Anda di halaman 1dari 7

TUTORIAL I

1. Apakah landasan pembenar penjatuhan pidana sama dengan teori tentang


tujuan pemidanaan?
Jawab:
Ya dan tidak.
Dapat dikatakan berbeda apabila dilihat dari teori absolut atau teori
pembalasan (Retributive/vergeldings theorieen). Menurut teori absolut, pidana
dijatuhkan semata-mata karena orang telah melakukan suatu kejahatan. Pidana
merupakan akibat mutlak yang harus ada sebagai suatu pembalasan kepada
orang yang melakaukan kejahatan. Dengan demikian dasar pembenar dari
pidana terletak pada adanya atau terjadinya kejahatan itu sendiri. Menurut
Johanes Andrenaes, tujuan utama (primer) dari pidana menurut teori
pembalasan adalah untuk memuaskan tuntutan keadilan, sedangkan pengaruh
yang menguntungkan lebih bersifat sekunder. Dalam perkembangan
selanjutnya teori pembalasan klasik sudah tidak dianut lagi, dan bergeser
kearah yang lebih modern. Dimana pembalasan bukan lagi sebagai tujuan
tersendiri, melainkan sebagai pembatasan dalam arti harus ada keseimbangan
antara perbuatan dan pidana.
Dapat dikatakan sama apabila dilihat dari teori Relatif atau teori Tujuan
(Utilitarian/doeltheorieen). Menurut teori Relatif, memidana bukanlah untuk
memuaskan tuntutan absolut dari keadilan. Pidana lebih ditujukan kepada
perlindungan masyarakat serta mengurangi frekwensi kejahatan. Dasar
pembenar penjatuhan pidana menurut teori ini terletak kepada tujuannya, yaitu
supaya orang tidak melakukan kejahatan/ mencegah kejahatan. Tujuan pidana
untuk mencegah kejahatan ini dapat dibedakan antara istilan prevensi spesial
dan prevensi general atau special deterence dan general deterence.

2. Ulas secara singkat, ide individualisasi pidana?


Jawab:
Ide individualisasi pidana ini mengandung beberapa karakteristik yaitu :

pertanggungjawaban pidana bersifat pribadi atau perorangan (asas

personal).
pidana hanya dapat diberikan kepada orang yang bersalah (asas

culpabilitas).
pidana harus disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi pelaku,
yang berarti ada kelonggaran bagi hakim untuk memilih sanksi pidana
dan harus ada kemungkinan modifikasi pidana berupa penyesuaian
dalam pelaksanaannya.

TUTORIAL II

1. Jelaskan perbedaan pengertian hukuman dengan pidana!


Jawab:
Dalam ilmu hukum ada perbedaan antara istilah pidana dengan istilah
hukuman. Sudarto mengatakan bahwa istilah hukuman kadang-kadang
digunakan untuk pergantian perkataan straft, tetapi menurut beliau istilah
pidana lebih baik daripada hukuman. Menurut Muladi dan Bardanawawi
Arief Istilah hukuman yang merupakan istilah umum dan konvensional,
dapat mempunyai arti yang luas dan berubah-ubah karena istilah itu dapat

berkonotasi dengan bidang yang cukup luas. Istilah tersebut tidak hanya sering
digunakan dalam bidang hukum, tetapi juga dalam istilah sehari-hari dibidang
pendidikan, moral, agama, dan sebagainya. Oleh karena pidana merupakan
istilah yang lebih khusus, maka perlu ada pembatasan pengertian atau makna
sentral yang dapat menunjukan cirri-ciri atau sifat-sifatnya yang khas.
Pengertian tindak pidana yang di muat di dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (KUHP) oleh pembentuk undang-undang sering disebut
dengan strafbaarfeit. Para pembentuk undang-undang tersebut tidak
memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai strafbaarfeit itu, maka dari itu
terhadap maksud dan tujuan mengenai strafbaarfeit tersebut sering
dipergunakan oleh pakar hukum pidana dengan istilah tindak pidana,
perbuatan pidana, peristiwa pidana, serta delik.

