pusat
dengan lutut. Selain batas tersebut, dapat dilihat oleh mahramnya dan oleh sesamanya wanita.
Pendapat lain mengatakan bahwa segenap badan wanita adalah aurat di depan mahramnya,
kecuali kepala (termasuk muka dan rambut), leher, kedua tangan sampai siku dan kedua kaki
sampai lutut, karena semua anggota badan tersebut digunakan dalam pekerjaan sehari-hari.
Sedang aurat wanita di hadapan orang yang bukan mahramnya, adalah meliputi seluruh
tubuhnya, selain wajah dan dua telapak tangan dan dua telapak kakinya. Karena itulah, seorang
laki-laki dapat saja melihat bahagian-bahagian tersebut pada badan wanita yang dilamarnya. Di
sini, batasan aurat wanita sama dengan batasan auratnya ketika bershalat. Ini berarti bahwa
beberapa bahagian tubuhnya, yakni rambut, leher tangan sampai siku dan kaki sampai lutut,
wajib dututup hanya jika berhadapan dengan laki-laki yang bukan mahram, tetapi terhadap
mahramnya sendiri bahagian tubuh tersebut tidak menjadi aurat dan tidak wajib ditutup.
Bahagian-bahagian tubuh tersebut, sifat keauratannya tergantung pada keadaan, atau disebut
aurat aridiyah. Namun demikian, masih termjadi perbedaan pendapat tentangnya, manakah yang
disebut aurat bagi selain mahram. Mayoritas ulama menyatakan bahwa aurat perempuan secara
umum adalah yang dapat menimbulkan syahwat bagi lelaki. Jadi, seorang perempuan yang tidak
memakai jilbab dalam arti pakaiannya stelan adat Indonesia secara umum, yakni menggunakan
pakaian namun tetap kelihatan rambutnya, lehernya, tangannya, betisnya, lalu tidak
menimbulkan syahwat bagi lelaki, maka boleh saja dianggap telah menutup aura