2. Jelaskan perbedaan antara pidana penjara, pidana kurungan, pidana tutupan


dan pidana denda.
Jawab:
Jenis-jenis pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 10 Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (KUHP):
Pidana terdiri atas:
a. pidana pokok:
b. pidana mati;
c. pidana penjara;
d. pidana kurungan;
e. pidana denda;
f. pidana tutupan.
pidana tambahan
a. pencabutan hak-hak tertentu;
b. perampasan barang-barang tertentu;

c. pengumuman putusan hakim.


Baik pidana kurungan maupun pidana penjara adalah merupakan pidana
pokok dalam hukum pidana. Mengenai pembedaan pidana penjara dan pidana
kurungan, pada dasarnya merupakan sama-sama bentuk pidana perampasan
kemerdekaan
Pidana Penjara
Pidana Kurungan
1. Pidana penjara dapat dikenakan 1. Pidana
kurungan
dikenakan
selama seumur hidup atau selama

paling pendek satu hari dan paling

waktu tertentu, antara satu hari

lama satu tahun (Pasal 18 ayat (1)

hingga dua puluh tahun berturut-

KUHP) tetapi dapat diperpanjang

turut (baca Pasal 12 KUHP) serta

sebagai

dalam

hukumannya

penjara paling lama satu tahun

dikenakan kewajiban kerja (Pasal

empat bulan (Pasal 18 ayat (3)

14 KUHP).

KUHP)

masa

pemberatan

serta

hukuman

dikenakan

kewajiban kerja tetapi lebih ringan


daripada

kewajiban

kerja

terpidana penjara (Pasal 19 ayat


2. Pidana penjara dikenakan kepada
orang yang melakukan tindak
pidana kejahatan (lihat Pasal 18
ayat (2) KUHP).

(2) KUHP).
2. Pidana

kurungan

dikenakan

kepada orang yang melakukan


tindak pidana pelanggaran (lihat
buku

ketiga

Pelanggaran),

KUHP

tentang

atau

sebagai

pengganti pidana denda yang


tidak bisa dibayarkan (Pasal 30
ayat (2) KUHP).
Sedangkan hukuman tutupan merupakan perkembangan jenis pidana baru
yang pembentukannnya berdasarkan Undang-undang No. 20 tahun 1946 tentang
hukuman tutupan sehingga ditambahkan jenis jenis pidana sebagaimana diatur

dalam ketentuan pasal 10 KUHP dengan satu pidana baru. Diadakannya hukuman
tutupan itu dimaksudkan untuk kejahatan-kejahatan yang bersifat politik sehingga
orang-orang yang melakukan kejahatan politik itu akan dibedakan dengan
kejahatan biasa.
Pidana denda adalah salah satu jenis pidana yang telah lama dan diterima
dalam sistem hukum masyarakat bangsa-bangsa di dunia. Tetapi walaupun sudah
lama di kenal tapi pidana denda di indonesia ini masih tergolong Miskin, hal ini
di mungkin merupakan refleksi dari kenyataan bahwa masyarakat pada umumnya
masih menganggap bahwa pidana denda adalah pidana yang paling ringan. Pidana
denda adalah salah satu jenis pidana dalam stelsel pidana pada umumnya. Apabila
obyek dari pidana penjara dan kurungan adalah kemerdekaan orang dan obyek
pidana mati adalah jiwa orang maka obyek dari pidana denda adalah harta benda
si terpidana. Pidana denda bukan dimaksudkan sekedar untuk tujuan-tujuan
ekonomis misalnya untuk sekedar menambah pemasukan keuangan negara,
melainkan harus dikaitkan dengan tujuan-tujuan pemidanaan. Pengaturan dan
penerapan pidana denda baik dalam tahap legislatif (pembuatan undang-undang)
tahap yudikatif (penerapannya oleh hakim), maupun tahap pelaksanaannya oleh
komponen peradilan pidana yang berwenang (eksekutif) harus dilakukan
sedemikian rupa sehingga efektif dalam mencapai tujuan pemidanaan

3. Buat narasi tentang rasionalisasi perumusan tujuan dan pedoman pemidanaan


dalam suatu Undang Undang.
Jawab:
Dalam usaha pembaharuan hukum pidana di Indonesia, pidana merupakan
salah satu masalah urgen untuk diperbaharui. Oleh sebab itu, dalam
Rancangan KUHP 1999-2000, jenis pidana dan aturan pemidanaan mengalami
perombakan total yang signifikan serta mengedepankan aspek-aspek sosial
kemanusiaan dan hak asasi manusia. Beberapa perkembangan mengenai
pidana dan pemidanaan dalam Rancangan KUHP itu di antaranya sebagai
berikut:
1. Tujuan Pemidanaan

Rancangan KUHP menyebutkan tujuan pemidanaan dalam Pasal 50 yaitu


untuk: a. mencegah dilakukannya tindak pidana dengan menegakkan norma
hukum demi pengayoman masyarakat; b. menyelesaikan konflik yang
ditimbulkan

oleh

tindak

pidana;

c.

memulihkan

keseimbangan;

d.

mendatangkan rasa damai dalam masyarakat; e. memasyarakatkan terpidana


dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi orang baik dan berguna;
dan f. membebaskan rasa bersalah pada terpidana.
2. Pedoman Pemidanaan
Rancangan KUHP menyebutkan pedoman pemidanaan dalam Pasal 51 yang
dapat dijadikan acuan bagi hakim dalam memberikan pidana. Pedoman
pemidanaan itu adalah hakim harus memperhatikan: a. kesalahan pelaku
tindak pidana; b. motif dan tujuan melakukan tindak pidana; c. cara
melakukan tindak pidana; d. sikap batin pelaku tindak pidana; e. riwayat hidup
dan keadaan sosial ekonomi pelaku tindak pidana; f. sikap dan tindakan
pelaku sesudah melakukan tindak pidana; g. pengaruh pidana terhadap masa
depan pelaku tindak pidana; h. pandangan masyarakat terhadap tindak pidana
yang dilakukan; i. pengaruh tindak pidana terhadap korban atau keluarga
korban; dan j. apakah tindak pidana dilakukan dengan berencana.
Tujuan dan pedoman pemidanaan ini merupakan implementasi ide
individualisasi pidana yang belum dikenal (belum dicantumkan) dalam KUHP.
Dirumuskannya pedoman pemidanaan dalam Rancangan KUHP menurut
Barda Nawawi Arief bertolak dari pokok pemikiran bahwa (1) pada
hakikatnya undang-undang merupakan sistem hukum yang bertujuan
(purposive system). Dirumuskannya pidana aturan pemidanaan dalam undangundang pada hakikatnya hanya merupakan sarana untuk mencapai tujuan, oleh
karena itu perlu dirumuskan tujuan dan pedoman pemidanaan. (2) Dilihat
secara fungsional dan operasional, pemidanaan merupakan suatu rangkaian
proses dan kebijaksanaan yang konkretisasinya sengaja dirancanakan melalaui
tahap formulasi oleh pembuat undang-undang, tahap aplikasi oleh aparat
yang berwenang dan tahap eksekusi atau aparat pelaksana pidana. Agar ada
keterjalinan dan keterpaduan antara ketiga tahap itu sebagai satu kesatuan

sistem pemidanaan, diperlukan perumusan tujuan dan pedoman pemidanaan.


Dan (3) sistem pemidanaan yang bertolak dari individualisasi pidana tidak
berarti memberi kebebasan sepenuhnya kepada hakim dan aparat-aparat
lainnya tanpa pedoman atau kendali/kontrol. Perumusan tujuan dan pedoman
pemidanaan dimaksudkan sebagai fungsi pengendali/kontrol dan sekaligus
memberikan dasar filosofis, dasar rasionalitas dan motivasi pemidanaan yang
jelas dan terarah.